Jumat, 21 Mei 2010
A servant is...
Kamis, 19 November 2009
19/11/2009
Jumat, 25 September 2009
Longing For Another Barbarossa
Can it be Barbarossa now returning
From Tunis or Algiers or from the Isles?
Two hundred vessels ride upon the waves,
Coming from lands the rising Crescent lights:
O blessed ships, from what seas are ye come?
Minggu, 14 Juni 2009
Star Trek
Rabu, 20 Agustus 2008
Tanah Ramah Ku
rumput nan hijau dan manis
bukit mungil dan gunung kokoh
depan rumah ku yang indah
ini lah tanah ramah ku
ia menerima saat aku tertolak
ia memberi saat aku terpaling
ia menumbuh saat aku tersungkur
teringat aku saat pertama dulu
tanah permai nan terjaga
mulia dan penuh wibawa
aku jatuh cinta selamanya
cemasku saat kau bimbang
keras ku berusaha untukmu
sabar ku tak berbatas bagimu
berkatilah hari saat kau jadi milikku
wahai tanah ramah ku
topanglah tubuh lemahku
sanggalah bahu lelahku
hiburlah mata merahku
wahai tanah ku yang ramah
maukah kau besarkan anakku?
dengan jemari tanganmu
dengan siraman kasihmu
Selasa, 22 Juli 2008
Menulis Karya Ilmiah
Tujuan menulis karya ilmiah menurut Ibnu Hazm diantaranya adalah :
- Mengutarakan sesuatu yang asli
- Menyelesaikan atau melengkapkan sesuatu yang belum lengkap
- Memperbaiki sesuatu yang dilihatnya salah
- Menjelaskan dan menguraikan sesuatu yang rumit dan sukar
- meringkaskan karya seseorang yang terlalu panjang tanpa meninggalkan perkara penting
- menggabungkan maklumat dari berbagai sumber
- menyatukan dan menyusun berbagai maklumat menjadi manik-manik yang menjadi rantai indah berseri
Jumat, 06 Juni 2008
Berhenti Sejenak
Mari kita berhenti sejenak di sini! Kita sudah relatif jauh berjalan bersama dalam kereta dakwah. Banyak sudah yang kita lihat dan yang kita raih. Tapi juga banyak hal yang masih kita keluhkan; ada begitu banyak rintangan yang menghambat laju kereta, ada begitu banyak goncangan yang melelahkan fisik dan jiwa kita, atau suara-suara gaduh dari mereka yang mengobrol tanpa ilmu dalam kereta ini yang memekakkan telinga kita, atau tikungan-tikungan tajam yang menegangkan. Tapi juga banyak pemandangan indah yang terlewatkan dan tak sempat kita potret, juga banyak kursi kosong dalam kereta dakwah ini yang semestinya bisa ditempati oleh penumpang-penumpang baru tapi tidak sempat kita muat. Dan masih banyak lagi!
Jadi, mari kita berhenti sejenak di sini! Kita memerlukan saat-saat seperti ini; saat dimana kita melepaskan kepenatan yang seringkali mengurangi ketajaman hati, saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang seringkali mengurangi kepekaan spiritual, saat dimana kita melepaskan sejenak beban dakwah yang selama ini kita pikul dan mungkin menguras stamina dakwah kita. Kita memerlukan saat-saat seperti ini karena mungkin kita perlu membuka kembali peta perjalanan dakwah kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa jarak perjalanan yang masih harus kita lalui, menengok kembali hasil-hasil yang telah kita raih, meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan dakwah kita, memandang ke alam sekitar karena mungkin banyak aspek dari lingkungan strategis kita telah berubah.
