Tampilkan postingan dengan label perenungan professionalism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perenungan professionalism. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Mei 2013

DELAPAN ARAH PERUBAHAN DAN PERBAIKAN MASYARAKAT ISLAM

Delapan arah perubahan dan perbaikan masyarakat Isalm menurut Hasan Al Bana :
  1. Dakwah salafiah, mengajak kembali bersama Islam kepada sumbernya yang sahih yaitu Al-Qur'an dan Sunah Rasulullah SAW
  2. Thariqah Sunniyah, mengajak jiwa untuk mengamalkan sunah dalam segala hal, khususnya masalah akidah dan ibadah selama ada kemampuan
  3. Haqiqah shufiyah, asas kebaikan adalah kesucian jiwa, kejernihan hati, kontinuitas amal, berpaling dari ketergantungan pada makhluk menuju cinta karena Allah dan keterikatan kepada kebaikan
  4. Hai'ah siyasiyah, menuntut perbaikan pemerintahan, meluruskan persepsi terkait hubungan umat Islam dengan bangsa lain, mentarbiyah bangsa agar mempunyai izzah
  5. Jama'ah riyadhiyah, memperhatikan kualitas dan kesehatan fisik, sebagai penopang utama aktivitas masyarakat
  6. Rabithah 'ilmiyah tsaqafiyah, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimat, perlu lembaga yang meningkatkan pengajaran dan peningkatan wawasan ilmiyah
  7. Syirkah Iqtishadiyah, perlunya memperhatikan pengelolaan dan pendapatan kekayaan sebagaimana mestinya, "sebaik-baik harta halal dipegang oleh orang yang shalih".
  8. Fikrah ijtima'iyah, perlunya penanganan secara profesional dan sistematis terhadap permasalahan-permasalahan sosial kemasyarakatan, perlunya didirikan banyak lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan dan sebagainya untuk menyembuhkan penyakit sosial di masyarakat
(Syarah Risalah Ta'alim)

