Tampilkan postingan dengan label Hot Issue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hot Issue. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

Mengapa dokter harus melek kewirausahaan?

Suatu ketika, saya ngobrol dengan bidan yang mempunyai anak kuliah di fakultas kedokteran tempat saya bekerja. Beliau berkata kepada saya, “Dok..minta tolong agar fakultas [FKUMS] bisa membantu anak saya agar bisa penempatan di Puskesmas, sehingga anak saya masih ada peluang untuk bisa PNS”. Dalam hati saya berkata,”mengapa orang masih mempunyai harapan begitu besar pada peluang yang demikian kecil; bahkan dalam tiga tahun dari penulisan naskah ini pemerintah mengeluarkan moratorium tidak akan mengangkat PNS baru?”
Tapi saya segera sadar, bahwa orang butuh keamanan bekerja, gaji yang stabil [walaupun relatif kecil dibanding kerja di perusahaan swasta yang ternama], ada pensiun serta ada asuransi kesehatan terutama saat hari tua [saya membuktikan sekali terutama bapak mertua saya yang PNS, berkali-kali masuk rumah sakit, kami putra-putrinya sangat terbantu adanya asuransi kesehatan yang beliau miliki].
Sebaliknya, tidak sedikit orang yang memilih jalur wirausaha yang jatuh dan meninggalkan banyak tunggakan utang. Hidup berliku-liku harus menghadapi beban yang demikian berat, seperti saat menghadapi tingkat penjualan atau pemasukan yang menurun dan sebagainya. Artinya memilih menjadi wiraswastawan/wati bukanlah pilihan yang menyenangkan sebagaimana yang sering dijanjikan oleh berbagai kursus kewirausahaan mempunyai mobil mewah [pernah dikatakan mobil wiraswastawan/wati tidak bermerek nama hewan-hewan seperti kijang atau penther; disebut dengan nada sinis], tetapi merupakan perubahan mental dari kenyamanan dan kepastian menuju waspada, perhitungan terhadap risiko, sabar dan konsisten mewujudkan kinerja orang-orang di sekitar, dan tahan banting. Bukan sekedar perubahan kecil, melainkan perubahan besar-besaran dalam banyak aspek mental, kepribadian, cara pandang hidup, standar hidup dan pendidikan keluarga.
Permasalahan selanjutnya, bila kita keukeuh memilih PNS menjadi pilihan karier kita. Saya ajak Anda untuk sedikit melihat atau berkaca mengenai perjalanan karier atau “nasib dokter” di Indonesia. Kalau Anda cermati, mulai era tahun 1990-an, karier dokter di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan. Sebelum era itu, setiap dokter yang lulus, hampir pasti akan menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Sejak era 1990-an, dokter hanya “disusui” oleh pemerintah selama tiga tahun sebagai dokter pegawai tidak tetap (PTT), setelah itu dia harus mandiri. Di era reformasi sesudahnya, tuntutan kemandirian dokter lebih kuat lagi, bahkan pada banyak kasus, tidak pernah “disusui” oleh pemerintah sebagai dokter PTT. Penyebab tuntutan kemandirian itu meliputi, desakan penghapusan subsidi pemerintah pada sektor yang lebih luas karena gangguan stabilitas ekonomi nasional serta ketidakmerataan distribusi dokter yang terpusat di kota besar dan pulau Jawa (walaupun jumlah dokter mulai melimpah). Secara nasional, walaupun rasio dokter umum dibanding jumlah penduduk masih di bawah negara-negara lain (Indonesia 1/10.000; Malaysia 7/10.000; Iraq 5/10.000; Cuba 64/10.000; China 14/10.000; Kamboja 2/10.000)[1], tetapi karena dua faktor tersebut sebelumnya, para dokter baru harus realistis dalam memikirkan nasibnya sendiri. Kenyataan di berbagai daerah terutama Jawa, rasio jumlah formasi tenaga dokter PNS yang dibutuhkan banding pendaftar yang ada, lebih banyak pendaftarnya (masih ingat cerita teman saya di kabupaten Klaten bahwa 1 lowongan PNS dokter diperebutkan 4 – 6 dokter), mempertegas pernyataan bahwa dokter lulusan baru harus benar-benar mandiri agar tidak menjadi pengangguran intelektual. Tuntutan kemandirian ini juga relevan dengan kebutuhan pemulihan perekonomian nasional Indonesia akan bertambahnya proporsi jumlah entrepreneur dalam masyarakat. Saat ini proporsi entrepreneur(wirausahawan/wati) di Indonesia sebesar 0,38% dari total populasi (dibandingkan Malaysia 3% dan Singapura 7%). Proporsi ideal jumlah wirausaha di Indonesia adalah 2 % dari populasi[2].
Dengan melihat berbagai kondisi tersebut, maka kompetensi entrepreneurship bagi dokter adalah suatu kebutuhan mendesak. Alasan kemendesakan ini meliputi:
1)      tuntutan kemandirian dokter itu sendiri agar tidak jatuh ke jurang pengangguran intelektual
2)      menyediakan lapangan kerja baik untuk dokter sendiri, profesional kesehatan lainnya dan sumber daya manusia lainnya
3)      keperansertaan dokter dalam usaha pemulihan perekonomian nasional Indonesia.


