Senin, 18 Juni 2007

Seratus persen kosong

Di depan gedung Taman Budaya Surakarta (TBS) ada warung makan kelas Pedagang Kaki Lima (PKL). Sebut saja Ayam Goreng Pak Bejo. Warung ini laris. Karena harga murah, rasa enak, dan porsi besar. Pas untuk ukuran kantong uang dan kantong perut mahasiswa. Maklum mereka masih minta kiriman dan baru saja menyelesaikan masa pertumbuhannya. Jadi sisa-sisa masa pertumbuhan masih berlangsung yaitu makan dalam porsi besar. Kalo orang jawa bilang makannya “sumego” alias banyak nasinya.

Ada satu nilai tambah yang membuat para laki-laki mahasiswa itu gandrung menyambangi warung pak Bejo yaitu anak pak Bejo yang cantik jelita. Dasar laki-laki!

Sebut saja namanya Endar. Dia siswi kelas 3 SMA swasta. Kalo sore, dia ikut membantu orang tuanya melayani para mas mas mahasiswa yang konon kabarnya di dunia orang kampung manis-manis. Walopun banyak sekali yang rata-rata bahkan di bawah rata-rata.

KAUM LAKI-LAKI ITU GA ADA YANG JELEK, SEMUANYA TAMPAN. Ada yang tampan sekali. Ada yang agak tampan. Ada yang lumayan tampan. Ada yang kurang tampan. Dan ada yang tidak tampan. Bahkan ada pula yang ga tampan blass!!! Yang penting kan ada tampannya. He he he he.

Kembali ke cerita…

Disamping warung PKL pak Bejo ada gudang…ga tahu gudang apa isinya. Yang jelas gudang itu kalo pas jam tayang warung PKL pak Bejo selalu tertutup. Ketika zaman reformasi, gudang itu agar aman dari jarahan masa, sengaja diberi tulisan dari cat minyak berwarna putih kontras dengan warna dasar pintu hijau daun tua besar-besar, bunyinya……100% KOSONG… dengan harapan para penjarah tidak masuk ke gudang itu. Dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan gudang itu aman dari jarahan masa di bulan Mei 1998.

Di suatu sore, seperti biasa…segerombolan pemuda mahasiswa…kelihatannya satu kos. Mereka akrab sekali.

“Met gimana kamu belum punya pasangan…kamu katrowk banget sih” ledek Yanuar kepada temannya yang bernama Slamet.

“Kamu belum tahu..sih, aku datang ke sini dalam proses PDKT” elak Slamet.

“PDKT sama Endar..maksudmu?” tanya Udin.

“Sssst… kamu sudah tahu…kalo Endar itu sudah ada yang punya!” timpal Heri meyakinkan.

“Kalian salah semua….Endar itu belum ada yang punya!” bentak Slamet dengan suara yang masih normal, sehingga tidak terdengar keluar komunitas mereka.

“Lho…kamu tahunya dari mana?” kembali Yanuar meledek.

“Itu…kalian bisa baca kan…. SERATUS PERSEN KOSONG!” kata Slamet dengan mimik serius..dengan telunjuk tangan kanannya menunjuk pada pintu gudang yang bertuliskan 100% KOSONG.

GLODAK!

Baddalaaa tenaan!!!

“Wakakakakakakakakkaakkk” derai tawa meledak bersama-sama seperti semburan pasir yang memburai dari sumber mata air yang sangat deras.

……………………………………………

Mengetahui keadaan sebenarnya adalah sebuah seni atau bisa dikatakan sebuah intuisi. Karena kita terbiasa dididik secara analitis. Sering kali mind set pikiran kita menjadi terpola, bahwa segala sesuatu bisa dianalisis dan kita pasti bisa membuat keputusan-keputusan. Harus ada data-data yang lengkap dan complicated untuk membuat sebuah keputusan yang excellent. Dalam dunia kedokteran, untuk menentukan adanya sepsis (infeksi kuman yang tersebar merata di seluruh pembuluh darah, harus dilakukan kultur, untuk memastikan terjadinya sepsis oleh bakteri tertentu misalnya). Dan metoda kultur ini membutuhkan waktu 24 jam. Sementara pasien dalam keadaan kritis.

