Tampilkan postingan dengan label Ngerasani Konco dhewe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngerasani Konco dhewe. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Agustus 2009

Usus Terburai akibat tertusuk

Patient is the first thing.........

Jatmiko seorang perwira tentara dari sebuah kesatuan pada hari minggu di pasar yang ramai berhasil menggagalkan aksi pencopetan kelompok kriminal di suatu daerah di Solo. Sebut saja si Jo sang pencopet berhasil diamankan petugas, walaupun sebagian tubuhnya babak belur akibat sempat dikeroyok masa. Setelah dirawat di rumah sakit beberapa saat, akhirnya si Jo bisa dijebloskan ke penjara untuk beberapa bulan.

Ternyata kasus penangkapan si Jo bagi perwira tentara Jatmiko ini berbuntut panjang. Si Jo ini adalah adik kandung dari pimpinan preman dalam satu kawasan yang luas. Artinya kakaknya mempunyai pengaruh yang sangat luas dalam dunia perpremanan. Kombinasi yang bagus untuk terealisasinya dendam pada Jatmiko. Dan ternyata benar.

Pagi itu, saat mengantar istrinya ke pasar, segerombolan pemuda tiba-tiba menyerbu Jatmiko dan mereka menikamkan pisau kecil ke perut bagian bawah. Puas menikam Jatmiko, kawanan pemuda yang tak lain adalah anak buah kakak kandung si Jo ini, lari dan pergi meninggalkan Jatmiko yang tangan kanannya terus menekan perut agar tidak banyak ususnya yang keluar, sementara tangan kirinya menyangga usus yang telah keluar agar tidak jatuh ke tanah. Masih untung ada mobil yang mau mengantar Jatmiko ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis segera.

Sementara itu, di rumah sakit khususnya di bagian instalasi gawat darurat menjadi sangat ribut. Beberapa pengantar pasien sempat tertegun dan “syok” melihat pemandangan yang mengerikan itu. Jangankan pengantar pasien, dokter UGD dan perawat yang jaga pun sempat dibuat terpana dengan kondisi pasien yang masih bisa berjalan sambil menggendong usus yang terburai keluar. Anehnya sedikit sekali darah yang keluar. Perawat bedah dan perawat anestesi bahu membahu mempersiapkan agar pasien siap “hidang” di meja operasi atas instruksi dari dokter bedah dan dokter anestesi yang menjadi atasan mereka masing-masing.

Beberapa kilometer dari rumah sakit, dokter Herman SpB, pagi setengah siang itu sedang menikmati kebersamaannya dengan keluarga berbelanja di sebuah mall ternama di Solo. Deringan telefon dari perawat bedah di kamar operasi membuatnya risau di tengah keceriaan dan kebersamaan dengan istri dan anak-anaknya yang sedang berbelanja.

“Teti...sayang” kata dokter Herman SpB kepada istrinya

“Ada apa mas? Minta aku dan anak-anak naik taksi?” timpal istrinya dengan sedikit cemberut

“I...iya... maafkan papa ya” kata dokter Herman SpB memohon

“Hilmi” “Yahya” “kalian pulang naik taksi ya sama mama... ada pasien yang dibacok orang, ususnya keluar. Harus segera dioperasi. Doakan papa ya” lanjut dokter Herman SpB tanpa memberi kesempatan bicara pada istri dan kedua anaknya, dan langsung bergegas. Ketika menjelang belokan display baru dokter Herman menengok dan melambaikan tangan. Sementara isteri dan kedua anaknya membalas dengan malas dan masih menampakkan ekspresi kebingungan dan kekecewaan.

Saya mendapatkan kisah-kisah mirip kejadian di atas setidaknya dari dua sumber. Pertama, dari dokternya sendiri dan kedua dari anaknya lewat temannya. Untuk yang pertama dia adalah seorang ahli bedah digestif dan yang kedua anaknya juga dokter sedangkan bapaknya adalah seorang ahli obstetri dan ginekologi atau orang biasa menyebut dokter kebidanan dan kandungan. Untungnya anak-anak dari kedua dokter ahli ini “normal-normal” saja, bahkan kedua dokter ahli ini, anak-anaknya juga mengikuti jejak ayahnya yang juga ahli dan saat tulisan ini dibuat sedang menjalani studi jenjang doktoral.

Ada juga yang sampai istrinya stress dan menjadi gila walaupun akhirnya bisa sembuh, tetapi dokter ahli ini akhirnya menjarangkan frekuensi praktik, seminggu hanya tiga hari jam kerja di rumah, dan anak-anaknya tidak ada yang mengikuti jejak ayahnya menjadi dokter, apalagi dokter ahli.

Terakhir dan mungkin bisa dikatakan tragis, kisah dokter obstetri dan ginekologi cewek yang meninggal dalam pangkuan keluarga pasien. Beliau meninggal setelah selesai melakukan operasi dan akan menemui keluarga pasien. Pada saat menemui keluarga pasien ini, beliau terjatuh, dan keluarga pasien sigap menangkap tubuh beliau. Dan meninggal seketika. Tampaknya beliau ini terlalu banyak menangani pasien karena mungkin pasien obstetri dan ginekologi lebih senang kalau dokter yang menangani adalah dokter perempuan. Pasien perempuan tidak nyaman kalau daerah paling pribadi disentuh oleh seorang lelaki asing walaupun dia berprofesi sebagai dokter obstetri ginekologi. Sementara beliau tidak mampu menolak keinginan pasien di satu sisi, ternyata kesehatan beliau tidak dapat menopang beban aktivitas yang menuntut kebugaran fisik tersebut. Akhirnya malapetaka itu terjadi.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana para dokter yang banyak menggunakan “pisau” ini bisa menikmati istirahat dengan nyaman dalam hidup mereka. Malam-malam yang mereka lalui harus selalu dalam keadaan siaga. Mereka harus siap sedia datang ke rumah sakit, manakala pasien yang mereka tangani dalam keadaan darurat. Mereka bertanggung jawab penuh pada keselamatan nyawa pasien yang mereka tangani 24 jam penuh. Memang uang yang mengalir mungkin bisa banyak, tetapi itu mungkin tidak sebanding dengan “kemerosotan” kesehatan, karena mereka menjadi dokter ahli tidak lagi dalam usia yang segar bugar, rata-rata sudah mendekati atau malah sudah berkepala empat. Sudah sering saya dengar dokter bedah, dokter obgyn yang meninggal mendadak karena jantung atau stroke. Bahkan sebagian diantaranya harus menjalani kehidupan dengan cacat akibat serangan stroke. Memang inilah resiko dari “when patient is the first thing”.

