Kamis, 31 Januari 2008

Semakin terkenal dokter, ga pernah disebut gelarnya

Di Solo, tempat saya tinggal, bahasa Jawa berkolaborasi ato tepatnya menginfiltrasi bahasa Indonesia dengan sempurna. Banyak ungkapan-ungkapan bahasa Indonesia khas Solo yang sebenarnya merupakan bahasa Jawa yang dipaksakan jadi bahasa Indonesia

“Gimana… orange kok misih ga datang ke sini” kata seorang pengusaha

Iyae..udah tak bilangi suruh ke sini..orange tetep ga mau.. aku sampek bosen mbilangi orange” kata teman pengusaha.

Lha situ… misih sodarane tho… masak gak isa mbilangi?” kata seorang pengusaha tadi

Sodara….ya…sodara..tapi kalo masalah bisnis ya lain.. kemarin dia dah liyak-liyak punyake situ?” kata teman pengusaha satunya

Diane cuman liyak-liyak thok… ga ngasih omong apa-apa. Lha sama situ diae bilang apa-apa?” balas pengusaha tadi.

…………………………….

Termasuk menyebut dokter. Semakin terkenal seorang dokter, semakin tidak dihormati dalam mengungkapkannya ke orang lain ato malah ke dokter lain.

“Kemarin aku dah ke Syahril .. udah di kasih obat tapi belum ada kaceke” kata ibu yang memeriksakan anaknya ke dokter Yulidar.

(Maksud Syahril itu dokter Syahril)

“Kalo Yulidar itu ngasih obat dosise terlalu tinggi… tapi kalo Salimo itu kerendahen… “ kata seorang ibu-ibu yang bercerita kepada saya, saat makan di warung makan kolam renang Cokro.

(Maksud Yulidar adalah dokter Yulidar, sedang maksud Salimo adalah dokter Salimo)

“Lha kok ibu tahu..kalo dosisnya terlalu tinggi … sedang satunya dosisnya rendah?” tanya saya kepada ibu muda ini.

“Iya… kalo ke Yulidar… memang langsung sembuh…tapi anake langsung lemes gitu… berarti ketinggian kan dosise.. lha kalo ke Salimo itu … setelah minum berhari-hari baru anake bisa sembuh..” jelas ibu muda tadi yang mengantar anak dan suaminya yang sedang renang.

……………………………

Saya ga protes, maksudnya ga usah pakek nyebut dokter ga masalah, mbok nyebutnya pakek pak ato bu, kan para dokter yang disebut itu sudah sepuh, rata-rata sudah beranak cucu. Ya sedikit dihormatilah.

Hei mau protes sama siapa?

Yaa ini sekedar pemberitahuan aja… kok

Ada yang menarik di sini, ternyata dosis tinggi dipersepsi cepet sembuh tapi anaknya lemes. Sedangkan dosis rendah…sembuhnya lama.

Saya yakin, dokter kalo ngasih obat ato memilihkan dosis obat sudah sesuai aturan pakek. Hanya masalahnya di sini, kecepatan penyembuhan itulah yang dipersepsi orang sebagai dosis tinggi ato rendah.

Inilah bedanya antara kenyataan dan persepsi yang berkembang dalam benak orang ato masyarakat.

BAGIAN yang ga nyambung...


Inilah Sejarah Benda-benda Yang diAkrabi Kaum Lelaki dari Lahir sampai Akhir Hayat

Kembali ke bagian yang nyambung..

KIRA-KIRA KALO ANDA JADI DOKTER YANG DISEBUT DIATAS.. apa yang jadi pikiran dan perasaan ANda?