Selasa, 11 September 2007

Three in One

Berikut adalah adaptasi kisah nyata teman sejawat dokter, dengan rekayasa imajinasi tentang dialog dan skenario adegannya…..
……………………………………
Pasar kecamatan Serba Sehat.. sejak subuh tadi sudah menunjukkan dinamisnya denyut kehidupan desa-desa yang ada di sekitarnya. Praktik dokter Handono sudah menunjukkan aktivitasnya sejak jam 6.00 pagi tadi….sudah tidak ada pasien sejak pukul 08.00 WIB lalu….
Saat ini matahari sudah memancarkan kehangatannya…dan pelan-pelan mulai berubah menjadi panas menyengat. Waktu menunjukkan 09.00 WIB.
Di sebuah bangunan yang di tata demikian eye catching…
“Mau foto bisa mas?” kata Narti yang ingin mengabadikan tampangnya
“Bisa mbak silakan masuk” kata sang Tukang foto mempersilakan tamunya.
Pelanggan masuk ruang studio kemudian di foto oleh sang tukang foto.


Posisi 1…… catch!
Posisi 2 ……catch!
Posisi 3 …… catch!
Posisi 4 …….catch!
Posisi 5 ……. catch!


Hasil jepretan kamera digital diperlihatkan kepada mbak Narti..
Posisi 2 dan 3 diulang ya mas….



“OK”
Posisi 2 ulangan…. Catch!
Posisi 3 ulangan …. Catch!

Puas…puas…puas… dengan posisi, hasil jepretan foto, dan suasana perfotoan….
“Gimana mbak….? Ada lagi yang bisa dibantu?”
“Sudah mas”
Mbak Narti keluar…

“Ditunggu dulu ya mbak…saya buatin notanya..” kata tukang foto dengan senyum yang ramah.
“Iya mas…” kata mbak Narti.

Beberapa saat kemudian…
“Ini mbak…notanya…nanti sore baru bisa diambil mbak” kata tukang foto tadi..
“Eh mas…mumpung masih di sini.. saya mau beli itu… CDR…” kata Narti
“Ya mbak” jawab sang tukang foto.
“Berapa mas harganya?” tanya Narti
“Tujuh belas ribu tujuh ratus lima puluh rupiah” kata sang tukang foto

“OK..jadi saya beli…. Ini uangnya mas” kata Narti

Tukang foto mengambil CDR, membungkusnya dalam plastik dan menyerahkan kembalian..
“Ini mbak CDRnya dan ini kembaliannya” kata tukang foto.
“Mas..iseng nanya nih… dokternya masih di rumah ga?’ kata Narti
“Masih. Mbak mau periksa?” tanya tukang foto
“Iya mas… tenggorokanku lagi sakit nih, badan agak meriang..” kata Narti
“Sebentar ya mbak… ditunggu dulu..” kata tukang foto.
…………………………….

“Silakan masuk mbak” kata tukang foto yang saat ini berubah penampilannya memakai jas putih yang menandakan bahwa ia adalah seorang dokter.
“Lho masnya tadi kan yang memotret saya…trus ngelayanin beli obat… lha dokternya mana?” tanya Narti dengan nada tidak percaya.

”Dokternya saya sendiri mbak.. mas yang biasa memotret hari ini sedang ada keperluan… jadi saya yang memotret… sedang mbak yang biasa ngelayanin toko..sedang membantu istri saya belanja di kota….”

“Oooooooo three in one = tukang foto, pelayan toko dan dokter” bahasa suroboyoannya : “Wong siji ngrangkep telu”

glodak tenan!!!

Sekarang, bisnis sang dokter ini berkembang pesat, ada toko swalayan, apotik, studio foto dan…
Praktik pribadi tetap jalan.

Ini benar-benar pendapat pribadi..
kalo dokter ingin benar-benar tulus ketika praktik atau memberikan yang terbaik kepada pasien-pasiennya.
Salah satu solusinya adalah mempunyai usaha yang sudah bisa menghasilkan uang tanpa kehadirannya.
Jadi ketika praktik tidak ada harapan bahwa satu-satunya sumber pendapatannya adalah dari praktik itu….