Selasa, 19 Oktober 2010

Kisah Keluguan Fir'aun dan Namrudz Yang Ingin Ke Surga


MENGAPA HARUS MENYUSAHKAN DIRI UNTUK MENCAPAI SURGA?

...dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan...
[Q.S. al-Hajj 22:78]

Kita seharusnya bersyukur kepada Allah yang telah menurunkan syariat agama Islam yang banyak sekali menyediakan kemudahan-kemudahan untuk mencapai surga. Sekalipun Allah membentangkan begitu luasnya ladang amal untuk bekal ke surga, tetapi Allah Maha Mengetahui akan kelemahan dan keterbatasan manusia sehingga diserulah kita untuk beramal menurut kadar kemampuan kita:

Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.
[Q.S. al-Mu'minuun 23:62]

Untuk menggapai surga, tidak perlu kita bertindak melampaui batas kewajaran seorang insan manusia yang akalnya sangat terbatas sebagaimana yang telah dilakukan oleh keluguan logika berpikir Fir'aun dan Namrudz. Keduanya mengambil jalan pintas dengan membangun bangunan tinggi yang dikiranya dengan begitu mereka bisa mencapai surga. Ditambah lagi beberapa ribu orang yang harus dikorbankan hanya untuk membangun impian keduanya sekalipun pada akhirnya sia-sia. Inilah contoh keluguan logika berpikir keduanya yang "menyusahkan diri dan membuat mahal jalan ke surga".

Bila kita tidak mau bersabar di jalan-Nya dengan lebih memilih jalan pintas, maka tanpa disadari, kita sendiri telah diperbudak oleh logika yang sempit yang tak ubahnya seperti keluguan Namrudz dan Fir'aun. Seperti apa keluguan logika cara berpikir keduanya? berikut ini contoh-contoh apa yang telah mereka perbuat:


TOWER OF BABEL: MENARA UNTUK BERTEMU TUHAN

Seorang Arab Badui datang kepada Nabi saw. dan bertanya: "Apakah Tuhan kita itu dekat? sehingga kami dapat memohon kepada-Nya, ataukah jauh? sehingga kami harus menyeru-Nya?" Nabi saw. terdiam, hingga turunlah ayat [Q.S. al-Baqarah 2:186] sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

[Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abussyaikh dan lain-lainnya dari beberapa jalan, dari Jarir bin Abdul Hamid, dari Abdah as-Sajastani, dari as-Shalt bin Hakim bin Mu'awiyah bin Jaidah, dari bapaknya yang bersumber dari datuknya.]

Dalam logika Namrudz, cara untuk bertemu dengan Tuhan adalah dengan membuat bangunan pencakar langit hingga mencapai tempat bersemayamnya Tuhan. Logika ini mirip sekali dengan Arab Badui yang datang kepada Rasulullah saw., hanya saja bedanya, Arab Badui lebih intelektual dari Namrudz karena ia telah mengaplikasikan "Malu Bertanya Sesat Di Jalan".

Ilustrasi Menara Babel oleh Pieter Bruegel the Elder (dibuat tahun 1563)

Dalam surah al-Baqarah 2:258, diceritakan perdebatan antara Nabi Ibrahim as. dengan seorang penguasa yang zalim. Perdebatan itu berakhir dengan kekalahan yang memalukan di pihak penguasa zalim tersebut:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan" orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat" lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Q.S. al-Baqarah 2:258]

Seorang penguasa yang zalim yang dimaksud adalah Namrudz (Nimrod). Akibat kalah berdebat dengan Nabi Ibrahim as., Namrudz yang telah menyatakan dirinya sebagai tuhan, akhirnya berambisi untuk menemui Tuhannya Ibrahim dan bahkan punya rencana gila untuk membunuh-Nya. Rencana gila ini kemudian direalisasikan dengan membangun sebuah menara yang sangat tinggi dengan tujuan supaya bisa mencapai kediamannya Tuhan Ibrahim.