Kamis, 26 Juli 2012

Apoptosis sebuah “kerendahan hati” sel terhadap kebersamaan


Apoptosis adalah sebuah istilah untuk menggambarkan proses kematian sel yang terprogram dan terencana. Anda mungkin heran, kok bisa di dalam tubuh kita ada proses kematian sel yang terprogram dan terencana? Kematian sel secara umum di dalam tubuh kita terbagi dua macam, yaitu kematian tak terencana dan kematian yang terencana. Kematian tak terencana biasanya merupakan proses “serangan” dari luar seperti serangan mikroorganisme yang menjadi penyakit atau trauma yang merusakkan sel-sel tubuh. kematian terencana terjadi pada sel-sel yang sudah “selesai” menjalankan misinya karena dibatasi oleh waktu seperti sel-sel darah merah yang masa kerjanya 120 hari, sel kulit yang masa kerjanya 21 hari dan sel pencernaan yang masa kerjanya 6 hari.
Apakah ada perbedaan dampak bagi tubuh antara kematian sel yang terencana dengan kematian sel yang tak terencana? Kematian sel yang terencana atau APOPTOSIS SAMA SEKALI tidak menimbulkan efek samping pada keberlangsungan hidup sel-sel yang ada di sekitarnya, sementara kematian sel tak terencana menghamburkan isi “perut” sel keluar mengundang sel-sel yang berperan sebagai tentara untuk memberikan isyarat bahwa peperangan akan segera dimulai. Bila berlanjut “peperangan” tersebut membuat seluruh tubuh merasa tidak nyaman hingga yang sering kita rasakan adalah tubuh demam, menggigil, tulang linu-linu dan otot-oto tubuh merasa pegal-pegal. Itulah sebagian kehidupan dunia dalam sel-sel penyusun tubuh kita.
Dalam tulisan ini, saya akan mengajak Anda untuk melihat proses kematian terencana atau APOPTOSIS pada proses pembentukan tubuh kita saat kita berada di dalam kandungan ibu kita ketika hamil. Di bagian sebelumnya telah saya uraikan bahwa kita dulunya adalah pertemuan antara sel sperma dari ayah dan sel telur dari ibu. Kemudian pertemuan sel ini menghasilkan leburan satu sel yang disebut dengan istilah zigot. Zigot satu sel ini kemudian membelah menjadi dua sel, selanjutnya empat sel, delapan sel, enam belas sel, tiga puluh dua sel, enampuluh empat sel terus dan terus hingga tersusun sempurnalah bagian-bagian tubuh kita yang rumit, saling terkoneksi, saling tergantung satu sama lain, terhubung dalam sistem yang kompleks. Ternyata dalam proses pertambahan berat dan volume ini, juga diikuti pula proses pengurangan sel yang dilalui dengan jalan APOPTOSIS. Berarti selama proses pembentukan jaringan dan organ-organ itu ada sebagian sel-sel yang mematikan dirinya dan terencana? Heran ya? Ketika membaca frase paragraf seperti itu saya juga heran sekaligus takjub akan ke-Maha Sempurnaan Allah SWT yang menciptakan kita. Dengan proses kematian terencana atau APOPTOSIS itulah membuat celah-celah di antara ruas-ruas jari kita. Dengan kematian terencana itulah membuat telinga kita bisa berlubang dan daunnya bisa “terukir” demikian indah dan sempurna bentuknya. Dengan APOPTOSIS itu pulalah kita mempunyai lubang hidung, sinus-sinus (rongga-rongga tengkorak di pipi, dahi dan belakang kelopak mata) dan berbagai “ukiran-ukiran” yang demikian indah dan sempurna bentuk tubuh kita. Subhanallah!
Dalam kehidupan masyarakat juga terdapat APOPTOSIS, bahkan setiap diri kita nanti akan mengalami APOPTOSIS ketika jatah umur kita sudah habis. Kematian kita sudah terprogram oleh Allah Swt.
Moral lesson
