Tampilkan postingan dengan label Ngerasani Pasien. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngerasani Pasien. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Mei 2010

di luar rata-rata

Seorang anak kecil, laki-laki, berusia 3 tahun dengan berat badan 20 kg, termasuk gemuk untuk ukuran anak seusianya, datang di tempat dokter spesialis anak senior dengan keluhan demam hilang timbul dalam satu tahun terakhir. Kedua orang tua anak laki-laki kecil ini dapat dikatakan tidak kurang-kurangnya mengupayakan kesembuhan bagi sang buah hati kesayangan mereka. Bahkan sudah maksimal dan sudah melampaui batas psikologis kesabaran dimana usaha yang mati-matian ternyata tidak juga membuahkan hasil yang diharapkan yaitu kesembuhan bagi putra kesayangan mereka sematawayang. Berbagai dokter sudah mereka datangi, baik Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, Semarang, Surabaya dan bahkan sudah memeriksakan ke Singapura namun tidak pula membuahkan kesembuhan. Setiap hari anak mereka dalam keadaan demam, minimal demam ringan terkadang pula demam tinggi. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana risaunya kedua orang tua anak ini. Kedua anak saya kalau demam hanya sehari dua hari saja, padahal saya dan istri walaupun sama-sama dokter tetap dilingkupi suasana risau dan gelisah. Jangan-jangan sakit ini, jangan-jangan sakit itu atau mudah-mudahan ga seperti itu atau seperti ini. Sungguh berat ujian yang diberikan Allah SWT kepada kedua orang tua ini.

Saat datang ke dokter spesialis anak senior ini, semua data yang dicurigai sebagai penyebab munculnya demam lama yang tidak turun-turun dapat dikatakan sudah lengkap, mulai pemeriksaan darah sederhana, pemeriksaan sumsum tulang untuk kecurigaan adanya kanker darah atau leukemia, pemeriksaan imunologi untuk kemungkinan virus sitomegalo, toksoplasma, herpes simpleks, rubella bahkan HIV sudah tersedia. Berbagai macam terapi sudah dijalani, berbagai antibiotik sudah diberikan dan obat turun panas selalu menyertai setiap anak berkunjung ke dokter.

Kedua orang tua anak laki-laki kecil nan lucu ini, akhirnya pasrah, sampai-sampai berkesimpulan mungkin anak laki-laki sematawayang mereka suhu normalnya di atas rata-rata orang normal. Namun, mereka tetap pantang menyerah, hingga akhirnya mereka menemui seorang dokter spesialis anak yang senior ini. Walaupun sudah senior, penyakit yang diderita anak laki-laki kecil ini, masih di luar pengalaman dan memori beliau, dan tetap membuat beliau ini heran dan tidak habis mengerti. Beliau akhirnya memutuskan anak diopname-kan anak di rumah sakit tanpa diberikan infus sama sekali. Darah sang anak diambil untuk dilakukan pemeriksaan rutin. Hasilnya hanya mendapatkan jumlah sel darah putih secara umum diatas normal, tetapi tidak terlalu tinggi. Berbagai analisa penyebab sakit anak laki-laki kecil ini tetap berakhir buntu karena semuanya sudah terbantahkan oleh data-data laboratorium yang sudah di bawa oleh kedua orang tua anak saat kontrol. Akhirnya terbersit dalam pikirannya kayaknya belum ada terapi yang diarahkan ke tuberkulosis, walaupun dari pemeriksaan rontgen paru normal. Dengan memulai lafaz basmalah, beliau memulai terapi tuberkulosis untuk sang anak ini. Beliau meminta kedua orang tua untuk bersabar menunggu untuk opname seminggu lagi untuk memantau perkembangan terapi untuk anak mereka. Dan....

Luar biasa, setelah tepat hari ketujuh pengobatan tuberkulosis untuk anak ini, demam sang anak turun dan anak bisa berkeringat dan bertahan lama hingga tiga bula sesudahnya saat cerita ini ditulis.

Dalam buku teks kedokteran, penyakit tuberkulosis baik pada anak dan dewasa secara klasik digambarkan penderita datang dengan berat badan turun drastis, pemeriksaan dahak terutama pada remaja dan dewasa yang sudah bisa mengeluarkan dahak terdapat bakteri tahan asam atau kuman mycobacterium tuberculosis, keringat dingin di malam hari, batuk lebih dari tiga minggu, demam ringan terutama pada malam hari, pemeriksaan radiologis khas terdapat gambaran tuberkulosis terutama di daerah atas (apeks) paru, pemeriksaan laju endap darah sangat tinggi dan sebagainya. Namun pada anak laki-laki gemuk ini semua gejala dan tanda seperti yang tertulis di dalam buku teks kedokteran tidak terdapat. Walaupun sudah dilakukan pemeriksaan laboratorium sederhana hingga yang canggih, termasuk pemeriksaan rontgen paru dan pemeriksaan yang lainnya, dan sudah diperiksa oleh berbagai macam dokter dengan standar keahlian yang tidak diragukan, ternyata permasalahan utama diagnosis untuk anak ini dapat ditemukan setelah upaya “tebak-tebakan” dan “kenekatan” mencoba terapi dan baru menunjukkan hasil.

Dalam sebuah novel yang berjudul “doctors” karya Erich Segal, ada sebuah cerita menarik, yaitu di bagian awal saat menceritakan sambutan dari dekan fakultas kedokteran universitas Harvard. Diceritakan bahwa sang dekan menuliskan angka 26 di papan tulis, kemudian suasana hening, kemudian sang dekan berbicara, “dalam praktik kedokteran hanya ada 26 diagnosis penyakit yang pasti, sisanya yang berjumlah 20 ribuan adalah duga menduga”. Seolah kasus anak laki-laki kecil di atas seperti mengungkapkan bukti fakta mengenai apa yang diomongkan oleh sang dekan dalam novel tersebut.

