Tampilkan postingan dengan label Bahaya vaksin dan Imunisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahaya vaksin dan Imunisasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 September 2012

Sejarah Kegagalan Imunisasi

Fakta-fakta Sejarah Mengungkapkan Mengenai Bahaya Dan Kegagalan Vaksin (HISTORICAL FACTS EXPOSING THE DANGERS AND INEFFECTIVENESS OF VACCINES) (Report by Michael Devitt)

- Pada 1871-2, Inggris, dengan 98% dari penduduk berusia antara 2 dan 50 divaksinasi terhadap penyakit cacar, itu mengalami wabah cacar terburuk yang pernah dengan 45.000 kematian. Selama periode yang sama di Jerman, dengan tingkat vaksinasi 96%, ada lebih dari 125.000 kematian akibat cacar. (Dokumen Hadwen)

- Di Jerman, massal vaksinasi wajib terhadap difteri dimulai pada tahun 1940 dan 1945 kasus difteri naik dari 40.000 sampai 250.000. (Jangan Dapatkan Terjebak, Hannah Allen)

 - Di Amerika Serikat pada tahun 1960, dua virologists menemukan bahwa kedua vaksin polio terkontaminasi dengan virus SV 40 yang menyebabkan kanker pada hewan serta perubahan dalam kultur jaringan sel manusia. Jutaan anak-anak telah disuntik dengan vaksin. (Med JNL of Australia 17/3/1973 p555)

 - Pada tahun 1967, Ghana dinyatakan campak bebas oleh Organisasi Kesehatan Dunia setelah 96% dari populasinya adalah divaksinasi. Pada tahun 1972, Ghana mengalami salah satu wabah terburuk campak dengan angka kematian tertinggi yang pernah nya. (Dr H Albonico, MMR Vaksin Kampanye di Swiss, Maret 1990)

 - Di Inggris antara tahun 1970 dan 1990, lebih dari 200.000 kasus batuk rejan terjadi pada anak-anak sepenuhnya divaksinasi. (Komunitas Penyakit Surveillance Centre, Inggris)

 - Pada tahun 1970-an vaksin tuberkulosis percobaan di India yang melibatkan 260.000 orang mengungkapkan bahwa lebih banyak kasus TB terjadi di divaksinasi daripada tidak divaksinasi. (The Lancet 12/1/80 p73)

 - Pada tahun 1977, Dr Jonas Salk yang mengembangkan vaksin polio pertama, bersaksi bersama dengan ilmuwan lain, bahwa inokulasi massal terhadap polio adalah penyebab kasus polio yang paling di seluruh Amerika Serikat sejak 1961. (Ilmu 4/4/77 "Abstrak")

 - Pada tahun 1978, sebuah survei dari 30 negara di AS mengungkapkan bahwa lebih dari separuh anak-anak yang terjangkit campak telah memadai divaksinasi. (The Doctor Rakyat, Dr R Mendelsohn)

 - Pada tahun 1979, Swedia meninggalkan vaksin batuk rejan karena ketidakefektifan nya. Dari 5.140 kasus pada tahun 1978, ditemukan bahwa 84% telah divaksinasi tiga kali! (BMJ 283:696-697, 1981)

 -Para Februari 1981 isu dari Journal of American Medical Association menemukan bahwa 90% dari dokter kandungan dan dokter anak 66% dari menolak untuk mengambil vaksin rubella.

 - Di Amerika Serikat, biaya tembakan DPT tunggal telah bangkit dari 11 sen di tahun 1982 menjadi $ 11,40 pada tahun 1987. Produsen vaksin itu menyisihkan $ 8 per ditembak untuk menutupi biaya hukum dan kerusakan mereka membayar keluar untuk orang tua dari anak-anak yang rusak otak dan anak-anak yang meninggal setelah vaksinasi. (The Vine, Edisi 7, Januari 1994, Nambour, Qld)