Kamis, 18 Juni 2009

Salah Otopsi

Malam itu, begitu suntuk bagi dokter Ari, dari pagi sampai siang menjelang sore, beliau menghabiskan waktu membimbing co-ass yang stase di bagian forensik. Di samping dia sendiri harus mengumpulkan banyak data dari buku-buku catatan forensik yang bertumpuk, untuk keperluan menyelesaikan tesisnya. Baru saja dokter Ari, hendak merebahkan tubuhnya setelah praktik sore di klinik rumah sakit, penyeranta hanfonnya berbunyi. Suara pak Sumanto di seberang sana, bergema nyaring dari loud speaker hanfon, meminta dokter Ari segera datang ke bagian Forensik untuk melakukan otopsi.

Jam dinding di bagian forensik menunjukkan pukul 22.30 WIB. Di meja otopsi terlihat mayat seorang waria. Sementara di kamar penyimpanan mayat ada satu jenazah. Karena sudah larut malam, bersama co-ass yang stase, dokter Ari segera memimpin otopsi pada jenazah waria itu. Sebenarnya dalam hati dokter Ari merasa ada yang janggal, sebelum melakukan otopsi pada jenazah waria ini, yaitu belum ada segel dari kepolisian yang biasanya diikatkan pada seutas benang yang ditali pada ibu jari kaki jenazah. Karena merasa jam sudah larut malam, dokter Ari tak menggubris kejanggalan dalam hati dan langsung saja melakukan otopsi. Bersama co-ass, dokter Ari melakukan pembukaan kepala, dada dan perut, dengan sebelumnya melakukan inspeksi pada kulit luar seluruh tubuh jenazah waria ini. Semua prosedur otopsi telah dilakukan dengan baik oleh dokter Ari bersama co-ass malam itu. Selesai melakukan otopsi, dokter Ari, mengembalikan jenazah waria ini ke tempat penyimpanan jenazah dan bergegas pulang.

Esok harinya, pada saat jam dinas, pak Sumanto tergopoh-gopoh mendatangi meja dokter Ari.

“Dokter Ari, kemarin yang seharusnya diotopsi adalah mayat yang ada di tempat penyimpanan jenazah, bukan mayat waria itu. Mayat waria itu memang datang belakangan, tetapi karena sudah larut malam saya biarkan saja ditaruh di meja otopsi. Mohon dokter bisa melakukan otopsi pada mayat yang di tempat penyimpanan jenazah. Sekarang sudah saya siapkan.”

“Astaghfirullah. Pak, lha kalau ga ada permintaan otopsi pada mayat waria itu gimana pak? Kita bisa dituntut malpraktik? Gimana sih pak?”

“Lha itu dok, saya juga ikut mencemaskan mayat waria yang sudah berubah bentuk karena habis otopsi itu”

“Besok lagi, kalau ngasih kabar yang jelas dong pak”

“Tapi saya juga tidak salah dok, mestinya polisi kalau bawa mayat ke sini juga ada permintaan otopsi tidak asal nitipin saja”

“Iya... tapi kan tidak semua mayat yang datang di sini langsung begitu saja bisa diotopsi kan pak. Kan harus ditunggu minimal 1 kali 24 jam dulu nunggu kabar dari keluarga si mayat kan?”

“Iya dok..... saya minta maaf”

“Iya sudah... tolong disiapin mayat yang mau diotopsi di meja otopsi. Mudah-mudahan pagi ini pak polisi segera menyerahkan surat permintaan otopsi untuk mayat waria itu. Biar kita bisa tenang”

“Iya dok... sudah saya siapin di meja otopsi dok”

Dokter Ari bersama co-ass, sekali lagi melakukan otopsi luar dan dalam pada jenazah yang tadi malam disimpan di ruang penyimpanan jenazah.

Prosedur otopsi telah dilakukan dengan sempurna beserta surat keterangan hasil otopsi untuk diserahkan kepada polisi yang akan datang pagi agak siang nanti.

Beberapa lama kemudian polisi datang, sesuai dugaan meminta hasil otopsi jenazah yang telah dilakukan otopsi pagi itu. Dan.....

Di luar dugaan, polisi juga membawa surat permintaan otopsi dan segel kepolisian untuk jenazah waria yang datang tadi malam. Dokter Ari dan pak Sumanto amat lega dengan surat dan segel itu.

“Pak... pak bisa-bisa dituntut malpraktik pak... kan lucu dokter forensik kok dituntut malpraktik” kata dokter Ari kepada pak Sumanto, sambil merapikan dokumen otopsi untuk kedua jenazah itu.

“He he he ... iya dok, jadi lucu dokter ahli mayat kena tuntutan malpraktik oleh mayat” kata pak Sumanto menyengir.

Beberapa saat kemudian dokter Ari menyerahkan berkas otopsi kedua jenazah itu kepada polisi.

Pak polisi terheran-heran. “Kok otopsinya cepat sekali dokter”

“Iya pak.... kan sudah hafal” kata dokter Ari tak kalah bingung..

Ternyata malpraktik bisa pula mengenai dokter ahli mayat....

