Rabu, 23 April 2008

Dokter Juga Manusia, Tapi Harus Tampil PRIMA

Dokter Tewas Bakar Diri [1]

Seorang ibu dokter, 46 tahun, ditemukan tewas dengan membakar diri di samping garasi rumahnya.

Jenazah ibu tiga anak itu pertama kali ditemukan oleh dua putrinya, pertama berusia 17 tahun dan putri keduanya yang berusia 13 tahun, pada pagi harinya ketika mereka bingung ibunya tidak ada.

Tahu ibunya tidak ada, anak sulungnya yang berusia 18 tahun segera menghubungi sang ayah, yang juga dokter dan sudah beberapa tahun tinggal di tempat lain karena “pisah ranjang”. Setelah datang, ayah dan anak-anak segera mencari sang ibu. Mereka akhirnya menemukan wanita itu sudah tewas, dengan luka bakar di sekujur tubuhnya di sebuah garasi di samping kiri rumahnya.

Tidak mudah kan jadi dokter!

Apalagi menuntut dokter agar menunjukkan kinerja yang sempurna. Tidak begitu saja menyuruh dokter harus selalu siap ketika pasien datang meminta pertolongan. Tidak begitu saja menyuruh dokter untuk menurunkan tarifnya bahkan digratiskan hingga setiap orang bisa menikmati pelayanan kesehatan sebagai sebuah public good.[2] Tidak begitu saja menyuruh dokter harus longgar hatinya ketika melayani pasien dan keluarganya yang mencemaskan penyakit yang diderita. Sehingga menghasilkan dokter yang ramah, murah senyum dalam memberikan pelayanan.

Dokter Juga Manusia, tapi harus
tampil PRIMA ketika melayani PASIEN


[1] Suara Merdeka, Kamis Legi, 19 Mei 2005

[2] Public good adalah barang yang bisa dikonsumsi oleh siapa saja tanpa harus membayar. Menjadi hajat hidup orang banyak. Seperti oksigen, setiap orang bisa mengonsumsinya tanpa harus membayar dan tanpa pemisahan orang yang membayar maupun tidak.