Beberapa penganjur “pengobatan alternatif” percaya bahwa perusahaan farmasi benar-benar berkomplot untuk menjadikan orang-orang tetap sakit demi keuntungan bisnis. Sebagai contoh, Kevin Trudeau (pengarang buku bestseller berjudul “Natural Cures They Don’t Want You To Know About” atau cara perawatan Alami dimana mereka tidak mau anda mengetahuinya) mengklaim informasi kesehatan yang penting telah disembunyikan dengan adanya konsfirasi antara pengambil kebijakan kesehatan dengan perusahaan obat besar. Menurut Trudeau, “Ada kelompok-kelompok tertentu, termasuk… industri obat … yang tidak menghendaki masyarakat memahami cara penjagaan kesehatan supaya tidak diserang berbagai macam penyakit…” Aktris dan model Jenny McCarthy nampak baru-baru ini di “Larry King Live,” menuduh para dokter dan industri farmasi berkomplot untuk melenyapkan bukti medis dari sebuah mata rantai yang menjelaskan adanya hubungan sebab akibat antara vaksin-vaksin yang disuntikkan pada masa bayi dan autism yang diderita anak-anak tersebut kemudian.

Tampilkan postingan dengan label Bahaya Obat Obatan Kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahaya Obat Obatan Kimia. Tampilkan semua postingan
Kamis, 08 Maret 2012
Konsipirasi Perusahaan Obat “Big Pharma”
Barangkali hampir semua orang (kecuali pemilik sahamnya) tidak menyukai perusahaan farmasi karena harga obat yang terlalu mahal. Selain itu ada indikasi upaya perolehan laba perusahaan yang dilakukan secara tidak benar, dan tampaknya setiap beberapa bulan ada korban-korban berjatuhan dari beberapa obat yang sebelumnya diklaim sangat aman. Itu adalah kejadian kecil dari industri obat (Perusahaan Obat Big Pharma) yang diawasi dengan rasa curiga oleh masyarakat.
Selasa, 12 April 2011
Pengembangan Antibiotik Alami Kemunduran
Boston, Munculnya bakteri-bakteri yang kebal obat tidak diimbangi dengan pengembangan antibiotik baru. Jika tidak diatasi, para ahli memperkirakan dalam 10 tahun mendatang kondisinya akan sama seperti masa sebelum penisilin ditemukan.
Infeksi bakteri yang kebal berbagai jenis obat merupakan masalah global yang dihadapi negara-negara maju maupun negara berkembang. Ribuan orang telah terinfeksi dan meninggal karena tidak ada obat yang bisa menyelamatkannya.
Di Ursula Theuretzbacher dari Austrian Centre for Anti-Infective Agents mengatakan salah satu kendala untuk mengembangkan antibiotik baru adalah kurangnya dukungan dari industri obat. Arah pengembangan obat baru di industri sering tidak sejalan dengan kebutuhan dunia medis.
"Masyarakat harus punya peran untuk mengisi kesenjangan tersebut, agar ada dana paling tidak untuk tahap awal penelitian dan pengembangan," ungkap Dr Theuretzbacher saat berbicara dalam pembukaan Interscience Conference on
Antimicrobial Agents and Chemotherapy (ICAAC).
Dr Theuretzbacher menambahkan pihaknya tengah mengusulkan skema kemitraan antara swasta dengan masyarakat. Skema itu akan mengarahkan dana yang berasal dari masyarakat untuk membiayai penelitian dan pengembangan antibiotik baru.
Ia juga menyarankan adanya peraturan yang lebih ketat mengenai penggunaan antibiotik. Seperti diketahui, salah satu penyebab munculnya bakteri yang kebal obat adalah penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak rasional.
Sementara itu Dr Gary Noel yang mewakili sebuah perusahaan farmasi mengakui kurangnya penelitian ilmiah tentang antibiotik. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah penelitian semacam itu mengalami penurunan hingga 50 persen.
Berdasarkan riset yang dilakukannya, saat ini ada sekitar 50 molekul obat baru yang akan dikembangkan untuk mengatasi infeksi. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 10 persen yang benar-benar menunjukkan perkembangan yang menjanjikan.
"Ketika ada obat baru yang sampai pada tahap akhir pengembangan, masih butuh waktu 2 hingga 4 tahun untuk bsia digunakan oleh pasien," ungkap Dr Noel seperti dikutip dari Ninemsn, Selasa (14/9/2010).
Masalah pengembangan antibiotik menjadi bahasan utama dalam pertemuan para pakar penyakit menular yang berlangsung di Boston antara 12-15 September 2010 tersebut. Sekitar 12.000 peserta pertemuan memperingatkan ancaman kelangkaan antibiotik dapat membawa manusia kembali ke era sebelum penisilin ditemukan.
Organisasi kesehatan dunia, WHO baru-baru ini mengeluarkan peringatan terbaru terkait adanya gen metallo-lactamase-1 (NDM-1) yang bisa membuat bakteri kebal terhadap segala jenis antibiotik. Jurnal Lancet melaporkan bakteri yang mengandung gen tersebut telah menjangkiti 37 warga Inggris.




Di Ursula Theuretzbacher dari Austrian Centre for Anti-Infective Agents mengatakan salah satu kendala untuk mengembangkan antibiotik baru adalah kurangnya dukungan dari industri obat. Arah pengembangan obat baru di industri sering tidak sejalan dengan kebutuhan dunia medis.
"Masyarakat harus punya peran untuk mengisi kesenjangan tersebut, agar ada dana paling tidak untuk tahap awal penelitian dan pengembangan," ungkap Dr Theuretzbacher saat berbicara dalam pembukaan Interscience Conference on
Antimicrobial Agents and Chemotherapy (ICAAC).
Dr Theuretzbacher menambahkan pihaknya tengah mengusulkan skema kemitraan antara swasta dengan masyarakat. Skema itu akan mengarahkan dana yang berasal dari masyarakat untuk membiayai penelitian dan pengembangan antibiotik baru.
Ia juga menyarankan adanya peraturan yang lebih ketat mengenai penggunaan antibiotik. Seperti diketahui, salah satu penyebab munculnya bakteri yang kebal obat adalah penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak rasional.
Sementara itu Dr Gary Noel yang mewakili sebuah perusahaan farmasi mengakui kurangnya penelitian ilmiah tentang antibiotik. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah penelitian semacam itu mengalami penurunan hingga 50 persen.
Berdasarkan riset yang dilakukannya, saat ini ada sekitar 50 molekul obat baru yang akan dikembangkan untuk mengatasi infeksi. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 10 persen yang benar-benar menunjukkan perkembangan yang menjanjikan.
"Ketika ada obat baru yang sampai pada tahap akhir pengembangan, masih butuh waktu 2 hingga 4 tahun untuk bsia digunakan oleh pasien," ungkap Dr Noel seperti dikutip dari Ninemsn, Selasa (14/9/2010).
Masalah pengembangan antibiotik menjadi bahasan utama dalam pertemuan para pakar penyakit menular yang berlangsung di Boston antara 12-15 September 2010 tersebut. Sekitar 12.000 peserta pertemuan memperingatkan ancaman kelangkaan antibiotik dapat membawa manusia kembali ke era sebelum penisilin ditemukan.
Organisasi kesehatan dunia, WHO baru-baru ini mengeluarkan peringatan terbaru terkait adanya gen metallo-lactamase-1 (NDM-1) yang bisa membuat bakteri kebal terhadap segala jenis antibiotik. Jurnal Lancet melaporkan bakteri yang mengandung gen tersebut telah menjangkiti 37 warga Inggris.
Bakteri Saling Mengorbankan Diri Hadapi Gempuran Obat
Boston, Terbentuknya koloni bakteri super bisa digambarkan dengan semboyan gugur satu tumbuh seribu. Dalam proses itu, bakteri yang sudah lebih dulu kebal akan mati-matian menghadapi antibiotik dan memberi kesempatan bakteri lain membentuk kekebalan sendiri.
Sebelum terbentuk sebuah koloni bakteri super, awalnya hanya ada beberapa bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Bakteri kebal yang jumlahnya tidak banyak inilah yang akan pasang badan ketika menghadapi gempuran obat.
Bakteri-bakteri kebal tersebut akan melepas senyawa indol, yakni senyawa organik yang berperan dalam kekebalan sel. Senyawa ini memberi kemampuan bagi bakteri untuk bertahan hidup di lingkungan yang kejam akibat adanya tekanan dari antibiotik.
Bagi banyak bakteri lain di dalam koloni tersebut, lepasnya senyawa ini merupakan sinyal untuk membentuk pertahanan sendiri terhadap antibiotik. Namun bagi si bakteri super sendiri, terlepasnya indol akan melemahkan kekebalan dan tak jarang membuatnya mati saat menghadapi serangan antibiotik.
Ketika bakteri super melemah atau mati, sebagian bakteri lain sudah mempunyai kekebalan sendiri sehingga bisa menghadapi antibiotik. Sebagian lainnya memang mati, namun yang bertahan akan berkembangbiak dan menghasilkan koloni bakteri super yang sudah tidak mempan lagi terhadap antibiotik yang sama.
Dikutip dari Dailymail, Senin (6/9/2010), mekanisme ini terungkap secara tidak sengaja oleh tim ahli dari Boston University. Sebenarnya peneliti hanya ingin mengamati bagaimana bakteri super dapat bertahan dan kemudian berkembang biak membentuk koloni baru setelah yang lainnya mati.
"Ternyata beberapa di antara bakteri super itu mati, namun sejumlah bakteri super lainnya terbentuk setelah bakteri super yang pertama mengorbankan diri," ungkap Prof James Collins, pakar mokrobiologi yang memimpin penelitian tersebut.
Secara alami bakteri memang melepas senyawa indol dalam kadar tertentu sebagai bentuk pertahanan diri saat menghadapi ancaman. Pemberian antibiotik akan menghentikan pelepasan tersebut, dan membuat bakteri melemah kemudian mati.
Menurut Prof James, temuan ini membuktikan bahwa bakteri hidup sebagai komunitas dan tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri. Dengan pemahaman ini maka pengembangan antibiotik perlu dilakukan melalui studi di tingkat populasi, bukan hanya di tingkat organisme.




Bakteri-bakteri kebal tersebut akan melepas senyawa indol, yakni senyawa organik yang berperan dalam kekebalan sel. Senyawa ini memberi kemampuan bagi bakteri untuk bertahan hidup di lingkungan yang kejam akibat adanya tekanan dari antibiotik.
Bagi banyak bakteri lain di dalam koloni tersebut, lepasnya senyawa ini merupakan sinyal untuk membentuk pertahanan sendiri terhadap antibiotik. Namun bagi si bakteri super sendiri, terlepasnya indol akan melemahkan kekebalan dan tak jarang membuatnya mati saat menghadapi serangan antibiotik.
Ketika bakteri super melemah atau mati, sebagian bakteri lain sudah mempunyai kekebalan sendiri sehingga bisa menghadapi antibiotik. Sebagian lainnya memang mati, namun yang bertahan akan berkembangbiak dan menghasilkan koloni bakteri super yang sudah tidak mempan lagi terhadap antibiotik yang sama.
Dikutip dari Dailymail, Senin (6/9/2010), mekanisme ini terungkap secara tidak sengaja oleh tim ahli dari Boston University. Sebenarnya peneliti hanya ingin mengamati bagaimana bakteri super dapat bertahan dan kemudian berkembang biak membentuk koloni baru setelah yang lainnya mati.
"Ternyata beberapa di antara bakteri super itu mati, namun sejumlah bakteri super lainnya terbentuk setelah bakteri super yang pertama mengorbankan diri," ungkap Prof James Collins, pakar mokrobiologi yang memimpin penelitian tersebut.
Secara alami bakteri memang melepas senyawa indol dalam kadar tertentu sebagai bentuk pertahanan diri saat menghadapi ancaman. Pemberian antibiotik akan menghentikan pelepasan tersebut, dan membuat bakteri melemah kemudian mati.
Menurut Prof James, temuan ini membuktikan bahwa bakteri hidup sebagai komunitas dan tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri. Dengan pemahaman ini maka pengembangan antibiotik perlu dilakukan melalui studi di tingkat populasi, bukan hanya di tingkat organisme.
Senin, 10 Januari 2011
Apa Kata Dokter Tentang Kegagalan Antibiotik
Tidak sedikit konsumen kesehatan maupun dokter yang masih menganggap bahwa
antibiotik itu “obat dewa” alias “magic savers”. Konsep keliru ini segeralah tanggalkan. Hampir semua kondisi kesehatan diterapi dengan antibiotik termasuk infeksi virus seperti flu. Padahal, antibiotik “impoten” terhadap virus. Celakanya, justru anak-anak sangat sering memperoleh antibiotik. Hal ini sangat memprihatinkan, karena cepat atau
lambat, kita akan “terpental” kembali ke era kegelapan, era pra antibiotik
Banyak sekali bakteri di dalam tubuh kita. Bahkan, salah satu
kandungan di ASI adalah bakteri. Alam semesta pun penuh dengan bakteri.
Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bakteri – tidak “jahat”, bahkan
menguntungkan. Kita dan tubuh kita justru membutuhkan bakteri ini, mereka
membantu kesehatan kita.
Berdasarkan sifat fisiknya di laboratorium, secara garis besar bakteri
dapat digolongkan sebagai bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif.
Virus. Virus jauh lebih kecil daripada bakteri. Mereka berkembangbiak
dengan mempergunakan sel tubuh kita. Oleh karena itu, diluar tubuh kita,
virus tidak berkembang biak. Virus tidak dapat dibunuh oleh obat,
antibiotik samasekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa
dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita.
Di dalam tubuh kita ditemukan banyak bakteri terutama di saluran cerna
(mulai dari mulut sampai usus dan anus). Usus kita dipenuhi oleh kurang
lebih 500 jenis bakteri dan berat bakteri di usus orang dewasa normal bisa
mencapai 1.5 kg. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri memegang peran penting
dalam sistem pencernaan kita. Apa gunanya usus kita dipenuhi bakteri?
1. Bakteri mengubah apa yang kita makan menjadi nutrisi yang
dibutuhkan tubuh
2. Memproduksi vitamin B & vitamin K,
3. Memperbaiki sel dinding usus yang tua dan sudah rusak
4. Merangsang gerak usus (peristaltis) sehingga kitatidak mudah
mengalami konstipasi
5. Menghambat berkembang biaknya bakteri jahat dan secara tidak
langsung, mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat.
Nah, antibiotik yang kita makan, otomatis akan membunuh bakteri “baik”
tersebut.
Antibiotik merupakan salah satu obat terpenting yang pernah diciptakan manusia. Mengapa? Antibiotik membantu kita berperang melawan infeksi kuman/bakteri, oleh karena itu, antibiotik bisa menjadi penyelamat jiwa. Namun dengan berjalannya waktu, keampuhan antibiotik semakin memudar. Apa yang telah terjadi dengan antibiotik? Ternyata, penggunaan antibiotik yang membabi buta menyebabkan antibiotik kehilangan pamornya sebagai obat istimewa”. Saat ini, di seluruh belahan dunia, sebagian besar kuman penyebab infeksi serius sudah resisten (kebal) terhadap antibiotik. Kuman yang resisten ini disebut sebagai “superbugs”. Besarnya permasalahan yang ditimbulkan oleh “superbugs” ini merupakan keprihatinan seluruh dunia.
Pada tahum 1995, berdasarkan penelitian bakteri resisten antibiotik, The American Medical Association (AMA mengeluarkan pernyataan yang keras. “The global increase in resistance to antimicrobial drugs, including the emergence of bacterial strains that are resistant to all available antibacterial agents, has created a public health problem of
potentially crisis proportions”. Bakteri resisten antibiotik memang telah menimbulkan masalah kesehatan yang sangat serius di komunitas. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional bukan hanya “merugikan” individu yang bersangkutan (pasien yang memperoleh terapi antibiotik), melainkan juga merugikan lingkungan sekitarnya. Bila anggota masyarakat di suatu lingkungan mengkonsumsi antibiotik secara berlebihan (tidak rasional) maka lingkungan tersebut potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik.
SUMBER : MILIS SEHAT
by Dr. Purnamawati SpAK MMPed
Senin, 03 Januari 2011
Hati-Hati Mengonsumsi Antibiotik Berlebihan
Liputan6.com, Lantana. Hampir semua orang pernah menjadi pengguna antibiotik, baik dalam bentuk tablet, sirup maupun obat oles. Antibiotik telah 70 tahun lebih digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri, baik untuk penyakit serius maupun ringan. Di antaranya tuberkulosis, kolera, infeksi kandung kemih dan radang amandel. Tapi, selama ini, semuanya dapat diatasi dengan antibiotik.
Belakangan, menurut Constanze Wendt dari Lembaga Ilmu Kesehatan di Heidelberg, sebagaimana dirilis situs kapanlagi, dalam sejumlah kasus, mengonsumsi antibiotik secara tepat bisa mempengaruhi bakteri usus dan dapat memicu diare. Reaksi alergi kulit juga dapat terjadi jika obat oles yang mengandung antibiotik digunakan dalam jangka waktu yang panjang.
Mengonsumsi alkohol saat sedang menggunakan antibiotik, ingat Wendt, juga sangat berbahaya. “Itu dapat memicu komplikasi pada hati sebagai dampak penggunaan alkohol,” terangnya.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, April lalu, sempat membahas kasus resisten obat dalam konferensi di Beijing. WHO berpesan, penyakit berbahaya telah menyebar ke seluruh benua dan meningkat dengan cepat. Diperlukan langkah tepat bagi pasien penderita resisten obat,” ingat WHO.
Kendati demikian, badan dunia untuk kesehatan ini memprediksi, hanya 1 persen kasus pasien resisten menerima perawatan yang tepat tahun lalu. “Kami berjuang keras mengatasi pasien resisten obat,” kata CDC epidemiologi, Dr Laurie Hicks, kepada Associated Press.
Associated Press juga merilis temuan wabah penyakit resisten obat antibiotik di beberapa negara. Seperti di Kamboja, para ilmuwan mengkonfirmasi munculnya kasus pasien resisten obat malaria. Kasus ini bisa mengancam upaya pengobatan penyakit yang telah membunuh 1 juta orang setiap tahun.
Di Afrika, ditemukan kasus baru dalam pengobatan HIV. Para ilmuwan dilaporkan menemui kesulitan mengobati strain HIV yang terdeteksi pada 5 persen pasien baru. Tingkat resistensi obat HIV yang telah membunuh 30 persen pasien HIV di seluruh dunia, juga cenderung meningkat. (ETA)
Sumber: Liputan6.com




Mengonsumsi alkohol saat sedang menggunakan antibiotik, ingat Wendt, juga sangat berbahaya. “Itu dapat memicu komplikasi pada hati sebagai dampak penggunaan alkohol,” terangnya.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, April lalu, sempat membahas kasus resisten obat dalam konferensi di Beijing. WHO berpesan, penyakit berbahaya telah menyebar ke seluruh benua dan meningkat dengan cepat. Diperlukan langkah tepat bagi pasien penderita resisten obat,” ingat WHO.
Kendati demikian, badan dunia untuk kesehatan ini memprediksi, hanya 1 persen kasus pasien resisten menerima perawatan yang tepat tahun lalu. “Kami berjuang keras mengatasi pasien resisten obat,” kata CDC epidemiologi, Dr Laurie Hicks, kepada Associated Press.
Associated Press juga merilis temuan wabah penyakit resisten obat antibiotik di beberapa negara. Seperti di Kamboja, para ilmuwan mengkonfirmasi munculnya kasus pasien resisten obat malaria. Kasus ini bisa mengancam upaya pengobatan penyakit yang telah membunuh 1 juta orang setiap tahun.
Di Afrika, ditemukan kasus baru dalam pengobatan HIV. Para ilmuwan dilaporkan menemui kesulitan mengobati strain HIV yang terdeteksi pada 5 persen pasien baru. Tingkat resistensi obat HIV yang telah membunuh 30 persen pasien HIV di seluruh dunia, juga cenderung meningkat. (ETA)
Sumber: Liputan6.com
Jumat, 17 Desember 2010
Obat - Obatan Telah Membuat Kuman - Kuman di Seluruh Dunia Menjadi Kebal
Jutaan anak di negara berkembang meninggal setiap tahunnya karena obat-obatan lama tidak mampu lagi mengatasi malaria, tuberculosis (TB), AIDS dan penyakit lain. Selain itu, bantuan untuk pengadaan obat-obat terbaru membengkak hingga 1,5 miliar dolar AS sejak tahun 2006.
Dikutip dari Reuters, Rabu (16/6/2010), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di AS, Center for Global Development menuding kurangnya perhatian dari negara maju terhadap risiko resistensi sebagai pemicunya. Bantuan yang diberikan dinilai sering berlebihan.
Bantuan obat-obatan dari negara kaya terus membanjiri negara-negara miskin yang berjuang mengatasi wabah penyakit. Di sisi lain, mudahnya akses antibiotik dan antivirus memicu peningkatan resistensi kuman secara global.
Dampaknya, jutaan anak di negara berkembang meninggal setiap tahunnya karena obat-obatan lama tidak mampu lagi mengatasi malaria, tuberculosis (TB), AIDS dan penyakit lain. Selain itu, bantuan untuk pengadaan obat-obat terbaru membengkak hingga 1,5 miliar dolar AS sejak tahun 2006.
Dikutip dari Reuters, Rabu (16/6/2010), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di AS, Center for Global Development menuding kurangnya perhatian dari negara maju terhadap risiko resistensi sebagai pemicunya. Bantuan yang diberikan dinilai sering berlebihan.
“Resistenti obat pada kuman adalah sesuatu yang alamiah, tetapi kurangnya perhatian dari penyuplai obat dapat mempercepat hal itu,” ungkap Rachel Nugent, pimpinan LSM tersebut.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, Nugent mencatat akses negara miskin terhadap obat retrovirus untuk HIV/AIDS meningkat 10 kali lipat. Akses obat antimalaria meningkat di atas 8 kali lipat, sedangkan untuk anti-TB peningkatannya lebih besar lagi.
Sementara hasil penelitian membuktikan, ada keterkaitan erat antara ketersediaan obat di suatu wilayah dengan risiko resistensi kuman. Salah satu contoh, di negara-negara dengan tingkat penggunaan antibiotik paling tinggi, 75-90 persen bakteri Streptococcus pneumoniae menjadi kebal terhadap methicillin.
Resistensi atau kekebalan terhadap obat terjadi ketika pengobatan masih menyisakan sekurang-kurangnya satu mikroba yang masih hidup. Mikroba yang tersisa ini kemudian akan bermutasi, dan membiakkan diri sebagai jenis mikroba yang resisten.
Selain faktor ketersediaan, Nugent juga menuding faktor lain yang memicu resistensi. Di antaranya kualitas obat yang buruk, pemalsuan obat, dan juga pengobatan yang tidak tuntas.
Sumber: DetikHealth
Rabu, 15 Desember 2010
Parasetamol Meningkatkan Resiko Asma Pada Anak
keterkaitan antara parasetamol dengan risiko asma telah dibuktikan oleh para ahli dari University of Otago di Wellington. Untuk mengungkapnya, para ahli mengamati 505 bayi dan 914 anak usia 5-6 tahun.
Penelitian ini mengungap, penggunaan parasetamol pada bayi berusia kurang dari 15 bulan dapat meningkatkan risiko asma hingga 2 kali lipat. Sementara pada usia 6 tahun, parasetamol meningkatkan risiko alergi hingga 3 kali lipat.
Penelitian ini mengungap, penggunaan parasetamol pada bayi berusia kurang dari 15 bulan dapat meningkatkan risiko asma hingga 2 kali lipat. Sementara pada usia 6 tahun, parasetamol meningkatkan risiko alergi hingga 3 kali lipat.
