Senin, 11 Juni 2007

Sholat Malam Satu Rokaat

Penampilannya memang rata-rata kebanyakan orang…. Tidak ada yang istimewa. Tapi begitu ngobrol-ngobrol agak lama baru kelihatan bahwa tokoh kita yang satu ini memang berbeda dengan yang lain. Dan kalo boleh saya mengategorikannya aneh….

Berikut adalah salah satu dari yang saya anggap aneh itu…. Eh dikoreksi… maksudnya terlalu menyederhanakan permasalahan kayaknya yang pas seperti itu…deh

“Saya kalo pas bisa bangun malam dan ada kesempatan sholat malam…. Saya sholat satu rokaat saja…” kata Herman

Satu rokaat?” tanyaku

“Iya … kan ada hadits yang insya Allah berbunyi ‘banyak orang yang sholat malam, tetapi sia-sia…hanya mendapat lelah saja’…” kata Herman dengan penuh semangat.

Lalu hubungannya dengan sholat satu rokaat?” tanyaku masih belum paham

Yaa.. kalo misalnya sholatnya diterima … ya syukur alhamdulillah… lha kalo ga diterima kan ga capek-capek banget..” kata Herman masih dalam mimik yang serius..

Ha ha ha ha wakkakkakkkaak badala tenan..

Ini juga termasuk prinsip efektif dan efisien. Tapi kalo menurut hati nurani kayaknya kurang pas gitu… saya menganggap sholat malam.. tidak usah dihitung berapa tingkat kecapekan yang telah kita lakukan… lha wong itu kita yang butuh kok… jadi ga usah itung-itungan gitu.

…………………………………………………….

Dalam kehidupan sehari-hari kita memang banyak sekali dihadapkan dengan banyak keputusan. Dan keputusan itu selalu berimplikasi pada biaya-biaya. Biaya tidak saja materi tetapi juga berkaitan dengan yang non materi…

Kata Grossmann sang pakar ekonomi kesehatan setiap orang berusaha memproduksi kesehatannya sendiri. Untuk itu ia perlu masukan dalam memproduksi kesehatannya. Masukan itu berupa gizi yang berimbang, perumahan yang sehat, keuangan yang mapan, perilaku dan gaya hidupnya yang sehat.

Dan tujuan akhir memproduksi kesehatan adalah meningkatkan jumlah hari sehat yang dapat ia nikmati agar ia produktif dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang akan produktif kesehatannya apabila gaya hidupnya menambah produksi kesehatannya. Atau gaya hidupnya mempunyai pengaruh dalam jangka panjang menghambat depresiasi nilai kesehatannya karena bertambah usia.

Perilaku yang tidak sehat seperti merokok, apapun mereknya entah A Mild, Gudang Garam, Dji Sam Soe, Sampoerna Hijau atau Class Mild, maka dalam jangka panjang akan berakibat menurunnya fungsi paru lebih dini, lebih mudah terkena hipertensi, stroke dan diabetes mellitus. Bila terkena penyakit itu, berarti depresiasi kesehatannya akan semakin dini diperoleh dan drastis. Demikian juga dengan diet yang tidak berimbang serta kurangnya olah raga juga memperbesar kemungkinan penyakit yang sama.

Perilaku lain, seperti kebut-kebutan dan sembrono di jalan raya, akan meningkatkan kemungkinan kecelakaan yang berujung pada kecacatan.

Peminum dalam jangka panjang juga berakibat mempercepat degenerasi otak secara dini atau orang awam mengatakan semakin mudah mengalami pikun.

Pendek kata perilaku atau gaya hidup sehat adalah input untuk memproduksi kesehatan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Akhirnya akan memperbanyak kualitas maupun kuantitas hari-hari sehat yang akan dia lalui hingga akhir hayatnya.