 - Di Oman antara 1988 dan 1989, wabah polio terjadi di antara ribuan anak-anak sepenuhnya divaksinasi. Daerah dengan tingkat serangan tertinggi memiliki cakupan vaksin tertinggi. Daerah dengan tingkat serangan terendah memiliki cakupan vaksin terendah. (The Lancet, 21/9/91)

 - Pada tahun 1990, sebuah survei yang melibatkan 598 dokter Inggris mengungkapkan bahwa lebih dari 50% dari mereka menolak untuk memiliki vaksin Hepatitis B, meskipun milik kelompok risiko tinggi mendesak untuk divaksinasi. (Inggris Med JNL, 27/1/1990)

 - Pada tahun 1990, Journal of American Medical Association memiliki artikel tentang campak yang menyatakan "Meskipun lebih dari 95% dari anak usia sekolah di AS yang divaksinasi campak, campak besar wabah terus terjadi di sekolah-sekolah dan sebagian besar kasus dalam hal ini pengaturan terjadi di antara anak-anak yang sebelumnya divaksinasi. " (JAMA, 21/11/90)

 - Di Amerika Serikat, dari Juli 1990 sampai November 1993, US Food and Drug Administration dihitung total 54072 reaksi buruk setelah vaksinasi. FDA mengakui bahwa jumlah ini hanya mewakili 10% dari total nyata, karena sebagian besar dokter menolak untuk melaporkan cedera vaksin. Dengan kata lain, reaksi yang merugikan bagi periode ini melebihi setengah juta! (Vaksin Nasional Pusat Informasi, 2 Maret 1994) - Di New England Journal of Medicine edisi Juli 1994 sebuah studi menemukan bahwa lebih dari 80% anak di bawah 5 tahun yang telah tertular batuk rejan sudah sepenuhnya divaksinasi.

 - Pada tanggal 2 November 2000, Asosiasi Dokter Amerika dan Bedah (AAPS) mengumumkan bahwa anggotanya memilih pada pertemuan 57 tahunan mereka di St Louis untuk lulus resolusi yang menyerukan untuk mengakhiri wajib vaksin anak. Resolusi tersebut berlalu tanpa satu suara "tidak".
 sumber asli: http://www.vaccinationdebate.com/


 

Senin, 17 September 2012

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Relakah Anak Kita Menjadi Tumbal?

Sumber : Rudi Avee Cayank di grup FB “Tanya ASI- HZ Lactation Center”

KIPI.. Satu nyawa bayi bukanlah mainan.. Jika memang vaksin aman, maka seharusnya tidak ada satupun nyawa yang harus dikorbankan. Cukup pantaskah alasan mengorbankan satu demi lebih banyak anak lagi? Jika bersandar pada teori “herd immunity / kekebalan komunitas”

Assalamu’alaikum.wr.wb
Sebelumnya perkenalkan nama saya Siti Afifah (afi), istri dari Rudiyanto, Jogyakarta. Kami menikah tgl 04 mei 08.

Alhamdulilah tanggal 28 maret putri pertama kami lahir dengan BB 3,6 dan PB 50cm. Kami beri nama ASHILA NAILI RACHMACH. Alhamdulilah saya berikan ASI.
Umur berapa, saya lupa, pernah saya periksakan ke bidan kenapa nafasnya grok2. Bidan bilang “tidak apa2, hanya flu biasa.” Umur 2,5bln kalau tidak salah mendapatkan vaksinasi DPT/POLIO. Pada saat itu, perawatnya bicara sendiri “panas ga ya.. panas..eeh ga panas deng..”

Karena akupun kurang paham pada waktu itu, kami pulang tanpa obat penurun panas. Ketika di rumah tiba-tiba panas,aku pun bingung. Lalu kami membawanya ke seorang dokter anak di salah satu RSKA, Jogyakarta. Biaya pemeriksaan yang kami bayarkan sebesar Rp 500.000,oo dan dokter menganjurkan agar anak kami dilakukan terapi sinar dua kali. Namun karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan serta suami berada di Jakarta, maka kami mengurungkan niat untuk terapi.


Tiba-tiba setelah selesai menyusu, anak saya muntah-muntah sangat banyak. Seingat saya hari itu adalah hari Jum’at, wajahnya membiru dan melemas. Akhirnya kami segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
Lalu dirujuk ke PKU JOGYA jam 15.00. Hasil rontgen mengatakan bahwa Syila menderita pembengkakan jantung dan bronk .. ( maaf saya lupa nama penyakitnya). Pukul21.00 wb, akhirnya kondisi anak saya semakin kritis & meninggal dunia.


Tgl 30 Agustus 2010, Alhamdulilah putra kedua kami lahir pada pukul18.30 WIB dengan BB 3,5 Kg dan PB 49 cm. Kami beri nama MUHAMMAD RIDWAN ABDUSSALAM.
Pagi harinya dokter mengatakan bahwa anak kami harus dirujuk ke SARDJITO, dengan alasan perut kembung dan belum BAB.

Bisa dibayangkan betapa hancur hati saya saat itu. Saya pun meninggalkan jaminan STNK motor agar bisa keluar dari klinik itu. Sesampainya di RSUD Sardjito, anak saya langsung masuk ruang NICU. Dokter anak yang merawat mengatakan bahwa anak saya memiliki lubang anus, namun terjadi penyumbatan di usus dan harus segera operasi. Akhirnya ridwan dioperasi untuk dibuat lubang pada perut agar bisa BAB


Saat itu, aku pikir bisa pulang setelah 1minggu. Tapi apa yangg terjadi.. Jahitan operasi di perut jebol, saya tak kuasa menahan tangis pilu.

Hari ke 10, operasi ulang.
Hari ke 15, jebol lagi.
Katanya albumin rendah,kekebalan tubuh anak saya jelek. Allahuakbar..kuatkan saya untuk menceritakan ini semua.
Jebol nya semakin melebar & membentuk lingkaran seperti lingkaran gelas kecil (gelas air zamzam).
Anak saya mengalami pendarahan dan koma selama 5 hari. Segala obat di masukkan termasuk transfusi darah hampir tiap hari. Sampai menghabiskan pendonor kurang lebih 10 orang.


Alhamdulilah hari ke 28, dia bangun dari koma. Dokter bilang anak ibu kuat, sebuah keajaiban dari Allah.
Tapi paginya, tanggal 28 september 2010, Ridwan kembali kritis & akhirnya meninggal dunia pada pukul 6 pagi. Kedua kalinya saya kehilangan buah hati tanpa sempat menyusuinya lebih lama.


Sebelum hamil ke 3 saya tes TORCH di HI LAB. Alhamdulilah dokter bilang IgM Negatif semua & IgG ada yang positif tapi hamil lagi tidak apa-apa.
Saya pun hamil lagi dan setiap periksa, dokter selalu bilang bagus. Hanya yg terakhir waktu UK 42 minggu, dokter memutuskan saya harus menjalani persalinan secara sesar.


Tgl 31 Desember 2011 alhamdulilah anak ketiga kami lahir. Kami beri nama MUHAMMAD NAUFAL ARZAQY, dengan BB 3,2kg dan PB 50cm.
Umur setengah bulan nafas sesak lalu saya bawa ke Dsa dan menjalani perawatan selama 5 hari dengan biaya 4juta.
1minggu kemudian saya telfon klinik untuk menanyakan vaksinasi BCG. Perawat disana menyampaikan bahwa anak saya HARUS disuntikan vaksin pada umur 1bln.

Saya pun ketakutan terlambat & kami memutuskan untuk vaksinasi di PKU. Umur 2 bln mendapatkan vaksinasi DPT/POLIO 1 di klinik. Namun pasca vaksinasi daerah bekas suntikan menjadi bengkak & panas. Setelah saya berikan thrombogel & paracetamol kondisi membaik.


Umur 2,5 bln yaitu tanggal 10 maret 2012 mendapatkan vaksinasi Dpt2/polio2 dan pada saat itu perawat yang menyuntikkan tidak memeriksa kondisi Arza, melainkan langsung suntik. Sampai rumah kaki bengkak dan tidak panas.
Tgl12 Maret 2012, suami kembali membawa anak saya ke klinik tempat anak saya menerima vaksinasi. Disana dokter malah menyampaikan bahwa anak saya mengalami kebocoran ginjal dan ini bukan tanggungjawab kami.


Pagi Tgl 13 Maret semakin drop bengkak kaki merata. Pagi2 saya langsung shock & suami langsung pinjam mobil saudara utk melarikan Arza ke Dsa.
Arza di gendong ibu saya, suami tidak peduli lampu merah dia terjang. Saya teriak-teriak “kejar nyawa,kejar nyawa. minggir minggir” dari jendela mobil sambil menangis.Ya Allah bunda & panda kalau ingat waktu itu bikin saya ga bisa menahan airmata.


Sampai di Dsa di oxygen & di infus. Hasil pemeriksaan laboratorium memperlihatkan bahwa fungsi ginjal normal, tetapi harus tetap dirujuk ke SARDJITO lagi. Disana tertulis bahwa diagnosa anak saya adalah KIPI & PNEUMONIA.

Tanggal 15 Maret, kondisi Arza membaik & wajahnya sangat cerah. Setiap saya tanya ke dokter, beliau menjawab “sedang kita observasi”.
Tiba-tiba terjadi pendarahan melalui Pup nya. Dilakukan transfusi darah dan dokter mengatakan bahwa infeksi telah menyebar ke saluran cerna Arza.


Coba anda bayangkan.. Nilai Hb orang dewasa saja 12 kan, pada waktu Arza transfusi dalam waktu 3 jam 2 kantong, HB menjadi 20. Astagfiruloh..saya pun marah-marah sama dokter PICU. Kenapa anak saya jadi merah seperti itu dok.


Dokter hanya mengatakan bahwa kekebalan tubuh adik jelek. Saya pun hanya orang kecil yg hanya bisa diam dengan tindakan dokter. Saya tidak bisa apa2, hanya pasrah. Mau menuntut tidak punya uang. Jadi ya pasrah.
Malamnya Arza membaik setelah di masuki obat dari monoglobulin yg harganya 3,7juta 10ml nya, albumin & lain2nya.
Tetapi malam pukul 22.00 wib, kalau tdk salah, Arza kritis & akhirnya meninggal.
Waktu kritis ibu saya bilang “Cucu saya seperti ini krn vaksinasi kan dok”.
Semua dokter hanya diam.


Arza meninggal tanggal 22 maret 2012 dengan tersenyum bunda & panda.


Waktu itu pembayaran rencana memakai Jamkesda karena saya masih punya hutang 10juta di RS yg sama waktu perawatan Ridwan (kakak Arza).
Tetapi alhamdulilah 3hari setelah itu ada perwakilan dari DinKes ke rumah saya. Mereka bilang biaya Arza sebesar 30juta akan ditanggung pemerintah karena arza adalah korban KIPI. Pemerintah akan bertanggungjawab karena saya sudah mengikuti program pemerintah.


Inilah sedikit ringkasan cerita mengenai anak saya.
Saya minta doanya untuk semua agar saya masih dipercaya Allah untuk bisa punya anak lagi yang sehat, panjang umur & bisa menemani kami sampai akhir hayat kami. Aamiin..
Semoga cerita ini bermanfaat.
Maaf jika ada kesalahan penulisannya.
Rudiyanto&Siti Afifah
Jogyakarta, 10mei2012

KOMENTAR SAYA »
KIPI.. Satu nyawa bayi bukanlah mainan.. Jika memang vaksin aman, maka seharusnya tidak ada satupun nyawa yang harus dikorbankan. Cukup pantaskah alasan mengorbankan satu demi lebih banyak anak lagi? Jika bersandar pada teori “herd immunity / kekebalan komunitas”

Bgm jika yg dikorbankan adl anak kita sendiri, maukah kita? Bagaikan memberikan tumbal kepada seorang raksasa demi menyelamatkan penduduk satu desa.

Ayah bunda tentunya masih ingatkan kisah legenda anak2?
Bahkan akhir kisah itupun menyampaikan pesan moral bahwa tidak satupun nyawa manusia pantas utk menjadi tumbal demi keselamatan sebuah kelompok. Nah selamat berpikir dan berdoa..

Faktanya di lapangan kasus KIPI itu banyak sekali :-) Namun fakta di lapangan adl tidak semua kasus KIPI diakui sbg KIPI, hanya sekedar dinyatakan kebetulan atau bahasa kerennya “coincedence yang menurut seorang dokter anak hanyalah 0,9% atau ada penyakit ikutan (silent disease).

Yang anehnya, bukannya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti otopsi, untuk memastikan bahwa ini bukan KIPI - tp mereka tetap bersikukuh bahwa ini kebetulan. Korban KIPI paling banyak muncul di daerah perifer atau pinggiran, bukan kota besar.
Sayang tenaga kesehatan terlalu sombong untuk mengakui bahwa vaksin memiliki resiko. Minimal mengakui bahwa vaksin tidak 100% aman dan tidak 100% melindungi. Mereka tetap saja berkoar-koar vaksin aman, aman, dan aman.
Apakah menunggu anak kita jd korban untuk sadar bahwa vaksin terlalu beresiko?

Belum pernah dilakukan penelitian yang nyata dimana membandingkan kesehatan anak yang tanpa vaksin dan berasal dari orangtua yang tanpa vaksin dengan kesehatan anak dengan vaksin dan berasal dari orangtua dengan vaksin.

Pengalaman saya di lapangan, sebagai awal memutuskan untuk menolak vaksinasi adalah faktanya anak-anak tanpa vaksin lebih sehat daripada anak dengan vaksin. Dalam 1 tahun mengalami 10x common cold/flu/demam adalah menunjukkan adanya masalah dalam sistem imunitas anak.
Setelah membaca kisah bunda Afi diatas, saya jadi prihatin dengan kalimat ini »
“@dr_p:Knp lumpuh krn polio,radang otak krn tbc,leher dilobangi krn difteri ga ditakuti,tp KIPI yg jarang n ringan malah lbh ditakuti?”
Hmm.. Iya sih, bayi yang meninggal adalah kasus ringan karena orangtua tidak perlu sibuk melayani seumur hidup anaknya yang lumpuh total pasca vaksinasi.
Semakin prihatin dengan pendapat dr dokter anak inisial, F »
Vaksin tanpa KIPI tuh gimana caranya sih? Minum jamu aja bikin banyak kencing kok. Saya aja minum wedang jahe sendawa melulu. 100% kebal? Superman aja ada titik lemahnya kok.

Well doc, sebagai informasi terapi herbal memang memberikan reaksi kencing lebih banyak. Semua herbalis paham akan hal tersebut. Miris sekali jika membandingkan vaksin dengan weddang jahe (???). Superman hanya kisah fiktif alias khayalan, sedangkan KIPI adalah kisah nyata. Ini bayi loohhh.. Bukan batuu yaahh..

So, jadilah orangtua yang kritis.. Pelajari dengan baik dan berdo’a.

sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/05/11/kejadian-ikutan-pasca-imunisasi-kipi-relakah-anak-kita-menjadi-tumbal/

Rabu, 12 September 2012

Your Kids, Your Future, Your Choice.. Think Twice and Carefully.. Open Your mind

Dear Moms Dads,
Saya menuliskan semua ini, BUKAN untuk melawan vaksinasi semata. TAPI mengajak moms dads untuk terus belajar dengan BERPIKIR KRITIS akan setiap keputusan yang akan diambil pada anak. Sebagai seorang dengan latar belakang pendidikan medis, saya menyadari bahwa banyak informasi yang tidak diberikan secara terbuka dan seimbang. Informasi yang diberikan oleh pemerintah dan tenaga medis mengenai kebaikan vaksin, namun tiada pernah disampaikan akan efek samping juga komposisi dari vaksin tersebut. Ketika orangtua membawa anak ke dalam ruang praktek, tenaga medis hanya menyampaikan kewajiban vaksin tanpa memberikan HAK Pasien untuk menerima informasi lengkap dan jujur, serta HAK Pasien untuk memilih jalan hidunya menuju sehat.

Pemikiran yang selalu mengganggu saya adalah jika memang imunisasi adalah sebuah program yang terbaik, lalu mengapa harus ada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)?

Mengapa jika ada bayi yang cacat atau menderita penyakit sesuai vaksin tersebut setelah disuntikkan, lalu para tenaga medis dengan mudah mengatakan "itukan KIPI dan terjadi hanya pada 1 diantara sekian anak yang disuntikkan?

Bagaimana jika bayi yang menderita akibat KIPI adalah anak anda?



Para tenaga medis lebih memberlakukan konsep INFORMED CONSENT, dimana pasien mendapatkan informasi berupa KEWAJIBAN pasien akan tindakan medis tanpa informasi seimbang dan tanpa bisa memilih.



Dalam perkembangan masyarakat modern, yang seharusnya diberikan adalah INFORMED CHOICE dimana masyarakat atau pasien mendapatkan seluruh informasi dari kedua sisi, baik berupa HAK dan KEWAJIBAN. Serta pasien selayaknya diberikan kebebasan dalam memutuskan mana yang terbaik bagi dirinya dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusannya sendiri.



Maka WAJIB bagi setiap orangtua untuk belajar dengan kritis. Semua keputusan ada di tangan anda, AMBILLAH KEPUTUSAN itu dengan CERDAS dan berHATI-HATI.



Your Kids, Your FUTURE, Your Choice..!



Sudah menjadi kewajiban bagi orangtua untuk mempelajari dengan detail dan kritis thd proses pembuatan vaksin, termasuk didalamnya adalah bahan-bahan kimia yang digunakan. Sama seperti memasak, tentunya kita membutuhkan resp yang mantaps bukan?



Referensi untuk berargumentasi dg para Pro Vaksin :

http://preventdisease.com/news/09/102809_9_arguments_to_win_any_vaccine_debate.shtml





Bukankah prinsip dalam ilmu kedokteran adalah "no further harm" dalam setiap tindakan?



NOTE : Please add-in here if you come across any useful infos pertaining to this.



1) http://www.associatedcontent.com/article/2827126/glaxosmithkline_recalls_rotarix_rotavirus.html



2) http://thinktwice.com/



3) http://www.whale.to/vaccine/groups.html



4) http://www.whale.to/m/critics.html



5) http://vacinfo.org/



6) http://vaccines.mercola.com/



7) http://www.doctoryourself.com/vaccination.html



8) http://www.doctoryourself.com/vaccin_2.html



9) http://drtenpenny.com/default.aspx



10) http://vran.org/about-vaccines/vaccine-ingredients/active-ingredients/vaccines-and-genetic-mutation/



11) http://www.naturalnews.com/vaccines.html



12) http://www.vaccineriskawareness.com/



13) http://www.sailhome.org/Concerns/Vaccines.html



14) http://web.mac.com/rohlfsendc/The_Spinal_Tuning_Center/vaccine911.html



15) http://preventdisease.com/news/09/102809_9_arguments_to_win_Any_vaccine_debate.shtml



16) http://therefusers.com/refusers-newsroom/aluminum-based-adjuvants-cause-cell-death-and-release-of-host-cell-dna/



17) http://www.facebook.com/insidevaccines



18) http://www.facebook.com/national.vaccine.information.center



19) http://www.cbsnews.com/8301-31727_162-20049118-10391695.html : artikel mengenai fakta yg diungkapkan pakar farmakologi bahwa vaksin merusak otak.



20) Ini adalah link grup utk menerapkan hidup alami bagi kita dan keluarga ^__^

http://www.facebook.com/groups/203965872976144/



21) http://www.facebook.com/pages/Proud-Parents-Of-Unvaccinated-Children/302370145808



22) http://www.facebook.com/vaccinationcouncil



23) http://www.facebook.com/thetruthaboutvaccines



24) http://www.facebook.com/WhatYourPediatricianDoesntKnow



25) http://www.facebook.com/vaccineinfo



26) http://www.jibtherapies.com/



27) http://www.ageofautism.com/2011/02/new-medical-journal-review-vaccine-injury-is-a-documented-cause-of-autism.html



28) http://www.cnn.com/2011/HEALTH/01/06/autism.vaccines/index.html



29) http://omicsonline.org/ArchiveJVV/CurrentissueJVV.php



30) http://www.thinktwice.com/multiple.htm



31) http://www.shirleys-wellness-cafe.com/vaccines.htm



32) http://childhealthsafety.wordpress.com/2009/10/09/cbs-news-research-links-kids-vaccines-brain-damage/



33) http://www.facebook.com/photo.php?fbid=214804881864507&set=a.192937290717933.50158.100000049901351&type=1&theater



34) http://www.facebook.com/vaccinetruth



35) www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/21568886/ --> Alumunium adjuvant dalam vaksin, amankah?



36) http://journal.livingfood.us/2011/05/03/vaccine-epidemic-a-new-book-review/



37) http://performancewithoutpain.com/2011/05/02/1913/



38) http://pediatrics.aappublications.org/content/29/1/105.full.pdf+html --> Penelitian awal penemu vaksin dimana virus Polio mati oleh kolostrum.



39) http://www.medscape.com/viewarticle/718175_4 --> Penjelasan ilmiah bahwa ASI memberikan perlindungan optimal terhadap penyakit apapun terutama infeksi. Pada tabel terlihat bahwa kandungan antibodi salah satunya terhadap virus polio.

39) http://www.garynull.com/storage/pdfs/ImmunizationGraphs-RO2009.pdf --> Pd bagian akhir diperlihatkan grafik bahwa KLB di beberapa negara 90% pada anak yg divaksin dan 10% pd anak yg tidak divaksin.



40.) http://journal.livingfood.us/2011/10/09/new-study-vaccinated-children-have-2-to-5-times-more-diseases-and-disorders-than-unvaccinated-children/



Tahukah anda bahwa penyebaran AIDS pada beberapa tahun lalu adalah melalui vaksin polio? Inilah yg dimaksud kejahatan di balik program vaksinasi saat berdiskusi secara internal bersama dr Sit* Fadh*llah S*p*ri -->



1. http://iinformedparenting.blogspot.com/2011/09/vaccines-making-you-far-sicker-than-you.html --> Uraian mengenai vaksin HPV/Ca Serviks yang terkontaminasi (Gardasil) dan Aids dalam vaksin Polio



2. http://www.naturalnews.com/033584_Dr_Maurice_Hilleman_SV40.html



3. http://naturalnews.tv/v.asp?v=13EAAF22CDA367BB3C2F94D2CD90EF7B



Laporan dibawah ini sangat ditunggu oleh banyak kalangan seluruh dunia. Laporan ini mengungkapkan masalah vaksin yang diperdebatkan kegunaannya dan efek sampingnya yang buruk bagi kesehatan manusia terutama anak. Laporan ini dibuat oleh tidak kurang dari team yang berisi 80 orang para ahli peneliti dan praktisi kesehatan resmi, yang mewakili dokter anak, dokter bedah saraf, professor patologi anatomi, ahli kimia, biologi dan immunologi



http://www.naturalnews.com/SpecialReports/VaccinesFullStory/v1/VaccineReport-EN.pdf



Your Kids, Your Future, Your Choice.. Think Twice and Carefully.. Open Your mind and Pray..

Dsa. Henny Zainal
sumber http://www.facebook.com/groups/tanya.asi/doc/10150269211146026/

Rabu, 06 Juni 2012

Kisah Nyata korban Vaksin Flu Babi

LONDON (SehatIslamy.com) – Masih saja percaya vaksin? Kejadian yang menimpa Josh Hadfield (6) di London ini mudah-mudahan menyadarkan kaum Muslimin akan bahaya vaksin. Pasca divaksin flu babi, Josh kehilangan kendali otot dan mengalami narkolepsi, alias suka tiba-tiba tertidur. Masya Allah!