Atau adanya appendicitis (radang usus buntu) yang mengalami komplikasi abses juga harus dibantu dengan alat USG. Dan kenyataannya harus menunggu waktu mendapatkan hasil rujukan dokter radiology. Atau di daerah terpencil, USG cuman satu, yang membutuhkan banyak sekali. Sementara kekhawatiran komplikasi berkejaran dengan waktu agar tidak menyebar dan bertambah berat.

Ternyata…..

Ketika saya Co-Ass dulu, seorang dokter ahli bedah digestive yang senior..

“Ini Suf…kamu raba..kamu rasakan ujung jarimu… terasa lunak kan” kata dokter ahli bedah digestive senior tersebut kepada saya saat memeriksa pasien yang sedang disiapkan untuk operasi appendektomi.

Saya pun mengikuti apa yang beliau lakukan.. ujung jari telunjuk…meraba dan sedikit memberikan tekanan pada titik Mc Burney (titik tempat usus buntu berada).

“???” perasaan sama saja tuh, dengan permukaan kulit yang lain.

……………………………….

“Ini Suf kamu rasakan lagi… beda kan dengan kondisi pak Mitro… yang ini lebih keras..ga ada komplikasi abses” kata beliau lagi saat memeriksa pasien di bed yang lain.

“???” lagi-lagi aku ga bisa membedakan….

………………………………..

Beliau itu sekolah dokter umum 6 tahun, spesialis bedah 4 tahun dan mengambil sub spesialis bedah digestive 3 tahun. Jadi bisa dikatakan jam terbangnya sangat tinggi. Sehingga intuisinya sudah jalan. Bahkan ujung jari telunjuknya sudah memiliki sensor yang sangat tajam… sebanding dengan kualitas USG. Pola “perlunakan” sudah terdeteksi oleh ujung jarinya sebelum USG terbaca oleh teman sejawatnya yang ahli radiology.

Ketajaman pengenalan pola “perlunakan” beliau sangat membantu teman-teman sejawat yang ahli bedah yang minim alat bantu diagnostic bahkan seringkali sudah rusak dan belum dapat pengganti yang baru terutama di daerah.

Saya hanya bisa berkata LUAR BIASA untuk ketajaman dan “jam terbang” beliau.

Ketajaman menebak yang terbangun oleh “jam terbang” yang sangat jauh berbeda dengan ketajaman asal-asalan punyanya Slamet.

Jumat, 15 Juni 2007

Kampanye biologis

Yudo.. mahasiswa dari Jakarta kos di Solo. Hobinya suka ngedengerin lagu-lagu tapi dengan volume yang membuat telinga bisa pecah… Eh bukan ini ding yang mau diceritain..

Kemarin bapak Kos itu datang ke tempat kos nyariin dia.

“Mas Yudo ada di sini sekarang?” tanyak Bapak Kos.

Karena datangnya siang-siang, jadi banyak dari anak kos yang sudah pergi ke kampus. Aku barusan pulang, coz habis pretes dan aku inhal alias ga lulus, sehingga harus ngikutin praktikum minggu depan khusus untuk para residivis inhaler kayak diriku ini. Dulu ketika pertama kali inhal, waduuh rasanya dunia mau kiamat.. malu.. tapi sekarang inhal lima kali, muka sudah tebal… mungkin karena kebanyakan makan sayur rebung. Sayur rebung? Iya… dia adalah cikal bakal pohon bambu. Lha pohon bambu adalah bahan dasar untuk membuat gêdhég (anyam-anyaman bambu untuk dinding rumah tradisional). Ada ungkapan dalam bahasa Jawa “rai gedheg”, artinya tidak tahu malu.

Jadi karena kebanyakan sayur rebung… membuat keadaan diriku seperti rai gedheg alias ga tahu malu walopun inhal lima kali. Hallah..

Kembali ke cerita..

