Rabu, 23 Januari 2008

Nanti kalau pipisnya berwarna merah, kontrol lagi ya mas!

Ada yang menarik yang ingin saya ceritakan kepada pembaca; kisah seorang teman sejawat yang jaga di klinik 24 jam di Jakarta. Memang orang yang royal, sebutan untuk mereka yang suka “jajan” wanita pekerja seks komersial, dalam tata aturan norma di masyarakat bukanlah orang yang pantas untuk dikasihani.


Penyakit yang diderita adalah penyakit yang mereka buat sendiri. Akibatnya termasuk ketika dalam melayani mereka cenderung sebagian dokter suka “ngerjain” pasien-pasien dengan karakter seperti itu. Cara “ngerjain” pun macam-macam. Ada yang diinjeksi kanan kiri dengan tarifnya dua puluh kali harga obatnya. Atau harga jasa layanannya dinaikkan minimum tiga kali lipat. Inipun dianggap masih kurang. Bahkan sebagian merasa “berpahala” apabila mampu mengerjain pasien seperti itu, dengan harapan agar berpikir seribu kali bila “jajan”.

Uang untuk berobat sangat mahal, terlebih mereka yang sudah beristri dilarang berhubungan dengan istrinya sampai penyakitnya dinyatakan sembuh oleh dokter.

Agar para lelaki hidung belang ini kontrol lagi ke tempat praktik dokternya, sengaja sebagian dokter menambahkan obat tertentu yang membuat air seni pasien berwarna kemerahan. Sebelum peristiwa itu terjadi pasien dibekali dengan peringatan “pak, obat ini diminum pada hari ketiga, kalau habis minum obat ini, pipisnya berwarna merah, harus segera kontrol, kalau tidak bisa berbahaya!”

Kontan, dipastikan pasien akan kontrol pada hari ketiga, karena pipisnya pasti berwarna merah seperti darah disebabkan metabolit obat yang membuat warna pipis berwarna merah. Pasien tentu saja ketakutan dan kontrol kembali.

Setelah kembali, “nah ini kesempatan keduaku untuk ‘menggebug’ diri kau” kata dokternya dalam hati.



WASPADALAH! Akan terbentuk LSM yang mengadvokasi mereka dalam wadah EMPALROTAN (EMansipasi PAra Lelaki ROyal terTANtang).