[1] World Health Organization, 2010, World Health Statistic pp 116 – 123
[2] Rinny, 2011, Ingin Punya Start – Up yang sukses; Resensi buku 7 Steps to a successful start up ; Majalah SWAsembada SWA 19/XXVII/ 8 – 21 September 2011

Kamis, 15 Maret 2012

Kuadran pekerjaan dan penghasilan dokter

Sebuah buku yang berjudul “Fiqh Finansial”[1]menguraikan bahwa seseorang yang diberikan amanah pelayanan publik harus terpenuhi dulu kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan ini harus dipenuhi oleh negara. Kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus terpenuhi sebelum ia diberikan amanah pelayanan publik meliputi :
1.      Makanan
2.      Pakaian
3.      Tempat tinggal
4.      Kendaraan
5.      Pembantu
6.      Perabot rumah tangga
7.      Biaya pendidikan
8.      Buku-buku pengetahuan
9.      Alat-alat produksi & modal
10.  Pelunasan utang
11.  Biaya kesehatan dan obat
12.  Pemerdekaan dari perbudakan
13.  Biaya pernikahan
14.  Peralatan bela diri

Dokter pun adalah pelayan publik, karena itu haruslah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut. Mengapa kebutuhan-kebutuhan dasar itu harus terpenuhi? Karena memberikan pelayanan publik berarti orientasi sebagian besar waktunya untuk publik, bukan untuk dirinya sendiri. Saya ada cerita dosen saya, seorang dokter spesialis bedah digestif. Selama lebih dari dua puluh tahun kariernya sebagai dokter bedah, ia sudah mengondisikan istri dan anak-anaknya untuk merelakan sewaktu-waktu absen dari jadwal pertemuan keluarga karena ada peristiwa gawat darurat yang harus dia tangani di rumah sakit. Contoh riilnya, suatu ketika dia bersama istri dan anak-anaknya berbelanja di mal, tiba-tiba ada panggilan dari rumah sakit kalau ada pasien yang gawat, maka segera ia meluncur ke rumah sakit, otomatis meninggalkan anak-anak dan istrinya. Yang lebih heboh lagi pengorbanan anak-anak dan istrinya adalah ketika menjumpai keadaan seperti itu, berarti mereka harus pulang ke rumah dengan naik taksi.
Idealnya dokter sebagai pelayan publik, agar bisa melakukan pekerjaannya dengan konsentrasi penuh, maka harus sudah tidak memikirkan lagi masalah penghasilan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi ini jelas tidak mungkin. Telah menjadi aturan umum, dokter harus memberikan pelayanan yang “sempurna” [sesuai dengan sumpah yang diucapkan ketika dilantik menjadi dokter] sekaligus pada saat yang sama harus memikirkan nasibnya sendiri. Ini adalah PR terbesar dokter-dokter yang hidup di Indonesia, apa pun dan bagaimana pun bentuk cara mereka memperoleh pendapatan untuk diri dan keluarganya, tetapi tidak boleh mengubah cara mereka memberikan pelayanan yang prima kepada pasien dan keluarganya.
Bagaimana gambaran cara dokter memperoleh pendapatan untuk diri dan keluarganya akan diuraikan pada pembahasan berikut. 

 
Gambar 7.Kuadran penghasilan seseorang menurut Robert T Kiyosaki, ada kuadran kiri; yaitu penghasilan sangat tergantung pada kehadiran seseorang, kalau hadir dapat gaji atau penghasilan tetapi kalau libur tidak dapat gaji atau penghasilan employee [orang bekerja untuk usaha / perusahaan orang lain] dan self employee[dia bekerja untuk dirinya sendiri seperti dokter praktik pribadi, pendapatan tergantung pada hari-hari buka praktik, kalau praktik tutup tidak ada pendapatan]. Kuadran kanan, orang yang berpenghasilan tidak tergantung pada kehadiran secara fisik. Contohnya business[orang punya usaha dan dijalankan oleh orang lain dengan berbagai jenis pekerjaan yang kompleks dan sudah ada sistem yang berjalan] serta investor [orang yang menggabungkan antar bisnis]


