Rabu, 11 Agustus 2010

Perintah Memberikan ASI Datang Langsung Dari Langit


Al-Qur’an 1400 Tahun Lebih Awal Dari WHO Tentang Pentingnya ASI 2 Tahun

Bila dibandingkan dengan dunia kedokteran modern, Al-Qur’an ternyata 1.400 tahun lebih dulu memberitakan tentang pentingnya pemberian ASI selama dua tahun penuh. Padahal saat itu Nabi Muhammad s.a.w. dan kehidupan orang-orang Arab belum mengenal teknologi modern seperti yang kita temukan saat ini.

Mari kita mulai bandingkan apa yang telah diajarkan al-Qur’an dengan program WHO berkenaan pentingnya pemberian ASI:

Tahun lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah diundang oleh World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) dalam rangka memperingati ulang tahun World Breastfeeding Week (WBW) yang ke 18 tahun yang diselenggarakan secara serempak oleh 150 negara dunia pada tanggal 1-7 Agustus 2009. Dalam kesempatan itu, Dr. Margaret Chan selaku WHO Director-General, melalui pidatonya yang berjudul "Breastfeeding: a vital emergency response. Are you ready?", menyebutkan:

In all situations, the best way of preventing malnutrition and mortality among infants and young children is to ensure that they start breastfeeding within one hour of birth, breastfeed exclusively (with no food or liquid other than breast milk, not even water) until six months of age and continue breastfeeding with appropriate complementary foods up to two years or beyond. Even in emergency situations, the aim should be to create and sustain an environment that encourages frequent breastfeeding for children up to at least two years of age.

Dalam semua situasi, cara terbaik dalam mencegah kekurangan nutrisi dan kematian para bayi dan anak-anak adalah dengan memastikan mereka telah memperoleh ASI dimulai dalam jangka 1 (satu) jam setelah kelahiran, lalu ASI Ekslusif (tanpa disertai makanan atau cairan maupun air sekalipun selain hanya ASI saja) hingga usia 6 (enam) bulan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian ASI yang disertai tambahan makanan pelengkap yang tepat hingga 2 (dua) tahun atau lebih. Bahkan dalam situasi darurat pun, pemberian ASI tetap terus dianjurkan diberikan secara berkala dan berkesinambungan hingga sedikitnya usia 2 (dua) tahun.

Dari pernyataan WHO tersebut, dapatlah kita sederhanakan ASI menjadi dua jenis:

  • ASI Ekslusif: dimulai 1 jam sejak persalinan atau kelahiran bayi hingga bayi berusia 6 (enam) bulan;
  • ASI Ditambah Makanan Pelengkap: mulai bayi berusia 6 (enam) bulan hingga 2 (dua) tahun atau lebih.

Al-Qur'an pun ternyata menyerukan yang sama, simaklah firman Allah Suhanahu wa Ta’ala berikut ini:

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan..." [Q.S. al-Baqarah 2:233]

Menariknya, dalam ayat tersebut, Allah S.W.T. tidak menyebutkan 2 (dua) Tahun, حَوْلَيْنِ (haulain), tetapi justru Allah S.W.T. menyebutkan 2 (dua) Tahun Penuh, حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ (haulain kaamilain). Jadi Allah S.W.T. benar-benar memerintahkan sang ibu untuk menyusui anaknya secara kontinyu dan berkesinambungan selama 2 (dua) tahun penuh.


Memberikan ASI Adalah Ibadah

Tidak hanya bertujuan untuk kesempurnaan pertumbuhan si anak, perintah memberikan ASI dalam Islam pun ternyata bernilai ibadah karena di dalamnya banyak sekali terdapat kebaikan dan tentunya dengan memberikan ASI, sang ibu berarti telah melaksanakan perintah-Nya.

Jadi jelaslah bahwa memberikan ASI itu adalah ibadah karena perintahnya datang langsung dari langit yang secara istimewa diabadikan dalam al-Qur’an. Dapat dikatakan bahwa pemberian ASI telah mendapat perhatian istimewa dari Allah S.W.T. kepada manusia, oleh karena itu tidak disangsikan lagi Allah S.W.T. menyediakan pahala dan rahmat-Nya kepada ibu yang mau memberikan ASI kepada sang anak.

WHO berpendapat sama dengan al-Qur'an, bahwa memberikan ASI itu sangatlah penting, hal ini sebagaimana yang disampaikan dalam kutipan pidatonya:

In all situations, the best way of preventing malnutrition and mortality among infants and young children is to ensure that they start breastfeeding within one hour of birth, breastfeed exclusively (with no food or liquid other than breast milk, not even water) until six months of age and continue breastfeeding with appropriate complementary foods up to two years or beyond...

Dalam semua situasi, cara terbaik dalam mencegah kekurangan nutrisi dan kematian para bayi dan anak-anak adalah dengan memastikan mereka telah memperoleh ASI dimulai dalam jangka 1 (satu) jam setelah kelahiran, lalu ASI Ekslusif (tanpa disertai makanan atau cairan maupun air sekalipun selain hanya ASI saja) hingga usia 6 (enam) bulan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian ASI yang disertai tambahan makanan pelengkap yang tepat hingga 2 (dua) tahun atau lebih.