Dalam kehidupan profesional saya dalam sepuluh tahun menjadi dokter, saya menjumpai kasus yang mungkin bisa dikategorikan sebagai duga menduga dan dapat pula dikategorikan sebagai kasus di luar kebanyakan.

Seorang wanita umur 50 tahun, datang kepada saya dengan keluhan kedua matanya terasa kering dan sekali waktu gatal-gatal serta yang pasti kemerahan. Beliau mengaku apa yang dikeluhkan ini terjadi sekitar satu tahun terakhir. Sudah diperiksakan kemana-mana, baik dokter umum, dokter mata dan dokter-dokter yang lain. Hasilnya tetap saja tidak ada perubahan, bahkan beberapa bulan terakhir keluhan ditambah dengan ketombe yang makin hari makin hebat.

Saat datang ke tempat praktik, saya perhatikan conjunctiva (selaput jaringan yang melapisi bagian putih mata) memerah seperti orang belekan, tetapi tidak ada kotorannya yang menandakan adanya infeksi bakterial.

“rasanya gimana bu?”

“ya itu dok, pedes, kering kayak ga ada pelumasnya sama sekali”

“sudah berapa lama”

“sudah lama dok, satu tahunan ini”

“tidak blobokan?”

“tidak dok”

“termasuk pagi hari saat bangun tidur”

“iya”

“gatal bu?

“kadang-kadang gatalnya banget, kadang-kadang tidak”

“tapi selalu gatal?”

“iya dokter”

“terus-terusan bu gatal dan kemerahannya?”

“iya”

Kemudian saya perhatikan kepala ibu tersebut, ternyata terdapat “pulau-pulau” bersisik di puncak kepala dan sebagian sisik-sisik itu rontok menjadi ketombe. Seperti biasa saya tanya-tanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada penyakit jamur kepala, seperti apakah gatal makin hebat pada saat berkeringat atau udara panas, atau pada saat kepala tertutup oleh penutup kepala. Ditanya pula dengan pertanyaan mengenai riwayat penyakit diabetes melitus, termasuk pemeriksaan laboratorium darah terakhir, semua hasilnya normal.

Saat menanya-nanyain pasien dengan berbagai pertanyaan dan melakukan pemeriksaan fisik, saya tertarik dengan penampilan kuku tangan pasien ini. Akhirnya perhatian saya saat itu, tertuju pada penampakan kuku tangan pasien. Ada tiga kuku pasien yang mengalami kelainan dan kelaiannya menunjukkan kecurigaan yang besar untuk penyakit jamur kuku.

Di akhir sesi pemeriksaan ibu, saya memberikan resep untuk mengobati “alergi” di bagian mata dengan kortikosteroid dan antihistamin untuk diminum dan kortikosteroid topikal, ditambah dengan obat anti jamur diminum (griseofulvin 500mg selama 2 minggu berturut-turut dan jeda istirahat 1 minggu) dan obat jamur topikal berbentuk kuteks (Loprox nail lacquaererTM sesuai petunjuk pemakaian 3x per minggu dalam 1 bulan pertama, 2x per minggu dalam 1 bulan kedua dan 1x per minggu dalam 1 bulan ketiga). Sedangkan untuk mengobati ketombenya, saya tambahkan obat topikal selsun shampooTM orange satu botol 60 cc hingga habis, setelah itu disambung dengan selsun shampooTM blue untuk maintenance.

Pada saat kontrol 1 bulan selanjutnya, pasien sangat berterimakasih kepada saya, karena untuk pertama kalinya dia merasa matanya sangat lega, obat tetes mata itu hanya dipakai untuk seminggu saja. Ketombenya pertama kali sepanjang dia didera sakit, dan kukunya perlahan-lahan mulai menampakkan bentuk yang normal, tidak kehitaman lagi.

Yang membuat saya berkesan adalah mata merah kering dan gatal yang bertahan satu tahun lebih karena penyakit jamur kuku yang ada di tangannya, suatu hubungan yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Jadi untuk kasus saya ini, jangankan melakukan praduga, menduga saja tidak pernah terpikirkan. Karena kasus ini tidak pernah saya baca di buku teks kedokteran atau disajikan dijurnal atau seminar. Wallahua’lam.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Care bangsa kita yang memprihatinkan

Care atau peduli sesama, tampaknya mulai luntur dalam budaya kontemporer kita dewasa ini. Beberapa yang lalu saat hari raya kemarin, kami sekeluarga istirahat di suatu rumah makan, pada saat jam makan siang dan jam sholat dzuhur. Kami memesan makanan, sembari menunggu, kami sekeluarga berbagi, ada yang menunggu dan ada yang sholat. Ketika saya menunggu bersama mas Rizqi, di meja makan kami sudah mulai penuh makanan yang kami pesan..... eee nylonong seorang ibu dengan santainya mengambil kursi di samping saya tanpa minta izin atau permisi... terus saya bilang ke dia "maaf bu ini kursi sudah dipesan dan orangnya masih sholat" kemudian saya menunjuk kursi kosong yang bisa beliau ambil... eee orangnya pergi tanpa sepatah kata apa pun. Kejadian ini berulang sampai tiga kali......

Saya jadi teringat kisah berikut:

Suatu ketika Ubaidah bin Shamit menerima hadiah, dan beliau memiliki keluarga sebanyak 12 orang. Kemudian sahabat Ubaidah berkata, pergilah kalian dengan hadiah ini kepada keluarga fulan, karena mereka lebih membutuhkan hadiah ini daripada saya. Kemudian Wahid bin Ubadah membawa hadiah ini kepada keluarga lain. Akan tetapi, ketika ia telah sampai pada keluarga tersebut, mereka mengatakan hal yang sama. Begitu seterusnya, akhirnya hadiah itu kembali pada keluarga Ubadah sebelum waktu subuh. Dalam riwayat lain, khalifah Umar ra, pernah mendapatkan hadiah dari gubernur di Azerbaijan, Utbah bin Farqad. Kemudian utusan itu ditanya oleh khalifah: ”Apakah semua masyarakat di sana menikmati makanan ini?” Utusan itu menjawab : ”Tidak wahai Amirul Mukminin, ini adalah makanan khusus”. Khalifah berkata: ”Bawalah hadiah ini, kembalikan kepada pemiliknya, dan katakan padanya, ’Bertakwalah kepada Allah, kenyangkanlah kaum Muslimin dengan makanan yang engkau makan hingga kenyang.”[1]

Itsar atau altruisme di jaman kita sekarang tampak menjadi suatu barang yang sangat mewah. Dasar dari care terhadap orang lain adalah ketika kita memulai memikirkan orang lain. Kita melepaskan pemenuhan ambisi pribadi, beralih memenuhi kebutuhan dasar orang-orang yang berada di sekitar kita.