Tapi ternyata bukan hanya kita para duat yang perlu berhenti. Para pelaku bisnis juga mempunyai kebiasaan seperti ini. Orang-orang yang mengurus dunia itu memerlukan saat-saat seperti ini untuk menata ulang bisnis mereka. Mereka menyebut kebiasaan ini sebagai penghentian. Tapi sahabat-sahabat Rasulullah saw., generasi pertama yang telah mengukir kemenangan-kemenangan dakwah dan karenanya berhak meletakkan kaidah-kaidah dakwah, menyebutnya majelis iman. Maka Ibnu Mas’ud berkata, "ijlis bi na, nu’min sa’ah - Duduklah bersama kami, biar kita beriman sejenak"
Majelis iman atau tradisi penghentian adalah wacana yang kita butuhkan untuk dua keperluan. Pertama, untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Yang ingin kita capai dari upaya ini adalah memperbaharui dan mempertajam orientasi kita, melakukan penyelarasan dan penyeimbangan berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah, peluang yang disediakan lingkungan eksternal dan target-target yangdapat kita raih. Kedua, untuk mengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya di sepanjang jalan dakwah. Yang ingin kita raih di balik ini adalah memperbarui komitmen dan janji setia kita kepada Allah swt; bahwa kita akan tetap teguh memegang janji itu, bahwa kita akan tetap setia memikul beban amanat dakwah ini, bahwa kita akan tetap tegar menghadapi semua tantangan, bahwa yang kita harap dari semua ini hanyalah ridha-Nya. Hari-hari panjang yang kita lalui bersama dakwah ini akan menguras seluruh energi jiwa yang kita miliki. Maka majelis iman seperti ini adalah tempat kita berhenti sejenak untuk mengisi hati dengan energi yang tercipta dari kesadaran baru, semangat baru, tekad baru, harapan baru dan keberanian baru.
Rasanya majelis iman atau tradisi penghentian seperti ini semakin kita butuhkan ketika perjalanan dakwah kita sudah semakin jauh. Pertama, karena tahap demi tahap dari keseluruhan marhalah yang kita tetapkan dalam grand strategy dakwah kita perlahan-lahan kita lalui. Mulai dari rekruitmen dan pengkaderan qiyadah dan junud dakwah yang kita siapkan untuk memimpin ummat meraih kejayaannya kembali, kemudian melakukan mobilisasi sosial untuk menyiapkan dan mengkondisikan ummat untuk bangkit, sampai akhirnya kita membentuk partai sebagai salah satu wadah yang kita butuhkan untuk merepresentasikan dakwah pada tingkat institusi. Kedua, karena kita hidup pada sebuah masa dengan karakter yang tidak stabil. Perubahan-perubahan besar pada lingkungan strategis berlangsung dalam durasi dan tempo yang sangat cepat. Dan perubahan-perubahan seperti itu selalu menyediakan peluang dan tantangan yang sama besarnya. Dan apa yang dituntut dari kita -kaum duat- adalah melakukan pengadaptasian, penyelarasan, penyeimbangan dan pada waktu yang sama, meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan momentum. Ketiga karena kita mengalami seleksi dari Allah swt secara kontinyu, sehingga banyak duat yang berguguran, juga banyak yang berjalan tertatih-tatih.
Semua itu membutuhkan perenungan yang dalam. Maka dalam majelis iman atau melalui tradisi penghentian ini, kita mengukuhkan sebuah wacana bagi proses pencerahan pikiran, penguatan kesadaran, penjernihan jiwa dan pembaruan niat dan semangat jihad. Dan inilah yang dibutuhkan oleh dakwah kita saat ini.
Tradisi penghentian atau majelis iman semacam ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan; individu atau jamaah (organisasi). Pada tingkatan individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenung, menghayati dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang dan aktual, di samping kebiasaan muhasabah, memperbaharui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi serta memelihara kesinambungan semangat jihad. Hasil-hasil inilah yang kemudian kita bawa ke dalam majelis iman untuk kita bagi kepada yang lain, sehingga akal individu melebur dalam akal kolektif, semangat individu menyatu dalam semangat kolektif dan kreativitas individu menjelma menjadi kreativitas kolektif.