Kamis, 31 Januari 2008

Semakin terkenal dokter, ga pernah disebut gelarnya

Di Solo, tempat saya tinggal, bahasa Jawa berkolaborasi ato tepatnya menginfiltrasi bahasa Indonesia dengan sempurna. Banyak ungkapan-ungkapan bahasa Indonesia khas Solo yang sebenarnya merupakan bahasa Jawa yang dipaksakan jadi bahasa Indonesia…

“Gimana… orange kok misih ga datang ke sini” kata seorang pengusaha

“Iyae..udah tak bilangi suruh ke sini..orange tetep ga mau.. aku sampek bosen mbilangi orange” kata teman pengusaha.

“Lha situ… misih sodarane tho… masak gak isa mbilangi?” kata seorang pengusaha tadi

“Sodara….ya…sodara..tapi kalo masalah bisnis ya lain.. kemarin dia dah liyak-liyak punyake situ?” kata teman pengusaha satunya

“Diane cuman liyak-liyak thok… ga ngasih omong apa-apa. Lha sama situ diae bilang apa-apa?” balas pengusaha tadi.

…………………………….

Termasuk menyebut dokter. Semakin terkenal seorang dokter, semakin tidak dihormati dalam mengungkapkannya ke orang lain ato malah ke dokter lain.

“Kemarin aku dah ke Syahril .. udah di kasih obat tapi belum ada kaceke” kata ibu yang memeriksakan anaknya ke dokter Yulidar.

(Maksud Syahril itu dokter Syahril)

“Kalo Yulidar itu ngasih obat dosise terlalu tinggi… tapi kalo Salimo itu kerendahen… “ kata seorang ibu-ibu yang bercerita kepada saya, saat makan di warung makan kolam renang Cokro.

(Maksud Yulidar adalah dokter Yulidar, sedang maksud Salimo adalah dokter Salimo)

“Lha kok ibu tahu..kalo dosisnya terlalu tinggi … sedang satunya dosisnya rendah?” tanya saya kepada ibu muda ini.

“Iya… kalo ke Yulidar… memang langsung sembuh…tapi anake langsung lemes gitu… berarti ketinggian kan dosise.. lha kalo ke Salimo itu … setelah minum berhari-hari baru anake bisa sembuh..” jelas ibu muda tadi yang mengantar anak dan suaminya yang sedang renang.

……………………………

Saya ga protes, maksudnya ga usah pakek nyebut dokter ga masalah, mbok nyebutnya pakek pak ato bu, kan para dokter yang disebut itu sudah sepuh, rata-rata sudah beranak cucu. Ya sedikit dihormatilah.

Hei mau protes sama siapa?

Yaa ini sekedar pemberitahuan aja… kok

Ada yang menarik di sini, ternyata dosis tinggi dipersepsi cepet sembuh tapi anaknya lemes. Sedangkan dosis rendah…sembuhnya lama.

Saya yakin, dokter kalo ngasih obat ato memilihkan dosis obat sudah sesuai aturan pakek. Hanya masalahnya di sini, kecepatan penyembuhan itulah yang dipersepsi orang sebagai dosis tinggi ato rendah.

Inilah bedanya antara kenyataan dan persepsi yang berkembang dalam benak orang ato masyarakat.

BAGIAN yang ga nyambung...


Inilah Sejarah Benda-benda Yang diAkrabi Kaum Lelaki dari Lahir sampai Akhir Hayat

Kembali ke bagian yang nyambung..

KIRA-KIRA KALO ANDA JADI DOKTER YANG DISEBUT DIATAS.. apa yang jadi pikiran dan perasaan ANda?

Selasa, 10 Juli 2007

Alarm Pengganggu

Temen saya namanya Sugiyono SH

Baru enam tahun ini menggeluti profesi sebagai pengacara…prestasinya luar biasa, walopun belum setenar pengacara nasional sekaliber Paris Hotman atau OC Kaligis, tapi saya melihat kecenderungan ke sana nya sangat besar. Konflik sengketa Pilkada pernah ia tangani. Tetapi kasus terbanyak yang ia tangani adalah konflik rumah tangga yang berujung pada perceraian.

“Saya tidak menyebabkan orang bercerai, saya hanya menguruskan administrasi orang yang jelas bercerai saja” kata pak Sugiyono

“Ooooo gitu….” Kata saya

“Pak Gi…. Ini di luar topik… saya pengen tanya nih ….pak Gi sendiri anaknya kan empat…ga punya pembantu… terus bagaimana ngurusin anak, ngurus pekerjaan dan ngurus istri…?” tanya saya

“Begini…saya selalu memasang alarm jam beker…saya setel jam 03.00 WIB…biar bisa bangun..” kata pak Gi (saya biasa memanggilnya pak Gi)

“terus…?” tanya saya penasaran ingin tahu cerita selanjutnya

“Ya seringnya saya bangun subuh…” jawab pak Gi enteng

“Lha kok bisa? Kan alarm bekernya bunyi jam 03.00 sedangkan subuh kan jam 4.00 sampai 4.30 pak Gi?” tanya saya

“Alarm aku matikan” jawab pak Gi

“Lha kok dimatikan pak?” tanya saya

“Lha wong mengganggu tenan kok….aku matikan saja…terus tidur lagi” jawab pak Gi enteng..

Wakakakakakakkakakakkak

Glodak tenan

………………………………………….

Saya jadi teringat sebuah artikel di majalah SWA.[1] ; menyebutkan menurut sebuah studi sekitar 80 % orang pada akhir Januari sudah lupa atau kehilangan komitmen untuk menjalankan resolusi atau apa yang mereka rencanakan pada malam tahun baru.

Dan pak Gi tidak sendiri, ternyata 4/5 orang atau hampir semua orang lupa dengan apa yang mereka rencanakan. Banyak orang yang tidak konsisten atau komitmen untuk melaksanakan apa yang telah mereka rencanakan.