Perkembangan sosial teknologi terakhir, menurut Daniel Goleman[2], telah menciptakan cangkang yang membuat seseorang terisolasi dengan lingkungan sosialnya. Headphone, iPod, juga telefon seluler, membuat kita hanya bisa hadir secara fisik di lingkungan sosial kita sendiri-sendiri. Tanpa kita sadari, kita asyik mendengarkan ribuan musik yang siap kita dengarkan lewat iPod atau headphone. Si pendengar iPod asyik dengan penyanyi yang berdengung di telinganya, sementara ia tidak tahu apa yang terjadi di sekitar kehidupan riilnya. Ketika kita bercengkerama secara fisik, tiba-tiba handphone berdering entah itu ada telefon atau SMS, saat itu juga mencabut ”kehadiran” kita di lingkungan fisik, perhatian terbelah ataupun bahkan terabaikan, konsentrasi pada apa yang ada di telinga....hadir yang tidak ”hadir”. Secara sosial kita mengalami korosi. Menjadi kurang care terhadap sesama.




[1] Diambil dari Ahmad Ibrahim Abu Sinn, 1996, Al-Idaarah fil Al-Islam; Edisi Indonesia, Manajemen Syariah, 2006, Penerbit RajaGrafindo Persada, Jakarta

[2] Daniel Goleman, 2006, Social Intelligence, Edisi Indonesia, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2007

Sabtu, 01 November 2008

Mengapa Pasien Berobat ke Dokter

Menurut Grossman (1972), masing-masing individu melakukan produksi, menggunakan aneka input di “pasar”, untuk melipatgandakan stok kesehatan dalam tubuhnya sehingga jumlah hari-hari sehatnya (healthy days) bertambah, sekaligus “mengisi ulang” stok kesehatan yang berkurang (depleted, depreciated) akibat proses penuaan, iklim, penyakit, polusi, bencana alam, dan sebagainya. Aneka input kesehatan tersebut mencakup pelayanan kesehatan, makanan bergizi, gaya hidup, lingkungan pemukiman yang baik, dan sebagainya. Makin banyak jumlah makanan bergizi yang dikonsumsi, makin sehat individu. Makin baik pemukiman individu, makin tinggi derajat kesehatan individu. Demikian juga, makin banyak kuantitas pelayanan kesehatan yang dikonsumsi individu, makin tinggi status kesehatan individu.[1] [2]

Dengan melihat definisi Grossman di atas, maka pasien datang berobat ke dokter motivasi terbesarnya adalah ingin mengembalikan atau mendapatkan kembali hari-hari sehatnya yang hilang. Jadi pergi ke dokter hanyalah turunan dari kebutuhan utamanya memproduksi hari-hari sehatnya. Atau dapat pula dikatakan dokter hanyalah sebuah agen bagi pasien untuk memperoleh hari-hari sehatnya kembali. Dalam taraf ideal, mendapatkan kesehatan adalah hak setiap orang. Karena itu mendapatkan kesehatan adalah termasuk salah satu hak azasi manusia. Atau dapat dikategorikan mendapatkan pelayanan kesehatan adalah barang publik. Artinya setiap orang tanpa ada diskriminasi berhak memperolehnya secara gratis. Akan tetapi, sistem kesehatan yang dianut di negara kita, tidaklah demikian. Karena keterbatasan sumber daya pemerintah, sehingga sebagian, bahkan sebagian besar kebutuhan layanan kesehatan ini diserahkan kepada pihak swasta (70 – 80 % layanan kesehatan yang dikonsumsi masyarakat di Indonesia saat ini adalah layanan kesehatan swasta)[3].

Inilah tantangan dokter, bagaimana mengusahakan layanan kesehatan dari dokter baik pribadi maupun institusi layanan kesehatan pemerintah maupun swasta menjadi barang publik. Memenuhi hak setiap orang memperoleh kesehatannya. Mengusahakan layanan kesehatan menjadi public good (barang publik) akan menurunkan biaya kesehatan yang merupakan salah satu unsur biaya produksi. Bila biaya produksi turun, maka akan meningkatkan daya saing manusia Indonesia, karena rendahnya biaya produksi yang merupakan salah satu andil dari biaya kesehatan. Sebuah idealisme, yang menantang kita untuk mewujudkannya. Kenyataan memang banyak bukti yang menunjukkan bahwa kesehatan “hanya hak orang kaya dan punya uang” seperti ungkapan-ungkapan berikut :

……….Istriku bukan keluarga pasien, tapi ketika masuk ke sana si perawat bertanya, "Anda keluarga pasien? Sudah ada uang buat biaya pengobatan?"

………………………..

dulu aku pernah nolongin anak SMP korban tabrak lari pas sedang dlm perjalanan ke kantor. Aku minta tolong sama RS terdekat (kebetulan kejadiannya jg pas di depan RS itu), eh kata satpamnya,”wah susah mbak kalo nggak ada penjaminnya..”[4]

Jadi Mengapa Pasien Datang Berobat ke Dokter?