Kalau ada pemaknaan yang aplikatif terhadap hakikat kekhusyukan yang disebutkan Al-Quran, maka inilah salah satunya. Penghentian seperti inilah yang mewariskan kemampuan berpikir strategis, penghayatan emosional yang menyatu secara kuat dengan kesadaran, dan keterarahan yang senantiasa terjaga di sepanjang jalan dakwah yang berliku dan curam. Maka Allah swt mengatakan, "Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Alkitab sebelumnya (di mana) ketika jarak antara mereka (dengan sang Rasul) telah jauh, maka hati-hati mereka menjadi keras, dan banyak dai mereka yang menjadi fasik." (Q.S. Alhadid: 16)
Beginilah akhirnya kita memahami mengapa Rasulullah saw menyunnahkan ummatnya melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, atau mengapa Allah swt menanamkan kegemaran berkhalwat pada Rasulullah saw tiga tahun sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, atau bahkan mengapa Umar bin Khattab mempunyai kebiasaan i’tikaf di Masjidil Haram sekali sepekan di masa jahiliyah. Begini pula akhirnya kita memahami mengapa majelis-majelis kecil para sahabat Rasululah saw di masjid atau di rumah-rumah mereka berubah menjadi wacana yang melahirkan gagasan-gagasan besar atau tempat merawat kesinambungan iman dan semangat jihad. Maka ucapan mereka, kata Ali bin Abi Thalib, adalah zikir, dan diam mereka adalah perenungan.
Tradisi inilah yang hilang di antara kita sehingga diam kita berubah jadi imajinasi yang liar, dan ucapan kita kehilangan arah dan makna. Maka dakwah kehilangan semua yang ia butuhkan; pikiran-pikiran baru yang matang dan brilian, kesadaran yang senantiasa melahirkan kepekaan dan semangat jihad yang tak pernah padam di sepanjang jalan dakwah yang jauh dan berliku.
Adalah kerugian besar bila tradisi ini pergi menguap dari wilayah perhatian kita hanya dikarenakan kesibukan dan rutinitas yang mulai kehilangan makna serta orientasi. Wallahu’alam.
di kutip dari http://beranda.blogsome.com/
Kamis, 17 April 2008
Dualisme
Tapi yang menarik giliran pelcur angkat bicara. "Saya memang pelacur. Dan saya melakukan ini karena saya janda. Saya menjalani profesi ini unutk menghidupi tiga orang anak saya. Kalian boleh saja mencemooh. Tapi siapa yang perduli jika anak-anak saya kelaparan, siapa! siapa!" ia berteriak lantang. "Supaya kalian semua tahu, lanjutnya, saya memang pelacur tapi hati saya tetap suci". Hadirin pun bersorak.
Nampaknya orang bersorak bukan karena ia pelacur, tapi karena ia seorang dualis. Menjadi pelacur dan merasa suci. Dua sifat yang kontradiktif. Yang saya heran justru mengapa mereka bersorak. Sebab doktrin dualisme sudah lama berakar di dalam pemikiran Barat. Asal usul terdekatnya adalah filsafat akan (philosophy of mind) yang digemari Descartes, Kant, Leibniz, Christian Wolf dll. Menurut Christian Wolf misalnya "the dualist (dualiste) are those who admit the existence of both material and immaterial substances" tapi wujud materi dan jiwa terpisah. pengertian ini disepakati oleh Pierre Bayle dan Leibniz.
Bahkan konon Barat mewarisi dari kepercayaan Zoroaster (1000 SM) di Timur. Dunia dianggap sebagai pergulatan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Thomas Hyde menemukan doktrin ini dalam sejarah agama Persia kuno (Historia religionis veterum Persianum, 1700). Doktrin Zoroaster diwarisi oleh Manicheisme dan diramu dengan dualisme Yunani. Tuhan Akhirnya dianggap sebagai person dan juga materi.
Bagi orang Mesir kuno R- adalah tuhan matahari simbol kehidupan dan kebenaran. Lawannya adalah Aphopis lambah kegelapan dan kejahatan. Deva dalam agama Hindu adalah tuhan baik, musuhnya adalah asura tuhan jahat. Di Babylonia peperangan antara Marduk dan Tiamat adalah mitos yang mewarnai worldview mereka. Mitologi Yunani selalu menampilkan peperangan Zeus dengan Titans. Di Jerman antara Ases dan Vanes, meski berakhir damai.
