Minggu, 01 Februari 2009

PKS Target 20 %? Bersabarlah wahai saudaraku…














Insya Allah saya berjanji pada diri saya, bahwa ini adalah tulisan saya yang terakhir tentang PKS. Kecuali terjadi suatu hal luar biasa yang perlu saya tanggapi secara menyeluruh lewat sebuah tulisan. Sebisa mungkin tanggapan yang datang akan saya layani di kolom komentar.
Pertanyaan selanjutnya : mengapa saya sering sekali menyoroti PKS?
Jawab : Saya sempat menaruh penghargaan dan rasa hormat setinggi-tingginya buat partai ini, bahkan ketika saya sudah keluar dari PKS. Tapi belakangan saya kehilangan semua itu perlahan demi perlahan. Seiring banyaknya kebijakan aneh yang dikeluarkan oleh qiyadah-qiyadahnya. Saya juga adalah seorang simpatisan gerakan Ikhwanul Muslimin, artinya : mau tidak mau saya harus concern terhadap PKS yang merupakan institusi satu-satunya di Indonesia yang comply dengan manhaj gerakan Ikhwanul Muslimin. Tulisan saya ini hanyalah bentuk sisa kecintaan saya terhadap PKS.

Sudah mahfum dan mutawatir di berbagai kalangan bahwa target PKS adalah mencapai perolehan suara 20 % pada pemilu 2009. Dengan bermaksud untuk menegakkan eksistensi dinul islam di sebuah negeri ber-ras melayu mayoritas berpenduduk muslim bernama Indonesia. Target itu tidak salah, tetapi ada yang perlu diperhatikan lebih lanjut, yaitu EFEK dari target ini. Jangan sampai karena ingin segera mencapai “kemenangan” lantas mengabaikan “aturan dan norma dakwah”. Cara yang ditampilkan untuk meraih targetan suara tersebut haruslah tetap inline dengan platform dan ideologi yang diusung PKS. Saya sendiri haqqul yakin, bahwa filosofi ini masih konsisten dijalankan oleh sebagian besar qiyadah PKS secara individu.

Cuma disayangkan untuk mencapai target tersebut dalam prakteknya banyak melabrak aturan-aturan yang sudah di gariskan oleh PKS sendiri sebelumnya. “Kesan” yang timbul dari usaha pencapaian target ini adalah qiyadah tidak mempunyai rasa sabar dalam mencapai tujuan. Ingin secepatnya menyaksikan dengan mata kepala sendiri PKS menang dan berkuasa meski harus mengorbankan apapun juga. Sudah tidak risih untuk melakukan apa saja dan melupakan aturannya sendiri bahkan mau bergabung dengan partai yang menolak UU pornografi, mengelus-elus Suharto, mewacanakan partai tengah, menolak wacana syariat islam (maaf, ini KESAN, tidak bermaksud menuduh). Semoga semua ini hanya wacana dan semoga tidak direalisasikan menjadi produk nyata. Sampai tulisan ini saya buat, belum ada kesepakatan resmi tentang koalisi PKS dengan PDIP. Tapi demi Allah! Kalau PKS jadi berkoalisi dengan PDIP (sementara DSP di era Dr Salim Segaf Al Jufri sudah mengeluarkan tadzkirah tegas, haram hukumnya perempuan menjadi kepala negara) maka saya akan menganggap PKS sama saja dengan partai lainnya. Tidak pantas mendapatkan tempat posisi yang istimewa di hati saya dan kaum muslimin yang lain, dan tidak pantas untuk diperhatikan! Toh, sama saja dengan GOLKAR, Demokrat, Gerindra dan lain-lain.

Salah satu yang patut disayangkan adalah demi target perolehan suara, maka banyak sekali asatidz yang dulunya berjuang untuk dakwah, berkorban dan berdarah-darah membangun tarbiyah (bukan PKS) harus menerima perlakuan yang tidak layak dan tidak pantas. Tanggal 28 Maret 2008, 2 bus yang berisi puluhan asatidz sangat senior datang langsung ke Lembang, ke kediaman Muraqib Amm (MA). Menyampaikan rekomendasi yang tanpa tedeng aling-aling menyerukan revolusi besar di jamaah tarbiyah. Hasilnya? Setahu saya kritik tertulis enam halaman itu dibuang ke tong sampah, tidak ada satupun yang dipenuhi. Padahal yang mau menyampaikan itu adalah para ustadz yang sama-sama pendiri jamaah ini, dikenal baik oleh MA sendiri, bahkan juga mungkin lebih dulu mengenal manhaj dakwah IM di Indonesia ketimbang MA.

