Sabtu, 02 Juni 2007

Bisnis kesehatan : Tarik menarik Antara Pasar dan Masjid

IZINKAN AKU NULIS SERIUUUUS BANGET


ditulis oleh : Yusuf Alam Romadhon#

# Penulis buku “Doctors Market Yourselves atau Praktik Anda Tidak Laku?”

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Health & Hospital bulan April 2007

Sebaik-baik tempat = masjid, seburuk-buruk tempat = pasar

Dalam sebuah bukunya “Budaya dan Masyarakat”, ada satu bab dengan tema Masjid atau Pasar: Akar Ketegangan Budaya di Masa Pembangunan, Alm. Kuntowijoyo, menyitir sebuah hadits “Sebaik-baik tempat ialah masjid-masjid dan sejelek-jelek tempat ialah pasar-pasar. Selanjutnya beliau mencoba menanyakan mengapa pasar disebut sejelek-jelek tempat, padahal di hadits yang lain memuji jual beli yang jujur dan baik. Sebaik-baik penghasilan adalah dari hasil jerih payah sendiri. Pertanyaan mengerucut pada “Jika perdagangan dan industri merupakan pekerjaan yang dimuliakan, dalam kedudukan apa “pasar” itu menjadi “tempat yang sejelek-jeleknya”? Kemudian beliau mencoba menafsirkan bahwa Masjid adalah simbol dari agama sedangkan pasar adalah simbol dari kepentingan ekonomi. Dan dalam perkembangan peradaban manusia, dua-duanya ternyata mempunyai peran penggerak peradaban.1

Perkembangan terkini telah ditunjukkan kepada kita betapa kuatnya pengaruh pasar pada penyelenggaraan layanan kesehatan. Hal ini terlihat dari berubahnya badan hukum rumah sakit yang semula sebagai yayasan non profit menjadi perseroan terbatas. Di sini terdapat perbedaan orientasi yang mendasar antara dinamika organisasi rumah sakit yang digerakkan oleh pasar modal dan organisasi rumah sakit yang digerakkan oleh misi sosial atau misi masjid yang lebih bersifat sosio-religio-spiritual. Pada organisasi rumah sakit yang digerakkan oleh pasar modal seperti pada RS perseroan, apabila rumah sakit tersebut menghasilkan profit yang menggiurkan, maka para penanam modal berlomba-lomba masuk memperebutkan kepemilikan saham yang ada. Akibatnya nilai saham rumah sakit tersebut meningkat. Sebaliknya apabila bisnis rumah sakit tersebut tidak menguntungkan akan berakibat tidak adanya investor yang berminat dan berdampak pada turunnya nilai saham rumah sakit tersebut di bursa saham. Memang pendapat ini terlalu menyederhanakan permasalahan. Tetapi pada kenyataannya tekanan yang berasal dari pasar modal terasa jauh lebih kuat ketimbang tekanan yang membuat rumah sakit tersebut bergerak pada misi yang jauh dari orientasi mendapatkan profit.

Yang paling mencolok dalam industri kesehatan adalah industri farmasi. Terasa sekali pengaruh pasar modal yang demikian dominan dalam industri ini. Penemuan obat tertentu, seperti pada kasus Merck atau Pfizer dengan Viagranya. Begitu FDA menyetujui obat Viagra masuk pasar, segera harga saham Pfizer meroket. Tekanan pasar yang kuat ini, di satu sisi, ternyata membawa angin semangat pada ilmuwan untuk berlomba-lomba melakukan inovasi, menemukan obat-obatan baru yang bisa diserap oleh pasar. Harapannya akan mendapatkan penghargaan royalti dari penjualan obat hasil penemuannya tersebut. Jumlah yang dihasilkan adalah cukup untuk membuat sang Ilmuwan yang berhasil itu kepada status yang bisa disebut sebagai papan atas dalam piramida ekonomi penduduk. Kelebihan dari dinamika aktivitas layanan kesehatan yang digerakkan pasar adalah motivasi besar untuk inovasi-inovasi baru baik oleh ilmuwan maupun organisasi yang bergelut dalam bisnis layanan kesehatan tersebut untuk menghasilkan produk-produk baru yang lebih baik dan berkualitas. Akibatnya ilmuwan menjadi produktif, apalagi pabrikan farmasi lebih produktif lagi, karena merekalah yang mendanai ilmuwan dan juga pihak yang terbesar dalam menikmati keuntungan dari investasi yang ditanamkan.

