Selasa, 11 September 2007

Core Bisnis Dokter : Menyembuhkan Orang Sakit atau Fasilitasi Orang untuk Memproduksi Kesehatan?

Sumber pendapatan sebagian besar dokter kita saat ini berasal dari aktivitas tradisionalnya yaitu jasa yang diperoleh dari pasien sakit yang datang berobat. Pelaku aktivitas tradisional ini bisa praktek pribadi, praktek bersama, klinik dokter spesialis, ataupun rumah sakit. Dari aktivitas tradisional ini, bisnis berkembang di sekitarnya, yaitu bisnis produksi obat, distribusinya mulai dari pedagang besar farmasi hingga di apotek-apotek yang tersebar merata dan bahkan saling berhadap-hadapan atau berdampingan. Suatu bisnis yang lebih dikenal dengan bisnis farmasi. Bahkan bisnis ini nilainya sangat besar, mungkin bisa melebihi uang yang diberikan pasien kepada dokternya, bila bisnis obat OTC dimasukkan di dalamnya. Sebagai gambaran, nilai pasar total farmasi 2004 mencapai 22.5 triliun1 [bandingkan dengan nilai pasar barang elektronik pada tahun yang sama yaitu sebesar 14 triliun; berarti anggaran untuk obat bagi orang Indonesia Rp. 8 triliun lebih banyak atau melebihi anggaran untuk beli barang elektronik seperti TV, AC, Kulkas, CD Player dan sejenisnya2] – kurang dari setengah persen pasar farmasi dunia yang US$ 550 miliar.1 Nilai pasar total ini, tentunya termasuk biaya yang digunakan perusahaan farmasi untuk mensponsori berbagai kegiatan yang dilakukan dokter secara pribadi atau bersama-sama. Aktivitas bisnis lain dalam skala kecil adalah bisnis percetakan, kertas, alat tulis hingga yang relatif besar adalah jasa konstruksi bangunan beserta arsitekturnya untuk wujud bangunan klinik, rumah sakit dan institusi layanan kesehatan lainnya.

Sebenarnya, apakah sumber pendapatan dokter harus berasal dari bisnis menyembuhkan orang sakit? Atau, apakah satu-satunya pendapatan dokter harus berasal dari jasa yang diberikan kepada pasien sakit yang datang berobat kepadanya? Hingga sering kita dengar isu dokter rebutan pasien, atau hubungan antar teman sejawat menjadi renggang gara-gara masalah berebut pasien? Sangat tidak etis memang. Atau ada pula sering kita dengar dokter bila memberikan resep sangat “manjur”, yang dipersepsi demikian oleh pasien melihat dari mahalnya obat yang diresepkan. Dan ujung-ujungnya sudah menjadi rahasia umum, mendapatkan insentif dari perusahaan farmasi.

Merumuskan Definisi Bisnis Profesi Dokter
Menurut Grossman, pada dasarnya setiap individu adalah produsen kesehatan bagi dirinya sendiri. Kesehatan sebagai output, mempunyai input meliputi perumahan yang sehat, pendidikan kesehatan yang memadai, status pekerjaan yang jelas serta nutrisi atau gizi yang berimbang dan bermutu, disamping layanan kesehatan yang dia kunjungi saat sakit. Diasumsikan bahwa individu berusaha untuk memaksimalkan utilitas fungsional waktu hidupnya, dalam arti memaksimalkan jumlah [maupun kualitas] hari-hari sehatnya dari waktu ke waktu sepanjang hidupnya hingga individu tersebut meninggal. 3

Dengan melihat definisi Grossman di atas, layanan kesehatan termasuk dokter di dalamnya hanyalah salah satu input yang dibutuhkan oleh individu untuk memproduksi kesehatannya. Karena itu kalau orientasi atau definisi bisnis dokter hanya fokus pada menyembuhkan orang, maka terlalu sempit definisinya. Dari fokus menyembuhkan penyakit orang, memang sudah luas cakupannya. Hingga saat ini telah ada 20 spesialisasi, yang semuanya berfokus pada menyembuhkan penyakit orang. Itupun masih banyak yang mempertanyakan mengenai efektivitas dan efisiensi praktek kedokteran yang dijalankan. Bagaimana tidak efisien? Diceritakan, seorang psikiater dari RRC yang menghadiri kongres American Psychiatrists Association di Philadelphia pada tahun 2002 mengakui bahwa biaya perjalanannya dibiayai oleh perusahaan farmasi. Berapa biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan farmasi untuk membiayai dokter tersebut? Pasti sangat mahal. Dan tentunya uang tersebut berasal dari kantong pasien juga.4

Dari sini dapat disimpulkan bahwa dokter dan perusahaan farmasi memperlambat atau menambah beban seorang individu untuk memperoleh kesehatannya kembali. Berarti input yang diperoleh untuk memproduksi kesehatannya tidak efisien secara biaya. Orientasi sempit menyembuhkan pasien dan mengkomersialisasinya berubah menjadi faktor inefisiensi bagi pasien dalam memaksimalkan hari-hari sehat, untuk mengisi sisa hidupnya dengan karya-karya yang produktif.

