Minggu, 18 Januari 2009

Penerbangan yang Menegangkan 1


Tanggal 20 januari 2008. Pesawat garuda Boeing 737-400 yang mengangkut Kloter JKG-047 lepas landas dari bandara KMA Madinah pukul 23.00 waktu setempat. Sebelum naik pesawat tadi saya sudah skrining semua pasien risti (risiko tinggi) yang selama di Makkah dan Madinah "bermasalah". Aman, begitu saya pikir setelah selesai melakukan ronde di ruag tunggu bandara.
Rupanya menjelang pulang ke tanah air saya baru menjalankan 'rukun' haji yang ke 13 yakni flu. Sudah jadi guyonan di kalangan jamaah haji bahwa semua wajib kena flu selama di tanah suci, entah kenapa tapi memang hampir semua jemaah pasti mengalami flu. Saya yang merasa sehat-sehat di sana saja ternyata harus menerima giliran menjelang pulang. Mungkin biar ada oleh-oleh, sebab di antara jamaah dan petugas saya termasuk paling sedikit membawa oleh-oleh..xixixi
Pesawatpun terbang dengan lancar. Saya yang telah merasa aman sudah memutuskan untuk minum obat flu Alpara yang punya efek samping mengantuk, karena mengandung CTM 4 mg. Tidak apa tidur toh kondisi jamaah aman tata tenteram kerta raharja.
Penerbangan berjalan tenang, saya pun terlelap. Sampai kira-kira 1,5 jam kemudian saya dibangunkan oleh seorang jamaah," Dok, tolong dilihat Pak Id, dia butuh bantuan!"
Sayapun bangun dan dengan terhuyung-huyung berjalan mengikutinya. Rupanya cukup jauh juga, saya duduk di seat paling depan sementara pasien berada di bangku pertengahan agak ke belakang. O, ya Allah ternyata Dokter Id, salah seorang jemaah kami yang dokter penyakit dalam dan memang punya aritmia (degup jantung tidak teratur). Dia selama perjalanan berangkat dan di Makkah maupun Madinah tidak bermasalah, karena rutin minum Amiodaron (obat antiaritmia). Kadang memang PEAnya muncul namun tidak lama. PEA adalah Pulseless Electric Activity, semacam gangguan dimana aktivitas listrik jantung ada, namun tidak menghasilkan pompaan sehingga termasuk kelainan yang mengancam nyawa. Dokter Id terlihat pucat dan cemas. Saya segera meraba nadi radialisnya, ternyata benar! Nadinya pelan bahkan kadang berhenti sekitar 3-5 detik. Ini mungkin karena penurunan tekanan atmosfir pada penerbangan setinggi 13.000 kaki.
Saya segera mengecek obat dan alat emergency kit. Ambu bag sudah saya siapkan untuk keadaan seperti ini. Tapi epinefrin! Ya Dokter Id bituh epinefrin pada kondisi saat ini! Itu tidak ada, karena memang kami tidak dibekali. Dan suplai oksigen dengan yang cukup! Saya segera menghubungi kepala pramugari atau semacam manager on duty penerbangan ini dan minta tabung oksigen. Pramugari segera membawakan saya satu tabung kecil kira-kira hanya cukup untuk setengah jam dengan aliran volum 3 literan, padahal dokter Id perlu volume paling tidak 4 liter per menit! Apa daya sementara ini saja dulu, mana tahu keadaan membaik.
Sambil menjaga agar tidak jatuh karena saya sangat mengantuk saya terus memantau nadi Dokter Id, kan tidak ada monitor. Perawat kami ada tiga orang semua ibu-ibu, kasihan juga untuk membangunkan mereka yang sedang tidur.Lagipula tidak enak, ini teman sejawatku, senior saya. dan ini adalah kejadian mengancam nyawa, saya harus berjuang menjaga kesadaran diri saya agar tidak terlena oleh CTM dan hembusan AC yang dingin. Tabung pertama habis tidak sampai setengah jam, Dokter Id kembali pucat dan cemas. Keluarganya mulai panik. Saya tak kalah panik. GPS di layar menunjukkan poisi kami masih di atas semenanjung Arab, tepatnya di atas Abu Dhabi, UEA. Ini gawat, penerbangan masih sekitar 7 jam lagi. 
Saya segera minta tabung kedua, dan kali ini dapat tapi dengan embel-embel , "Ini terakhir ya Dok, sebab tabung kita hanya 7 dan sesuai aturan penerbangan tidak boleh semua dihabiskan." 
So? Bagaimana ini penerbangan masih 7 jam lagi? 
"Turunkan saja volumenya, satu liter saja, " kata Mbak Pramugari tenang. 
Wih, dia tidak tahu. "Ya sudah pasang Mbak," kataku sambil mencari akal bagaimana agar tabung oksigen selalu ada sampai pesawat mendarat di Jakarta.
Begitulah, selalu terjadi tawar menawar yang cukup alot untuk meminta tabung oksigen untuk menyelamatkan nyawa dokter Id. Hanya itu yang bisa kami lakukan: baringkan pasien supaya beban kerja jantung tidak terlalu berat, dan oksigen. Hanya itu yang bisa, diiringi doa dan kecemasan. Sepanjang perjalanan hanya bisa berdoa, meraba nadi, dan menatap GPS berharap waktu mempercepat langkahnya, berharap bumi mempersempit jarak agar kami sampai di Jakarta secepat mungkin.
Seisi pesawat terlelap dalam tidur malam, dalam mimpi indah bertemu keluarga, dan dipanggil Pak Haji Bu Haji. Saya dan keluarga serta awak pesawat terjaga dalam mimpi buruk.
Akhirnya penerbangan sepuluh jam berakhir dengan selamat. Menjelang pendaratan, kami mengontak Kantor Kesehatan Pelabuhan Soekarno Hatta agar segera disiapkan ambulance.
Pesawatpun mendarat dengan mulus, dan segera ambulan sudah siap di landasan. Dokter Id segera dijemput oleh awak ambulan dan Dokter Gembong dari KKP. Alhamdulillah, penerbangan yang sangat menegangkan berakhir dengan selamat sentosa.