Namun orientasi besar pada profit yang digerakkan oleh pasar, tidak selamanya berbuah manis. Negara-negara berkembang yang warganya tidak mampu, tentu tidak dapat menikmati produk-produk inovasi kefarmasian yang mutakhir, canggih dan berdaya sembuh jauh lebih tinggi ketimbang produk-produk kefarmasian biasa (umumnya sudah digenerikkan) yang murah dan efeknya sering kali kurang memuaskan. Tetapi produk-produk yang inovasi karena terlindungi hak paten yang biasanya berumur 10 tahun, tidak bisa digenerikkan, berakibat tidak dapat diakses oleh orang kebanyakan. Obat-obatan untuk membunuh virus HIV, hepatitis B, adalah termasuk dalam kategori obat yang terlindungi oleh hak paten. Sudah menjadi rahasia umum, dan umumnya diketahui dari laporan tahunan keuangan perusahaan, bahwa perusahaan-perusahaan yang digerakkan oleh pasar ini, mengeruk keuntungan yang luar biasa besarnya.

Yang lebih tidak mengenakkan adalah para dokter pun dilibatkan dalam usaha pabrikan farmasi ini untuk membantu mereka melunakkan tekanan pasar. Di satu sisi, aktivitas pengembangan ilmu kedokteran memang membutuhkan pendanaan yang besar seperti pertemuan ilmiah tahunan, betapa besar dana yang dikeluarkan perusahaan farmasi dalam mensponsori acara-acara semacam itu. Biaya untuk jasa pembicara, biaya transport naik pesawat, biaya untuk penginapan hotel seringkali pos-pos biaya itu ditanggung oleh pihak sponsor, siapa lagi kalau bukan perusahaan farmasi atau alat-alat kesehatan. Biaya lain yang kasat mata, membuat souvenir-souvenir dari yang murahan hingga mahal dengan istilah “gimmick” untuk merebut hati para dokter agar mau meresepkan obat yang diproduksi perusahaan farmasi tertentu juga merupakan biaya yang tidak kecil. Termasuk pula biaya menggaji detailman, supervisor, manajer serta para eksekutif-eksekutif perusahaan farmasi beserta bonus-bonus yang mereka terima. Bahkan untuk dokternya sendiri pun tidak ketinggalan sebagaimana terlihat dalam kutipan Laksono Trisnantoro dalam buku Aspek Strategis Manajemen Rumah Sakit berikut.

Seorang psikiater dari RRC yang menghadiri kongres American Psychiatrists Association di Philadelphia pada tahun 2002 mengakui bahwa biaya perjalanannya dibiayai oleh perusahaan farmasi.2

Semuanya adalah unsur biaya yang harus ditanggung oleh siapa lagi kalau bukan pasien yang menggunakan obat produk perusahaan farmasi tersebut. Kalau biaya ditanggung perusahaan asuransi, pasien tidak begitu terasa, karena yang menanggung adalah perusahaan. Walaupun sebenarnya uang yang dikeluarkan perusahaan asuransi adalah uangnya sendiri yang mereka keluarkan lewat membayar premi bulanan atau tahunan. Inipun ada kemungkinan naiknya premi yang harus dibayar, bila total biaya perawatan kesehatan makin naik. Tetapi kalau biaya yang ditanggung oleh pasien sendiri seluruhnya pada sistem fee for service, tentu sangat memberatkan bukan.

Semangat masjid dalam bisnis kesehatan

Sebagaimana uraian di atas, bahwa masjid adalah simbol agama dan spiritualitas. Perannya sebagai pembangkit nilai-nilai fitriyah atau spiritualitas seperti membangkitkan komitmen manusia kepada Sang Pencipta, senang pada kejujuran, kesetiaan, menolong yang lemah, dimana nilai-nilai ini diakui oleh siapa saja sekalipun dia ateis, sehingga disebut nilai universal. Masjid juga berperan sebagai pembatas gerak nafsu-nafsu hewaniyah manusia, seperti keserakahan, menindas orang lain dan menghalalkan segala cara agar tujuan tercapai. Dalam bisnis layanan kesehatan semangat masjid yang menjadi pendorong utama dinamika aktivitasnya akan membawa kedamaian dan keadilan serta demokratisasi layanan sehingga bisa dinikmati seluas-luasnya umat manusia, atau dalam bahasa agamanya “rahmatan lil alamin”. Berikut beberapa contoh layanan kesehatan yang digerakkan oleh misi masjid.

