Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juni 2013

Peranku bagi Indonesia

*essay untuk aplikasi beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)

Sebagai dosen dan peneliti khususnya di fakultas kedokteran saya ingin berkontribusi setidaknya dalam dua bidang. Pertama sebagai pendidik di lingkungan fakultas kedokteran saya ingin menularkan semangat dan kultur riset pada calon dokter Indonesia. Dokter dengan semangat dan kemampuan yang mumpuni di bidang riset akan selalu membawa kemajuan pada kedokteran atau kesehatan apapun bidang yang diampunya kelak. Dokter yang selalu berhati-hati, cermat, pantang menyerah, mudah berkolaborasi, mampu menulis tentu akan memberikan manfaat yang besar pada kemajuan dunia kedokteran dan kesehatan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Dokter Indonesia yang terbiasa melakukan penelitian akan cenderung berhati-hati ketika menghadapi masalah dan tidak kehilangan akal ketika dihadapkan pada keterbatasan alat dan fasilitas. Sebagai contoh dokter yang bertugas di daerah terpencil dapat memperbaiki generator berbasis panel sel surya yang telah lama terbengkalai karena mampu memahami buku manual. Perbaikan generator tersebut memungkinkan penyimpanan stok vaksin untuk program imunisasi.
Penelitian selalu mendorong kolaborasi hingga seorang dokter dapat berkomunikasi secara setara dengan koleganya serta memaklumi bahwa sebagai manusia memiliki keterbatasan ilmu. Kemampuan menulis, mengutarakan ide dan melaporkan temuan sangat diperlukan oleh dokter agar kolega dan masyarakat luas dapat mengikuti perkembangan Ilmu kedokteran dengan baik. Sebagai contoh sistem rujukan hanya dapat berjalan bila spirit kolaborasi dan kerendahan hati dimiliki oleh setiap dokter. Tidak akan terdengar cerita dokter yang “memelihara pasien” atau pasien yang berobat langsung ke layanan spesialistik, karena ketika seorang dokter merasa tidak memiliki cukup ilmu untuk menangani pasien ia akan merujuk atau berkonsultasi dengan koleganya. Sementara di pihak lain seorang dokter layanan spesialistik juga tidak akan serta merta menerima pasien tanpa rujukan yang sesuai dengan bidang ilmu spesialistik yang dikuasainya.
Dokter yang memahami kultur riset cenderung rasional dan lebih mempercayai data dan fakta serta tidak silau dengan iming-iming keuntungan duniawi. Kemampuan membuat proposal riset, melaksanakan, melaporkan dan membuat publikasi riset adalah satu set keahlian yang memungkinkan seorang dokter menjadi pembelajar seumur hidup. Sebagai contoh adalah maraknya pseudoscienceyang beredar mulai dari terapi batu giok hingga terapi yang bersifat supranatural. Dokter akan mudah memisahkan terapi rasional dengan terapi abal-abal hingga dapat memberikan saran dan edukasi yang terbaik untuk masyarakat umum
Hal kedua yang ingin saya berikan adalah kontribusi di bidang kedokteran regeneratif di Indonesia. Kedokteran regeneratif meliputi bidang rekayasa jaringan, sel punca, dan biomaterial. Meski Indonesia masih tergolong negara berkembang dan prioritas riset masih terfokus pada penyakit infeksi menular namun bidang kedokteran regeneratif adalah masa depan yang harus dirintis sejak sekarang. Riset dan aplikasi terapi regeneratif akan mendorong industri farmasi meninggalkan tekhnologi konvensional dan beralih pada bioteknologi dengan produk berupa biofarmaka.
Rekayasa jaringan mencakup penggantian jaringan atau bahkan organ tubuh yang rusak dengan jaringan/organ yang dikembangkan di dalam laboratorium. Hal ini menjadi alternatif untuk memenuhi demandtransplantasi organ yang selalu lebih besar dari supply. Sebagai contoh penyakit diabetes akibat produksi insulin yang kurang, suatu saat alih-alih melakukan injeksi insulin secara rutin pasien dapat mendapat transplantasi pankreas dengan kemampuan produksi insulin yang normal.
Bidang sel punca saat ini sudah sampai pada tahap produksi sel yang mampu berdiferensiasi menjadi hampir seluruh jenis yang ada dalam tubuh menggunakan sel pasien sendiri. Fibroblas dan keratinosit yang didapat dari kulit dapat di induksi tanpa menggunakan perantara virus menjadi sel iPSc (Induced pluripotent stem cells) suatu sel yang mampu berdiferensiasi menjadi sel dari ketiga lapisan germinal ectoderm, mesoderm dan endoderm.
Bidang biomaterial melengkapi rekayasa jaringan dengan menyediakan rangka atau scaffold  tempat sel tumbuh dan berkembang membentuk struktur 3 dimensi. Material biologis yang digunakan seringkali berasal dari kekayaan hayati yang banyak dimiliki Indonesia. Sebagai contoh adalah chitosan yang berasal dari hewan laut dapat dikombinasikan dengan kolagen membentuk rangka untuk tempat tumbuh fibroblast. Keratinosit yang ditanam diatas struktur ini akan menghasilkan suatu produk kulit buatan atau Bioengineered Skin yang dapat digunakan untuk terapi luka bakar atau ulkus diabetes.

Akhir kata, peran saya untuk Indonesia adalah menularkan semangat ilmiah dan kultur riset pada dokter Indonesia sehingga terbentuk dokter yang cerdas, cermat dan rendah hati dan seorang pembelajar seumur hidup untuk menyehatkan masyarakat luas. Peran saya berikutnya adalah membangun bidang kedokteran regeneratif yang mendorong revolusi industri farmasi, bioteknologi dan pemanfaatan kekayaan sumber daya hayati menjadi salah satu kompetensi strategis bangsa Indonesia diantara bangsa-bangsa lain.

Sukses terbesar dalam hidupku

*essay yang dibuat untuk aplikasi beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)

Kesuksesan umumnya terkait prestasi, jadi kalau melihat resume pribadiku yang tidak mencantumkan prestasi apapun, wajar bila pertanyaan kesuksesan termasuk sulit aku jawab. Orang tuaku akan mengatakan Indra sukses karena sudah berhasil menjadi dokter. Tetangga dan keluarga besar akan mengatakan Indra sukses karena masuk perguruan tinggi negeri dan mendapat perkerjaan yang tetap. Mereka yang menyertaiku sepanjang perjalanan hidup melihat apa yang kulalui ini adalah sebuah kesuksesan, tapi aku sendiri yang menjalaninya melihat teman-teman seangkatan yang lebih menonjol dengan beragam prestasinya, sementara Indra ini biasa saja sebenarnya.
Sampai titik ini dalam kehidupan aku merasa tidak memiliki prestasi yang menonjol seperti orang lain yang menjadi juara lomba cabang olahraga tertentu, mendapat penghargaan akademik, mendapat beasiswa, mendapat hadiah, bonus, pekerjaan bergaji tinggi dan lain sebagainya. Dalam setiap kondisi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik dan hasilnya juga lumayan memuaskan aku dan orang lain seperti teman dan atasan yang melihat hasil kerjaku. Untuk semua itu aku mendapatkan penghargaan, respek, dan persahabatan, tapi tidak ada satupun yang bisa kucantumkan dalam curriculum vitaesebagai prestasi dan sebuah kesuksesan yang dapat dibanggakan.
Ini bukan berarti aku mengeluhkan hidupku, hanya saja aku merasa heran sendiri dan terus berfikir lebih dalam. Inspirasi itu hinggap di dalam kereta komuter yang kunaiki setiap hari. Pada sore hari itu dalam perjalanan pulang melintasi stasiun Pasar Minggu aku menyadari kesuksesan terbesar dalam hidupku hanya dengan merubah sudut pandang sedikit.  Untuk bisa memahaminya aku perlu memberikan  gambaran sekilas perjalanan hidupku. Aku adalah anak kedua dari 2 bersaudara, menjalani masa kecil di kota  kecil yaitu Garut di daerah Jawa Barat hingga memasuki usia SMP. Pendidikan menengah aku jalani di salah satu SMU favorit di Bandung. Hidup sendiri, terpisah dari kakak dan keluarga, hingga aku kuliah di PTN di Jakarta, menikah dan berkeluarga aku tidak pernah lagi kembali ke rumah orang tua, kecuali dalam rangka liburan tentunya.
Pada usia 16 tahun aku seperti burung yang telah pergi dari sarangnya, meninggalkan kedua orang tua dan menjalani hidup hingga saat ini di usia 31 tahun. 15 tahun telah berlalu dan banyak hal sudah terjadi dan disinilah aku merasakan sukses terbesar dalam hidupku. Dalam tahun-tahun yang berlalu itu tanpa naungan orang tua, ditengah masyarakat, mengatur hidupku secara mandiri, memilih teman sendiri, dalam kebebasan yang sebebas-bebasnya aku berhasil menjadi dewasa, meraih kematangan, kemandirian tanpa insiden apapun. Tanpa terjerat narkoba, seks bebas, atau perbuatan kriminal lainnya.
Sukses terbesar dalam hidupku adalah survive sebagai orang biasa, baik, normal dan waras ditengah masyarakat yang semakin galau ini. Itulah kesuksesan yang paling aku syukuri, berapa banyak sudah kesempatan menjadi ‘rusak’ yang aku lewati dengan disadari ataupun tanpa kusadari. Kesuksesan ini memberikan aku pijakan yang bersih, kokoh dan lapang untuk banyak berbuat, memberi manfaat, berkarya, membangun dan memperbaiki tanpa dibebani penyesalan dan hambatan dari masa lalu.

. Aku menyadari kesuksesan ini bukan lah atas usaha dan kerja kerasku tapi buah dari do’a orang tua dan rencana yang Allah swt rancang untuk diriku. Kesadaran itu terasa kuat karena kesuksesan ini tidak bisa aku klaim sebagai hasil peluh sendiri tapi bagian dari skenario besar untuk bangsa ini. Hari ini aku berada pada kondisi yang siap siaga untuk berkontribusi dalam masyarakat adalah buah dari kesuksesan tersebut. Aku meyakini bahwa aku adalah bagian dari perwujudan do’a dan pengorbanan orang-orang ikhlas, pahlawan tanpa nama, dan orang-orang terzalimi yang menginginkan bangsa ini unggul dan menjadi tauladan serta negara ini mewujudkan nama yang sudah lama disematkan yaitu sepenggal firdaus di muka bumi.

Sabtu, 05 Mei 2012

Cerita dari NUS : Laboratorium In Vitro Elektrofisiologi

Patch Clamp Rig
Saya suka travelling, terutama yang mengandung unsur petualangan. Petualangan tidak berarti harus rimba dan gunung, tapi juga tempat asing seperti Singapura. Saya datang kesini untuk belajar, gratis, dimungkinkan atas nama solidaritas sesama kolega. Saya tidak akan menceritakan keajaiban singapura dengan "pristine district-nya", tapi saya akan sebut satu dua hal yang cukup membuat saya terheran.

Pertama adalah tombol untuk penyebrang jalan yang ada di tiang lampu lalu lintas, waktu kecil tentu kita pernah lihat juga di Jakarta, saya agak takjub aja di sini teryata berfungsi :) ironis ya...Kedua yang tak kalah ironis adalah jadwal bus dan papan nomor bus yang terpampang di halte, ini juga berfungsi dengan baik :)...bagi saya sisanya adalah cerita keseimbangan...modernitas dan keteraturan di satu sisi dan hilangnya budaya malu dan kehangatan.


National University of Singapore tidak menampakkan "wah"-nya pada saya, salah satunya mungkin karena saya dibawa langsung melewati lorong-lorong, basement, lift dan tiba-tiba sudah di lantai riset seperti layaknya barang selundupan :) bahkan visitor card yang diberikan pada saya, atas nama orang lain. Semua urusan menjadi unofficial, pribadi, fleksibel, tepat seperti yang saya inginkan dan tidak akan saya lupakan.

Lantai 4 gedung Life Sciences Institute menjadi rumah untuk alat yang menjadi tujuan kedatangan saya yaitu Patch Clamp. Silahkan tanya paman google untuk lebih detailnya, yang saya ingin katakan adalah tidak di Jakarta tidak pula di Singapura Hukum yang satu ini tetap berlaku : GAGAL...semua orang harus melewati tahap ini sebelum berhasil. Mungkin masih ingat, potensial aksi hanya terjadi bila potensial treshold terlewati. Ada harga yang harus anda bayar sebelum mulai menerima keuntungan, harga itu harus anda tutup dulu.

jadi seperti yang saya kira saya juga akan gagal saat pertama, kedua, ketiga..dst saya tidak lagi menghitung saat mengoperasikan alat ini. tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali mengulanginya lagi dan lagi, belajar dari setiap kegagalan, memperbaiki tehniknya, konsultasi dan diskusi tanpa putus asa dan akhirnya kembali saya buktikan : BERHASIL...Sunatullah yang berulang kali terbukti

setelah jalan turun baru kita akan naik. saat mencapai titik nadir kehidupan serendah-rendahnya jangan bersedih justru itulah saat untuk berbahagia karena sekarang giliran anda naik sampai zenith. Modalnya cuma kerja keras, kerja cerdas, optimis dan percaya pada janji Allah swt. Saat anda mencapai puncak keberhasilan, melewati masalah jangan euforia berlebihan karena masalah berikutnya sudah menunggu, menunggu untuk anda lewati.

Berbahagialah orang yang menyukai tantangan, dan dapat melihat tantangan dibalik tantangan. Merugi sekali orang yang menghadapi masalah dan ia tidak suka untuk bekerja mencari solusinya tetapi justru menutup mata dan mengambil jalan singkat. Kadang kita harus insyafi memang tidak ada yang solusi yang cepat dan instan, semua butuh kerja keras dan pengorbanan..biarlah Allah swt dan kaum muslimin yang melihat

Penggunaan alat Patch clamp ini sederhana saja sebenarnya kita hanya perlu (setelah persiapan bahan) membimbing pipette borosilikat yang diameter ujungnya < 2 mikron dengan mikroskop untuk melalukan pendekatan pada sel target yang telah kita tentukan. Pendekatan terakhir menggunakan mikromanipulator. Mata anda memantau, bukan mikroskop, tapi justru monitor antarmuka elektronika yang berisi parameter kelistrikan sel. Mulut anda terhubung dengan sistem pipa tertutup unutk menciptakan tekanan positif atau negatif pada pipette sesuai keperluan. Bila Resistensi membran terbaca diatas 1 gigaohm dan bertahan maka anda berhasil..sisanya dikendalikan komputer

Semua masalah tampak sederhana bila kita mengingatnya sekarang..jadi berhati-hatilah membaca laporan penelitian orang lain yang tampak sederhana..yakinlah anda tetap harus optimasi !

wallahualam

Rabu, 01 September 2010

Nothing Smart

Telah berlalu 3 bulan Juni, Juli dan Agustus sejak posting terakhir, tapi rasanya sudah lebih banyak lagi waktu berlalu dibanding yang tercatat pada kalender. Mungkinkah aktivitas seseorang dapat mempengaruhi waktu yang berlalu ? semakin padat pekerjaan, semakin banyak yang telah dilakukan pada rentang waktu tertentu menyebabkan waktu terasa berlalu lebih cepat? ataukan jenis aktivitasnya ? aktivitas yang baru akan menyebabkan seseorang lupa waktu, tentunya kita semua pernah merasakan kejenuhan akibat aktivitas yang monoton.

bagaimana dengan antusiame dalam melakukan aktivitas ? waktu amat cepat berlalu saat kita menghabiskannya melakukan hobi favorit ? lalu bagaimana dengan waktu yang terasa berhenti saat kita bersama kekasih hati? oh saya tidak ingin berbicara serius tentang relativitas waktu hanya saja betapa mudah kita dipermainkan oleh aktivitas dunia. waktu berjalan sebagaimana ia berjalan sejak masa dimulai, stabil dan teratur….persepsi kita lah yang berubah
kadang terasa kejutan saat kita menyadari betapa banyak yang telah dilakukan dalam waktu yang pendek, betapa banyak yang dapat diselesaikan dalam waktu yang sempit, tubuh kita meng-amini dengan kelelahan kronis yang dirasakan akibat overexertion of mind. kadang kejutan juga menyergah saat sadar betapa sedikit yang telah dicapai dalam rentang waktu yang panjang misalkan dalam aspek ibadah…silaturahmi…lalu bagaimana dengan orang yang bekerja melakukan hal yang sama berulang-ulang setiap hari sepanjang masa usia produktifnya ? apakah ia telah melakukan banyak hal? ataukan ia telah menyia-nyiakan potensinya?
orang bilang hidup dan waktu yang dihabiskan dalam hidup ini akan bermakna bila kita dapat bermanfaat untuk orang lain, tapi bagaimana dengan orang yang menantang bahaya untuk merasa “hidup” seperti para pelaku extreme sport, harus diakui kita akan lebih menghargai kehidupan saat mengalami near- death experience, bahkan memicu suatu perubahan dalam hidup kita.
Variasi aktivitas diluar rutinitas juga mungkin menambah rasa “hidup” itu, membuat waktu terasa lebih cepat berlalu, membuat takjub saat kita melihat ke belakang atas apa yang telah kita lakukan, atas apa yang telah kita putuskan. bagaimana dengan mereka yang beraktivitas untuk sekedar dapat menyambung hidup, atau bekerja untuk mengikuti nafsu belanjanya, atau berusaha hidup untuk dimanfaatkan orang lain atau menjalani keinginan orang lain tanpa sadar..lalu bagaimana dengan mereka yang hidup menjalani mimpinya sendiri
pada akhirnya saya hanya merasa betapa banyak yang telah dilakukan dalam setahun ini dibanding tahun-tahun lain yang telah berlalu dalam hidup saya, tapi juga sekaligus menyadari betapa timpangnya hidup yang saya jalani setahun ini dan menyesal karena belum juga mendapatkan cara untuk meraih keseimbangan…saya hanya berharap yang dibutuhkan hanyalah satu dosis antusiasme yang sama…tapi kemana mencarinya ? lagi-lagi benak saya menjawab untuk mencarinya dalam satu kata : efisiensi!

Jumat, 11 Desember 2009

Namanya Ubaidillah

Namanya Ubaidillah, sewaktu kecil di masa liburan panjang tidak jarang ia mengantarku dan kakakku ke tempat favorit kami (gramedia) dengan berjalan kaki meski naik kendaraan akan jauh lebih cepat.

bukan sekali dua pula ia muncul begitu saja di depan rumah kami membawa setandan pisang di pagi buta setelah perjalanan menggunakan kereta koboi meski bis biasa akan jauh lebih nyaman

satu momen yang tak pernah dapat kulupa adalah saat atas permintaan ia membawaku (berjalan kaki tentunya) menyusuri trotoar disamping pagar putih yang memanjang antara diponegoro-salemba, kami berhenti tepat didepan aesculap dan ia membopongku agar dapat menggengam jeruji pagarnya, kufikir-fikir sekarang itu mungkin momen yang paling tepat bagi Ubaidillah memanjatkan doa yang melesat ke langit dan baru terkabul bertahun kemudian

ya bukan mustahil itulah yang sebenarnya terjadi meski tidak mungkin lagi sekarang aku mendapat konfirmasi, cermin kepribadiannya telah retak dan memori itu terkubur bersama bayangan dirinya, biarlah itu menjadi rahasia antara dirinya dan Tuhan, menjadi amalan soleh baginya yang terus mengalir.

bertahun sudah aku mengamati dirinya dengan kacamata profesional, melihat belief yang berkembang menjadi waham, berusaha memahami ketakutan-ketakutannya, menyesali kesendirian hidupnya dan nasib yang memperlakukannya demikian kejam serta kebodohan yang mengungkung dirinya...hampir-hampir tidak ada yang dapat dilakukan kecuali satu hal yang sedang ku pertimbangkan matang-matang di belakang kepala

memulai terapi antipsikosis untuk Ubaidillah adik ibuku.....

Sabtu, 01 Agustus 2009

Hari Ini : Sepuluh Tahun Yang Lalu

Bila menganggap “Seleksi Nasional” ekuivalen dengan “Ujian” maka hari ini adalah tepat 1 dekade dari hari bersejarah itu [oh dear ! a decade already]. Sejujurnya optimisme itu tidak pernah benar-benar nyata, hanya antusiasme yang menggebu-gebu menanti hari besar tersebut.
Pada dasarnya peristiwa hari itu adalah kulminasi dari serangkaian kejadian sebelumnya, demikian bila kita melihatnya hari ini secara introspektif. Semuanya mungkin dimulai dari kontemplasi soliter di kamar kost-an saat itu, kamar terakhir dan terbaik  di Bandung- kota perantauan ku yang pertama.
Saat itu sedang menimbang-nimbang dengan hati-hati sebuah keputusan yang sebenarnya sederhana : Bimbel yang mana ?
Ya. Bagi saya saat itu, persoalannya cukup rumit hingga saya perlu membuat analisis SWOT versi saya sendiri, tercatat rapih dalam Jurnal, premis culun macam “ si I dan Y akan bimbel di sana” serta argumen sejenis bernada romansa dan konyol. Pada akhirnya saya mengambil keputusan yang kompromistis sekaligus berani,  kompromistis karena saya mengikuti 2 Bimbel tapi tidak pada keseluruhan fragmen, karena pada fragmen akhir persiapan saya memilih untuk mengalienasikan diri dari dukungan peer dengan bergabung di Nurul Fikri [ ini promosi ya :) ]
Demikian langkah pertama saya menghadapi ujian terbesar yang pernah saya ikuti [literaly, karena ia diikuti puluhan ribu peserta], UMPTN waktu itu namanya. Menghadapinya saya bersikap praktis saja : “kalau tidak lulus ya ikut lagi tahun depan”. Jadi mengherankan sekali ketika kakak saya mendorong  untuk mengikuti ujian-ujian masuk lain, sehingga setengah terpaksa + menemani rekan-rekan saya mendaftar ke Politeknik Manufaktur, Olala ! lulus sih lulus tapi ngeri bayangin ospeknya.
Setelah banyak latihan dan eksperimen saya sampai  pada posisi yang melegakan sekaligus membingungkan, menghadap lah saya pada pembimbing saat itu. Saya harus memilih bidang lain dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi lagi, menghadap lah saya pada Ibu, dan ia memberikan dambaannya yang tertinggi untuk saya  coba capai, maka sejak itu fokus saya alihkan pada FKUI. It’s a long shot, worth trying and nothing to lose.
Maka sampai kita pada hari itu. Biasanya saya akan memulai hari dengan 2 lap jogging yang diakhiri dengan sebungkus gorengan dan koran pagi di kamar, tapi dengan ansietas yang cukup membuat saya tak mampu memejam mata semalam, saya bersegera ke kios langganan untuk mendapat kecewa karena abangnya tidak menyiapkan eksemplar pesanan saya. Tidak sekali saya berfikir untuk bergabung bersama teman-teman semalam menunggu tengah malam, dan pengumuman resmi, jadi pagi itu dengan lunglai saya kembali ke kost-an menyesali keengganan semalam.
Kembali ke kamar saya terduduk lesu saat mendengar panggilan bapak kost mengajak saya melihat pengumuman bersama di bawah, spontan saya berdiri dan setengah berlari ke ruang makan, rupanya beliau sudah menemukan nama saya karena ia tersenyum menunjuk bagian tertentu dari ribuan daftar nama yang tercantum, kuperiksa nomornya benar, tapi kodenya menunjuk pada pilihan pertama ! mengerjap-ngerjap kodenya tidak berubah…ya tidak salah lagi, do’a ibu menjadi kenyataan.
Ingin berteriak dan melompat-lompat, tapi teman ku di sebrang meja masih mencari namanya, ia masih juga meneliti daftar tersebut, dan masih seperti itu saat di kamar aku menyetel kaset album Sherina yang pertama, volume maksimal dan aku menandak-nandak sendirian di kamar :) sampai puas, setelah bersujud aku keluar mencari telepon [belum jaman HP] untuk memberi kabar gembira pada keluarga. Itulah mengapa Sherina selalu menjadi penyanyi favorit ku
Hari ini adalah peringatan 1 dekade peristiwa besar tersebut dan aku masih mengingatnya sejelas matahari.

Kamis, 12 Maret 2009

"Tekad" kita

Kawan ingatkah kalian senandung yang satu ini..lama sudah tidak kita dendangkan bersama..

ingatkah kalian senandung yang lantang kita teriakkan dengan buncah kebanggaan menyesak dada? dengan bulir air mata kerinduan dan kebulatan tekad

senandung yang mengikat kita di jalan yang satu ini, senandung yang menegaskan identitas kita, senandung harapan dan cita-cita kita

masihkah kalian ingat bagaimana ia di dendangkan?

tahun dan dekade berlalu masihkah kalian senandungkan ia dalam hati?, tidakkan kalian senandungkan ia untuk generasi berikutnya?

TEKAD

Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri

Aral menghadang dan kedzaliman yang akan kami hadapi
Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati
Jasad ini , darah ini sepenuh ridho Ilahi

Kami adalah panah-panah terbujur
Yang siap dilepaskan dari bujur
Tuju sasaran, siapapun pemanahnya

Kami adalah pedang-pedang terhunus
Yang siap terayun menebas musuh
Tiada peduli siapapun pemegangnya

Asalkan ikhlas di hati tuk hanya Ridho Ilahi

Kami adalah tombak-tombak berjajar
Yang siap dilontarkan dan menghujam
Menembus dada lantakkan keangkuhan

Kami adalah butir-butir peluru
Yang siap ditembakkan dan melaju
Mengoyak dan menumbang kezaliman

Asalkan ikhlas di hati tuk jumpa wajah Ilahi Rabbi

Kami adalah mata pena yang tajam
Yang siap menuliskan kebenaran
Tanpa ragu ungkapkan keadilan

Kami pisau belati yang selalu tajam
Bak kesabaran yang tak pernah akan padam
Tuk arungi da?wah ini , jalan panjang

Asalkan ikhlas dihati menuju jannah Ilahi Rabbi

Kamis, 26 Februari 2009

Destiny Take Over

its one of those days when we can easily grab a passing opportunity. A few hours surfing the web with a powerfull keyword, corresponding with certain people, downloading materials and uploading resumes..and loo you have a fantastic opportunity put by the Almighty in your hands.

such a temptation it is that it could make us partially blind, not physically but rather emotionally. So it lead me to a $150 inevitable option although a quite large sum for me, you can not say it immposible. the main problem lay in the payment method. All in all the matter we're settled, a bit late but just fine and if you think of it, its kind of luck actually.



so there i am in a beautiful sunday morning, nervous, because i am going to attend a TOEFL iBT test without much practice, if you compare with others. I took my regular bag and some pencils, off i go, its 09.00. a well planned morning.

Disaster could happen and strike you cold in the heart without notice. that was what happen to me when i open my bag and could not find my ID card, latter i found it inside my scaner at home. No ID no entrace and you can forget your money..but then i remember..i still have another ID, the one issued by my parent's home local civil office.

i explain the situation to the exam supervisor, and handed the second ID with my ice-felt arms, he examine it and stated it will be acceptable..ahh what a relieve, its 09.45, and disaster is still looming. Long before the noon break i realise that my keys are not where it suposse to be, with a red face i raise an arm and confer with the supervisor, he give a smile and say no i can't go downstairs myself but he will.

nothing happen after that, my keys safe in my pocket this time, just doing my best with speaking and writing section. My wife laugh at me when i tell her what happen earlier, it was a grand day and silly things just happen after all preparation, people say we can't escape destiny. so its destiny then when i receive notice from ETS saying that i have a magnificent 102 out of 120.

it occured to me that, in order to gain we must lose first, no pain no gain, and its seem to become a habit of me..for example i have to lose my birth certificate, the original one, its just vanished and the reward is 6 year of medical school, destiny take over. Destiny is such a tricky matter, we can plan and work but result and outcome lay in divine authority, it is the reason that we must pray, preserve our hope and fear, khauf and raja'...

Senin, 09 Februari 2009

Random Note

Banyak sekali yang berputar dalam kepala saat ini..let see..pertama menyesal sudah lama tidak utak-atik blog ini soalnya lagi terjangkit demam facebook dan note dalam facebook kurang lebih bisa menggantikan peran blog ini..selain itu juga karena Blok Kardiovaskular yang banyak menyita waktu di depan komputer..yang sampai sekarang juga masih ada hutangnya..

tapi banyak sebenarnya topik tulisan yang bisa dibuat..pertama cerita bagaimana indra bisa mendapat letter of offer dari Aberdeen yang meski tidak jadi diambil banyak memberi manfaat terutama dalam penggunaan bahasa inggris..terkait itu pula cerita bagaimana indra bisa secara mengejutkan mendapatkan score iBT yang lumayan tinggi 102..



diluar soal itu juga ada sekeluarga...bagaimana menyebutnya.."pemulung" yang setiap pagi memiliki rute yang sama dengan indra sehingga kerap kali bertemu entah di pasar minggu, kali bata atau bypass..keluarga dengan 2 anak dan satu bayi dengan gerobak mereka..

lalu ada ide penelitian yang semakin lama di fikirkan semakin terasa realistis...meski prakiraan biaya nya juga semakin besar..tapi terlalu sayang kalau di drop begitu saja..

dan ah capek sekali tiap hari naik motor jakarta-depok..dan sedang iri ama aspire one-nya suta yang baru..1 maret ini ujian masuk UI lagi...mana males belajar..pengen baca buku yang bagus dan tebal tapi pesimis ada buku yang masuk kriteria..

yang paling indra inginkan sekarang adalah 8 jam ketenangan dengan sofa..teh atau kopi hangat..keripik singkong keju dan 800 halaman novel yang menarik sementara hujan menguyur diluar..dan Caca tertidur pulas di sebelah..

Selasa, 13 Mei 2008

Demonstrasi Mahasiswa

baru buka-buka detiknews tadi baca berita ada demonstrasi Mahasiswa tepatnya BEM seluruh Indonesia, jadi teringat masa lalu..

Aku masuk Kampus FKUI tahun 1999 setahun setelah rezim orde baru berakhir, entah kenapa generasiku selalu mewakili perubahan, entah itu sebuah orde pemerintahan, sebuah kurikulum sekolah, dan lainnya yang pasti perasaan seperti itu selalu muncul.

Jadi kami mengalami suasana pasca gelombang demonstrasi mahasiswa besar-besaran yang memiliki pahlawannya sendiri, ya kakak-kakak senior kami , saat itu sosok dan nama mereka menyejarah, dan tak pelak menyisipkan nada kekaguman dalam hati, bagaimana tidak para pahlawan ini dengan segudang cerita heroisme yang luput dari radar media, hidup dan berjalan diantara kami, memenuhi telinga dan alam fikiran kami, mencurahkan segenap antusiasmenya agar bahu dan hati kami ini sanggup memikul beban warisan sejarah mereka.

ya kufikir inilah rasanya mengenyam pendidikan di tempat yang bersejarah, saat pertama kulihat gedung salemba 6 dengan arsitektur kolonialnya bak benteng, aku merasakan aroma sejarah yang kental, dan ternyata apa yang kutemui lebih lagi...sejarah sedang berlangsung dan di buat disini dikampus kami ini.

jadi tidak heran bila hari-hari demonstrasi kami jalani dengan hati yang ringan, bolos kuliah, tidak mandi dan pulang ke rumah berhari-hari jamak saja. sedikit demi sedikit kami belajar selain anatomi dan fisiologi serta kawan-kawannya, kami juga belajar bagaimana mendinamisasi sejumlah massa demonstrasi, cara-cara mengamankan ratusan sampai ribuan orang, kami juga belajar mengenali para provokator yang mencari jalan menyusup diantara barisan kami.

mengenali satuan-satuan polisi yang mengawal, menghitung-hitung rasio demonstran dan tenaga medis serta perlengkapannya. sebagian dari kami cukup berbakat menjadi negosiator, dinamisator, Komandan atau sekedar rantai manusia yang tidak kenal lelah. kami belajar bebagai metode mengoyang sebuah pemerintahan, bahkan menjatuhkannya, tapi kami juga belajar mengenali tanda-tanda kapan saatnya mundur teratur dan mengambil langkah seribu. kami belajar bergerak sebagai satu kesatuan dan kami belajar membiasakan diri menempatkan beban kesulitan rakyat diatas bahu kami.

kami belajar banyak hal...dan nampaknya anak-anak sekarang sedang menerima pelajarannya. 300 orang diantara mereka sedang menginap di depan istana..hell yeah! itu sebuah prestasi karena adalah peraturan tidak ada demonstrasi diatas pk 18.00, polisi sudah terlalu relaks, atau diantara anak-anak ini lahir seorang negosiator yang handal.

Gas air mata membuat mereka tunggang langgang hahaha.., aku fikir itu pasti pengalaman mereka yang pertama, karena begitu juga kami dulu, adrenalin begitu menggelegak dan naluri survival lepas dari kekangannya. tapi seiring waktu mereka akan belajar, cara paling efektif menghindari gas air mata hanyalah dengan air bukan pasta gigi teroles di infra orbita, dan seoran g pemberani yang membungkus tangannya dengan kain basah segera mencari granat asap itu tepat setelah ia mendarat, mengambilnya dengan tangan terbungkus rapat dan melemparkannya kembali ke arah barisan polisi, itulah yang dilakukan demonstran di korea, perhatikan saja.

ah masa itu adalah masa-masa jaya, golden times, masa dimana kita merasa akan hidup selamanya, dan tidak ada kepahitan dunia yang tidak sanggup kita hadapi. kami mejalani tepat seperti yang di katakan chairil anwar " sekali berarti sudah itu mati "

aku fikir dengan semua perubahan kurikulum yang mempersempit ruang gerak aktivitas mahasiwa akan sulit sekali mencari mereka yang ringan langkahnya mengukur aspal ibu kota sambil membawa amanat rakyat di bahunya, ternyata tidak mereka tetap hadir, hati-hati yang bening dan bersemangat itu tidak bisa dihentikan oleh apapun kurasa, betapa adil pengaturan yang Allah berikan, setiap zaman memiliki generasinya sendiri, setiap zaman memilki pahlawannya sendiri

dan ini hari ini adalah hari kalian, senang sekali melihat jaket kuning kembali mewarnai jalanan ibukota, hari-hari ini adalah milik kalian, senang sekali melihat sejarah itu tidak putus, maka wakililah kami, wakililah rakyat ini, suarakan jerit hati mereka, suarakan dengan lantang!

karena kalian adalah mahasiswa penyambung lidah rakyat!!

Kamis, 08 Mei 2008

Tukang Tambal Ban dan Motorku

Tiba-tiba jalanan seperti bergelombang, padahal aspalnya mulus sekali...degg aku segera menepi dan melambatkan laju motorku, kulihat ban belakang motorku yang malang sudah hampir kempes sepenuhnya.

celingak-celinguk, tak kulihat kompresosr besar berwarna oranye di sekitar, tapi ada sekumpulan tukang ojek yang mangkal, ah mereka pasti tahu...

masih ada angin sedikit di ban itu , aku segera melaju pelan-pelan mendekati pangkalan ojek itu. alhamdulillah tidak jauh dari pangkalan, mereka menunjukkan si oranye besar, kompresor lengkap dengan abang yang mengoperasikannya, mereka tersebunyi di jalan samping, dibalik truk yang sedang terparkir.

"kempes bang! " aku ngeluh, segera si abang memeriksa ban belakang, seraya bertanya? "kurang angin?" "bocor kali bang" jawabku, soalnya tiba-tiba...

maka segeralah ia mengeluarkan keahliannya, menggunakan linggis kecil, di congkelnya ban itu sampai ban dalamnya bisa keluar setelah pentilnya di lepas menggunakan alat yang sering kulihat tapi tidak tahu namanya itu.

ia membuka katup angin dari kompresornya dan mengisi ban dalam-yang telah terekspose- dengan angin, dicarinya semburan angin dari ban dalam yang telah mengembang penuh itu dengan tangannya, setelah berapa lama ia mencurigai satu titik yang berada disisi luar tidak jauh dari pentil.

diambilnya lidi untuk menyumpal lubang yang amat kecil itu, agak kesulitan, lubang itu ternyata hampir tidak kasat mata, tapi tidak lama lidi itu sudah tertancap. langkah berikutnya ia recheck dengan menggunakan ember lebar berisi air, di celupkannya perlahan area sekitar lidi, untuk memastikan lubangnya suda tepat, "blubuk..blubuk.." terdengar suara dan gelembung udara yang keluar dari dekat lidi, yap itu lah dia sumber kebocoran. periksa tempat lain tidak ditemukan gelembung dan suara desis udara maka dipastikan kebocoran hanya terjadi di satu titik tadi.

menanggulangi problem ini dia mengambil sepotong karet untuk menambal, di potongya seukuran kira-kira 2x2 cm, lalu dipaskan pada area titik kebocoran tadi, bannya sudah dikempeskan dulu tentunya. ditempelnya karet tadi dengan lem, entah merek apa tapi kalengnya si Aibon, sebelumnya permukaan ban dalam di kikirnya agar sedikit menipis, sekaligus membersihkannya agar mudah ditempeli.

di keluarkannya semacam alat press yang dilengkapi rumah api di bawah platformnya. ditaruhnya potongan karet yang telah ditempel tadi pada platform tersebut yng permukaanya telah dilapisi kertas perak alumunium foil, sisa dari bungkus rokok kayaknya. diambilnya bantalan kayu, lalu dipress lah potongan karet yang telah dilem tadi, ditambah dituangkannya secangkir kecil spiritus yang dinyalakan apinya dan ditaruh pada rumahnya yang berada tepat di bawah platform.

jadilah selama beberapa menit potongan karet penambal tadi ditekan kuat dari atas dan di panasi dari bawah. sambil duduk menunggu spiritus habis, dikeluarkannya rokok. sambil bersantai aku mengatakan ini pertama kalinya motor ini ditambal setelah setahun. sambil terkejut ia melemparkan pujian, karena biasanya ia bisa mendapat motor yang sama bisa kembali sebulan sekali, bahkan pernah sampai tiga hari beturu-turut. paku katanya yang jadi penyebab. terfikir oleh ku apa mungkin penyebab bocornya ban ku juga karena paku.

diperiksanya api telah mati, lalu di percikkan air keatas platform, desis air menunjukka platform metal itu sudah teramat panas. dibuka press tersebut dan ajaib karet penambal sudah hampir menjadi bagian dari ban dalam itu sendiri.

sebelum dipasang, diperiksanya ban luar dengan memukulnya beberapa kali sambil diputar, di bagian tebawah terkumpul kotoran dan karat yang entah bagaimana menemukan jalan masuk ke dalam sana, di rabanya sambil membersihkan..tidak ada paku atau benda tajam, sambil mengelengkan kepala dan tersenyum, bukan paku kayaknya, mungkin sekedar berulang tahun saja, sambil melirik plat nomor motorku, tertulis disana 04-12, april 2012 berarti bulan ini usianya sudah setahun.

sambil tersenyum kubalas, memang sudah waktunya kali pak ya, ia mengangguk-angguk. berapa ongkosnya pak? 5000 rupiah saja. harga yang murah fikirku untuk sebuah keahlian berguna yang telah di masterinya dengan baik.

sambil berlalu aku mengucapkan selamat ulang tahun pada motorku yang malang Suzuki New Smash 110 cc, official bike untuk para dokter pas-pasan dari angkatanku, dipakai mulai dari residen bedah saraf, neurologi sampai dokter perusahaan obat dan dosen.

sebagai hadiah aku meberikannya perawatan rutin yang sudah lama tertunda di bengkel langganan, termasuk oli dan saringannya yang baru.

Jumat, 04 April 2008

i am back

ah akhirnya internet kembali aktif di komputerku yang malang ini, setelah lebih dari 2 minggu tidak bisa diakses. ruang kerjaku pindah ke gedung baru di lantai 1. 2 minggu ini sudah banyak hal yang terjadi beberapa diantaranya benar-benar mempengaruhi hidupku.

setelah 2 tahun menikah ini aku menyadari bahwa berkeluarga itu level yang berbeda sama sekali, "it's a different level of game" banyak dari aturan yang kita fahami harus direview kembali, dan banya dari cara pandang kita yang pelu disesuaikan, pada beberapa hal perubahan harus dilakukan secara total.

satu pelajaran yang bisa di bagi adalah kemurnian tawakkal, "raja' " yang benar-benar murni, menggantung kan hati sepenuhnya pada sang pencipta, semua itu akan kita rasakan dalam bentuknya yang terasa lebih murni dari sebelum-sebelumnya. mudah-mudahan ini adalah buah dari ujian, ujian yang membersihkan diri dan hati dari semua kekotoran. walahualam

Rabu, 27 Februari 2008

Menyegerakan Menikah

seorang kenalan baru-baru ini mengeluh pada saya bahwa ia ingin menikah namun belum juga berhasil, sementara ibunya sudah bertanya-tanya...banyak sebenarnya buku yang membahas hal ini, dan tema sentralnya adalah kenyataan bahwa jodoh itu ada di tangan Allah swt, bila belum dapat maka harap bersabar.

terfikir oleh saya kembali lagi konsep mestakung yang telah dibahas pada tulisan saya sebelumnya "setelah kemudahan ada kesulitan" keadaan kritis seputar tema pernikahan bisa di capai dengan banyak cara dan amat mungkin berlainan antara satu orang dan yang lain. sebagai contoh bagi seseorang mungkin tekanan keluarga atau peer bisa memicu krisis , orang lain mungkin dorongan pribadi (baca : nafsu syahwat )-nya sedemikian besar hingga bila tidak segera ditanggulangi akan jatuh pada kemaksiyatan dan atau penganiayaan diri sendiri (if u get what i mean)

keyakinan saya adalah jodoh akan semakin sulit kita rasakan, bila keadaaan krisis belum lagi melingkupi. setelah saya lihat perjalanan saya sendiri menuju pernikahan, ternyata tanpa sengaja saya telah melipatgandakan krisis yang saya alami pada bulan-bulan sebelum jodoh menghampiri. jadi kawan bila anda ingin segera menikah, evaluasi diri sudahkah krisis melingkupi anda, atau bahkan sudah hampir menenggelamkan anda. krisis yang saya maksud adalah suatu dorongan intrisik dan atau ekstrinsik untuk segera menikah.

langkah berikut bila krisis sudah memuncak, adalah terus melangkah. jangan berhenti berusaha ( usaha yang halal tentunya ) secara spesisfik usaha yang dimaksud adalah mengadakan sebab-sebab dari datangnya jodoh, yaitu kesiapan mental/psikologis, ilmu dan finansial.
kesiapan psikologis berupa kemampuan bekerja sama, toleransi, keterbukaan dan masih banyak yang lain yang diperlukan untuk berinteraksi secara intens dengan orang lain utamanya lawan jenis.

kesiapan ilmu mencakup ilmu kepemimpinan, wiraswasta, pengelolaan keuangan, sampai fikih munakahat secara detil dan menyeluruh, intinya semua ilmu yang dibutuhkan dalam mengelola organisasi sampai mencapai tujuannya.terakhir kesiapan finansial berupa hard cash sebagai modal awal kita memasuki institusi keluarga, inilah yang sering menjadi ganjalan menyegerakan pernikahan, berapa sebenarnay jumlah yang cukup itu? sebagian baru merasa cukup bila telah memiliki rumah dan kendaraan sendiri, sebagian yang lain mengatakan 10-20 juta cukup, sebagian lain asal ada pekerjaan tetap, lain lagi yang cukup PD dengan kemauan untuk berusaha dan tawakkal.

jadi kawan bila ingin menikah jangan dulu menginventaris siapa calon yang cocok, tapi nilai ulanglah kehidupan anda, dan nilailah kapasitas pribadi anda. sudahkah krisis ini melingkupi diri anda, adakah kemampuan finansial, sudahkah ilmu nya anda pelajari, dan mentalnya udah ada belum? nah bila sudah ada, barulah tembak siapa-siapa yang anda minati dan bersabarlah serta bersangaka baik pada Allah swt, tapi bila belum, segera penuhi sebab-sebab timbulnya akibat yang kita inginkan tersebut, be consistent, terus melangkah agar kehidupan anda mencapai titik kritisnya maka saksikanlah janji Allah, semesta seakan mengatur dirinya agar tercipta keseimbangan yang baru bagi anda.

wallahualam

Selasa, 26 Februari 2008

Setelah Kemudahan ada Kesulitan

Dalam banyak kajian islam, pasti pernah kita dengar judul mirip diatas setelah kesulitan yang mendera akan muncul kemudahan, sebuah pelipur bagi banyak kesulitan yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. kalau tidak salah ada ayat al-qur'annya juga dalam salah satu surat. setiap topik ini muncul dalam kajian, saya malah merinding...

sudah bertahun-tahun saya menyadari hal ini, kesadaran yang muncul dari hasil introspeksi yang mendalam (mudah-mudahan). saya menyadari bahwa ternyata hidup saya selama ini, selama lebih dari satu dekade ini (kalau iseng-iseng dihitung) ternyata amat dimudahkan oleh Allah swt, kesulitan tentu ada, tapi tidak yang berkategori meremukkan tulang belakang...beban di bahu ini memang terasa berat, namun biar terbungkuk masih sanggup jua saya pikul.

itulah, saya selalu merasa ngeri bila terbayang kesulitan yang pasti akan menghampiri, jenis kesulitan apa yang dihadapkan nanti tidak terfikir oleh saya, pastilah ia sejenis kesulitan yang sebanding dengan nikmat kemudahan berkepanjangan yang saya terima. coba bayangkan bila anda duduk menunggu-nunggu teror yang pasti datang, bisakah anda duduk nyaman? dan janji Allah itu pasti. mereka yang selama ini dalam deraan kesulitan berkepanjangan, meyakini kemudahan pasti akan datang sesuai janji Allah, kepada harapan itulah mereka gantungkan hati, sehingga jasadnya sanggup menerima deraan demi deraan kesulitan.

mereka yang saat ini dililit kesulitan yang berkepanjangan, ambil contoh kaum muslimin di palestina, kesulitan yang dihadapi tak ada bandingnya, mudah saja bagi mereka mengharapkan kemudahan dari Allah paling tidak di akhirat nanti. sedangkan kita yang sekarang sedang menikmati berbagai kemudahan...siapkah kita menanggung kesulitan terbesar itu di akhirat kelak? kalau saya tidak, lebih baik Allah segerakan kesulitan itu di dunia ini saja, jangan sampai saya mendapat kesulitan di akhirat kelak yang konsekuensinya abadi.

para mujahid di palestina tidak tinggal diam, kesulitan tidak membuat mereka berpaku tangan,tapi berusaha keras meraih janji Allah di dunia atau paling tidak di akhirat kelak bukankan slogan kita adalah "hidup mulia atau mati syahid". bila demikian sikap kaum yang dalam kesulitan maka bagaimana sebaiknya sikap kaum yang dalam kemudahan?.

selalu bersiap-siap jawabnya, menurut saya kita wajib selalu bersiap-siap ,mempersiapkan diri, meningkatkan kapasitas keimanan, kemampuan fisik, mental dan intelektual, tepat seperti yang diperintahkan dalam Al-Qur'an yang mulia "dan persiapkanlah...kuda-kuda perang .." dalam surah Al-anfal kalau tidak salah. selain itu juga kita harus sering introspeksi dan mengevaluasi kehidupan kita secara berkala, demi menemukan potensi kesulitan yang ada dan menyusun langkah-langkah antisipasi yang memadai.

disisi lain saya tergelitik juga dengan suatu pendekatan lain, sebelum kesana, bila kita mampu menerapkan secara cermat dan konsisten strategi diatas ( which is not possible) alhasil tidak ada kesulitan yang tidak bisa kita tangani...jadi terfikir oleh saya pendekatan kedua yang terinpirasi dari konsep Mestakung (Semesta mendukung), dalam konsep ini dalam keadaan kritis maka bila kita konsisten melangkah maju, semesta akan memberikan jalan keluar berupa terbentuknya keseimbangan baru ( baca : solusi), tepat seperti yang dilakukan para mujahidin di palestina, mereka terus melangkah sekalipun kondisi sudah amat kritis karena didasari keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti akan datang ( baca : semesta mendukung)

tergelitik saya dengan ide bagaimana kalau kita ciptakan kondisi kritis tersebut ! atau dengan tersenyum kita dekap kesulitan yang mendatangi tanpa persiapan sama sekali, diantara dua ini saya kira lebih layak bila kita sengaja menciptakan kondisi kritis, karena yang kedua itu adalah kebodohan. apakah saya menganjurkan mencari gara-gara?cari penyakit? tidak, coba perhatikan ada sebagian manusia yang mengemari tantangan, atau mara bahaya, kita tidak menciptakan kesulitan tapi lebih kepada memberanikan diri menghadapi kesulitan dan memberanikan hati melakukan langkah revolusioner atau dalam menghadapi kesulitan itu kita ambil sebuah strategi yang umumnya dihindari orang lain, atau solusi yang berani, atau kebijakan yang tidak populis namun semua itu kita ketahui dengan baik memiliki potensi membawa kebaikan dan kemajuan dan bisa menjadi solusi.

wallahualam , panjang lebar sudah, cuma saya berdoa agar kesulitan apapun itu yang dihadapkan pada saya janganlah ( Jangan ya Rabb!) sampai merusak aqidah dan iman saya, ambilah semuanya, lucuti semua, tapi saya berharap hati ini kuat berpegangan pada tali iman, tangan ini erat menggenggam aqidah islam biarpun panasnya merasuk dalam sumsum tulang jemari.

Selasa, 19 Februari 2008

Razia Polisi : Pengalaman Pribadi

Pernahkah kendaraan anda diberhentikan polisi untuk pemeriksaan? pasti pernah..saya dan motor saya dalam setahun terakhir ini setidaknya pernah 5-6x di razia polisi. Pengalaman pertama pasti mendebarkan, jantung tiba-tiba berdetak lebih cepat dan keluar keringat dingin..pengalaman pertama di daerah jembatan serong...bukannya tidak beralasan ketakutan seperti itu, tapi memang saya tidak punya SIM, hehehe..malas sekali rasanya mengurus ke samsat.

setelah setahun ini, saya mengidentifikasi daerah favorit polisi mencari "tambahan" di sekitar percetakan, rawasari,cempaka putih. terutama untuk para bikers perlu berhati-hati dibulan-bulan seperti ini februari-april, kalau gak salah waktunya operasi simpatik, daerah paling sering ada polisi adalah perempatan pemuda dan pramuka, tidak jauh setelah kita masuk pramuka, biasa ada patroli motor, tapi jangan menepi sebelum sampai di tempat mereka, karena 20-30 meter sebelum titik itu ada polisi preman yang menunggu ( sepinter-pinter kita mereka lebih pinter), jadi pilihannya adalah tancap gas dan bersiap menerima jitakan di helm, atau jangan masuk pramuka dari arah itu, belok kiri dan masuk lewat utan kayu.

tempat lain lagi adalah sepanjang kali utan kayu di daerah cempaka putih, polisi menunggu dimana saja sepanjang jalan itu, alternatif nya adalah masuk kiri setelah jembatan serong, lewat kompleks perumahan. tapi kalau sepandai-pandai kita melompat pasti suatu hari akan tertangkap juga, oleh karena itu selalu siapkan selembar uang 50rb ( tarif buat yang ga punya sim) di antara stnk dan ktp yang diminta, sambil tersenyum memelas minta damai...

satu lagi tempat favorit polisi yaitu sebelah percetakan negara, dekat pasar johar, bila anda datang dari arah pasar maka cara mneghindarinya hanya dengan balik arah atau masuk gang sebelah kanan jalan yang aka muncul di pinggir rel kereta api, susuri kearah kiri maka akan kelaur di pintu kereta tidak jauh dari stasiun pos kramat

Jumat, 18 Januari 2008

hari ini menakjubkan sekali..setelah menjelajah friendster selama ini akhirnya hari ini aku menemukan long lost friends, yap temen-temen smu ku di bandung dulu...menariknya aku menemukan mereka melalui teman smp ku...dunia memang kecil sekali ya?

untuk semua teman-temanku menyenangkan sekali bisa melihat wajah kalian lagi dan mengetahui kabar terakhir, banyak yang sudah menikah,banyak juga yang belum, bangga sekali ada yang jadi peniliti LIPI-andri, berkesempatan studi ke luar negeri-fean, gia, ada yang jadi dosen juga, anyway menyenangkan sekali :) i am thrilled! and lo! apakah itu ery yang sama dengan uang kukenal dulu? sekarang sudah menjadi pembicara di bangkok :)

bangga sekali menjadi teman kalian, cerdas dan penuh semangat! semua sudah mulai menapaki keahliannya masing-masing, semoga kita semua dimudahkan jalannya dan berhasil mengukir sendiri tempat kita di dunia, diantara masyarakat dan diantara bangsa-bangsa

Rabu, 09 Januari 2008

Cara Belajar ?

Bertanya pada saya seorang mahasiswi yang dalam bimbingan saya mengenai cara belajar yang baik, saya sudah menjawabnya saat itu tapi saya sendiri tidak puas dengan jawaban itu-apalagi dia- tentunya. jadi saya berfikir-fikir dan membuat tulisan disini dengan harapan dia-dan teman-temannya- akan membaca.

Bersekolah di fakultas kedokteran, bagi saya adalah sebuah kenyataan yang harus diterima, seperti perahu layar yang mengikuti kemana angin memniup layarnya dan pergi kemana arus laut mendorong lunasnya. Tabah adalah kata yang dapat merepresentasikan perasaan saya. "...jalanin aja dulu..." demikian kata senior saya di kampus dulu.

maka bagi saya belajar kedokteran seperti bertahan hidup dihutan menghadapi semua raksasa-raksasa akademis itu dan semua pengetahuan yang mereka lemparkan pada saya, saya bersusah payah mengunyah akar-akar ilmu kedokteran karena itu amat dibutuhkan seorang dokter, saya berjuang melalui sungai deras dan rawa-rawa ujian yang muncul silih berganti dihadapan.

bila dikenang sekarang, saya sadar tidak akan pernah berhasil keluar dari hutan dengan utuh dan menjadi dokter seperti sekarang kalau bukan karena-salah satunya- jasa dari teman-teman saya, sahabat sejati selamanya. bersama mereka saya belajar, saling mengisi kekurangan, saling tolong, melindungi, menutupi dan menghibur

jadi bagaimana cara belajar yang baik ? belajar bersama adalah jawabannya saya kira. belajar sendiri-sendiri lalu diskusikan bersama-sama, yang pandai bermurah hatilah mengajari temannya yang lebih lambat, mudah-mudahan Allah membalasnya lain waktu kita mendapat kesulitan. yang rajin jadilah sekertaris, ingatkan teman-temannya pada jadwal-jadwal dan tugas-tugas,yang pandai memimpin ambilah kendali agar tugas terselesaikan,yang pemberani ambilah inisiatif, yang biasa-biasa saja buka telinganya dan jadilah pengikut yang baik

pada akhirnya kalian akan mengenal karakter temannya masing-masing, kelebihan dan kelemahannya, tidak ada yang sempurna, ada yang pandai tapi tidak sabar, ada cerdas tapi penggugup, ada yang lamban tapi rajin, ada yang cepat tapi ceroboh, ada yang rajin tapi sering lupa, ada yang pelupa tapi selalu riang pembawaannya, ada yang pembolos tapi cerdik melihat situasi, ada yang super sibuk tapi berani berhadapan dengan dosen, variasinya tidak akan pernah habis.

belajarlah tapi jangan lupa ikut organisasi, percayalah manfaatnya tidak kalah signifikan, meski baru dirasakan kelak, belajarlah dan jangan dulu berpacaran, asumsi bahwa akan menambah semangat belajar itu cuma ilusi saja, berpacaran gaya jaman sekarang mengandung banyak maksiat, bila hati berlumuran dosa bagaimana mungkin Allah akan memudahkan jalan kita?

belajarlah tapi jangan lupa berlibur, pergi ke gramedia dan membeli novel serta komik favorit dan membaca sepuasnya adalah pilihan saya

belajarlah tapi lihat kondisi masyarakat sekitar, jangan tinggal di menara gading, ikut baksos, temui dan bantu mereka yang mengalami musibah, belajar berempati dan merakyat,pahami realita kehidupannya karena mereka akan menjadi pasien kita dan juga agar Allah berkenan membantu kita dan mengasihani kita

belajarlah dan jangan bersedih bila mengalami kegagalan, anda tidak sendiri, setiap orang akan berhadapan dengan makhluk ini satu atau lain cara, sekarang atau di lain kesempatan, bersyukurlah yang gagal hanya ujian, bukan pernikahannya yang gagal : ) menerima kegagalan berarti satu langkah maju menuju kematangan jiwa, jiwa yang bertahan menghadapi semua kegagalan adalah jiwa yang dimurnikan, dosanya digugurkan, diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, teguran dari Allah tanda rasa cinta-Nya.

belajarlah dan jangan lupa telepon dan bicara pada ibu kita tercinta minta didoakan, doa diberi kemudahan, diberi ketabahan

alhasil saya berkata seperti yang pernah diucapkan abang-abang saya " ...jalani aja dulu..."
wallahualam

Jumat, 14 Desember 2007

Catatan PTT-Venaseksi pertama-ku

Beberapa hari sebelumnya terbetik dalam hati, mungkin aku perlu tahu tehnik venaseksi, jadi saat Aso- temanku yang bertugas di pantai selatan P.Obi- singgah untuk bermalam dalam perjalanannya pulang ke puskesmas, bertanyalah aku.

Aso sudah ikut ATLS ( Advaced Trauma Life Support ), meskipun dia baru pernah melakukannya pada kambing, sedang aku baru pernah 1 kali melihatnya dilakukan waktu sekolah dulu. keesokan paginya Aso berangkat dan pasien itu datang malam hari...sulit dipercaya ya? begitu seseorang memiliki ilmunya maka yang membutuhkan ilmu tersebut cepat atau lambat akan datang...menyimpang sedikit, kejadian sebaliknya diterapkan oleh para residen anestesi waktu koas dulu, dalam mempersiapkan operasi, dalam OK ada obat -obat yang harus disiapkan, seperti obat anestesinya, muscle relaxantnya dan banyak lagi yang terakhir adalah obat emergency, nah yang terakhir ini sering di lewati, tidak dipajang di OK, supaya apa ? kutanya, ternyata mereka percaya kalau obat itu di pajang maka pasien biasanya akan membutuhkan, dan mereka tidak mau itu terjadi, aneh kan?

kembali ke pasien kita, beliau ini sebulan sebelumnya kuterima tengah malam dengan trauma tumpul abdomen dengan penyulit kuperkirakan adalah ruptur vesica, setelah stabilisasi paginya kukirim ke RSUD di Bacan, dan kabarnya berhasil selamat setelah di laparotomi.

malam itu dia kembali dengan syok, namun saat dicari akses vena para perawat tidak ada yang berhasil, jadi dengan kesepakatan bersama, aku lakukan venaseksi...setelah asepsis/antisepsis regio mediodistal tungkai bawah (maksudnya diatas matakaki sebelah dalam ) sebelah kiri. aku melakukan sayatan transversal dengan bisturi sepanjang satu cm sampai menembus dermis, saat tiba di subdermis, aku pakai klem bengkok untuk masuk secara tumpul...korek sana sini, akhirnya aku melihat sebentuk struktur seperti kabel putih ditempat dimana seharusnya ada vena disana, periksa-periksa dan minta 2nd opinion dari perawat senior, sepakat itu adalah vena yang dimaksud,

langkah berikut kita bebaskan ia dari sekitarnya dan meyelipkan pinset di bawah vena tersebut. aku ikat dengan silk ujung distalnya dan menusukan abocath yang besar kearah proksimal dan kita aliri cairan...masuk, tidak ada bendungan, tidak ada bocor dan tidak ada darah. fiksasi dan tutup dengan kassa steril tanpa dijahit ( itu nanti )...venaseksi selesai

alhmdulilah besok paginya beliau sudah bangun dan segar, entah kenapa beliau syok semalam,
beliau minta pulang maka aku lepas abocathnya setelah sebelumnya mengikat mati kedua ujung vena dengn catgut, seharusnya semalam aku pakai catgut, jadi silknya tidak perlu dibuka lagi. dan jahit sayatan yang kubuat...selesai

nasib orang lain-lain, beberapa minggu kemudian aku dapat kabar beliau meninggal setelah diurut perutnya di Tidore yang tukang urutnya terkenal handal, dalam hati kupikir mungkin jahitannya terbuka lagi terjadi pendarahan lagi. wallahualam

Rabu, 12 Desember 2007

Catatan PTT-Ketinggalan Kapal

Kalau ditanya tempat favoritku di Pulau bacan maka itu adalah pelabuhan Babang, tepatnya Puskesmas Babang..Disana tinggal satu keluarga dokter yang hangat dan penuh perhatian, bagi ku dokter Juri dan keluarga adalah salah satu dari sedikit yang bisa diajak berkomunikasi. mengherankan bukan? tapi memang begitulah adanya. bila ada urusan di Bacan maka tidak perlu repot mencari tempat bermalam cukup singgah di Babang dan pinjam om Juri pe motor :) ( motor punya om juri).

selain itu Labuha bermasalah dengan sumber air, pamnya sering mati dan kotor, di babang lebih baik, meski tetap kadang mati juga, tapi bersih. dan di Babang juga aku dan istri pernah ketinggalan kapal. hari itu adalah hari terakhir aku di Obi dan sudah waktunya mudik ke Ternate dan jakarta. semua barang sudah masuk ke kamar yang aku sewa dari ABK. sore hari kapal singgah di Babang, aku turun untuk mengucapkan selamat tinggal pada semua kenalan, di labuha dan babang, tentu seperti biasa aku pakai motor om juri..1 jam perjalanan babang-labuha, menjelang maghrib aku bertemu teman lama di smu yang asli makassar dan sedang ada proyek di labuha dia arsitek, jadi ngobrol deh lama, isya menjelang sudah waktunya kembali ke Babang.

saat masuk ke pelabuhan ternyata kapal sudah meniup peluit ke tiga, sauh sedang diangkat dalam lima menit jembatan akan ditarik masuk, kapal berangkat dengan semua barang kami di dalam kamar yang terkunci...
segera aku naik kapal berikutnya yang setengah kosong, tanpa tiket, tanpa bekal, hanya jaket dan 2 botol air aqua, tanpa makan malam, di bulan ramadhan dengan istri yang sedang hamil...

beruntung saat kapal kami berlabuh di Ternate hanya berselisih beberapa menit dengan kapal sebelumnya, juga pelabuhan lagi ramai jadi kapal parkir bertumpuk, segera aku naik ke kapal yang membawa barang kami dan menuju kamar sebelum ada orang yang menyadari hehehe pak dok tertinggal kapal, malu, berita menyebar cepat.

pengalaman lain yang unik adalah saat pertama naik speedboat, di Obi untuk puskesmas keliling, sambil tersenyum para staf mempersilahkan aku untuk duduk disamping pengemudi, ternyata senyum mereka adalah seringai, aku dikerjai, tempat kehormatan itu tidak lain adalah tempat paling tidak enak dalam perjalanan, gelombang laut tinggi dan kita seperti dibanting-banting, perut sampai sakit sekali, berhari-hari sesudahnya perut ku masih nyut-nyutan

di Obi ada pak Cam dan bu cam ( pa camat dan bu camat), om pos ( petugas kantor pos) pa komendan ( komandan koramil) ada pak ila (ka TU puskes), bidan ona ( yang batitanya lasak sekali), pak man ( bendahara yang lucu) terus ada petugas imunisasi kami, perawat dan mantri yang sangat percaya mistis sayang sekali lupa namanya..aduuh

lalu ada ilwan dan irwan di ternate yang selalu siap membantu meringankan hidup kita, btw mereka dulu tergabung dalam pasukan jihad waktu kerusuhan, irwan tahu benar bagaimana cara membuat bom dari lampu petromaks, bom buatannya bisa meruntuhkan satu rumah. ilwan lain lagi dia guru SDIT dan berperan sebagai penjaga gawang mess dan kuncinya, sementra irwan bepergian kesana kemari. terlalu sekali kalau aku sampai melupakan nama-nama mereka

lalu ada dr surahmat-om sur dan keluarga- yang menjadi orang tua kita semua bersama istrinya dr Titin di Alkhairaat dan tentu saja dokter-dokter dari bandung yang sebagian sekarang memutuskan untuk menetap : Adi, Melia, Aso, dll

Selasa, 11 Desember 2007

Catatan PTT-Jakarta,Ternate,Labuha

Ternyata kehidupan berlalu cepat sekali, ingatan akan peristiwa-peristiwa memudar dari benak. Begitu juga ingatanku pada masa-masa yang kulalui di Desa Laiwui, Pulau Obi sepenggal pengalaman hidup yang seharusnya terpahat dalam dalam ingatanku.

Tidak terbayang apa yang akan dihadapi saat aku dan sahabatku membuka peta hari itu. Di lantai 2 sekretariat darurat masjid Arief Rahman Hakim kami memilih kabupaten pilihan untuk masa bakti PTT selama 6 bulan. aku memilih Halmahera Selatan di Provinsi Maluku Utara.

Dalam pesawat kami berdo'a semoga bekal nomor HP kontak yang kami dapat aktif dan kami terselamatkan dari terdampar di bandara kota yang saat itu jadi tujuan pertama Ternate. Baru saat itu aku menyadari bertapa bahagianya berada dalam jama'ah, baru saat itu aku meresapi apa arti persaudaraan atas nama iman, kemana kami pergi-selama masih ada adzan berkumandang-disana Insyaallah ada saudara yang akan menyambut kami, aku ingat betapa rasa bahagia dan syukur silih berganti kurasakan.

Mess itu amat nyaman bagi pendatang seperti kami, tidak heran karena usaha para ikhwah terdahulu yang menyadari pentingnya mempertahankan mess ini, mereka telah melihat jauh ke depan, suatu saat fasilitas seperti ini akan amat berguna. kewajiban bagi kami turut berinfaq agar generasi selanjutnya dapat merasakan kenyamanan ini.

Bila barusan adalah kali kedua aku naik pesawat-yang pertama dengan Hercules AU Singapura ke Aceh- maka malam itu adalah kali pertama aku menumpang kapal motor penumpang, aga syok ketika melihat para penumpang berjejalan dalam 2 dek sempit, dalam jajaran kasur tipis untuk satu orang yang berjejer-jejer unutk sekitar 200 penumpang dan barang. Jangan tanya panas dan baunya...butuh pengalaman dan jam terbang untuk bisa mendapat tempat terjauh dari knalpot, dengan sirkulasi udara yang baik plus pemandangan yang baik dan bebas sorotan matahari saat matahari naik nanti.

Tujuan kedua adalah pulau Bacan, kami akan berlabuh di Babang pada waktu subuh dan melanjutkan ke Labuha dengan oto selama satu jam. subuh hari itu kutunaikan di Klinik AlKhairaat, mess lain lagi yang tidak kalah nyaman.

Labuha adalah kota kabupaten Halmahera Selatan, ada 2 hal yang amat mengesankan hati ku, yang pertama adalah klinik Alkhairaat dan bapak Bupati. Alkhairaat sebagai mess bagiku menjadi percontohan sebuah pola ukhuwah yang belum pernah kulihat sebelum ini. pendatang datang dan pergi, perorangan maupun satu kekuarga lengkap, dokter, insinyur, kontraktor, pedagang, mahasiswa, penduduk asli, transmigran, orang jawa, sumatera, makassar, dan beragam macam orang lagi. mess ini seperti kata Bilbo tempat berbagai macam urusan bertemu.

ukhuwah sejati adalah bila beberapa keluarga sanggup tinggal dalam satu atap tanpa terjadi konflik, berbagi makanan, berbagi air dan listrik, saling tolong menolong, saling membantu dan mendukung, ternyata ukhuwah itu amat berat namun manis sekali buahnya. orang yang kemarin masih asing sekali, hari ini menjadi keluarga yang dapat kita titipkan harta dan keluarga kita, kepercayaan semata karena keimanan yang sama.

pola ikhuwah ini yang secara umum kulihat sepanjang 6 bulan di daerah ini, uang berjuta-juta gaji kita dapat dengan ringan dititip pada ABK atau nakhoda agar disampaikan pada empunya. integritas pribadi amat penting, budi baik nilainya amat tinggi. Meski tidak semua dapat dipercaya tapi sekali orang mencederai kepercayaan yang diberikan, sulit sekali namanya dibersihkan karena berita buruk menyebar cepat dari mulut ke mulut, dibicarakan di acara-acara hajatan dan menyebar dari pelabuhan ke pelabuhan sampai ke desa yang jauh.

yang kedua adalah pak Bupati, ustadz yang menjadi bupati, amat mudah ditemui oleh warganya yang membutuhkan, islam maupun kristen karena sukunya asalnya adalah suku kristen terbesar di jazirah raja-raja, mulai subuh sampai isya setiap selesai salat 15-20 menit disisihkannya bagi yang ada perlu, mengeluh atau meminta atau melapor, seperti yang aku lakukan siang itu di masjid Sultan bacan ba'da zuhur, belum ashar keputusan sudah keluar, aku akan pergi ke Puskesmas Laiwui di Pulau Obi, 8 jam kearah selatan Pulau Bacan.