Masalah komitmen pada pelaksanaan ini demikian penting, Seperti yang ditulis Stephen R. Covey[2], dalam Principle –centered Leadership bahwa efektivitas suatu keputusan tergantung kepada dua hal yaitu kualitas keputusan itu sendiri dan komitmen bersama dalam menjalani keputusan itu. Artinya sekalipun keputusan itu sempurna karena disusun oleh pakar tingkat dunia, namun komitmen dalam melakukan sangat rendah atau tidak ada komitmen maka keputusan itu tidak ada artinya karena tidak dikerjakan. Karena itu membangun komitmen bersama dengan keteladanan adalah sangat vital sebelum melakukan langkah-langkah manajemen selanjutnya. Intinya ada pada eksekusi. Jadi kesimpulannya eksekusi adalah “the missing link between aspirations and results”.

Jadi kalo ga ada eksekusi sama saja tetap menggantung (missing link) seperti yang dialami oleh pak Gie…


[1] Irwan Rei; Mengukir dan Mengukur Rencana; Majalah SWAsembada,SWA07/XXI/31 Maret – 13 April 2005

[2] Stephen R. Covey, 1996, Principle –centered Leadership Edisi Indonesia Kepemimpinan yang Berprinsip, 1997 Binarupa Aksara

Senin, 11 Juni 2007

Sholat Malam Satu Rokaat

Penampilannya memang rata-rata kebanyakan orang…. Tidak ada yang istimewa. Tapi begitu ngobrol-ngobrol agak lama baru kelihatan bahwa tokoh kita yang satu ini memang berbeda dengan yang lain. Dan kalo boleh saya mengategorikannya aneh….

Berikut adalah salah satu dari yang saya anggap aneh itu…. Eh dikoreksi… maksudnya terlalu menyederhanakan permasalahan kayaknya yang pas seperti itu…deh

“Saya kalo pas bisa bangun malam dan ada kesempatan sholat malam…. Saya sholat satu rokaat saja…” kata Herman

“Satu rokaat?” tanyaku

“Iya … kan ada hadits yang insya Allah berbunyi ‘banyak orang yang sholat malam, tetapi sia-sia…hanya mendapat lelah saja’…” kata Herman dengan penuh semangat.

“Lalu hubungannya dengan sholat satu rokaat?” tanyaku masih belum paham

“Yaa.. kalo misalnya sholatnya diterima … ya syukur alhamdulillah… lha kalo ga diterima kan ga capek-capek banget..” kata Herman masih dalam mimik yang serius..

Ha ha ha ha wakkakkakkkaak badala tenan..

Ini juga termasuk prinsip efektif dan efisien. Tapi kalo menurut hati nurani kayaknya kurang pas gitu… saya menganggap sholat malam.. tidak usah dihitung berapa tingkat kecapekan yang telah kita lakukan… lha wong itu kita yang butuh kok… jadi ga usah itung-itungan gitu.

…………………………………………………….

Dalam kehidupan sehari-hari kita memang banyak sekali dihadapkan dengan banyak keputusan. Dan keputusan itu selalu berimplikasi pada biaya-biaya. Biaya tidak saja materi tetapi juga berkaitan dengan yang non materi…

Kata Grossmann sang pakar ekonomi kesehatan setiap orang berusaha memproduksi kesehatannya sendiri. Untuk itu ia perlu masukan dalam memproduksi kesehatannya. Masukan itu berupa gizi yang berimbang, perumahan yang sehat, keuangan yang mapan, perilaku dan gaya hidupnya yang sehat.

Dan tujuan akhir memproduksi kesehatan adalah meningkatkan jumlah hari sehat yang dapat ia nikmati agar ia produktif dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang akan produktif kesehatannya apabila gaya hidupnya menambah produksi kesehatannya. Atau gaya hidupnya mempunyai pengaruh dalam jangka panjang menghambat depresiasi nilai kesehatannya karena bertambah usia.

Perilaku yang tidak sehat seperti merokok, apapun mereknya entah A Mild, Gudang Garam, Dji Sam Soe, Sampoerna Hijau atau Class Mild, maka dalam jangka panjang akan berakibat menurunnya fungsi paru lebih dini, lebih mudah terkena hipertensi, stroke dan diabetes mellitus. Bila terkena penyakit itu, berarti depresiasi kesehatannya akan semakin dini diperoleh dan drastis. Demikian juga dengan diet yang tidak berimbang serta kurangnya olah raga juga memperbesar kemungkinan penyakit yang sama.

Perilaku lain, seperti kebut-kebutan dan sembrono di jalan raya, akan meningkatkan kemungkinan kecelakaan yang berujung pada kecacatan.

Peminum dalam jangka panjang juga berakibat mempercepat degenerasi otak secara dini atau orang awam mengatakan semakin mudah mengalami pikun.

Pendek kata perilaku atau gaya hidup sehat adalah input untuk memproduksi kesehatan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Akhirnya akan memperbanyak kualitas maupun kuantitas hari-hari sehat yang akan dia lalui hingga akhir hayatnya.

Minggu, 03 Juni 2007

“SERIBU KALI LIMA BELAS = LIMA BELAS RIBU”

Orangnya sudah separoh baya, tapi tingkahnya sebaya dengan anak remaja. Orang-orang memanggilnya Tobil. Rambutnya tidak di semir hitam, sehingga kombinasi putih uban dan rambut hitam dalam porsi yang berimbang menghasilkan warna abu-abu. Suatu ketika di warung makan…

“wuuutss” tangannya menyabet lalat dan kena… kemudian memasukkan lalat itu ke dalam kantung plastik. Satu… dua….tiga……

“Satu… dua ….tiga….empat…..lima….enam…..tujuh….delapan….sembilan….sepuluh. … sebelas….dua belas……tiga belas…empat belas….lima belas” dia bergumam

Tingkahnya yang aneh menangkapi lalat itu jadi perhatian banyak orang, tidak saja pelanggan warung, tetapi juga orang-orang pasar yang lalu lalang.

