Kamis, 26 Agustus 2010

Saya Bukan Muslim... Tapi Ingin Mencoba Terapi al-Qur'an


Ada seorang non muslim yang tertarik untuk mencoba "Terapi al-Qur’an". Sebut saja namanya Michael, setelah sekian lama membuka-buka blog saya, ia pun melontarkan pendapatnya yang belum pernah saya dengar sebelumnya:

"...Dokter banyak menulis seputar kesehatan dan sering pula mengarahkan audience untuk dekat dengan al-Qur’an. Sayangnya saya bukanlah seorang muslim sekalipun saya tidak memungkiri rasa minat saya untuk mencoba terapi penyembuhan dengan kitabnya orang muslim. Mungkinkah hal itu buat kalangan non muslim seperti saya ini?..."

Seakan-akan saya diberi ilham oleh Allah, tiba-tiba saya menjadi teringat suatu ayat:

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."
[Q.S. al-Anbiyaa’ 21:107]

Ya benar, saya pun memberitahukan keberadaan ayat tersebut kepadanya dengan lugas mengatakan kepadanya bahwa ISLAM ITU RAHMATAN LIL’ALAMIN, jangankan bagi non muslim, hewan-tumbuhan bahkan kerikil batu pun dapat memperoleh cipratan barokah dari al-Qur’an.

Ketika mendengar hal itu, Michael terkejut dan meminta penjelasan khususnya bagaimana mungkin tumbuhan dan hewan bisa beroleh barokah seperti itu?

Kebetulan pada artikel sebelumnya saya sempat mengutip sebuah tulisan dari sahabat saya yang berjudul "Menyayangi Hewan: Melatih Sifat Rahmat Bagi Alam Semesta" dan saya pun menganjurkan untuk membacanya lebih lanjut untuk membuktikan bahwa Islam pun sangat concern terhadap kelestarian hewan dan tumbuhan sebagaimana Green Peace atau Go Green yang terkenal itu.

Walaupun hanya mendapat penjelasan singkat, Michael mengutarakan pendapat barunya:

"Kalau hewan saja bisa dapat untung dari al-Qur’an, kenapa tidak bagi saya yang non muslim?!"

Saya lebih meyakinkannya lagi dengan menginformasikan bahwa jangan sangka di dalam al-Qur’an pun seringkali ayat-ayatnya menyebutkan "WAHAI MANUSIA..." atau "WAHAI BANI ADAM...", jadi al-Qur’an pun tidak hanya ditujukan untuk kalangan muslim tetapi juga bagi kalangan non muslim.


Akhirnya ia pun memaksa saya untuk membimbingnya memulai terapi al-Qur’an ini.
Saya berkata:

"Kalau memang anda sangat berminat terapi dengan al-Qur’an, maka saya ingatkan bahwa al-Qur’an itu tergantung dari yang membacanya! Bila yang membacanya menggunakan teknik yang benar dalam menyelami al-Qur’an, maka saya jiplak jaminan dari Allah, Tuhan saya, pasti al-Qur’an akan memperlihatkan keajaibannya pada anda."

"Apa yang harus saya lakukan pertama kali?" tanya Michael, saya pun mengatakan kepadanya sebelum membacanya, ia harus mandi dengan sebersih-bersihnya, berpakaian dengan sopan, dan bacalah dengan hati yang tenang dan usahakan di tempat yang sunyi. Bagaimana mungkin barokah itu turun kepadanya sedangkan ia sedang dalam kondisi yang kotor.

"Wah repot juga dok kalau di kantor" ungkap Michael, saya informasikan juga kepadanya dalam Islam dikenal dengan "Wudhu" dan "Tayamum" sebuah ritual pensucian sebelum melaksanakan sholat. Saya pun mengajarkan teknik wudhu kepadanya seraya sambil mengingatkan akan percuma bersuci tapi ia berpakaian kotor, maka saya sarankan kepadanya untuk berkorban membawa pakaian bersih atau berjuang untuk menjaga pakaian yang dipakainya tetap bersih.