Menurut Robert Kiyosaki[1], berdasarkan cara orang mendapatkan penghasilan, terdapat 4 kuadran. Secara umum kuadran kiri dicirikan adanya ketergantungan pada hadir tidaknya si pelaku. Kalau pelaku tidak hadir maka tidak ada penghasilan, tetapi kalau hadir baru mendapatkan penghasilan. Sementara kuadran kanan, penghasilan tetap berjalan dan mengalir ke pundi-pundi pelaku tanpa harus tergantung kehadiran si pelaku. Di kuadran kiri ada pekerja [employee = E; orang bekerja untuk orang lain dan mendapatkan gaji dari pekerjaannya itu] dan pekerja lepas [self employee = S; orang bekerja untuk dirinya sendiri, seperti dokter praktik pribadi, kalau praktik tutup tidak ada pemasukan, tetapi kalau praktik buka ada pendapatan]. Di kuadran kanan terdapat bisnis [business; orang mempunyai usaha dimana banyak orang bekerja untuknya, baik di level manajer, supervisor dan pekerja, semua bekerja dalam sistem yang bekerja tidak tergantung pada hadir atau tidaknya si pemilik]; sementara itu masih di kuadran kanan terdapat investor [investor; memadukan antar sistem bisnis baik secara langsung atau tidak langsung miliknya].
Sementara itu lebih detil bagaimana dokter mendapatkan pendapatan finansial dapat dilihat pada uraian berikut ini.
1.     Dokter staf
     Dalam klasifikasi Robert Kiyosaki termasuk golongan employee [E].
     Dia menjadi staf dokter di puskesmas, menjadi dokter di perusahaan seperti pertambangan lepas pantai, menjadi staf pengajar, dan semacamnya pada intinya dia bekerja dan honorariumnya tergantung pada lama kerjanya, keterampilan klinis, aspek manajerialnya, tingkat kepangkatan dan berbagai aspek penentu besarnya gaji lainnya.
     Menjadi staf dan memenuhi standar kerja baru mendapat kerja, tidak memenuhi standar kerja akan mendapatkan surat peringatan, bila parah akan dikeluarkan. Masing-masing perusahaan atau tempat kerja ada aturan main yang harus dipatuhi.
     Perolehan pendapatan secara periodik biasanya sebulan sekali yang biasa dikenal dengan gaji.
2.     Solo practice
    Dalam klasifikasi Robert Kiyosaki termasuk golongan self employee [S].
    Disebut juga dengan praktik tunggal
    Biasanya memulai praktik dari nol
    Memilih membuka praktik perseorangan bisa berlokasi di rumah tinggal secara bersama atau di tempat yang terpisah dari tempat tinggal
    Kebutuhan tenaga kerja : dokter pemilik praktik, tenaga administrasi pendaftar. Bila menganut sistem dispensing (langsung ada obat, ada tenaga yang melayani pendistribusian obat pada pasien)
    Perolehan pendapatan biasanya saat itu juga. Biasanya di akhir sesi praktik, mulai berhitung berapa uang yang masuk.
    Membutuhkan keterampilan mengatur keuangan. Biasanya istri saya mempunyai alokasi-alokasi keuangan seperti untuk inkaso [pelunasan obat jatuh tempo karena saya praktiknya menggunakan dispensing, pasien langsung dapat obat], cicilan bulanan untuk kredit [biasanya jumlah cicilan dibagi jumlah hari dalam praktik satu bulan, jumlah ini menjadi target keuangan harian untuk pelunasan utang properti rumah praktik dan rumah pribadi, untuk inkaso obat juga menggunakan sistem seperti ini, melihat jatuh tempo, kemudian dibagi hari sebelum jatuh tempo, kemudian menjadi target keuangan harian untuk alokasi itu; dengan cara seperti ini, kita akan tahu secara singkat, berapa uang yang bukan merupakan tanggungan yang benar-benar bisa kita gunakan untuk keperluan lainnya], uang zakat, dan alokasi-alokasi lainnya [seperti saya dan istri menyisihkan uang untuk haji dan umroh]. Untuk mempermudah kerja, masing-masing alokasi diberikan dosgrip dari plastik dan dilabeli untuk alokasi, dan ada pencatatan tanggal masuk dan keluar beserta jumlahnya.