“seribu dikalikan lima belas sama dengan lima belas ribu…… di bawa ke tempatnya Pak Hendro aja ah dapat lima belas ribu rupiah…..” gumam beliau yang bisa didengarkan oleh setiap orang yang ada di sekitarnya.

Semua orang yang berada di situ, sudah tahu siapa pak Hendro, orang barusan disebut Tobil. Pak Hendro adalah pengusaha yang dekat dengan banyak orang kecil.

……………………………………..

Setelah peristiwa itu…pak Hendro kebanjiran orang yang berkepentingan untuk menukarkan lalat yang bisa ditukar uang @ lalat = Rp. 1.0000,-. Pak Hendro jelas tidak terima dengan perlakuan ini.

“Saya ga pernah menerima orang jualan lalat @ Rp. 1.000,-. Siapa bilang saya menerima pembelian lalat @ Rp. 1.000,-.?” Tanya pak Hendro dengan nada berang.

“T o b i l” kata orang-orang yang sudah terlanjur membawa berbungkus-bungkus lalat.

“Sialan”

…………………………………………

Kali ini, orang ramai-ramai mendatangi rumah pak Hendro, dengan pakaian resmi, lengkap. Para bapak-bapak ada yang memakai jas kalau dia berhaluan mode nasional. Ada pula bapak-bapak yang memakai baju batik koleksi pribadi terbaik yang dimiliki kalau dia berhaluan Jawa original alias tulen. Ibu-ibu pun juga mengikuti bapak-bapaknya ada yang memakai kebaya, ada yang memakai pakaian berstandard mode internasional. Tak lupa pula mengiringi berhamburan aroma wangi yang ditebarkan oleh masing-masing orang, semuanya ingin menampilkan sisi terbaik penampilan fisik yang dimiliki.

Akan tetapi……

Mereka mendapati….

Rumah pak Hendro tidak ada apa-apa. Maksudnya, tidak ada gelagat yang menunjukkan bahwa diri dan keluarganya mempunyai hajat besar. Maksudnya lagi… mempunyai hajat sesuai dengan undangan yang telah beredar di kalangan hadirin. Yaitu pak Hendro sedang punya hajat menikahkan putrinya.

Para hadirin seperti sedang dipermalukan…

Semua yang datang kecewa, heran dan tidak tahu marah dengan siapa. Mengapa mereka semua berada di sana. Mengapa mereka semua jadi kerjaan seseorang. Dan ternyata mereka akhirnya bisa mengetahui bahwa semua ini adalah hasil kerjaan si Tobil. Mereka saling cocok mencocokkan, siapa yang ngasih undangan.

Ternyata semuanya berhubungan dengan si Tobil. Baddallaa..

“Sialan… Tobil”

………………………………………………………

Mencoreng muka itu jauh lebih mudah dari pada membangun nama baik. Pepatah mengatakan air susu satu belanga atau satu bak bisa rusak hanya oleh nila setitik. Sebaliknya membangun nama baik butuh proses yang lama. Kalo kita melihat bagaimana prosesnya nabi Muhammad SAW diberikan gelar oleh kaumnya, ternyata memakan waktu puluhan tahun, jauh sebelum beliau ini diangkat rasul oleh Allah SWT.

Dalam dunia bisnis pun juga demikian. Perusahaan Toyota bisa memiliki nama besar setelah sampai pada generasi kedua. Perusahaan-perusahaan besar lain, seperti Unilever, Honda, General Electric dan juga Astra International, juga membutuhkan waktu puluhan tahun. Nama baik terbangun dalam hitungan decade. Bukan hasil sulap menyulap semalam langsung jadi, tetapi, diisi perjuangan untuk menghasilkan konsistensi mutu dan hasil kerja yang baik secara keras, begitu dan begitu serta terus dan terus menerus, dalam hitungan dekade baru orang memberikan pengakuan nama baik.

Pakar pemasaran Al-Ries mengatakan brand (nama baik) is not build in one night but it build in decade.

Jadi bagaimana si Tobil bisa membangun nama baik suatu ketika dia sadar, sementara orang makin lama makin tersadarkan dia sebagai orang yang suka ngerjain ato suka membangun nama buruk buat dirinya sendiri.

NAMA BAIK ITU HARUS DIBANGUN

Sabtu, 02 Juni 2007

Awas! ada éék anjing!!!

Senangnya berjalan bareng dengan temen-temen satu kampus yang satu kos. Jadi kalo berangkat… guyub… akrab…

Jarak antara kos dan kampus lumayan jauh.. sekitar satu kilo meter…

Tempat kos saya tempo dulu sangat heboh..

Batas kanan rumah penduduk, tetapi depannya ada kandang babi.

Batas kiri jalan.. tetapi rumah seberang.. adalah pengerajin tahu..

Bagian belakang sebenarnya masjid.. tetapi kanan dan kirinya selang-seling antara pengerajin tahu dan peternak babi..

Bagian depan.. yang ini bebas bau… karena jalan dan seberang jalan adalah warung makan..

Dengan kondisi seperti itu dapat menentukan kira-kira dari mana angin itu berhembus.. kalo dari depan pas masakan udah matang jelas baunya masakan. Tetapi kalo dari samping kiri pas ampas tahu keluar dari rumah… bau ampas tahu yang mendominasi.. kalo dari arah kanan…dipastikan aroma kotoran babi yang keluar… kalo dari belakang.. ga jelas babi atau ampas tahu…

Selain itu banyak juga anjing yang berkeliaran di jalan. Karena anjing tidak dikaruniai teknik membuang kotoran yang sopan. Maka, dia dengan enaknya, seperti seorang seniman jalanan yang mencorat-coretkan karya… ndemblog-ndemblog.. tak beraturan di jalan.

Jadi jalanan di sekitar kos kami itu… wow seperti kanvas lukisan bunga jalan dengan dua seniman alam utama yang mengukirkan karyanya: anjing dan ayam.

