Minggu, 26 April 2009

Komplikasi Domestik Reumatik


Reumatik adalah salah satu penyakit yang bikin saya mati kutu..bagaimana ya..sebenarnya dulu waktu stase IPD, giliran bagian reumatologi itu salah satu yang menyenangkan..itu kalau memeriksa dengkul ama tumit nenek-nenek termasuk mengasyikkan. Anyway kali ini saya mau bercerita tentang Ibu M.

Ibu M 50 tahun adalah contoh klasik pasien saya yang menderita reumatik dan menderita karenanya, maksud saya penyakit ini membawanya pada masalah lain. 2 tahun terakhir ini Ibu M cukup rutin berkunjung ke ruang praktek saya hingga kami sudah saling mengenal dengan baik. Penyakit reumatiknya sebenarnya begitu-begitu saja, seharusnya dia sudah meminta pertolongan spesialistik sejak lama namun terkendala masalah dana, masalah klasik pasien saya ( baca tulisan saya sebelumnya Rastinah dan Rasingkem )

jadi obat yang saya berikan itu-itu saja dengan saran terapi non-farmakologis yang saya tahu tidak akan dia laksanakan. satu-satunya saran saya yang dia sepakati adalah agar seperlunya saja meminum obat tersebut, mengingat efek sampingnya.

tapi bukan penyakitnya yang ingin saya bicarakan tetapi akibat dari penyakit ini terhadap dirinya dan keluarganya yang membuatnya datang pada saya siang itu dengan wajah yang lain dari biasanya. sebelum masuk lebih dalam saya mengambil risiko sedikit menyerempet hak kerahasiaan pasien karena ini adalah kedua kalinya saya berada dalam situasi ini dan kekhawatiran lama saya nampaknya memang fakta yang ada di masyarakat.

Ibu M mempergunakan saya siang itu sebagai "exit valve" atas kegundahan hatinya, selama 15 menit dia memperlakukan telinga saya bagai jendela untuk melepaskan kekesalan yang menumpuk dalam dada, kekesalan terhadap suaminya..siapa lagi ?! pertanyaan utamanya adalah ia ingin mengetahui apakah dirinya ini-menurut pengamatan saya- stress atau gila? adakah tanda-tanda kearah sana? tentu ini bukan pertanyaan biasa fikir saya dalam hati. maka mulailah saya dengan serangkaian pertanyaan psikiatri untuk mengetahui duduk persoalannya.

awalnya ia mengatakan bahwa ia mudah marah terhadap cucu-cucunya, ( kasus : nenek merawat cucu, karena si ibu jadi TKW di Arab) tapi tidak lama waktu dibutuhkan untuk mengetahui bahwa suaminya lah yang menjadi biang keladinya ( kasus : suami pengangguran yang mengandalkan hasil keringat istrinya ) bertahun-tahun cerita dia bahwa kondisi ini ditelannya karena ia masih sanggup berusaha dan mendapat penghasilan sendiri. tapi seperti yang sudah kita ketahui reumatiknya akhir-akhir ini membuatnya menjadi amat terbatas, nyeri dan kekakuan sendi itu memaksanya melupakan kegesitan dan semangat muda yang pernah dimiliki

jadi lambat laun ia semakin mengharapkan agar suaminya berubah dan mengambil tanggung jawab mencari nafkah sebagaimana layaknya lelaki sejati. kebebalan dan sifat keras kepala suaminya inilah yang membuat wajah Kartini modern ini begitu muram didepan saya. Jadi kita lihat suatu penyakit yang datang telah membuat keluarga ini jatuh dalam krisis, sampai-sampai penopangnya, tempat anggota yang lain bersandar, terlihat kesulitan menghadapi krisis ini.

ini adalah kasus untuk seorang dokter keluarga. dalam pendidikan dulu saya juga pernah mendapati keluarga lain dengan penyakit lain ( TBC ) berkubang dalam situasi yang serupa, saat itu dan sekarang kesimpulan saya tetap sama, tidak banyak yang kita ( dokter ) dapat lakukan selain berusaha agar penyakit ini tidak terlalu memberatinya, namun agar ia dapat menyesuaikan hidupnya dan keluarganya berdampingan dengan penyakit ini memerlukan campur tangan yang lain. siapa yang sanggup menasehati suaminya? siapa yang dapat mencarikan pemecahan masalah ekonominya ? siapa yang dapat melindungi para cucu dan menjamin tumbuh kembang mereka ?

psikolog, konsultan keluarga, petugas sosial, orang tua asuh, pelayanan spesialistik, perlindungan anak....semuanya ada fikir saya tapi terpisah-pisah dan inaccesible untuk profil pasien saya yang datang dari kaum marginal, kaum miskin kota. Yang saya butuhkan adalah ketika menghadapi kasus seperti ini kita dapat menanganinya secara terpadu, multidisiplin. tim yang mudah diakses, dan mengenal lapangan serta tentunya memiliki perhatian yang sepenuhnya profesional.