Jumat, 15 April 2011

lanjutan kasus etika bagi dokter dan profesi kesehatan

Kasus 4

Para bidan menolak menginformasikan ibu dan menyembunyikan kelainan kongenital bayi dari si ibu selama seminggu. Dengan membuat berbagaimacam alasan, mereka tidak menunjukkan bayi kepada si ibu. Hingga suatu ketika si ibu sangat marah, ketika dokter anak akhirnya datang dan menjelaskan bahwa si ibu melahirkan bayi yang mengalami kelainan. Si Dokter anak mengatakan “dari pengalaman saya anak-anak dengan jenis kelainan ini tidak mampu bertahan hidup lebih dari satu bulan.” Pada saat pasien menanyakan penyebab dari kelainan ini, dokter anak menjawab “Itu semua salah Anda, Anda tidak boleh hamil di atas usia 40 tahun”. Si ibu patah hatinya dan menangis. Dia meninggalkan rumah sakit 2 jam sesudahnya dengan pulang paksa.


kasus 5

Manajer perusahaan pesawat terbang nasional merasa khawatir mengenai perilaku dan kesalahan-kesalahan aneh dari seorang pilot senior. Sang manajer melakukan pencarian dan akhirnya menemukan nama dan alamat dokter keluarga sang pilot senior tersebut di tempat praktik pribadinya. Sang manajer menuliskan permintaan kepada sang dokter praktik pribadi agar sang dokter mau memberikan catatan mengenai terapi untuk sang pilot untuk masalah penglihatan dan psikologisnya. Ia secara khusus bertanya mengenai informasi yang berkaitan dengan penyalah gunaan obat. Sang dokter praktik pribadi tersebut memanggil sang manajer dan memberikan informasi mengenai sang pilot, tetapi menolak dalam bentuk tulisan karena tidak mendiskusikan masalah tersebut dengan pasien. Dua minggu sesudahnya sang dokter praktik pribadi tersebut menerima penawaran tiket penerbangan gratis untuk dirinya sendiri beserta istri untuk suatu resort liburan. Selanjutnya surat dari kantor humas penerbangan tersebut memberitahukan bahwa perusahaan telah melakukan promosi dan nama yang mendapatkan keberuntungan tersebut diseleksi secara acak dari nomor telefon. Sang dokter akhirnya berangkat menikmati perjalanannya beserta istri.


kasus 6

Seorang peneliti kedokteran yang berstase di rumah sakit untuk kepentingan penelitiannya mengambil sampel setiap spesimen darah untuk melakukan uji HBV (Hepatitis B virus). Pihak otoritas rumah sakit telah mengetahui apa yang dilakukan oleh sang peneliti, tetapi pasien tidak diberikan informed (consent) karena sang peneliti tidak mencatat nama pasien. Suatu hari karena rasa ingin tahunya, sang peneliti melakukan uji untuk HIV dan mendapatkan salah satu spesimen itu positif. Ia menjadi bingung apa yang harus dilakukan mengenai pengungkapan masalah penting ini. Akhirnya ia mengundang pertemuan dengan staf senior di rumah sakit untuk membahas permasalahan ini. Ia juga melibatkan pengacara terkenal dari kota untuk memberikan perspektif non medis mengenai masalah ini.