“Wah…mas Yudo-nya sedang kuliah itu..” jawab saya kepada bapak kos

“Tapi masih tetap tinggal di sini kan?” tanya bapak kos kembali

“Masih kok pak… nuwun sewu.. ada masalah apa tho pak kok nanya masih tinggal di sini?” tanyaku

“Ini… ortunya sudah tiga kali nilfun dari Jakarta… kayaknya sih cross check apa bener Yudo udah bayar kos?... lha terus saya bilang belum, udah nunggak tiga bulan ini… ortunya kaget minta ampun.. mungkin mas Yusuf tahu kira-kira penyebabnya” kata bapak Kos

“Mmhmm ada hubungannya ga ya dengan yang ini… kemarin dia baru cerita kalo habis beli parfum seharga satu juta rupiah… ya saya maklum-maklum aja… dia cerita bapaknya kaya… jadi ya saya menganggap ga ada yang aneh” kata saya

“Parfum satu juta rupiah? Untuk anak kos?” bapak kos tampak terheran-heran..

“Ya pak… wah parfumnya Yudo menurut pengakuannya sangat ampuh… untuk membuat wanita jadi tergila-gila pak” kataku

“Katanya… lagi… walopun Yudo udah berjalan sepuluhan meter… wanita-wanita yang dia lewati… dari kejauhan wajahnya masih menunjukkan kegairahan pak” kataku lagi.

……………………………………………

Parfum untuk menggaet wanita ato lawan jenis… aku lebih senang menyebutnya alat kampanye biologis. Kita juga makhluk biologis juga.. ada daya tarik dengan lawan jenis lantaran aroma tubuh.

Kalo ngeliyat kambing birahi ato dan yang sebangsanya.. mereka asyik mencium-cium bau dari lawan jenisnya.. bahkan ketika si betina kencing pun si jantan mendekati dan menciumi baunya.. dan habis itu menyengir-nyengir hingga giginya kelihatan… trus bilang: hek hek…. hek hek… hek hek….

Manusia sebenarnya mirip-mirip dengan perilaku hewan tadi hanya lebih nyeni… lebih “romantis” dan pakek gaya….

Udah ga usah diterusin….lebih lanjut

Yang penting ada kampanye biologis dulu…

Kalo dokter kampanye biologisnya adalah memberikan sentuhan saat memeriksa, ato teknik menyuntik yang katanya orang-orang..

“Suntik ke dokter Pujo aja.. nyuntiknya ga sakit.. kayak ga disuntik..bener”

“Anak saya kalo sudah disentuh dokter Henry langsung turun panasnya”

“Kalo sudah masuk ruangannya dokter Aryo, ketemu orangnya melihat dia tersenyum saya langsung sembuh… aneh ya”

Mungkin inilah namanya kampanye biologis dokter

Senin, 11 Juni 2007

Sholat Malam Satu Rokaat

Penampilannya memang rata-rata kebanyakan orang…. Tidak ada yang istimewa. Tapi begitu ngobrol-ngobrol agak lama baru kelihatan bahwa tokoh kita yang satu ini memang berbeda dengan yang lain. Dan kalo boleh saya mengategorikannya aneh….

Berikut adalah salah satu dari yang saya anggap aneh itu…. Eh dikoreksi… maksudnya terlalu menyederhanakan permasalahan kayaknya yang pas seperti itu…deh

“Saya kalo pas bisa bangun malam dan ada kesempatan sholat malam…. Saya sholat satu rokaat saja…” kata Herman

Satu rokaat?” tanyaku

“Iya … kan ada hadits yang insya Allah berbunyi ‘banyak orang yang sholat malam, tetapi sia-sia…hanya mendapat lelah saja’…” kata Herman dengan penuh semangat.

Lalu hubungannya dengan sholat satu rokaat?” tanyaku masih belum paham

Yaa.. kalo misalnya sholatnya diterima … ya syukur alhamdulillah… lha kalo ga diterima kan ga capek-capek banget..” kata Herman masih dalam mimik yang serius..

Ha ha ha ha wakkakkakkkaak badala tenan..