Tubuh kita yang sempurna ini seolah hendak mengajarkan kepada kita, agar organisasi masyarakat kita bisa lestari dari waktu ke waktu butuh proses “APOPTOSIS” sekaligus regenerasi. Coba Anda bayangkan kalau di masyarakat kita para pemimpin tidak merelakan dirinya untuk mundur sampai mati dan tidak menyiapkan penggantinya bagaimana nasib generasi sesudah kita. Beberapa hal penting pelajaran yang diajarkan tubuh kita berkaitan dengan APOPTOSIS ini adalah:
1.      Ada masa kerja dalam suatu misi; sel darah merah mempunyai masa kerja dalam menjalankan misinya selama 120 hari, selama itu pula sumsum tulang sudah menyiapkan calon-calon pengganti demikian juga dengan sel-sel yang lain. Masa kerja ini punya dua dampak : pertama, membuat si pelaku menjadi “bersemangat” atau excited karena ada target waktu, kedua, memberikan batasan waktu, selain sebagai target, juga sebagai pengingat, sehingga seseorang tidak terlena dan bekerja lebih fokus pada permasalahan yang harus diselesaikan.
2.      Sel-sel yang misinya sudah berakhir maka dengan “rendah hati” merelakan dirinya menjalani program APOPTOSIS (melepas jabatannya) tanpa ada rasa kehilangan atau dalam bahasa Jawa “eman-eman” [tidak rela] ketika posisinya sudah ada generasi penerus yang sudah siap untuk menggantikan.
Seringkali yang dilupakan orang dalam sebuah organisasi, bahwa umur organisasi atau waktu capaian untuk sebuah visi besar tidak dibatasi oleh umur individu seseorang. Sebagai contoh misalnya visi besar umat Islam tentang pembebasan Konstantinopel ternyata baru tercapai 7 – 8 abad setelah sabda Rasulullah SAW, ”telah terbebaskan Konstantinopel (Qusthanthiniyyah), sebaik-baik panglima adalah panglimanya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya”. Muhammad Al Fatih sendiri adalah generasi ke tujuh dari kekhalifahan Utsmaniyah. Yang menarik di sini adalah proses pergantian kepemimpinan. Pemimpin yang akan uzur (APOPTOSIS), jauh-jauh hari sebelumnya sudah membuat “kawah candradimuka” atau “pabrik” penghasil pemimpin-pemimpin pengganti. Muhammad Al Fatih, seorang hafidh Al-Qur’an dan Hadits, menguasai ilmu kedokteran, ilmu militer, ilmu politik dan kemasyarakatan dan seorang muda yang berkarakter kuat, sholat malam tidak pernah lepas dari hari-harinya walaupun di medan perang. Muhammad Al Fatih menjadi khalifah pada saat berusia 17 tahun dan memimpin pembebasan Konstantinopel dengan lebih dari 35 ribu pasukan dengan berbagai inovasi militer tercanggih di zamannya pada usia 22 tahun! Luar biasa!
3.      Sel-sel yang menjalani APOPTOSIS menyadari bahwa “masyarakat” membutuhkan dirinya untuk mundur dari posisi yang ditempati karena jabatan yang ditempati itu sudah tidak diperlukan lagi, karena situasi zaman dan tuntutan keadaan yang berubah sama sekali.
Pergantian generasi, tentu diikuti pula banyak sekali perubahan-perubahan. Era tahun 1900an dan sebelumnya sistem yang meresap di masyarakat waktu itu adalah sistem feodal, seseorang dikatakan kaya dan berpengaruh apabila memiliki tanah pertanian yang luas. Semakin luas tanah pertanian yang dikuasai semakin berpengaruh dan berkuasa lah seseorang itu. Tetapi di era tahun 60 – 70 an terjadi perubahan pola perdagangan dan era tahun 1990 sampai 2000 ke atas era dunia kreatif. Masing-masing era pasti membutuhkan kompetensi-kompetensi yang harus dipenuhi agar bisa survive. Karena itu karakteristik pejabat, pemimpin, birokrat dan manajer haruslah sesuai tuntutan zaman. Ketika zaman telah berubah, maka para leader di masing-masing bidang harus rela lengser (APOPTOSIS) karena komptensi yang dimiliki barangkali sudah tidak up to date lagi.