Dalam Filsafat, Pythagoras adalah dualis. segala sesuatu diciptakan saling berlawanan : satu dan banyak, terbatas dan tak terbatas, berhenti-gerak, baik-buruk dsb. Empedocles setuju dengan Pythagoras, baginya dunia ini dikuasai oleh dua hal cinta dan kebencian. Plato dalam dialog-dialognya memisahkan jiwa dari raga, inteligble dari sensible.
Tapi apakah dualisme itu benar-benar realitas? atau sekedar persepsi yang menyimpang? Sebab nilai-nilai monistis (kesatuan) dalam realitas juga ada dan riel. Heraclitus dan Parmenides mengkritik dualisme Pythagoras. Banyak itu pun berasal dari satu yang abadi. Yang dianggap saling berlawanan itu sebenarnya membentuk kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Aristotle ikut-ikutan. Dualisme Plato juga tidak benar. Jika jiwa diartikan bentuk (form) dari raga alami yang berpotensi hidup maka jiwa adalah pasangan raga. Jadi jiwa dan raga adalah suatu kesatuan. Tapi Aristolte ternyata masih dualis juga. Ia memisahkan akal dari jiwa.
Dalam kepercayaan kuno pun unsur monisme juga wujud. Marduk ternyata turunan dari Tiamat. Zeus dan Titan berasal dari moyang yang sama. Leviathan ternyata diciptakan Tuhan. Pemberontak Mahbrata adalah dari keluarga yang sama. Dalam agama Zoroaster kebaikan selalu dinisbatkan pada Ahura Mazda atau Ohrmazd sedangkan kejahatan disifatkan kepada Ahra Mainyu atau Ahriman. Tapi dalam kitab Gths kebaikan dan kejahatan adalah saudara kembar dan memilih salah satu karena kehendak.
Para pemikir Kristen mulanya mengikuti Plato, tapi mulai abad ke 13 mereka pindah ikut Aristotle dengan beberapa modifikasi. Di zaman Renaissance dualisme Plato kembali menjadi pilihan. Tapi pada abad ke 17 Descartes memodifikasinya. Baginya yang riel itu adalah akal sebagai substansi yang berfikir (substace that think) dan materi sebagai substansi yang menempati ruang (extended substance). Teori ini dikenal dengan Cartesian Dualism. Tujuannya agar fakta-fakta didunia materi (fisika) dapat dijelaskan secara matematika geometris dan mekanis. Kant dalam The Critique of Pure Reason mengkritik Descartes, tapi dia punya doktrin dualismenya sendiri. Pendek kata Neo-Platonisme, Cartesianisme dan Kantianisme adalah filsafat yang mencoba merenovasi doktrin dualisme. tapi terjebak pada dualisme yang lain.
Perang antara monisme dan dualisme, sejatinya adalah pencarian konsep ke-esa-an (tawhid). Peperangan itu digambarkan dengan jelas oleh Lovejoy dalam bukunya The Revolt Against Dualism. Fichte dan Hegel, misalnya juga mencoba menyodorkan doktrin monisme, tapi bagaimana bentuk kesatuan kehendak jiwa dan raga, tidak jelas. Nampaknya karena arogansi akal yang tanpa wahyu (unaided reason) maka monisme tersingkir dan dualisme berkibar. Jiwa dan raga dianggap dua entitas.
Seorang dualis melihat fakta secara mendua. Akal dan materi adalah dua substansi yang secara ontologis terpisah. Jiwa-raga (mind-body) tidak saling terkait satu sama lain, karena beda komposisi. Akal bisa jahat dan materi bersifat suci. Atau sebaliknya, jiwa selalu dianggap baik dan raga pasti jahat. Padahal dari jiwalah kehendak berbuat jahat itu timbul. Dalam Islam kerja raga adalah suruhan jiwa ( innama al-a'amalu bi al-niyyat). Karena itu ketulusan dan kebersiha jiwa membawa kesehatan raga.
