Kamis, 26 April 2007

“Gempa” berskala liter

Seorang bapak-bapak, umur 40-an tahun… berjalan sempoyongan… berjalan di atas jalan yang mendaki. Sebenarnya tidak terjal amat, kemiringan jalan cuman 15 – 20 derajat.

Berkali-kali terjatuh di titik yang sama… berdiri, berjalan terjatuh…. Lagi-lagi di titik yang sama….

Namun, sayangnya di titik itu ada jemuran dari aluminium.. yang menempel di pagar rumah yang mepet sekali dengan jalan. Akibatnya ……………

Krompyaaaang……

………………………..

Mencoba berdiri…mencoba jalan… dan… jatuh…

……………………..

Krompyaaaang……….

………………………..

Mencoba berdiri…mencoba jalan… dan… jatuh…

……………………..

Krompyang…..

………………………..

Mencoba berdiri…mencoba jalan… dan… jatuh…

……………………..

kalo "gempa" udah jadi budaya

--> butuh traffic light di atas

Akhirnya berhasil jalan, setelah yang punya rumah keluar… dan membimbingnya berjalan naik… walopun masih menyangkal..

“Jangan dibantu… aku masih bisa jalan kok” kata orang yang sempoyongan tadi..

“Ya masih kuat… tapi biar jalannya terarah memang harus dibantu” kata pemilik rumah yang berusaha menghindari kata-kata konfrontasi….

Itulah yang terjadi hampir setiap hari di atas jam 21.00 WIB ketika saya masih mahasiswa dulu….. sebagai gambaran kecil dari sebagian besar perilaku…..

para pemuda dan bapak-bapaknya sering mengalami “gempa”.

Kalau gempa yang membuat kerusakan dahsyat berskala Richter, tetapi “gempa” di kampung dekat kos saya ini hampir setiap hari terjadi dan berskala liter. Artinya setelah menenggak ciu1 beberapa mili liter hingga berliter-liter, baru terjadi “gempa” setempat.

“Gempa” setempat ini akan meluas manakala ada orang kampung yang sedang punya hajat. Mulai kelahiran bayi, khitan, dan manténan (pesta pengantin). Bahkan kematian pun juga diiringi pesta “gempa”.

Anehnya setelah berdirinya masjid Sabililah dekat dengan kos saya, peristiwa “gempa” itu turun drastis.

Walaupun ada satu dua orang yang masih bersolo karier melakukan ritual rutin membangkitkan “gempa” setiap malam.

Kesimpulan

Perilaku buruk dan sudah menjadi budaya massal…tidak bisa dihilangkan begitu saja …tetapi hanya bisa ditekan hingga titik yang minimal

1 Minuman beralkohol tinggi produksi tradisional produksi Bekonang Sukoharjo