Ini juga termasuk prinsip efektif dan efisien. Tapi kalo menurut hati nurani kayaknya kurang pas gitu… saya menganggap sholat malam.. tidak usah dihitung berapa tingkat kecapekan yang telah kita lakukan… lha wong itu kita yang butuh kok… jadi ga usah itung-itungan gitu.

…………………………………………………….

Dalam kehidupan sehari-hari kita memang banyak sekali dihadapkan dengan banyak keputusan. Dan keputusan itu selalu berimplikasi pada biaya-biaya. Biaya tidak saja materi tetapi juga berkaitan dengan yang non materi…

Kata Grossmann sang pakar ekonomi kesehatan setiap orang berusaha memproduksi kesehatannya sendiri. Untuk itu ia perlu masukan dalam memproduksi kesehatannya. Masukan itu berupa gizi yang berimbang, perumahan yang sehat, keuangan yang mapan, perilaku dan gaya hidupnya yang sehat.

Dan tujuan akhir memproduksi kesehatan adalah meningkatkan jumlah hari sehat yang dapat ia nikmati agar ia produktif dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang akan produktif kesehatannya apabila gaya hidupnya menambah produksi kesehatannya. Atau gaya hidupnya mempunyai pengaruh dalam jangka panjang menghambat depresiasi nilai kesehatannya karena bertambah usia.

Perilaku yang tidak sehat seperti merokok, apapun mereknya entah A Mild, Gudang Garam, Dji Sam Soe, Sampoerna Hijau atau Class Mild, maka dalam jangka panjang akan berakibat menurunnya fungsi paru lebih dini, lebih mudah terkena hipertensi, stroke dan diabetes mellitus. Bila terkena penyakit itu, berarti depresiasi kesehatannya akan semakin dini diperoleh dan drastis. Demikian juga dengan diet yang tidak berimbang serta kurangnya olah raga juga memperbesar kemungkinan penyakit yang sama.

Perilaku lain, seperti kebut-kebutan dan sembrono di jalan raya, akan meningkatkan kemungkinan kecelakaan yang berujung pada kecacatan.

Peminum dalam jangka panjang juga berakibat mempercepat degenerasi otak secara dini atau orang awam mengatakan semakin mudah mengalami pikun.

Pendek kata perilaku atau gaya hidup sehat adalah input untuk memproduksi kesehatan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Akhirnya akan memperbanyak kualitas maupun kuantitas hari-hari sehat yang akan dia lalui hingga akhir hayatnya.

Ciri Khas Dokter adalah Tulisannya Jelek?!!

Belum tentu!
Kakak saya, namanya unik Dian Agami Islam, seorang dokter ahli kebidanan dan kandungan tulisan di resepnya bagus dan rapi, tanda tangan luar biasa rumit tapi lumayan indah kalo mau tahu tanda tangannya ada tanda "heart"nya, ada panah segala.

Kebanyakan dokter tulisannya memang jelek, mungkin karena

pertama, dasar tulisannya memang jelek.

Kedua, sedang malas untuk nulis baik. Atau mood-nya sedang tidak baik, sehingga berpengaruh dalam gaya tulisannya.

Ketiga, reflek yang terbentuk akibat kuliah yang dijalani. Banyak materi yang disampaikan oleh dosennya, sehingga dituntut menulis cepat. Akibatnya berpengaruh pada kualitas tulisannya.

Keempat, karena tulisan yang dibuat dalam prakteknya jarang dibaca dan numpuk dalam kertas status pasien, akhirnya tidak ada semangat untuk menulis baik.

Kelima, karena yang ditulis banyak sekali, sehari bisa saja seorang dokter menulis di lima puluh sampai seratus kertas status pasien dan resep, sehingga kualitas tulisan jelek.

Bagaimana caranya agar bisa menulis seperti dokter?

Singkatan – lebih cepat menulis dengan “pmx' ketimbang menulis “pemeriksaan”.

Menulis dengan ukuran kecil –menulis dengan ukuran lebih menghemat waktu.

