Senin, 20 Oktober 2008

Infeksi Nifas

Infeksi nifas mencakup semua peradangan yang disebabkan masuknya kuman-kuman kedalam alat-alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam nifas ialah kenaikan suhu sampai 38 0C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama paska melahirkan, dengan mengecualikan hari pertama, suhu harus diukur sedikitnya 4 kali sehari.

Di negara-negara yang sedang berkembang dengan pelayanan kebidanan yang masih jauh dari sempurna, kejadian infeksi nifas masih besar. Infeksi nifas umumnya disebabkan oleh bakteri yang ada dalam keadaan normal berada dalam usus dan jalan lahir.

Kuman-kuman penyebab infeksi nifas antara lain:Streptokokus haemolyticus aerobicus, Staphylokokus aureus, E. coli dan Clostridium welchii. Infeksi terjadi akibat:
1.Tangan pemeriksa membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina kedalam uterus.
2.Droplet infeksi (akibat air liur meleleh he he he)
3.Kain-kain dan alat suciama yang digunakan untuk merawat wanita bersalin/nifas
4.Koitus pada akhir kehamilan
5.Infeksi dalam persalinan

Faktor Predisposisi (yang memepermudah infeksi)
1.Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita
2.Persalinan lama (macet)
3.Tindakan bedah vaginal
4.Tertinggalnya sisa plasenta

Infeksi nifas dapat dibagi dalam 2 golongan yaitu :
1.Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks, dan endometrium
2.Penyebaran dari tempat tersebut melalui vena, getah bening, dan endometrium

GAMBARAN KLINIK
Infeksi pada perineum, vulva, vagina, dan serviks : Gejalanya berupa rasa nyeri dan panas tempat infeksi, perih saat kencing. Bilamana getah radang bisa keluar, biasanya keadaan tidak berat, suhu sekitar 38 0C dan nadi dibawah 100 x/menit. Bilamana luka infeksi tertutup oleh jahitan dan getah radang tidak bisa keluar demam bisa naik sampai 39 – 40 0C dan kadang-kadang menggigil.

Endometritis: Gambarann klinik tergantung jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita, dan derajat trauma pada jalan lahir, uterus agak membesar serta nyeri dan lembek. Lokia biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau.

Septikemia dan Piemia: Merupakan infeksi berat. Pada septikemia gejala timbul mendadak dan dari permulaan penderita sudah sakit dan lemah, suhu sekitar 39 – 40 0C, nadi cepat 140-160 x/menit, penderita bisa meninggal 4 – 6 hari postpartum. Pada piemia penderita tidak lama setelah postpartum sudah merasa sakit, perut nyeri dan suhu agak meningkat. Setelah kuman dengan embolus memasuki peredaran darah, barulah timbul gejala-gejala infeksi umum dengan suhu tinggi dan menggigil. Ciri khas piemia adalah bahwa berulang-ulang suhu yang meningkat dengan cepat disertai menggigil kemudian diikuti dengan turunnya suhu.

Peritonitis: Terjadi akibat meluasnya endometritis, kadang-kadang ditemukan bersamaan dengan salpingo oofporitis dan sellulitis pelvika, peritonitis bisa terbatas pada daerah pelpis ataupun umum pada seluruh peritoneum.

Sellulitis pelvika: Suhu tinggi menetap disertai rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam.

Salpingitis dan Ooforitis: Gejalanya tidak dapat dipisahkan dari pelvioperitonitis.

PENCEGAHAN
Selama kehamilan
- Cegah anemia dengan memperbaiki gizi dan diet yang baik.
- Koitus pada hamil tua sebaiknya dilarang.

Selama persalinan
- Batasi masukknya kuman kedalam jalan lahir.
- Jaga persalinan agar tidak berlarut.
- Selesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin.
- Cegah terjadinya perdarahan banyak.
- Periksa dalam dilakukan hanya bila perlu.
- Transfusi darah harus diberikan menurut keperluan.

Selama nifas
- Jaga luka-luka agar tidak dimasuki kuman.
- Batasi pengunjung pada hari-hari pertama nifas.
- Penderita dengan tanda infeksi harus diisolasikan.

PENGOBATAN
- Berikan antibiotika dengan spectrum luas.
- Lakukan tindakan untuk mempertinggi daya tahan tubuh.
- Jika terjadi apses lakukan pembukaan jahitan.
- Transfusi darah bila perlu.