Senin, 16 Agustus 2010

Malaikat Yang Meminta Sedekah


Kali ini saya ingin berbagi pengalaman hidup yang hingga kini tak bisa saya lupakan bahkan kalau mengingat peristiwa itu membuat hati saya merasa menyesal bercampur rindu untuk mengulang kembali peristiwa tersebut.

Suatu hari anak saya meminta saya untuk mengantarkannya ke sebuah klinik di jalan Banda Bandung. Kebetulan obat yang dimaksud termasuk obat yang khusus dan membutuhkan racikan yang agak lama, maka saya pun lebih memilih untuk menunggu di mobil.

Sambil menunggu, saya pun memanfaatkan waktu dengan tidur sejenak seraya mendengarkan musik. Dalam alunan lagu yang membantu saya rileks setelah semalaman beraktifitas, tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara ketukan pada kaca mobil di sebelah saya.

Terlihat seorang nenek yang berwajah lusuh, benar-benar tampak seperti yang tidak terurus.

Ia berkata dalam bahasa sunda yang lembut yang saya terjemahkan sebagai berikut, "Aden, emak mau pulang ke rumah di Garut, tolongin emak bisakah aden memberi sekadar ongkos untuk pulang ke Garut?"

Sejujurnya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengan nenek itu, tapi sebelumnya, saya sering menemui hal seperti ini, dan dalam beberapa peristiwa saya sempat pula didatangi oleh orang yang sama, hingga saya pun lama-kelamaan timbul rasa tidak simpati terhadap orang tersebut.

Pengalaman seperti itu telah mendominasi logika saya pada saat itu, hingga saya menjadi cenderung berprasangka nenek itu hanya akal-akalan saja untuk meminta uang.

Karena sudah didominasi pemikiran semacam itu, saya pun memberinya uang lima ribu rupiah. Nenek itupun berkata, "Aden, mana cukup uang sebesar ini untuk bayar ongkos pulang ke Garut?"

Saya pun berkata, "Kan nenek bisa keliling lagi ke yang lain". Nenek itupun mengucapkan terima kasih seraya pergi dan saya pun melanjutkan tidur di dalam mobil.

Sekalipun mata ini sudah terpejam, tapi hati nurani bergejolak, "Ya Allah mengapa saya berlaku seperti ini?!, bukankah sebenarnya saya masih mampu memberikan lebih untuk nenek tersebut?" Seketika itu juga saya pun bangun dan langsung bergegas mencari kembali nenek tersebut.

Saya sangat terheran-heran, saya sangat yakin sudah mencari di sekeliling jalan Banda dengan berjalan kaki, dan saat saya tidur pun hanya sekejap, tetapi saya tidak menemukan nenek itu.

Saya terus bertanya kepada tukang parkir dan orang-orang yang ada di sekitar jalan itu, tapi tetap saja mereka tidak mengenalinya.

"Ya Allah, hamba sungguh-sungguh menyesal... menyesal! Engkau telah mengujiku dengan sesuatu yang sebenarnya mudah namun hamba telah mempersulitnya. Engkau telah menunjukkan kepadaku sesuatu yang sebenarnya mulia namun hamba telah menyia-nyiakannya. Ya Allah, maafkanlah hamba-Mu ini..."

Bagaimanapun saya bersyukur banyak mendapat pelajaran hikmah dari peristiwa ini,

  • Pertama, Islam memang benar telah mengajarkan umatnya bahwa "tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah". Hal ini untuk memotivasi umatnya agar selalu rajin bekerja dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya, lalu bertawakal sepenuhnya kepada-Nya, dan tetap yakin akan pertolongan-Nya.

  • Kedua, Islam pun mengajarkan kepada "tangan yang di atas" untuk ikhlas dalam memberi tanpa berburuk sangka apalagi disertai ucapan yang menyakitkan.

  • Ketiga, Islam ternyata telah mengajarkan konsep bersedekah yang seimbang dan sempurna, tidak hanya terpaku pada anjuran untuk tidak meminta-minta saja, tetapi juga Islam menyuruh umatnya untuk ikhlas dan yakin dalam memberi karena Allah S.W.T. tidak akan menyiakan-nyiakan amal baik hamba-Nya, sedangkan bagaimana dan apa yang dilakukan kemudian oleh yang menerima, itu menjadi urusan Allah dengan dirinya dan hal itu tidak akan mengurangi pahala dan berkah yang akan didapatkan si pemberi sedekah.