Jumat, 13 Februari 2009

Takut Ke Dokter Gigi


Takut ke dokter istilah ilmiahnya adalah dental fear, dental phobia, dentophobia, dentist phobia. Dapat didefenisikan yaitu ketakutan, kecemasan yang ringan sampai berlebihan (lebai...) untuk menerima perawatan gigi dari dokter gigi. Kalau anda penikmat tetralogi laskar pelangi maka anda dapat menemukan kasus ini pada diri si Ikal yang takut di odontektomi oleh drg. Diaz. Beragam cara dilakukan oleh orang-orang yang takut dokter gigi untuk menghindar dari keharusan ini. Tulisan saya kali ini akan membahas penyebab dan terapi/tips-tips agar tidak takut lagi ke dokter gigi.

Penyebab :
  • Trauma akan masa lalu yang pernah dialami terkait perawatan kesehatan. Hal ini mungkin dikarenakan pada saat itu, pasien menerima perawatan operasi/gigi yang agresif dan invasif. Trauma ini mayoritas berhubungan dengan jarum, darah, bur gigi, dll.
  • Jenis kelamin juga dilaporkan sangat berpengaruh dengan tingkat kerjasama pasien dokter gigi. Wanita dilaporkan lebih banyak menderita kecemasan dan ketakutan untuk ke dokter gigi.
  • Dokter gigi yang berpenampilan seram, dingin, tidak ramah, dan cuek salah satu faktor penyebab takutnya pasien ke dokter gigi. Ruang praktek yang berwarna latar belakang dan bercat putih layaknya warna kain kafan juga merupakan penyumbang terbesar faktor ketakutan ini

Terapi/tips :
  • Datanglah ke dokter gigi sebelum terlambat! Maksudnya, sebelum anda menerima perawatan yang lebih agresif dan invasif, maka periksakan gigi anda ke dokter gigi secara rutin
  • Melakukan teknik relaksasi jikalau anda didatangi kecemasan ini. Teknik ini bermacam-macam ; mulai dari menarik nafas dalam-dalam dan perlahan (masuk hidung keluar mulut), istighfar, zikir, sampai shalat sunnah 2 rakaat.
  • Banyaklah berkonsultasi dengan orang yang sudah sering ke dokter gigi. Bertanyalah kepada mereka. Insya Allah, perawatan gigi tidak seseram yang anda bayangkan kok.
  • Ke dokter gigi bersama pasangan atau ortu anda salah satu cara agar anda bisa lebih tenang. Minimal ada tempat bercerita sewaktu di ruang tunggu pasien.
  • Bisa karena biasa! Sebelum mengalami perawatan gigi yang invasif dan agresif seperti pencabutan dan penambalan, sering-seringlah ke dokter gigi untuk perawatan gigi ringan seperti bersihkan karang gigi. Agar anda terbiasa dengan suasana praktek dokter gigi.
  • Berakrab-akrablah dengan dokter gigi anda. Bahkan dilamar untuk nikahpun boleh asal cocok (hehehe bercanda). Kalau anda sudah kenal dan percaya dengan baik dokter gigi anda, menurut penelitian adalah salah satu cara ampuh untuk mengurangi tingkat kecemasan anda
  • Satu lagi, mahasiswa-i FKG (Fakultas Kedokteran Gigi) terkenal cantik dan ganteng. Jadi jangan takut menghadap dokter gigi ya...(ini bagian tidak penting dan tidak perlu...hehehe)

Untuk pasien yang tingkat kecemasannya sudah parah maka ada beberapa cara yang bisa dilakukan :
  • Anestesi umum, alias pasiennya di-”pingsan”-kan dulu
  • Pakai alat bantu pengikat, khususnya anak-anak. Kalau orang dewasa dipegangi banyak orang, kayak si Ikal di Maryamah Karpov
  • Alternatif terapi hipnotis, tapi jarang dokter gigi yang mampu. Kalau tidak bisa saya sebut LANGKA

Untuk abang/adik rekan sejawat :
  • Ramahlah kepada pasien anda, jangan sekali-kali karena beralasan lelah lantas cuek kepada pasien.
  • Lihat, dengar, rasakan keluhannya. Jangan mencoreng nama baik korps dokter gigi!
  • Gunakan latar ruang praktek yang berwarna ceria dan jauh dari kesan kamar mayat. Inovasinya terserah anda
  • Gunakan metode tell-show-do
  • Gunakan bahasa instruksi yang mudah dimengerti
  • Maksimalkan indra peraba, pencium, dan perasa untuk memperkenalkan bidang pekerjaan kita dengan pasien. Seperti menggunakan parfum ruangan aroma terapi dll. (Jangan lupa parfum badan, biar gak BB, hehehe)
  • Tunjukkan bahwa perawatan gigi itu sehat dan menyenangkan