Bahkan satu-persatu ustad-ustad itu lalu dipanggil untuk diinterogasi, diiiqab, dan dicekal dari halaqah, dilarang membawa atau mengisi materi di semua acara kepartaian. Kader di bawah lalu dimobilisasi untuk “memusuhi” mereka? Sementara kader-kader itu kebanyakan tidak pernah bersentuhan, bertatap muka atau berdialog, bahkan belum mengenal ustad-ustad tersebut. (inisial beliau-beliau adalah IT, DR, FJ, SB, AH, RA, ASJ, MSHD, MD, HBBL dan lain-lain). Kenapa harus seperti ini? Toh pendapat para ustadz senior itu tidak untuk memecah belah jamaah, mereka sangat mencintai jamaah tarbiyah karena merekalah salah satu unsur pendiri jamaah tersebut. Kalau asatidz itu dianggap bersalah oleh MA, sebandingkah kesalahan mereka dengan jasa-jasa mereka bagi jamaah ini? Sebandingkah dengan kezhaliman yang dilakukan Soeharto? Atau mereka lebih zhalim dari Soeharto, sehingga harus disingkirkan, dibuang dan dimusuhi? Kalau asatidz senior saja dibantai, apatah lagi mantan kader cukluk seperti Iqbal? hihi

Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi apabila PKS mau lebih bersabar dalam menjalankan dakwah siyasinya. Masih banyak cara yang lebih elegan. Perolehan suara yang diraih sebaiknya merupakan suara yang berkualitas dimana orang memilih karena kesadarannya dan bukan karena pengaruh propaganda dan sejenisnya. Hendaknya simpati justru diperoleh karena kepercayaan rakyat/umat/simpatisan/kader yang tidak pernah tercederai oleh tindakan, keputusan ataupun gaya penampilan para qiyadah. PKS hendaknya lebih sabar untuk mentarbiyah swing voters dan menguatkan kader yang telah ada, meskipun dalam 5 tahun mungkin hanya memperoleh kenaikan 1 % suara (lihatlah saudara tuamu di Mesir). Namun ini insyaAllah jauh lebih mulia dan lebih memberi keberkahan.Seluruh elemen PKS periode kini hendaknya juga ikhlas bersabar untuk memposisikan diri sebagai peletak pondasi kemenangan dakwah siyasi generasi mendatang.

Toh Imam Al Banna selalu menekankan kebertahapan untuk menegakkan khilafah islamiyah? Bahkan memberikan perhatian khusus kepada putra-putri ikhwan, yang dipercaya akan menegakkan agama ini? Insya Allah jika tidak ada aral melintang, dengan metode kebertahapan maka bukan tidak mungkin pada tahun 2074 Islam akan tegak sempurna dengan topangan tangan kokoh umat di Indonesia. Daripada memposisikan diri di depan tahun 2025, namun ditopang oleh pondasi yang rapuh dan dibangun di atas pencederaan saudara seiman.

Perintah Al-Quran dalam 16:125 jelas mengatakan untuk memanggil manusia ke jalan Tuhan, bukan agar mencapai target sampai ke jalan Tuhan. Implikasinya adalah bahwa yang penting adalah ikhtiar/effort untuk mencapai jalan Tuhan, bukan tercapainya tujuan. Ini bukan masalah success/failure tapi masalah effort, seberapa besar ikhtiarnya. Mengapa tidak mencontoh risalah para Nabi, yang berorientasi proses dan tidak berorientasi hasil? Rasulullah memerlukan waktu kira-kira 23 tahun untuk membentuk masyarakat madani, perlu ratusan tahun dan beberapa seri perang salib ketika Salahudin akhirnya bisa membebaskan Palestina. Konstatinopel baru jatuh pada tahun 1453 oleh Muhammad Al Fatih untuk mewujudkan nubuatan Rasul SAW yang diucapkan 700 tahun sebelumnya.

Dan perlu kita ingat lagi, bahwa kekuasaan bukanlah tujuan dakwah. Kekuasaan hanyalah sebagai buah dari dakwah itu sendiri. Dakwah hanyalah untuk mengajak manusia agar mereka kembali kepada Allah. Agar mereka beribadah kepada Allah saja dengan ibadah yang diajarkan oleh Allah melalui rasul Nya ( An Nahl 36). HANYA ITU. Adapun berkuasanya satu kaum muslimin, dengan izin Allah, adalah bonus, karunia dari Allah kepada mereka.

Kita bisa membaca kisah tentang para nabi sebelum nabi kita, sebagaimana dikisahkan oleh nabi Muhammad sendiri dalam salah satu hadits
“ Ditampakkan kepadaku ummat ummat, maka ada seorang nabi yang datang bersamanya beberapa orang, kemudian datang seorang nabi yang bersamanya tiga orang, kemudian datang seorang nabi dan bersamanya satu orang dan ada nabi yang datang dan tidak seorangpun bersamanya” (HR Daud)

Dalam hadits ini jelas, ada nabi yang datang tanpa membawa pengikut, apatah lagi berkuasa? Akan tetapi, apakah dakwah para nabi ini gagal ? Tidak, tentu saja. Akan tetapi mereka telah menyampaikan risalah dari Rabbnya dengan sempurna. Dan mereka tetap berada pada puncak kemuliaannya, meski tak seorangpun mengikutinya (bandingkan dengan target 20%, dengan “melanggar” apa yang telah diikrarkan sebelumnya). Kita pun bisa membaca hanya berapa nabi, dari sekian banyak nabi, yang diberi kekuasaan oleh Allah ? Tidakkah kita mengambil pelajaran? Tidakkah kita berpikir?

