Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2009

Karakter Aneh Kader PKS


Kalau pada tulisan PKS target 20 % saya sudah berjanji tidak akan menulis artikel tentang PKS lagi. Kecuali terjadi suatu hal luar biasa yang perlu saya tanggapi secara menyeluruh lewat sebuah tulisan. Sebisa mungkin tanggapan yang datang akan saya layani di kolom komentar. Tetapi beberapa hari terakhir ini ada beberapa oknum (atau satu orang oknum?) yang perilakunya cukup membuat saya tergelitik untuk menulis lagi artikel tentang PKS.

Sebelumnya, saya ingin menjelaskan mengapa saya tidak berminat untuk membahas tentang PKS lagi? (kecuali terpaksa, sesuai dengan kondisi diatas) Ada beberapa alasan yang dapat saya uraikan menjadi beberapa poin antara lain :

1.Saya tidak lagi menghitung PKS sebagai variabel penentu masa depan bangsa ini. Argumennya? Tidak etis saya terangkan di artikel ini dan ujung-ujungnya nanti dituduh memfitnah. Saya bukan ingin menjelek-jelekkan PKS, saya hanya ingin menunjukkan keprihatinan saya akan “persepsi mutlak” karakter yang melanda mayoritas kader PKS, utamanya yang bergabung dari tahun 2004 sampai sekarang.

2.PKS saya nilai sudah anti kritik yang merupakan salah ciri utama kematian dari sebuah gerakan yang berangkat dan berdasar pada nilai seperti gerakan ikhwanul muslimin. Sebuah gerakan dengan landasan ideologis apapun, ketika meminggirkan peran dialogis dan argumentatif hanya akan mengantarkan mereka menuju jurang kehancuran yang makin dalam tanpa disadari atau tidak. Harus diakui, PKS bukannya melenyapkan peran dialogis dan kritik. Dalam halaqah-halaqahnya relatif masih ditemui tradisi itu, tetapi umumnya ujung diskusi tersebut akan bermuara pada pernyataan “antum harus tsiqah dan wajib taat”, “berhusnudzhanlah, karena hal ini sudah melalui syuro orang yang lebih paham daripada kita” dll. Tanggapan struktur PKS yang dinakhodai oleh segelintir qiyadahnya terhadap kritikan kadernya sendiri umumnya berpola sebagai berikut :
  • Kalau ada kadernya yang sedikit kritis disebut sebagai kader tidak tsiqoh dan tidak taat
  • Kalau ada berita apapun yang tidak enak langsung disebut fitnah
  • Lalu kalau ternyata benar, disebut ghibah, kemudian dilabeli membongkar aib
  • Setelah itu, kalau masih terus gencar bertanya disebut hasad dan barisan sakit hati
  • Kalau masih bertanya juga, disebutlah bahwa jamaah ini bukan jamaah malaikat tapi jamaah manusia. Kalau memang PKS jamaah manusia, maka seharusnya dan selayaknya ditegakkan aturan manusia seadil-adilnya! Bukan melegitimasi kekhilafan yang terjadi. Jadi kalau ada orang/sekelompok orang mengingatkan jangan marah atau merasa paling benar kalau dinasehati seperti itu dan membalas dgn hujjah di atas, kita bukan jama'ah malaikat..terus maunya disebut jama'ah apa? Karena jamaah manusialah, maka PKS harus siap bertanggungjawab. Apalagi PKS itu partai politik resmi yang terdaftar! Bukan yayasan abal-abal.
  • Akhir-akhir ini ada lagi senjata baru, yaitu : NAJWA atau bisik-bisik. Pendapat saya, istilah ini tidak tepat. FKP atau Forum Kader Peduli bukan bisik-bisik lagi, tapi mereka datangi fraksi, kirimi petisi ke bos besar, buat kajian yang terbuka buat siapa saja. Mereka sangat ingin diajak dialog, tapi bukannya diajak dialog yang obyektif, malah mereka dipanggil satu persatu untuk diadili. Masih pantas disebut bisik-bisik? Mau lihat contoh Najwa yang asli? Contoh fakta: sewaktu Ustad Anis Matta dan Bang Fahri Hamzah melakukan fait-accomply ke mana-mana bahwa iklan Soeharto sudah kesepakatan internal, sudah dibahas secara mendalam. Tapi dibantah oleh ustad Hidayat NW dan Ustad Tif, itu baru layak disebut bernajwa!
3.PKS sebagai parpol tidak masuk dalam rencana hidup saya. Saya tidak punya kepentingan apapun dengan PKS. Mau PKS menang, kalah, dapat 20 persen, dapat 1 persen, mau nungging, mau merangkak, mau berlari, dan lain-lain. Sama sekali tidak berimplikasi pada kehidupan pribadi saya baik secara ekonomi, sosial, politik dll. Saya tidak mendapat titipan agenda dari parpol manapun untuk menggembosi PKS, saya tidak akan mendapat penghargaan kalau kritikan saya berhasil membusukkan PKS, sebaliknya, saya tidak pernah berharap dengan menulis artikel-artikel ini saya akan mendapat bargaining politik, lantas ditawari masuk ke struktur politik PKS. Bukan itu tujuan saya, wong saya bukan aktivis politik praktis, dan tidak pernah berniat masuk ke politik praktis. Sewaktu dahulu saya ikut ngaji di PKS, lama baru saya ketahui (kurang lebih setahun) bahwa ternyata tarbiyah yang saya ikuti ternyata adalah turunan langsung dari sebuah partai politik. Lantas saya bertemu dengan Kak Uce yang mempunyai pribadi mempesona, dan sayapun tertarik bergabung. Semata-mata karena ingin mencari islam yang benar, setelah sewaktu SMU dahulu sangat gemar membaca majalah-majalah hidayatullah. Saya lalu makin terkagum-kagum dengan konsep pergerakan Hasan Al Banna, sampai sekarangpun kekaguman saya tidak pernah luntur. Sewaktu saya keluar dari jamaah PKS, saya menjalin korespondensi email dengan beberapa ustad-ustad FKP. Oleh beliau-beliau saya diajak buat ta’lim dan sejenisnya di Makassar. Tapi setelah saya pikir-pikir, jikalau saya bergabung dengan FKP, tentu saja akan menambah luka ukhuwah yang makin menganga dengan mantan rekan seperjuangan saya di PKS Sul-Sel. Dan bukan tidak mungkin, tuduhan dan ghibah keji akan menimpa diri ini. Sehingga saya mengambil keputusan, cukup memberikan dukungan moral dan terus mengikuti perkembangan. Saya bukan bagian resmi dari FKP, tapi saya adalah simpatisan dan pendukung mereka, sebagai harakatul inkadz gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia. Apalagi dengan fakta bahwa, sebelum keluar dari PKS saja, saya bisa mendapatkan perlakuan tidak adil, apalagi setelah keluar, emang bisa kedengaran? Hehehe.

4.Saya merasa, banyak orang yang lebih baik pemahamannya, lebih baik amalannya, lebih baik ibadahnya daripada saya di jamaah PKS. Saya merasa tidak pantas memberi kritik dan nasehat kepada mereka.

Nah, kalau memang sudah tidak berminat kok ditulis juga? Ini merupakan sebuah kontemplasi yang panjang buat saya dalam 2 bulan terakhir ini. Saya lalu bertanya-tanya ke hati saya sendiri. Buat apa saya kritik PKS? Apa untungnya? Jangan-jangan sentimen pribadi nih? Lama saya bertanya jawab dengan diri saya sendiri. Kemudian sampailah saya pada beberapa kesimpulan yang membulatkan saya untuk menulis lagi sebuah artikel tentang PKS. Kesimpulan itu adalah :

1.Saya ingin menjadi bagian dari manusia terbaik yang disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 110 : “Kalian adalah umat terbaik yang ditampilkan kepada umat manusia, karena kalian menyuruh perbuatan ma'ruf dan mencegah perbuatan munkar serta beriman kepada Allah.” Jadi, tidak mutlak menunggu amalan sempurna dahulu, tidak harus menanti amalan banyak, baru bisa memberi nasehat.

2.Hikmah itu bisa datang dari siapa saja. Bahkan iblispun ketika ditangkap oleh Abu Hurairah sanggup memberikan hikmah, yang banyak kita gunakan saat ini, yaitu ayat kursi. Dengan diri ini yang bertabur maksiat, semoga tulisan saya dapat memberi inspirasi kepada pembaca yang ditulis berdasarkan fakta riil di lapangan.

3.Keutamaan berjamaah yang dibahas dibanyak hadits. Saya merasa bahwa salah satu konstribusi saya kepada jamaatul minal muslimin (contoh: IM, HT, JT dll) yang merupakan metamorfosis transisi dari dan ke jamaah muslimin, adalah dengan menulis artikel seperti ini. Walaupun mungkin agak pahit, tetapi minimal saya memberi sedikit sumbangan kepada jamaah muslimin yang sama-sama kita nantikan kelahirannya. Dimana baiat kepadanya wajib! Dan tidak ada keraguan sedikitpun kepadanya!

4.Ikhwanul Muslimin adalah pergerakan islam kontemporer yang sangat saya hormati dan kagumi. Sejelek apapun PKS, dia tetap merupakan subordinat otonom yang dibawahi langsung tandhim ‘alami IM. Selama belum mendapat sangsi nyata dari tandhim ‘alami, maka selama itu pulalah perhatian saya akan tetap kepada PKS. Bahkan seburuk-buruknya PKS, dia tetap Partai Kupilih Selalu (ikut2-an bikin singkatan PKS/Partai Kebanyakan Singkatan hehe). Karena alternatif golput jauh lebih besar mudharatnya. Tapi untuk mempromosikan? No way! Gak tega tawarinnya ke orang-orang.

5.Seminggu terakhir ada sms dari orang aneh, yang tidak mau menyebutkan identitasnya. Saya tidak tahu apa maksud dan tujuannya. Ketika saya tunjukkan dalil fakta dan nash, dia hanya berkelit dan menjawab asal. Lalu muncul lagi komentar dari seseorang bernama sastrawan hijau diblog saya. Yang anehnya, juga tidak jelas identitasnya (sudah tradisi kader PKS? Semoga tidak…). Memberi komentar bernada taklid, mengaku obyektif tapi sudah mengklaim bahwa ustad fulan PASTI salah sebagaimana klaim MRnya. Waduh, geleng-geleng kepala saya! Dan semakin bulatlah azzam saya untuk menulis lagi artikel tentang PKS.

6.Mayoritas kader PKS (tidak seluruhnya) dihinggapi “persepsi mutlak” yang menurut saya sangat berbahaya ketika PKS akan menjadi what so called the ruling party. Dimana saya akan menjelaskan dalam urutan poin pembahasan tersendiri.


Diatas saya sudah sebutkan rawannya “persepsi mutlak” yang menjadi karakter lapangan mayoritas kader PKS. Karakter ini sangat berbahaya menurut saya, apalagi salah satu goal atau tujuan PKS adalah ingin menjadi partai pemenang. Kenapa saya sebut berbahaya? Karena karakter ini dibungkus dengan doktrin ideologi agama. Dimana kita semua tahu, agama merupakan barang yang sangat sensitif, dan tidak sedikit orang yang rela menyabung nyawa karenanya. Maka, jikalau karakter ini terlanjur membentuk persepsi kader PKS saat ini. Ketika telah berkuasa, sangat berpotensi pemerintahan yang terbentuk akan lebih bersifat diktator daripada orde baru maupun orde lama. Adapun “persepsi mutlak” karakter kader PKS secara umum adalah :

  • Ketika kader PKS diingatkan, bahkan dengan mengacu ke dalil yang shahih sekalipun, muncul balasan, "jangan jadi komentator tapi beramallah", "memang antum sudah beramal apa?", “ayo amal, amal, amal!”. dll. Na'udzubillah, ini kelakukan menyimpang, merasa berhak mempertanyakan amal orang, dan merasa sudah banyak beramal. Seolah-olah orang diluar PKS itu sedikit kerjanya, bahkan tidak beramal sama sekali. Saya tidak akan pernah terpancing untuk menyebut-nyebut amal saya dengan ungkapan bodoh seperti diatas.
Cukuplah taujih robbani kepada kita semua :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya (Al Baqarah: 264).
  • Masih berhubungan dengan karakter pertama. Kader PKS seakan merasa mereka adalah sebuah 'perseroan terbatas' yang bersifat proprietary, sehingga merasa berhak memutuskan apapun tanpa melihat aspek 'perasaan' publik, hal mana terlihat jelas dalam berbagai kebijakannya selama ini. Padahal perlu dicatat dan diingat bahwa sebuah partai politik adalah sebuah 'perseroan terbatas' yang sudah go public. Layaknya sebuah perusahaan yang besar karena go public, mereka juga harus mempertanggungjawabkan kebijakan-kebijakan pentingnya kepada publik. Menjelaskan apa latar belakang sebuah kebijakan diambil.Tetapi sayang seribu sayang, ungkapan yang paling sering muncul untuk menanggapi konsep ini adalah: kami adalah pemain bola dan anda adalah penonton, dan penonton tahu apa sih? Selain teriak tidak karuan dari tribun penonton! Sekali lagi, industri sepakbola masa kini merupakan sebuah industri yang “share cost and profit” antara klub, suporter, dan publik. Dimana peran suporter bukan saja terletak pada sorak sorai mereka di dalam stadion, tetapi suporter juga turut andil dalam permodalan, berbagi untung rugi dengan cara membeli saham, membeli merchandise dan sebagainya. Tentu saja analogi ini hanya sekedar permisalan yang lahir dari kepala saya yang iseng. Tetapi secara umum logika pemain bola vs supporter untuk digunakan sebagai penangkis jawaban terhadap konstituen kritis sudah sangat baheula. Kecuali, logika manajemen sepakbola yang digunakan adalah logika klub sepakbola tarkam alias antar kampung, maka jawaban ini sangat manjur! Apakah manajemen PKS yang professional, bersih dan peduli itu adalah manajemen tarkam? Hanya kader PKS sendiri yang bisa menjawabnya.
  • Amal dakwah hanya seputar kegiatan kepartaian. Ini adalah fakta! Dari banyak diskusi dan pengamatan saya terhadap sepak terjang kader PKS selama ini. Banyak saya temukan persepsi bahwa ketika seorang kader tarbiyah hanya berdakwah di kampus, yayasan atau tandhzim lain diluar partai, maka itu dianggap belum atau tidak sempurna berdakwahnya. Dianggap belum paham manhaj. Dakwah sangat terbatas pada kegiatan direct selling, baksos, pasang spanduk, dll. Seolah-olah dakwah ikhwah di HT, JT, salaf, WI tidak afdol. Naudzubillah! Rasul SAW tidak duduk menjadi anggota Dewan Darun Nadwah (DPRnya orang Quraisy). Tapi Rasulullah tetap bisa berdakwah. Para ulama salaf juga demikian, banyak dari kalangan ulama salaf yang tidak menjadi bagian dari pemerintah dan majelis Ummat seperti Imam Ahmad bin Hambal tapi beliau masih bisa berdakwah. Banyak saudara-saudara muslim lain yang juga berjuang agar pornografi dimusnahkan di luar parlemen, bukan hanya dari dalam parlemen.
  • Materi-materi pembinaan yang sangat nampak membekas selama ini hanya seputar qiyadah-jundiah semata. Hanya mengandalkan kesetiaan (taat dan tsiqoh), tanpa mau lagi menggunakan anugerah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang sangat besar, yaitu iman dan akal. Sehingga yang terjadi, mereka membenarkan apapun dari qiyadahnya, berbaik sangka pada apapun yang datang dari qiyadahnya, berburuk sangka kepada orang yang kelihatan 'memusuhi jamaahnya', ikut memusuhi orang yang dimusuhi oleh qiyadahnya (sudah banyak asatidz sabiquunal awwalun yang berbeda pandangan muraqib amm yang terkena hal ini), bahkan tidak segan memfitnah orang-orang yang berbeda pendapat atau memberi peringatan kepada qiyadahnya.
  • Masih berhubungan dengan poin sebelumnya, karakter mayoritas kader PKS saat ini adalah ketidakseimbangan tabayyun. Apapun yang diperoleh dari qiyadahnya cenderung diterima tanpa reserve mendalam terlebih dahulu. Ketika dikatakan si A bermasalah, barisan sakit hati, tidak paham manhaj dll. Maka mayoritas kaderpun akan mengiyakan tanpa pernah berusaha sedikitpun untuk tabayyun. Tetapi ketika ada kebijakan PKS yang aneh di ranah publik, dan ada yang mempertanyakan. Maka diwajibkan baginya untuk tabayyun ke struktur PKS. Dan bisa ditebak, hasilnya, kalau tidak berhasil dibungkam, maka si tabayyuners akan diasingkan secara terang-terangan atau terselubung, cepat atau lambat.
  • Anggapan sempit bahwa kemenangan PKS adalah kemenangan dakwah? Harus disadari bersama bahwa kemenangan yang sesungguhnya bukanlah semata-mata ditentukan oleh berapa banyak kekuasaan dan jabatan itu bisa diraih dan dikuasai serta berapa banyak anggota yang duduk di DPR maupun di DPRD. Akan tetapi, hakikat kemenangan adalah ketika kita berpihak pada nilai-nilai keislaman tersebut walaupun secara kasat mata belum banyak kekuasaan yang dicapai dan diraih. Tetapi, ketika para dai yang politisi ini mendapatkan jabatan dan kekuasaan tersebut dengan cara-cara yang baik dan benar, maka itulah sejatinya hakikat kemenangan. Nah, sebelum lebih jauh, tahu gak sih kita semua apa itu kemenangan dakwah? Jawab :
Ketika tujuan dakwah sudah tercapai. Apa tujuan dakwah? Baca Quran.
Tujuan dakwah:
1. Penegakan kalimat tauhid (An Nahl: 36, Al Anbiyaa': 25, Az Zumar:11)
2. Berhukum pada hukum Allah (AlMaa'idah: 44, Yusuf:40,AsSyuura:13).

Negara atau khilafah itu hanyalah sasaran antara.

Cara menegakkannya: sudah ditegaskan dengan cara seruan hikmah (AnNahl: 125).
Bonusnya: Allah menjanjikan kekuasaan di muka bumi bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (An Nuur: 55)

Tantangannya: jalan dakwah memang bukan jalan dengan karpet merah (Al An'aam: 10, Al An'aam: 34), bukan pula jalan yang bertabur harta "ganimah hasil musyarokah" (Al An'aam: 90, Huud: 29).

Nah! Yang jadi pertanyaan, katakanlah PKS menang dengan sekian persen, apakah tidak akan ada lagi kasus seperti dukun ponari? Tidak ada lagi praktik-praktik paranormal? Atau ketika PKS menang syariat islam langsung tegak? Tidak ada lagi penentangan terhadap hukum Allah? Dll? Terlalu jauh kayaknya. Saya kira doktrin ini agak berlebihan, kemenangan politik bukanlah kemenangan dakwah! Tujuan utama dakwah adalah agar tidak ada lagi orang, makhluk di muka bumi ini yang menduakan nama Allah. Itulah tujuan para nabi diutus dari zaman Adam AS sampai Muhammad SAW! Berkuasa HANYA efek samping.
  • Anggapan bahwa kalau tidak ada PKS maka parlemen akan rusak. Dunia parlemen tanpa PKS seolah-olah akan dikuasai kekuatan sekuler.Tanpa obyektif berfikir, sebegitu mudahnya kah ummat islam dengan segenap ormasnya bisa 'dikerjain mentah2'? Apa iya juga kalau tidak ada ikhwah PKS diparlemen maka tatanan akan di 'rusak' dan dikuasai oleh non muslim? Sampai-sampai berfikiran kalau PKS tidak ada maka 'dunia kiamat'. Perlu diingat, PKS hanyalah satu diantara sekian banyak jama'ah minal muslimin di Indonesia. PKS hanyalah ijtihad tandhim IM Indonesia, yang bisa bubar sewaktu-waktu. Salah satu contoh klaim adalah perjuangan RUU Pornografi. Apa iya kalau tidak ada ikhwah PKS, RUU pornografi tidak akan lolos? Kesimpulan yang naif. Atas dasar fakta dan data apa sehingga bisa dijustifikasi seperti itu? Seharusnya kita sedikit membuka mata, yang namanya RUU pornografi yang mengajukan adalah pemerintah yang notabene digawangi menteri Dr. Mutia Hatta, dan digodok rame2 berbagai unsur. Bahkan sesungguhnya disahkannya UU Pornografi (meski banyak sekali hal-hal yg masih jauh dari Syariat Islam) karena dorongan dari luar parlemen yang begitu besar, bukan dari dalam parlemen. Perjuangan tentang UU Pornografi bukan hanya milik PKS. Tuty Alawiyah ketika menjabat menteri di Kabinet Habibie pernah mengajukan, meski ditolak. DPR tidak akan mensahkan, jika tidak ada dorongan masyarakat. Sehingga pada dasarnya RUU Pornografi merupakan rangkaian dari perjuangan bertahun-tahun, dan bukan cuma milik PKS. Itu cuma satu contoh, masih banyak contoh yang lain.
Demikian karakter kader PKS yang akhir-akhir ini sering saya temui. Semoga dapat menjadi bahan renungan buat kita semua, semoga dapat menjadi nasehat yang berhikmah. Terutama nasehat kepada diri saya pribadi.
Wallahu Ta’ala A’lam.

Kamis, 12 Februari 2009

Salah Kaprah Penafsiran Ayat “Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan”

Saya meminta maaf sebesar-besarnya. Tidak ada maksud untuk melegalkan perbuatan keji semacam fitnah. Tapi dalam artikel ini, saya hanya ingin berbagi informasi tentang bagaimana mendudukkan dan menafsirkan ayat tersebut secara benar dan adil.

Buat teman-teman yang sering menukil dalil ”wal fitnatu asyaddu minal qotli” , fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.Kalimat fitnah yang ada dalam ayat ini, bermakna umum. Untuk melihat maksud dari kalimat ini, kita tidak bisa memahaminya secara tekstual. Akan tetapi kita harus melihat ayat-ayat yang sebelumnya secara menyeluruh dan komprehensif.

Cuplikan lengkap dengan ayat sebelumnya, agar kita bisa melihat makna yang benar tentang arti fitnah tersebut adalah :

” Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang dibulan haram. Katakanlah: Berperang dalam bulan haram itu adalah dosa besar. Akan tetapi menghalangi orang dari jalan Allah, ingkar kepadaNya, menghalangi orang masuk masjidil haram dan mengusir penduduknya adalah lebih besar dosanya dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.(Al Baqarah 217)

Syaikh Abdurrahman Nashir as Sa’di dalam tafsirnya menyebutkan : Tiga hal ini (menghalangi manusia dari jalan Allah dan kufur kepada Allah/ berada dalam kemusrikan, menghalangi manusia masuk ke masjidil haram dan mengusir penduduknya) adalah lebih besar dosanya daripada pembunuhan/peperangan dibulan haram.Al Imam Baghowy dalam tafsirnya menyebutkan : Al fitnatu dalam ayat ini adalah “asyirku alladzi antum alaihi” artinya kesyirikan yang dilakukan oleh orang makkah.

Dari dua perkataan ulama tadi, jelaslah bahwa fitnah yang dimaksud dalam ayat ini adalah kekufuran atau kemusrikan. Bukan terminologi fitnah yang mungkin masih kita pahami sampai saat ini. Yaitu fitnah adalah membuat tuduhan atau berita palsu.

Dan kalau kita mencari dari beberapa kitab tafsir lainnya, tidak ada satupun ulama muktabar yang berpendapat bahwa fitnah dalam ayat ini adalah fitnah dalam artian membuat tuduhan palsu. Lagipula seandainya fitnah dalam arti membuat berita palsu itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan, maka hal ini bertentangan dengan banyak dalil.

Diantaranya adalah Alqur’an surat Al An’am ayat 151. Dalam ayat ini Allah mengurutkan dosa-dosa yang besar kemudian yang terkecil. Dan disana disebutkan pembunuhan setelah syirik dan durhaka kepada kedua orang tua. Juga hadits-hadits nabi tentang urutan dosa besar, nabi selalu menyebutkan pembunuhan setelah kemusrikan dan tidak menyebutkan satupun tentang menyebarkan berita bohong.

Pembunuhan mempunyai hukuman yang berat dalam islam, yaitu qishash. Balas bunuh atau diyat/penebusan sebanyak 100 ekor unta. Jikalau ”fitnah” lebih besar dosanya dari pembunuhan, apa sangsinya? Pernahkah kita mendengar orang memfitnah kemudian dihukum bunuh? Tidak ada!Bersaksi palsu, yang notabene lebih besar dosanya daripada fitnah karena bisa menyebabkan seseorang mendapat sangsi dari pengadilan dan masyarakat, hukumnya “hanyalah” cambuk.

Sekali lagi, saya menerbitkan artikel ini bukan untuk melegalkan atau meringankan dosa fitnah. Fitnah adalah dosa besar, bisa dilihat dari kisah haditsul ifki Aisyah ra. Rasulullah memerintahkan orang yang menyebarkan berita ini dihukum dengan hukum cambuk. Orang yang menyebarkan fitnah juga akan diambil pahalanya dan diberikan kepada orang yang didhaliminya. Jika sudah abis maka dosanya ditambah dengan dosa orang yang didhaliminya. Hanya saja, kita harus memilih dalil yang tepat untuk setiap kasusnya. Jika kita salah dalam mengutip dalil, atau menghukumi sesuatu dengan dalil sekenanya, maka ini termasuk berkata-kata tentang agama Allah tanpa ilmu. Ini pun dosanya besar.
Wallahu Ta'ala A'lam

Senin, 26 Januari 2009

Ulama Salafy Mengharamkan Demonstrasi, Paradoks-kah?













Ulama Salafy Mengharamkan Demonstrasi, Paradoks-kah?
Sebuah Sudut Pandang Buat Saudaraku Di Salafy

Pada masa awal invasi Israel terhadap Gaza di kotak Shoutbox saya ada ikhwah salafy yang berkomentar tentang sumbangan kita untuk masalah Palestina tidak usah demonstrasi! Cukup berdoa saja! Saya mengurut dada. Apakah saudara saya ini menutup mata? Lihatlah, betapa dahsyat efek tekanan dari aksi demontrasi di seluruh belahan dunia yang dilakukan oleh berbagai ras, agama dan kepercayaan terhadap pengambilan kebijakan di PBB? Tidak tahukah antum wa anti kalau mekanisme demokrasi sangat berbeda 180 derajat dengan diktatorisme monarki yang diterapkan Arab Saudi tempat ulama-ulama salafy (Allahu Yarham) kebanyakan bersemayam ? (catat : saya tidak setuju demokrasi dan monarki)

Kita sudah sering mendengar bahkan mungkin berdebat tentang fatwa haram demonstrasi yang dikeluarkan ulama-ulama salafy yang berbasis di daerah Hijaz. Saya sangat menghormati fatwa itu, dan banyak mengambil manfaat dari dalil-dalil yang beliau-beliau paparkan. Fatwa larangan tersebut sudah banyak dibantah oleh ulama-ulama yang sekufu (walaupun tidak diakui sekufu oleh ikhwah salafy) dengan ulama salafy. Tetapi saya tidak akan membahas masalah dalil-dalilnya pada tulisan saya kali ini (wong saya bukan ustad kok! Apalagi ulama) Saya hanya ingin menganalisa dari sisi sejarah dan politik, mengapa sesuatu yang hanya menjadi uslub, metode atau cara seperti demonstrasi yang hukum asalnya adalah mubah, mati-matian diharamkan oleh ulama-ulama salafy.

Pertama-tama, saya ingin tegaskan walaupun dibantah seribu macam dalil shahihah, salafy dari sisi sejarah adalah sebuah HARAKAH atau “GERAKAN”. Bahkan gerakan salafy lebih revolusioner dan ekstrim daripada gerakan Ikhwanul Muslimin. Kalau dalam gerakan Ikhwanul Muslimin mengenal tahapan-tahapan yang cenderung evolusionis. Maka gerakan salafy terbentuk secara frontal, revolutif, dan makar.

Yang kedua, saya sangat menghargai ulama-ulama salaf. Saya kagum dengan komitmen beliau-beliau terhadap pemurnian aqidah kaum muslimin. Gerakan salafy juga banyak memberikan inspirasi atas lahirnya gerakan-gerakan pembaharuan (tajdid) di belakang hari.
Adapun secara umum argumen untuk mengharamkan demonstrasi adalah sebagai berikut:
1.Ikhtilat ketika demonstrasi
2.Meniru orang kafir
3.Menggembar-gemborkan aib penguasa
4.Harus menasehati pemimpin secara baik
Jawab saya :
1.Untuk poin 1, sebagai orang awam saya hanya bisa berpendapat bahwa ikhtilat itu adalah EFEK/AKIBAT dan bukan TUJUAN demonstrasi. Menjadi haram kalau niatannya untuk ikhtilat. Sama seperti memegang pisau, kalau tujuannya untuk memotong sayur tidak ada masalah, tapi kalau pisau tersebut digunakan untuk membunuh baru berdosa.
2.Sedangkan untuk poin 2, meniru orang kafir, dapat disamakan dengan penggunaan internet teknologi orang kafir. Kalau digunakan untuk belajar apakah berdosa? Tapi kalau dipakai untuk browsing situs porno pasti hukumnya berdosa. Jadi intinya demonstrasi cuma alat, halal-haramnya tergantung dari si pengguna
3.Nah, untuk poin 3 dan 4. Disini analisis saya akan diperdalam. Tahukah antum saudaraku bahwa sebenarnya syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahhab hafidzahuLlah pelopor “gerakan” salafy ternyata melakukan perbuatan yang lebih “berdosa” (versi antum sendiri ya? Bukan berdosa versi saya) dari sekedar demonstrasi ? Apakah beliau bersabar dengan PENGUASA saat itu dan cuma berdoa dan menasehati diam-diam? Oh…tidak akhi/ukhti! Beliau MEMBERONTAK! Beliau melakukan KUDETA dan REVOLUSI! Tidak percaya ? Silahkan simak baik-baik ulasan sejarah saya dibawah ini :

Fakta sejarah yang tidak bisa dibantah bahwa kerajaan MONARKI modern Arab Saudi yang bertahta di Mekah dan Madinah saat ini berdiri diatas fondasi yang berdarah-darah dan penuh dengan intrik kudeta. Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, maka syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab menyebarkan dan mempelopori PEMBERONTAKAN, MAKAR, REVOLUSI dan KUDETA terhadap pemerintahan/penguasa yang sah yaitu khalifah Utsmaniyah yang menguasai tanah Hijaz saat itu. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya.

Pada tahun 1802, syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, beliau menyerang Madinah. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la.

“Gerakan” Salafy ini membuat Sultan Mahmud II, PENGUASA SAH Kerajaan Utsmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan “Salafy” surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung gerakan ini. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, Dinasti Sa’ud dan didukung oleh ulama salafy mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi.

Dari fakta sejarah itu telah terpampang dengan jelas! Bahwa gerakan salafy dimulai dengan gerakan makar terhadap penguasa sah! Penguasa kaum muslimin! khalifah umat islam! Benteng terakhir persatuan ummat! Tetapi anehnya sekarang, semenjak revolusi Makkah+Madinah oleh dinasti Saud, para pengikut gerakan ini menolak mengkritisi pemerintah dengan alasan menjaga kesatuan umat, menasehati secara ahsan, dan lain-lain. Bukankah itu sebuah paradoksal sejarah? Bukankah antum wa anti bisa melihat pertimbangan politik yang sangat kental dari fatwa tersebut? Apakah fatwa di negeri Hijaz tersebut bisa diterapkan di negeri seperti Indonesia?

Nah, yang menjadi pertanyaan? Argumen apalagi yang mendasari bahwa untuk menasehati pemerintah/penguasa harus secara diam-diam? Bukankah perbuatan nyata syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab lebih kuat nilainya daripada sekedar teori dan dalil-dalil? Renungkanlah wahai saudaraku…

Saya pernah berdiskusi tentang hal ini dengan salah satu senior saya dari Wahdah Islamiah yaitu dr. Ihsan Jaya (adik Ilham Jaya Lc). Beliau mengakui, dan memberikan perumpamaan kalau saja ulama-ulama Saudi membolehkan demonstrasi maka akan tumpah ruahlah seluruh mahasiswa Universitas2 di Saudi. Dan tentu saja akan menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Siapapun tahu, betapa represifnya dinasti Saud untuk menjaga hegemoni kekuasaannya. Nah khan!...masih berpikir bahwa di Indonesia ini demonstrasi itu mutlak diharamkan?

Beberapa minggu terakhir ini kita disuguhkan tontonan yang menyayat jiwa dan mengiris hati. Saudara-saudara kita di Palestina dibantai tanpa daya dan tanpa ampun oleh gerakan zionis Israel. Yang tragisnya, hampir semua pemimpin Negara Arab secara khusus dan dunia Islam secara umum hanya bisa jadi penonton, pengecam, pengutuk, tanpa bisa menekan Israel, bahkan ada yang diam membisu tak berkutik dibawah bungkaman Amerika.

Ada 2 negara yang sangat saya sesalkan dalam “kediam-an” yang memiriskan itu, yaitu Arab Saudi dan Mesir. Saya tidak heran dengan Mesir atas sikap diam-nya karena latarbelakangnya sebagai negara sekuler dan fakta bahwa Mesir berbatasan langsung dengan Israel. Saya tidak heran, tapi tidak membenarkan.

Yang menjadi sorotan saya dalam tulisan ini adalah negara yang menjadi sentral peribadatan kaum muslimin yaitu Arab Saudi. Kita tahu bahwa kerajaan ini didirikan dengan semangat dakwah dan pemurnian aqidah. Sebuah institusi besar yang meraup banyak dana dari ibadah haji, mendapatkan banyak berkah berupa sumber minyak yang melimpah dimana-mana. Tetapi diam seribu bahasa dan tak sanggup menegakkan harga diri kaum muslimin yang diinjak di depan ujung hidung mereka. Yang anehnya, da’i yang berasal dari sana (Arab Saudi) mayoritas sangat garang ketika mencecar saudaranya seiman tetapi sunyi senyap ketika menyaksikan penguasanya bermesraan dengan negeri kafir Amerika.

Contoh nyata adalah ketika diadakan pelaksanaan pertemuan pemimpin Islam di sebuah negara Arab (lupa yang mana..). Dimana di dalam pertemuan tersebut diadakan audiensi dengan HAMAS untuk mencari solusi atas permasalahan Gaza. Mesir dan Arab Saudi menolak hadir dengan berbagai macam alasan. Sebuah kenyataan yang membuat saya meneteskan airmata. Haruskah alasan politik menghalangi anda untuk sekedar bersilaturrahim dengan saudara anda yang sedang berjibaku mempertahankan sebidang negerinya dari kaum kafir? Kalau saja Rasul SAW masih hidup, apa argumen yang akan anda paparkan kepada beliau? Beranikah anda menatap wajah beliau? Oh.. afwan ya Rasul, saya tidak bisa hadir karena saya takut dituduh oleh kafir Amerika berkomplot dengan organisasi teroris seperti HAMAS. Ya Allah ya Rabbi..dimana hati pemimpin kaum muslimin ?
Ayna Antum Ya Amiirul Muslimun??

Darah seorang Muslim itu lebih berharga dari Ka’bah dan sekitarnya. Ingatlah mereka (pembesar Saudi) memiliki kemampuan untuk menghentikan kebrutalan Israel. Mana kekayaan jazirah Arab dari hasil devisa kota mekah yang tiap tahunnya mendatangkan jutaan bahkan milyaran dollar? Istana-istana di Arab juga sudah dipenuhi oleh anak-anak Adam yang krisis kemanusiaan. Apakah ini ajaran Rasulullah mengajarkan kita berdiam diri melihat saudara muslim kita dibantai? Dilecehkan harga dirinya?

Pandanglah secara jujur, obyektiflah! Tanyakan hati nurani, gerakan Ikhwanul Muslimin yang anda bid’ahkan mati-matian mungkin lebih mulia di sisi Allah karena telah membuktikan amal nyatanya berupa jihad mempertahankan kiblat pertama umat Islam.

Banyak fakta-fakta sejarah yang ditorehkan oleh perkembangan salafy yang cenderung untuk (maaf) memecah belah Islam dari dalam, contohnya adalah :
1.Ibnu Saud dan syaikh Abdul Wahhab memberontak, kudeta, makar dan revolusi terhadap pemerintahan Islam yang sah, yaitu Kekhalifahan Utsmani.
2.Ibnu Saud dan syaikh Abdul Wahab memberikan ‘konstribusi’ yang sangat besar terhadap perpecahan umat Islam diseluruh dunia, sebab mereka sejak pertama pendirian kerajaannya sampai detik ini tidak mencoba untuk mendirikan kekhalifahan Islam sebagai sarana pemersatu yang mutlak bagi kaum Muslimin dunia, tetapi mereka malah cenderung menerapkan pemerintahan monarki kuno kekeluargaan saja khusus untuk bangsanya sendiri disekitar jazirah Arab. Oleh sebab itu pulalah maka gerakan salafy sangat bertanggung jawab terhadap merebaknya faham-faham diluar Islam (kafir) ke dalam lingkungan kaum muslimin seperti : materialisme, sekularisme, atheisme serta faham-faham buatan makhluk yang lainnya.
3.Sifatnya yang selalu meminta bantuan dari kaum kafir yang digunakan untuk menyerang dan membunuh kaum Muslimin rupanya tetap dipertahankan sampai dengan detik ini. Sangat nyata didepan kita bahwa para pembesar Saudi mengulangi perbuatannya dengan meminta bantuan kafir (USA cs) demi mempertahankan kekuasaannya dengan jalan menempatkan pasukannya (mendirikan base camp) di wilayah yang dianggap memiliki makna yang dalam bagi kaum Muslimin. Malah berperang dengan Iraq yang MASIH kategori muslim (walaupun sesat), ikut membantu Amerika.

Bukankah Allah dengan tegas melarang mengambil orang-orang kafir sebagai penolong seperti penjelasan dari Alquran Surat An Nisa ayat 139???
Semoga kita semua terlindung dari Perpecahan, Taqlid A’ma serta Ujub Atas Ilmu

Minggu, 07 Desember 2008

Retorika Islam Dalam Kecaman!


Sebelum kita lebih jauh membahas tentang tema di atas, mungkin ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu makna dan defenisi retorika islam. Di dalam buku Retorika Modern karangan Jalaluddin Rahmat secara tersirat di gambarkan bahwa retorika adalah keterampilan berbicara, mengolah kata, dan bertutur untuk meyakinkan pendengar sehingga misi dan visi dari orang yang beretorika tersampaikan.

Meluas pada istilah retorika islam, DR Yusuf Al Qaradhawy dalam buku Khitabuna Fi Al Ashr memberikan defenisi tersendiri, yaitu ; pesan yang disampaikan atas nama islam kepada sekalian manusia; orang muslim atau nonmuslim, untuk mengajak mereka kepada islam, atau mengajarkan keislaman, dan mendidik mereka untuk memahami akidah, syariah, ibadah, muamalah, serta pemikiran dan tingkah laku. Atau juga menjelaskan posisi Islam terhadap problematika kehidupan; manusia dan dunia, individu maupun kelompok, spiritual maupun material, dan teori maupun praktik.

Tragedi WTC, Momentum Pemberangusan

Semenjak tragedi WTC tahun 2001 lalu, Amerika Serikat (global cop state) seolah-olah menjadi pahlawan kesiangan yang menghakimi setiap pihak yang dianggap terdakwa dengan berbagai justifikasi yang mereka klaim sepihak. Dua Negara telah menjadi korban tuduhan naïf dari “sang penguasa dunia” ini, yaitu Irak dan Afghanistan. Osama bin Laden serta Saddam Hussein adalah maskot yang oleh Amerika dikampanyekan sebagai penjahat (bad boy) dan Amerikalah yang bertugas untuk menjadi “super hero”pembasmi kejahatan.
”Anda bersama kami atau anda bersama teroris!” Sebuah slogan paling tragis yang pernah dikeluarkan oleh seorang kepala negara sebesar Amerika Serikat. Mengapa? Karena sebelum pernyataan itu dikeluarkan tidak didahului dengan penjelasan defenitif lagi obyektif tentang ; apakah terorisme itu, siapakah pelakunya, apa sangsinya, bagaimana prosedur penanganannya, dan seterusnya. Maka sampai saat ini yang timbul adalah interpretasi rancu dan kontradiktif.

Di satu sisi AS menggempur Irak dan Afghanistan dikarenakan kedua negara ini tidak mematuhi resolusi PBB yang jumlahnya tidak seberapa. Sedangkan ketika lebih banyak resolusi dikeluarkan oleh PBB untuk agresi Israel ke negara-negara tetangganya maka Amerika kemudian tiba-tiba menjadi ”pendiam”. Bahkan terkadang, untuk menolong ”rekannya” itu mereka menggunakan jatah hak veto untuk membatalkan sangsi yang akan dikeluarkan oleh PBB.

Amerika Mengecam Retorika Islam
Sebuah realitas yang gamblang tersaji di depan kita, ketika Amerika dan sekutunya (baca : Australia dan Inggris) membantah mati-matian bahwa perang yang mereka lakukan saat ini bukanlah melawan agama atau ideologi tertentu. Paradoks dengan pernyataan itu, di satu sisi mereka (Amerika dan sekutunya) menekan pemerintah negara-negara muslim untuk meninjau dan mengkaji ulang mulai dari sistem pemerintahan sampai dengan sistem pendidikan. Mereka menuntut agar kaum muslimin merevisi kembali retorika dasar yang telah mendarah daging semenjak zaman Rasulullah SAW.

Bolehkah retorika islam berubah?
Apakah retorika islam berubah dari masa ke masa? Apakah retorika islam di akhir abad 14 Hijriyah (sekarang) berbeda dengan retorika di zaman Rasulullah SAW? Bukankah agama sebagai sumber retorika tidak berubah (baku)? Jawabannya adalah, agama Islam memang tidak berubah dalam pokok yaitu; akidah, ibadah, akhlak, dan hukum syariatnya.
Tetapi hal hal-hal yang boleh berubah dan di koreksi ulang adalah ; peninjauan ulang strategi dakwah, ijtihad-ijtihad yang tidak membumi, metode penyampaian islam, penertiban skala prioritas, cara pandang dan interaksi. Tapi sekali lagi yang perlu dicatat dalam koreksi ini adalah berlakunya standar baku yang tidak berubah-ubah karena perubahan waktu dan tempat. Salah satu contoh standar baku itu adalah tidak berkompromi dalam masalah yang telah disepakati kaum muslimin seperti ; haramnya meminum alkohol, haramnya wanita memimpin shalat pria, haramnya zina dan lain sebagainya.

Retorika islam yang boleh berubah adalah hal-hal yang tidak masuk dalam standar baku. Contoh yang paling elegan adalah mengganti penyebutan istilah ”kafir” kepada orang-orang di luar islam yang relatif berkonotasi kasar, dengan menggunakan istilah yang lebih halus lagi seperti ”non muslim”. Dalam Al Qur’an sendiri, mengajarkan agar kaum muslimin tidak sering menggunakan panggilan kafir kepada orang-orang yang tidak menganut islam. Seruan Al Qur’an terhadap manusia yang tidak beriman adalah ; hai manusia, hai bani Adam, hai hamba-hambaKu, atau hai ahli kitab. Seruan dengan menggunakan istilah kafir hanya terdapat dalam dua ayat ”saja” yaitu pada ; Surat At Tahrim dan Surat Al Kafirun. Perubahan retorika seperti di atas tidak menyalahi kaidah dasar, apalagi jika sesuai dengan realitas kekinian umat manusia serta bebas dari tekanan ”pihak luar”.

Argumen perubahan retorika islam

Di dalam sejarah islam, perubahan retorika bukanlah hal yang baru. Hal tersebut telah dilakukan jauh-jauh hari oleh generasi awal islam. Khalifah Umar bin Khattab RA pernah mengubah istilah jizyah (semacam pajak perlindungan) yang menimbulkan ketersinggungan buat ahlu dzimmah (penganut agama di luar islam yang berada di bawah perlindungan pemerintah muslim).

Argumen selanjutnya atas perubahan retorika selain perbuatan Umar RA adalah Al Qur’an itu sendiri. Kita melihat retorika ayat Al Qur’an yang turun di Makkah berbeda dengan retorika ayat Al Qur’an yang turun di Madinah. Hal ini bukanlah sesuatu yang asing dan baru (baca : bid’ah) buat orang-orang yang mendalami ilmu Al Qur’an. Secara global, pokok-pokok bahasan ayat Al Qur’an yang turun di Makkah sangat berbeda dengan yang turun di Madinah. Demikian pula dengan gaya bahasa yang digunakan.

Kelemahan retorika islam saat ini
Akan tetapi, ada fenomena yang patut disayangkan dari segelintir penyeru agama islam. Keluwesan merubah dan berkreasi menyampaikan islam, terkadang tidak digunakan sebagaimana mestinya. Sebagian dari para da’i islam (walaupun tidak seluruhnya) masih kaku dan cenderung apatis dengan realita global saat ini.

Ada beberapa da’i yang menyerukan permasalahan yang tidak terlalu mendesak, berlebih-lebihan dalam hal-hal yang sunnah, kemudian mengabaikan prioritas yang wajib. Sebagai contoh, sibuk mengurus cadar karena tidak puas dengan jilbab, bahkan mengatakan dosa atas wanita yang hanya mengenakan jilbab. Padahal, yang dipertontonkan kepada kita saat ini bukan hanya sekedar membuka wajah, tetapi membuka kepala, pundak, dada, tangan, dan betis.

Seharusnya para da’i ini menyadari urgensi dari fiqh aulawiyat (fiqh prioritas). Menyerang dan mengecam permasalahan yang tidak terlalu substantif justru akan mendatangkan fitnah buat agama islam itu sendiri. Mempermasalahkan jenggot, kain di atas mata kaki, cadar, haram halalnya musik bukanlah permasalahan utama yang dihadapi oleh kaum muslimin. Akan tetapi permasalahan yang paling mendesak adalah ; klarifikasi terorisme dalam islam, kemuliaan peran wanita dalam islam, keadilan dan persamaan, berlaku jujur (tidak korupsi), akhlak yang mulia, itulah beberapa contoh ”masalah” yang perlu kita perhatikan.

Mengapa hanya retorika islam ?
Diatas telah dijelaskan tentang kecaman serta tuntutan Amerika dan sekutunya agar umat muslim meninjau ulang retorika keberagamaannya. Tetapi hal yang jarang ditanggapi oleh masyarakat dunia adalah tuntutan agar mereka (yang mengkritisi islam) juga mengubah retorika mereka sendiri terhadap islam.

Kenapa hanya kaum muslimin saja yang terus-menerus dikecam ajaran dan doktrin keagamaannya? Kenapa Amerika tidak mengoreksi Yahudi yang menginvasi negara tetangganya? Dan membantai ratusan penduduk Lebanon dan ribuan warga Palestina? Kenapa mereka tidak meninjau kembali pandangan dan kebijakan yang mendorong mereka untuk melegitimasi permusuhan terhadap islam? Mengapa hanya kaum muslimin?
Kita berharap agar orang-orang yang mengecam serta menuntut revisi dan peninjauan ulang terhadap retorika agama dari kaum muslimin, agar mereka juga mengarahkan tuntutan serupa kepada orang-orang yang mengobok-obok islam (doktrinnya, tanah airnya dan penganutnya). Inilah tuntutan keadilan dan persamaan dari pihak-pihak yang berselisih selayaknya hukum universal yang telah disepakati bersama.

Tulisan ini bukanlah seruan anti semit atau anti barat, karena yang di benci bukanlah golongan, ras atau agamanya. Tetapi yang di kecam adalah pembantaian, terorisme, ketidakadilan dalam interaksi antara satu manusia dan manusia yang lain. Siapapun dia, dari agama, suku, atau golongan apapun. Selama dia membuat dunia menjadi tidak tenteram dan aman dengan perilakunya, maka dia adalah musuh bersama umat islam dan umat manusia sedunia.
Wallahu ’Alamu Bisshowab....

Kedudukan Hadits “Perpecahan Ummat Menjadi 73 Golongan”


Terdapat hadits tentang perpecahan ummat menjadi lebih dari tujuhpuluh golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Hadits ini masih dipertanyakan keabsahan riwayatnya.


“Orang Yahudi berpecah belah menjadi 71 atau 72 golongan, orang2 Nasrani berpecah belah menjadi 71 atau 72 golongan, sedangkan ummatku berpecah belah menjadi 73 golongan.Semuanya dineraka kecuali satu golongan.”

1. Pertama kali harus diketahui bahwa hadits ini tidak terdapat sama sekali di dalam kitab Ash Shahihain, padahal masalahnya sangat penting. Ini berarti hadits tersebut tidak shahih menurut salah satu syarat dari keduanya (Bukhari dan Muslim). Sekalipun kitab Ash Sahihain tidak mencakup seluruh hadits shahih, tetapi keduanya tidak pernah meninggalkan satupun masalah penting. Pasti akan disebutkan didalamnya walaupun satu hadits.

2. Sebagian riwayat hadits tersebut tidak menyebutkan semua golongan akan masuk neraka kecuali satu, tetapi hanya menyebutkan perpecahan dan jumlah golongan yang muncul.

Hadits ini pula dinyatakan hasan shahih, oleh Turmudzi serta dishahihkan pula oleh Ibnu Hibban dan Al Haki. Riwayatnya dari jalan Muhammad Bin Amer bin AlQamah bin Waqqash Al Laitsi. Siapa saja yang membaca riwayatnya didalam Tahdzibu ‘T Tahdzib pasti akan mengetahui bahwa dia seorang perawi yang dipermasalahkan segi hafalannya. Bahkan tidak ada yang menilainya sebagai orang yang tsiqat (terpercaya). Semua ahli hadits menyebutkan bahwa dia lebih kuat dari orang yang lebih lemah darinya. Oleh sebab itu, Al Hafidzh didalam kitab At Taqrib mengatakan : “Dia orang yang jujur tetapi banyak keraguan” Padahal kejujuran saja dalam masalah ini belum cukup bila tidak didukung dengan kekuatan hafalan (dlabt), apalagi dia termasuk orang yang banyak keraguan.

Perlu diketahui bahwa Turmudzi, Ibnu Hibban dan Al Hakim adalah termasuk perawi yang sangat gampang menshahihkan suatu hadits, Khususnya Al Hakim, sangat longgar dalam mensyaratkan sebuah hadits shahih.Disini Al Hakim menshahihkan hadits diatas menurut syarat muslim karena Muhammad Bin Amer adalah perawi yang dipakai oleh muslim. Tetapi Adz Dzahabi menolaknya karena muslim tidak pernah memakainya dalam satu hadits sendirian.

3. Dikalangan ulama terdahulu dan sekarang ada yang menolak hadits tersebut baik dari segi sanadnya ataupun dari segi matan dan maknanya. Adapun komentar-komentarnya adalah Sebagai berikut :

- Al Allamah Ibnu’l Wazir :” Janganlah kalian tertipu oleh hadits lemah yang menyatakan semuanya di neraka kecuali satu golongan. Itu adalah tambahan batil dan tidak benar bahkan merupakan rekayasa orang-orang mulhid”.
- Ibnu Hazm : Ini adalah hadits palsu. Tidak mauquf (sampai kepada sahabat) juga tidak marfu’ (sampai kepada Rasul SAW). demikian pula hadits-hadits tentang celaan terhadap Qadariah,Murju’ah, dan Assyariah. Semuanya adalah hadits-hadits Dhaif dan tidak kuat. (Al Awashim Wal Qawashim ,/186)”
- Al Hafidzh Ibnu Katsir : “ Disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan dari beberapa jalan dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda :”Ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. semuanya di dalam neraka kecuali satu golongan” Ibnu Katsir tidak menyebutkan hadits itu shahih atau hasan, bahkan tidak menambah penjelasan, padahal menjadi kebiasaan beliau adalah ia menafsirkan secara panjang lebar dengan menyebutkan hadits2 dan atsar2 yang sesuai dengannya.

Kesimpulan :
Bahwa hadits mengenai terpecah belahnya ummat islam ke dalam 73 golongan keshahihan haditsnya masih dipertanyakan. Dan celakanya adalah saling klaim antara setiap manhaj da’wah atau mazhab tertentu yang mengatakan merekalah golongan paling selamat daripada yang lain.

Walaupun di hasan atau shahihkan oleh beberapa ulama, hadits tersebut tidak menunjukkan perpecahan itu dengan bentuk dan jumlah yang abadi hingga hari kiamat. Bila pada suatu masa telah muncul perpecahan maka cukuplah itu sebagai bukti kebenaran hadits itu.

Bisa jadi sebagian dari golongan2 itu telah muncul kemudian berhasil ditumbangkan oleh kebenaran hingga lenyap selamanya. Dan inilah secara riil terjadi dengan golongan yang menyimpang sebagian daripadanya telah lenyap.

Selain itu hadits tersebut menunjukkan bahwa semua golongan itu adalah bagian dari ummat Nabi SAW, karena Nabi SAW bersabda : “Ummatku berpecah belah”. Ini berarti bahwa golongan2 itu kendati banyak melakukan bid’ah tidak keluar dari millah (agama) dan tidak terlepas dari tubuh ummat islam.

Adapun keberadaannya nanti dineraka, tidak berarti akan tinggal selamanya sebagaimana orang kafir. Tetapi mereka akan masuk ke dalam neraka sebagaimana orang mu’min yang melakukan maksiat.

Bahkan mungkin saja mereka akan mendapatkan syafaat dari orang yang berhak memberi syafaat, atau mungkin Allah akan mengampuni mereka dengan karunia dan kasih sayangNya. Khususnya jika mereka sudah mengerahkan segala upayanya untuk mencari kebenaran tapi masih salah jalan. Wallahu ‘alamu bisshowab....

Dari Makkah Ke Yerusalem

Palestina. Mendengar namanya kita akan teringat sebuah wilayah yang penuh gejolak historis dan fundamentalisme ideologi. Tiga agama samawi terbesar dan paling berpengaruh di dunia (Islam, Nasrani dan Yahudi) menjadikannya sebagai sentral peribadatan dan area geografis yang disucikan.

Semangat untuk menjadikan Palestina sebagai domain eksistensi doktrin tertentu selalu menjadi pangkal permasalahan mengapa tanah suci ini selalu berpeluh darah dan bersimbah keringat pejuang militan dari ketiga ideologi di atas. Tanah kelahiran Yesus, kiblat pertama ummat Islam, dan tanah yang dijanjikan (the promised land) adalah slogan dan simbol yang selalu terpancang dengan kuat di sanubari petarung-petarung ideologis ini.

Ada semacam teori yang tidak tertulis, bahwa siapapun yang mengelola dan menguasai Palestina, alamat merekalah yang akan berperan besar dalam perubahan arah hidup umat manusia sedunia. Hal ini telah disepakati secara sadar maupun tidak sadar oleh realitas sejarah. Hijrah besar-besaran bangsa Yahudi dari Mesir ke Palestina, Perang Nabi Daud AS versus Jalut (David vs Goliath), Pembebasan Palestina oleh Umar ibnu Khattab, Perang Salib (Crusade War), dan terakhir Gerakan Zionisme Israel mendukung teori ini.

Makna Isra Mikraj dan Palestina kepada eksternal Islam

Menyebut kata Isra’ dan Mikraj mau tidak mau kita ”dipaksa” teringat dengan Palestina. Tanpa mengesampingkan urgensi pemaknaan yang lain, banyak ahli sirah (sejarah islam) yang menyebutkan bahwa salah satu hikmah penting peristiwa Isra adalah sebagai tonggak awal pelimpahan wewenang kepemimpinan agama Allah dari kaum Yahudi kepada kaum muslimin yang dalam hal ini diwakili oleh klan Quraisy dari bangsa Arab. Peristiwa perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina merupakan salah satu isyarat dari Allah Azza Wa Jalla bahwa bangsa Israil telah gagal menjalankan amanat kepemimpinan agama. ”Reshuffle” ini kemudian semakin dipertegas dengan dipindahkannya kiblat umat islam yang semula menghadap ke Masjidil Aqsha beralih menghadap Masjidil Haram.

Selain sebagai penguji keimanan para pengikut awal (as-sabiqunal awwalun) Islam serta penafsiran diatas. Peristiwa Isra dan Mikraj juga memperlihatkan ada kaitan religiusitas antara Nabi dari kalangan Yahudi (mulai Nabi Ishak AS sampai Nabi Isa AS) dengan ajaran yang di bawa oleh Muhammad bin Abdullah SAW. Ada semacam penegas bahwa Tuhan yang berbicara kepada Nabi Musa AS di bukit Thursina adalah sama dengan Tuhan yang menurunkan kitab Zabur dan Injil serta tidak berbeda dengan Tuhan yang mewahyukan nubuwwah kepada Muhammad SAW di Gua Hira. Seolah-olah Allah SWT ingin menunjukkan kepada pengikut agama terdahulu bahwa Muhammad SAW adalah penerus mandat ilahi selanjutnya.

Ada sebuah fakta yang cukup unik sebagai pembuktian analisa di atas bahwa ternyata sebelum terjadinya peristiwa Isra dan Mikraj bahkan sebelum Muhammad SAW diangkat sebagai mandataris ilahi, ternyata interaksi antara beliau dengan kebudayaan-kebudayaan dengan langgam budaya supraposisi seperti Romawi, Yunani dan Persia jarang terjadi. Rasul SAW tidak pernah menjalin komunikasi secara intensif dengan seorang pendeta Nasrani atau seorang Rabbi Yahudi, kalaupun ada hanyalah kebetulan dan sepintas lalu. Seperti peristiwa bertemunya beliau dengan Pendeta Bukhaira sewaktu berdagang bersama pamannya ke Syam. Bahkan untuk sempat mendengar dan membaca literatur-literatur klasik agama samawi terdahulu beliau tidak sempat melakukannya, karena di Arab pada saat itu tidak mempunyai sebuah perpustakaan ditambah lagi beliau adalah orang yang sama sekali buta huruf.

Adalah sebuah fenomena menarik jika seorang ummi (buta huruf) di bangsa Arab pada abad ke tujuh masehi seperti Muhammad SAW dapat menceritakan dengan gamblang, rinci serta akurat tentang peristiwa Nabi Yusuf AS, dakwah Musa AS kepada Fira’un, kisah Ashabul Kahfi, percakapan antara Ibrahim dan Azar bapaknya, dan lain sebagainya. Yang notabene kisah-kisah ini hanya populer di kalangan agama samawi terdahulu dan sangat asing di telinga orang-orang yang sezaman dan segeografis dengan beliau. Orang-orang Arab pada waktu itu masih terisolasi dan hanya tertarik dengan cerita-cerita kepahlawanan bangsa mereka, dibanding mendengarkan dan menelaah seruan-seruan pendeta Yahudi dan Nasrani. Lantas darimana Muhammad SAW mendapatkan referensi semua cerita-cerita tersebut? Apakah mungkin beliau mengarang dan mereka-reka sebuah cerita yang masih sangat asing bagi kaum dan bangsanya? Dalam ajaran islam, fenomena inilah yang disebut dengan wahyu. Dan variabel ini juga menjadi salah satu mukjizat pembuktian bahwa beliau adalah benar-benar sebagai ”sang pembawa pesan dari langit”.

Makna Internal Isra Mikraj buat Islam

Bangsa Arab di abad ke-7 Masehi masih terkungkung dalam perasaan inferior dan ketidakpercayaan diri. Mereka merasa kerdil karena tidak memiliki latar belakang ideologis dan peran dalam peradaban dunia yang semegah dan sehebat bangsa Israil. Mereka merasa lebih dekat secara emosional dengan bangsa Persia yang penyembah api karena latar pemahaman politheisme yang serupa tapi tak sama. Bangsa Israil dianggap asing karena latar belakang ideologi yang jauh berbeda dengan konsep agama wahyu yang relatif monotheisme.

Kemudian terjadilah peristiwa Isra dan Mikraj ini. Maka jika ditilik lebih dalam lagi, kita akan menemukan bahwa peristiwa Isra (khususnya) dan Mikraj bukanlah sebuah tragedi kebetulan dan aksidental. Tapi peristiwa ini pastilah memiliki skenario yang sangat rapi terskematis secara faktual dan argumentatif. Kita akan menemukan sebuah keterikatan mendalam antara dua buah kota suci dan dua buah sentrum religi yaitu Makkah dan Yerusalem serta Ka’bah dan Al Quds. Dua faktor ini menunjukkan ”pilihan yang matang dari langit” dalam rangka menegaskan penerus tugas selanjutnya untuk membimbing manusia menuju fitrah keberagamaan yang sejati.

Internalisasi pemahaman yang menuntut sebuah kesadaran baru kepada bangsa Arab di kala itu, akan adanya sebuah kultur yang secara paternalistik memiliki hubungan erat dari sesama keturunan Ibrahim AS nun jauh di Palestina sana. Peristiwa Isra Mikraj ini, menyentakkan kembali bangsa Arab yang sebelumnya teralienasi dari hiruk-pikuk keramaian jajanan ketuhanan yang selama ini didominasi oleh bangsa Yahudi dan Romawi. Bahwa mereka ternyata bukanlah orang asing di kancah peradaban dunia ini. Mereka adalah keturunan Ismail AS yang tidak kalah mulia dan terhormat serta pantas untuk mengimbangi arogansi bangsa Yahudi ketika itu, yang mengklaim bahwa merekalah bangsa yang dipilih oleh Tuhan. Sehingga jikalau ada bangsa yang pantas untuk menggantikan posisi Yahudi (yang telah dikaruniai banyak nabi dan rasul) dari singgasana ”kepemimpinan agama” maka bangsa Arablah orangnya. Setidaknya kepercayaan diri inilah yang ingin dimunculkan oleh Allah SWT melalui peristiwa Isra dan Mikraj. Allah SWT ingin memuliakan bangsa Arab bahwa mereka pantas dan layak untuk meneruskan tugas agung pengemban risalah ketuhanan ini.
Palestina haruskah tercemari?

Kalau kita melihat hikmah yang terpapar diatas, maka pertanyaan yang muncul kemudian bisa saja beraneka ragam di benak kita. Akan tetapi diantara pertanyaan yang banyak itu penulis hanya ingin mengemukakan pertanyaan yang terkait dengan judul diatas. Pertanyaan tersebut adalah ; apakah pantas Palestina yang seharusnya menjadi ruang pertemuan antara dua bangsa yang masih terhitung ”sepupu” tercemari oleh genangan darah dari kedua belah pihak?

Menjawab pertanyaan ini, maka Islam telah mentolerirnya dengan sangat bijaksana. Di dalam Alqur’an, agama Yahudi dan Nasrani tidak serta merta disamaratakan dengan penyembah berhala Latta dan Uzza. Penganut Yahudi dan Nasrani selalu di seru dengan gelaran ”Ahlul Kitab” berarti orang-orang yang telah diberikan kitab terdahulu berupa Injil dan Taurat. Sebuah gelaran yang santun dan sangat menekankan persamaan, dimana Allah SWT sangat mengharapkan agar dengan sebutan ahlul kitab ini orang-orang yang di seru terketuk hatinya dan mau memandang Islam secara adil. Adapun kecaman yang muncul di dalam Alqur’an semata-mata karena sang ahlul kitab tidak objektif memandang Islam dan menyembunyikan fakta di dalam kitab-kitab terdahulu.

Apakah ungkapan pernyataan diatas hanyalah retorika yang hampa dari aksi yang nyata? Ternyata tidak! Sejarah mencatat ketika Khalifah Umar Al Farouq atau Sultan Shalahuddin Al Ayyubi membebaskan Palestina, maka umat dari berbagai macam agama merasakan sebuah ketentraman. Kebijaksanaan penguasa Islam dalam menempatkan kota suci Palestina telah diakui oleh seantero dunia. Salah satu pengakuan yang paling sederhana dan terkini bisa kita temukan dalam film Kingdom Of Heaven yang dibintangi oleh Orlando Bloom.

Kemudian datanglah gerakan Zionis yang berusaha untuk meluluhlantakkan ketenangan yang selama ini terasa di Palestina. Gerakan ini senantiasa berusaha untuk mengenyahkan salah satu etnis (arab/Islam) dalam mencapai tujuannya. Seharusnya jika bangsa Israil tidak mengedepankan egoisme doktrinnya dan memandang dengan ikhlas, bahwa ternyata bangsa Arab masih memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan mereka maka tragedi berdarah inipun akan terhenti. Cuma mungkin faktor ini telah tergerus oleh realita sejarah bahwa mereka adalah bangsa yang terusir dari Timur Tengah (peristiwa Khaibar) oleh khalifah Umar. Padahal pengusiran itu merupakan akibat dari pengkhianatan yang dilakukan oleh bangsa Israil sendiri. Merujuk pada hikmah peristiwa Isra dan Mikraj, seharusnya tidak boleh ada sekat yang menghalang silaturrahim kedua bangsa dan agama ini. Karena mereka berasal dari satu bapak, satu nenek moyang yaitu Ibrahim AS.

Mungkin ajakan ini terasa sangat naif dan utopis, tetapi sebagai insan yang sudah jengah dan bosan terhadap kepongahan satu umat tertentu kepada umat yang lain maka ajakan ini patut kita renungi bersama. Wallahu ’Alamu Bisshowab.