Aravind Eye Centre

Di tetangga negara kita yang agak jauh yaitu India, di sana telah berkembang layanan kesehatan yang tidak digerakkan oleh pasar. Melainkan oleh misi yang jauh dari materi. Seperti pada kasus Aravind Eye Center, misinya adalah membebaskan sebanyak mungkin kebutaan yang bisa dihindari. Dengan misi sosialnya, maka sebagian besar pasien yang dilayani (65%) gratis hanya sebagian kecil (35%) membayar dengan kualitas pelayanan yang sama baiknya. Seorang dokter di sana dengan sistem yang sangat efisien mampu melakukan 50 operasi pembedahan mata sehari, bahkan divisi farmasi dan lensanya mampu menghasilkan obat berkualitas dan lensa berkualitas dengan harga jauh lebih murah. Produk-produk mereka telah merambah Eropa dan Amerika. Mereka memiliki 1500 klinik dengan kondisi sanitasi yang jauh lebih baik dari klinik pada umumnya di India. Yang menarik lagi kampanye pemasarannya sangat khusus pada penjaringan pasien-pasien tidak mampu yang tinggal di kawasan miskin. Masalah kualitas pembedahan terutama dilihat dari efek samping, komplikasi yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan rumah sakit ternama di Inggris. 3

Beberapa rahasia yang membuat mereka bisa berkarya sedemikian hebat, bukan digerakkan oleh naiknya harga saham ataupun royalti besar, karena bukan organisasi profit tetapi lebih karena hal-hal yang bersifat non materi.

Rahasia komitmen dokter; gaji yang diterima dokter adalah rata-rata kebanyakan bahkan sedikit di bawah rata-rata. Namun mereka mendapatkan pengalaman berharga selama bekerja di Aravind, mulai pendidikan yang bekerja sama dengan universitas ternama, kasus-kasus langka yang sering dijumpai, riset kolaboratif yang memuaskan, serta budaya yang sangat tinggi berkomitmen pada usaha mewujudkan penglihatan yang baik. Budaya lain yang dibangun adalah budaya yang didasarkan pada layanan. Semua dokter berbicara dengan lembut kepada pasien dan perawat. Di Aravind tidak ada teriakan. Jika seorang dokter berperilaku secara tidak baik, berita akan segera menyebar ke segenap penjuru rumah sakit, dan dokter tersebut akan mendapatkan masalah. Rasa saling menghargai adalah nilai inti dari budaya Aravind. Satu lagi yang ditawarkan Aravind kepada dokter-dokter adalah nama baik, serta status berdasarkan integritas yang kuat mengakar di masyarakat.

Rahasia komitmen perawat dan staf lain; Asisten ophthalmik yang direkrut dari gadis-gadis keluarga besar, keluarga petani dan berperilaku baik, dalam empat bulan pertama dilatih ilmu-ilmu dasar dan detail tentang anantomi dan psikologi manusia. Akhir empat bulan pertama, para pelatih memilih asisten ophthalmik untuk tugas-tugas yang berbeda, seperti departemen rawat jalan, ruang operasi, konseling dan sebagainya. Delapan bulan berikutnya menerima pelatihan khusus untuk departemen di mana mereka ditempatkan. Enam bulan berikutnya dihabiskan dalam aktivitas magang dengan perawat pelatih yang bekerja di departemen yang sama. Terdapat pelatihan satu banding satu pada setiap tahap. Selama enam bulan terakhir mereka bekerja mandiri dengan sejumlah bimbingan dari perawat dan dokter senior. Mereka juga diajari sejumlah terminologi medis dasar dalam bahasa Inggris dan dilatih bahasa Inggris percakapan dasar. Selama tiga tahun masa bakti mereka sebagai karyawan permanen, para asisten ophthalmolog juga diberikan pelatihan memasak, merawat rumah, menjahit dan sebagainya, untuk mempersiapkan mereka agar menjadi istri yang baik di masa mendatang.