Alasan utamanya mereka sakit ingin sembuh. Ketika memilih tidak serta merta langsung membuat keputusan ada dokter yang tinggalnya dekat dengan rumahnya langsung berobat. Tidak! Dia butuh belajar dulu, apakah dokter yang berada di dekat tempat tinggalnya itu bisa dipercaya atau tidak. Tidak dipercaya? Ya. Mereka butuh bukti-bukti yang bisa mereka persepsi bahwa dokter yang praktik dekat tempat tinggalnya itu benar-benar bisa dipercaya dan kredibel. Hanya sedikit orang yang mau menjadi “kelinci percobaan” dan beranggapan semua dokter mempunyai kualitas yang sama dan terstandarisasi. Setelah melihat banyak orang yang sakit dan berobat ke dokter tadi bisa sembuh dan tertangani keluhan maupun penyakitnya maka, barulah ia memberanikan diri mempercayai dokter tadi. Butuh proses.

Kata kuncinya adalah kepercayaan. Dalam kehidupan sehari-hari ketika kita makan di warung Tegal, penjual makanan tidak akan memelototi Anda kan ketika Anda makan dengan santai mengambil lauk atau makanan ringan yang dihidangkan. Mereka tidak akan terus-menerus memelototi gerakan tangan Anda sembari menghitung-hitung berapa jumlah makanan yang Anda ambil. Mereka sepenuhnya percaya kepada kejujuran Anda berapa lauk yang Anda ambil untuk dihitung berapa rupiah yang harus Anda bayar kepada sang penjual. Lain halnya kalau penjual tidak percaya, Anda makan tidak akan nyaman. Terus dipelototin. Demikian juga di tempat-tempat lain.

Jadi inti pesan yang ingin saya sampaikan adalah adanya kepercayaan di antara kita sesama manusia akan membuat hidup ini begitu nyaman dan sangat murah. Sangat murah? Kalau penjual warung tegal itu tidak percaya dengan setiap orang yang makan di warungnya, tentu dia akan membayar lebih banyak pekerja yang berfungsi sebagai tukang “mata-mata” untuk menghitung berapa makanan tambahan yang Anda ambil. Berarti ada tambahan biaya yaitu menggaji tukang “mata-mata”. Dan hasil akhirnya tarif makan di warung Tegal akan sangat mahal. Demikian juga dengan berbelanja di toko, berbelanja menjadi tidak aman, sedang biaya untuk menjalankan operasional toko juga bertambah mahal karena adanya pengawasan “ekstra” terhadap pengunjung oleh karyawan tambahan.

Praktik dokter dalam suasana yang tidak ada budaya trust juga akan berbiaya mahal. Dokter akan mengeluarkan uang untuk asuransi “tuntutan” malpraktik, untuk jaga-jaga sewaktu-waktu ada tuntutan malpraktik dari pasiennya. Selain biaya asuransi, juga menganggarkan cadangan dana untuk menutup biaya dari jasa pengacara. Sebagai hasil akhirnya jasa praktik dokter menjadi bertambah mahal.

Dalam perspektif yang lebih luas, Francis Fukuyama, dalam bukunya Trust [5] menyebutkan bahwa mangkirnya kepercayaan dalam suatu masyarakat menyebabkan kinerja ekonomi yang buruk beserta implikasi-implikasi sosial yang menyertainya. Selanjutnya, Francis menyebutkan sebuah kasus berikut :

Di sebuah kota kecil di Italia selatan selama tahun 1950-an, Edward Banfield mencatat banyaknya warga negara kaya yang enggan untuk bersama-sama mendirikan sekolah atau rumah sakit, padahal kedua fasilitas umum ini sangat dibutuhkan oleh penduduk kota itu. Mereka juga emoh untuk membangun perusahaan, meskipun mereka meiliki kelimpahan modal dan buruh. Alasannya sederhana, mereka menganggap bahwa membangun fasilitas umum adalah kewajiban negara, bukan mereka.

Di bagian lain, mencontohkan, betapa negara sedemokratis Amerika terpaksa mengeluarkan lebih banyak anggaran negaranya ketimbang negara-negara industri lain untuk menahan lebih dari satu persen penduduknya di penjara dan mendanai program perlindungan polisi. Secara substansial, Amerika Serikat juga terpaksa membayar lebih banyak ketimbang yang dibayarkan Eropa atau Jepang untuk membayar pengacaranya, sehingga para warga negaranya bisa saling tuntut satu sama lain.

Trust atau kepercayaan yang tidak terbina dengan baik, juga memperburuk kinerja perusahaan atau suatu institusi. Hal ini dibenarkan oleh W. Chan Kim dan Renée Mauborgne, dalam buku best seller-nya Blue Ocean Strategy [6], mencontohkan sebuah pabrik yang melanggar prinsip proses yang adil 3 E Engangement, Explanations, Expectation clarity. Engagement berarti melibatkan individu-individu dalam keputusan-keputusan strategis, explanation berarti bahwa setiap orang yang terlibat harus memahami kenapa keputusan strategis dibuat, dan expectation clarity bahwa pegawai harus tahu sedari awal standar apa yang akan digunakan untuk menilai mereka dan sanksi apa yang dijatuhkan untuk kegagalan. Pelanggaran yang dilakukan pabrik tadi adalah tidak melibatkan pegawai dalam keputusan-keputusan strategis yang secara langsung mempengaruhi mereka, mendatangkan konsultan asing yang tidak saja sekedar berbeda busananya, tetapi juga berbisik-bisik dan kasak-kusuk sesama mereka, ditambah sang manajer jarang hadir. Akibatnya muncul ketidak percayaan, walaupun strategi yang dihasilkan bagus, tetapi gagal dalam implementasi hanya karena ada prasangka yang seharusnya bisa diantisipasi sejak awal.

Dikatakan pula dalam buku yang sama bahwa individu mencari pengakuan terhadap nilai mereka, bukan sebagai “buruh”, “personalia”, atau “sumber daya manusia”, melainkan sebagai manusia yang diperlakukan dengan rasa hormat. Menurut kedua penulis ini pula, proses yang adil akan mendatangkan suatu rangkaian komitmen, kepercayaan dan kerja sama sukarela bukan sekadar sikap atau perilaku tetapi merupakan modal intangible (tidak berwujud fisik).

Hubungan yang dilandasi saling percaya

Idealnya hubungan dokter dan pasien dilandasi oleh rasa saling percaya antara kedua belah pihak. Pasien yang membutuhkan penyembuhan atas sakit yang diderita, sedangkan dokter adalah pihak lain yang sangat tahu mengenai kondisi sakit pasien. Keduanya sebagaimana diketahui terdapat kesenjangan pengetahuan yang sangat lebar. Karena itu butuh sesuatu untuk menjembatani jurang itu, yaitu adanya rasa percaya diantara kedua belah pihak. Pasien mempercayai bahwa dokter tidak mempermainkan dirinya, tidak berorientasi mengambil sebanyak keuntungan dari uang yang dikeluarkan pasien, tidak menjadi obyek penelitian yang tidak jelas resikonya, dan tidak melakukan pemeriksaan dan pemberian tindakan ataupun terapi secara sembrono, sudah dipertimbangkan secara matang, sesuai kompetensi yang dimiliki oleh dokter. Yang sangat ditekankan adalah bahwa dokter dan pasien secara prinsip secara bersama-sama berikhtiar dalam kepemimpinan sang dokter berusaha mencari kesembuhan atau berusaha meningkatkan kualitas hidup pasien.


[1] Bhisma Murti, Laksono Trisnantori, Ari Probandari, Atik Heru Maryanti, Deni Hardianto, Mubasysyir Hasanbasri, Titik Wisnuputri; 2006, Perencanaan dan Penganggaran untuk Investasi Kesehatan di Tingkat Kabupaten dan Kota, Gajah Mada University Press.

[2] Goodman, AC; Stano, M; Tilford, JM, 1998, Houshold Production of Health Investment*analysis and Aplications, MG_DOC June 17, 1998

[3] Wawancara pribadi dengan Bhisma Murti, September 2007

[5] Francis Fukuyama, 1995, Trust, The Social Vitues and the Creation of Prosperity, Edisi Indonesia, Trust; Kebajikan Sosial dan Pencipataan Kemakmuran, Penerbit Qalam, Nopember 2002

[6] W. Chan Kim dan Renée Mauborgne, 2005, Blue Ocean Strategy, Harvard Business School Publishing Corporation, Boston; Edisi terjemahan Indonesia, Blue Ocean Strategy (Strategi Samudra Biru), Penerjemah Satrio Wahono, Penerbit PT Serambi Ilmu Semesta, Januari 2006

Senin, 23 Juni 2008

Persepsi Pemilik Blog Tentang Kinerja Dokter di Indonesia

Pendahuluan

Tidak ada definisi yang tepat untuk mendiskripsikan apakah blog atau weblog itu. Yang jelas blog adalah media elektronik yang membuat siapa saja bisa memberikan informasi kepada khalayak. Tidak ada klaim otoritas tunggal sebagai sumber informasi saat ini, siapa saja bisa mengklaim dirinya mempunyai otoritas dalam memberikan informasi. Tidak seperti media tradisional, seperti surat kabar atau majalah baik dalam bentuk cetak maupun elektronik, media blog, tidak dikelola oleh lembaga formal, tetapi dikelola secara informal yang sebagian besarnya adalah perorangan. Sifat informal dapat dilihat dari cara penulisan artikel yang dipublikasikan (biasa dikenal dengan istilah posting) yang tidak mengenal tata aturan yang baku. Karena bersifat informal itulah media ini banyak diminati. Majalah Business Week edisi Indonesia 11 Mei 2005 melaporkan, pada saat laporan itu ditulis, terdapat sekitar 9 juta blog di jaringan maya dunia. Setiap hari, 40.000 blog baru bermunculan. Pemilik blog seringkali disebut dengan blogger.1 Di Indonesia, menurut Tempo Interaktif2, saat ini terdapat sekitar 200.000 pemilik blog, kemungkinan akan terus bertambah. Bahkan komunitas blogger mencanangkan tercapainya satu juta blogger dari Indonesia.

Melihat perkembangan jumlahnya yang terus membesar, maka setiap informasi yang menjadi bahan pembicaraan di media blog akan menjadi sangat penting. Pemilik blog, dengan meminjam istilah Gladwell3, berperan menjadi tipping point people atau dalam bahasa Raymond4, mempunyai peran sebagai simpul budaya, atau juga dalam bahasa Al-Qadhi5 sebagai hujjah, yakni orang yang menjadi rujukan komunitasnya. Maksud ketiga istilah itu adalah, bahwa pemilik blog, mempunyai peran besar sebagai pemimpin opini. Kecenderungan-kecenderungan mode, pakaian, fashion, atau opini apa pun, bahkan dalam pemilihan presiden Amerika pun1, opini juga terbangun dari komunitas blogger. Pendek kata, apa pun yang nantinya akan muncul ke permukaan, seringkali berawal dari komunitas blogger ini. Dari sudut pandang public relation, mereka ini, meminjam istilah Rhenald Kasali6, berperan sebagai vocal minority yang memengaruhi silent majority.

Melihat perannya yang demikian besar, maka perlu kiranya mengetahui bagaimana pendapat para blogger mengenai kinerja dokter yang berada di Indonesia. Pengetahuan mengenai hal tersebut akan membantu bagi organisasi profesi dokter, untuk dapat mengevaluasi diri, seberapa baikkah kinerja dokter-dokter yang terhimpun dalam organisasi tersebut. Kedua, yang mendapatkan manfaat adalah institusi penyelenggara pendidikan dokter. Apa pun hasil dari penelitian ini, adalah cerminan, walaupun tidak seluruhnya, mengenai kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi oleh dokter-dokter hasil pendidikan dokter dalam periode waktu sebelumnya. Dari sini dapat pula mengevaluasi sistem pendidikan yang selama ini dijalankan. Karena sistem pendidikan dapat mempengaruhi atau menentukan kinerja lulusan, demikian juga sistem pendidikan dokter akan mempengaruhi kemampuan kinerja dokter.7

Dalam penelitian sebelumnya, Suryadi7 membagi kinerja dokter dalam lima aspek, yaitu: aspek profesional, aspek pelayanan, aspek tata cara kerja, aspek kerja sama dan aspek efisiensi dan efektivitas. Lebih rinci item-item yang masuk dalam masing-masing aspek dapat dilihat pada tabel 1, tabel 2, tabel 3, tabel 4, tabel 5.