Menulis gaya sms – BAB encr dg btk prfs untuk menulis maksud buang air besar encer dengan batuk profus ato contoh lain a jg bgt = ah jangan begitu..


Contoh evolusi tulisan :

Lha yang di bawah ini adalah asli tulisan saya yang juelek... he he he


yang benar tulisan dokter tidak jelek seperti contoh di atas, tetapi harus jelas dan baik terutama resep, biar petugas apotek / apoteker tidak salah baca resep

Kamis, 07 Juni 2007

“Anu”

Menyenangkan sekali bisa menikmati sholat di masjid yang bisa berdiri dan saya bisa andil dalam pembangunannya….. namanya masjid Sabilillah belakang pas kos-kosan saya dulu ketika mahasiswa.

Ikut andil mendirikan berarti harus ikut pula andil dalam memakmurkannya, termasuk dalam kegiatan bulan suci romadhon. Semua anak kos yang aktif sholat jamaah di masjid mendapat bagian sebagai mubaligh dadakan alias petugas kultum (kepanjangan dari kuliah terserah antum… he he he).

Saya termasuk orang yang ga pernah tampil ke publik apalagi memberikan tausiyah walaupun hanya sekedar lima menit plus dua.

Skenario sudah disiapkan secara matang… membaca-baca buku agama, mengolah, berlatih tapi dalam skenario mental di otak mengenai track-track yang nanti akan dilalui..

Rupanya memikirkan skenario di otak tidak lekas bisa tenang dan konsentrasi ketika sholat… maklum harus sholat Isya’ dulu baru acara yang dinanti-nanti tiba… menjalani track-track yang akan dilalui dan disampaikan dalam lisan.

Biasanya kalo sholat Isya sendiri ato berjamaah berlangsung terlalu cepat…. Kadang-kadang tidak sadar kalo perjalanan sholat Isya sudah memasuki rokaat ke tiga.. tetapi kali ini… rokaat demi rokaat yang dilalui demikian mendebarkan… pikiran terkonsentrasi pada denyut jantung yang makin lama makin cepat dan terasa sekali denyutannya… ato orang biasa menyimpulkan saya ini sedang deg-degan menunggu akan tiba waktu itu.

Dan……akhirnya tiba harus mulai mengatakan di depan publik ..

“Anu”….

“Eh… Anu”

“ha ha aa ha wakakakakak” gemuruh suara anak-anak..dan sebagian teman kos tertunduk malu.. tapi sebagian kelihatan senyum-senyum.. tapi risau.. menunggu kelancaranku bisa ngomong..

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh” kataku…akhirnya keluar juga kata-kata yang tertib.

….dst………….. walopun satu dua kali masih terselip kata…

“Anu”

Waktu lima menit plus dua terasa sangat jauuuuuuhh… dan… menegangkan

Sekarang sudah lebih dari sepuluh tahun setelah peristiwa itu… walaupun masih sering muncul rasa berdebar-debar ketika akan mengisi kajian ato ceramah… tetapi jauh lebih lancar dari peristiwa yang menegangkan dan memalukan itu…

………………………………….

Dalam buku Emotional Intelligence karya Daniel Goleman, mengunkapkan sebuah data.. bahwa pemain-pemain olah raga yang prestasinya sampai tingkat dunia… mereka sudah berlatih secara serius olah raga yang mereka geluti sejak umur enam tahun.. tetapi mereka yang unggul hanya sebatas tingkat nasional berlatih serius olah raga yang mereka geluti sejak usia lebih lanjut biasanya kelas enam SD dan seterusnya apalagi kalo cuman juara RT… baru berlatih seminggu yang lalu… he he he

David Beckham mengenal latihan intensif bola sejak umur enam tahun, demikian juga dengan juara dunia catur, dan juara-juara dunia lainnya. Bahkan Imam Syafii, ahli Fiqh yang fatwa fiqhnya dipake oleh mayoritas muslim Indonesia, hafidz Al-Qur’an umur tujuh tahun. Demikian juga dengan ulama-ulama yang usianya abadi melebihi usia fisik, sudah terpapar dini dengan ilmu agama konsistensi dalam penerapan ilmu agama itu sejak dini usia….

……………………………

Berceramah, mengemudi, dokter bisa mendiagnosis, dokter bisa melakukan tindakan operasi canggih dengan terampil adalah salah satu bentuk refleks yang terbentuk dengan latihan.. semakin tinggi “jam terbang” latihannya maka semakin terampil refleks itu terbentuk…

Contoh yang paling nyata mengenai hal ini dan banyak dijumpai dalam sehari-hari adalah mengemudikan / menyopir mobil… pekerjaannya demikian kompleks… melihat, merespons dengan menginjak pedal rem, pedal gas dan pedal kopling… bila manual harus mengubah status persnelling secara akurat.. semuanya berlangsung dalam hitungan detik… bahkan kita bisa mengemudikan mobil sambil kita memikirkan bagaimana skenario pelunasan utang-utang. Inilah contoh refleks komplek yang dipelajari..

Dokter bedah yang mengoperasi pasiennya…dengan efisien sudah menjadi refleks tanpa berpikir lagi karena dia sekolah di kedokteran enam tahun, kemudian sekolah lagi bedah 7 semester, dan kalo mendalami lebih lanjut, seperti ahli bedah tulang ato ortopedi menambah keahlian yang sangat spesifik seperti mendalami tulang belakang atau ahli lutut dengan sekolah lagi selama tiga tahun….. total dari SMA untuk mendapatkan keahlian seperti itu membutuhkan waktu lebih dari dua belas tahun…

Sama seperti David Beckham, Casparov, Rudi Hartono, Icuk Sugiarto… butuh waktu dua belasan tahun lebih untuk mencapai kompetensi seorang juara dunia.

Jadi kesimpulannya :

Kalo anda ingin menjadi orang yang sangat ahli dalam suatu bidang, baik ilmuwan, olah ragawan, usahawan dan bahkan penipu ulung yang sangat lihai… bersabarlah dan siapkan mental tahan banting Anda untuk menempa keahlian itu minimal DUA BELAS TAHUN… !!!

Minggu, 03 Juni 2007

“SERIBU KALI LIMA BELAS = LIMA BELAS RIBU”

Orangnya sudah separoh baya, tapi tingkahnya sebaya dengan anak remaja. Orang-orang memanggilnya Tobil. Rambutnya tidak di semir hitam, sehingga kombinasi putih uban dan rambut hitam dalam porsi yang berimbang menghasilkan warna abu-abu. Suatu ketika di warung makan…

“wuuutss” tangannya menyabet lalat dan kena… kemudian memasukkan lalat itu ke dalam kantung plastik. Satu… dua….tiga……

“Satu… dua ….tiga….empat…..lima….enam…..tujuh….delapan….sembilan….sepuluh. … sebelas….dua belas……tiga belas…empat belas….lima belas” dia bergumam

Tingkahnya yang aneh menangkapi lalat itu jadi perhatian banyak orang, tidak saja pelanggan warung, tetapi juga orang-orang pasar yang lalu lalang.

“seribu dikalikan lima belas sama dengan lima belas ribu…… di bawa ke tempatnya Pak Hendro aja ah dapat lima belas ribu rupiah…..” gumam beliau yang bisa didengarkan oleh setiap orang yang ada di sekitarnya.

Semua orang yang berada di situ, sudah tahu siapa pak Hendro, orang barusan disebut Tobil. Pak Hendro adalah pengusaha yang dekat dengan banyak orang kecil.

……………………………………..

Setelah peristiwa itu…pak Hendro kebanjiran orang yang berkepentingan untuk menukarkan lalat yang bisa ditukar uang @ lalat = Rp. 1.0000,-. Pak Hendro jelas tidak terima dengan perlakuan ini.

“Saya ga pernah menerima orang jualan lalat @ Rp. 1.000,-. Siapa bilang saya menerima pembelian lalat @ Rp. 1.000,-.?” Tanya pak Hendro dengan nada berang.