Dalam literatur Kitab Kejadian (Genesis) -Injil Perjanjian Lama- disinggung pula tentang fungsional pembangunan Menara Babel ini:

"Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota, dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit/surga. Marilah kita cari nama supaya kita jangan terserak ke seluruh Bumi..." [Genesis 11:5-8]

Bahkan dalam literatur kitabnya Yahudi, Greek Apocalypse of Baruch, 3:5-8, diceritakan lebih rinci lagi ulah keluguan Namrudz ini.

Saat Namrudz berdiri di puncak menara tersebut, ia kemudian mengarahkan panahnya ke langit seraya berkata "Mari kita lihat seperti apakah surganya Tuhan Ibrahim, apakah terbuat dari tanah liat, kuningan, ataukah besi". Keluguan akal logika Namrudz ini dilakukannya dalam rangka hendak mengambil alih tahta Tuhannya Nabi Ibrahim as.


Menara Babel sebagaimana disebutkan dalam literatur kitab Injil dan kitabnya Yahudi, tidak pernah selesai dibangun dengan sempurna. Bahkan sempat dihancurkan oleh banjir dan Alexander the Great dalam ekspansinya ke daerah Mesopotamia.

Tidak hanya legenda tentang Menara Babel saja yang mengesankan logika manusia untuk bertemu Tuhan, di belahan bumi lainnya hampir ditemukan pola logika yang sama bahwa "untuk bertemu Tuhan, harus dibuat bangunan yang tinggi mencapai langit". Contohnya situs piramida Kukulkan suku Maya di Meksiko, situs Machu Picchu suku Inca di Peru, dan tak lupa bangunan bangsa Romawi dan Yunani.

Al-Qur'an sempat pula mencatat perilaku Fir'aun yang sama lugunya dengan Namrudz yang hendak membangun bangunan tinggi untuk melihat seperti apa Tuhannya Nabi Musa as.:

Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta."
[Q.S. al-Qashash 28:38]

Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta." Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.
[Q.S. al-Mu'min 40:36-37]


GREAT PYRAMID: TETAP MENJADI RAJA DI ALAM KEMATIAN

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia. [Q.S. al-Mu'minuun 23:115-116]

Piramida adalah sebuah kuburan super besar yang dibangun karena jalan buntu logika pemikiran Fir'aun yang khawatir kematiannya akan mengakhiri tahta dan masa kejayaannya sebagai raja yang agung. Dalam pemikiran logika mereka perlu dibangun sebuah kerajaan di alam kematian agar Fir'aun yang sudah mati tetap menjadi raja di alam kematiannya.

Logika pemikiran seperti inilah yang kemudian membawa ide untuk membangun kuburan raja mereka berukuran raksasa sebagai simbolik besarnya kekuasaan mereka kelak di alam kematian.



Di kompleks Piramida di Giza Plateu berdiri piramida-piramida dengan ukuran yang berbeda-beda mulai yang terbesar adalah Piramida Giza (the Great Pyramid atau the Pyramid of Cheops/Khufu) hingga yang terkecil Piramida Menkaure (Mykerinus). Seakan-akan para Fir'aun berlomba-lomba membuat piramida yang besar dalam persaingan ketat besarnya kekuasaan di alam kematian.

Namun bangunan super raksasa ini tak ubahnya berfungsi sebagai sebuah makam keluarga Fir'aun saja beserta perkakas dan perlengkapan kerajaan lainnya yang akan digunakan di alam kematian sebagai pelengkap tahta kerajaan.



SOLAR SHIP: TRANSPORTASI KE SURGA

Hampir di setiap bangunan Piramida ditemukan artefak perahu yang dalam mitologi bangsa Mesir kuno perahu-perahu ini akan digunakan oleh Fir'aun sebagai transportasi menuju surga di kehidupan kematiannya. Sebegitu lugunya logika Fir'aun hingga menyamakan jalan menuju surga layaknya seperti berlayar di sungai Nil sebagaimana yang biasa ia lakukan dalam aktifitas kesehariannya.

Khufu Ship yang konon akan digunakan Fir'aun Khufu menuju ke surga

Kita harus bersyukur dianugerahi al-Quran oleh Allah yang bisa menjadi "alat transportasi" kita menuju surga-Nya. Bahkan kandungan al-Quran lebih universal dari daya tampung Solar Ship milik Fir'aun.

