Kamis, 14 Oktober 2010

"The Merchant of Venice": Ekspresi Anti Yahudi Dari William Shakespeare

First Folio kumpulan karya-karya Shakespeare yang diterbitkan tahun 1623
(Courtesy of en.wikipedia.org)

Menurut keterangan situs www.william-shakespeare.info, pentas perdana The Merchant of Venice terjadi antara tahun 1596-1597. Diungkapkan juga bahwa William Shakespeare (1564-1616) tidak pernah mempublikasikan manuskrip asli dari The Merchant of Venice, dan tidak ada satupun dari manuskrip asli tersebut yang terselamatkan.

Hingga akhirnya muncul pada tahun 1623 tepat 7 tahun dari kematian Shakespeare, saat dua aktor terdekatnya, John Hemminges dan Henry Condell, mempublikasikan Mr. William Shakespeares Comedies, Histories and Tragedies, sebuah kumpulan karya-karya Shakespeare dalam edisi folio yang berisi 36 judul drama termasuk di dalamnya The Merchant of Venice dengan jumlah dialog sebanyak 26.885 kata.

Penemuan terakhir mengungkapkan bahwa manuskrip naskah ini pertama kali dicetak sekitar tahun 1600 namun tidak dipublikasikan oleh Shakespeare, di mana sudah menjadi kebiasaan Shakespeare yang enggan mempublikasikan karyanya sebelum dibubuhkan tanda pengenal khusus dirinya.

Namun pada kenyataannya, justru di masa hidupnya sempat pula muncul naskah bajakan The Merchant of Venice sebanyak 18 kali dalam edisi kuarto yang tentunya dalam versi penerbit gelap.

The Merchant of Venice mengambil plot kehidupan di kota Venice dan Belmont di Inggris sekitar abad ke-18, dengan menampilkan 4 tokoh utamanya dari total 16 tokoh adalah Shylock, Antonio (sosok sang The Mercant of Venice), Portia, dan Bassanio (kekasih Portia).

Edisi kuarto pertama publikasi The Merchant of Venice tahun 1600


SINDIRAN DRAMA THE MERCHANT OF VENICE

Apa yang membuat terkenal dari The Merchant of Venice adalah perdebatan seputar sosok Shylock, yang seakan-akan mengesankan Shakespeare adalah Sutradara Anti Semit. Shakespeare dalam naskahnya, menggambarkan Shylock sebagai seorang Yahudi rentenir yang licik dan Anti Christ.

Shylock dikisahkan memendam dendam terhadap kalangan Kristiani setelah Jessica, anak perempuannya yang sangat disayanginya, berpindah agama ke Kristiani karena mencintai seorang laki-laki Kristiani, Christian Lorenzo, dan kemudian keduanya kawin lari. Kebencian Shylock terhadap umat Kristiani terkabulkan saat ia berhasil menjerat Antonio dalam sebuah perjanjian yang tidak biasa.

Semuanya berawal dari Bassanio, teman satu kampung Antonio di Venice, yang hendak menemui kekasihnya di Belmont yang bernama Portia. Bassanio pada awalnya hendak meminjam 300 Ducat kepada Antinio untuk ongkos perjalanannya. Kebetulan keuangan Antonio saat itu sedang digulirkan dalam modal perdagangan lintas lautan. Namun kemudian Antonio menyarankan agar Bassanio meminjam kepada orang lain atas nama Antonio.

Bassanio kemudian mengantarkan Antonio untuk dipertemukan dengan Shylock, seorang rentenir Yahudi. Shylock kemudian memberikan persyaratan yang tidak lazim, bila melewati batas waktu pengembalian Antonio tidak bisa membayar, Antonio harus menggantinya dengan potongan daging tubuhnya.

Karena melihat keterdesakan Bassanio, akhirnya Antonio pun menandatangani perjanjian tersebut. Berbekal uang pinjaman dari Shylock, Bassanio berangkat ke Belmont dan kemudian berhasil menikahi Portia, di saat itulah keduanya mendapat kabar dari Venice, bahwa Antonio diseret ke pengadilan oleh Shylock karena mungkir dari pelunasan utangnya setelah kapal dagang Antonio dikabarkan tenggelam di laut lepas.

Di dalam majelis persidangan Duke of Venice, nyaris saja pengadilan menjatuhkan vonis bersalah atas Antonio seandainya Portia yang ditemani Bassanio mendadak hadir dalam persidangan tersebut. Pengadilan menyatakan Shylock sebagai pihak yang sah untuk menuntut potongan daging tubuh Antonio.

Namun kemudian Portia mengajukan banding dengan mengingatkan pengadilan bahwa dalam perjanjian tersebut hanya disebutkan potongan daging saja, oleh karena itu Portia menuntut agar Shylock memotong daging tubuh Antonio dengan dua syarat yang tidak lazim pula, yaitu ukuran potongan dagingnya harus pas tidak boleh lebih maupun kurang, serta tidak boleh mengalirkan darah, karena darah tidak termasuk dalam perjanjian tersebut.