Tabel 1. kinerja dokter dalam aspek profesional

No

Item-item aspek profesional

1.

Pelayanan kesehatan aman

2.

Pelayanan kesehatan bermutu

3.

Kemampuan pertolongan pertama

4.

Keterampilan melakukan pemeriksaan

5.

Keterampilan melakukan pengobatan

6.

Pengetahuan merujuk pasien

7.

Kemauan merujuk pasien


Tabel 2. Kinerja dokter dalam aspek pelayanan

No

Item-item aspek pelayanan

1.

Pelayan yang efektif dan aman

2.

Bersikap ramah

3.

Mematuhi

4.

Mematuhi peraturan

5.

Melakukan usaha penghindaran dari efek samping

6.

Mampu mengembangkan diri

Tabel 3. Kinerja dokter pada aspek tata cara kerja

No

Item-item aspek tata cara kerja

1.

Mampu mencari informasi

2.

Mau menjelaskan keadaan

3.

Melibatkan pasien dalam penanganan

4.

Mau dan mampu melakukan pendidikan pasien

5.

Menjelaskan konsekuensi tindakan medis

6.

Membuat dokumentasi

Tabel 4. Kinerja dokter dalam aspek kerja sama

No

Item-item aspek kerja sama

1.

Mampu bekerja sama

2.

Mau mencari umpan balik

3.

Mampu memanfaatkan sarana penunjang

4.

Peka terhadap kritik dan saran

Tabel 5. Kinerja dokter dalam aspek efisiensi dan efektivitas

No

Item-item aspek efisiensi dan efektivitas

1.

Melakukan pemeriksaan yang diperlukan saja

2.

Tidak mengirim pemeriksaan yang berlebihan

3.

Meresepkan obat yang memang dibutuhkan

Secara umum, dalam penelitian tersebut, Suryadi menyimpulkan bahwa aspek kinerja dokter menurut persepsi masyarakat belum ideal atau sesuai dengan yang diharapkan, beberapa kelemahan yang mencolok mengenai kinerja dokter antara lain :

a. Dalam menerima kritik, saran dan umpan balik di dalam pola pikir yang sistematis dan rasional

b. Dalam komunikasi baik dengan pasien, mitra kerja dan kolega

c. Dalam kemampuan manajerial

d. Kemampuan dalam membuat dokumentasi

Namun sayangnya penelitian Suryadi tersebut tidak menyebutkan dengan detil siapa yang menjadi subyek penelitiannya. Dalam penelitian ini, secara prinsip mempunyai tujuan yang sama dengan penelitian yang telah dilakukan Suryadi, tetapi dalam penelitian ini difokuskan subyek penelitiannya adalah komunitas blog, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan searching lewat Google dengan kata kunci ”dokter dan pasien” pada tanggal 7 – 8 Februari 2007. Dari sana penulis mendapatkan lebih dari sepuluh ribu pemuatan dokter dan pasien oleh situs di internet dalam bahasa Indonesia. Penulis memilah-milah situs yang memenuhi kriteria yang bisa disebut sebagai blog, yaitu di profil yang dicantumkan di blog itu merupakan nama pribadi bukan institusi ataupun organisasi. Juga kata dokter dan pasien yang dimuat dalam artikel yang dipublikasikan di blog, menceritakan pengalaman atau pendapat mengenai hubungan dokter dan pasien yang ada di Indonesia. Penulis tidak memasukkan blog dokter yang berisi tentang penyuluhan kesehatan, tetapi memasukkan autokritik dokter dalam melayani pasien di Indonesia. Dari sana, akhirnya tersaring sebanyak 49 blog yang diikutkan dalam penelitian ini. Dari 49 blog yang dimasukkan dalam penelitan ini, penulis mengklasifikasikan cara mengekspresikan emosi berkaitan dengan pengalaman yang mereka alami; muatan emosi positif dalam arti baik, muatan emosi netral artinya hanya sekedar bercerita dan memberikan umpan balik, dan muatan emosi negatif, artinya memunculkan kemarahan berkaitan dengan pengalaman yang tidak mengenakkan.

Contoh ungkapan emosi positif

“Pokonya kalau aku tidak enak badan, ya datengin dokter Ali saja. Biasanya beliau akan memberiku surat pengantar ke koleganya, dokter spesialis lain yang memang sesuai dengan penyakit kami.

Pembawaan beliau sangat humoris dan menyenangkan…..”8

Contoh lain ungkapan emosi positif:

“Senin, 6 November 2006 pukul 10.25 waktu setempat, merupakan kesempatan yang layak dicatat dalam blog ini, sebagai momentum untuk mengucapkan rasa syukur dan hormat ku kepada pemerintah republik ini, khsususnya kepada jajaran Departemen Kesehatan yang dipimpin oleh Ibu Menteri. Mengapa? karena pada akhirnya saya turut merasakan, manfaat dari pajak - pajak terutama Pajak Penghasilan, yang saya bayar setiap bulannya atau ketika melakukan transaksi.” 9