Wallahua’lam

Minggu, 08 Juli 2012

Sebuah visi DNA: satu sel menjadi 100 triliun sel dalam lebih dari 200 jenis sel

Peristiwa besar setelah bertemunya satu sel sperma setelah menyingkirkan sekian juta sel sperma untuk bertemu dengan sel telur adalah proses realisasi visi yang luar biasa. Visi luar biasa ini tertulis dalam DNA yang dipersiapkan untuk seorang Individu yang unik dari manusia. Proses realisasi visi ini terwujud pertama kali dengan integrasi materi genetika antara sperma dari ayah dan materi genetik yang berasal dari ibu. Setelah itu, langkah kecil berikutnya adalah pembelahan satu sel menjadi dua sel. Selanjutnya lagi, dua sel menjadi empat sel, empat sel menjadi delapan sel, delapan sel menjadi enam belas sel, enam belas sel menjadi tiga puluh dua sel, tiga puluh dua sel menjadi enam puluh empat sel dan seterusnya akhir terbentuk bangunan yang terdiri dari tiga lapisan, lapisan luar (ektoderm), lapisan tengah (mesoderm) dan lapisan dalam (endoderm). Terus terus dan terus membelah, menyempurnakan berbagai fungsi akhirnya menjadi janin yang dengan bentuk yang sempurna hingga matang dan siap untuk dikeluarkan dari rahim ibu. Setelah keluar dari rahim ibu, ternyata pertumbuhan dan perkembangan sel belum berakhir. Otak misalnya, berkembang dalam bentuk 95 % dewasa pada usia lima tahun, organ-organ lain menjadi sempurna fungsi dan jumlahnya terus-menerus seiring detik demi detik waktu dan akhirnya tuntas setelah masa dewasa telah dilalui. Selanjutnya pematangan terutama dalam hal intelektual, kematangan emosi dan kedewasaan bersikap, terus menerus berlangsung hingga dewasa dan menginjak paruh baya. Pada saat yang sama aspek fisik, beberapa jenis sel saraf, otot dan pembuluh darah, pertumbuhan den pematangannya mulai stagnan bahkan mulai mengalami penurunan. Total ketika seseorang dewasa jumlah sel penyusun tubuhnya berjumlah sekitar 100 triliun sel terdiri dari 200 macam sel dengan bentuk serta fungsi dan aktivitas yang berbeda.
Saya ingin menunjukkan kepada Anda betapa maha luar biasanya proses penciptaan diri kita. Semula kita hanya berwujud satu sel (zigot) hasil bentukan materi genetik dari sperma dan sel telur (ovum). Meskipun demikian sel yang berjumlah satu ini, dia mempunyai visi jauh ke depan tentang bentuk bangunan triliunan sel dan ratusan macam fungsi dan bentuk yang nantinya akan dia bangun atas izin Allah SWT. Bangunan triliunan sel ini kemudian juga mempunyai sistem kehidupan tersendiri di luar kesadaran kita. Coba Anda amati lebih lanjut, satu sel tak terlihat mata, dengan berjalannya waktu melakukan “perjuangan” melintasi detik demi detik, dia beranakpinak menjadi sel yang berwarna merah yaitu sel darah merah, menjadi bentuk yang lunak seperti ujung hidung kita, menjadi bola bening yang mampu mengubah cahaya menjadi listrik yang akhirnya ribuan sel saraf yang berada di pusat penglihatan bisa mempersepsikan kepada kesadaran kita akan aneka warna indahnya dunia, menjadi bangunan kokoh tulang yang mampu menopang berkilo-kilogram berat badan, menjadi otot yang bisa menggerakkan anggota tubuh kita, menjadi pita suara yang menghasilkan suara dan dengannya kita bisa berkomunikasi satu sama lain dan berbagai macam bentuk dan fungsi lainnya. Bahkan dari DNA itu sudah termuat kemungkinan-kemungkinan penyakit apa saja yang rentan kita derita, pola-pola tubuh apa saja yang menonjol kita miliki seperti hidung mancung atau rambut keriting, serta kapan kita nantinya remaja kemudia dewasa dan tua semuanya sudah “terencana” dengan sempurna. Visi itu terletak dalam blue print yang oleh Allah SWT ditanamkan dalam untaian bangunan molekul yang tidak bisa kita lihat secara kasat mata dalam DNA.
Allah SWT ingin mengajarkan kepada kita lewat proses pembentukan tubuh kita dari bentuk yang “sederhana” (kompleksitas lebih sederhana menuju kompleksitas yang canggih dan rumit) menjadi bentuk yang sempurna, diawali dari perencanaan dan penyusunan visi yang sangat matang dalam racikan dimensi kompleksitas bentuk dan fungsi dipadu dengan waktu eksekusi dalam tahapan-tahapan yang luar biasa rapi, terkoordinasi dan penuh disiplin dalam pelaksanaannya.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, sudah terlalu banyak fakta dan kenyataan yang mengajarkan kita bahwa, keberhasilan seseorang atau kelompok orang yang lebih besar diawali dari visi hidup mereka. Saya mengambil contoh Rasulullah SAW, orang yang pertama kali membawa risalah agama Islam langsung dari Allah SWT adalah beliau. Kemudian yang mengimani pertama kali istri beliau Khadijah ra. Kemudian sahabat-sahabat utama seperti Abu Bakar Ash-shidiq, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Umar bin Khaththab dan terus berantai hingga sebagian kalangan dari suku-suku di madinah, hingga akhirnya terbentuk negara Madinah dan terus berkembang dan berkembang lagi hingga kekuasaan kekhalifahan Islam meluas hingga berbagai penjuru dunia. Visi sederhana yang dibangun adalah menegakkan setinggi-tingginya kalimat Allah di muka bumi. Visi yang semula dimiliki Rasulullah SAW kemudian sahabat dengan berbagaimacam kelebihan dan keahlian yang semakin meningkatkan kapasitas pengelolaan “tubuh” umat Islam terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam sendiri maupun umat manusia yang lebih luas. Sehingga visi selanjutnya yang diemban oleh setiap muslim selain menegakkan setinggi-tingginya kalimat Allah di muka bumi juga menjadikan agama Islam ini sebagai rahmatan lil alaamin.