“T o b i l” kata orang-orang yang sudah terlanjur membawa berbungkus-bungkus lalat.

“Sialan”

…………………………………………

Kali ini, orang ramai-ramai mendatangi rumah pak Hendro, dengan pakaian resmi, lengkap. Para bapak-bapak ada yang memakai jas kalau dia berhaluan mode nasional. Ada pula bapak-bapak yang memakai baju batik koleksi pribadi terbaik yang dimiliki kalau dia berhaluan Jawa original alias tulen. Ibu-ibu pun juga mengikuti bapak-bapaknya ada yang memakai kebaya, ada yang memakai pakaian berstandard mode internasional. Tak lupa pula mengiringi berhamburan aroma wangi yang ditebarkan oleh masing-masing orang, semuanya ingin menampilkan sisi terbaik penampilan fisik yang dimiliki.

Akan tetapi……

Mereka mendapati….

Rumah pak Hendro tidak ada apa-apa. Maksudnya, tidak ada gelagat yang menunjukkan bahwa diri dan keluarganya mempunyai hajat besar. Maksudnya lagi… mempunyai hajat sesuai dengan undangan yang telah beredar di kalangan hadirin. Yaitu pak Hendro sedang punya hajat menikahkan putrinya.

Para hadirin seperti sedang dipermalukan…

Semua yang datang kecewa, heran dan tidak tahu marah dengan siapa. Mengapa mereka semua berada di sana. Mengapa mereka semua jadi kerjaan seseorang. Dan ternyata mereka akhirnya bisa mengetahui bahwa semua ini adalah hasil kerjaan si Tobil. Mereka saling cocok mencocokkan, siapa yang ngasih undangan.

Ternyata semuanya berhubungan dengan si Tobil. Baddallaa..

“Sialan… Tobil”

………………………………………………………

Mencoreng muka itu jauh lebih mudah dari pada membangun nama baik. Pepatah mengatakan air susu satu belanga atau satu bak bisa rusak hanya oleh nila setitik. Sebaliknya membangun nama baik butuh proses yang lama. Kalo kita melihat bagaimana prosesnya nabi Muhammad SAW diberikan gelar oleh kaumnya, ternyata memakan waktu puluhan tahun, jauh sebelum beliau ini diangkat rasul oleh Allah SWT.

Dalam dunia bisnis pun juga demikian. Perusahaan Toyota bisa memiliki nama besar setelah sampai pada generasi kedua. Perusahaan-perusahaan besar lain, seperti Unilever, Honda, General Electric dan juga Astra International, juga membutuhkan waktu puluhan tahun. Nama baik terbangun dalam hitungan decade. Bukan hasil sulap menyulap semalam langsung jadi, tetapi, diisi perjuangan untuk menghasilkan konsistensi mutu dan hasil kerja yang baik secara keras, begitu dan begitu serta terus dan terus menerus, dalam hitungan dekade baru orang memberikan pengakuan nama baik.

Pakar pemasaran Al-Ries mengatakan brand (nama baik) is not build in one night but it build in decade.

Jadi bagaimana si Tobil bisa membangun nama baik suatu ketika dia sadar, sementara orang makin lama makin tersadarkan dia sebagai orang yang suka ngerjain ato suka membangun nama buruk buat dirinya sendiri.

NAMA BAIK ITU HARUS DIBANGUN

Sabtu, 02 Juni 2007

Awas! ada éék anjing!!!

Senangnya berjalan bareng dengan temen-temen satu kampus yang satu kos. Jadi kalo berangkat… guyub… akrab…

Jarak antara kos dan kampus lumayan jauh.. sekitar satu kilo meter…

Tempat kos saya tempo dulu sangat heboh..

Batas kanan rumah penduduk, tetapi depannya ada kandang babi.

Batas kiri jalan.. tetapi rumah seberang.. adalah pengerajin tahu..

Bagian belakang sebenarnya masjid.. tetapi kanan dan kirinya selang-seling antara pengerajin tahu dan peternak babi..

Bagian depan.. yang ini bebas bau… karena jalan dan seberang jalan adalah warung makan..