Contoh ungkapan emosi netral

“….“Bener, Dokter A itu orangnya baik banget.” “Kita sekeluarga dokternya selalu dia. Banyak pengalaman dia dan bagus.” Kalimat-kalimat seperti ini yang biasanya terlontar ketika sedang mencari referensi dokter mana yang paling bagus menangani istri anda. Tapi berapa kali juga kita sering mendengar atau bahkan mengalami sendiri, ketika datang ke dokter yang direferensi ternyata tidak sesuai dengan yang digambarkan. Dokternya bete. Dokternya bicara seadanya. Dokternya seperti kejar setoran………. Hanya sama seperti kita juga, dokter juga manusia yang mengalami berbagai permasalahan. Siapa tahu ketika anda datang pertama kali dengan hati penuh antisipasi tinggi mendengar pujian serta prestasi yang diceritakan teman, si dokter sedang punya masalah di rumah………”10

Contoh ungkapan emosi negatif

“…Ini kali saya kedua kali berhadapan dengan kejadian dokter sontoloyo di Bumi BBM ini. … Ya Allah timpakanlah Azab serupa buat para bajinguk yang berkedok orang pintar bersertifikat ini.”11

Selain mengklasifikasi emosi yang diekspresikan, penulis juga mengklasifikasikan berdasarkan lima aspek kinerja dokter menurut Suryadi, yaitu aspek profesional, aspek pelayanan, aspek tata cara kerja, aspek kerja sama dan aspek efisiensi dan efektivitas. Pada pengklasifikasian ini, satu blogger dalam satu kali posting (artikel yang dipublikasikan) bisa mengenai lebih dari satu aspek kinerja di atas.

Hasil Penelitian

Dari 49 blog yang diteliti, mengenai pengungkapan emosi, berkaitan dengan kinerja dokter, pada tabel 6 dapat dilihat bahwa 30 blogger mengungkapkan dengan emosi negatif. 15 blogger mengungkapkan dengan emosi netral dan 4 sisanya dengan emosi yang positif.


Tabel 6. Jenis emosi yang digunakan blogger dalam mengungkapkan pendapatnya tentang kinerja dokter

No

Jenis emosi yang diekspresikan blogger

Jumlah blogger

Prosentase

1.

Emosi positif

4

8 %

2.

Emosi netral

15

30 %

3.

Emosi negatif

30

62 %

Bila dilihat dari aspek kinerja yang menjadi perhatian blogger, didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 7. Frekuensi aspek kinerja yang menjadi sorotan perhatian blogger

No

Aspek kinerja dokter

Positif

Netral

Negatif

1.

Aspek profesionalitas

1

8

9

2.

Aspek pelayanan

4

8

21

3.

Aspek tata cara kerja

1

7

10

4.

Aspek kerja sama

1

2

9

5.

Aspek efisiensi dan efektivitas

1

1

10

Di luar kelima aspek di atas, terdapat satu kasus dokter yang mendiskriminasikan pelayanan terhadap penderita HIV/AIDS, sebagaimana yang diungkapkan

Waktu itu dokter mau periksa Mika. Sebelum dokter periksa, Mika bilang kalau dia sakit AIDS…..

Aku bilang sama dokter kalau ada yang namanya kewaspadaan universal. Itu artinya semua pasien harus dilayani sama.
Dokter diam saja. Aku jadi tambah marah. Aku minta supaya Mika paksa dokter. Tapi dia tidak mau. Mika bilang dia baik-baik saja. Aku tahu Mika tidak baik-baik saja. Jadi aku saja yang paksa dokter.

Aku jelaskan tentang kewaspadaan universal sekali itu lagi. Tapi dokter tidak mau dengar. Dokter bilang dia tidak mau ambil resiko. 12

Juga ada blogger yang memberikan perhatian pada input pendidikan dokter yang mereka persepsi tidak baik, seperti yang terungkap dalam kutipan berikut:

“Jadi si Pratama Gilang ini yang sebelumnya masih duduk di kelas 2 SMA di SMAN 3 dengan lulus paket C, dia langsung loncat ke Perguruan Tinggi. Sekarang dia diterima di Fakultas Kedokteran Unpad lewat jalur SMUP. SMUP tuh semacam jalur alternatif masuk Unpad selain SPMB, dimana yang diterima lewat jalur SMUP ini mesti ikut test dulu dan bayarnya jauuuuuuuh lebih besar di atas anak2 yang masuk lewat SPMB. Setau gue buat masuk FK lewat SMUP tahun 2006 ini minimal sumbangannya 150jt (kayaknya cukup nih buat beli Toyota Yaris tipe E :p ).”13

Ada juga salah persepsi yang diungkapkan oleh seorang blogger, seperti pada kutipan berikut, blogger ini menganggap bahwa malaria sudah tidak ada di pulau Jawa, yang bertolak belakang dengan kenyataan yang ada.

“..Kang Kombor woro-woro di kampung, hati-hati kalau berobat atau bezuuk di RSUD Sleman. Salah-salah nanti kita malah kena malaria. Gimana nggak cemas. Setahu Kang Kombor, Pulau Jawa dah lama bebas malaria. Makanya waktu di SMA ada teman dari Irian yang kumat malarianya waktu di Magelang, Kang Kombor heran. “Kok, bisa-bisanya Kamu kena malaria? Pulau Jawa dah bebas malaria tahu!” …. “14

Ada juga yang membandingkan pengalamannya ketika berinteraksi dokter di luar negeri dengan pengalamannya ketika dilayani oleh dokter Indonesia, sebagaimana ungkapan berikut:

“..Dokter Wolfs menghantarkan kami sampai ke pintu luar dan menyalami kami, “Good luck !”. Jarang sekali dokter-dokter di Indonesia mau menghantarkan tamunya ke depan pintu seperti dokter Belanda ini...”15

Diskusi

Blog merupakan catatan pribadi seseorang yang dipublikasikan, lewat media internet. Para blogger lewat media blog yang dimiliki, merasa memiliki otoritas dalam menyebarkan informasi maupun berita. Bahkan ada yang membuat nominasi bencana nasional serta memasukkan malpraktik sebagai sepuluh besar bencana nasional, sebagaimana ungkapan blogger berikut :

“….Negara ini didera musibah, spt :
1. Korupsi
2. Kemiskinan
3. Biaya pendidikan yang semakin mencekik
4. Gizi buruk
5. Flu Burung yg menjadi musibah nasional.
6. Demam Berdarah
7. Malaria dan Aids.
8. Banjir, Angin Puting Beliung, Gempa Tektonik, gempa Vulkanik.
9. Kecelakaan di darat, laut dan udara.
10. Mallpraktek…..” 16

Dari hasil penelitian terlihat bahwa, sebagian besar blogger mengaku kecewa dengan kinerja dokter di Indonesia. Jumlahnya mencapai 61 % dan mereka mengungkapkan dengan ungkapan emosi negatif. 30 % mengungkapkan dengan kritik membangun, dalam penelitian ini menyebutnya dengan ungkapan emosi netral dan 8 % mereka mengaku puas dengan kinerja dokter di Indonesia.