Hati-hati memberikan obat turun panas pada anak. Salah satunya adalah parasetamol, sebab penelitian terbaru membuktikan obat ini dapat meningkatkan risiko asma dan alergi.
Tidak diketahui pasti apa penyebabnya, para peneliti masih harus melakukan uji klinis untuk memastikannya. Peneliti juga belum tahu persis berapa dosis yangbisa menyebabkan efek samping semacam itu.
Namun adanya keterkaitan antara parasetamol dengan risiko asma telah dibuktikan oleh para ahli dari University of Otago di Wellington. Untuk mengungkapnya, para ahli mengamati 505 bayi dan 914 anak usia 5-6 tahun.
Penelitian ini mengungap, penggunaan parasetamol pada bayi berusia kurang dari 15 bulan dapat meningkatkan risiko asma hingga 2 kali lipat. Sementara pada usia 6 tahun, parasetamol meningkatkan risiko alergi hingga 3 kali lipat.
“Kami pikir efek ini lebih terkait dengan jangka waktu pemakaian, bukan dosisnya. Semakin sering digunakan, parasetamol efek sampingnya makin besar,” ungkap Prof Julian Crane yang memimpin penelitian tersebut, dikutip dari Ninemsn, Senin (29/11/2010).
Prof Crane juga menegaskan bahwa efek samping ini tidak akan muncul serta merta hanya dalam beberapa kali pemakaian. Oleh karena itu orangtua tidak perlu khawatir selama penggunaan parasetamol tidak berlebihan.
Meski ada keterkaitan antara parasetamol dengan risiko asma, tidak tertutup kemungkinan adanya faktor lain yang mempengaruhi. Oleh karena itu Prof Crane mendukung adanya penelitian lebih lanjut untuk mengungkapnya.
Sumber: DetikHealth




Tidak diketahui pasti apa penyebabnya, para peneliti masih harus melakukan uji klinis untuk memastikannya. Peneliti juga belum tahu persis berapa dosis yangbisa menyebabkan efek samping semacam itu.
Namun adanya keterkaitan antara parasetamol dengan risiko asma telah dibuktikan oleh para ahli dari University of Otago di Wellington. Untuk mengungkapnya, para ahli mengamati 505 bayi dan 914 anak usia 5-6 tahun.
Penelitian ini mengungap, penggunaan parasetamol pada bayi berusia kurang dari 15 bulan dapat meningkatkan risiko asma hingga 2 kali lipat. Sementara pada usia 6 tahun, parasetamol meningkatkan risiko alergi hingga 3 kali lipat.
“Kami pikir efek ini lebih terkait dengan jangka waktu pemakaian, bukan dosisnya. Semakin sering digunakan, parasetamol efek sampingnya makin besar,” ungkap Prof Julian Crane yang memimpin penelitian tersebut, dikutip dari Ninemsn, Senin (29/11/2010).
Prof Crane juga menegaskan bahwa efek samping ini tidak akan muncul serta merta hanya dalam beberapa kali pemakaian. Oleh karena itu orangtua tidak perlu khawatir selama penggunaan parasetamol tidak berlebihan.
Meski ada keterkaitan antara parasetamol dengan risiko asma, tidak tertutup kemungkinan adanya faktor lain yang mempengaruhi. Oleh karena itu Prof Crane mendukung adanya penelitian lebih lanjut untuk mengungkapnya.
Sumber: DetikHealth
Selasa, 14 Desember 2010
Inilah Cara Perusahaan Obat Kimia Mencuci Otak Anda
Kenapa iklan rokok yang tidak menampilkan orang merokok, bentuk rokoknya, gambar kotak rokoknya, semua tidak ada, dan iklan sering kali begitu indahnya berhasil mengingatkan orang untuk merokok. Karena di akhir iklan rokok selalu ada “PERINGATAN PEMERINTAH: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Sama dengan efek samping obat-obatan kimia yang sebenarnya JUGA MEMBAHAYAKAN KESEHATAN tidak kita pedulikan, yaitu dapat mengakibatkan kerusakan pada ginjal, hati, menyebabkan tumor, hipertensi, merusak usus, mengakibatkan kebutaan, menyebabkan kelumpuhan, kejang-kejang, diare, depresi, paru-paru basah, sesak nafas, sakit kepala, dan lain sebagainya.
Ciri-ciri obat kimia medis konvensional DENGAN SANGAT JELAS, yaitu: sintetis dan asing bagi tubuh alami kita, memiliki berbagai efek samping negatif, merusak alam jika dibuang ke air dan tanah dalam jumlah yang banyak, bersifat toksik, memiliki rentetan sejarah yang menunjukkan pasien makin parah setelah mengonsumsinya, serta tidak bisa dikonsumsi setiap hari layaknya makanan karena bisa mengakibatkan cacat ataupun kematian.
Tapi dengan begitu banyaknya hal negatif dari obat kimia, mengapa masih tetap menjadi standar dan sangat dipercaya dibandingkan alam ciptaan Tuhan? Kunci jawaban dari pertanyaan ini adalah politik, uang, dan kejeniusan ilmu marketing perusahaan obat. “Ah, yang bener…? Apa maksud Anda dengan politik, uang, dan kejeniusan ilmu marketing?” Baiklah, ini penjelasannya…
Bagaimana Menjual Racun Mematikan yang Tidak Enak Rasanya dan Membuat Orang Kecanduan Racun Tersebut? Nah, hal ini dapat dipahami dari pelajaran marketing Tung Desem Waringin dalam bukunya “Marketing Revolution” tentang kejeniusan iklan rokok. Bagaimana “Menawarkan” sesuatu hal yang tidak enak, merusak kesehatan, menghabiskan uang, membuat mulut bau, baju dan celana berlubang, bahkan paru-paru pun ikut berlubang, dicurigai merusak janin, menimbulkan impotensi, membuat sakit jantung, kanker? Jawabannya adalah dengan menggunakan hukum Pavlov. Seperti anjing yang dirangsang, lapar, begitu keluar air liurnya dibunyikan lonceng. Ketika dibiasakan berulang-ulang. Terjadilah satu yang namanya “Cantolan” kebiasaan. Ketika dibalik dibunyikan lonceng langsung keluar air liurnya. Walaupun lonceng tidak ada hubungannya dengan lapar & air liur. Iklan rokok juga dimulai dengan menampilkan misal sosok koboi yang keren, jantan, kemudian ketika perasaan penonton mulai keluar, keren, gagah, jantan, keluarlah musik dan suara yang khas, gambar, dan slogan rokok tersebut. Dan ini diulangi terus sampai timbullah “Cantolan” kebiasaan. Ketika ingat rokok tersebut keluarlah perasaan keren, gagah, dan jantan. Plus didukung dengan “Hukum Ikut-Ikutan” orang takut tidak diterima dalam kelompoknya.