……………………………………

Ada dari kami berenam yang fobia sama kotoran. Entah apa yang jadi penyebab, bagaimana proses terjadinya hingga dia menjadi pengidap fobia kotoran… ga usah dipikirin dah… nanti tambah pyusiiiing…. Kita nyebutnya si fobia aja ya..

Si fobia ini kalo berjalan.. sangat focus pada hasil mahakarya dua seniman jalanan tadi eeknya ayam dan eeknya anjing. Tetapi yang bikin dia lebih fobia adalah sama eeknya anjing.

…………………………….

“Kapan pulang ke Pangkal Pinang Kah? Tanyaku

“Ya nanti pas liburan semester” Jawab Barkah

“Nanti dioleh-olehin krupuk tengiri ya Kah” kata Thomas

“Ya don’t worry” jawab Barkah mantap

“Kita nanti jam pertama, kuliah Anatomi tiga kan, ga pretes?” tanya Teguh

“Iya.. memang kamu belum siap tho Guh?” tanya Budi

“Ho oh..” jawab Teguh

Tiba-tiba..

“AWAS! BERHENTI!!!” teriak si Fobia kotoran…sambil tangannya telentang menghentikan langkah kami semua.

Kami semua langsung mengikuti apa yang jadi komandonya…

“Ada apa?” tanya Barkah

“Ada ééknya Anjing….najis…najis” jawab si Fobia

“Ooallaaah… glodak”

……………………………….

Fobia apa pun yang jadi obyek fobianya, bagi si penderita fobia sangat menakutkan. Bahkan ketika hanya diperdengarkan kata saja… rasa takut itu sudah muncul.

Termasuk istri saya.. fobia sama kecoak…

Waduh.. ini juga bikin pyusiiing…

Jadi ketika menyusui anak.. kalo muncul hewan yang bikin ketakutan setengah mati setengah hidup istri saya itu… saya mengambil langkah tutup mulut… sambil.. diam-diam tangan ini menggerayangi dan menerkam si kecoak itu…

Biar anak tetap santai menyusu…tanpa terganggu ketakutan ibunya akan kecoak..

Saya malah punya pasien takut setengah mati dengan nasi…

Waduh yang ini bikin pyusing panitia outbond ato OSPEK dan semacamnya… harus mencarikan roti .. untuk peserta special ini.

Pelan tapi pasti fobia juga bisa diatasi.. ada dua aliran.. pertama memborbardir dengan obyek fobia hingga penderita pingsan ato terkencing-kencing…sampai penderita nyaman dengan obyek fobianya tersebut… berarti kalo fobia kecoa.. diperlakukan seperti peserta fear factor tidur dengan seribu kecoa…. wakkakakakakk

Jenis yang kedua, pelan-pelan… dikenalkan dulu dengan satu sayap kecoak ato potongan kaki kecoak… hingga lama-kelamaan kecoak utuh…. Lalu ribuan kecoak…

Jadi yang kedua ini dijamin tidak bikin pasien fobia pingsan ato terkencing-kencing…..

Selamat mencoba.

Apanya?

Taauuuu!!!!

Rabu, 30 Mei 2007

Kromatografi sempurna

Pengamatan selayang pandang kamar kos cowok dulu selama masih mahasiswa. Ada satu benda yang dipastikan ada di setiap kamar. Mau tahu apakah itu?

Kalpanax

Kalpanax?

Ya, kaplanax. Obat panu, gatal, kurap dan kadas.. bentuknya cair. Kalo kena kulit menyengat panas..hingga terbakar. Kalo ada award Kos-kosan Customer Satisfaction Award (KCSA) untuk kategori jamur kulit maka dipastikan Kalpanax adalah juaranya.

Analisa mengapa ada kalpanax..

“Anak-anak itu jorok sekali. Mereka itu sering kelupaan mencuci.” Kata Barkah di suatu sore.

“Maksudmu?” tanyaku

“Iya..ketika celana dalam tinggal satu, baru sadar kalau waktunya harus mencuci. Jadi sering celana dalam terakhir itu dipakai seperti kaset. Side A dan side B. Kalau terpaksa memakai yang baru dicuci, pengeringannya secara instan, memakai seterika dan diangin-anginkan kipas

angin. Makanya pada jamuran.” Jelas Barkah

“haa…haa….haa…” kami tertawa…Barkah tertawanya meledak seperti meledaknya gunung Merapi yang memuntahkan lahar dahsyat.

………………………………………..

“Ada satu lagi Kah. Teman-teman kita pada ahli kimia terutama ahli kromatografi. Kalau dalam kromatografi, warna orange spidol yang digoreskan pada kertas, kemudian dicelupkan air di ujung bawahnya hingga merambat ke atas melewati goresan spidol pada kertas tadi, maka

warna orange tadi dapat terurai menjadi merah dan kuning setelah air melewatinya. Lha kalau teman-teman kita itu, warna abu-abu berhasil diubah menjadi warna penyusunnya. Warna hitam dan putih.” kataku

“Yang kamu maksud itu…téko untuk memasak air?” tanya Barkah ganti

“Tepat! Dahulu ketika kita iuran téko semula warnanya abu-abu logam dan mengkilat kan? Tetapi setelah setengah tahun berjalan, abu-abunya itu terurai menjadi warna-warna penyusunnya. Inilah yang namanya

kromatografi itu. Bagian luar berwarna hitam, karena kita memasak pakai kompor minyak tanah, sehingga kotoran-kotoran sisa pembakaran yang menjadi jelaga mewarnai bagian luarnya. Sedangkan di dalam, karena air yang kita konsumsi itu kaya kadar kapurnya. Makin lama, makin mengerak putih. Kedua warna itu, karena jarang atau hampir tidak pernah dicuci. Jadilah seperti itu; K R O M A T O G R A F I S E M P U R N A. Kalau aku masak mesti aku cuci sebelum dan sesudah memakainya, tetapi yang lain hanya memakai dan tidak mencuci…ya…” aku menjelaskan

“Iya Suf, namanya juga anake wong akéh[1]. Dulu ada yang saya ingatkan, malah menjawab ‘dengan dipanasi saat memasaknya, berarti kan sudah disterilkan…jadi tidak perlu dicuci’ kalau perlu, katanya membaca mantera ajaib andalannya

‘Min Kuman Kamin, Kuman Mati Jadi Vitamin’” kata Barkah

“ha..haaa….haa…” kami tertawa meledak lagi kali ini seperti bisul yang nyeprot. protttt

…………………………………………….

