Kamis, 19 Juli 2012

Petani Tanpa Tanah


Petani tanpa tanah, tercerabut dari akarnya, dari ibu-pertiwi. Hilanglah kemerdekaannya jadilah petani penggarap yang diperkuda majikan tuan-tanah. Petani berangkat pagi buta, pulang gelap gulita, bercucuran keringat, mencangkul, membajak, memupuk, menanam benih, membasmi hama, risiko dipatuk ular berbisa, memanen, menjemur, mengangkut, setelah satu musim panen, hasilnya "maro" dibagi 2, 50% juragan, 50% petani penggarap itu.

Hilang kemerdekaan, hilang kebebasan, hidup terus di bawah bayang2 juragan tuan-tanah.

Kira2 begitulah nasib dari dokter yang tak memiliki klinik mandiri, bukan sebagai pemilik-pelaksana (owner-operator) hanya terjebak menjadi pelaksana dengan segala kesulitan, dan risikonya, bak petani penggarap tadi.

Oleh karenanya, kita harus berjuang mengalihkan semua klinik layanan primer menjadi klinik mandiri melalui usaha bersama, konversi, akuisisi, pembelian saham dari juragan setidaknya para dokter menguasai 51%-nya. Mayoritas sederhana.