Mengenai aspek kinerja yang paling banyak mendapat sorotan pada blogger yang mengekspresikan dengan emosi negatif adalah aspek pelayanan, disusul aspek tata kerja bersamaan dengan aspek efisiensi dan efektivitas, kemudian secara bersamaan aspek profesional dan aspek kerja sama.

Frekuensi aspek kinerja yang paling banyak disoroti oleh blogger yang mengungkapkan dengan emosi netral adalah aspek profesionalitas dan aspek pelayanan secara bersama, kemudian aspek tata cara kerja, kemudian aspek kerja sama dan terakhir aspek efisiensi dan efektivitas.

Sedangkan pada blogger yang puas, mengungkapkan dengan emosi positif aspek kinerja yang mendapatkan sorotan, terbanyak aspek pelayanan, kemudian secara merata aspek profesionalitas, aspek tata kerja, aspek kerja sama dan aspek efisiensi dan efektivitas.

Ternyata aspek pelayanan yang menurut Jun et al,16 termasuk kualitas fungsional non teknis. Yakni kualitas yang tidak berkaitan langsung dengan masalah teknis pelayanan profesional dokter. Tetapi dari penelitian ini mempunyai peran besar dalam memberikan persepsi positif terhadap pelayanan dokter. Di semua jenis emosi yang terekspresikan, aspek pelayanan merupakan aspek yang dianggap terpenting.

Memang tidak semua yang diungkapkan benar, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hasil penelitian di atas mengenai Jawa bebas malaria. Tetapi dari apa yang diungkapkan oleh blogger, sebagai komunitas yang merupakan tipping point people, atau simpul budaya, atau hujjah zaman (orang yang menjadi rujukan), punya peran dalam penyebaran persepsi dan menjadi opini yang diyakini oleh sebagian besar masyarakat. Inilah yang dikhawatirkan.

Kesimpulan

Sebagian besar komunitas blogger yang mengungkapkan tentang kinerja dokter di Indonesia, memrihatinkan kinerja dokter di Indonesia. Hanya 8 % blogger yang mengaku puas dengan kinerja dokter di Indonesia. Sebagian besar yang memrihatinkan kinerja dokter di Indonesia, mengungkapkannya dengan ungkapan emosi negatif, 62 %. 30 % sisanya mengkritisi kinerja dokter dengan ungkapan emosi netral. Sedangkan mengenai aspek kinerja yang mendapat sorotan sebagian besarnya adalah aspek pelayanan.

Mengingat peran komunitas blogger yang punya peran besar dalam penyebaran informasi dan persepsi, maka perlu ada tindakan yang terstruktur dan sistematis, untuk memperbaiki kinerja dokter di Indonesia, baik oleh organisasi profesi, organisasi penyelenggara pendidikan kedokteran di Indonesia dan juga departemen kesehatan.

Daftar Pustaka

1. Business Week, edisi Indonesia, Blog Akan Mengubah Bisnis Anda, 11 Mei 2005, hal 41 – 49.

2. www.blog.tempointerakif.com; 8 februari 2008

3. Malcolm Gladwell, 2000, Tipping Point; How Little Things Can Make a Big Difference, Edisi Indonesia, Tipping Point; Bagaimana Hal-hal Kecil Dapat Menghasilkan Perubahan Besar, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002

4. Martin Raymond, 2003, The Tomorrow People; Edisi Indonesia: The Tomorrow People; alih bahasa: Paul A. Rajoe; Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2006

5. dalam Ahmad ar-Rasyid, Muhammad, al-Muntholaq; Edisi Indonesia, Titik Tolak : Landasan Gerak para Aktivis Dakwah. Penerjemah: Abu Sa’id al-Falahi, Lc; Jakarta, Robbani Press, 2005.

6. Rhenald Kasali, 1994, Manajemen Public Relations; Konsep dan Aplikasinya di Indonesia, Pustaka Utama Grafiti

7. Suryadi, E, 2005, Persepsi Masyarakat Terhadap Kinerja Dokter; Jurnal Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan Indonesia, Vol 1 No 1 Mei 2005, hal 19 - 23

8. http://thezoostation.wordpress.com 2007/02/01/bapak-ibu-dokter/

9. http://ahdar.wordpress.comhttp://ahdar.wordpress.com/2006/08/11/verloof-kamer

10. http://bapakbaru.wordpress.com Saturday, December 9th, 2006 at 10:56 pm

11. http://adinoto.org May 9, 2006 at 6:32 am

12. http://sugarpie_punya_mika.blog.indosiar.com Senin, 1 January 2007

13. http://www.indradiky.com Tuesday, September 26th, 2006 at 23:27

14. http://kombor.com Jan 26, 2007

15. http://ahdar.wordpress.comhttp://ahdar.wordpress.com/2006/08/11/verloof-kamer

16. http://ghozan.blogsome.com/2007/02/02/refleksi-awal-tahun-2007/

17. Rhode Island Department of HealthAnnual Report – 2006, Consumer and Provider Views on Key Dimensions of Quality Hospital Care: A Review of the Literature, pp 19 - 21