"Setelah anda membersihkan badan dan pakaian, selanjutnya anda jangan langsung membacanya, tapi sebelum itu ada semacam kalimat pembuka kalau diibaratkan seperti kunci pembuka"

Saya pun mengajarkan beberapa ucapan kepadanya: Bismillahirrahmaanirrahiim, lalu setelah itu Syahadatain dan kalimat Ta’udz.

Saat saya memberitahukan ucapan-ucapan pembuka tersebut kepadanya, saya lihat Michael tidak nampak keberatan di raut mukanya, mungkin karena memang ia tidak tahu bahasa arab. Sebenarnya ia pun sempat menanyakan makna kalimat-kalimat tersebut, dan saya pun mengatakan kepadanya:

"Bertahaplah, kelak anda pun akan mengetahuinya, sekarang yang penting anda ikuti saja dulu aturan mainnya karena yang penting bukankah anda ingin dapat efek terapinya?"

"Waduh, apa mungkin saya mampu membaca semuanya?" tanya Michael, saya katakan inilah budaya yang salah interpretasi, janganlah mempersempit pengertian membaca (Iqra) hanya sekadar melihat dengan mata lalu dilafalkan dengan mulut! Membaca dalam Islam adalah "gunakan inderamu, pahami maknanya, amalkan apa yang diserunya, sebarkan kepada yang lain, lalu pertahankanlah kesinambungannya".

"Apa akan terasa kenyang bila anda hanya mencium harum ranumnya buah apel tanpa tergiur untuk memakannya hingga habis?!" Jadi, sebagai tahap awal saya menyarankan dia untuk bertahap-tahap membacanya hingga kelar (khatam). Setelah itu pilihlah ayat-ayat mana saja yang disukainya dan ulangi membaca ayat-ayat tersebut karena itulah yang menjadi kunci bagi penyembuhannya.

Mungkin karena ia masih pemula yang masih hijau, ia pun memutuskan untuk menjiplak ayat-ayat yang saya sukai. Saya katakan kepadanya:


"Saya beritahu sesuatu berdasarkan pengalaman saya...

Bayangkan oleh anda sebuah gelas berisi air, lalu celupkan sebuah jarum ke dalam gelas itu, nah tetesan air yang menempel pada jarum itu adalah barokah atau ilmu hikmah yang akan didapatkan oleh yang membaca al-Qur'an. Dan tahukah anda darimana asalnya air itu? yang air itu diambil dari lautan samudra.

Sekalipun saya dan anda memakai jarum yang sama dan masih dalam gelas air yang sama, tetapi tetesan yang saya dapat akan berbeda dengan yang anda dapat. Bisa jadi saya mendapat barokah dari ayat tertentu sedangkan anda justru mendapatkannya dari ayat yang lainnya.

Oleh karena itu, janganlah tergesa-gesa, membaca al-Qur'an itu butuh seni yang tinggi yaitu anda harus sabar dan konsisten. Saya tidak dapat memutuskan ayat mana yang cocok bagi anda karena itu adalah urusan anda dengan Sang Pemilik Kitab itu."

Secara bertahap saya anjurkan dia untuk membiasakan diri membaca Basmalah dan Syahadatain setiap kali dia punya waktu luang hal ini dalam rangka untuk mengarahkan dia mulai mengaplikasikan terapi al-Qur’an lebih luas lagi.

Itulah sepenggal pengalaman unik dengan Michael, mudah-mudahan ia mendapatkan apa yang dicarinya dari al-Qur'an itu. Bagi saya sekalipun sudah lama tidak mendapat kabar lagi darinya, tapi saya sangat yakin Allah S.W.T. jua yang akan menangani apa yang menjadi keterbatasan saya dalam membantunya.

Andaikan saya masih diberi waktu untuk hidup lebih lama lagi oleh Allah, saya sangat berkeinginan untuk mengajarkannya terapi dzikrullah kepadanya seperti kalimat-kalimat:

  • Tahlil (La ilaha illallah)
  • Tasbih (Subhanallah)
  • dan Tahmid (Alhamdulillah)