Setelah generasi nabi dan sahabat, tidak terhitung para ulama yang menggerakkan umat Islam di berbagai tempat dan kurun waktu yang berbeda dimulai dari pencerahan dari diri sendiri, kemudian beberapa gelintir orang, terus kemudian berkembang ke banyak orang dengan aneka macam latar belakang dan keahlian akhirnya membuat perubahan dalam masyarakat menjadi sebuah bangunan indah yang ujung-ujungnya merubah masyarakat menjadi benar-benar berubah. Dalam sebuah ceramah saya pernah mendengarkan kisah transformasi masyarakat di Sudan, salah satu negara di Afrika yang dijajah oleh Perancis. Penjajahan oleh Perancis ini telah benar-benar merubah wajah negara itu dari semula warna Islam menjadi urat nadi kehidupan, menjadi ter-westernized hampir secara merata di seluruh negeri. Seorang ulama dari negara itu, dengan kapasitas ilmu dan rukhiyahnya membuat dia ditunjuk menjadi salah satu mufti di Madinah. Karena keprihatinan dengan negara tempat kelahirannya, dengan segala kerendahan hati beliau menolak tawaran  jabatan mufti tersebut dan memilih untuk kembali ke tanah airnya, dan berazam untuk melakukan perubahan pada masyarakatnya. Beliau berfikir, tidak mungkin dia melakukan usaha perubahan itu sendirian. Akhirnya ia memilih bermukim dalam beberapa waktu di Madinah, dengan terus berharap dan berdoa kepada Allah SWT sembari berikhtiar mencari ulama-ulama muda yang berasal dari negaranya untuk diajak secara bersama-sama membuat rencana agenda dan aksi perubahan secara matang sesuai dengan yang telah direncanakan. Allah SWT mengabulkan permohonannya, dengan menggerakkan seorang ulama muda yang faham akan ilmu agama dan mempunyai kualitas rukhiyah yang luar biasa. Dua ulama ini kemudian membuat “blue print” agenda perubahan di negara tempat kelahirannya yang dicanangkan dalam waktu lima puluh tahun. “Blue print” ini atas izin Allah SWT selesai dibuat dalam waktu satu bulan. Setelah jadi kedua ulama dengan azam yang kuat ini melakukan aksi nyata dengan melakukan pencerahan yang tentu saja dimulai dari beberapa gelintir orang setelah kepulangan mereka berdua di tanah air. Allah SWT mengabulkan apa yang telah mereka rencanakan dan ikhtiar merealisasikannya dan seperti yang kita lihat negara Sudan saat ini telah menjadi negara yang telah menghasilkan banyak ulama dan ribuan orang muda yang hafidz Al-Qur’an.  Sebuah transformasi yang luar biasa, terdapat kesamaan pola dengan realisasi visi DNA yang telah ditentukan oleh Allah SWT untuk menyusun tubuh kita yang sempurna ini berawal dari satu sel.
Dalam konteks Indonesia, saya akan mencontohkan perjuangan kiyai haji Ahmad Dahlan, berawal dari visi yang sederhana pula yaitu visi surah Al-Maun. Visi ini pada prinsipnya membenahi permasalahan aqidah sekaligus permasalahan kehidupan umat Islam di Indonesia yang terpuruk dan terbelakang lebih dikarenakan sikap mental bangsa Indonesia sendiri ketimbang menyalahkan akibat tertindas oleh bangsa penjajah asing. Bahkan dalam beberapa hal, kiyai haji Ahmad Dahlan mengadopsi sistem pendidikan yang dipakai bangsa Belanda untuk digunakan mencerdaskan anak-anak bangsa. Visi yang semula ada dalam diri kiyai haji Ahmad Dahlan sendiri, kemudian istrinya, kemudian beberapa gelintir muridnya selanjutnya terekrut berbagai kalangan dari berbagai latarbelakang yang akhirnya membuat gerakan Muhammadiyah menjadi organisasi yang makin canggih dan makin beragam bentuk kontribusi yang diwakafkan untuk umat Islam di Indonesia dan diberbagai negara di Asia. Kita lihat saat ini gerakan Muhammadiyah telah mewakafkan puluhan ribu sekolah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, ribuan rumah sakit, ratusan universitas, dan tak terhitung jamaah pengajian yang kesemuanya didedikasikan memberikan pencerahan pada umat Islam Indonesia. Lagi-lagi terdapat pola kesamaan transformasi yang semula berawal dari visi seorang pemimpin, kemudian visi itu diajarkan dan diwariskan kepada beberapa gelintir orang, dari beberapa gelintir itu terus bergulir dan terus bertahan bergerak, membuat banyak orang dari beragam latar belakang bergabung, menghasilkan produk-produk yang rahmatan lil alaamin, sebagaimana proses penciptaan tubuh kita yang berawal dari satu sel.
Satu lagi contoh, pada bidang bisnis. Saya mencontohkan perusahaan obat konimex. Junaidi Yusuf (nama Indonesia) sang pendiri yang tidak pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, memulai usaha dengan berjualan obat di pasar tradisional di Wonogiri sendiri. Kemudian usahanya berkembang menjadi toko obat, selanjutnya menjadi apotik Kondang Waras, dan akhirnya berdirilah perusahan farmasi Kondang Impor Ekspor atau disingkat Konimex. Yang menarik adalah salah satu visi beliau menjalankan usaha dengan visi nabi Yusuf yaitu modal usaha dengan pendapatan masa lalu (kisah nabi Yusuf dengan tujuh tahun musim penghujan bahan pangannya untuk menyuplai tujuh tahun musim kering sesudahnya)