Bagaimana Bila Ibu Tidak Mampu Memberikan ASI ?


Hal ini pun ternyata tetap mendapat perhatian langsung dari langit sebagaimana kelanjutan dari redaksi al-Baqarah 2:233 itu sendiri yaitu:

Pertama, pada prinsipnya, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak menghendaki kesulitan dan kesengsaraan bagi hamba-hamba-Nya, oleh karena Allah S.W.T. berfirman:

"...Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian..." [Q.S. al-Baqarah 2:233]

Kedua, Allah S.W.T. telah memberikan keringanan kepada kedua orang tuanya untuk tidak memberikan ASI selama 2 (dua) Tahun Penuh, dengan syarat, sang ibu memang benar-benar secara fisik tidak mampu melakukannya. Hal ini termaktub dalam kelanjutan redaksi dari ayat ini:

"...Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya..." [Q.S. al-Baqarah 2:233]

Ketiga, mengenai hal ini, WHO tampak belum jelas mengakomodasi kondisi dan kebutuhan si ibu, melainkan hanya tampak menekankan pada pentingnya pemberian ASI tersebut kepada sang anak. Hal ini dapat kita simak dari kutipan pidatonya di bawah ini yang hanya menekankankan bahwa dalam kondisi darurat pun, WHO mendesak untuk tetap memberikan ASI kepada sang anak tanpa melihat kondisi sang ibu apakah ia mampu atau tidak.

...Even in emergency situations, the aim should be to create and sustain an environment that encourages frequent breastfeeding for children up to at least two years of age.

Bahkan dalam situasi darurat pun, pemberian ASI tetap terus dianjurkan diberikan secara berkala dan berkesinambungan hingga sedikitnya usia 2 (dua) tahun.

Begitupun dalam sebuah penjelasan tentang Fakta ke-6 (HIV and Breastfeeding) dari sebuah rilis WHO yang berjudul "Ten Facts On Breastfeeding" yang berbunyi:

For HIV-positive mothers, WHO recommends exclusive breastfeeding for the first six months unless replacement feeding...

Bagi para ibu yang positif mengidap HIV, WHO merekomendasikan (sang ibu) tetap memberikan ASI ekslusif sebatas 6 (enam) bulan pertama hingga setelah itu diganti dengan makanan pengganti...

Yaitu bahkan dalam kondisi sang ibu positif HIV-AIDS, WHO tetap menganjurkan untuk tetap memberikan ASI Ekslusif dalam 6 (enam) bulan pertama kelahiran bayi, lalu kemudian setelah itu bisa digantikan dengan makanan pengganti dari susu formula.Tetapi tetap saja penjelasan tersebut hanya menitikberatkan pada desakan untuk tetap memberikan ASI sekalipun sang ibu mengidap penyakit HIV-AIDS.

Bahkan disebutkan pula sebagai pengganti ASI berikutnya, WHO hanya bisa merekomendasikan menggantinya dengan makanan pengganti yang proporsional. Sedangkan di sisi lain, baik WHO maupun badan organisasi lainnya yang bergerak dalam program ASI, sangat menyarankan untuk tidak memberikan susu formula selama 2 (dua) tahun pertama.

Al-Qur'an justru memberikan solusi yang lebih baik, yaitu sekalipun sang Ibu sudah tidak mampu atau tidak memungkinkan sekalipun mampu, tetapi sang Anak tetap saja bisa mendapat ASI dengan kadar yang setara. Bagaimana mungkin ini bisa dilakukan? Al-Qur'an menjawabnya dengan kelanjutan redaksi ayat berikutnya:

"...Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan..."
[Q.S. al-Baqarah 2:233]

Mengapa solusi al-Qur’an dikatakan punya keunggulan? Karena tidak semua wilayah di belahan dunia ini berkemampuan untuk memproduksi bahkan untuk membeli susu formula dan makanan pengganti yang kadarnya setara dengan ASI.

Jadi sekalipun di suatu wilayah tertentu yang terpencil yang sulit mendapat ASI pengganti dari susu formula, tapi sang bayi tetap mendapat ASI pengganti yang lebih baik dari susu formula yaitu dari ASI sang ibu susuan lainnya. Inilah solusi jitu yang diinspirasikan oleh al-Qur'an kepada para ibu yang tidak mampu memberikan ASI namun ingin anaknya tetap mendapat ASI yang sejati.

Nabi Muhammad s.a.w. pun dulu semasa kecilnya tidak disusui oleh ibu kandungnya, Siti Aminah, tetapi beliau dititipkan pengasuhannya dan pemberian ASI nya kepada wanita lain yaitu Siti Halimatus Saaidah. Dan hasilnya bisa kita lihat seperti apa sosok Nabi Muhammad s.a.w. itu...



