Jumat, 03 Desember 2010

Dokter dan Persoalan Etika

Seorang pasien wanita muda 23 tahun datang kepada dokter pria 30 tahun, dengan keluhan nyeri saat berkemih. Dokter mendiagnosis wanita tadi dengan infeksi saluran kemih. Karena risau dengan yang dia alami, sang pasien tadi menanyakan apakah nyeri saat berkemih itu ada hubungannya dengan hubungan seks yang beberapa hari dia lakukan dengan pacarnya. Sebelum mengutarakan kerisauannya, sang pasien wanita ini butuh meyakinkan pada dokternya bahwa sang dokter bisa menjaga rahasia karena profesinya sebagai dokter dengan mengatakan, “saya tahu dokter dengan profesi Anda bisa menjaga rahasia saya.......”

Mengapa sang pasien wanita muda ini bisa leluasa untuk menceritakan kepada dokternya yang berlawanan jenis dengannya mengenai rahasia hubungan intim dengan pacarnya? Mengapa dokter harus bisa menjaga rahasia pasien-pasien mereka? Apakah karena dokternya sudah mengucapkan sumpah jabatan? Inilah beberapa pertanyaan sensitif yang hanya bisa dijawab setelah mempelajari etika.

Beberapa dekade ini, dengan ditemukannya teknologi pipet yang mampu memasukkan dan mengeluarkan inti sesuai dengan keinginan sang peneliti. Dalam kaitannya dengan memasukkan dan mengeluarkan inti sel, yang menjadi perhatian dalam satu dekade terakhir adalah ketika inti sel ovum dikeluarkan dan diganti inti sel soma (tubuh), sel ovum ini berubah sifatnya menjadi sebuah zigot yang bisa tumbuh menjadi seorang individu dewasa yang secara genetik sama dengan si empunya inti sel soma. Inilah yang menjadi konsep dasar kloning dalam perkembangan biologi yang akhirnya menyentuh ilmu kedokteran. Ketika merambah menuju ilmu kedokteran, berbagai tokoh agama, berbagai ilmuwan hingga politisi mulai heboh terlibat dalam polemik mengenai penerapan teknologi ini pada manusia. Berbagai pertanyaan pun muncul : apa status anak hasil kloning? Anakkah atau saudara/i kembar kah? Bagaimana hak warisnya? Bagaimana model pengasuhan yang ideal pada anak hasil kloning? Bagaimana hak, kewajiban, wewenang dan tanggung jawab wanita yang menyewakan rahimnya atau dipakai ovumnya? Bagaimana pendapat berbagai agama mengenai kloning ini? Dan banyak pertanyaan lagi yang muncul. Sekali lagi perlu dilakukan kajian etika pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin sophisticated.