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. [Q.S. Ibrahim 14:1]


MUMMIFICATION: RESEP UNTUK HIDUP ABADI

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [Q.S. al-Anbiyaa' 21:34-35]

Dalam mitologi bangsa Mesir kuno, mereka meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Kematian hanyalah dianggap sebagai sebuah interupsi sementara bukan sebagai terhentinya kehidupan. Untuk menjamin keberlangsungan perpindahaan kerajaan Fir'aun dari kehidupan di dunia ke kehidupan setelah kematian, maka logika mereka pun sudah terkunci dengan anggapan kehidupan setelah kematian itu suasananya hampir sama dengan yang dijalani di dunia.

Oleh karena itu dalam setiap ritual pemakaman Fir'aun, terdapat budaya untuk melestarikan sang raja dengan cara mumifikasi (pengawetan jasad) berikut menyertakan jasad-jasad keluarganya, bahkan disertakan pula aksesoris, perhiasan, dan perkakas yang biasa digunakan ketika Fir'aun masih hidup.

Sekalipun mumifikasi ini sudah sejak lama diterapkan oleh bangsa Mesir kuno, namun baru Teknologi pengawetan jenazah ini ternyata baru bisa dilakukan pada jaman dinasti ke-19. Sebelumnya mereka selalu gagal untuk mengawetkan jenazah Fir'aun.

Mungkin sering kita dengar metode pengawetan yang dilakukan adalah dengan menggunakan Natron, garam alami yang mengandung sodium karbonat, sodium bikarbonat, sodium klorid, dan sodium sulfat. Tapi metode Natron hanyalah bagian kecil dari sejarah panjang 3.000 tahun penemuan teknologi pengawetan jenazah.

Baru pada jaman dinasti ke-19 tidak hanya Natron yang digunakan, dilakukan pula dengan menghilangkan organ-organ dalam, menghilangkan kelembaban atau kadar air pada tubuh, lalu kemudian mengisolasi jasad yang tersisa dengan membungkusnya oleh linen atau membalurnya dengan semacam cairan lilin. Selengkapnya tentang rangkaian teknologi pengawetan jasad bangsa Mesir kuno dapat dilihat [di sini].

Mummi Fir'aun Ramesses II

Saat kita lebih cenderung untuk mencintai dunia, maka pada saat itu pula kita akan dirundung dengan rasa takut luar biasa dalam menghadapi kematian. Oleh sebab itulah mereka berjuang keras untuk bisa hidup selama mungkin di dunia ini yang dari rasa takut itu kemudian memicu logika-logika yang sebenarnya tidak masuk akal.

Perilaku ingin hidup abadi tak hanya terjadi pada peradaban bangsa Mesir kuno saja, pada jaman sekarang pun masih ada yang berusaha keras untuk bisa hidup abadi di dunia. Logika pemikiran ini hanya ada pada orang-orang yang jauh dari agama.

Sebagai penutup, saya coba lampirkan mumifikasi Vladimir Lenin, tokoh pendiri negara komunis Soviet yang jasadnya diawetkan (Cryonics Preservation) hingga saat ini. Ide pengawetan jasad Lenin ini pada mulanya dimunculkan oleh dua tokoh pergerakan Russian Cosmism yaitu Leonid Krasin dan Alexander Bogdanov dengan tujuan untuk menjamin kebangkitan kembali Lenin di masa depan.

Ide ini baru terwujud setelah Lenin meninggal pada 21 Januari 1924, dan pembalseman dilakukan pada 23 Januari 1924 oleh Prof. Alexei Ivanovich Abrikosov. Sejak saat itu secara permanen, jasad Lenin yang telah diawetkan, dipertontonkan kepada publik di Lenin Mausoleum (Mavzoléy Lénina), yang berada di Lapangan Merah Moskow.

Mudah-mudahan kita sebagai umat beragama tidak terpengaruh dan tergoda dengan jalan-jalan pintas yang menjerumuskan, dan semoga Allah SWT. senantiasa menaungi dan melindungi orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Mausoleum Lenin di Lapangan Merah Moskow

Pintu masuk ke Mausoleum Lenin


FOTO-FOTO PROSESI PEMANDIAN JASAD LENIN











SUMBER: