Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2009

Memilih atau Tidak Memilih

Memilih atau tidak memilih itulah pertanyaan besar pekan-pekan ini sehubungan Pemilu Presiden. banyak yang menyatakan kekecewaan terhadap ke 3 pasangan kandidat, banyak juga kekecewaan terhadap partai-partai. Infomasi yang berseliweran dengan cepat, bertentangan satu dengan yang lain, komentar-komentar provokatif pengamat, silang pendapat di media menambah hiruk pikuk dunia politik yang sedang memanas, dan tentunya masyarakat yang peduli urusan politik, semakin bingung dan gamang menentukan pilihan...tapi hei ! hal itulah yang memang sedang di lancarkan oleh setiap tim sukses kandidat...mengoyahkan keyakinan kita dengan menebar berita busuk , mengeksplotasi setiap celah kelemahan kandidat lawan

nah kalau anda bertanya, bagaimana dengan saya ?

Percayalah kawan saya sama sekali tidak bingung, saya tahu dan mengerti sekali tidak setiap pemberitaan tersebut sesuai dengan kenyataan terkadang terjadi misinformasi, perbedaan persepsi , daya tangkap, dan kaca mata cara pandang terhadap persoalan. sederhananya apapun yang kita lihat di TV atau di Koran, tidak sepantasnya serta merta dijadikan dasar perubahan keyakinan

Seperti yang setiap muslim tahu..manakala datang berita jelek tentang saudara kita -apalagi berasal dari sumber yang tidak otoritatif- maka selayaknya kita tabayyun langsung, bila keadaan tidak memungkinkan maka berprasangka baiklah, tokh ia saudara seiman juga.

Berkenaan langsung dengan kegamangan dan kebingungan yang melanda banyak orang ini..saya tegaskan bahwa jama'ah dakwah ini telah mengambil posisi melalui forum majelis syuro untuk ber musyarokah dengan salah satu kandidat, dan karenanya bila keputusan syuro telah tetap, maka ia mengikat kita semua untuk mengikutinya sesuai bayanat yang ada. pertanyaannya apakah keputusan ini tepat atau tidak ? banyak kepala tentu banyak pendapat, namun saya memilih untuk meyerahkan pilihan saya pada keputusan yang ada, sebagai suatu ijtihad. Ijtihad yang diambil oleh forum yang memang berwenang, dan di isi oleh generasi terbaik yang kita miliki.

Bila waktu membuktikan keputusan tersebut benar maka 2 pahala tercatat, bila ternyata salah maka 1 pahala tercatat, transaksi yang bagus bukan ? sebaliknya bila kita memilih berdasarkan pengamatan pribadi yang terbatas lagi dipenuhi hawa nafsu, melalui perantara media yang seringkali bias dan berpihak tentu besar kemungkinannaya kita akan merugi.

Sama saja untuk yang terfikir Golput, sementara fatwa majelis ulama telah menyatakan haram, ketiga kandidat adalah muslim, yang memiliki kapasitas dan pengalaman, tidak ada alasan untuk menolak memberikan suara. kalaupun ternyata memberikan suara kita itu salah tokh tetap ada pahala tercatat karena kita mengikuti fatwa, transaksi yang aman bukan ?

Jadi kawan masalahnya sederhana saja sebenarnya.. pertama adakah kepercayaan kita terhadap jama'ah dakwah ini utuh atau tidak? percayakah kita bahwa para qiyadah adalah generasi yang lebih baik dari kita pribadi dan karenanya layak mengemban amanah kepemimpinan dan menjadi wali atas urusan-urusan kita ?

Kedua bila premis pertama telah selesai maka berikutnya adalah maukah kita melepaskan ego intelektual kita, berhenti membanggakan ketajaman analisa kita, merobek baju kesombongan yang kita pakai seraya memberikan kepercayaan dan prasangka yang baik pada pemimpin kita yang dengan rendah hati kita akui memang adalah generasi yang lebih baik dari kita di mata Allah swt.


The wise is not the one who differentiates good from bad. It is the one who differentiates the best out of two good choices, and the worst out of two bad choices
 -Amru ibn Ash Ra.-

Kamis, 12 Maret 2009

"Tekad" kita

Kawan ingatkah kalian senandung yang satu ini..lama sudah tidak kita dendangkan bersama..

ingatkah kalian senandung yang lantang kita teriakkan dengan buncah kebanggaan menyesak dada? dengan bulir air mata kerinduan dan kebulatan tekad

senandung yang mengikat kita di jalan yang satu ini, senandung yang menegaskan identitas kita, senandung harapan dan cita-cita kita

masihkah kalian ingat bagaimana ia di dendangkan?

tahun dan dekade berlalu masihkah kalian senandungkan ia dalam hati?, tidakkan kalian senandungkan ia untuk generasi berikutnya?

TEKAD

Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri

Aral menghadang dan kedzaliman yang akan kami hadapi
Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati
Jasad ini , darah ini sepenuh ridho Ilahi

Kami adalah panah-panah terbujur
Yang siap dilepaskan dari bujur
Tuju sasaran, siapapun pemanahnya

Kami adalah pedang-pedang terhunus
Yang siap terayun menebas musuh
Tiada peduli siapapun pemegangnya

Asalkan ikhlas di hati tuk hanya Ridho Ilahi

Kami adalah tombak-tombak berjajar
Yang siap dilontarkan dan menghujam
Menembus dada lantakkan keangkuhan

Kami adalah butir-butir peluru
Yang siap ditembakkan dan melaju
Mengoyak dan menumbang kezaliman

Asalkan ikhlas di hati tuk jumpa wajah Ilahi Rabbi

Kami adalah mata pena yang tajam
Yang siap menuliskan kebenaran
Tanpa ragu ungkapkan keadilan

Kami pisau belati yang selalu tajam
Bak kesabaran yang tak pernah akan padam
Tuk arungi da?wah ini , jalan panjang

Asalkan ikhlas dihati menuju jannah Ilahi Rabbi

Jumat, 10 Oktober 2008

Kebobrokan Peradaban Barat

Jumat, 10 Okt 2008 13:34

Tidak diragukan lagi bahwa kejadian besar yang menimpa umat Islam mendorong kita untuk selalu merenung tentang keadaan dan apa yang menimpa mereka dari pergantian hari dan tipu daya malam.

Taujih Ustadz Mahdi 'Akif
Mursyid 'Aam Ikhwanul Muslimin

Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam bagi Rasulullah dan orang-orang yang mengikutinya, amma ba’du.

Tidak diragukan lagi bahwa kejadian besar yang menimpa umat Islam mendorong kita untuk selalu merenung tentang keadaan dan apa yang menimpa mereka dari pergantian hari dan tipu daya malam. Dulu, mereka berpegang teguh pada agamanya. Merekalah umat yang luhur, dimana tentara mereka dapat berdiri tegak di hadapan pasukan musuh yang melampaui batas, yang terbesar pada masa itu.

Mereka mengatakan “Sesungguhnya Allah mengutus kami untuk mengeluarkan umat ini dari penyembahan kepada hamba sahaya menuju penyembahan kepada Allah Ta’ala yang satu. Mengeluarkan manusia dari kezaliman berbagai agama kepada keadilan Islam. Membebaskan manusia dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat.”

Begitupun para penggantinya, pernah menyampaikan dengan penuh percaya diri kepada awan yang berhembus di udara, “Turunkanlah hujan sekehendakmu, maka pastilah curahanmu akan menimpaku.” Salah satu pemimpinnya menceburkan kudanya ke lepas pantai, dimana berakhirlah satu bidang bumi di hadapan matanya, lalu ia berkata, “Demi Allah, seandainya aku tahu bahwa di belakangmu ada daratan dimana orang mengkafirkan Allah, pastilah aku akan memeranginya di jalan Allah.”

Maka (seolah-olah) bumi dilipatkan untuk mereka, semua kesulitan dimudahkan, dan tegaklah hukum keadilan dimana mereka berada. Dan (saat itu) tidak ada orang merdeka yang diperbudak di tanah mereka, juga tidak ada orang yang dizalimi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (pernah) berdiri untuk jenazah orang Yahudi yang lewat di depan mereka seraya berkata, “Bukankan ia juga manusia?”

Dan khalifah mereka, Al-Faruq, pernah menyuruh seorang Nashrani dari mesir untuk meng-qishash anak dari gubernur mereka seraya berkata, “Sesungguhnya, seorang anak tidak memukul kecuali dengan kekuasaan ayahnya.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang kekal (dalam ingatan) hingga sekarang, “Ya ‘Amr, sejak kapan kamu memperbudak manusia, sedangkan ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

Peradaban yang Manusiawi
Hampir berlalu satu atau dua generasi, hingga Islam menjadi sebuah ”butik peradaban” yang memiliki bangunan canggih. Di dalamnya menyatu berbagai penghasilan alam. Maka muncullah dari golongan ahli hadits Imam Bukhari, Muslim An-Nîsâbûrî, Abu Dawud as-Sajastanî, dan An-Nasai. Begitu juga Ibnu Hambali Al’Arabi Asy-Syibani. Dan dari golongan ahli tafsir diantaranya Ath-Thabari dan Qurthubi. Begitu juga Ibnu Katsir, Al-Arabi Al-Qurasyiyyi. Kemudian dari ilmu kedokteran dan filsafat diantaranya Ar-Raazi, Ash-Shaby, Ibnu Rusyd Al-Andalusy.

Mereka mengangkat syi’ar: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Mereka juga mempunyai seruan: “Tidak ada keutamaan orang Arab atas orang asing kecuali dengan ketaqwaan.”
Zaman silih berganti, dan setiap sesuatu kalau tidak sempurna pasti ada kekurangan. Faktor kelemahan menghinggapi umat Islam dari sisi internal, juga faktor tekanan yang terus menerus dari sisi eksternal. Dan bergoncanglah martabat Islam dalam diri umat ini dan pimpinannya. Tentaranya rapuh dan perlawanannya luluh serta musuh-musuh punya pengaruh dari segala sisi. Benarlah apa yang difirmankan Allah Ta’ala: “Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya" (QS. Al-Kahfi: 20).

Perang Salib
Penjajah bangsa barat kemudian menancapkan cakarnya, dari Turkistan timur, Filiphina dan Indonesia dari sisi sebelah timur sampai negeri Spanyol dari sisi barat. Dan dari Eropa tengah di sisi utara sampai Afrika di sisi selatan.

Semuanya dalam satu serangan yang dilancarkan kepada mereka dan menewaskan jutaan kaum muslimin. Hasil-hasil bumi mereka dirampas secara rapi dan budi pekerti anak bangsa mereka dihancurkan dengan sengaja. Di antara mereka terdapat jarak antara sebab-sebab munculnya kekuatan dan faktor-faktor kebangkitan.

Orang-orang dari pasukan Italia meneriakkan seruan yang bergemuruh setelah menggempur Libia: “Wahai ibu, janganlah engkau menangis, tapi tertawalah dan berharaplah, sungguh aku akan pergi ke Tripoli dengan perasaan riang gembira. Aku akan tumpahkan darahku untuk membinasakan umat! Untuk memerangi Islam dan aku akan memerangi dengan sepenuh kekuatanku untuk menghancurkan al-Qur’an.”

Orang-orang dari pasukan Inggris meneriakkan seruan seniornya, Gladiston yang mengatakan dengan penuh congkak: “Wajib untuk menghilangkan al-Qur’an.” Mereka juga melihat pimpinannya, Lord Lamby memasuki Al-Quds pada perang dunia pertama seraya berseru: “Hari ini Perang Salib telah usai.” Jenderal Prancis, Ghoro menendang makam Shalahuddin di Syiria, lalu mengatakan, “Kami datang kembali, wahai Shalahuddin.”

Setelah itu, warga dunia dikejutkan dengan kejadian yang dilakukan Serbia dan Kroasia terhadap muslim Bosnia… lima puluh ribu muslimah telah ternodai kehormatannya di hadapan mata dan telinga orang-orang Eropa dan Amerika dan juga pasukan PBB. Mereka dihamili oleh janin-janin anjing yang terlaknat! Sungguh tidak hanya mereka yang dicela dan dibenci, seharusnya kita mencela diri kita sendiri dan kelemahan kita.

Bobroknya Peradaban Barat
Kita tidak bersikap apriori dengan semua peradaban barat. Bahkan, kita mengakui apa-apa yang telah mereka persembahkan untuk kemajuan dunia dalam hal sains dan teknologi serta kebangkitan dalam ilmu pengetahuan, seni, politik dan sosial.

Bagaimana kita memungkiri itu semua, padahal kita adalah anak dari sebuah peradaban dimana Al-Qur’an mengatakan: “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8)

Akan tetapi, pada waktu yang bersamaan kita membenci kelalaian, karena hal itu akan membuat kemurkaan Allah. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf: 179). Kita benci, Allah melihat kita termasuk bagian dari orang-orang yang lalai dimana mereka tidak mengenal musuh daripada teman.

Sungguh kita telah melihat benih-benih permusuhan atas diri umat Islam berdiri tegak di atas pondasi yang kokoh. Kita juga melihat hati-hati mereka terbakar oleh kedengkian, yang digerakkan oleh dongeng-dongeng sesat. Mereka jadikan dongeng itu sebagai agama hingga salah seorang senior mereka mengatakan, sesungguhnya Tuhan telah menurunkan wahyu untuk menggempur Irak dan merobohkan sistem peradilannya. Mereka mengatakan dengan lantang bahwa perang terhadap umat Islam adalah perang salib.

Kita telah mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa peradaban Eropa dan Amerika tidak ada kaitannya dengan agama masehi yang dibawa oleh Utusan Allah, Nabi Isa ‘Alaihis Salam.

Agama ini berdiri atas dasar toleransi dan cinta kasih. Kita sepakat apa yang pernah dikatakan Welez, pengarang kitab ‘Ma’alim fi Tarikh al-Insaniyyah (Petunjuk-petunjuk dalam Sejarah Manusia), penulis mengatakan: “Sesungguhnya bangsa Eropa telah terbiasa sejak lama menjadikan ajaran-ajaran Yesus Sang Penyelamat sebagai penghalang yang kuat.

Sejak Eropa masuk ke dalam era kebangkitan, mereka memutuskan untuk menjadikan agama dan gereja dalam kehidupan mereka tempat yang sejauh-jauhnya. Mereka memisahkan agama dari kehidupan dunia. Akan tetapi kita mendapatkan sekarang, agama menjadi tunduk kepada hawa nafsu mereka dalam kecongkakan dan keterpaksaan, seperti yang kita lihat. Mereka jadikan agama palsu itu lebih buruk dari apa yang diperkirakan yaitu kefanatikan yang terkutuk, dimana mereka tidak mengindahkan ajaran-ajaran langit lagi.

Kita mengetahui bahwa di barat banyak cendikiawan. Mereka tidak rela apa-apa yang berubah dari alam ini karena pengaruh peradaban mereka. Permusuhan ini membuat perasaan mereka tidak dapat tidur di alam ini, karena ulah siasat mereka.

Sesungguhnya 94 persen penghasilan dunia datang dari negara industri mereka dan 75 persen investasi dunia mengarah ke negara-negara mereka. Kekayaan alam berada pada segelintir orang-orang kaya. Dua ratus orang di negara mereka memiliki harta sebanyak 1 Milyar Dollar, sedangkan 582 juta orang di 43 negara-negara berkembang hanya memiliki 146 juta Dollar.
Satu juta orang yang hidup di negara-negara berkembang tidak memiliki cadangan air minum yang baik dan 43 juta manusia mengidap penyakit aids, buah dari eksperimen mereka.

Mereka mengeluarkan kekayaan alam untuk pembuatan senjata dan hal-hal lain yang berlebihan. Disamping itu, terdapat 73 juta penduduk arab hidup berada di bawah garis kemiskinan dan 15 juta orang pengangguran.

Apakah ini semua hasil dari peradaban mereka yang sekarang memimpin dunia, yang bisa membuat hidup ini abadi? Atau hal tersebut merupakan peringatan akan sebuah kehancuran bila tidak mengikuti pendapat para cendikiawan? Perhatikanlah, kehancuran Barat sudah di depan mata.

Makna Kemajuan Peradaban
Peradaban bukan sekadar kemajuan dari segi materi saja, akan tetapi ia adalah kemajuan dari segi materi yang berdiri berlandaskan asas-asas keruhanian dan akhlak yang luhur, serta nilai kemanusiaan yang agung.

Peradaban bukan terbatas pada perkembangan kota saja, akan tetapi merupakan sebuah anugerah umat dari segala sisi, baik materi maupun etika. Dan nilainya dilihat dari kebaikan manusia yang ada.

Benar apa yang difirmankan Allah Ta’ala kepada umat Islam: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (QS. Ali Imran: 110) dan firman Allah: “Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi" (QS. Ar-Ra’du: 17).

Wahai Umat Islam!
Sesungguhnya putera-puteri kalian dituntut untuk memikirkan masalah ini lebih dari yang pernah dilakukan pada masa lalu. Mereka harus mengetahui kebutuhan manusia dan urgensi misi dakwah yang mereka emban serta peradaban yang mereka agungkan. Sesungguhnya semangat tinggi yang digelorakan pemuda-pemuda kita di hadapan agresi Barat dan Zionis-AS akan membangkitkan umat ini dari tidur panjangnya dan memperingatkan mereka dari tipu daya dan bualannya.

Sesungguhnya kita berada pada puncak sejarah yang dapat melumpuhkan peradaban yang penuh paksaan, perbudakan, kezaliman dan kecongkakan untuk memberikan tempat bagi peradaban yang lebih adil dan manusiawi.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya". (QS. Yusuf: 21)

Shalawat dan salam Allah serta keberkahan atas diri Nabi Muhammad dan keluarganya serta sahabatnya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Selasa, 19 Februari 2008

PEMIKIRAN POLITIK KONTEMPORER AL-IKHWAN AL MUSLIMUN

Buku ini pada bab-bab awal berusaha menjelaskan posisi Al-ikhwan dalam berbagai isu seputar politik, negara dan pemerintahan, termasuk didalamnya masalah hak minoritas, HAM dan Demokrasi serta Partai-partai. Ada beberapa hal menarik yang patut di catat diantaranya adalah pemaknaan harakah ini terhadap kata politik yang tidak umum sebagaimana difahami dan dipersepsi oleh kaum muslimin ( h.19 )

Pantas disebutkan pula 15 prinsip demokrasi yang fahami oleh Al-Ikhwan dan yang mereka anjurkan agar dapat disepakati oleh semua orang ( h.72 ), lebih jauh lagi Ikhwan mempromosikan syura dibandingkan demokrasi dalam satu bab tersendiri (Bab 3 ). Pada bab 4 menarik melihat Ikhwan membandingkan antara fenomena multi partai dan multi mazhab ( h.118 ) namun tidak lupa mengingatkan bahwa akar loyalitas kita senagai muslin tetap Allah swt, Rasulullah dan Jama’ah kaum muslimin.

Paling menarik bagi saya adalah bab 5 dan 6 dimana dibahas keterlibatan ikhwan di parlemen dan pemerintahan, sebagian masyarakat yang pandangannya terhadap islam masih terkotak-kotak, mempertanyakan mengapa hal ini bisa terjadi sebuah lembaga dakwah yang telah memberikan manfaat di berbagai bidang lain kali ini ikut pemilu dan berpartisipasi dalam parlemen dan pemerintahan apalagi yang tidak islami, sebelumnya lembaga dakwah kini berubah menjadi lembaga politik, demikinan tanya mereka

Untuk pertanyaan tersebut ikhwan menjelaskannya dengan baik sekali yaitu adanya manfaat yang melimpah didalamnya , setidaknya dakwah dapat masuk ke wilayah yang selama ini dijauhi karena dianggap kotor, namun masih adanya bertanya apa dasar hukum dan kaidah fiqhnya. Menjawab ini hal pertama yang ditekankan adalah ikhwan mengaggap masalah ini adalah masalah furu’ (cabang) yang tunduk pada aneka pertimbangan, dan diantaranya pertimbangan yang amat penting adalah jalan yang bisa mengantarkan tegaknya daulah islamiyah untuk menerapkan syariat Allah swt. ( h. 188)

Pada halaman-halaman selanjutnya dijelaskan proses bagaimana Islam dan rasulullah dapat mencapai tampuk kepemimpinan di Madinah dan melahirkan piagam madinah, persepsi historis yang kita ketahui tersebut saat ini mustahil direalisasikan, saat itu dakwah islam pertama mampu merangkul seluruh kekuatan kaum muslimin sedangakan gerakan dakwah kontemporer hanya mampu merangkul sebagian kaum muslimin. Proses memasukkan seluruh atau mayoritas kaum muslimin ke dalam gerakan islam tampak sebagai hal yang sulit dicapai, maka mau tidak mau jama’ah minal muslimin ini menempatkan dirinya dalam formulasi yang dipakai oleh partai-partai kontemporer jika hendak sampai ke panggung kekuasaan.

Tidak diragukan lagi menurut syariat keterlibatan seperti diatas tidak diperbolehkan berdasarkan teks dalil-dalil, namum keterlibatan menjadi boleh sebagai pengecualian dari hukum asalnya berdasarkan beberapa dalil berikut (1) keterlibatan yusuf a.s. dalam kementrian, (2) Sikap Raja Najasyi, (3) kemaslahatan.....

Tapi cukup bicara mengenai ikhwan dan situasi yang melingkupinya di mesir saat itu, bagaimana dengan situasi kita saat ini,berita terbaru yang saya dengar adalah rencana PKS untuk menjadi partai terbuka, apa yang dimaksud, manfaat apa yang ingin diraih, bagaimana para kader harus men sikapinya dan lain-lain. Lebih penting lagi adalah bila tujuan telah tercapai,gerakan dakwah telah mencapai panggung kekuasaan, bagaimana cara kita menerapkan syariat Allah dan mengantarkan tegaknya daulah islamiyah, langkah apa yang harus dilakukan agar kita mampu mengemban amanah menyejahterakan rakyat dan membuktikan slogan kita “Islam adalah solusi” bukan sekedar khayalan belaka..

di presentasikan pada daurah tarqiyah DPC Cempaka Putih

Rabu, 30 Januari 2008

Fraksi PKS dan Pemaafan terhadap (alm) Suharto

Tempointeraktif pada tanggal 17 januari memuat berita yang berjudul PKS usul agar memaafkan Soeharto, penyataan yang dikeluarkan fraksi PKS dalam rapat konsultasi dengan presiden, menjadi dilematis bagi kader di tingkat bawah. keputusan para mas'ul dakwah tidak sepenuhnya bisa di ketahui latar belakangnya dan kita semua mahfum hal tersebut, namun yang menjadi masalah bagaimana mengkomunikasikannya pada masyarakat yang bertanya-tanya.

hal ini dalam hemat saya bisa di tilik dari sudut pandang karakteristik islam utamanya karakter al-insaniyah ( kemanusiaan ). bila kita melihat lontaran dari fraksi dengan sudut pandang ini, opini bisa kita bawa menjadi positif. inilah karakter islam yang diperlihatkan oleh kader dakwah. bagaimana menjelaskannya?inilah problem utamanya karena kita semua tahu ummat islam yang direpresentasikan oleh dakwah adalah korban utama dari kebijakan almarhum semasa berkuasa..

menjelaskan hal ini saya menganjurkan untuk mengambil ibrah dan kisah Shalahuddin Al-Ayubi dan panglima tentara salib yang menjadi lawannya saat itu Richard The Lion Heart, dakwah dan almarhum bisa di analogikan seperti kedua tokoh sejarah tersebut yang sedang dalam urusan yang perlu di selesaikan yang satu di peperangan dan yang lain di pengadilan.

syahdan Richard sakit dan Shalahuddin menunjukkan karakter kemanusiaan islam dengan mengunjungi dan mengirimkan dokter (saat itu ilmu kedokteran islam jauh lebih maju dari pada eropa abad pertengahan), sebuah tindakan yang menjadi legenda di masyarakat eropa sampai saat ini, menjadi inspirasi dan acuan perilaku terhormat terhadap musuh. nah bagaimana dengan kita saat ini lawan kita juga terbaring sakit dan menghadapo sakratul maut, dokter dia sudah punya yang terbaik, maka apa lagi yang amat ia butuhkan dan yang terbaik yang kita miliki ? MAAF , memberi maaf saat ini adalah tindakan terbaik yang mnecerminkan karakter islam dari dakwah kita

wallahualam.

disarikan dari diskusi daurah tarqiyah DPC Cempaka Putih

Rabu, 16 Januari 2008

Syarat-syarat Umar

Sudahkah anda mendengar tentang syarat-syarat dari Al-Faruq Khalifah ke-2 Umar bin Khattab? saya membacanya baru-baru ini dalam suatu buku dan cukup terkejut, seandainya saja saya tidak membaca buku tersebut dari awal tentu saya akan memiliki prasangka buruk pada sahabat rasulullah ini.

pada zamannya khalifah Umar mendapati bahwa wilayah kaum muslimin telah meluas dan dalam masyarakat tinggal pula berbagai kaum seperti nasrani dan yahudi yang telah mengakui kekuasaan kaum muslimin dan mengikat perjanjian dan membayar jizyah sebagai dzimmi.

ahlu dzimmi ini lahir dan hidup ditengah-tengah kaum muslimin, hak dan kewajiban mereka didalam kekuasaan islam telah jelas, namun pola pergaulan dan interaksi antara muslim dan dzimmi masih samar batas-batas, maka itu perlu dibuat sebuah panduan yang menjaga identitas dan independensi kaum muslimin, dan dipihak lain menjaga hak-hak ahlu dzimmi

dalam syarat-syarat Al-Faruq terlihat jelas kedalaman akidahnya dan pemaknaannya. ahlu dzimmi memiliki status khusus yang membedakan mereka dengan kafir harbi, sementara itu karena dzimmi ini berinteraksi secara intens dengan kaum muslimin ada resiko terjadi tasyabuh (penyerupaan) dan meleburnya kepribadian islami yang agama ini menghendaki agar ia unik dan istemewa dalan segala hal

pembedaan identitas juga diperlukan agar terhindar dari ketidakjelasan orientasi dan identitas, tidak hanya pembedaan yang mendasar saja tapi juga dalam seluruh perilaku. ini hanya dapat dipahami oleh mereka yang telah mengerti makna syahadat dan konsekuensinya berupa wala' (dukungan,pertolongan dan cinta) dan bara' (berlepas diri dan permusuhan) dalam islam

ini syarat-syarat umar tersebut :
  • tidak mendirikan biara maupun gereja di kota mereka termasuk tempat khusus untuk rahib dan qilayah
  • tidak memperbaiki bangunan yang telah roboh
  • tidak melarang orang muslim singgah di gereja mereka selama 3 hari dan harus memberinya makan selama itu
  • tidak melindungi mata-mata
  • tidak menyembunyikan kedustaa pada orang-orang islam
  • tidak mengajarkan al-qur'an kepada anak-anak mereka
  • tidak menampakkan kemusyrikan
  • tidak melarang kerabat mereka yang ingin masuk islam
  • harus menghormati orang-orang islam
  • harus bangun dari tempat duduknya jika orang islam ingin duduk di tempat itu
  • tidak menyerupai orang islam dalam berpakaian
  • tidak menggunakan julukan-julukan orang islam
  • tidak memakai pelana
  • tidak menyandang pedang
  • tidak menjual khamr
  • harus mencukur rambut bagian depan
  • tetap mengenakan pakaian mereka dimanapun mereka berada
  • harus berikat pinggang
  • tidka menampakkan salib atau sesuatu dari kitab mereka di jalan-jalan yang dilalui orang islam
  • tidak mengubur mayat mereka berdampipngan dengan kuburan kaum muslimin
  • tidak memukul lonceng kecuali dengan pelan-pelan
  • tidak mengeraskan bacaan mereka di di gereja-gereja ketika ada orang islam
  • tidak merayakan paskah
  • tidak mngeraskan suara ketika membawa mayat mereka
  • dan tidak menampakkan dupa mereka serta tidak membeli sesuatu dari budak yang dimiliki kaum muslimin
ini berada dalam naskah perjanjian antara khalifah umar dengan kaum nasrani syam, jika mereka melanggar maka akan diperlakukan sebagai seperti perlakuan pada orang yang membangkang dan memusuhi

menyeramkan sekali bukan? tapi ini lah upaya pembedaan yang dilakukan saat peradaban islam saat itu dalam posisi superior, dalam rangka melindungi identitas kaum muslimin sehingga tidak terjadi campur baur, agar satu kaum tidak mengikuti kebiasaan dan perilaku kaum yang lain.

mungkin ini juga yang terjadi kenapa peradaban barat mati-matian berusaha membatasi ruang gerak dan aktivitas kaum muslimin di eropa dan amerika meski mereka menganut liberalisme, tidak lain karena mereka sadar pembauran tanpa pembatasan akan menghilangkan ciri-ciri khusus dari kaum mereka sendiri.

bukankan seperti ini adil, perpindahan keanggotaan antar kaum akan terlihat jelas, tidak ada yagn samar-samar dan setengah setengah, kalau mau jadi eropa adopsi lah perilaku mereka, paham-paham,prinsip hidup dan keseharian mereka serta keluarlah dari islam, jangan setengah-setengah,begitu pula sebaliknya bila mengaku islam dan bagian dari kaum muslimin masuklah secara kaffah.

wallahualam
sumber dari Al Wala' wal Bara' ( Loyalitas dan anti loyalitas ) Muhammad bin said al Qahtani era intermedia 2005 p 357-360

Rabu, 09 Januari 2008

Makna Syahadat

"La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah"

Artinya tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah swt, adapun kalimat yang kedua berarti memurnikan kepatuhan kepada hal-hal yang diperintahkan oleh beliau saw dan meninggalkan segala yang dicegah dan dilarangnya.

Dengan mengucapkan kalimat ini dan meyakininya dengan demikian seseorang menjadi muslim. Kalimat tauhid diatas mengandung 4 penafian dan 4 penetapan. penafian yang pertama yang terhadap sesembahan (alihah) yaitu sesuatu yang kita minta agar mendatangkan kebaikan (keuntungan) atau menolak kemudharatan, dengan demikian anda menjadikannya ilah

penafian yang kedua adalah terhadap taghut-taghut ( thawaghit) yaitu sesuatu yang disembah sedang ia ridha atau dicalonkan sebagai sesembahan

kemudian penafian terhadap Andad yaitu sesuatu yang menarikmu dari agama Islam berupa keluarga, tempat tinggal, kerabat, maupun harta. Ia adalah nidd ( tandingan )

"diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah tandingan. mereka mencintainya sebagaimana cinta kepada Allah " ( QS Al-Baqarah :165)

sedang yang terakhir penafian terhadap arbab yaitu orang yang menyuruhmu menentang kebenaran dan engkau patuhi

"mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai arbab ( tuhan-tuhan) selainAllah ( QS At-taubah :31)

sedangkan 4 hal yang ditetapkan oleh kalimat tauhid adalah :
  1. Ditetapkan Maksud dan tujuan hanya kepada Allah swt
  2. Ditetapkan pengagungan dan kecintaan hanya kepada Allah swt
  3. Ditetapkan rasa takut dan mengharap hanya kepada Allah swt
  4. serta ditetapkan Taqwa yaitu keharusan memelihara diri dari kemurkaan dan siksa Alalh dengan meninggalkan kemusyrikan dan kemaksiatan, ikhlas beribadah kepada Allah dan mengikuti perintah-Nya sesuai apa yang disyariatkan-Nya
demikian makna dari syahadat yang harus kita ketahui agar kalimat tersebut tidak berhenti di lidah namun merasuk kedalam hati agar dapat menumbuhkembangkan keimanan yang tidak lain dari perkataan dan perbuatan, laku sehari-hari.

bagaimana caranya?
bertanya seseorang pada tabi'i wahb bin munabbih " bukankah la ilaha illallah adalah kunci surga ?" ia menjawab dengan hadist dari Abu Hurairah, "benar namun, tidak ada satu kunci pun kecuali memilki gigi-gigi. Jika engkau menggunakan kunci yang bergigi, pintu akan terbuka. jika tidak,tidak akan terbuka "

Gigi-gigi kunci adalah syarat-syarat la ilaha illallah berikut :
  • mengetahui makna yang dimaksud baik penafian maupun penetapan
  • memiliki keyakinan yang dapat menghilangkan keraguan. benar-benar meyakini kandungan kalimat tersebut
  • menerima konsekuensi kalimat ini dengan hati dan lisannya
  • tunduk pada apa yang dikandungnya dan menolak meninggalkannya
  • jujur dari hatinya, lidahnya sejalan dengan hatinya
  • ikhlas yaitu memurnkan amal perbuatan dari berbagai noda kemusyrikan dengan niat yang baik
  • mencintai kalimat ini, apa yang dikandungnya, konsekuensinya, mencintai orang-orang yang memiliki, mengamalkan dan komitmen dengan syarat-syaratnya serta membenci segala yang dapat mengugurkan hal itu

diambil dari Al-Wala' Wal Bara' ( Loyalitas dan Antiloyalitas dalam Islam) karya Muhammad bin Sa'id Al Qahtani: era intermdia 2005