Demikian juga iklan yang menunjukkan keakraban dalam sebuah gank dengan cerita yang simple, konkret, shocking, emosionil, menunjukkan saling membantu antarteman, bisa dipercaya. Ketika perasaan tersebut sudah keluar, keluarlah musik, suara yang khas dan slogan rokok tersebut. Setelah diulang-ulang timbul “Cantolan” kebiasaan ketika melihat iklan rokok, mendengarkan suara slogan, ingat rokok tersebut ingat satu perasaan keakraban, saling membantu. Bisa juga menggunakan kelompok orang terkenal, bintang film, artis, musisi untuk menimbulkan perasaan terkenal, hebat, baru keluar slogan rokok tersebut.
Bisa juga dengan menggunakan sekelompok pemuda yang menunjukkan perasaan dinamis, baru keluar slogan rokok tersebut. Bisa juga menggunakan kelompok pemuda yang kreatif yang menunjukkan perasaan kreatif, baru keluar slogan rokok tersebut. Sama dengan iklan rokok tadi, marketing brilian dari medis konvensional mampu mencuci otak masyarakat melalui penampilan luar dokter yang rapi, rupawan, dan profesional; peralatan yang canggih dan mahal; penelitian-penelitian yang nampak rumit dan hanya dilakukan oleh orang-orang pintar; iklan-iklan yang penuh dengan janji dan menyentuh perasaan, kata-kata intelektual yang membingungkan (hanya orang “berpendidikan tinggi” saja yang biasa memahaminya); sekolah kedokteran yang eksklusif dan mahal; prestis yang dimiliki; dan lain sebagainya. Apalagi ditambah slogan-slogan yang penuh dengan kata-kata “modern, canggih, lebih pasti, lebih ilmiah, mutakhir, terstandarisasi, terobosan baru, temuan baru, teruji, dan kata-kata lainnya yang membuat kita berasumsi hal yang baik-baik saja.
Semua ini Anda lihat dari sejak kecil dan Anda sering mendengar dan menyaksikan “semua” orang mengelu-elukan “kehebatan dan kepintaran” dokter medis konvensional. “Iklan hidup” mengenai pengobatan medis konvensional ini bertahun-tahun Anda terima sampai sekarang ini, dan ini semua melekat begitu dalam di batin bawah sadar Anda, sampai-sampai Anda meyakininya sebagai kebenaran.
Jika sudah yakin, Anda pun PASTI dengan rela MEMBERI DIRI kepada dokter Anda untuk disembuhkan. Lain dari dokter, “No way!!!” atau seringkali…, ”Alternatif? No way!”
OK, sekarang bagaimana dengan contoh iklan tandingan, iklan Layanan Masyarakat untuk mengurangi perokok dan dampak buruknya? Kalau ada iklan dilarang Merokok. Orang akan semakin merokok. Karena pikiran bawah sadar manusia tidak mengenal kata negatif “Tidak”, “Jangan”, “Tidak Boleh”, ataupun “Dilarang”. Sekian detik otak kita malah kepingin tahu “Apa itu?” Misal ada istri yang cemburu sama suaminya dan dia bicara, “Awas ya, Papa DILARANG INGAT-INGAT TUTI!” Apa yang terjadi? Dijamin suaminya jadi ingat “TUTI”. Bahkan seketika wajah “TUTI” akan keluar di kepala sang suami.
Kenapa iklan rokok yang tidak menampilkan orang merokok, bentuk rokoknya, gambar kotak rokoknya, semua tidak ada, dan iklan sering kali begitu indahnya berhasil mengingatkan orang untuk merokok. Karena di akhir iklan rokok selalu ada “PERINGATAN PEMERINTAH: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Sama dengan efek samping obat-obatan kimia yang sebenarnya JUGA MEMBAHAYAKAN KESEHATAN tidak kita pedulikan, yaitu dapat mengakibatkan kerusakan pada ginjal, hati, menyebabkan tumor, hipertensi, merusak usus, mengakibatkan kebutaan, menyebabkan kelumpuhan, kejang-kejang, diare, depresi, paru-paru basah, sesak nafas, sakit kepala, dan lain sebagainya.
Walaupun semua efek samping mengerikan tadi TERTULIS DENGAN JELAS pada kemasan atau brosur pemakaian obat, Anda masih saja dengan mantap mengkonsumsi obat-obatan sintetis yang pahit, mahal, merusak ginjal, jantung, hati, dan organ tubuh lainnya, serta belum tentu manjur tersebut?!?! Pengobatan medis konvensional yang sama dengan rokok tersebut diantaranya adalah kemoterapi, obat antidepresi, obat diabetes, dan ARV.
Referensi: Waringin, Tung Desem: Marketing Revolution, hal. 243-244, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008
Pengobatan yang Merusak Alam
Produsen obat-obatan kimia medis konvensional berkata, “Tapi bukankah produk-produk kami mengolah alam karena juga berasal dari alam?” Ya memang benar obat-obat kimia medis konvensional berasal dari alam. Bahkan segala yang ada di sekitar adalah dari alam, seperti misalnya mobil, jam tangan, radio, racun serangga, kosmetik, dan sebagainya.
Tapi permasalahannya adalah benarkah memproduksi obat-obatan kimia adalah tindakan mengolah alam? Tidak. Yang benar adalah merusak alam. Contoh pengobatan yang mengolah alam adalah suplemen. Pembuatan suplemen merupakan tindakan mengolah alam. Perbedaannya sungguh besar karena pembuatan suplemen tidak merusak “rancangan” Tuhan atas materi asal yang dijadikan suplemen.