Dengan orientasi definisi bisnis bagi profesi dokter yang lebih luas, dapat kita lihat input-input lain yang diperlukan oleh individu untuk memproduksi kesehatannya. Input-input tersebut bisa lebih luas, tergantung pada kreativitas dokter dalam menerjemahkannya dalam aplikasi yang bisa dikonsumsi oleh individu dengan tetap memberikan keuntungan bagi dokter. Serta meningkatkan efektifitas dan efisiensi individu memproduksi kesehatannya.

Salah satu input yang selama ini sudah banyak dilakukan dan memberikan keuntungan bagi dokter, adalah pendidikan kesehatan yang memadai bagi individu. Dikatakan oleh Grossman pula3, bahwa pendidikan kesehatan yang memadai akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi seorang individu dalam memproduksi kesehatannya. Dalam konteks ini, beberapa nama yang sudah menasional adalah dr. Boyke. Pendidikan kesehatan yang dilakukannya melalui “road show” ceramah kesehatan di daerah, telah mencerahkan banyak orang tentang perilaku hidup sehat. Mungkin pendapatan yang diperoleh dari “road show” ini, jauh lebih banyak ketimbang pendapatan yang berasal dari praktek pribadinya sebagai dokter Obs-Gyn. Bentuk pendidikan kesehatan lain adalah menerbitkan buku-buku kesehatan, seperti yang dilakukan oleh dr. Syamsyurijal Jauzi Ahli Penyakit Dalam, serta ceramah-ceramah kesehatan yang beliau lakukan di berbagai media, adalah salah satu bentuk service dokter agar individu tercerahkan sehingga dapat lebih memproduksi kesehatannya secara efektif dan efisien. dr. Utami Roesli Ahli Anak pun juga melakukan hal serupa, melalui pendidikan pijat bayi, pendidikan ASI, baik dalam buku maupun CD, juga mencerahkan para ibu-ibu dan bapak-bapak muda yang baru mempunyai anak, sehingga dapat merawat putra-putrinya dengan sesedikit mungkin melakukan hal-hal yang tidak diperlukan dan pemborosan.

Input lain, terutama sangat relevan dengan kehidupan modern, yang penuh ketegangan dan stressful live event, dalam mencegah terjadinya penyakit kecemasan, depresi dan psikosomatik adalah klinik meditasi dan relaksasi. Jam kerja yang panjang, serta tuntutan yang tinggi, orientasi kerja yang hanya untuk orang lain, semakin meninggikan ketegangan emosional. Keadaan ini, dalam jangka panjang akan berdampak buruk bagi kesehatan. Karena itu, saat ini mendesak terpenuhinya kebutuhan emosional untuk diri sendiri. Banyak barang dan jasa yang saat ini disajikan untuk pemenuhan ruang emosional diri ini. Dalam hal ini kaum pria dalam mencari saat-saat sendiri lebih menyukai menyendiri dalam kamar yang dilengkapi dengan komputer pribadi, sound system premium, atau home theater. Bagi konsumen wanita, serta mulai diminati pria, marak klinik-klinik spa, bahkan di Amerika mulai banyak klinik spa yang ditangani oleh seorang yang bergelar M.D. (Doctor of Medicine) kalau di negara kita dokter. Mereka (para konsumen tadi) merasa tidak begitu takut dalam lingkungan yang menyenangkan dan non klinis daripada yang mereka rasakan di rumah sakit, dan mereka senang dengan harga rendah berkaitan dengan spa ketika dibandingkan dengan pelayanan penuh rumah sakit. 5 Walaupun sebenarnya layanan jasa ini belum tentu efektif dalam menghilangkan ketegangan emosional yang selama ini mereka hadapi.

Dan banyak input lain yang bisa digali oleh dokter untuk memaksimalkan hari-hari sehat individu. Yang dapat disimpulkan disini adalah core bisnis dokter tidak hanya melulu pada menyembukan orang sakit, tetapi lebih luas cakupannya memfasilitasi orang dalam memproduksi kesehatannya. Harapan terakhirnya pasien atau setiap individu dapat memproduksi kesehatannya dari input-input yang diperoleh dengan efektif dan efisien.

Wallahua’lam


Daftar Rujukan
1. Warta Ekonomi Edisi 08 Tahun XVII 18 April 2005; liputan hal 20 ; Bisnis Farmasi Ini Dia Para Penguasanya
2. SWAplus, Majalah SWAsembada no. 09/XXI/28 April – 11 Mei 2005
3. Ann Clewer and David Perkins, 1998; Economics for Helath Care Management, Prentice Hall Europe 1998, p 7.
4. Laksono Trisnantoro, 2005, Aspek Strategis dalam Manajemen Rumah Sakit, Penerbit Andi Yogyakarta, 2005 hal 25
5. Michael J. Silverstein and Neil Fiske, 2003; Trading Up: Why Consumers Want New Luxury Goods – and How Companies Create Them, edisi Indonesia; Trading Up: Cerita Produk-produk Supermahal yang Diburu Konsumen dan Bagaimana Perusahaan Menciptakannya; penerjemah : Kristina Wasiyati, Penerbit B-first, Desember 2005 hal 52,55, 61