Hindustan lever anak perusahaan MNC (multinational corporation) Unilever di India telah melakukan perubahan paradigma pengetahuan masyarakat menengah ke bawah yang tidak terjangkau media. Semula mereka beranggapan bahwa namanya membersihkan tangan itu adalah asal terlihat tangan sudah bersih, berarti sudah bersih. Padahal habis ternoda kotoran hewan. Walah. Kayaknya masalah bau tidak dipertimbangkan, asal terlihat bersih langsung
dipakek makan dengan tangan langsung tidak makek sendok ato garpu.

Hiiiii… huweek buaaahhh… cuh. Hei jangan

gitu…malah jadi pembangkit selera makan tauuu. Halah malah parah.

Kalangan bawah India itu tidak berpikir lebih lanjut bahwa membersihkan dengan sabun juga lebih dari sekedar bersih…tetapi juga bebas dari kuman yang ditengarai sebagai penyebab diare utama tersering di India.

Kayaknya mereka mempunyai mantra ajaib seperti anak kos-kosan tadi, tidak mencuci tangan pakek sabun sebelum makan..

“Min Koman Kamin.. Kuman Mati Jadi Vitamin”

Penelitian disana banyak mengungkapkan bahwa mencuci tangan dengan sabun sebelum makan ternyata dapat menurunkan angka kejadian diare secara signifikan..

Tantangan terberat Hindustan Lever adalah bagaimana membuat program yang menjangkau kalangan bawah yang gelap media… dalam jangka panjang tetapi tidak menguras habis keuangan perusahaan.

Singkat cerita akhirnya telah dicipta program jenius berbiaya murah, signifikan hasilnya, menjangkau masyarakat miskin yang gelap media….dan yang penting adalah berubah perilaku mereka… cuci tangan pakek sabun sebelum makan sudah menjadi budaya..

PeRmasalahannya adalah

ORang miskin dan gelap media saja bisa berubah paradigma dan perilaku kebersihannya… lalu gimana dengan anak kos-kosan? Mereka terdidik dan terjangkau media!!!


[1] anaknya orang banyak

Jumat, 18 Mei 2007

Salah Perhitungan

“Krek” suara gesekan kursi dengan lantai tempat pijakannya… beberapa saat kemudian disusul dengan……………..

“Tii..u..uuuuuu.u….u.u.uuut”

Mengejutkan sekali …

Suara kentut! Suara kentut di tengah ujian.

Ha ha aha wakakakaakakakakakakak

Seisi kelas yang sedang ujian semesteran langsung gaduh… suasana ruang ujian yang semula tenang… tiba-tiba menjadi riuh oleh suara ketawa… mulai yang sedang sampai yang terpingkal-pingkal…. Hanya dipicu oleh lantunan suara kentut yang manjaa….

ANALISA

Pertama muncul : suara “krek” gesekan bangku dan lantai…

Suara berikutnya : “Tii..u..uuuuuu.u….u.u.uuut”

Maksud suara pertama adalah untuk menutupi suara kentut agar tidak terdengar… dan dalam kenyataannya suara tersebut tidak bersamaan… sehingga terjadilah “TRAGEDI” seperti di atas.

…………………………..

Edi datang ke perpustakaan Universitas Sebelas Maret jam 13.00 WIB

Sejak semula sakit maag kambuh… sehingga perutnya kembung… akibatnya sebentar-sebentar kentut…

Dengan cara yang sama di atas menggeserkan bangku… bebarengan dengan itu kentut dibunyikan…

Dan…..

“…………” suara kursi digesekkan

“Preeet” suara kentut nyaring terdengar

Perhitungan meleset…

Ternyata kursi yang diduduki Edi adalah kursi yang ada rodanya sehingga tidak menimbulkan suara sama sekali… dan suara kentutnya yang terdengar jelas hingga seluruh penjuru ruangan perpustakaan…

…………………….

Perhitungan meleset dalam praktek dokter memang lumayan banyak dijumpai… kendala-kendala yang dijumpai dan paling sering adalah masalah komunikasi… atau cara pasien mengekspresikan apa yang dikeluhkan… dan dokter “terbawa” pola pikirnya oleh apa yang dinyatakan pasien….

Seorang remaja umur 13 tahun datang ke dokter mengeluh perutnya sakit. Dia menunjuk daerah ulu hati yang sering sakit….

Kemudian diperiksa menunjukkan hipertimpani di daerah ulu hati dan akahirnya mendiagnosisnya sebagai gastritis..

Pasien diberikan obat antasida, penekan produksi asam lambung.

“Kurangi makan pedes, makan santan dan berlemak, tidak minum kopi atau jahe dan kurangi minum minuman yang masam” kata dokter memberikan advis tambahan selain obat.

“Iya dokter” kata pasien dan orang tua yang mengantarkan.

Dua minggu berikutnya pasien datang…

Keluhan sama--> diperiksa --> diagnosis sama --> obat dan advis sama

Tiga minggu berikutnya pasien datang….

Keluhan sama --> diperiksa --> diagnosis sama--> obat dan advis sama

Satu minggu sesudahnya…

Keluhan sama --> diperiksa --> diagnosis sama --> obat dan advis sama

Lima hari sesudahnya….

Pasien datang dalam keadaan lebih berat… intensitas sakit perut semakin meningkat dan sering….