Portia kemudian mengancam bila Shylock tidak memenuhi persyaratan tersebut, maka sesuai hukum di Venice saat itu, segala harta kekayaan Shylock akan disita oleh pengadilan sebagai milik negara. Dikisahkan Shylock mengalami kekalahan yang drastis dan menyakitkan, hal ini menyiratkan icon keterpurukan Yahudi. Sedangkan baik Portia maupun Antonio berakhir dengan bahagia karena ternyata kapal dagang Antonio kembali dengan selamat, hal ini mengisyaratkan sebagai icon kemenangan umat Kristiani dari Yahudi.


MELAWAN "THE JEW OF MALTA"

Skenario kisah dalam The Merchant of Venice merupakan reaksi perlawanan Shakespeare dari drama The Jew of Malta karya Christopher Marlowe (1564-1593). Sejarawan sastra sepakat bahwa latar belakang penciptaan drama The Merchant of Venice setelah Shakespeare menonton dan menyimak The Jew of Malta, yang mana dalam drama ini Marlowe menghadirkan tokoh Barabbas, sosok Yahudi yang disiksa oleh orang-orang Kristiani dengan cara direbus dalam katel besar berisi air mendidih.

Christopher "Kit" Marlowe
(Courtesy of Corpus Christi College, Cambridge)


The Jew of Malta merupakan drama kritik sosial dari Marlowe terhadap ketidakadilan yang diterima oleh kalangan Yahudi di Inggris. Di jaman Shakespeare dan Marlowe, yaitu di era Ratu Elizabeth I (1533-1603) berkuasa, hukum Inggris telah memberlakukan pelarangan Yahudi untuk bedomisili di Inggris. Sekalipun beberapa di antaranya ada yang tetap berhasil tinggal di Inggris karena menyamar sebagai seorang Kristiani.

Seperti diketahui bahwa era pemerintahan Ratu Elizabeth I adalah era keemasan bangsa Inggris. Di masanya Inggris berhasil mempermalukan armada kerajaan Spanyol dalam perang laut bergengsi tahun 1588, di mana banyak dari sejarawan sepakat untuk mengatakan bahwa Perang Anglo-Spanish (1585-1588) merupakan perang sentimen agama antara Katolik dengan Protestan yang diwakili Anglican Inggris waktu itu.

Termasuk pula di era kekuasaannya, terjadi kebangkitan sastra dan ekspedisi dunia, hingga di masanya Inggris terkenal dengan William Shakespeare dan Christopher Marlowe, sedangkan dalam bidang ekspedisi laut dikenal Francis Drake dan John Hawkins. Namun seiring dengan luapan era keemasan tersebut, menyerebak pula sikap anti Semit yang begitu kuat di Inggris.

Anti Semit di Inggris meningkat drastis sekitar tahun 1190-an setelah beberapa masyarakat Inggris yang non Yahudi terjebak dalam pinjaman yang mencekik dengan para Yahudi rentenir di negeri itu. Raja Richard I yang berkuasa dari 1189 hingga 1199, sempat mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan tindak kekerasan rakyat Inggris terhadap penduduk Yahudi yang saat itu sering terjadi.

Namun Anti Semit kembali mendapat angin segar setelah Raja Edward I naik tahta dan berkuasa dari 1272 hingga 1307. Edward mengharuskan setiap Yahudi di Inggris untuk memakai tanda pengenal garis kuning sebagai identitas khusus Yahudi. Selain itu, mereka pun dikenakan pajak yang sangat berat sekaligus mengucilkan mereka dengan dilarang untuk bergaul dengan para Kristiani Inggris.

Akhirnya tahun 1290, Edward mendeportasi mereka dari negeri Inggris, adapun Yahudi yang selamat dari pendeportasian itu adalah Yahudi yang sebelumnya sudah berpindah ke agama Kristiani atau dari upaya mereka setelah berhasil menyogok kalangan pemerintahan di kerajaan Inggris. Hingga 300 tahun kemudian ke masa Shakespeare, sentimen Anti Semit di Inggris masih terasa kuat.

Yang membuat saya terheran-heran adalah para sastrawan telah sepakat untuk memasukkan The Merchant of Venice dalam kategori komedi. Mungkin maksudnya adalah komedi yang intelektual penuh dengan pesan kritis, bahkan kalau boleh saya menyimpulkannya, The Merchant of Venice adalah sebuah karya Shakespeare yang terlahir dari proses aksi-reaksi "Perang Sastra" antara kalangan Yahudi dengan Anti Semit.

Salah satu artis Hollywood yang tertarik dengan The Merchant of Venice adalah Dustin Hoffman yang memerankan sosok Shylock saat pagelarannya di panggung London, serta Al Pacino yang juga memerankan Shylock saat karya Shakespeare yang kontroversial ini dituangkan dalam film layar lebar tahun 2004.

Al Pacino saat memerankan Shylock
(Courtesy of Steve Braun for Sony Pictures Entertainment, Inc.)