Para perawat didorong untuk bersikap baik kepada pasien pada setiap saat dan mendekati mereka dengan rasa terima kasih karena memberi mereka kesempatan untuk melayani. Para perawat tersebut diminta menyimpan sebagian gaji mereka di rekening bank atas nama mereka, sehingga memiliki tabungan yang cukup untuk pernikahan. Dr. Natchiar, kepala pelatihan paramedis Aravind menuturkan, “Lebih dari gaji, manfaat itu adalah pengakuan yang mereka dapatkan dalam masyarakat. Mereka mendapatkan penghormatan besar. Kemudian mereka juga mendapatkan pelatihan dan pengalaman yang sangat bagus di sini. Peluang pergi ke luar negeri, bahkan untuk periode singkat, juga dipandang sebagai faktor positif.” Seorang perawat senior memaparkan, “Saya bekerja lebih banyak ketimbang para perawat di rumah sakit pemerintah; saya dibayar lebih kecil atau sama dengan mereka, namun saya mendapatkan penghormatan jauh lebih besar dalam masyarakat. Ketika saya naik bus, seseorang mengenali bahwa saya bekerja di AEH (Aravind Eye Hospital) dan menawari saya tempat duduk dan bersikap ramah kepada saya. Saya sangat bahagia dengan hal itu.” Dr. Usha menuturkan, “Para asisten ophthalmik merupakan inti keberhasilan kami. Mereka menambahkan begitu banyak kepada Aravind Eye System.” Dr V (sebutan untuk dokter Venkataswamy, sang pendiri Aravind) mengatakan, “Para perawat senior menghargai efisiensi atmosfer kedamaian dan ketenteraman dan memberikan contoh kepada para staf yunior.”

Jaipur Foot

Masih dari negeri India, Jaipur Foot, organisasi nirlaba yang bekerja secara profesional. Walaupun sebagian besar pelanggannya adalah orang miskin dan gratis tetapi sama sekali tidak mengurangi profesionalitasnya. Mereka mengembangkan kaki palsu dengan kualitas yang dibutuhkan oleh orang-orang miskin pedesaan yang bisa digunakan untuk ke sawah, bersila dengan harga 1/300 jauh lebih murah ketimbang kaki palsu buatan Amerika. Usaha mereka tidak saja memproduksi kaki palsu, tetapi juga menyediakan layanan dua hari menginap secara gratis untuk orang-orang miskin, mulai dari mengukur dan memilih bahan yang sesuai dengan jenis, struktur dan tekstur kaki hingga kaki palsu tersebut siap dipakai untuk dibawa pulang dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, mereka terus-menerus mengembangkan proposisi penawaran yang jauh lebih baik. Mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada, seperti yang menonjol berat kaki palsu yang 850 gram, terlalu berat untuk kaki palsu, terlebih bila dibandingkan dengan pesaing-pesaing dekatnya. Ke depan mereka juga terus menerus mencari jalan peningkatan efisiensi biaya dan menurunkan waktu produksi. Salah satu usaha yang profesional adalah bekerja sama dengan badan antariksa India, dengan harapan dapat merancang kaki palsu yang lebih ringan [350 gram], mendapatkan waktu pembuatan yang lebih pendek, dan biaya pembuatan yang lebih murah serta umur kaki palsu yang lebih lama. Sehingga pengorbanan yang diberikan pelanggan [yang kebanyakan orang miskin] semakin sedikit, tetapi nilai yang ditawarkan kepadanya semakin meningkat.

Demikianlah beberapa contoh nyata, ternyata tanpa harus digerakkan oleh pasar sebuah bisnis layanan kesehatan dapat menunjukkan kinerjanya yang profesional, menghasilkan inovasi dan yang lebih penting membuat hubungan dokter dan pasien semakin mesra.

Daftar Rujukan

1. Kuntowijoyo, 1987, Budaya dan Masyarakat, Penerbit PT Tiara Wacana Yogya, Jogjakarta
2. Laksono Trisnantoro, 2005, Aspek Strategis dalam Manajemen Rumah Sakit, Penerbit Andi Yogyakarta, 2005 hal 25

3. C.K. Prahalad, 2004; The Fortune at The Bottom of the Pyramid : Eradicating Poverty through Profits; edisi Indonesia; The Bottom of the Pyramid; Mengentaskan Kemiskinan sekaligus Memperoleh Laba, penerjemah; Ahmad Fauzi, SS, 2004, PT INDEKS Kelompok GRAMEDIA

Rabu, 30 Mei 2007

Saya kira tadi patung

Suami kakak saya yang sulung termasuk tipe orang yang gas-gasan…

Dulu ketika masih menjadi dokter PTT di Bengkulu, pernah naik mobil tanpa membawa SIM sama sekali.

