Jumat, 27 Agustus 2010

Animal Hypnotism, Psikologi Primitif Manusia

Sambil bernostalgia, saya menulis catatan ini. Bagian penting ada di akhir catatan.

Saya punya kakak laki-laki yang doyan iseng. Saya masih ingat sebenar-benar ingat eksperimen-eksperimen yang ia lakukan kepada binatang di sekitar rumah kami. Ia membuat citho-citho untuk ngerjain ayam. Hehehe ada yang ingat dengtan citho-citho? Seekor ayam berubah menjadi pahlawan bertopeng dengan cara itu. Kebayang kan ada ayam jago berbadan kekar tapi jalannya doyong karena matanya ketutupan daun pisang? Itulah hiburan masa kecilku di Purwokerto jaman kuna lereng. Nggak asyik ya?

Sekali waktu warga dapur kami dihebohkan dengan seekor kucing yang lari lintang pukang. Macam lagi fashion show busana musim banjir , sang kucing bolak-balik dengan tas kresek nyangkut di kaki belakangnya. Rupanya kucing tetangga yang kabarnya playboy itu ketakutan setengah mati dengan suara kemresek yang terus mengikutinya kemanapun kaki melangkah, makin kencang lari makin keras pula suara nan berisik itu menguntitnya. Gak tau ilmunya sih, gitu aja panik. Jadi kasihan sang kucing, hilang sudah pesonanya. Ini pasti kerjaan kakak saya.

Lain waktu menjelang maghrib kakak saya ini ngerjain kampret alias kelelawar kampung. Mereka yang lagi TTS (terbang-terbang sore) girang bukan main melihat ada benda imut dari bumi melambung ke mereka punya langit. Nah, minta gue santap lu! Belom tahu yah, nih gue sukampret bin kampret -raja langit shift malem- lagi laper, habis tidur siang seharian... Maka disambarlah benda seukuran biji kacang yang melenting ke angkasa itu. Alamak apa yang terjadi, sejurus kemudian sukampret limbung, glebes-glebes dengan lidah melet-melet. Asem... eh pedes, mulutku kena balsem! Rupanya benda yang melayang tadi adalah kerikil bersalut balsem! Ada-ada saja yah, kakak saya ini. Hihihi... dampak positifnya mas kampret jadi tau balsem kalo masuk angin pasca begadang.

Ada hubungannya sama hipnosis? Ya mbuh. Nggak ada kali ya? Wong ini cuma pengantar.
Cuma keisengan yang di bawah inilah yang setelah saya ingat-ingat ternyata adalah fenomena hipnosis.
Kakak saya ini bisa menghipnotis ayam. Betul!
Ingat permainan bak-bak kukuluruk?
Seekor ayam hidup ditangkap lantas didirikan sampai agak tenang. Perlahan-lahan tekuk lehernya sehingga kepalanya masuk ke bawah salah satu sayap, terserah kanan atau kiri (wong baunya sama). Pelan-pelan saja. Kemudian perlahan juga dudukkan si ayam tadi ke lantai sambil baca mantra: bak-bak kukuluruk... bak-bak kukuluruk...
Ajaib, dengan mantra itu si ayam secentil apapun bakal diam berpuluh menit lamanya. Ia terhipnotis! Ayam kampung itu terhipnotis dengan metode asli kampung entah ciptaan siapa ini.

Merujuk buku Pak Adi W Gunawan, pada saat itu si ayam sedang masuk dalam mekanisme pertahanan dirinya berupa flight mechanism. Secara primitif manusia juga memiliki insting untuk menggunakan mekanisme ini: fight or flight.
Pada zaman dahulu kala, manusia primitif memiliki insting untuk mempertahankan hidupnya dengan mengembangkan kemampuan fight (melawan) atau flight (lari). Dalam menghadapi ancaman atau musuh, apabila mereka merasa tidak mampu untuk melawan (fight), yang mereka lakukan adalah lari (flight). Mekanisme flight pada masa primitif bukanlah hanya tindakan melarikan diri saja, melainkan juga berdiam diri, tubuh menegang karena takut, atau tidak bergerak sedikit pun dan berpura-pura mati. Mekanisme perlindungan diri dalam bentuk flight tersebut sebenarnya termasuk fenomena hipnosis di mana manusia berada dalam kondisi trance untuk melindungi dirinya.

Dalam proses induksi memasuki keadaan trance hipnosis, metode misdirection, confusion atau shock induction adalah beberapa contoh memanfaatkan mekanisme flight ini.
Ketika seorang sudah capek atau bingung maka ia akan memilih yang paling nyaman untuknya berupa trance dengan terbukanya critical area.Kalau dalam dunia medis kita mengenal adrenergik dan kolinergik. Tidak semua kondisi trance berarti efek kolinergik yang muncul, malah uniknya berupa campuran adre-kolinewrgik yang menguntungkan

Manusia modern masih memiliki mekanisme pertahanan diri ini. Agresi atau depresi adalah contoh ekstrimnya. Orang menjadi agresif saat merasa hidupnya terancam. Orang memilih depresif untuk melarikan diri dari masalah, itulah cara dia mempertahankan diri terhadap dunia. Mekanisme ini menguntungkan di satu sisi namun merugikan pula apabila tidak tepat dosis dan momentumnya. Hidup di dunia adalah meracik dosis, menakar-nakar dan mempergunakan mekanisme ini dengan elegan agar bisa survive dan berkembang.



Wallahu a'lam.