Al-Qur’an 1400 Tahun Lebih Awal Dari WHO Tentang Pentingnya Ibu Untuk Memberikan Perhatian Penuh Selama Pemberian ASI

Dalam Fakta ke-9 (Work and Breastfeeding) pada rilis WHO yang berjudul “Ten Facts on Breastfeeding” disebutkan:

WHO recommends that a new mother should have at least 16 weeks of absence from work after delivery, to be able to rest and breastfeed her child. Many mothers who go back to work abandon exclusive breastfeeding before the recommended six months because they do not have sufficient time, or an adequate place to breastfeed or express and store their milk at work.

WHO merekomendasikan bahwa sang ibu yang baru melahirkan setidaknya tidak bekerja dulu (absen dari pekerjaan karirnya) selama 16 (enambelas) minggu agar sang ibu bisa mendapatkan porsi istirahat dengan cukup dan begitupun dengan bayinya agar mendapatkan dengan cukup asupan ASI darinya. Banyak dari para ibu baru melahirkan ini lebih memilih untuk bersegera kembali bekerja hingga mengabaikan pemberian ASI ekslusif sebelum mencapai masa yang direkomendasikan yaitu 6 (enam) bulan, hal ini mereka berdalih karena mereka tidak banyak waktu atau tempat yang memadai untuk memberikan ASI, atau dengan kata lain, mereka lebih memilih untuk menyimpan ASi ekslusif tersebut di kantor.

Jadi pada intinya WHO sangat menganjurkan sang ibu untuk memberikan perhatian penuh pada pemberian ASI tanpa tergesa-gesa untuk memburu pekerjaan mengejar karir, setidaknya minimal selama 16 (enambelas) minggu atau 6 (enam) bulan.

Hal ini berkaitan bila si ibu bekerja, maka lebih cenderung untuk memberikan susu formula sebagai pengganti ASI darinya, sedangkan secara medis diketahui selama 6 (enam) bulan, ASI banyak mengandung elemen-elemen sangat penting bagi kesehatan, kecerdasan, dan daya tahan tubuh sang bayi.

Apa yang diutarakan WHO sebenarnya lebih terfokus pada wanita-wanita karir yang lebih rela mengorbankan kodratnya sebagai sang ibu yang mengasuh anak.

Dalam menghadapi permasalahan ini, Al-Qur'an lebih arif dalam menyikapinya, yaitu adanya subsidi dana dan fasilitas lainnya bagi sang ibu sebagai sang suami sekalipun dalam kondisi bercerai. Karena dalam konsep Islam tidak diakui dan tidak memperkenankan adanya anak di luar pernikahan, oleh karena dalam beberapa ayat selalu dikatikan dengan peran suami sebagai penyuplai kebutuhan bagi sang ibu dan anaknya selama periode pemberian ASI 2 (dua) tahun. Mungkin salah satu ayat yang mengekspresikan hal ini dapat kita simak pada ayat berikut ini:

"Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya."
[Q.S. ath-Thalaq 65:6]

Di sini sangat jelas bahwa wanita yang telah rela berkorban untuk berkonsentrasi dan memberikan waktunya kepada sang bayi selama ASI ekslusif, wanita seperti ini lebih berkedudukan tinggi di mata Allah S.W.T. daripada wanita yang lebih mementingkan karirnya.




Jenis ASI

Sebagai tambahan pengetahuan, maka berikut ini akan diuraikan jenis-jenis ASI. Secara medis, ASI terbagi menjadi tiga stadium:

1. ASI Kolostrum
  • Merupakan cairan pertama yang keluar dari kelenjar payudara dan keluar pada hari pertama sampai hari ke-4 hingga 7.
  • Komposisinya selalu berubah dari hari ke hari.
  • Merupakan cairan kental dengan warna kekuning-kuningan, lebih kuning dibanding susu matur.
  • Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan yang akan datang.
  • Lebih banyak mengandung protein, sedangkan kadar karbohidrat dan lemaknya lebih rendah dibandingkan ASI Matang (Mature).
  • Mengandung zat anti infeksi 10-17 kali lebih banyak dari ASI Matang (Mature).
  • Total energi lebih rendah jika dibandingkan ASI Matang (Mature).
  • Volume berkisar 150-300 ml / 24 jam.

2. ASI Transisi
  • Adalah ASI yang diproduksi pada hari ke-4 sampai 7 sampai hari ke-10 sampai 14.
  • Kadar protein berkurang sedangkan kadar karbohidrat dan lemak meningkat.
  • Volume semakin meningkat.

3. ASI Matang (Mature)
  • Merupakan ASI yang diproduksi sejak hari ke-14 dan seterusnya.
  • Komposisi relatif konstan.
  • ASI merupakan makanan satu-satunya yang paling baik bagi bayi sampai usia 6 bulan.
  • Komposisi ASI dibandingkan dengan Susu Formula (komposisi kolostrum, ASI Transisi, ASI Matang dan susu sapi mempunyai kadar protein, 4,1 g %, 1,6 g %, 1,2 g %, 3,3 gr%. Lemak 2,9 g %, 3,5gr%, 3,7gr%, 4,3gr%. Kalori 57 kcal/100ml, 63 kcal/100ml, 65 kcal/100ml, 65 kcal/100 ml. Laktosa 5,5 gr%, 6,4 gr%, 7gr%, 1,8gr% (Depkes RI,1997))

Sumber: