Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Mei 2012

Africanis : A Dog Story

Salah satu Novel best seller internasional pertama yang saya baca adalah The Fourth Protocol oleh Frederick Forsyth, belakangan saya lihat juga sudah ada filmnya. Karakter utama novel ini adalah seorang agen MI5--ini adalah dinas intelijen Inggris yang bertugas di bidang kontraintelijen--saya sudah lupa namanya, tapi diakhir cerita koleganya dari dinas intelijen Afrika Selatan membandingkannya dengan anjing lokal Afrika Selatan yang dikenal saat ini sebagai Africanis.

Sejak lama saya merasa ada makna lebih yang dimaksudkan oleh penulis dengan menggunakan analogi africanis ini. Baru-baru ini saya tiba-tiba teringat kembali bagaimana Mr. Forsyth merangkai cerita dibalik hidup Jan Marais dan bagaimana perwira intelijen inggris kita mampu mengendus kebenaran dan membuktikannya. Saya teringat lagi akibat kemenangan kecil di laboratorium kemarin, keberhasilan yang sudah saya incar sejak setahun lalu. Hanya soal kesempatan, waktu, dan kesabaran.
Africanis ternyata adalah anjing asli afrika (Dog of Africa), pada banyak film tentang afrika kita tentu pernah melihat anjing jenis ini, yang memang merupakan bagian dari kehidupan rural di Benua hitam. Kesan yang saya rekam adalah suasana panas dan kotor disertai anjing-anjing liar yang kesana kemari mencari bangkai. Kesan itu pula yang ditangkap para kolonialis di Afrika Selatan hingga anjing ini dijuluki sebagai "kaffir dogs" sebuah ungkapan rasis di periode apartheid.

Keunikan africanis adalah yang menjalin penuturan saya kali ini. Africanis telah lama dikenal kualitasnya oleh penduduk lokal afrika sebagai anjing dengan daya tahan tinggi, cerdas, loyal dan pemburu yang handal. Africanis memiliki fisik dan mental yang sesuai dengan karakter ekstrem lingkungan Afrika. Keunikan Africanis terletak pada kesederhanaan dan fungsionalitasnya bukan pada penampilannya. Seekor africanis pada kondisi terbaiknya cenderung langsing dengan tulang rusuk yang terlihat dengan mudah hingga sering dikira sedang kelaparan. Africanis adalah anjing yang cenderung ramah namun tidak menonjolkan diri, perilakunya stabil namun waspada terhadap perubahan situasi...singkatnya Africanis memiliki insting survival yang tinggi.

Perwira MI5 kita menelusuri dan mengungkap kebenaran yang dikubur secara cerdas dan kejam selama lebih dari 3 dekade. Operasi infiltrasi yang dirancang dengan sabar oleh KGB. Determinasi dan ketabahan, naluri pemburu dan kecerdasan dibalut oleh kesederhanaan dan efisiensi kerja adalah kualitas unggul yang diperlihatkan oleh perwira kita ini. keberhasilan hanya masalah waktu dalam konteks ini dan worldview barat, Islam menyempurnakannya dengan keimanan pada takdir Allah dan kesadaran keMahakuasaan sang pencipta. Kaca mata Islam memberikan kita tawakkal atas hasil yang tak kunjung nampak, atau harapan yang kandas setelah semua usaha yang dikerahkan sebaik-baiknya.

Istiqomah yang ditunjukkan perwira kita ini serta keyakinan atas tujuan dan keteguhan akan metodenya ditambah pengetahuan yang kita pelajari dari makhluk Allah Africanis dari Afrika haruslah membawa kita untuk menginsafi bahwa inilah sunnatullah. Ibroh yang diambil dari pengetahuan atas perilaku unggul manusia dan binatang ditambah tuntunan Islam seharusnya dapat menempatkan ummat Islam pada panggung utama peradaban.

Kenyataan hari ini menunjukkan ada masalah pada metode belajar kita, kemampuan kita menggali hikmah dari kehidupan sehari-hari, dari pengalaman, dari pembelajaran alam. Ada masalah dalam kemampuan kita meresapi kehidupan, memaknai pengalaman, merumuskan pelajaran, mengklasifikasikan ilmu, menyusun panduan dan melaksanakan kembali kehidupan ini dengan lebih baik lagi, agar tidak terjerumus pada kesalahan berulang dan hari yang tidak lebih baik dari hari kemarin.

Saya membayangkan seorang Africanis akan menjadi teman yang berharga, rekan yang dapat diandalkan, dan lawan yang kita hormati. Bersama seorang Africanis kita diajari bertahan dalam kondisi terburuk yang dapat diberikan oleh alam dan kehidupan. Saya yakin tidak akan merasakan ketimpangan sosial diantara para Africanis, sebaliknya saya yakin akan mendapati iklim kompetisi yang sehat. Seorang africanis diam-diam akan terus memberikan kejutan keberhasilan dan menjadi contoh nyata : How to get things done !

Cerita dari NUS : Laboratorium In Vitro Elektrofisiologi

Patch Clamp Rig
Saya suka travelling, terutama yang mengandung unsur petualangan. Petualangan tidak berarti harus rimba dan gunung, tapi juga tempat asing seperti Singapura. Saya datang kesini untuk belajar, gratis, dimungkinkan atas nama solidaritas sesama kolega. Saya tidak akan menceritakan keajaiban singapura dengan "pristine district-nya", tapi saya akan sebut satu dua hal yang cukup membuat saya terheran.

Pertama adalah tombol untuk penyebrang jalan yang ada di tiang lampu lalu lintas, waktu kecil tentu kita pernah lihat juga di Jakarta, saya agak takjub aja di sini teryata berfungsi :) ironis ya...Kedua yang tak kalah ironis adalah jadwal bus dan papan nomor bus yang terpampang di halte, ini juga berfungsi dengan baik :)...bagi saya sisanya adalah cerita keseimbangan...modernitas dan keteraturan di satu sisi dan hilangnya budaya malu dan kehangatan.


National University of Singapore tidak menampakkan "wah"-nya pada saya, salah satunya mungkin karena saya dibawa langsung melewati lorong-lorong, basement, lift dan tiba-tiba sudah di lantai riset seperti layaknya barang selundupan :) bahkan visitor card yang diberikan pada saya, atas nama orang lain. Semua urusan menjadi unofficial, pribadi, fleksibel, tepat seperti yang saya inginkan dan tidak akan saya lupakan.

Lantai 4 gedung Life Sciences Institute menjadi rumah untuk alat yang menjadi tujuan kedatangan saya yaitu Patch Clamp. Silahkan tanya paman google untuk lebih detailnya, yang saya ingin katakan adalah tidak di Jakarta tidak pula di Singapura Hukum yang satu ini tetap berlaku : GAGAL...semua orang harus melewati tahap ini sebelum berhasil. Mungkin masih ingat, potensial aksi hanya terjadi bila potensial treshold terlewati. Ada harga yang harus anda bayar sebelum mulai menerima keuntungan, harga itu harus anda tutup dulu.

jadi seperti yang saya kira saya juga akan gagal saat pertama, kedua, ketiga..dst saya tidak lagi menghitung saat mengoperasikan alat ini. tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali mengulanginya lagi dan lagi, belajar dari setiap kegagalan, memperbaiki tehniknya, konsultasi dan diskusi tanpa putus asa dan akhirnya kembali saya buktikan : BERHASIL...Sunatullah yang berulang kali terbukti

setelah jalan turun baru kita akan naik. saat mencapai titik nadir kehidupan serendah-rendahnya jangan bersedih justru itulah saat untuk berbahagia karena sekarang giliran anda naik sampai zenith. Modalnya cuma kerja keras, kerja cerdas, optimis dan percaya pada janji Allah swt. Saat anda mencapai puncak keberhasilan, melewati masalah jangan euforia berlebihan karena masalah berikutnya sudah menunggu, menunggu untuk anda lewati.

Berbahagialah orang yang menyukai tantangan, dan dapat melihat tantangan dibalik tantangan. Merugi sekali orang yang menghadapi masalah dan ia tidak suka untuk bekerja mencari solusinya tetapi justru menutup mata dan mengambil jalan singkat. Kadang kita harus insyafi memang tidak ada yang solusi yang cepat dan instan, semua butuh kerja keras dan pengorbanan..biarlah Allah swt dan kaum muslimin yang melihat

Penggunaan alat Patch clamp ini sederhana saja sebenarnya kita hanya perlu (setelah persiapan bahan) membimbing pipette borosilikat yang diameter ujungnya < 2 mikron dengan mikroskop untuk melalukan pendekatan pada sel target yang telah kita tentukan. Pendekatan terakhir menggunakan mikromanipulator. Mata anda memantau, bukan mikroskop, tapi justru monitor antarmuka elektronika yang berisi parameter kelistrikan sel. Mulut anda terhubung dengan sistem pipa tertutup unutk menciptakan tekanan positif atau negatif pada pipette sesuai keperluan. Bila Resistensi membran terbaca diatas 1 gigaohm dan bertahan maka anda berhasil..sisanya dikendalikan komputer

Semua masalah tampak sederhana bila kita mengingatnya sekarang..jadi berhati-hatilah membaca laporan penelitian orang lain yang tampak sederhana..yakinlah anda tetap harus optimasi !

wallahualam

Kamis, 21 April 2011

Cerita dari Laboratorium kultur sel


Selama 7 bulan terakhir saya bekerja di dalam ruang steril bertekanan positif setiap hari.. dan ini adalah kisah yang dapat saya bagikan.
Awalnya adalah sebuat kehormatan untuk bekerja di bidang yang tidak pernah terbayangkan selama 6 tahun pendidikan kedokteran ( yah mungkin pernah sesekali waktu kecil ). Kultur sel adalah bidang yang baru bagi saya, satu-satunya skill yang telah saya miliki adalah perhatian terhadap tehnik aseptik dan antiseptik. tehnik ini memegang peran yang amat penting dan ditegakkan dengan disiplin tinggi secara berlebihan.
jangan salah, saya tidak bekeja di lembaga riset, meski .. ya riset adalah yang saya lakukan setiap hari tapi saya lebih suka dengan kosa kata "coba". Kami betugas mencoba..mencoba dan mencoba, untuk itu kami perlu membaca ( dalam jumlah besar) setelah itu mulai menghabiskan uang (karena ini bidang yang mahal) dan berharap mendapat hasil yang baik segera (karena terkait pasar)
Sel pertama yang menjadi objek percobaan saya adalah Keratinosit. khususnya basal keratinosit, saya menggunakan sampel foreskin yang banyak diproduksi di negri kita asal tahu kemana harus mencari ( makasi bang Mahdian! ). Saya ingat betapa gemetar tangan saya ketika untuk pertama kalinya menggunakan pipetor di dalam BSC ( Biological safety Cabinet). singkatnya ada terlalu banyak pengalaman pertama mulai dari menghitung pengenceran reagen dengan rumus C1*V1 = C2*V2, menggunakan inverted microscope, kamar hitung Nebauer, seeding.. dll. Sebut saja rupiah seharga laptop yang saya buang dalam proses learning by doing ini..untungnya bukan uang saya..
Kultur sel primer.. itulah yang saya lakukan, dan unlucky me..sel primer pilihan saya bersumber dari kulit yang tidak mungkin didapat dalam keadaan steril (betapapun bersih kerja dokternya), jadi fase pertama harus saya lalui bermandi peluh akibat muncul kontaminan kecil yang berenang riang gembira didepan mikroskop. sampai akhirnya Birkenbach dan Lichti berbaik hati memberikan sedikit (tapi signifikan) saran tentang preparasi sampel. 10 menit hocus pocus dengan betadine dan alkohol...masalah selesai
saya tidak bermaksud bercerita langkah-langkah mengisolasi keratinosit dari kulit, untuk itu baiknya anda langsung datang ke lab kami. saya ingin berkata hanya rasa suka yang mendorong seseorang berjam-jam mengurung diri berteman sepi, selama berhari-hari mencoba mengatasi kendala seorang diri..bukan uang..juga bukan tesis (percaya deh) berbeda sekali dengan reluctancy yang saya idap setiap mau jaga IGD dulu...males sekali...tapi ini saya seperti eager beaver..can't wait to work..mudah sekali jatuh ke workholic
setelah berhasil isolasi dan menanam ternyata saya dapati pekerjaan ini bukan matematika..meski seluruh protokol diikuti tidak menjamin keberhasilan..derajat keberhasilan akan meningkat seiring tingginya pengalaman..tapi tingginya jam terbang secara keseluruhan bukan jaminan karena setiap sel punya karakter sendiri. Rupanya anda harus kenal dengan sifat dan karakter sel anda dalam berbagai kondisi...berapa rpm yang tepat untuk mendapat pelletnya, bagaimana penampilannya setelah pasasi, berapa cepat ia adherent pada dish anda, berapa intial seeding yang optimal, dan banyak detail lainnya..singkatnya anda harus optimasi atau kenalan dulu kira-kira begitu.
barulah saya mengerti mengapa riset itu tidak mudah, saya tidak akan memberi dana untuk orang yang baru akan mencoba untuk pertama kainya. saya akan periksa track recordnya dulu. maka menjadi penting bagi seseorang yang ingin sukses di bidang ini (dalam bayangan saya) adalah membangun kompetensi yang lengkap dari isolasi sampai verifikasi, mengasah nalurinya dengan jam terbang yang terkonsentrasi pada sedikit jenis sel. saya cukup beruntung menyaksikan seorang profesor dengan 30 tahun pengalaman mendemonstrasikan insightnya tentang kondisi kultur stem cel asal bone marrow yang digelutinya.
Ini memang jauh berbeda dari situasi ruang praktek sehari-hari, tapi tidak kalah seninya dengan ilmu kedokteran, tidak pusing dengan sertifikasi, izin dan risiko malpraktek. Bidang ini mahal if only I have all the money needed, karena tidak, maka ada orang yang menunggu laporan anda...jadi tidak ada tempat untuk ceroboh dan santai terutama kalau tangan anda didalam BSC. latar belakang Dokter punya keunggulan karena anda dapat dengan relatif mudah melihat potensi aplikasi atau penyebab kegagalan, serta membawa pekerjaan lab ke horizon yang lebih luas hingga tidak mudah kehilangan motivasi.
ini area yang potensial dan menarik,dan populer dimasyarakat sebagai keajaiban ilmu pengetahuan..tapi saya mendapati bertemu dengan orang-orang yang sama berulang-ulang menandakan sedikitnya orang yang berkecimpung di bidang ini...dan para praktisi muda yang saya temui sama-sama merasa meraba-raba jalan, sementara para petinggi sudah mengklaim berbagai keberhasilan. saya dapati di jakarta ini laboratorium sejenis tenyata berdekatan..kami di kemayoran..Kalbe di cempaka putih..makmal dan IHVCB di salemba dan Litbang di percetakan...semuanya dalam jarak 15-20 menit...mengherankan bagi saya bila tidak ada komunikasi antar lab di level praktisi lab...jadi saya membangun kesefahaman dengan litbang depkes antara sesama asisten, saling memberi masukan, motivasi, bantuan teknis, pinjaman bahan, kolaborasi karena bodoh sekali kita bila bekerja sendiri-sendiri ..karena ini pekerjaan sepi..
Jadi mari kemari kawan jalan ini masih lengang, terlalu banyak yang perlu di eksplorasi, tidak ada orang yang mampu menguasai semuanya, satu jenis sel saja bisa menghabiskan umur seseorang...pekerjaan pionir selalu sulit, jadi ini pekerjaan bagi mereka yang ingin bekerja, mengatasi tantangan, bukan duduk santai menunggu setoran medrep..Menolong pasien mungkin memberikan kelegaan (uang dari pasien juga banyak memberi berbagai kelegaan yang lain) tapi mengisolasi sel,menanamnya dan merawatnya hingga tumbuh sungguh membahagiakan
berusaha menyembuhkan mungkin keren tapi berusaha menumbuhkan jauh lebih keren :)
wallahualam

Sabtu, 01 Mei 2010

Identitas Kelompok dan Toleransi

Ada satu hal yang menarik saat kita pelajari lebih dekat proses embriogenesis utamanya neurogenesis yaitu adanya konsep Contact Inhibition. Secara in vivo ternyata ketika suatu jenis sel mengalami proliferasi memperbanyak dirinya sendiri sampai suatu saat mengalami kontak dengan sel lain yang juga sedang berproliferasi maka sel pada titik kontak akan berhenti berprolifersi dan mengalami diferensiasi menjadi jenis sel lainnya. Pada situasi in vitro hal ini juga diamati pada proses kultur sel. Pada plate kultur sel akan berproliferasi membentuk koloni-koloni maka ketika koloni ini saling kontak maka peristiwa yang terjadi tergantung pada jenis sel. Bila koloni ini terdiri dari jenis sel yang sama yaitu memiliki jenis MHC (Major Histocompatibility Complex) kelas I yang sama maka akan terjadi inhibisi perkembangan dengan kata lain mereka hidup bersama-sama, co-exist. bila tenyata koloni ini memiliki MHC yang berbeda maka meski jenis selnya sama mereka akan berusaha saling meniadakan.

Hal ini mirip seperti yang terjadi pada interaksi antigen asing dan antibodi tubuh atau reaksi penolakan host-graft atau penyakit auto-antibodi dimana tubuh mengenali suatu molekul sebagai benda asing karena ekspresi MHC yang berbeda. MHC memberikan suatu identitas unik bagi sel yang membedakan self dan non-self, ini juga berarti identitas unik bagi setiap individu katakanlah seperti suatu single indentity number atau Nomor Induk Pegawai. Kelompok-kelompok homogen dalam masyarakat akan cenderung hidup damai namun adanya imigran asing seperti di negara-negara eropa dapat menyebabkan timbulnya sikap xenophobia.
Xenograft yang dilakukan di laboratorium dimana jaringan asal manusia di transplantsikan pada mencit atau hewan coba lain dengan tujuan tertentu pasti akan menimbulkan reaksi penolakan. Sepertinya hukum ini berlaku universal sesuatu yang berbeda akan cenderung di tolak, lalu bagaimana dengan konsep toleransi yang didengung-dengungkan? Toleransi imunitas dapat terjadi pada sistem biologis terutama ketika daya tahan tubuh menurun atau dengan bantuan supresan dari luar tubuh, kedua hal ini berarti resipien atau masyarakat lokal harus melemah untuk bisa menerima perbedaan. Saya bukan anti toleransi dalam masyarakat, tapi menyatakan fakta bahwa masyarakat yang toleran sejatinya lemah dari sudut pandang kesatuan bangsa. Bangsa yang toleran cenderung mudah disusupi provokator yang membuat keonaran di tengah-tengah masyarakat atau cenderung permisif terhadap pengaruh budaya asing  atau malah tanpa sadar menempatkan agen asing di posisi-posisi kunci pemerintahan.
Ko-eksistensi ditengah keanekaragaman hanya dapat tercapai bila ada suatu bingkai atau kerangka berfikir yang disepakati seluruh komponen baik lokal maupun asing. bingkai bersama seperti MHC kelas I yang dimiliki setiap sel dalam tubuh individu sehingga ratusan jenis sel yang berbeda dapat hidup dan bekerja bersama-sama. Saya mengusulkan bingkai ini adalah aqidah islam, kaidah syariah dan muamalah yang diintrodusir dalam masyakarat, di aplikasi pada muslim dan non-muslim sesuai kaidah fiqih akan dapat menjadi kerangka bersama yang menjamin ko-eksistensi. Sepanjang sejarah hanya khilafah islam yang mampu menaungi perbedaan diantara bangsa-bangsa, Islam yang diaplikasikan dari tepian samudra atlantik di barat sampai pulau rempah-rempah di timur dan dari tepian sungai Oxus di Siberia sampai Cape of Good Hope memungkinkan bangsa-bangsa hidup bersama dan dapat mempertahankan keunikan identitas mereka. Peperangan terjadi dalam proses perluasan wilayah dakwah karena adanya perbedaan kerangka berfikir yang dipakai, setelah mengalami integrasi maka bangsa-bangsa menjadi obyek dakwah dan harta serta jiwanya dilindungi dalam bingkai islam. Tanpa islam toleransi adalah konsep kosong tanpa perwujudan fakta
Bandingkan dengan Kekuasaan Roma sebelumnya tidak jauh berbeda yang menawarkan identitas sebagai Roman Citizen sebagai bingkai pemersatu namun kerangka ini tidak mampu menampung harga diri suku-suku Galia dan Germania serta anak-anak Pharaoh sebaliknya mereka dengan mudah menyambut Islam dan dengan Al-Azhar menjadi benteng ilmu islam selama 1000 tahun. Bandingkan pula dengan ekspansi Genghiz yang dengan pasukan berkudanya keluar dari steppa Mongolia menyapu apapun yang berdiri kearah barat dan timur namun akhirnya melebur dalam Islam di Asia barat dan China di timur, karena tidak adanya bingkai yang kuat maka anak cucu Genghiz tercelup dalam peradaban yang lebih matang.
Peradaban barat di era kita saat ini menggunakan platform demokrasi dan kebebasan sebagai bingkai, rule of law menjadi kerangka yang disepakati bersama dalam suatu proses pengambilan kebijakan, standar kebenaran dan moralitas menjadi relatif tergantung suara yang diperoleh. Menyerahkan kebijakan pada massa yang buta meski terkesan adil pada faktanya selalu dikendalikan oleh oligarki entah dinasti keluarga, partai, atau bisnis. Lobi politik yahudi di Amerika selalu berhasil mengendalikan kebijakan luar negeri sekehendak hatinya, tanpa perduli pendapat rakyat yang notabene juga disuapi informasi tak berimbang sehingga bagaikan buta terhadap situasi politik internasional.
Hanya Islam yang dapat menjadi solusi keadilan, Worldview Islam bila dipakai oleh muslim atau non-muslim dapat menjamin ko-eksistensi, memelihara keunikan bangsa-bangsa tanpa ada usaha penyeragaman dan peleburan, sekedar bersedia bernaung dibawah maqashid syariah maka harta dan jiwanya di jamin oleh kaum muslimin. Diantara muslim sendiri bukan tidak ada perbedaan, beda mazhab, suku, guru, sering menjadi alasan konfrontasi ini berarti kaum muslimin sendiri tidak memakai bingkai islam dalam interaksi mereka dengan muslim saudaranya. Bila bercermin pada sistem biologis, mereka ini berarti tidak lagi mampu mengekspresikan penanda islam dalam dirinya, terjadi downregulasi ekspresi gen yang menyebabkan mereka bagai orang asing di komunitasnya dan kerap memusuhi saudaranya sendiri.
Pendidikan dan dakwah adalah satu-satunya jalan untuk mengembalikan profil ekspresi Islam yang tepat pada individu muslim bahkan sejatinya pada setiap mahluk Allah, Islam ada disana di antara rangkaian nukleotida genomnya, induksi dakwah dan hidayah niscaya mampu mengaktifkan gen tersebut sehingga individu tersebut mengalami perubahan fenotip sebagai Muslim dan menggunakan bingkai dan cara pandang islam menghadapi hari-harinya.
wallahualam

Selasa, 13 April 2010

Induced Pluripotent Stem Cell

Tahun 2006 di Universitas Kyoto Shinya Yamanaka dan rekan-rekannya menghasilkan terobosan di bidang sel punca dengan berhasil menginduksi fibroblas menjadi sel dengan karakter mirip sel punca embrional dengan menggunakan 4 faktor saja yaitu Oct3/4, Sox2, c-Myc dan Klf4.  Sudah lama para peneliti mencurigai serangkaian faktor transkripsi mampu menginduksi sel somatik yang telah terdiferensiasi menjadi sel punca dengan karakter pluripoten, namun yang mengejutkan adalah ternyata hanya dibutuhkan 4 faktor saja, bahkan saat ini beberapa grup berhasil dengan hanya satu faktor saja.

Terobosan ini berarti sumber sel punca tidak melulu harus diambil dari zygot dan sel punca dewasa, yang pertama bermasalah secara etika, sementara yang kedua sulit diisolasi dan kuantitas yang minim. Sel iPS  di lain pihak, dapat berasal dari berbagai jenis sel yang ada pada tubuh dalam jumlah yang tidak terbatas dan nampaknya tidak ada masalah etika. Tekhnologi sel iPS ini memungkinkan dibuatnya sel punca untuk keperluan transplantasi yang patient-spesific sehingga tidak timbul reaksi penolakan jaringan. Pluripoten berarti sel punca ini dapat didiferensiasi menjadi semua sel pada tubuh dari keturunan ketiga lapis embrional, ektoderm, mesoderm dan endoderm. Peluang penggunaan sel punca untuk terapi berbagai jenis penyakit semakin terbuka dan realistis.
Induksi sel somatik dengan overekspresi ke 4 faktor yamanaka awalnya menggunakan tehnik transfeksi gen dengan vektor retrovirus, saat ini telah dicoba menggunakan tehnik transduksi protein faktor transkripsi dan berbagai jenis small molecule seperti asam valproat yang merupakan suatu Histon asetilase inhibitor. Tranfeksi gen menyebabkan integrasi genom virus pada genom sel target induksi, meski efisiensinya paling baik diantara tehnik lain, integrasi genom virus dapat menyebabkan aktivasi onkogen. Rendahnya efisiensi dan masih adanya risiko tumorigenesis menunjukkan tehnologi ini masih berada pada tahap awal.
Implikasi dari tekhnologi sel iPS ini adalah tidak perlu lagi di gunakan zygote atau darah tali pusat sebagai sumber sel punca karena hampir semua sel dalam tubuh yang kita bawa setiap hari dapat di induksi menjadi sel iPS. Cordblood bank menjadi sesuatu yang irelevan dan lucu untuk sebagian orang yang memahami segi-segi kekurangan tehnik penyimpanan  sel dalam nitrogen cair, lebih lucu lagi adalah orang yang mau mengeluarkan uang untuk jasa yang ditawarkan bank darah  tali pusat ini.
Penelitian di bidang ini amat terbuka luas dan menjanjikan, masih banyak yang perlu di pelajari mulai dari mekanisme yang mendasari induksi sifat pluripoten sel somatik hingga tehnik transplantasi atau terapi sel yang perlu dikembangkan termasuk metoda atau cocktail yang tepat untuk diferensiasi sel punca menjadi tipe sel yang diperlukan. uji efektivitas obat, skrining toksisitas, dan patomekanisme penyakit dapat langsung dilaksanakan dengan sel manusia tanpa perlu mengambil langsung dari subyek manusia. Paten yang dapat dihasilkan dari bidang ini amat banyak dan terlalu sayang untuk dilewatkan, 4 tahun berlalu sejak terobosan oleh Yamanaka dan  dunia penelitian sel punca saat ini berlomba-lomba mengembangkan tehnologi ini.
Sejauh pengetahuan penulis di Indonesia belum ada yang berhasil membuat sel iPS, meski ada grup peneliti di IPB kabarnya sedang bekerja kearah sana, hal ini cukup mengherankan karena dari segi kemampuan peneliti, peralatan yang dimiliki dan dana yang tersedia seharusnya tidak terlalu sulit. Peran umat islam dalam hal ini, seperti juga pada banyak bidang tekhnologi lain memang masih kurang bukan secara individual tapi terlebih secara ummah. Perhatian komunitas atau gerakan dakwah di bidang tekhnologi tinggi memang masih minim, padahal syumuliatul dakwah juga meliputi bidang-bidang ini  mungkin memang belum menjadi prioritas tapi juga tidak boleh abai begitu saja.
Aktivitas penelitian mencari obat dari suatu penyakit sejatinya adalah perwujudan dari keyakinan bahwa setiap penyakit dari Allah tentu telah disertakan obatnya, tinggal kita yang harus mencarinya dan mewujudkan janji tersebut. Selain diminta berjalan di muka bumi juga kita kan diminta untuk mentadaburi diri kita sendiri, tubuh yang diberikan Allah swt ini mengandung banyak hikmah yang nampak jelas secara kasat mata, tentunya masih banyak hikmah yang tersimpan di aras molekuler yang perlu disingkap dengan tehnik-tehnik biologi molekuler terkini.
Peneliti bukanlah profesi seperti klinisi atau atau guru yang memiliki pengaruh langsung atas manusia sehingga menjadi profesi ideal seorang da’i, namun bila diibaratkan 2 profesi terakhir adalah mujahid di garis depan yang berinteraksi langsung dengan obyek dakwah maka peneliti adalah bagai seseorang yang tinggal di belakang  untuk mengajarkan hikmah al-qur’an pada  masyarakat yang di era modern, itu terlaksana dengan pendidikan dan penelitian agar superioritas ummat tetap terjaga diantara bangsa-bangsa lain
Jadi kawan bidang ini memang sulit, tidak menarik buat sebagian, “kering” menurut sebagian yang lain, maka anda yang telah diberi kelebihan berupa kemampuan intelektual dan keikhlasan meniti jalan dakwah, amat  perlu mempertimbangkan bidang ini sebagai medan amal. Seraya merintis kompetensi ummat yang mampu menjamin superioritas ilmu pengetahuan dan tekhnologi diatas bangsa lain pada saatnya nanti terbentuk Khilafah alamiyah dan juga mereguk pahala para  Assabiqunal Awalun.
wallahualam.

Selasa, 23 Maret 2010

Setiap Penyakit Ada Obatnya

"Tiap-tiap penyakit ada obatnya, apabila suatu obat mengenai penyakit, maka sembuhlah penyakit itu dengan Izin Allah swt " ( HR. Muslim)

demikian pernyataan Rasulullah seperti juga janjinya yang telah terbukti tentang jatuhnya konstantinopel...banyak diantara kita yang bertanya-tanya dan berharap-cemas siapa gerangan komandan pasukan yang mampu menaklukkan Roma kota berikutnya setelah penaklukan Muhammad Al-Fatih terhadap Konstantinopel. Entah adakah yang bertanya-tanya siapa yang akan merealisasikan hadist Rasul diatas, bahwa setiap penyakit ada obatnya, adakah diantara kita yang bersegera menyambut tantangan ini ?

Aktivitas penelitian untuk mencari obat suatu penyakit nyata adalah bagian dari tanggung jawab umat Islam. Tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan keseriusan setara dengan upaya dakwah dibidang lainnya, sampai jelas benar kemahakuasaan Allah yang Menghidupkan dan Mematikan makhluknya bila telah tiba di penghujung usia. setelah itu terbukalah mata manusia, dan tidak ada lagi alasan kecuali beriman dengan sebenar-benar iman.

"ketika obat bertemu penyakit" tidaklah berbeda dengan ketika ligan bertemu reseptornya secara kompetitif dengan mekanisme Lock & Key, atau saat Sel T CD8 bertemu sel APC, atau Histon asetilase terhadap Histon H3K4. disana ada hukum sebab akibat yang bekerja terkadang terjadi secara kasat mata tapi lebih sering hanya dapat di pantau aktivitas dan hasilnya, dengan izin Allah terjadi mekanisme sunnatullah yang mungkin sekali belum pernah kita fikirkan kecuali kita mau mentadaburi diri kita sendiri dengan tekhnik-tekhnik biologi molekuler dan genetika terkini

Pada tahun 2006 sekelompok peneliti di Universits Kyoto menemukan bahwa mereka dapat memprogram ulang sel dewasa yang telah terdiferensiasi menjadi sel punca yang mirip sekali dengan karakter sel punca embrional. Tekhnologi sel punca amat dibutuhkan untuk merealisasikan mimpi kedokteran regeneratif, terobosan telah dilakukan, problem etika dan reaksi penolakan host dapat dilewati. sekarang terbuka lapangan luas untuk mencari obat dan tehnik pengobatan yang saat ini masih mimpi, mengobati penyakit-penyakit genetika, familial, Diabetes, Stroke, Parkinson, dll. Mimpi itu saat ini terasa amat realistis, menemukan obat untuk setiap penyakit kecuali mungkin untuk Tua dan Kematian.

Dimana umat Islam dan khususnya para aktivits dakwah dalam perlombaan global ini, perlombaan yang sejatinya tidak lain adalah pembuktian bahwa tiap-tiap penyakit ada obatnya...dimana kita kalau hari ini masih mempercayai klaim tanpa bukti sahih, tidak peduli mekanisme kerja dan sebab-akibat, abai terhadap kriteria nilai thayyib zat yang dikonsumsi. Pengobatan ala Nabi bagi saya adalah ketika benar-benar suatu single compound bertemu dengan target molekulnya. Takdir kesembuhan adalah terpenuhinya sebab hingga tampak akibatnya, izin Allah tidak lain adalah sunnatullah-Nya yang menunggu untuk kita singkap dan pelajari rahasianya.

Bagaimana mungkin kita tidak tergerak mengisolasi zat aktif dari berbagai obat herbal yang ada, dari jamu, ramuan, atau minyak-minyak itu ? mengisolasinya, mengkarakterisasinya, mencari target molekulnya, mengukur hasil reaksinya, memodifikasi dan seterusnya sampai didapatkan satu compound yang sahih farmakokinetik dan farmakodinamiknya...pasti tidak terfikir karena kacamatanya sudah terburu-buru menghitung nilai potensial pasar yang ada, pangkal masalahnya pada fikiran pendek

pekerjaan 10-20 tahun untuk menemukan satu obat terasa seperti perbuatan bodoh, kalau materi ukurannya, untuk apa bersusah payah kalau dalam 1-2 tahun saja bisa laku keras mendompleng ghirah, padahal efek samping tidak diketahui, dosis tidak standar, variasi genetik tidak dipertimbangkan, sterilitas dipertanyakan, potensi alergi tidak tahu, bahkan efek terapinya pun belum reproducible.

jadi kawan maksud saya, ini ada ladang baru buat para aktivis yang keleleran, potensi besarnya tergerus materi setiap hari, ghirahnya melemah karena berkubang di kolam, kenapa tidak kirim dia untuk ribath ke perbatasan ilmu, agar berkesempatan mencicipi pahala para pioneer. Ladang ini masih liar bagi kita, asing alam dan adat kebiasaanya, unik kendaraan dan senjatanya, amat deras arus sungai dan debur ombaknya tapi bukankah untuk ini memang sebenarnya kita berdiri, berbaris dan beramal

wallahuallam

Kamis, 04 Februari 2010

Sampai Kapan Kita Terlena ?

Apakah anda baca berita 2 hari ini ? “ Tiga Anak Balita di Tinggal di Kontrakan” di Kompas dan Media Indonesia hari ini dan kemarin. Miris sekali, setidak buat saya yang punya 2 anak balita pula di rumah. tiga bersaudara ini usia 3 tahun, 2 tahun dan bayi 9 bulan ditinggal oleh kedua orang tuanya selama minimal 4 hari.
Kesaksian tetangga melihat pertama sang suami yang pergi, disusul oleh Istrinya beberapa hari kemudian, selang 4 hari tetangga/pemilik kontrakan semakin terusik dengan suara tangis anak-anak yang tidak kunjung berhenti maka dilihatnya pemandangan yang amat memilukan…ketiga bersaudara itu tergeletak lemas dikamar dalam rumah yang digembok dari luar, kulit pisang terlihat bekas dimakan ...luar biasa mengerikan bukan ?

Menurut berita sang suami memang pengangguran yang jarang pulang, sang istri pergi meninggalkan anak-anaknya untuk mencari suaminya dan mencari uang untuk tunggakan melunasi kontrakan, keluarga dalam himpitan ekonomi, dengan kepala keluarga yang tidak mampu memimpin dan mengambil tanggung jawab. Wajar saja bila istrinya mengalami nervous breakdown dan mengambil keputusan yang salah dengan akibat trauma berat pada ketiga anaknya.
Tidak kalah memilukan juga pasien yang saya tempo hari, balita juga, dibawa oleh suami-istri. Pemeriksaan saya mengarah pada malnutrisi berat dan saya fikir harus dibawa ke poli anak untuk perawatan, jadi seperti biasa saya tanya apakah punya KTP DKI atau jaminan asuransi lain ? barulah muncul cerita lengkapnya, suami-istri ini usianya lebih cocok menjadi kakek dan nenek bocah tersebut, dan suatu hari kedua orang tua si anak seperti biasa berangkat kerja di pagi hari sambil menitipkan anak mereka, dan siapa sangka mereka tidak pernah kembali lagi meninggalkan anak mereka begitu saja.
Mengetahui kenyataan tersebut kedua sepuh ini menerima dengan ikhlas dan bersedia merawat anak tersebut dengan segala keterbatasan mereka, namun Pak RT tidak setuju, dan ini menimbulkan komplikasi, agar si anak dapat dirawat dengan jaminan askeskin, dia haruslah anggota dari keluarga tersebut, masuk dalam KK, namun pak RT sama sekali tidak kooperatif dan kini kita berfikir ulang untuk memasukkannya ke Rumah Sakit.
Jadi apa pelajarannya ? tekanan ekonomi dan himpitan hidup yang dialami pasangan muda dengan anak bukan hal enteng. dibutuhkan rasa tanggung jawab yang luar biasa besar, ketangguhan mental, kesiapan menanggung lelah untuk menunaikan amanah keluarga yang diberikan Allah swt, itu mengapa kiranya menikah adalah setengah dari Dien.
Dibutuhkan dua orang dan dua kepala untuk menghadapi semua tantangan itu, dan 4 bahu untuk menanggung bebannya, bahu-membahu, tolong-menolong, saling menguatkan, saling mengingatkan. tekadang tuntutan dunia modern mengharuskan kita melibatkan pihak lain khadimat, orang tua, tetangga yang bukan tanpa resiko, tapi beban amanah tetap ditangan kedua orang tua, suami-istri yang kelak ditanya dan dipertanggung-jawabkan di kampung akhirat.
Jadi apa pelajarannya ? menyiapkan diri dan bersiap siaga selalu menghadapi beban kehidupan mutlak adanya, menjadikan setiap peristiwa yang menerpa sebagai pelajaran yang menguatkan “ what doesn’t kill you only gonna make you stronger”. Tanggung jawab orang tua untuk mendewasakan anak-anaknya, menyiapkan bahu dan hati yang kuat. Tanggung jawab pemerintah juga untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas, bukan hanya untuk memenangkan olimpiade sains tapi untuk memenangkan kompetisi harian sepanjang usia, yang mampu mengambil manfaat dan memberi manfaat untuk kehidupan disekitarnya.
Pastinya ada korupsi dan atau penyalahgunaan wewenang di suatu masa, di suatu tempat yang berakibat, pasangan ini tidak mendapat pendidikan yang memadai dari keluarganya, dari sekolahnya, dan dari masyarakatnya hingga ketika mereka memcoba membina keluarga baru lah tersadar cinta saja tidak cukup.
Bukan salah mereka karena tidak bertanggung jawab, bukan salah mereka saja bila tidak sanggup menafkahi keluarganya, bukan salah mereka melulu sampai menelantarkannya anaknya…tapi juga salah kita semua sebagai masyarakat, sebagai bangsa dan negara yang belum mampu menegakkan keadilan dan menyejahterakan anak-anak negeri ini. Mungkin sekarang saatnya kita berubah…terlambat memang, korban sudah berjatuhan, tapi masih lebih baik dari pada, terus menerus terlelap memimpikan dunia dengan perhiasannya yang gemerlap.

Selasa, 12 Januari 2010

Dokter Spesialis Kulit Arthalyta a.k.a Ayin

Hari ini saya dongkol sekali, apa pasal ? bukan karena ujian perbaikan yang gagal hingga saya harus mengambil lagi mata kuliah pengantar biokimia semester depan bukan itu kawan tapi karena judul berita kompas hari ini di pojok kanan bawah :
“Arthalyta Sedang Dirawat Wajahnya oleh Dokter Spesialis”
pada harian lain dinyatakan sebagai dokter spesialis kulit sementara yang lain ada yang menyebut pengobatan gigi.
sebelum lanjut perlu saya beritahu bahwa pemberitaan di media perlu di sikapi dengan bijak karena di era ini tidak ada berita yang berimbang, pemberitaan berimbang dan cover both side sudah kadaluarsa. Ideologi yang dianut saat ini adalah keberpihakan, jadi selalu yang saya pegang adalah jangan mengambil keputusan atau pendirian semata atas informasi media semata, do your own research !!
Pengistimewaan Ayin di Rutan Pondok Bambu rasanya tidak bisa dibantah lagi, ibarat hardisk, para petugas Lapas dan mungkin pejabat diatasnya  sudah pasti mengandung bad sector dan file-file yang corrupt. Sesuai judul, yang ingin saya bicarakan adalah keterlibatan seorang dokter spesialis kulit yang konon sedang memberikan perawatan kecantikan pada Ayin.

sejujurnya saya merasa ada yang salah dengan skenario diatas, mari kita telaah perlahan-lahan. disini ada seorang dokter spesialis memberikan terapi yang merupakan bagian dari kewenangannya ( ini masih dapat diperdebatkan sih ) pada pasien/klien yang kebetulan adalah seorang narapidana.
dari sudut klien yang memang prakondisinya sudah mendapat pengistimewaan kita bisa faham bila ia dapat mengabaikan pelayanan yang diberikan dokter Rutan setempat dan memilih berobat ke dokter lain sekehendak hatinya. dari sudut dokter kita perlu melihat regulasi yang terkait hak-hak napi serta UU praktik kedokteran, sebatas yang saya ketahui narapidana tentu sudah dijamin hak mendapat pelayanan kesehatannya dari dokter Rutan dengan biaya negara, meski saya rasa perawatan kecantikan tidak termasuk terapi yang dicover oleh anggaran Rutan. Saya juga ragu apakah perawatan kecantikan juga termasuk pelayanan rujukan, tapi kalau panggilan rumah memang dibolehkan dan merupakan praktik biasa pada kegiatan sehari-hari di klinik.
katakanlah pelanggaran regulasi Rutan yang dilakukan klien sudah sesuai dengan prakondisi yang ada, katakanlah perawatan kecantikan memang kewenanganan yang bersangkutan, memenuhi panggilan ke Rutan juga dapat dimaklumi untuk seorang dokter tingkat sekunder/tersier, yang menjadi masalah adalah :  kenapa kok mau ? kenapa sejawat tersebut mau memberikan pelayanan pada seorang napi dengan prakondisi diatas ? bisa saja dijawab  dengan jawaban apologetik : “ ya iya lah pastinya kan dapet duit, siapa si yang gak mau” ; rekan sejawat PPDS saya menjawab : “namanya ada yang butuh pertolongan, ya dosa kalau gak ditolong”
kedua jawaban ini saya rasa mewakili kedua titik ekstrem dari serangkaian spektrum jawaban. kita tidak tahu apa yang ada dalam kepala sejawat tersebut serta pertimbangan yang diambilnya dan kondisi alam perasaan, keuangan, dan keluarga yang melingkupinya hingga dapat memberikan penilaian yang adil. Saya tidak tahu itu semua jadi baiknya kita sampaikan saja diagnosis terburuk yang mungkin, agar dapat dilakukan pemeriksaan  penunjang untuk menyingkirkan atau malah memastikan.
Jangan sampai yang terjadi adalah berikut : praktik ini dapat terjadi karena kebiasaan dokter kita yang dengan mudah mengabaikan peraturan yang berlaku seperti pembatasan 3 tempat praktek, praktek tanpa SIP, tindakan diluar kewenangan, pengobatan tidak rasional dan overmedikasi, kolusi dengan farmasi, menjual surat sakit dan lain-lain dosa kedokteran yang kebanyakan bermuara pada uang, disini berlaku hukum ekonomi permintaan-penawaran, serta prinsip pemaksimalan keuntungan dengan ongkos produksi serendah mungkin.
dengan demikian telah terjadi moral hazard sedemikian rupa hingga tanpa sadar hubungan dokter-pasien telah berubah menjadi suatu hubungan bisnis, bila demikian yang terjadi pelayanan yang diberikan tidak beda dengan TV Plasma, AC, Karaoke set, Sofa kulit, dan lain-lain, bahkan pedagang elektronik jadi tampak lebih bermartabat daripada dokter, TV plasma yang dibeli tidak pernah diketahuinya akan ditaruh dimana, bahkan mungkin dia tidak tahu dibeli oleh siapa sebenarnya, tapi dokter itu jelas-jelas mengerti betul dengan siapa dia berhadapan dan melihat dengan ke kedua bola matanya dimana dan bagaimana kondisi ruangan tempatnya memberikan pelayanan.
Adakah problema atau dilema etik dalam hal ini? adakah kaidah dasar bioetik yang dilanggar Justice ? Beneficience ? Autonomy? (satu lagi apa ya ?) saya tidak tahu pasti tapi nurani saya berkata ada yang salah disini, dan satu hal yang jelas bagi saya pada banyak situasi pelayanan kesehatan sudah jatuh menjadi barang mewah yang hanya dapat diakses  oleh sebagian kalangan menengah atas yang gagal untuk mengerti bahwa there are things that money can’t buy….

Kamis, 22 Oktober 2009

Tepian Terra Incognita

“Boldly go where no one has gone before…”
Saya rasa siapapun di generasi saya mengetahui tagline Star Trek diatas, sama seperti generasi sebelumnya mengenal Darth Vader dari Star Wars. Sejak kecil saya selalu terkesima dengan bintang-bintang di langit malam dan angkasa luar, namun baru sekarang saya mengerti alasan dibaliknya. Setelah saya fikirkan belakangan ini, yang menjadi magnet sebenarnya adalah sebentuk kerinduan…kerinduan untuk berada di perbatasan terakhir dan memandang ke seberang penuh rasa ingin tahu.
Sekarang saya sadar perbatasan terakhir itu tidak melulu berarti angkasa luar, perbatasan itu ternyata juga dapat berarti batas wilayah yang diterangi cahaya pengetahuan. Ketika seseorang menggali lapisan-lapisan pengetahuan sampai pada pertanyaan yang belum terjawab, ia mengangkat kepalanya dan menyadari keganjilan bahwa tidak seorangpun di muka bumi memiliki jawabannya dan serta merta merasakan antusiasme puluhan orang  di berbagai negara yang sedang berlomba mencari jawabannya….

Selama ini saya belajar dengan anggapan bahwa ada lebih banyak pengetahuan, rincian dan detail yang memang bukan (belum) porsi saya untuk dipelajari, saya belajar dengan notion bahwa setiap pertanyaan tentu telah ada jawabannya di berbagai textbook khusus atau jurnal terbaru, namun baru-baru ini saya dipaksa menggali sedalam-dalamnya sampai setiap artikel terbaru tidak lagi bisa memberikan jawaban, mentor saya mengatakan apa yang kita diskusikan belum pernah didiskusikan orang lain di tempat ini, dan sejauh inilah yang baru diketahui komunitas ilmiah.
Pada saat itu seberkas perasaan ganjil menyelinap dalam hati. Inilah saya fikir rasanya berada di perbatasan terakhir dan memandang Terra Incognita ilmu pengetahuan manusia. sejenak kemudian saya menghela nafas mengingat berbagai keterbatasan material yang kita miliki untuk berpacu menjadi yang terdepan
Saya teringat teman saya seorang PPDS bedah saraf menceritakan antusiasme yang dirasakan ketika melakukan prosedur operasi otak eksperimental pada pasien, berusaha menjangkau area dalam otak yang sebelumnya tidak terjangkau pisau bedah dengan menyadari setiap sayatan bisa berarti memotong memori masa kanak-kanak seseorang. Berada di perbatasan itu dengan pisau bedah ditangan menjadi magnet yang membuatnya bertahan belasan jam dikamar operasi.
Itulah juga mungkin yang dirasakan Julius Caesar dan pasukannya saat memandang the white cliff of Dover, dengan kemampuan militer yang tidak tertandingi tidak ada yang bisa menghalanginya memperluas cahaya peradaban yang dibawa pada Legioner.  Teman saya dengan pisau bedahnya, Caesar dan pasukannya, Picard dengan USS Enterprise-nya,semua memandang kegelapan dihadapan dengan jiwa petualang dan eksplorasi. Berada di tepian Terra Incognita bersiap dengan material dan mental untuk mengarunginya bagi saya adalah tanda superioritas.
Bukan kebetulan bila Rasulullah saw meminta kita untuk terus menjaga perbatasan negeri-negeri Islam-Ribath, selalu dalam keadaan siap siaga berjihad dan membawa cahaya Islam kemanapun. Pastinya bukan kebetulan juga bila harus selalu ada yang tinggal di belakang untuk mengajar dan berdakwah pada masyarakat, to nurture fresh mind , dan membimbing generasi baru menuju perbatasan ilmu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, menjamin superioritas peradaban.
Jadi kawan bila sebagian besar masyarakat belum terbiasa merasakan sindroma antusiasme perbatasan, sebagai individu dan sebagai ummah, seperti antusiasme rakyat Amerika menanti petualangan Neil Amstrong dan rekan-rekannya,  ini berarti masih jauh perjalanan kita menjadi bangsa yang maju dengan peradaban yang superior. keterlaluan rasanya kalau kita sudah berpuas diri menenteng gadget dengan teknologi terbaru, atau mendulang uang dari penggunaan USG 4 dimensi, atau berbangga telah menerapkan protokol ADA terbaru, atau bahkan sekedar berhasil mendapatkan artikel dari PUBMED milik NIH
selamanya menjadi konsumen produk rekayasa ilmu pengetahuan, tanpa mengetahui mekanisme kerja, peluh ratusan peneliti dan berkah kerjasama komunitas ilmiah internasional untuk mewujudkan persepsi kemewahan, kecanggihan,dan berbagai hal yang memudahkan hidup dan kerja kita sehari-hari. tanpa sadar kembali menjadi bangsa jajahan di negeri sendiri karena peperangan tidak lagi di laksanakan di lembah-lembah atau di meja perundingan korporasi dan diplomasi tapi peperangan di langsungkan setiap hari di pusat-pusat penelitian terkemuka
Sungguh hina selamanya hidup dibawah bayang-bayang bangsa lain, bangsa yang demikian memahami kekuatan ilmu pengetahuan hingga pembelaannya untuk mengembalikan kredibilitas salah satu lembaga riset kecil miliknya dapat membuat geger publik di negeri “jajahannya”

Jumat, 07 Agustus 2009

Mitokondria : Sebuah Kisah Cinta Abadi

Tulisan ini seharusnya merupakan kisah tentang Ibu dan warisan kehidupan yang diberikannya, ini adalah kisah tentang Mitokondria.
Saya kira semua orang tahu dan pernah membaca Harry Potter dan bagaimana ia mendapat reputasi sebagai the boy that survived , Voldermont tidak mampu menyentuh apalagi mencederainya karena perlindungan- menurut Dumbledore, an ancient protective charm yaitu cinta seorang ibu. Pengorbanan ibu telah memberikan Harry perlindungan dari sihir hitam sampai mencapai usia baligh.
Masih mengenai Ibu, dalam Islam kita mengenal suatu hadist yang mengatakan bahwa syurga berada di telapak kaki ibu, mengindikasikan betapa terhormat posisi seorang ibu dalam kehidupan, ditambah lagi hadist lain yang mengatakan sampai tiga kali untuk kita menghormati ibu sebelum menghormati ayah kita, Ibu,ibu, ibu baru lah ayah.
Who should i give my love to, my respect, my honour to, who should i give good mind to, after Allah and Rasulullah comes your mother, who next ? your mother ? who next ? your mother and then your father.
dalam cerita rakyat kita mengenal kisah Malinkundang yang kedurhakaannya telah menyakiti ibunya sendiri hingga terucaplah kutukan tersebut, dan si Malin berubah menjadi batu. Kasih ibu sepanjang jalan dan kini perkembangan ilmu pengetahuan telah mendapat bukti-bukti yang mendukungnya.
Berkembang diantara para pakar biologi bahwa pada organisme multiselular, sel-sel diatur secara hirearkis dan karenanya terdapat sebuah entitas master, dipercayai bahwa entitas utama ini bukanlah inti sel seperti yang dipercayai sebelumnya namun tidak lain adalah maternal mitochondrion yaitu mitokondria yang kini diketahui diwarisi secara maternal.  DNA Mitokondria ( mtDNA) diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa dipengaruhi atau dihalang-halangi oleh mekanisme seksual. sementara DNA inti (nDNA)tidak lain dari campuran antara DNA ibu dan ayah.
Mitokondria sebagai entitas utama dalam suatu sel adalah pengertian yang dapat dibandingkan dengan Revolusi Copernicus, organel intra sellular tidak lagi mengorbit di sekeliling Nukleus, tapi justru semua mengorbit disekeliling dan melayani kepentingan mitokondria maternal. Mitokondria berkuasa atas hidup dan matinya sebuah sel karena ia memiliki kontrol atas programmed cell death ini mengapa sel manusia mendedikasikan lebih dari 100 gen inti untuk melayani mtDNA yang hanya mengkode 13 protein saja. 13 protein yang memiliki kontrol total atas proses produksi energi mitokondria yang mensuplai energi untuk sel hingga pada gilirannya memegang kunci atas hidup dan matinya sebuah sel, atau bahkan keseluruhan organisme tersebut.
Ketidakseimbangan fusi dan fisi mitokondria menyebabkan fragmentasi dan distiribusi abnormal sehingga suplai energi terganggu dan terjadi kerusakan sel bahkan berujung pada apoptosis dan degenerasi sel saraf seperti pada penyakit Parkinson, Alzheimer etc. mitokondria disisi lain adalah organel yang egois dia dapat berpindah dari satu sel yang sekarat menuju sel yang lebih sehat, ia juga tidak dapat dibentuk utuh dari nol melainkan harus memiliki sebagian struktur sebelumnya sebagai template.
sebagai kesimpulan mitokondria diangkat sebagai entitas master karena memiliki kualitas berikut yang tidak dimiliki yang lain yaitu :
  • garis keturunan tidak terputus dari generasi sel ke generasi berikutnya
  • kontrol atas produksi energi
  • kemampuan untuk melintas antar sel dan bertahan hidup dari kematian sel
  • mengatur kematian sel
  • mitokondria mendapat manfaat terbanyak dari interaksi antara organel  dan mengeksploitasi secara efisien milieu disekitarnya.
Jadi kawan adalah fakta yang sulit dibantah bahwa dalam setiap mitokondria dalam sel tubuh kita terkandung material genetik yang sama yang dimiliki oleh ibu kita dan ibu beliau, nenek kita, dan ibunya sebelumnya sampai ke ibu kita yang pertama Siti Hawa, warisan tanpa terputus dari ribuan generasi.
Mungkin mata kita adalah milik ayah, kulit kita milik ibu, hidung kita milik nenek, dan postur kita milik kakek, semua yang tampak pada diri kita adalah hasil kontribusi banyak generasi kedua orang tua kita, namun energi yang menggerakkan kehidupan kita sehari-hari di produksi oleh satu saja, yaitu warisan dari ibu kita. Buatlah ia kecewa dan tersakiti hatinya, bukan tidak mungkin Allah berkehendak maka kutukannya akan mengalir menuju setiap mitokondria kita dan BUMM ! menjadi batu , kaku , tanpa energi, seperti robot yang yang dilepas baterainya.
dibalik setiap pemimpin yang sukses disitu ada istri dan ibu yang setia dan berbakat, dibalik setiap prestasi dan gerak langkah sehari-hari tersembunyi didalam tubuh berkah cinta ibu kita, warisan cintanya menjadi energi penggerak. Ibu, ibu, ibu dan barulah ayah, 3 dari 4 bagian, seperti juga mtDNA dan nDNA, 3 bagian ternyata milik ibu kita hanya satu bagian saja dari ayah. betapa banyak kita mendengar berita bahwa keikhlasan, ridha dan maaf dari seorang ibu telah membebaskan anaknya dari sakaratul maut yang berkepanjangan.
Jadi kawan ini adalah kisah cinta abadi seorang ibu pada anaknya tidak terputus meski ribuan generasi berlalu, Allah jadikan energi cinta itu bagian utama dari hidup kita, hormatilah maka surga ganjarannya, khianatilah maka jangan terkejut bila hidup dan mati kita berada pada ridha ibu, demikianlah Allah menempatkan posisi ibu diantara kehidupan dimuka bumi ini berbanggalah dan berbahagialah atas kehormatan yang Allah berikan pada Ibu !
Atas cinta yang tak pernah berhenti dari nadi
dan ketabahan menumbuhkan matahari
untuk semua yang kau tulis
yang kau ukir di dalam diriku
dan lekuk jiwa semesta
( kutipan dari Perempuan Berselendang Bintang, Abdurrahman Faiz )
Bahan Bacaan :
  1. Agnati et al. Are maternal mitochondria the selfish entities that are masters of the cells of eukariotic multicellular organisms ? Communicative & Integrative Biology  2009; 2:2; 194-200
  2. Wulandari DT. Evolusi mitokondria dan pemanfaatannya dalam penelusuran kekerabatan dan evolusi organisme. http://www.coffe-cat.net 2005

Kamis, 28 Mei 2009

Memilih atau Tidak Memilih

Memilih atau tidak memilih itulah pertanyaan besar pekan-pekan ini sehubungan Pemilu Presiden. banyak yang menyatakan kekecewaan terhadap ke 3 pasangan kandidat, banyak juga kekecewaan terhadap partai-partai. Infomasi yang berseliweran dengan cepat, bertentangan satu dengan yang lain, komentar-komentar provokatif pengamat, silang pendapat di media menambah hiruk pikuk dunia politik yang sedang memanas, dan tentunya masyarakat yang peduli urusan politik, semakin bingung dan gamang menentukan pilihan...tapi hei ! hal itulah yang memang sedang di lancarkan oleh setiap tim sukses kandidat...mengoyahkan keyakinan kita dengan menebar berita busuk , mengeksplotasi setiap celah kelemahan kandidat lawan

nah kalau anda bertanya, bagaimana dengan saya ?

Percayalah kawan saya sama sekali tidak bingung, saya tahu dan mengerti sekali tidak setiap pemberitaan tersebut sesuai dengan kenyataan terkadang terjadi misinformasi, perbedaan persepsi , daya tangkap, dan kaca mata cara pandang terhadap persoalan. sederhananya apapun yang kita lihat di TV atau di Koran, tidak sepantasnya serta merta dijadikan dasar perubahan keyakinan

Seperti yang setiap muslim tahu..manakala datang berita jelek tentang saudara kita -apalagi berasal dari sumber yang tidak otoritatif- maka selayaknya kita tabayyun langsung, bila keadaan tidak memungkinkan maka berprasangka baiklah, tokh ia saudara seiman juga.

Berkenaan langsung dengan kegamangan dan kebingungan yang melanda banyak orang ini..saya tegaskan bahwa jama'ah dakwah ini telah mengambil posisi melalui forum majelis syuro untuk ber musyarokah dengan salah satu kandidat, dan karenanya bila keputusan syuro telah tetap, maka ia mengikat kita semua untuk mengikutinya sesuai bayanat yang ada. pertanyaannya apakah keputusan ini tepat atau tidak ? banyak kepala tentu banyak pendapat, namun saya memilih untuk meyerahkan pilihan saya pada keputusan yang ada, sebagai suatu ijtihad. Ijtihad yang diambil oleh forum yang memang berwenang, dan di isi oleh generasi terbaik yang kita miliki.

Bila waktu membuktikan keputusan tersebut benar maka 2 pahala tercatat, bila ternyata salah maka 1 pahala tercatat, transaksi yang bagus bukan ? sebaliknya bila kita memilih berdasarkan pengamatan pribadi yang terbatas lagi dipenuhi hawa nafsu, melalui perantara media yang seringkali bias dan berpihak tentu besar kemungkinannaya kita akan merugi.

Sama saja untuk yang terfikir Golput, sementara fatwa majelis ulama telah menyatakan haram, ketiga kandidat adalah muslim, yang memiliki kapasitas dan pengalaman, tidak ada alasan untuk menolak memberikan suara. kalaupun ternyata memberikan suara kita itu salah tokh tetap ada pahala tercatat karena kita mengikuti fatwa, transaksi yang aman bukan ?

Jadi kawan masalahnya sederhana saja sebenarnya.. pertama adakah kepercayaan kita terhadap jama'ah dakwah ini utuh atau tidak? percayakah kita bahwa para qiyadah adalah generasi yang lebih baik dari kita pribadi dan karenanya layak mengemban amanah kepemimpinan dan menjadi wali atas urusan-urusan kita ?

Kedua bila premis pertama telah selesai maka berikutnya adalah maukah kita melepaskan ego intelektual kita, berhenti membanggakan ketajaman analisa kita, merobek baju kesombongan yang kita pakai seraya memberikan kepercayaan dan prasangka yang baik pada pemimpin kita yang dengan rendah hati kita akui memang adalah generasi yang lebih baik dari kita di mata Allah swt.


The wise is not the one who differentiates good from bad. It is the one who differentiates the best out of two good choices, and the worst out of two bad choices
 -Amru ibn Ash Ra.-

Minggu, 26 April 2009

Komplikasi Domestik Reumatik


Reumatik adalah salah satu penyakit yang bikin saya mati kutu..bagaimana ya..sebenarnya dulu waktu stase IPD, giliran bagian reumatologi itu salah satu yang menyenangkan..itu kalau memeriksa dengkul ama tumit nenek-nenek termasuk mengasyikkan. Anyway kali ini saya mau bercerita tentang Ibu M.

Ibu M 50 tahun adalah contoh klasik pasien saya yang menderita reumatik dan menderita karenanya, maksud saya penyakit ini membawanya pada masalah lain. 2 tahun terakhir ini Ibu M cukup rutin berkunjung ke ruang praktek saya hingga kami sudah saling mengenal dengan baik. Penyakit reumatiknya sebenarnya begitu-begitu saja, seharusnya dia sudah meminta pertolongan spesialistik sejak lama namun terkendala masalah dana, masalah klasik pasien saya ( baca tulisan saya sebelumnya Rastinah dan Rasingkem )

jadi obat yang saya berikan itu-itu saja dengan saran terapi non-farmakologis yang saya tahu tidak akan dia laksanakan. satu-satunya saran saya yang dia sepakati adalah agar seperlunya saja meminum obat tersebut, mengingat efek sampingnya.

tapi bukan penyakitnya yang ingin saya bicarakan tetapi akibat dari penyakit ini terhadap dirinya dan keluarganya yang membuatnya datang pada saya siang itu dengan wajah yang lain dari biasanya. sebelum masuk lebih dalam saya mengambil risiko sedikit menyerempet hak kerahasiaan pasien karena ini adalah kedua kalinya saya berada dalam situasi ini dan kekhawatiran lama saya nampaknya memang fakta yang ada di masyarakat.

Ibu M mempergunakan saya siang itu sebagai "exit valve" atas kegundahan hatinya, selama 15 menit dia memperlakukan telinga saya bagai jendela untuk melepaskan kekesalan yang menumpuk dalam dada, kekesalan terhadap suaminya..siapa lagi ?! pertanyaan utamanya adalah ia ingin mengetahui apakah dirinya ini-menurut pengamatan saya- stress atau gila? adakah tanda-tanda kearah sana? tentu ini bukan pertanyaan biasa fikir saya dalam hati. maka mulailah saya dengan serangkaian pertanyaan psikiatri untuk mengetahui duduk persoalannya.

awalnya ia mengatakan bahwa ia mudah marah terhadap cucu-cucunya, ( kasus : nenek merawat cucu, karena si ibu jadi TKW di Arab) tapi tidak lama waktu dibutuhkan untuk mengetahui bahwa suaminya lah yang menjadi biang keladinya ( kasus : suami pengangguran yang mengandalkan hasil keringat istrinya ) bertahun-tahun cerita dia bahwa kondisi ini ditelannya karena ia masih sanggup berusaha dan mendapat penghasilan sendiri. tapi seperti yang sudah kita ketahui reumatiknya akhir-akhir ini membuatnya menjadi amat terbatas, nyeri dan kekakuan sendi itu memaksanya melupakan kegesitan dan semangat muda yang pernah dimiliki

jadi lambat laun ia semakin mengharapkan agar suaminya berubah dan mengambil tanggung jawab mencari nafkah sebagaimana layaknya lelaki sejati. kebebalan dan sifat keras kepala suaminya inilah yang membuat wajah Kartini modern ini begitu muram didepan saya. Jadi kita lihat suatu penyakit yang datang telah membuat keluarga ini jatuh dalam krisis, sampai-sampai penopangnya, tempat anggota yang lain bersandar, terlihat kesulitan menghadapi krisis ini.

ini adalah kasus untuk seorang dokter keluarga. dalam pendidikan dulu saya juga pernah mendapati keluarga lain dengan penyakit lain ( TBC ) berkubang dalam situasi yang serupa, saat itu dan sekarang kesimpulan saya tetap sama, tidak banyak yang kita ( dokter ) dapat lakukan selain berusaha agar penyakit ini tidak terlalu memberatinya, namun agar ia dapat menyesuaikan hidupnya dan keluarganya berdampingan dengan penyakit ini memerlukan campur tangan yang lain. siapa yang sanggup menasehati suaminya? siapa yang dapat mencarikan pemecahan masalah ekonominya ? siapa yang dapat melindungi para cucu dan menjamin tumbuh kembang mereka ?

psikolog, konsultan keluarga, petugas sosial, orang tua asuh, pelayanan spesialistik, perlindungan anak....semuanya ada fikir saya tapi terpisah-pisah dan inaccesible untuk profil pasien saya yang datang dari kaum marginal, kaum miskin kota. Yang saya butuhkan adalah ketika menghadapi kasus seperti ini kita dapat menanganinya secara terpadu, multidisiplin. tim yang mudah diakses, dan mengenal lapangan serta tentunya memiliki perhatian yang sepenuhnya profesional.


Rabu, 15 April 2009

Kebaikan Pada Akhirnya Akan Menang

saya selalu percaya bahwa cara terbaik mendapatkan ilmu adalah dengan membaca langsung dari sumbernya, menuliskan apa yang kita dapat, dan mendiskusikannya dengan teman seperjalanan. maka dari itu saya percaya bahwa sistem pendidikan saat ini (kedokteran) sudah berada pada jalan yang benar.

sistem yang student centered dan evidence based, sistem yang dipenuhi proses diskusi, belajar mandiri, pembuatan laporan, sistem yang memungkinkan kita menemukan "AHA" secara mandiri, sistem yang memungkinkan kita membuat konstruk ilmu dalam kepala kita dengan cara yang paling personal dan unik milik kita sendiri adalah pengejawantahan dari keyakinan saya tersebut.


berangkat dari keyakinan tersebut dengan semangat saya mengkampanyekannnya pada setiap orang yang saya temui (mahasiswa) namun apa lacur...antusiasme saya seringkali tidak bersambut. saya terfikir kasus yang sama juga terjadi tapi pada bidang lain, maksud saya adalah demokrasi. sejatinya kita tentu memilih wakil dan pemimpin yang terbaik, yang dapat dipercaya dan mampu mengemban amanah, tapi kenyataannya masyarakat kita banyak yang memilih seseorang hanya karena dijanjikan uang atau seseorang dipilih karena ketampanannya, atau karena dorongan peer-group dan banyak alasan lain.

intinya adalah seringkali kebenaran itu tertutupi oleh hal-hal lain, seringkali dikalahkan demi tujuan jangka pendek, dan tidak ambil pusing bagaimana jangka panjangnya. saya pernah membaca masyarakat kita adalah masyarakat yang berfikiran pendek, dan pelupa...ya negara lain sibuk berinvestasi di sektor riset dan pendidikan yang hasilnya mungkin baru terlihat ketika generasi berganti. sementara semua orang tahu betapa menjadi seorang peneliti di negri ini berarti hidup sederhana dan kesepian, minim perhatian dan sorotan.

dalam kasus saya maka kebenaran itu pun tertutupi oleh mental pikiran pendek itu, ini cerita lama, siapa sih yang tidak mau dapat nilai bagus, siapa sih yang ingin IPK-nya hancur?, tugas selesai alakadarnya, yang penting saat ujian nanti. saya rasa kita semua ( saya sendiri ) juga berfikir seperti itu dulu, namun kesadaran memang datang belakangan.

saya rasa kita semua tahu keberhasilan, kesuksesan, keuntungan yang didapat dari hasil kerja yang semu, atau dari kecurangan, pada akhirnya akan kembali pada kita sendiri dimasa depan atau di akhirat nanti. banyak yang bertanya-tanya mengapa orang-orang yang jahat atau licik selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, sementara orang-0rang yang tulus, dan lurus mendapat banyak kesulitan dan tantangan?

ini salah satu pertanyaan dasar dalam kehidupan, saya hanya berharap agar segelintir orang yang tersisa meneguhkan keyakinan mereka akan janji Allah, kebaikan pada akhirnya akan menang dan Allah bersama orang-orang yang beriman dan teguh dalam keimanannya.

semoga Allah menguatkan hati kita dan menunjuki kepada jalan yang lurus sepanjang sisa hidup kita. Amin

Rabu, 01 April 2009

Karakter Aneh Kader PKS


Kalau pada tulisan PKS target 20 % saya sudah berjanji tidak akan menulis artikel tentang PKS lagi. Kecuali terjadi suatu hal luar biasa yang perlu saya tanggapi secara menyeluruh lewat sebuah tulisan. Sebisa mungkin tanggapan yang datang akan saya layani di kolom komentar. Tetapi beberapa hari terakhir ini ada beberapa oknum (atau satu orang oknum?) yang perilakunya cukup membuat saya tergelitik untuk menulis lagi artikel tentang PKS.

Sebelumnya, saya ingin menjelaskan mengapa saya tidak berminat untuk membahas tentang PKS lagi? (kecuali terpaksa, sesuai dengan kondisi diatas) Ada beberapa alasan yang dapat saya uraikan menjadi beberapa poin antara lain :

1.Saya tidak lagi menghitung PKS sebagai variabel penentu masa depan bangsa ini. Argumennya? Tidak etis saya terangkan di artikel ini dan ujung-ujungnya nanti dituduh memfitnah. Saya bukan ingin menjelek-jelekkan PKS, saya hanya ingin menunjukkan keprihatinan saya akan “persepsi mutlak” karakter yang melanda mayoritas kader PKS, utamanya yang bergabung dari tahun 2004 sampai sekarang.

2.PKS saya nilai sudah anti kritik yang merupakan salah ciri utama kematian dari sebuah gerakan yang berangkat dan berdasar pada nilai seperti gerakan ikhwanul muslimin. Sebuah gerakan dengan landasan ideologis apapun, ketika meminggirkan peran dialogis dan argumentatif hanya akan mengantarkan mereka menuju jurang kehancuran yang makin dalam tanpa disadari atau tidak. Harus diakui, PKS bukannya melenyapkan peran dialogis dan kritik. Dalam halaqah-halaqahnya relatif masih ditemui tradisi itu, tetapi umumnya ujung diskusi tersebut akan bermuara pada pernyataan “antum harus tsiqah dan wajib taat”, “berhusnudzhanlah, karena hal ini sudah melalui syuro orang yang lebih paham daripada kita” dll. Tanggapan struktur PKS yang dinakhodai oleh segelintir qiyadahnya terhadap kritikan kadernya sendiri umumnya berpola sebagai berikut :
  • Kalau ada kadernya yang sedikit kritis disebut sebagai kader tidak tsiqoh dan tidak taat
  • Kalau ada berita apapun yang tidak enak langsung disebut fitnah
  • Lalu kalau ternyata benar, disebut ghibah, kemudian dilabeli membongkar aib
  • Setelah itu, kalau masih terus gencar bertanya disebut hasad dan barisan sakit hati
  • Kalau masih bertanya juga, disebutlah bahwa jamaah ini bukan jamaah malaikat tapi jamaah manusia. Kalau memang PKS jamaah manusia, maka seharusnya dan selayaknya ditegakkan aturan manusia seadil-adilnya! Bukan melegitimasi kekhilafan yang terjadi. Jadi kalau ada orang/sekelompok orang mengingatkan jangan marah atau merasa paling benar kalau dinasehati seperti itu dan membalas dgn hujjah di atas, kita bukan jama'ah malaikat..terus maunya disebut jama'ah apa? Karena jamaah manusialah, maka PKS harus siap bertanggungjawab. Apalagi PKS itu partai politik resmi yang terdaftar! Bukan yayasan abal-abal.
  • Akhir-akhir ini ada lagi senjata baru, yaitu : NAJWA atau bisik-bisik. Pendapat saya, istilah ini tidak tepat. FKP atau Forum Kader Peduli bukan bisik-bisik lagi, tapi mereka datangi fraksi, kirimi petisi ke bos besar, buat kajian yang terbuka buat siapa saja. Mereka sangat ingin diajak dialog, tapi bukannya diajak dialog yang obyektif, malah mereka dipanggil satu persatu untuk diadili. Masih pantas disebut bisik-bisik? Mau lihat contoh Najwa yang asli? Contoh fakta: sewaktu Ustad Anis Matta dan Bang Fahri Hamzah melakukan fait-accomply ke mana-mana bahwa iklan Soeharto sudah kesepakatan internal, sudah dibahas secara mendalam. Tapi dibantah oleh ustad Hidayat NW dan Ustad Tif, itu baru layak disebut bernajwa!
3.PKS sebagai parpol tidak masuk dalam rencana hidup saya. Saya tidak punya kepentingan apapun dengan PKS. Mau PKS menang, kalah, dapat 20 persen, dapat 1 persen, mau nungging, mau merangkak, mau berlari, dan lain-lain. Sama sekali tidak berimplikasi pada kehidupan pribadi saya baik secara ekonomi, sosial, politik dll. Saya tidak mendapat titipan agenda dari parpol manapun untuk menggembosi PKS, saya tidak akan mendapat penghargaan kalau kritikan saya berhasil membusukkan PKS, sebaliknya, saya tidak pernah berharap dengan menulis artikel-artikel ini saya akan mendapat bargaining politik, lantas ditawari masuk ke struktur politik PKS. Bukan itu tujuan saya, wong saya bukan aktivis politik praktis, dan tidak pernah berniat masuk ke politik praktis. Sewaktu dahulu saya ikut ngaji di PKS, lama baru saya ketahui (kurang lebih setahun) bahwa ternyata tarbiyah yang saya ikuti ternyata adalah turunan langsung dari sebuah partai politik. Lantas saya bertemu dengan Kak Uce yang mempunyai pribadi mempesona, dan sayapun tertarik bergabung. Semata-mata karena ingin mencari islam yang benar, setelah sewaktu SMU dahulu sangat gemar membaca majalah-majalah hidayatullah. Saya lalu makin terkagum-kagum dengan konsep pergerakan Hasan Al Banna, sampai sekarangpun kekaguman saya tidak pernah luntur. Sewaktu saya keluar dari jamaah PKS, saya menjalin korespondensi email dengan beberapa ustad-ustad FKP. Oleh beliau-beliau saya diajak buat ta’lim dan sejenisnya di Makassar. Tapi setelah saya pikir-pikir, jikalau saya bergabung dengan FKP, tentu saja akan menambah luka ukhuwah yang makin menganga dengan mantan rekan seperjuangan saya di PKS Sul-Sel. Dan bukan tidak mungkin, tuduhan dan ghibah keji akan menimpa diri ini. Sehingga saya mengambil keputusan, cukup memberikan dukungan moral dan terus mengikuti perkembangan. Saya bukan bagian resmi dari FKP, tapi saya adalah simpatisan dan pendukung mereka, sebagai harakatul inkadz gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia. Apalagi dengan fakta bahwa, sebelum keluar dari PKS saja, saya bisa mendapatkan perlakuan tidak adil, apalagi setelah keluar, emang bisa kedengaran? Hehehe.

4.Saya merasa, banyak orang yang lebih baik pemahamannya, lebih baik amalannya, lebih baik ibadahnya daripada saya di jamaah PKS. Saya merasa tidak pantas memberi kritik dan nasehat kepada mereka.

Nah, kalau memang sudah tidak berminat kok ditulis juga? Ini merupakan sebuah kontemplasi yang panjang buat saya dalam 2 bulan terakhir ini. Saya lalu bertanya-tanya ke hati saya sendiri. Buat apa saya kritik PKS? Apa untungnya? Jangan-jangan sentimen pribadi nih? Lama saya bertanya jawab dengan diri saya sendiri. Kemudian sampailah saya pada beberapa kesimpulan yang membulatkan saya untuk menulis lagi sebuah artikel tentang PKS. Kesimpulan itu adalah :

1.Saya ingin menjadi bagian dari manusia terbaik yang disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 110 : “Kalian adalah umat terbaik yang ditampilkan kepada umat manusia, karena kalian menyuruh perbuatan ma'ruf dan mencegah perbuatan munkar serta beriman kepada Allah.” Jadi, tidak mutlak menunggu amalan sempurna dahulu, tidak harus menanti amalan banyak, baru bisa memberi nasehat.

2.Hikmah itu bisa datang dari siapa saja. Bahkan iblispun ketika ditangkap oleh Abu Hurairah sanggup memberikan hikmah, yang banyak kita gunakan saat ini, yaitu ayat kursi. Dengan diri ini yang bertabur maksiat, semoga tulisan saya dapat memberi inspirasi kepada pembaca yang ditulis berdasarkan fakta riil di lapangan.

3.Keutamaan berjamaah yang dibahas dibanyak hadits. Saya merasa bahwa salah satu konstribusi saya kepada jamaatul minal muslimin (contoh: IM, HT, JT dll) yang merupakan metamorfosis transisi dari dan ke jamaah muslimin, adalah dengan menulis artikel seperti ini. Walaupun mungkin agak pahit, tetapi minimal saya memberi sedikit sumbangan kepada jamaah muslimin yang sama-sama kita nantikan kelahirannya. Dimana baiat kepadanya wajib! Dan tidak ada keraguan sedikitpun kepadanya!

4.Ikhwanul Muslimin adalah pergerakan islam kontemporer yang sangat saya hormati dan kagumi. Sejelek apapun PKS, dia tetap merupakan subordinat otonom yang dibawahi langsung tandhim ‘alami IM. Selama belum mendapat sangsi nyata dari tandhim ‘alami, maka selama itu pulalah perhatian saya akan tetap kepada PKS. Bahkan seburuk-buruknya PKS, dia tetap Partai Kupilih Selalu (ikut2-an bikin singkatan PKS/Partai Kebanyakan Singkatan hehe). Karena alternatif golput jauh lebih besar mudharatnya. Tapi untuk mempromosikan? No way! Gak tega tawarinnya ke orang-orang.

5.Seminggu terakhir ada sms dari orang aneh, yang tidak mau menyebutkan identitasnya. Saya tidak tahu apa maksud dan tujuannya. Ketika saya tunjukkan dalil fakta dan nash, dia hanya berkelit dan menjawab asal. Lalu muncul lagi komentar dari seseorang bernama sastrawan hijau diblog saya. Yang anehnya, juga tidak jelas identitasnya (sudah tradisi kader PKS? Semoga tidak…). Memberi komentar bernada taklid, mengaku obyektif tapi sudah mengklaim bahwa ustad fulan PASTI salah sebagaimana klaim MRnya. Waduh, geleng-geleng kepala saya! Dan semakin bulatlah azzam saya untuk menulis lagi artikel tentang PKS.

6.Mayoritas kader PKS (tidak seluruhnya) dihinggapi “persepsi mutlak” yang menurut saya sangat berbahaya ketika PKS akan menjadi what so called the ruling party. Dimana saya akan menjelaskan dalam urutan poin pembahasan tersendiri.


Diatas saya sudah sebutkan rawannya “persepsi mutlak” yang menjadi karakter lapangan mayoritas kader PKS. Karakter ini sangat berbahaya menurut saya, apalagi salah satu goal atau tujuan PKS adalah ingin menjadi partai pemenang. Kenapa saya sebut berbahaya? Karena karakter ini dibungkus dengan doktrin ideologi agama. Dimana kita semua tahu, agama merupakan barang yang sangat sensitif, dan tidak sedikit orang yang rela menyabung nyawa karenanya. Maka, jikalau karakter ini terlanjur membentuk persepsi kader PKS saat ini. Ketika telah berkuasa, sangat berpotensi pemerintahan yang terbentuk akan lebih bersifat diktator daripada orde baru maupun orde lama. Adapun “persepsi mutlak” karakter kader PKS secara umum adalah :

  • Ketika kader PKS diingatkan, bahkan dengan mengacu ke dalil yang shahih sekalipun, muncul balasan, "jangan jadi komentator tapi beramallah", "memang antum sudah beramal apa?", “ayo amal, amal, amal!”. dll. Na'udzubillah, ini kelakukan menyimpang, merasa berhak mempertanyakan amal orang, dan merasa sudah banyak beramal. Seolah-olah orang diluar PKS itu sedikit kerjanya, bahkan tidak beramal sama sekali. Saya tidak akan pernah terpancing untuk menyebut-nyebut amal saya dengan ungkapan bodoh seperti diatas.
Cukuplah taujih robbani kepada kita semua :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya (Al Baqarah: 264).
  • Masih berhubungan dengan karakter pertama. Kader PKS seakan merasa mereka adalah sebuah 'perseroan terbatas' yang bersifat proprietary, sehingga merasa berhak memutuskan apapun tanpa melihat aspek 'perasaan' publik, hal mana terlihat jelas dalam berbagai kebijakannya selama ini. Padahal perlu dicatat dan diingat bahwa sebuah partai politik adalah sebuah 'perseroan terbatas' yang sudah go public. Layaknya sebuah perusahaan yang besar karena go public, mereka juga harus mempertanggungjawabkan kebijakan-kebijakan pentingnya kepada publik. Menjelaskan apa latar belakang sebuah kebijakan diambil.Tetapi sayang seribu sayang, ungkapan yang paling sering muncul untuk menanggapi konsep ini adalah: kami adalah pemain bola dan anda adalah penonton, dan penonton tahu apa sih? Selain teriak tidak karuan dari tribun penonton! Sekali lagi, industri sepakbola masa kini merupakan sebuah industri yang “share cost and profit” antara klub, suporter, dan publik. Dimana peran suporter bukan saja terletak pada sorak sorai mereka di dalam stadion, tetapi suporter juga turut andil dalam permodalan, berbagi untung rugi dengan cara membeli saham, membeli merchandise dan sebagainya. Tentu saja analogi ini hanya sekedar permisalan yang lahir dari kepala saya yang iseng. Tetapi secara umum logika pemain bola vs supporter untuk digunakan sebagai penangkis jawaban terhadap konstituen kritis sudah sangat baheula. Kecuali, logika manajemen sepakbola yang digunakan adalah logika klub sepakbola tarkam alias antar kampung, maka jawaban ini sangat manjur! Apakah manajemen PKS yang professional, bersih dan peduli itu adalah manajemen tarkam? Hanya kader PKS sendiri yang bisa menjawabnya.
  • Amal dakwah hanya seputar kegiatan kepartaian. Ini adalah fakta! Dari banyak diskusi dan pengamatan saya terhadap sepak terjang kader PKS selama ini. Banyak saya temukan persepsi bahwa ketika seorang kader tarbiyah hanya berdakwah di kampus, yayasan atau tandhzim lain diluar partai, maka itu dianggap belum atau tidak sempurna berdakwahnya. Dianggap belum paham manhaj. Dakwah sangat terbatas pada kegiatan direct selling, baksos, pasang spanduk, dll. Seolah-olah dakwah ikhwah di HT, JT, salaf, WI tidak afdol. Naudzubillah! Rasul SAW tidak duduk menjadi anggota Dewan Darun Nadwah (DPRnya orang Quraisy). Tapi Rasulullah tetap bisa berdakwah. Para ulama salaf juga demikian, banyak dari kalangan ulama salaf yang tidak menjadi bagian dari pemerintah dan majelis Ummat seperti Imam Ahmad bin Hambal tapi beliau masih bisa berdakwah. Banyak saudara-saudara muslim lain yang juga berjuang agar pornografi dimusnahkan di luar parlemen, bukan hanya dari dalam parlemen.
  • Materi-materi pembinaan yang sangat nampak membekas selama ini hanya seputar qiyadah-jundiah semata. Hanya mengandalkan kesetiaan (taat dan tsiqoh), tanpa mau lagi menggunakan anugerah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang sangat besar, yaitu iman dan akal. Sehingga yang terjadi, mereka membenarkan apapun dari qiyadahnya, berbaik sangka pada apapun yang datang dari qiyadahnya, berburuk sangka kepada orang yang kelihatan 'memusuhi jamaahnya', ikut memusuhi orang yang dimusuhi oleh qiyadahnya (sudah banyak asatidz sabiquunal awwalun yang berbeda pandangan muraqib amm yang terkena hal ini), bahkan tidak segan memfitnah orang-orang yang berbeda pendapat atau memberi peringatan kepada qiyadahnya.
  • Masih berhubungan dengan poin sebelumnya, karakter mayoritas kader PKS saat ini adalah ketidakseimbangan tabayyun. Apapun yang diperoleh dari qiyadahnya cenderung diterima tanpa reserve mendalam terlebih dahulu. Ketika dikatakan si A bermasalah, barisan sakit hati, tidak paham manhaj dll. Maka mayoritas kaderpun akan mengiyakan tanpa pernah berusaha sedikitpun untuk tabayyun. Tetapi ketika ada kebijakan PKS yang aneh di ranah publik, dan ada yang mempertanyakan. Maka diwajibkan baginya untuk tabayyun ke struktur PKS. Dan bisa ditebak, hasilnya, kalau tidak berhasil dibungkam, maka si tabayyuners akan diasingkan secara terang-terangan atau terselubung, cepat atau lambat.
  • Anggapan sempit bahwa kemenangan PKS adalah kemenangan dakwah? Harus disadari bersama bahwa kemenangan yang sesungguhnya bukanlah semata-mata ditentukan oleh berapa banyak kekuasaan dan jabatan itu bisa diraih dan dikuasai serta berapa banyak anggota yang duduk di DPR maupun di DPRD. Akan tetapi, hakikat kemenangan adalah ketika kita berpihak pada nilai-nilai keislaman tersebut walaupun secara kasat mata belum banyak kekuasaan yang dicapai dan diraih. Tetapi, ketika para dai yang politisi ini mendapatkan jabatan dan kekuasaan tersebut dengan cara-cara yang baik dan benar, maka itulah sejatinya hakikat kemenangan. Nah, sebelum lebih jauh, tahu gak sih kita semua apa itu kemenangan dakwah? Jawab :
Ketika tujuan dakwah sudah tercapai. Apa tujuan dakwah? Baca Quran.
Tujuan dakwah:
1. Penegakan kalimat tauhid (An Nahl: 36, Al Anbiyaa': 25, Az Zumar:11)
2. Berhukum pada hukum Allah (AlMaa'idah: 44, Yusuf:40,AsSyuura:13).

Negara atau khilafah itu hanyalah sasaran antara.

Cara menegakkannya: sudah ditegaskan dengan cara seruan hikmah (AnNahl: 125).
Bonusnya: Allah menjanjikan kekuasaan di muka bumi bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (An Nuur: 55)

Tantangannya: jalan dakwah memang bukan jalan dengan karpet merah (Al An'aam: 10, Al An'aam: 34), bukan pula jalan yang bertabur harta "ganimah hasil musyarokah" (Al An'aam: 90, Huud: 29).

Nah! Yang jadi pertanyaan, katakanlah PKS menang dengan sekian persen, apakah tidak akan ada lagi kasus seperti dukun ponari? Tidak ada lagi praktik-praktik paranormal? Atau ketika PKS menang syariat islam langsung tegak? Tidak ada lagi penentangan terhadap hukum Allah? Dll? Terlalu jauh kayaknya. Saya kira doktrin ini agak berlebihan, kemenangan politik bukanlah kemenangan dakwah! Tujuan utama dakwah adalah agar tidak ada lagi orang, makhluk di muka bumi ini yang menduakan nama Allah. Itulah tujuan para nabi diutus dari zaman Adam AS sampai Muhammad SAW! Berkuasa HANYA efek samping.
  • Anggapan bahwa kalau tidak ada PKS maka parlemen akan rusak. Dunia parlemen tanpa PKS seolah-olah akan dikuasai kekuatan sekuler.Tanpa obyektif berfikir, sebegitu mudahnya kah ummat islam dengan segenap ormasnya bisa 'dikerjain mentah2'? Apa iya juga kalau tidak ada ikhwah PKS diparlemen maka tatanan akan di 'rusak' dan dikuasai oleh non muslim? Sampai-sampai berfikiran kalau PKS tidak ada maka 'dunia kiamat'. Perlu diingat, PKS hanyalah satu diantara sekian banyak jama'ah minal muslimin di Indonesia. PKS hanyalah ijtihad tandhim IM Indonesia, yang bisa bubar sewaktu-waktu. Salah satu contoh klaim adalah perjuangan RUU Pornografi. Apa iya kalau tidak ada ikhwah PKS, RUU pornografi tidak akan lolos? Kesimpulan yang naif. Atas dasar fakta dan data apa sehingga bisa dijustifikasi seperti itu? Seharusnya kita sedikit membuka mata, yang namanya RUU pornografi yang mengajukan adalah pemerintah yang notabene digawangi menteri Dr. Mutia Hatta, dan digodok rame2 berbagai unsur. Bahkan sesungguhnya disahkannya UU Pornografi (meski banyak sekali hal-hal yg masih jauh dari Syariat Islam) karena dorongan dari luar parlemen yang begitu besar, bukan dari dalam parlemen. Perjuangan tentang UU Pornografi bukan hanya milik PKS. Tuty Alawiyah ketika menjabat menteri di Kabinet Habibie pernah mengajukan, meski ditolak. DPR tidak akan mensahkan, jika tidak ada dorongan masyarakat. Sehingga pada dasarnya RUU Pornografi merupakan rangkaian dari perjuangan bertahun-tahun, dan bukan cuma milik PKS. Itu cuma satu contoh, masih banyak contoh yang lain.
Demikian karakter kader PKS yang akhir-akhir ini sering saya temui. Semoga dapat menjadi bahan renungan buat kita semua, semoga dapat menjadi nasehat yang berhikmah. Terutama nasehat kepada diri saya pribadi.
Wallahu Ta’ala A’lam.

Sabtu, 28 Maret 2009

How to deal with a Toddler

i must admit it is my mistake, or rather my decision that put us in this situation. the problem is that our litlle angel has not yet develop ability to pee and pup properly. for a 2 year old girl compare to her peer this is a delayed development. so we come up with an idea of "carrot and stick" although we keep the stick yet for last resort.

so after a rigorous explanation, over and over again about how and why, after many examples in front of her eye, after imagining future consequences she may faces in the coming of school age, my wife bought jar full of beautiful marble.

this day i figure is a week after we deploy the plan, and improvement is evidence. the marble is doing a great job although our daughter seem have a will of her own, this is a fact that we oftenly missed as a parent. the fact that our child have a will of hisr/her own, she go whereever she pleased whenever she want, she manipulated us by her round eyes and smile or if necesasary with tears and tantrum

so i realised in order to direct her to our wish, we must be patient and sensitive to her mood,also we must percistence, and cunning to exploit her weakness or interest, i found that they enjoyed this game of domination, it is why i think that the prophet muhammad saw said that we should'nt be slaved by our own child.

to deal with a toddler who to be known to have a remarkable mind, we must develop diplomatic skills, how to negotiate and bargain as cunning as a master trader, also a cold head and some times a heart of steel so that no tears could pierce through and last but not least a load of patient. 

Selasa, 24 Maret 2009

Parpol, Bola Tarkam dan Ahmadinejad

Pemilu 2009 segera menjelang, tiba saatnya “pengadilan” buat para aktivis parpol akan kinerja mereka selama 5 tahun terakhir ini. Di seluruh pelosok penjuru negeri lantas bersulap menjadi negeri sejuta baliho dan spanduk. Biaya yang sangat mahal dikeluarkan hanya untuk memilih pemimpin yang terbaik. Jajanan ideologis dan perang statemen berterbangan di media massa dan cetak. Akankah tercapai harapan kita akan pemimpin yang benar-benar peduli dengan rakyatnya? Akankah mereka akan terus “mendengar” kita, walaupun pemilu ini telah berlalu? Semoga tidak, dan semoga di negeri ini lahir pemimpin sekelas Umar ibn Abdul Azis, yang tetap sederhana di tengah godaan materi yang berkibar-kibar.

Rakyat republik ini sudah muak dan bosan dengan parade kemewahan dan kesenjangan yang berjarak kian lebar antara pemimpin dan rakyatnya. Hati kami (rakyat) teriris-iris dengan senyuman manis para koruptor yang tertawa lebar dan berpakaian parlente ketika akan menuju persidangannya. Padahal uang yang mereka curi jauh lebih banyak ketimbang pencuri ayam amatiran. Sungguh, rakyat hanya butuh keteladanan akan pemimpin yang sederhana dan merakyat. Rakyat menantikan sosok 2 Umar yang pernah memimpin umat ini di masa lalu.

Semoga pemimpin yang terpilih nantinya bukan karena kekuatan uangnya, Karena logika pejabat harus punya uang ini sebenarnya logika yahudi. Dahulu ketika bangsa yahudi minta kepada Allah agar di antara mereka ada yang dijadikan raja (penguasa), maka ketika Allah sudah tentukan, rupanya orangnya tidak seperti yang mereka bayangkan. Ternyata dia miskin tidak punya uang.

Dalam logika yahudi, bagaimana mungkin orang miskin tak ber-uang bisa jadi penguasa?

Nabi mereka mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab, "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi berkata, "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah: 247)

Saat ini, kita melihat dan menyaksikan, betapa karakter materialistis sangat kuat menghujam seluruh partai politik di negeri ini tanpa terkecuali. Pemimpin dipilih, bukan semata karena komitmennya terhadap kebenaran dan rakyat. Tetapi dipilih karena kekuatan uang dan modalnya. Padahal, sekali lagi, logika berpikir ini adalah logika yang digunakan oleh orang Yahudi. Orang yang paling sering kita cela perbuatan dan akhlaknya, ternyata setapak demi setapak tanpa sadar kita mengikut kepadanya.

Dengan berbagai alasan pembenaran digunakan untuk melegitimasi perilaku hidup mewah pemimpin dan calon pemimpin bangsa ini. Memperbaiki selera, memperluas pergaulan, meningkatkan jaringan dan lain sebagainya digunakan sebagai senjata pamungkas untuk membela gaya hidup mewah para elit politik di negeri ini. Masyarakat dan umat ini tidak perlu diajari untuk doyan duit dan bermewah-mewah. Karena dari sononya fitrah manusia memang doyan duit, doyan perempuan, doyan berkuasa. Justru rakyat butuh belajar ikhlas, sederhana, jauh dari logika materialistis. Adakah elit politik bangsa ini yang anda dapatkan seperti itu?

Partai-partai politik di negeri ini seakan merasa mereka adalah sebuah 'perseroan terbatas' yang bersifat proprietary, sehingga merasa berhak memutuskan apapun tanpa melihat aspek 'perasaan' publik, hal mana terlihat jelas dalam berbagai kebijakannya selama ini. Padahal perlu dicatat dan diingat bahwa sebuah partai politik adalah sebuah 'perseroan terbatas' yang sudah go public. Layaknya sebuah perusahaan yang besar karena go public, mereka juga harus mempertanggungjawabkan kebijakan-kebijakan pentingnya kepada publik. Menjelaskan apa latar belakang sebuah kebijakan diambil.Tetapi sayang seribu sayang, ungkapan yang paling sering muncul untuk menanggapi konsep ini adalah: kami adalah pemain bola dan anda adalah penonton, dan penonton tahu apa sih? Selain teriak tidak karuan dari tribun penonton!

Sekali lagi, industri sepakbola masa kini merupakan sebuah industri yang “share cost and profit” antara klub, suporter, dan publik. Dimana peran suporter bukan saja terletak pada sorak sorai mereka di dalam stadion, tetapi suporter juga turut andil dalam permodalan, berbagi untung rugi dengan cara membeli saham, membeli merchandise dan sebagainya. Tentu saja analogi ini hanya sekedar permisalan yang lahir dari kepala saya yang iseng. Tetapi secara umum logika pemain bola vs supporter untuk digunakan sebagai penangkis jawaban terhadap konstituen kritis sudah sangat baheula. Kecuali, logika manajemen sepakbola yang digunakan adalah logika klub sepakbola tarkam alias antar kampung, maka jawaban ini sangat manjur!

Akhirul kalam, ada sebuah hikmah yang mungkin kita renungkan dari saudara kita yang beraliran syiah. Sebuah aliran yang mengundang kontroversi semenjak lahirnya hingga sekarang. Aliran yang banyak kita cela, tapi ternyata sanggup menelurkan karakter pemimpin sekelas Ahmadinedjad. Sedangkan dari kalangan sunni zaman ini hanya bisa menelurkan pemimpin monarki absolut, sekuleristis nasionalis, sosialis atau liberalis ekstrim. Berikut profil kesederhanaan beliau/Ahmadinedjad (semoga Allah menjaga dan senantiasa memberi petunjuk kepadanya)

• Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresif.



• Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri-menterinya untuk datang dan diberikan sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan darinya. Arahan tersebut terutama sekali menekankan para menterinya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat para menteri tersebut berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak

• Langkah pertamanya ketika menjadi presiden adalah mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu-satunya uang masuk adalah uang gaji bulanannya sebagai dosen di sebuah universitas yang “hanya” senilai US$ 250. Sebagai tambahan informasi, beliau masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimiliki oleh seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan.Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

• Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yang selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.



• Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri2 nya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sdh dilakukan, dan ia memotong protokoler istana sehingga para menterinya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara-upacara seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal-hal seperti itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.

• Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut. Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden? Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawalnya yang selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Menurut koran Wifaq, foto-foto yang diambil oleh adiknya tersebut, kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk amerika.



• Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka, bahkan ketika suara azan berkumandang, ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa.





• Baru-baru ini dia baru saja mempunyai Hajatan Besar Yaitu Menikahkan Puteranya. Tapi pernikahan putra Presiden ini hanya layaknya pernikahan kaum Buruh. Berikut dokumentasi pernikahan Putra Seorang Presiden.










Gambar dikutip dari www.Unik77.tk