Unsur alam yang ada telah memiliki fungsi atau manfaat yang telah ditentukan Tuhan sebelumnya dan tinggal kita yang memanfaatkan alam tersebut sesuai dengan yang “dimaksudkan” Tuhan untuk kebaikan kita. Contoh mengolah alam adalah pemanfaatan khasiat kelapa dengan membuat suplemen Virgin Coconut Oil, pemanfaatan khasiat omega-3 pada minyak ikan dengan ekstrak minyak ikan, pembuatan suplemen klorofil, pembuatan ekstrak bawang putih, dan sebagainya. Lain halnya dengan obat-obatan yang dibuat oleh manusia dengan cara pemisahan unsur molekul dari molekul aslinya (yang sebenarnya “menyeimbangkan”) sehingga “rancangan awal Tuhan” atas molekul tersebut jadi hilang. Contoh merusak alam dari molekul asli yang sebenarnya untuk “menyeimbangkan” adalah pembuatan garam meja yang digembar-gemborkan mengandung yodium yang baik untuk kesehatan ternyata adalah garam berbahaya yang telah dipecah dari unsur garam aslinya. Garam yodium malah terbukti menyebabkan hipertensi sedangkan garam laut asli yang “kita jauhi” ternyata diciptakan oleh Tuhan untuk penyedap rasa yang nikmat dan baik untuk meyembuhkan berbagai masalah kesehatan.
Prinsip “Lebih Baik” Apa artinya Prinsip “Lebih Baik”? Ini adalah suatu prinsip yang memegang atau mempercayakan diri pada sesuatu yang lebih baik dibandingkan sesuatu lain yang kurang baik. Ini adalah prinsip yang sangat sederhana dan demi keselamatan Anda sendiri, ikutilah prinsip ini.
Untuk memahaminya, saya ajukan pertanyaan: Apakah suatu tindakan yang masuk akal dan cerdas jika kita tetap mengandalkan obatan-obatan kimia beracun yang ternyata tidak bisa menyembuhkan (sekedar merawat), padahal di sekitar kita ada alam yang sudah terbukti lebih baik dan BISA MENYEMBUHKAN?
Jika ada yang lebih baik, mengapa harus pakai yang jelek?




Tapi dengan begitu banyaknya hal negatif dari obat kimia, mengapa masih tetap menjadi standar dan sangat dipercaya dibandingkan alam ciptaan Tuhan? Kunci jawaban dari pertanyaan ini adalah politik, uang, dan kejeniusan ilmu marketing perusahaan obat. “Ah, yang bener…? Apa maksud Anda dengan politik, uang, dan kejeniusan ilmu marketing?” Baiklah, ini penjelasannya…
Bagaimana Menjual Racun Mematikan yang Tidak Enak Rasanya dan Membuat Orang Kecanduan Racun Tersebut? Nah, hal ini dapat dipahami dari pelajaran marketing Tung Desem Waringin dalam bukunya “Marketing Revolution” tentang kejeniusan iklan rokok. Bagaimana “Menawarkan” sesuatu hal yang tidak enak, merusak kesehatan, menghabiskan uang, membuat mulut bau, baju dan celana berlubang, bahkan paru-paru pun ikut berlubang, dicurigai merusak janin, menimbulkan impotensi, membuat sakit jantung, kanker? Jawabannya adalah dengan menggunakan hukum Pavlov. Seperti anjing yang dirangsang, lapar, begitu keluar air liurnya dibunyikan lonceng. Ketika dibiasakan berulang-ulang. Terjadilah satu yang namanya “Cantolan” kebiasaan. Ketika dibalik dibunyikan lonceng langsung keluar air liurnya. Walaupun lonceng tidak ada hubungannya dengan lapar & air liur. Iklan rokok juga dimulai dengan menampilkan misal sosok koboi yang keren, jantan, kemudian ketika perasaan penonton mulai keluar, keren, gagah, jantan, keluarlah musik dan suara yang khas, gambar, dan slogan rokok tersebut. Dan ini diulangi terus sampai timbullah “Cantolan” kebiasaan. Ketika ingat rokok tersebut keluarlah perasaan keren, gagah, dan jantan. Plus didukung dengan “Hukum Ikut-Ikutan” orang takut tidak diterima dalam kelompoknya.
Demikian juga iklan yang menunjukkan keakraban dalam sebuah gank dengan cerita yang simple, konkret, shocking, emosionil, menunjukkan saling membantu antarteman, bisa dipercaya. Ketika perasaan tersebut sudah keluar, keluarlah musik, suara yang khas dan slogan rokok tersebut. Setelah diulang-ulang timbul “Cantolan” kebiasaan ketika melihat iklan rokok, mendengarkan suara slogan, ingat rokok tersebut ingat satu perasaan keakraban, saling membantu. Bisa juga menggunakan kelompok orang terkenal, bintang film, artis, musisi untuk menimbulkan perasaan terkenal, hebat, baru keluar slogan rokok tersebut.
Bisa juga dengan menggunakan sekelompok pemuda yang menunjukkan perasaan dinamis, baru keluar slogan rokok tersebut. Bisa juga menggunakan kelompok pemuda yang kreatif yang menunjukkan perasaan kreatif, baru keluar slogan rokok tersebut. Sama dengan iklan rokok tadi, marketing brilian dari medis konvensional mampu mencuci otak masyarakat melalui penampilan luar dokter yang rapi, rupawan, dan profesional; peralatan yang canggih dan mahal; penelitian-penelitian yang nampak rumit dan hanya dilakukan oleh orang-orang pintar; iklan-iklan yang penuh dengan janji dan menyentuh perasaan, kata-kata intelektual yang membingungkan (hanya orang “berpendidikan tinggi” saja yang biasa memahaminya); sekolah kedokteran yang eksklusif dan mahal; prestis yang dimiliki; dan lain sebagainya. Apalagi ditambah slogan-slogan yang penuh dengan kata-kata “modern, canggih, lebih pasti, lebih ilmiah, mutakhir, terstandarisasi, terobosan baru, temuan baru, teruji, dan kata-kata lainnya yang membuat kita berasumsi hal yang baik-baik saja.
