Sabtu, 07 Agustus 2010

Fenomena Tindihan Tidur ( Sleep Paralysis) dalam Dunia Medis

http://lagibingungnih.files.wordpress.com/2010/06/2.jpgTindihan saat tidur biasanya selalu dihubungkan dengan hal-hal yang sifatnya mistis. Padahal, tindihan merupakan salah satu bentuk gangguan tidur yang dapat dijelaskan secara medis. Gejalanya, dalam kondisi tidur atau hendak tidur, tiba-tiba tubuh merasa seperti tertindih sesuatu yang sangat berat, dicekik, dada sesak, tak mampu bergerak maupun berteriak.

Tindihan, istilah kedokterannya sleep paralysis, biasanya disertai halusinasi, yaitu seperti melihat sosok di sekitar tempat tidur, dan dapat berlangsung dalam hitungan detik hingga menit.
Di Barat, fenomena ini sering disebut mimpi buruk inkubus atau old hag berdasarkan bentuk bayangan yang muncul. Ada pula yang melaporkan melihat agen rahasia asing atau alien.

Tindihan paling sering terjadi pada orang yang kurang tidur. Bisa juga dipicu oleh kelelahan, stres, cemas berlebihan. Seorang peneliti sleep paralysis, Al Cheyne, dari University of Waterloo berpendapat, sleep paralysis adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur dari tahap rapid eye movement (REM).

Gelombang otak mimpi mempunyai frekuensi mirip gelombang otak sadar. Ini menjelaskan kenapa orang bisa merasa berada dalam alam kesadaran lain ketika bermimpi.

Kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur sering membuat gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Yang khas pada mimpi ini adalah timbul halusinasi munculnya sosok lain dan lumpuh (paralysis), sehingga tubuh tidak dapat bergerak atau mulut kelu. Tindihan dapat terjadi pada pria dan wanita. Usia rata-rata orang mengalami tindihan pertama kali 14-17 tahun. Diperkirakan setiap orang pernah mengalami tindihan setidaknya sekali atau dua kali dalam hidupnya. Tindihan dapat disebabkan hal yang tidak dapat dikontrol hingga memicu stres dan terbawa dalam mimpi.

Kondisi lingkungan kerja juga berpengaruh. Contohnya, mereka yang bekerja dalam shift lalu kekurangan tidur dan memiliki pola tidur yang tidak teratur. Juga sering terjadi pada individu yang tidur dalam posisi telentang, wajah menghadap ke atas dan hampir nyenyak atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur. Karena itu, mengubah posisi tidur dapat mengurangi risiko terserang tindihan.


source: suaramerdeka.com
Blog editor: dr. wahyu triasmara