Dengan kondisi seperti itu dapat menentukan kira-kira dari mana angin itu berhembus.. kalo dari depan pas masakan udah matang jelas baunya masakan. Tetapi kalo dari samping kiri pas ampas tahu keluar dari rumah… bau ampas tahu yang mendominasi.. kalo dari arah kanan…dipastikan aroma kotoran babi yang keluar… kalo dari belakang.. ga jelas babi atau ampas tahu…

Selain itu banyak juga anjing yang berkeliaran di jalan. Karena anjing tidak dikaruniai teknik membuang kotoran yang sopan. Maka, dia dengan enaknya, seperti seorang seniman jalanan yang mencorat-coretkan karya… ndemblog-ndemblog.. tak beraturan di jalan.

Jadi jalanan di sekitar kos kami itu… wow seperti kanvas lukisan bunga jalan dengan dua seniman alam utama yang mengukirkan karyanya: anjing dan ayam.

……………………………………

Ada dari kami berenam yang fobia sama kotoran. Entah apa yang jadi penyebab, bagaimana proses terjadinya hingga dia menjadi pengidap fobia kotoran… ga usah dipikirin dah… nanti tambah pyusiiiing…. Kita nyebutnya si fobia aja ya..

Si fobia ini kalo berjalan.. sangat focus pada hasil mahakarya dua seniman jalanan tadi eeknya ayam dan eeknya anjing. Tetapi yang bikin dia lebih fobia adalah sama eeknya anjing.

…………………………….

“Kapan pulang ke Pangkal Pinang Kah? Tanyaku

“Ya nanti pas liburan semester” Jawab Barkah

“Nanti dioleh-olehin krupuk tengiri ya Kah” kata Thomas

“Ya don’t worry” jawab Barkah mantap

“Kita nanti jam pertama, kuliah Anatomi tiga kan, ga pretes?” tanya Teguh

“Iya.. memang kamu belum siap tho Guh?” tanya Budi

“Ho oh..” jawab Teguh

Tiba-tiba..

AWAS! BERHENTI!!!” teriak si Fobia kotoran…sambil tangannya telentang menghentikan langkah kami semua.

Kami semua langsung mengikuti apa yang jadi komandonya…

Ada apa?” tanya Barkah

Ada ééknya Anjing….najis…najis” jawab si Fobia

“Ooallaaah… glodak”

……………………………….

Fobia apa pun yang jadi obyek fobianya, bagi si penderita fobia sangat menakutkan. Bahkan ketika hanya diperdengarkan kata saja… rasa takut itu sudah muncul.

Termasuk istri saya.. fobia sama kecoak…

Waduh.. ini juga bikin pyusiiing…

Jadi ketika menyusui anak.. kalo muncul hewan yang bikin ketakutan setengah mati setengah hidup istri saya itu… saya mengambil langkah tutup mulut… sambil.. diam-diam tangan ini menggerayangi dan menerkam si kecoak itu…

Biar anak tetap santai menyusu…tanpa terganggu ketakutan ibunya akan kecoak..

Saya malah punya pasien takut setengah mati dengan nasi…

Waduh yang ini bikin pyusing panitia outbond ato OSPEK dan semacamnya… harus mencarikan roti .. untuk peserta special ini.

Pelan tapi pasti fobia juga bisa diatasi.. ada dua aliran.. pertama memborbardir dengan obyek fobia hingga penderita pingsan ato terkencing-kencing…sampai penderita nyaman dengan obyek fobianya tersebut… berarti kalo fobia kecoa.. diperlakukan seperti peserta fear factor tidur dengan seribu kecoa…. wakkakakakakk

Jenis yang kedua, pelan-pelan… dikenalkan dulu dengan satu sayap kecoak ato potongan kaki kecoak… hingga lama-kelamaan kecoak utuh…. Lalu ribuan kecoak…

Jadi yang kedua ini dijamin tidak bikin pasien fobia pingsan ato terkencing-kencing…..

Selamat mencoba.

Apanya?

Taauuuu!!!!