Kamis, 15 Maret 2012

Kuadran pekerjaan dan penghasilan dokter

Sebuah buku yang berjudul “Fiqh Finansial”[1]menguraikan bahwa seseorang yang diberikan amanah pelayanan publik harus terpenuhi dulu kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan ini harus dipenuhi oleh negara. Kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus terpenuhi sebelum ia diberikan amanah pelayanan publik meliputi :
1.      Makanan
2.      Pakaian
3.      Tempat tinggal
4.      Kendaraan
5.      Pembantu
6.      Perabot rumah tangga
7.      Biaya pendidikan
8.      Buku-buku pengetahuan
9.      Alat-alat produksi & modal
10.  Pelunasan utang
11.  Biaya kesehatan dan obat
12.  Pemerdekaan dari perbudakan
13.  Biaya pernikahan
14.  Peralatan bela diri

Dokter pun adalah pelayan publik, karena itu haruslah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut. Mengapa kebutuhan-kebutuhan dasar itu harus terpenuhi? Karena memberikan pelayanan publik berarti orientasi sebagian besar waktunya untuk publik, bukan untuk dirinya sendiri. Saya ada cerita dosen saya, seorang dokter spesialis bedah digestif. Selama lebih dari dua puluh tahun kariernya sebagai dokter bedah, ia sudah mengondisikan istri dan anak-anaknya untuk merelakan sewaktu-waktu absen dari jadwal pertemuan keluarga karena ada peristiwa gawat darurat yang harus dia tangani di rumah sakit. Contoh riilnya, suatu ketika dia bersama istri dan anak-anaknya berbelanja di mal, tiba-tiba ada panggilan dari rumah sakit kalau ada pasien yang gawat, maka segera ia meluncur ke rumah sakit, otomatis meninggalkan anak-anak dan istrinya. Yang lebih heboh lagi pengorbanan anak-anak dan istrinya adalah ketika menjumpai keadaan seperti itu, berarti mereka harus pulang ke rumah dengan naik taksi.
Idealnya dokter sebagai pelayan publik, agar bisa melakukan pekerjaannya dengan konsentrasi penuh, maka harus sudah tidak memikirkan lagi masalah penghasilan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi ini jelas tidak mungkin. Telah menjadi aturan umum, dokter harus memberikan pelayanan yang “sempurna” [sesuai dengan sumpah yang diucapkan ketika dilantik menjadi dokter] sekaligus pada saat yang sama harus memikirkan nasibnya sendiri. Ini adalah PR terbesar dokter-dokter yang hidup di Indonesia, apa pun dan bagaimana pun bentuk cara mereka memperoleh pendapatan untuk diri dan keluarganya, tetapi tidak boleh mengubah cara mereka memberikan pelayanan yang prima kepada pasien dan keluarganya.
Bagaimana gambaran cara dokter memperoleh pendapatan untuk diri dan keluarganya akan diuraikan pada pembahasan berikut. 

 
Gambar 7.Kuadran penghasilan seseorang menurut Robert T Kiyosaki, ada kuadran kiri; yaitu penghasilan sangat tergantung pada kehadiran seseorang, kalau hadir dapat gaji atau penghasilan tetapi kalau libur tidak dapat gaji atau penghasilan employee [orang bekerja untuk usaha / perusahaan orang lain] dan self employee[dia bekerja untuk dirinya sendiri seperti dokter praktik pribadi, pendapatan tergantung pada hari-hari buka praktik, kalau praktik tutup tidak ada pendapatan]. Kuadran kanan, orang yang berpenghasilan tidak tergantung pada kehadiran secara fisik. Contohnya business[orang punya usaha dan dijalankan oleh orang lain dengan berbagai jenis pekerjaan yang kompleks dan sudah ada sistem yang berjalan] serta investor [orang yang menggabungkan antar bisnis]