Semua ini Anda lihat dari sejak kecil dan Anda sering mendengar dan menyaksikan “semua” orang mengelu-elukan “kehebatan dan kepintaran” dokter medis konvensional. “Iklan hidup” mengenai pengobatan medis konvensional ini bertahun-tahun Anda terima sampai sekarang ini, dan ini semua melekat begitu dalam di batin bawah sadar Anda, sampai-sampai Anda meyakininya sebagai kebenaran.
Jika sudah yakin, Anda pun PASTI dengan rela MEMBERI DIRI kepada dokter Anda untuk disembuhkan. Lain dari dokter, “No way!!!” atau seringkali…, ”Alternatif? No way!”
OK, sekarang bagaimana dengan contoh iklan tandingan, iklan Layanan Masyarakat untuk mengurangi perokok dan dampak buruknya? Kalau ada iklan dilarang Merokok. Orang akan semakin merokok. Karena pikiran bawah sadar manusia tidak mengenal kata negatif “Tidak”, “Jangan”, “Tidak Boleh”, ataupun “Dilarang”. Sekian detik otak kita malah kepingin tahu “Apa itu?” Misal ada istri yang cemburu sama suaminya dan dia bicara, “Awas ya, Papa DILARANG INGAT-INGAT TUTI!” Apa yang terjadi? Dijamin suaminya jadi ingat “TUTI”. Bahkan seketika wajah “TUTI” akan keluar di kepala sang suami.
Kenapa iklan rokok yang tidak menampilkan orang merokok, bentuk rokoknya, gambar kotak rokoknya, semua tidak ada, dan iklan sering kali begitu indahnya berhasil mengingatkan orang untuk merokok. Karena di akhir iklan rokok selalu ada “PERINGATAN PEMERINTAH: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Sama dengan efek samping obat-obatan kimia yang sebenarnya JUGA MEMBAHAYAKAN KESEHATAN tidak kita pedulikan, yaitu dapat mengakibatkan kerusakan pada ginjal, hati, menyebabkan tumor, hipertensi, merusak usus, mengakibatkan kebutaan, menyebabkan kelumpuhan, kejang-kejang, diare, depresi, paru-paru basah, sesak nafas, sakit kepala, dan lain sebagainya.
Walaupun semua efek samping mengerikan tadi TERTULIS DENGAN JELAS pada kemasan atau brosur pemakaian obat, Anda masih saja dengan mantap mengkonsumsi obat-obatan sintetis yang pahit, mahal, merusak ginjal, jantung, hati, dan organ tubuh lainnya, serta belum tentu manjur tersebut?!?! Pengobatan medis konvensional yang sama dengan rokok tersebut diantaranya adalah kemoterapi, obat antidepresi, obat diabetes, dan ARV.
Referensi: Waringin, Tung Desem: Marketing Revolution, hal. 243-244, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008
Pengobatan yang Merusak Alam
Produsen obat-obatan kimia medis konvensional berkata, “Tapi bukankah produk-produk kami mengolah alam karena juga berasal dari alam?” Ya memang benar obat-obat kimia medis konvensional berasal dari alam. Bahkan segala yang ada di sekitar adalah dari alam, seperti misalnya mobil, jam tangan, radio, racun serangga, kosmetik, dan sebagainya.
Tapi permasalahannya adalah benarkah memproduksi obat-obatan kimia adalah tindakan mengolah alam? Tidak. Yang benar adalah merusak alam. Contoh pengobatan yang mengolah alam adalah suplemen. Pembuatan suplemen merupakan tindakan mengolah alam. Perbedaannya sungguh besar karena pembuatan suplemen tidak merusak “rancangan” Tuhan atas materi asal yang dijadikan suplemen.
Unsur alam yang ada telah memiliki fungsi atau manfaat yang telah ditentukan Tuhan sebelumnya dan tinggal kita yang memanfaatkan alam tersebut sesuai dengan yang “dimaksudkan” Tuhan untuk kebaikan kita. Contoh mengolah alam adalah pemanfaatan khasiat kelapa dengan membuat suplemen Virgin Coconut Oil, pemanfaatan khasiat omega-3 pada minyak ikan dengan ekstrak minyak ikan, pembuatan suplemen klorofil, pembuatan ekstrak bawang putih, dan sebagainya. Lain halnya dengan obat-obatan yang dibuat oleh manusia dengan cara pemisahan unsur molekul dari molekul aslinya (yang sebenarnya “menyeimbangkan”) sehingga “rancangan awal Tuhan” atas molekul tersebut jadi hilang. Contoh merusak alam dari molekul asli yang sebenarnya untuk “menyeimbangkan” adalah pembuatan garam meja yang digembar-gemborkan mengandung yodium yang baik untuk kesehatan ternyata adalah garam berbahaya yang telah dipecah dari unsur garam aslinya. Garam yodium malah terbukti menyebabkan hipertensi sedangkan garam laut asli yang “kita jauhi” ternyata diciptakan oleh Tuhan untuk penyedap rasa yang nikmat dan baik untuk meyembuhkan berbagai masalah kesehatan.
Prinsip “Lebih Baik” Apa artinya Prinsip “Lebih Baik”? Ini adalah suatu prinsip yang memegang atau mempercayakan diri pada sesuatu yang lebih baik dibandingkan sesuatu lain yang kurang baik. Ini adalah prinsip yang sangat sederhana dan demi keselamatan Anda sendiri, ikutilah prinsip ini.
Untuk memahaminya, saya ajukan pertanyaan: Apakah suatu tindakan yang masuk akal dan cerdas jika kita tetap mengandalkan obatan-obatan kimia beracun yang ternyata tidak bisa menyembuhkan (sekedar merawat), padahal di sekitar kita ada alam yang sudah terbukti lebih baik dan BISA MENYEMBUHKAN?
Jika ada yang lebih baik, mengapa harus pakai yang jelek?
Langganan:
Postingan (Atom)