Partai hanyalah satu wasilah. Kalimat ini sering kita dengar, akan tetapi apakah kita benar-benar menjadikannya sebagai wasilah ? Ataukah justru kita menjadikan wasilah ini sebagai (maaf) “sesembahan” selain Allah ? Karena wasilah ini telah melanggar rambu-rambu yang sesungguhnya menjadi tujuan dari didirikannya wasilah itu sendiri ? Partai bukanlah satu-satunya jalan mencapai tujuan da'wah. Bukan karena sistem partai tak dikenal di zaman Rasulullah. Tapi memang Islam lebih memfokuskan kepada da'wah menyeru manusia ke jalan Tuhan. Mengandalkan partai sebagai satu-satunya jalan dan meninggalkan mau'izah (pengajaran), maka kita akan melakukan kesalahan yang sama seperti partai FIS di Aljazair, atau partai Islamis Turki, yang semuanya gagal karena dibendung oleh militer dan birokrat yang belum terwarnai dengan shibgah Allah.

Dengan da'wah yang menyentuh segala kalangan, lapisan masyarakat, berbagai tingkat ekonomi, bermacam profesi maka pencapaian kepada kesadaran bahwa Syari'ah adalah the only solution untuk masalah kemanusiaan akan menjadi keniscayaan. Tak peduli berapa abad harus dilalui, tak peduli harus berapa generasi da'wah harus dijalankan. Tak usah terlalu tenggelam dalam kesedihan dengan Al-quds yang masih dalam cengkeraman yahudi, atau bumi warisan para nabi yang dalam genggaman kaum kafir. Toh saudara-saudara kita HAMAS (Allahu Yarham) masih berkata kepada Zionis : “ Ayo…hajar lagi kalau kau masih kuat!” Atau “Kami masih belum butuh mujahidin dari Indonesia, kami hanya butuh dana!”. Kehadiran mereka justru pertanda Allah membuka loket untuk tiket jihad fi sabilillah, buat orang yang benar-benar menyerahkan nyawa dan raga.

Saya sangat kagum dengan Ustad Mashadi, anggota DPR RI dari Partai Keadilan tahun 1999-2004. Seorang yang begitu wara' (menjaga diri dari fitnah dunia/harta). Kader mana yang tak kenal Ustad Mashadi di tahun 2004? Sosok yang seolah-olah jelmaan Umar bin Abdul Aziz, Sang pemimpin legendaris yang terkenal karena kesederhanaannya. Ustad Mashadi yang anggota DPR dengan segala kemewahan fasilitasnya, hanya punya sebuah motor (motor, bukan mobil!) di garasi rumahnya. Pergi kantor naik motor atau bis kota, berhimpit-himpitan dengan rakyat jelata. Padahal, rekannya sesama dewan memakai mobil mewah yang super nyaman. Subhanallah, inilah contoh pemimpin harapan umat. Siapa pula yang tidak jatuh hati pada karakter pemimpin seperti ini? Orang awam saja jatuh hati, apatah saya yang kader (dulu tahun 2004, skrg keder hehehe).

Bahkan ada cerita ketika rapat paripurna akan berlangsung. Seorang SATPAM menahan beliau untuk masuk ke gedung DPR yang tidak percaya bahwa ustad Mashadi adalah seorang anggota dewan karena naik sepeda motor yang butut. Si SATPAM baru percaya setelah diperlihatkan lencana kehormatan anggota DPR RI. Subhanallah! Kami berjanji dalam hati, berjuang sekuat tenaga memenangkan partai ini pada 2004, agar lebih banyak lagi orang-orang sholeh yang mengisi pemerintahan. Agar lebih baik negeri ini. Tapi apa lacur? Sosok ustad Mashadi lenyap entah kemana, bahkan kabarnya dijatuhi sanksi oleh TPDO. Wahai ustad yang kucintai karena Allah, dimanakah engkau sekarang?

Entahlah... Saya hanya berharap Allah masih menjaga partai (yang pernah saya cintai setengah hidup) ini dari penyimpangan. Bagaimanapun, masih banyak orang sholeh di kalangan pemimpin PKS. Semoga Allah menggerakkan hati mereka untuk sebuah perubahan ishlah. Mari kita berdoa, semoga negara ini diwarisi dan dikelola oleh hamba-hamba yang bertaqwa, rendah hati, dan pimpinannya adalah yang betul-betul berniat menegakkan syariah dan sabar sampai akhirnya baldah thayyibah benar-benar terwujud, jika tidak di dunia ini, di akhirat nanti.

Berkata Hasan Al Banna (semoga Allah merahmatinya) :
“ Quumuu daulatal islami fii Quluubikum takum lakum fi Ardhikum”,
Tegakkanlah daulah islam itu dalam hati-hati kalian, niscaya akan tegak bagi kalian di bumi kalian.

Bersabarlah wahai saudaraku…