Dualis dikalangan antropolog pasti memandang manusia dari dua sisi: akal dan nafsu, jiwa dan raga, kebebasan dan taqdir (qadariyah & jabariyah). Dalam filsafat ilmu, dualisme pasti merujuk kepada dichotomi subyek-obyek, realitas subyektif dan obyektif. Kebenaran pun menjadi dua kebenaran obyektif dan subyektif. Bahkan di zaman postmo kebenaran ada dua absolut dan relatif. Dalam Islam konsep tawhid inherent dalam semua konsep, tentunya asalkan sang subyek berfikir tawhidi.
Nampaknya doktrin dualisme telah memenuhi pikiran manusia modern, termasuk pelacur itu. Pernyataan pelacur itu tidak beda dari dialog dua sejoli dalam film Indecent Proposal, "I slept with him but my heart is with you" seorang dualis bisa saja berpesan, "lakukan apa saja asal denga niat baik". Anak muda muslim yang terjangkiti pikiran liberal akan berkata "jalankan syariah sesuka hatimu yang penting mencapai maqashid syariah". Kekacauan berfikir inilah kemudian yang melahirkan istilah "penjahat yang santun", "koruptor yang dermawan", "atheis yang baik","pelacur yang moralis", da seterusnya. Mungkin akibat ajaran dualisme pula Pak Kyai menjadi salah tingkah dan berkata, "hati saya di Mekkah, tapi otak saya di Chicago". Dualisme akhirnya bisa menjadi perselingkuhan intelektual. Hatinya berzikir pada Tuhan tapi fikirannya menghujatNya.
disalin apa adanya dari epilog Jurnal Islamia vol III No.3 tulisan oleh Hamid Fahmy Zarkasyi
Jumat, 11 April 2008
Perempuan Berselendang Bintang
pada hari yang terus berlari
kucoba memadatkanmu dalam kata-kata indah
yang berserak di cakrawala
tapi tak pernah bisa
meski itu hanya tentang sepotong mata teduh,
senyum yang berayun,
atau sejejak dari berjuta langkahmu
lalu kupintal puisi-puisi kesturi
yang setia kau tumbuhkan dari sanubari
menjelma karpet merah
dengan limpahan mawar merekah
yang tak akan pernah selesai kau lintasi
di sepanjang jalan hidupmu, bunda
: hari ini kuberikan sebuah award
seumur hidup untukmu
kau tahu aku tak memejamkan mata sekian lama
untuk menjaring permata-permata langit itu
menyusunnya di atas selendang berwarna salju
membentuk namamu dengan tinta yang paling emas
kuselempangkan padamu
diiringi nada-nada vivaldi
penghargaan bunda teladan tahun ini
dan hingga tak terhingga tahun
atas cinta yang tak pernah berhenti
dari nadi
dan ketabahan menumbuhkan matahari
untuk semua yang kau tulis
yang kau ukir di dalam diriku
dan lekuk jiwa semesta
untukmu
perempuan berselendang bintang
Puisi Mas Faiz untuk bundanya Helvy Tiana Rosa, diambil dari Taman Hatinya Mas Faiz
Senin, 14 Januari 2008
Wahai Putriku !
Putriku tercinta!
Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang.
Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarlan nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, dimana engkau belum pernah mendengarnya dari orang lain.
Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, dan kami tidak mengahasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.
Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di tanganmu.
Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : maling …! Tolong … tolong… saya kemalingan.
Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.
Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.
Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan!
Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engakulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.
Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat perkataan atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar.
Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status sosial, kekayaan, popularitas, dan prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.
Tak ada seorangpun yang mahu menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya adalah seorang wanita amoral.
Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan isteri, akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.
Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada Allah, bila mereka tidak mahu bertaqwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan simpati?
Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di atas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu? Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?
Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut di dikasihani. Bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.
Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita kini menjadi kepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit.
Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju kejelekan walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mahu menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita membuka wajahnya tidak berarti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Istri tanpa tutup wajah bukan berarti ia boleh menyambut kawan suami dirumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di jalan, atau seorang gadis menjabat tangan kawan pria di sekolah, berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian, dia lupa bahwa Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya sebagai pria, satu dengan lain dapat saling terangsang. Baik wanita, pria, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari dalam jiwa mereka.
Mereka yang menggembor-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan adalah pembohong dilihat dari dua sebab :
Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat angota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang.
Kedua : mereka bohong oleh karena mereka
bermakmum pada Eropa, menjadikan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New york. Sekalipun berupa dansa, porno, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan,, kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merusak?
Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemoohkan saya karena saya telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.
Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modernisme, emansipasi dan kehidupan kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah dari empat gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginkan untuk putri-putriku.
Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan salain memperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat diketemukan kembali.
Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mahu menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi menelantarkan, persisnya seperti anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.
Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran.
Selain ini jangan percaya. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mahu perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik.
(wallahul musta’an).
Disarikan dari buku : “Wahai Putriku” Ali Thanthawi
Wahai Putriku Oleh Syeikh Ali Thanthawi (rhm)]
diambil dari Lentera Kehidupan untuk Fatimah Cahaya putriku, Semoga Allah memberimu petunjuk
Rabu, 26 Desember 2007
Dan aku pun masukkan dalam daftar mu....!

Puisi dibuat Hamka setelah mendengar pidato Mohammad Natsir di ruang sidang Konstituante 13 November 1957, saat itu beliau menwarkan Islam sebagai dasar negara.
Ulama dan sastrawan sekaliber Hamka begitu terkesan dengan pidato tersebut sampai membuat puisi ini lebih dari cukup memberikan gambaran pada kita isi dari pidato Natsir
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu .......!
Selasa, 20 November 2007
Al Aqsa
tak terbilang sudah darah syuhada yang tumpah
Masjid tercinta tidak juga bebas
marilah saudaraku tumpahkan darah kita disana
Duhai! betapa harga syurga jauh lebih mahal
kenikmatannya tak dapat terbayang
jangan dikira duduk dan diam sudah cukup
tapi berjuang dan berkorbanlah
Ya Quds, Shobron Inna ba'da Lail Fajran !!
Senin, 05 November 2007
Dari dunia yang hidup dalam khayal
Dari pintu tempat ia bermula
Terbentang hingga di kejauhan sana
Mesti kujalani sedapat aku bisa
Kaki letih tapi ku berjalan juga
Sampai kudapati jalan yang lebih lega
Dimana banyak jalur dan urusan bertemu
Lalu kemana ? tak tahulah aku
Jalan itu seperti sebuah sungai besar
Mata airnya ada di setiap ambang pintu
dan setiap jalan adalah anak sungainya
Berbahaya sekali, kalau keluar pintu
Kalau kau masuk ke jalan itu
dan kaku tidak bisa mengendalikan kakimu
tak bisa dipastikan kemana kau akan digiringnya
Sadarkah kau bahwa jalan meewati hutan gelap
dan bla kau biarkan dia akan membawamu sampai ke gunung-gunung
atau bahwakn tempat-tempat yang lebih jauh dan lebih buruk
dikutip dari senandung pengembara milik Bilbo Baggins dengan sedikit modifikasi
Dari masa yang hampir terlupakan
" Sungai itu seperti selembar perkamen
Dimana hembusan angin menulis baris-barisnya
dan saat kecantikan sungai diungkapkan oleh baris-baris itu
ranting-ranting membungkuk untuk membacanya "
" Aku telah menetapkan sebagai syarat perkawinan
bahwa aku harus melayaninya sebagai seorang budak
dan bahwa aku memberikan jiwaku sebagai mahar"
( Abdurrahman V 1023-1024)
" Aku terkenang Sulaimaniyah saat panas pertempuran
seperti panas tubuhku pada hari aku meninggalkannya
kutatap tubuhnya yang ramping diantara hujan tombak
dan saat tombak-tombak itu meluncur kearahku, aku memeluk mereka "
Rabu, 31 Oktober 2007
Berhenti Sejenak
Berhentilah sejenak. Anda adalah musafir yang perlu berhenti sejenak untuk beristirahat seraya mencocokkan arah kompas, mengukur peta dan memeriksa bekal perjalanan. Berhentilah sejenak untuk mengenali energi diri, meredakan kegelisahan, mengatasi kepanikan, menjaga harapan, memperkuat kemauan, menimbang umur sampai menemukan kembali martabat kemanusiaan.