“Sakitnya terus menerus atau hilang timbul mbak?” tanya dokter

“Hilang timbul dok” jawab pasien

“Maksudnya?” tanya dokter

“Kadang sakit banget… terus tidak… kemudian mulai sakit banget kembali” jelas pasien

“Sakit hilang timbul itu sudah berlangsung berapa lama mas? Tanya dokter lagi

“Sudah lima tahun ini” jelas pasien lagi

“Lima tahun?” tanya dokter tidak percaya

“Selama itu…sudah berobat?” tanya dokter lagi

“Iya sudah…biasanya mesti dianggap sakit maag” jelas pasien lagi

“Pernah ga mas… dalam sehari atau seminggu penuh tidak pernah sakit perut sama sekali” tanya dokter

“Pernah dok” jawab pasien

“Coba mas diingat-ingat kembali… biasanya muncul serangan sakit setelah apa mas?” tanya dokter

“Hmmmm… setelah apa ya…. Kayaknya kalo pas habis kecapekan… paling sering kalo habis pelajaran olah raga….

O ya yang paling berat.. dulu habis bepergian jauh…. besoknya pelajaran olah raga… terus siangnya sakit perutnya hebat sekali” jelas pasien

“Kalo ada masalah berat…misalnya pas ujian atau kebanyakan PR juga muncul?” tanya dokter

“Iya… kayaknya perut saya tidak mau diajak mikir berat deh” jelas pasien

“Dulu pernah jatuh sampek ga sadar mas?” tanya dokter

“Pernah…kecelakaan … jatuh ga sadar sampek sehari semalam… baru sadar” jelas pasein

……………………………………

Singkat kata dokter tersebut curiga ada epilepsy (iritasi otak) sehingga merujuknya melakukan rekam listrik otak.. dan benar diagnosisnya adalah epilepsy… diobati anti epilepsy.. dan tujuh tahun sesudahnya pasien tidak minum obat lagi dan sembuh..

…………………………….

Ternyata menegakkan diagnosis perlu berapa kali kunjungan… dan pernah mengalami “salah perhitungan” seperti pada kasus salah perhitungan dalam strategi mengeluarkan kentut di atas…

Sabtu, 21 April 2007

Siapa yang kentut?

Teman-teman menyebutnya Simbah, karena seluruh rambutnya hampir memutih, padahal usianya baru dua puluh tahun.

Dia pernah bilang

penyebab rambut putihnya adalah ketika mencukur rambutnya di tukang potong rambut madura, oleh si pencukur ditaburi bedak putih, setelah memotong rambutnya. Karena peristiwa itu terjadi berulang-ulang maka jadi putihlah rambutnya.

Walaupun sebenarnya semua pelanggan di tukang potong rambut madura juga ditaburi bedak putih. Mengapa terjadi perbedaan hasil, yang lain tetap hitam rambutnya termasuk diriku, sedangkan Simbah rambutnya berubah banyak putih itulah yang tidak habis ia mengerti.

“Ayo mbah… kentut!”

“tut..tut …préét”

“lagi mbah!”

“tut..tut…préét”

“lagi..!”

“tut…préét”

“sekali lagi!”

“tut..préét”

Saya tidak tahu, gerangan apakah yang menyebabkan dia bisa sangat produktif seperti itu. Kayaknya tidak ada dalam pembahasan di textbook ilmu kedokteran yang selama ini aku pelajari. Untungnya Simbah itu laki-laki, ada lho teman dari temanku kos setiap ketawa pasti terkentut-kentut dan dia adalah seorang wanita. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa malunya.

………………………………………………

Sore itu mereka berlima naik angkot, kebetulan dari jauh memandang ada gadis cantik yang dari gelagatnya juga akan naik angkot tersebut. Entah apa yang terjadi, mereka berlima tiba-tiba berêmbug, bergerombol sejenak seperti layaknya time out tim bola basket, sebelum bersama-sama naik angkot.

Setelah angkot berjalan beberapa lama, tiba-tiba

“tut..tut..preet” terdengar suara kentut.

Seluruh penumpang saling pandang.

Tetapi beberapa saat kemudian mereka berlima secara serempak memandangi gadis cantik tadi.

Tanpa ada instruksi dari siapa-siapa, seluruh penumpang yang berada di angkot itu, ikut-ikutan memandangi gadis itu dengan warna wajah yang penuh kecurigaan dan penghinaan. Terbesit dalam pikiran orang yang naik angkot itu beraneka macam dugaan dan prasangka, walaupun tidak terekspresikan

“Gadis cantik kok tidak punya sopan santun”

“Gadis cantik kok tidak waras”

“Gadis cantik kok tidak tahu diri”

begitulah kira-kira ungkapan dalam hati semua penumpang dan awak angkot kalo dikalimatkan.

Kontan gadis cantik itu memerah mukanya, dan karena tidak tahan dengan tatapan-tatapan mata liar yang memandangi, ia segera memutuskan turun, walaupun belum sampai ke tempat tujuannya.

Sungguh malang nian nasib gadis cantik itu. Anak-anak itu sungguh keterlaluan kalau ngerjain orang.

Permasalahannya mencari siapa yang “kentut”?

Permasalahan kesehatan yang telah mewabah seperti sekarang ini, yang terutama nyata sekali adalah kampanye merokok.

Dokter ato orang-orang yang peduli dengan masalah merokok saat ini posisinya sama persis seperti gadis yang terusir dari angkot. Terusir secara fisik sih tidak, hanya terusir secara psikologi sosial aja.

Orang yang tukang kampanye antirokok itu jadi jadul banget. Dia “terfitnah” oleh mata-mata “media” liar yang membawa mata-mata yang lain ikut menjadi “liar” karena terbawa arus utama “media” liar. Teman-teman simbah yang yang membuat mata-mata penumpang lain itu ibaratnya seperti media yang mengarahkan penontonnya ikut terbawa arus permainannya sehingga “mata-mata” liar memelototi orang-orang yang mengampanyekan anti merokok.

Jadi siapa yang “kentut” tukang kampanye rokok atau tukang kampanye antimerokok?