Menurut Robert Kiyosaki[1], berdasarkan cara orang mendapatkan penghasilan, terdapat 4 kuadran. Secara umum kuadran kiri dicirikan adanya ketergantungan pada hadir tidaknya si pelaku. Kalau pelaku tidak hadir maka tidak ada penghasilan, tetapi kalau hadir baru mendapatkan penghasilan. Sementara kuadran kanan, penghasilan tetap berjalan dan mengalir ke pundi-pundi pelaku tanpa harus tergantung kehadiran si pelaku. Di kuadran kiri ada pekerja [employee = E; orang bekerja untuk orang lain dan mendapatkan gaji dari pekerjaannya itu] dan pekerja lepas [self employee = S; orang bekerja untuk dirinya sendiri, seperti dokter praktik pribadi, kalau praktik tutup tidak ada pemasukan, tetapi kalau praktik buka ada pendapatan]. Di kuadran kanan terdapat bisnis [business; orang mempunyai usaha dimana banyak orang bekerja untuknya, baik di level manajer, supervisor dan pekerja, semua bekerja dalam sistem yang bekerja tidak tergantung pada hadir atau tidaknya si pemilik]; sementara itu masih di kuadran kanan terdapat investor [investor; memadukan antar sistem bisnis baik secara langsung atau tidak langsung miliknya].
Sementara itu lebih detil bagaimana dokter mendapatkan pendapatan finansial dapat dilihat pada uraian berikut ini.
1.     Dokter staf
–     Dalam klasifikasi Robert Kiyosaki termasuk golongan employee [E].
–     Dia menjadi staf dokter di puskesmas, menjadi dokter di perusahaan seperti pertambangan lepas pantai, menjadi staf pengajar, dan semacamnya pada intinya dia bekerja dan honorariumnya tergantung pada lama kerjanya, keterampilan klinis, aspek manajerialnya, tingkat kepangkatan dan berbagai aspek penentu besarnya gaji lainnya.
–     Menjadi staf dan memenuhi standar kerja baru mendapat kerja, tidak memenuhi standar kerja akan mendapatkan surat peringatan, bila parah akan dikeluarkan. Masing-masing perusahaan atau tempat kerja ada aturan main yang harus dipatuhi.
–     Perolehan pendapatan secara periodik biasanya sebulan sekali yang biasa dikenal dengan gaji.
2.     Solo practice
–    Dalam klasifikasi Robert Kiyosaki termasuk golongan self employee [S].
–    Disebut juga dengan praktik tunggal
–    Biasanya memulai praktik dari nol
–    Memilih membuka praktik perseorangan bisa berlokasi di rumah tinggal secara bersama atau di tempat yang terpisah dari tempat tinggal
–    Kebutuhan tenaga kerja : dokter pemilik praktik, tenaga administrasi pendaftar. Bila menganut sistem dispensing (langsung ada obat, ada tenaga yang melayani pendistribusian obat pada pasien)
–    Perolehan pendapatan biasanya saat itu juga. Biasanya di akhir sesi praktik, mulai berhitung berapa uang yang masuk.
–    Membutuhkan keterampilan mengatur keuangan. Biasanya istri saya mempunyai alokasi-alokasi keuangan seperti untuk inkaso [pelunasan obat jatuh tempo karena saya praktiknya menggunakan dispensing, pasien langsung dapat obat], cicilan bulanan untuk kredit [biasanya jumlah cicilan dibagi jumlah hari dalam praktik satu bulan, jumlah ini menjadi target keuangan harian untuk pelunasan utang properti rumah praktik dan rumah pribadi, untuk inkaso obat juga menggunakan sistem seperti ini, melihat jatuh tempo, kemudian dibagi hari sebelum jatuh tempo, kemudian menjadi target keuangan harian untuk alokasi itu; dengan cara seperti ini, kita akan tahu secara singkat, berapa uang yang bukan merupakan tanggungan yang benar-benar bisa kita gunakan untuk keperluan lainnya], uang zakat, dan alokasi-alokasi lainnya [seperti saya dan istri menyisihkan uang untuk haji dan umroh]. Untuk mempermudah kerja, masing-masing alokasi diberikan dosgrip dari plastik dan dilabeli untuk alokasi, dan ada pencatatan tanggal masuk dan keluar beserta jumlahnya.