Berhentilah sejenak bacalah kalam Allah, agar ia dapat menjadi ma'alim. Rambu-rambu jalan yang memungkinkan musafir merasa yakin, aman dan lancar di perjalanan.
Berhentilah sejenak seperti yang disarankan seorang intelektual muda di zaman Rasulullah saw, Muadz bin Jabal ra " Ijlis bina nu'min saah " ( duduklah bersama kami, kita perbarui iman sejenak) HR Bukhari
Bersediakah anda ?
Dikutip dari buku Recik-recik nya ust. Abu Ridha
Senin, 29 Oktober 2007
tanpa judul
Rabu, 03 Oktober 2007
Sampan Sederhana Bernyalakan Lentera
Kita kayuh sampan sederhana yang bernyalakan lentera
Redup redam ditelan malam
Arungi laut kehidupan atasi gelombang, halau karang dan hadapi badai serta hujan
Disini bersama sampan sederhana bernyalakan lentera
Perahu besar kapal pesiar bukan kita punya
Itu milik para tetua kita hasil keringatnya
Mari kita bangun bersama diatas kaki terbelah
Kelak jika memang rizkinya kita juga akan punya
Tapi biarlah sementara kita mengarungi kehidupan
Dengan sampan sederhana bernyalakan lentera
Itu lebih terasa dan bermakna
Sautan camar dan desiran gelombang menjadi teman dan saksinya
Mari kesini bersamaku temani hidupku
Mengelola gelombang, halau karang hadapi badai dan hujan
Menuju pulau impian dari dermaga ilahi
Di dermaga ini bersama kita mereguk bekal yang hakiki
Ikhlas menjadi niatan, ihsan menjadi amalan
Da’wah dan jihad menjadi penopang
Akhlaq dan tarbiyah menjadi bangunan
Iman dan ibadah menjadi dasar
Mengayuh dayung menuju pulau impian
Yang tiada dusta dan sia-sia, ketika
setiap jiwa bertanggung jawab atas apa uang dilakukannya
ya... pulau itu negeri akhirat kita kembali
mari bersama!
Mendayuh sampan sederhana bernyalakan lentera
Membangun kehidupan diatasnya
Hidup bersama tak lagi terbelah
Jika layar sampan terkoyak, jahitlah ia agar tetap indah dan berguna
Kalau kayuh ini salah melangkah tegurlah dengan ramah dan mesra
Kita kail setiap ikan yang ada, bahkan kalau bisa dengan jala
Agar bekal menuju pulau impian tetap tersedia
Besarkan anak kita diatas laut kehidupan
Dengan gelombang, karang, badai dan hujan
Ajari mereka berenang agar kelak tak mabuk laut
Dan tegar menghadapi terpaan ganas alam
Kalau gelombang datang, peluk erat jemari
Kita imbangi tawakkal dan ikhtiar
Kalau badai menyambar, turunkan layar
Kendalikan arah jalannya
Jika karang dihadapan kayuh dayung ini bersama
Agar tak karam dihantamnya
Jika hujan datang kita berteduh diatap-atap
Kepasrahan dan kesabaran
Mari berlayar di laut kehidupan
Dari dermaga ilahi menuju pulau impian
Dengan sampan sederhana bernyalakan lentera
Agar jiwa tiada terbelah bersama...
Allah tujuan kita
Muhammad tauladan kita
Al-Qur’an pedoman kita
Jihad jalan kita
Syahid cita-cita tertinggi kita berdua