“Kok ga nyari SIM tho mas?” tanyaku

“Ga pa pa kok dik, sejak SMA sampe sekarang lulus dokter ga punya SIM ga ada masalah” kata mas Faiz

“Lha kalo ada razia di jalan?” kataku memprotes

“Kalo ada kerumunan dari jauh, nyari jalan lain, ato berhenti nyari makan” bela mas Faiz enteng.

...............................................................

Akhirnya jadi juga berangkat dari Nganjuk ke Bengkulu tanpa membawa surat izin mengemudi (SIM) atas nama dokter Faiz..

Hingga kembali lagi ke Nganjuk satu tahun berikutnya… saat lebaran

“Gimana mas sudah terjaring polisi belum?” tanyaku

“Akhirnya kena juga” kata mas Faiz

“Wakakkakakakkak” tawa kami akhirnya menderai

“Waktu itu…di perempatan daerah Cirebon… lampu merah… karena jalanan sepi … aku terus saja… eeh ga tahunya dari belakang kok ada suara sirine…..” kenang mas Faiz

“Sirine?” tanyaku keheranan

“Iya sirine polisi… polisi naik sepeda motor, dengan kecepatan tinggi….memberikan aba-aba agar aku berhenti…..” kata mas Faiz

“Terus… gimana mas?” tanyaku penasaran ingin tahu cerita selanjutnya.

“Iya akhirnya aku berhenti…mobil aku pinggirkan… polisi itu memberikan hormat… lalu.. bertanya kepadaku..

‘Selamat pagi pak…Anda tahu anda berbuat salah.. tadi lampu merah Anda tetap jalan..’

Akhirnya aku mengakui kesalahanku” kata mas Faiz

“Terus mas Faiz bilang apa sama polisinya?” tanyaku

“Aku bilang ‘Maaf pak tadi saya kira patung’….’saya ga nyangka kalo bapak’” jelas mas Faiz.

“Wakakkakkakakakkakak” Geli sekali dengar cerita polos mas Faiz..

……………………………………………….

Dalam pepatah Jawa “Sak bejo-bejone wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodo” kalo di-translate dalam bahasa Indonesia terjemahan bebasnya begini; seberuntung-beruntungnya orang yang lalai tetap beruntung orang yang sadar dan waspada.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika memilih suatu keputusan, maka yang sangat perlu kita pertimbangkan adalah kemungkinan resiko-resiko yang akan kita hadapi. Kalo belum tahu, kita nanya orang yang sudah mengalami. Sehingga kita bisa mengantisipasi lebih dini. Minimal mental kita sudah bisa mengantisipasi kemungkinan itu terjadi.

Termasuk bagi anda yang ingin menjadi dokter, resiko-resiko yang dihadapi dokter adalah, resiko tertular penyakit dari pasien, resiko tuntutan malpraktik, resiko hubungan keluarga berkurang, resiko fulustrasi karena biaya kesehatan dan pendidikan baik untuk keluarga maupun diri sendiri yang makin membengkak tak terkendali dan terakhir, makin banyaknya dokter dan rumah-rumah sakit di perkotaan, ada satu resiko terakhir, yaitu kemungkinan diPHK makin besar bila rumah sakit tempat bekerja mengalami kebangkrutan..

Semuanya perlu diantisipasi.

Kromatografi sempurna

Pengamatan selayang pandang kamar kos cowok dulu selama masih mahasiswa. Ada satu benda yang dipastikan ada di setiap kamar. Mau tahu apakah itu?

Kalpanax

Kalpanax?

Ya, kaplanax. Obat panu, gatal, kurap dan kadas.. bentuknya cair. Kalo kena kulit menyengat panas..hingga terbakar. Kalo ada award Kos-kosan Customer Satisfaction Award (KCSA) untuk kategori jamur kulit maka dipastikan Kalpanax adalah juaranya.

Analisa mengapa ada kalpanax..

“Anak-anak itu jorok sekali. Mereka itu sering kelupaan mencuci.” Kata Barkah di suatu sore.

