Kamis, 19 Februari 2009

Terus Belajar, Keharusan Buat Seorang Dokter Gigi

Banyaknya ilmu pengetahuan tentang cara terapi, bahan-bahan yang digunakan dan bahan-bahan yang sudah kuno, teknik terbaru, alat dan bahan terbaru menuntut seorang dokter gigi untuk menjadi seorang pembelajar seumur hidupnya. Sehingga intensitas seorang dokter gigi yang terus-menerus belajar akan membuat dirinya berbeda dengan dokter gigi lainnya.

Pembelajaran itu sangat tergantung dari diri sendiri dan sangat jarang tergantung dari sebuah institusi. Karena menurut saya, belajar tidaklah harus dikotak-kotakkan seperti itu. Tersedia banyak sekali alternatif sarana untuk terus belajar, serta sharing pengalaman dengan teman sejawat. Namun demikian tidak mudah untuk terus bersinergi dengan majunya ilmu pengetahuan yang terus berkembang pesat. Percaya atau tidak, dan ini adalah sebuah kenyataan yang terjadi di bidang keilmuan manapun. Bahwa ilmu yang didapat sewaktu belajar di institusi, lulus 5 tahun kemudian dan praktek 5 tahun kemudian, sudah sangat berbeda jauh ilmunya. Belum lagi berubahnya trend populer ke era dimana pasien mulai sadar diri untuk menuntut bila pelayanan tidak memuaskan, mengharuskan dokter gigi membenahi diri terus menerus. Tapi hal ini tidak mudah karena berbagai halangan dan rintangan.

Rintangan pertama bisa ditimbulkan dari segi wilayah. Pada wilayah yang sepi dan terpencil, sulitnya komunikasi bisa menjadi hambatan terhadap informasi yang masuk. Kendala seperti ini biasanya disiasati dengan pertemuan antar teman sejawat dikoordinir oleh PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) cabang setempat yang setidaknya dilakukan 3 bulan sekali. Disamping itu dokter gigi bisa kembali ke kampusnya untuk mengikuti kursus penyegaran dari almamaternya. Atau kebutuhan informasi bisa juga disiasati dengan langganan jurnal kedokteran gigi, berlangganan majalah, tabloid atau jurnal kedokteran gigi. Keterpencilan juga bisa diatasi seandainya saja ada koneksi internet yang dapat menghubungkan individu tersebut. Diskusi dengan Teman Sejawat di tempat yang sangat jauh, saling tukar informasi berbagai kasus, bertanya mengenai jenis-jenis peralatan modern yang sudah beredar di kota besar, mendekatkan jarak antar individu. Koneksi internet ini sebenarnya bisa menjadi pemersatu bagi dokter gigi di Indonesia, yang bertugas di kepulauan atau daerah terpencil yang sulit dijangkau transportasi. Dengan terjaminnya informasi, masyarakat bisa berlega hati, bahwa dokter gigi-nya tidak pernah ketinggalan jaman.

Rintangan kedua, bisa datang dari diri dokter gigi itu sendiri, seperti sibuk mengurus praktek, mengurus keluarga, bahkan mungkin ada yang berpolitik jadi caleg dan lain-lain.

Ketiga, dari segi waktu dan biaya. Untuk mendapatkan ilmu dimasa sekarang ini pendidikan selalu membutuhkan biaya. Biaya untuk mengikuti sebuah kursus ketrampilan, seminar keilmuan, tentunya tidak sedikit menguras kantong dan menyita waktu. Untuk dokter gigi yang tinggal jauh di pelosok dan mendapatkan orderan yang banyak, pasien yang membludak antri meski ruang praktek belum buka, sibuk mengurus gigi tiruan di dental laboratorium, memperbaiki dental unit yang rusak dengan seorang tehnisi. Tentunya merasa berat untuk mengikuti kegiatan diatas.

Keempat, minat pribadi dari dokter gigi. Tidak jarang banyak dokter gigi yang sudah mulai melupakan profesi aslinya karena keasyikan menelusuri minatnya di bidang lain (ini nasehat buat diri saya, terutama!). Minat pribadi ini hampir seperti tidak bisa diganggu gugat. Untunglah, profesi dokter/dokter gigi akan selalu membuat orang yang meyandang gelar itu selalu teringat akan tanggungjawab kompetensinya terhadap ilmu pengetahuan.

Kelima, tempat dimana dokter gigi bekerja. Dokter gigi yang praktek sendiri relatif lebih ‘berdiri sendiri’ sedangkan dokter gigi yang melakukan praktek bersama sebagai ‘associate’ bisa saling berbagi informasi tentang pengalaman, pengetahuan serta menularkan semangat untuk terus belajar. Apalagi –beruntung- bagi dokter gigi yang merangkap sebagai staf pengajar atau praktek di Institusi Pendidikan. Mereka mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai oleh dokter gigi umum, karena institusi pendidikan adalah sumber kemajuan dan merupakan barometer ilmu pengetahuan yang berkembang di suatu negara. Pengetahuan selalu automatically update seperti layaknya sebuah antivirus.

Semoga bisa menjadi sumber inspirasi dan another point of view buat senior-senior dan adik-adik sejawat dimanapun anda bersemayam.
Wallahu Ta'ala A'lam.