3.     Solo practice lewat membeli praktik dokter sebelumnya
    Dalam klasifikasi Robert Kiyosaki termasuk kelompok self employee [S].
    Terutama pada kasus dokter yang terikat kontrak dengan perusahaan asuransi kesehatan
    Contohnya seorang dokter yang sudah terikat kontrak dengan perusahaan asuransi Askes atau lainnya dengan model pendanaan kapitasi[2]
4.     Praktik bersama
    Pemilik tempat praktik bersama, dalam klasifikasi Robert Kiyosaki sudah termasuk business[B] karena keberlangsungan tempat praktik bersama apalagi dengan apotik dan laboratorium klinik tidak tergantung dari kehadiran si pemilik.
    Atau bentuk peralihan dari self employee [S] ke business[B], karena sebagian besar omset pemasukan dari praktik pribadi dokter sang pendiri yang berusaha meningkatkan kapasitas usahanya. Atau kemungkinan lainnya sesama self employee [dokter spesialis atau dokter umum berkongsi bersama untuk sama-sama praktik di satu tempat].
    Beberapa dokter dengan spesialisasi sejenis atau beragam melakukan praktik bersama dalam satu tempat
    Layanan yang dikembangkan biasanya bersifat rawat jalan
    Biasanya bersama apotik secara integratif dalam satu gedung

5.     Pengembang institusi
    Dengan berdasar klasifikasi Robert Kiyosaki sudah termasuk business [B], usaha ini sudah melibatkan banyak orang dengan berbagai fungsi yang lebih kompleks dengan sistem yang mulai mapan
    Seorang dokter atau beberapa orang dokter mengembangkan sebuah institusi layanan komprehensif multispesialis, rawat jalan dan rawat inap secara bersama dalam institusi tersebut
    Biasanya dikembangkan dari solo practice
    Dukungan karyawan dengan strata yang lebih rumit, pesuruh, perawat, kepala perawat, kepala instalasi, dan manajer-manajer

6.     Pengintegrasi berbagai institusi
    Dalam klasifikasi Robert Kiyosaki termasuk investor [I], usahanya sudah dicirikan dengan uang yang berlimpah, bergerak dari bisnis ke bisnis.
    Dokterpreneur jenis ini memiliki berbagai jenis institusi dengan ruang gerak bisnis yang berbeda.
Dalam istilah Michael Porter ada integrasi vertikal dan horizontal. Integrasi vertikal yaitu mengintegrasikan dari hulu sampai hilir. Misalnya mengembangkan pendidikan profesional kesehatan, memiliki lembaga pelayanan kesehatan seperti beberapa rumah sakit, memiliki jaringan apotik, memiliki pabrik farmasi dan memiliki perusahaan asuransi kesehatan serta mengelola lembaga keuangan publik yang bersifat sosial dan charity. Integrasi horizontal, misalnya memilki beberapa rumah sakit sekaligus, memiliki jaringan klinik 24 jam sekaligus dsb.


[1] Robert T. Kiyosaki, Cash Flow Quadrant, 2002, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
[2] Untuk memudahkan pemahaman mengenai sistem kapitasi; misalnya ada perusahaan dengan karyawan mencapai 5000 orang. masing-masing karyawan dipotong gajinya satu bulan sebesar Rp. 30.000,- untuk dana kesehatan. Rp. 10.000,- untuk anggaran ke dokter umum rawat jalan, sedangkan Rp. 20.000,- sisanya untuk anggaran rawat jalan. Saya pilih untuk dokter umum saja sebagai contoh pengelolaan keuangan sistem kapitasi; yakni dokter umum yang ditunjuk akan menerima sejumlah uang Rp. 10.000 ´ 5000 = Rp. 50.000.000,-. Menurut perhitungan frekuensi kesakitan populasi untuk kasus dokter umum adalah 10 – 20% dari populasi setiap bulannya. Kita ambil proporsi terbesar yaitu 20%. Berarti yang berobat ke dokter umum yang ditunjuk adalah 20% ´ 5000 = 1000 orang yang sakit setiap bulannya. Kalau biaya berobat [obat dan jasa dokter plus poliklinik] per pasien = Rp. 40.000 maka uang yang terpakai oleh dokter umum tadi Rp. 40.000 ´1000 = Rp. 40.000.000,-, berarti dokter umum yang ditunjuk tadi masih bisa melakukan saving sebesar Rp. 10.000.000,-. Kenyataannya besaran kapitasi tidak sebesar itu untuk dokter umum, kisarannya Rp. 3000 – Rp. 5000 per karyawan per bulan.


[1] Abdullah Lam bin Ibrahim (2005). Ahkamul Aghniya’ fisy Syariah Al-Islamiyyah wa Atsaruhu, edisi Indonesia Fiqh Finansial, Penerbit Era Intermedia, Surakarta