“Maksudmu?” tanyaku

“Iya..ketika celana dalam tinggal satu, baru sadar kalau waktunya harus mencuci. Jadi sering celana dalam terakhir itu dipakai seperti kaset. Side A dan side B. Kalau terpaksa memakai yang baru dicuci, pengeringannya secara instan, memakai seterika dan diangin-anginkan kipas

angin. Makanya pada jamuran.” Jelas Barkah

“haa…haa….haa…” kami tertawa…Barkah tertawanya meledak seperti meledaknya gunung Merapi yang memuntahkan lahar dahsyat.

………………………………………..

“Ada satu lagi Kah. Teman-teman kita pada ahli kimia terutama ahli kromatografi. Kalau dalam kromatografi, warna orange spidol yang digoreskan pada kertas, kemudian dicelupkan air di ujung bawahnya hingga merambat ke atas melewati goresan spidol pada kertas tadi, maka

warna orange tadi dapat terurai menjadi merah dan kuning setelah air melewatinya. Lha kalau teman-teman kita itu, warna abu-abu berhasil diubah menjadi warna penyusunnya. Warna hitam dan putih.” kataku

“Yang kamu maksud itu…téko untuk memasak air?” tanya Barkah ganti

“Tepat! Dahulu ketika kita iuran téko semula warnanya abu-abu logam dan mengkilat kan? Tetapi setelah setengah tahun berjalan, abu-abunya itu terurai menjadi warna-warna penyusunnya. Inilah yang namanya

kromatografi itu. Bagian luar berwarna hitam, karena kita memasak pakai kompor minyak tanah, sehingga kotoran-kotoran sisa pembakaran yang menjadi jelaga mewarnai bagian luarnya. Sedangkan di dalam, karena air yang kita konsumsi itu kaya kadar kapurnya. Makin lama, makin mengerak putih. Kedua warna itu, karena jarang atau hampir tidak pernah dicuci. Jadilah seperti itu; K R O M A T O G R A F I S E M P U R N A. Kalau aku masak mesti aku cuci sebelum dan sesudah memakainya, tetapi yang lain hanya memakai dan tidak mencuci…ya…” aku menjelaskan

“Iya Suf, namanya juga anake wong akéh[1]. Dulu ada yang saya ingatkan, malah menjawab ‘dengan dipanasi saat memasaknya, berarti kan sudah disterilkan…jadi tidak perlu dicuci’ kalau perlu, katanya membaca mantera ajaib andalannya

‘Min Kuman Kamin, Kuman Mati Jadi Vitamin’” kata Barkah

“ha..haaa….haa…” kami tertawa meledak lagi kali ini seperti bisul yang nyeprot. protttt

…………………………………………….

Hindustan lever anak perusahaan MNC (multinational corporation) Unilever di India telah melakukan perubahan paradigma pengetahuan masyarakat menengah ke bawah yang tidak terjangkau media. Semula mereka beranggapan bahwa namanya membersihkan tangan itu adalah asal terlihat tangan sudah bersih, berarti sudah bersih. Padahal habis ternoda kotoran hewan. Walah. Kayaknya masalah bau tidak dipertimbangkan, asal terlihat bersih langsung
dipakek makan dengan tangan langsung tidak makek sendok ato garpu.

Hiiiii… huweek buaaahhh… cuh. Hei jangan

gitu…malah jadi pembangkit selera makan tauuu. Halah malah parah.

Kalangan bawah India itu tidak berpikir lebih lanjut bahwa membersihkan dengan sabun juga lebih dari sekedar bersih…tetapi juga bebas dari kuman yang ditengarai sebagai penyebab diare utama tersering di India.

Kayaknya mereka mempunyai mantra ajaib seperti anak kos-kosan tadi, tidak mencuci tangan pakek sabun sebelum makan..

“Min Koman Kamin.. Kuman Mati Jadi Vitamin”

Penelitian disana banyak mengungkapkan bahwa mencuci tangan dengan sabun sebelum makan ternyata dapat menurunkan angka kejadian diare secara signifikan..

Tantangan terberat Hindustan Lever adalah bagaimana membuat program yang menjangkau kalangan bawah yang gelap media… dalam jangka panjang tetapi tidak menguras habis keuangan perusahaan.

Singkat cerita akhirnya telah dicipta program jenius berbiaya murah, signifikan hasilnya, menjangkau masyarakat miskin yang gelap media….dan yang penting adalah berubah perilaku mereka… cuci tangan pakek sabun sebelum makan sudah menjadi budaya..