3.     Solo practice lewat membeli praktik dokter sebelumnya
–    Dalam klasifikasi Robert Kiyosaki termasuk kelompok self employee [S].
–    Terutama pada kasus dokter yang terikat kontrak dengan perusahaan asuransi kesehatan
–    Contohnya seorang dokter yang sudah terikat kontrak dengan perusahaan asuransi Askes atau lainnya dengan model pendanaan kapitasi[2]
4.     Praktik bersama
–    Pemilik tempat praktik bersama, dalam klasifikasi Robert Kiyosaki sudah termasuk business[B] karena keberlangsungan tempat praktik bersama apalagi dengan apotik dan laboratorium klinik tidak tergantung dari kehadiran si pemilik.
–    Atau bentuk peralihan dari self employee [S] ke business[B], karena sebagian besar omset pemasukan dari praktik pribadi dokter sang pendiri yang berusaha meningkatkan kapasitas usahanya. Atau kemungkinan lainnya sesama self employee [dokter spesialis atau dokter umum berkongsi bersama untuk sama-sama praktik di satu tempat].
–    Beberapa dokter dengan spesialisasi sejenis atau beragam melakukan praktik bersama dalam satu tempat
–    Layanan yang dikembangkan biasanya bersifat rawat jalan
–    Biasanya bersama apotik secara integratif dalam satu gedung

5.     Pengembang institusi
–    Dengan berdasar klasifikasi Robert Kiyosaki sudah termasuk business [B], usaha ini sudah melibatkan banyak orang dengan berbagai fungsi yang lebih kompleks dengan sistem yang mulai mapan
–    Seorang dokter atau beberapa orang dokter mengembangkan sebuah institusi layanan komprehensif multispesialis, rawat jalan dan rawat inap secara bersama dalam institusi tersebut
–    Biasanya dikembangkan dari solo practice
–    Dukungan karyawan dengan strata yang lebih rumit, pesuruh, perawat, kepala perawat, kepala instalasi, dan manajer-manajer

6.     Pengintegrasi berbagai institusi
–    Dalam klasifikasi Robert Kiyosaki termasuk investor [I], usahanya sudah dicirikan dengan uang yang berlimpah, bergerak dari bisnis ke bisnis.
–    Dokterpreneur jenis ini memiliki berbagai jenis institusi dengan ruang gerak bisnis yang berbeda.
Dalam istilah Michael Porter ada integrasi vertikal dan horizontal. Integrasi vertikal yaitu mengintegrasikan dari hulu sampai hilir. Misalnya mengembangkan pendidikan profesional kesehatan, memiliki lembaga pelayanan kesehatan seperti beberapa rumah sakit, memiliki jaringan apotik, memiliki pabrik farmasi dan memiliki perusahaan asuransi kesehatan serta mengelola lembaga keuangan publik yang bersifat sosial dan charity. Integrasi horizontal, misalnya memilki beberapa rumah sakit sekaligus, memiliki jaringan klinik 24 jam sekaligus dsb.


[1] Robert T. Kiyosaki, Cash Flow Quadrant, 2002, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
[2] Untuk memudahkan pemahaman mengenai sistem kapitasi; misalnya ada perusahaan dengan karyawan mencapai 5000 orang. masing-masing karyawan dipotong gajinya satu bulan sebesar Rp. 30.000,- untuk dana kesehatan. Rp. 10.000,- untuk anggaran ke dokter umum rawat jalan, sedangkan Rp. 20.000,- sisanya untuk anggaran rawat jalan. Saya pilih untuk dokter umum saja sebagai contoh pengelolaan keuangan sistem kapitasi; yakni dokter umum yang ditunjuk akan menerima sejumlah uang Rp. 10.000 ´ 5000 = Rp. 50.000.000,-. Menurut perhitungan frekuensi kesakitan populasi untuk kasus dokter umum adalah 10 – 20% dari populasi setiap bulannya. Kita ambil proporsi terbesar yaitu 20%. Berarti yang berobat ke dokter umum yang ditunjuk adalah 20% ´ 5000 = 1000 orang yang sakit setiap bulannya. Kalau biaya berobat [obat dan jasa dokter plus poliklinik] per pasien = Rp. 40.000 maka uang yang terpakai oleh dokter umum tadi Rp. 40.000 ´1000 = Rp. 40.000.000,-, berarti dokter umum yang ditunjuk tadi masih bisa melakukan saving sebesar Rp. 10.000.000,-. Kenyataannya besaran kapitasi tidak sebesar itu untuk dokter umum, kisarannya Rp. 3000 – Rp. 5000 per karyawan per bulan.


[1] Abdullah Lam bin Ibrahim (2005). Ahkamul Aghniya’ fisy Syariah Al-Islamiyyah wa Atsaruhu, edisi Indonesia Fiqh Finansial, Penerbit Era Intermedia, Surakarta