PeRmasalahannya adalah

ORang miskin dan gelap media saja bisa berubah paradigma dan perilaku kebersihannya… lalu gimana dengan anak kos-kosan? Mereka terdidik dan terjangkau media!!!


[1] anaknya orang banyak

Jumat, 25 Mei 2007

"Antene daun" pasukan Brave Heart

Pesan dari Cerita ini adalah :

Kebiasaan jelek… jangan pelihara kebiasaan jelek apalagi menaikkan dosisnya bisa berbahaya!

……………………………………

Sambil nunggu penumpang.. pak Kerto meneruskan kebiasaan jeleknya… kayaknya makin asyik saja… korok-korok lubang telinga..

Kalo ngeliyat… pokoke hueenaak tenaan.. korok-korok lubang telinga dengan kunci sepeda motor.

Pak Tarjo...tampaknya terganggu dengan penampilan pak Kerto yang korok-korok lubang telinga dengna kunci speda motornya..

“Mas Kerto… ketimbang kamu pakek kunci motor…mending pakek gagang ranting pohon…pak… huwwenak tenang… yang banyak tonjolannya pak.. “ kata pak Tarjo.

“Nanti bikin ketagihan?” tanya pak Kerto ragu

“Ga pak… saya dulu setelah pakek ranting pohon waru jadi sembuh kok..” jawab pak Tarjo mantap.

…………………………………….

Tanpa sepengetahuan pak Tarjo… pak Kerto diam-diam menuju SD dekat mangkal ojek.

Akhirnya pak Kerto mencoba juga “resep” pak Tarjo. Dia mencari ranting pohon waru yang agak kecil yang kira-kira bisa masuk lubang telinga. Dia berpikir, batang ranting waru ka nada ruas-ruas yang menonjol…wah ini bikin sensasi kenikmatan tersendiri ketika menggaruk-garuk lubang telinga… akhirnya dipilihkan ranting tersebut..

Ranting itu dipotes.. krek.. putus.. kemudian dirapikan dan ditumpulkan ujungnya biar tidak menusuk… kemudian dicoba…karena uji coba jadi daunnya ga usah dipangkas.

Masuk dikit… ahh nikmat..

Masuk banyak.. ahh nikmat…

Ditarik…

???

Ditarik lagi

???

Kok ga bisa…

Bingung?

…………………………………..

Sekarang tidak mempertimbangkan lagi masalah malu atau nanti harga diri diinjak-injak… sekarang butuh pertolongan gawat darurat… ranting ini harus bisa keluar dari lubang telinga..

……………………………………

Akhirnya pak Kerto dibonceng pak Tarjo menuju rumah sakit…

WOooo…

Jadi pemandangan seru!

Seperti pasukan dalam film Brave Heart siap menghadapi pasukan Inggris.. dengan membawa “bendera” kebanggaan di daun telinganya.. itu kalo film zaman dulu.. tetapi kalo film futuristic.. ya seperti pakek antene lah.. A N T E N A D A U N !!!

…………………………………..

Syukur alhamdulillah “antene daun” itu bisa keluar dari tempatnya.. ada perdarahan dikit ga masalah.. dikompres pakek kompres betadine kemudian pulang… dengan hhhaaaahh legaa…

Kamis, 24 Mei 2007

MENCARI IDE CERITA BLOG (udah mulai kehabisan bahan NIH)

Mengundang kepada para pemilik BLOG atau PEMILIK I-MEL untuk berpartisipasi dalam "ide cerita" untuk mengisi BLOG ini.

Bila berminat dapat dikirimkan ke alamat i-mel saya : yusuf_pluss@yahoo.com
Bagi ide cerita yang menarik dan telah terolah dan dipostingkan, AKAN SAYA CANTUMKAN si PEMILIK IDE CERITA ITU.

(Maklum Ga aDA hOnOraRIumNYa)









































ATAS PERAN SERTAnya SAYA HANYA BISA mengucapKAN TERIMA KASIH yang seBAnyAk-bAnYAKnya.........

Dokter Humoris Casual

Bayangan saya dulu, gambaran dokter itu orangnya berkacamata tebal, serius, agak gemuk, baju putih, menakutkan, dan ruang kerja bau alkohol dan obat-obatan…hiii ngeri..

Bagitu kuliah di kedokteran ternyata kesan itu pudar sama sekali..

Woow

Mercedez Benz… BMW…CAMRY…CIVIC..


Aku baru tahu kalo tutup pentil mercedez benz itu juga ikut-ikutan mewah yaa…..

Tutup pentilnya itu lhooo… mengkilap.. dari logam…. Dasar wong ndesooo… katrooowk banget pokoke.

Eh bukan itu yang mau diceritain..

Yang ini nih…

“Namanya penelitian itu yaa harus nyambung… ga boleh.. meneliti hubungan antara ugal-ugalannya sopir bis dengan sikap ugal-ugalannya pejabat… mungkin ada korelasinya..tapi ga nyambung” kata dosen saya yang ngajar dasar-dasar penelitian

“Wakakakakakkakakakakkk” seisi kelas koor ketawa bersama

“Saya tanya kepada Anda… apakah kerbau itu variable?” tanya beliau

“Variabel” jawab sebagian kelas

“Kalo variable berarti… bapak A sangat kerbau sekali… bapak b kurang kerbau… bapak C sedikit kerbau?” kata beliau

“Wakakakakakakakakakakkkk” seisi kelas ketawa lagi

………………………………….

Di saat lain, seorang dosen datang dengan baju perpaduan antara pegawai negeri sipil dan tentara. Penuh dengan saku, dua saku di dada, dua saku ballpoint di kedua lengan, dan ada satu saku tambahan di….

K E T I A K kiri… ternyata saku untuk T E M P A T H A N D P H O N

Glodak tenan…

Udah gitu wah orangnya suka buat singkatan…tapi sayangnya kok menyangkut karakter teman sekantor lagi..

“Ini sekedar pengumuman ya… bahwa dokter Hani saat ini adalah WAGUB” kata dosen nyentrik tadi

“WAGUB?” kataku dalam hati

“Sudah tahu apa WAGUB itu?” tanya beliau

“BELUM” jawab kelas

“WAGUB itu WAh GUndule Botak” kata beliau tenang

Glodak..

“Wakakkakakakakakkkak” seisi kelas ketawa abiz

……………………………….

Setelah lulus, di sebuah rumah sakit di Solo aku pernah menjumpai dokter yang penampilannya itu… wooww

Ga pakek jas putih.. pakek baju casual, lengan baju dilinting dan selalu memakai celana jeans. Kalo ketemu di jalan orang bakal ga menyangka kalo dia seorang dokter spesialis yang ahli… masih muda lagi..

………………………………

Sehingga lengkap lah kesan tentang dokter

Ada yang seperti dalam kesan saya dulu ketika masih ndesoo… hallah sekarang juga masih ndesoo

……………………………….

Tipe serius..

Kaca mata tebal, baju selalu putih…sehingga kalo pas kebetulan orangnya hitam…pleg sama seperti film negative… jadi kalo pas setor foto sering bikin pusing petugas administrasi..

“Dok yang disetor itu fotonya bukan film negatifnya” kata petugas administrasi

“@#?” dokter tipe ini jadi bingung..ga tau mau jawab apa

Tipe humoris..

Seringkali penampilannya ga mengesankan…tapi begitu berinteraksi baru kelihatan… orangnya lucuuu banget.

“Ini dok mau periksa” kata pasien cewek..sambil menekuk-nekuk jari hingga bunyi ‘klek’, maksud psikologisnya biar kalo ngomong ga begitu tegang..

“Eh…mbak… tangannya jangan di-klek-klek gitu… bahaya lho” kata dokternya

“Bahaya dok? Bisa apa?” tanya pasien mulai cemas

“Bisa bunyi!” kata dokternya dengan enteng..

Glodak

“Oooooalah dok..dok… kirain serius” kata pasien

Lha biar ga tegang… masak mau periksa kok pakek tegang…… santai gitu… yak pasang senyummm…” kata dokternya kembali

Tipe Casual

Lha yang ini nih tipe idola.. kalo orang bilang dokter cowok tipe termasuk golongan metroseksual ato ada istilah baru ultraseksual…

Kayaknya dokter yang ini tipenya eye catching… apalagi kalo didukung dia humoris woow komplit deh.. eye / ear / heart catching deh..

ASAL KEMAMPUANNYA TIDAK KOPONG AZA