Kasus langka pasca-imunisasi terjadi di London. Josh Hadfield, 6 tahun, kehilangan kendali otot dan mulai tidur sampai 19 jam setiap hari hanya tiga minggu setelah mendapatkan vaksin flu babi, Pandemrix. Dia akan tertidur hingga setiap lima menit - bahkan ketika ia sedang berjalan, makan, dan berenang - dan menderita serangan tiba-tiba ketika ia tertawa. Dokter menvonisnya mengalami kondisi yang disebut narkolepsi. Sekarang hampir dua tahun kemudian ibunya Caroline, 41 tahun, mengatakan ia masih menderita penyakit 'tiba-tiba tertidur' itu. "Aku setiap malam empat kali terbangun untuk memberinya makanan ringan dan memberinya kenyamanan karena dia selalu mengalami mimpi buruk mengerikan," katanya. Pendidikan Josh, juga mengalami gangguan karenanya. "Dia dulu dikirim pulang dari sekolah setiap kali ia jatuh tertidur, tetapi sekarang pihak sekolah telah tahu dan menyisihkan area di dalam kelas di mana ia bisa direbahkan kalau tertidur." Josh saat ini sedang diobati dengan Ritalin dan anti-depresan, tapi tidak pernah kembali ke kondisi awal. Awal tahun ini muncul bahwa vaksin flu babi yang ia terima, yang disebut Pandemrix, telah dikaitkan dengan narkolepsi di seluruh Eropa. Studi sebelumnya telah mencatat kenaikan 13 kali lipat dalam kasus di antara anak-anak yang telah menerima suntikan. Pada bulan Juli Otoritas Kesehatan Eropa menyarankan untuk tidak memberikannya pada pasien di bawah usia 20-an. Caroline, seorang PNS, menuding Pemerintah tidak melakukan tes yang cukup sebelum mengeluarkan vaksin itu ke jutaan orang. "Josh baik-baik saja sebelum vaksinasi," ujarnya. "Kini, dia lebih banyak tertidur daripada terjaga. Padahal dulu, dia adalah salah satu dari anak-anak yang paling energik yang pernah saya temui." Pandemrix melindungi terhadap virus H1N1, yang disebabkan oleh pandemi flu babi 2009. Kasus serupa Josh dikonfirmasi juga di negara lain, seperti Finlandia dan Swedia. Di Finlandia, peneliti menemukan 79 anak yang divaksinasi mengembangkan narkolepsi, 12 kali lebih dari yang mereka harapkan. Pemerintah Finlandia berjanji memberikan kompensasi dan dukungan bagi keluarga yang terkena dampak itu.



 

Selasa, 05 Juni 2012

IMUNISASI BUKAN VAKSINASI !

Buletin BRC :: Kita semua mungkin berpandangan bahwa 'imunisasi' (baca : vaksinasi) adalah barang wajib. Bukan orang tua yang baik kalau tidak mengimunisasi anak secara lengkap. Selama ini masyarakat hanya mendapat informasi dari satu sisi yang cenderung sangat positif.

Di awal, saya sengaja menulis kata imunisasi dalam tanda kutip, untuk menegaskan perbedaan mendasar antara imunisasi dengan vaksinasi. Imunisasi adalah upaya merangsang penguatan sistem imunitas (kekebalan) tubuh. Sementara vaksinasi hanyalah salah satu usaha melakukan imunisasi dengan cara memasukan vaksn (kuman penyakit yang sudah dilemahkan) ke dalam tubuh. Sebuah majalah terbit komunitas muslim di Amerika, Al Jumuah volume 14 mengupas masalah imunitas dari sudut pandang yang berbeda yang ditulis Dr. Aisha Hamdan. Segala hal positif yang selama ini dipahami masyarakat tentang imunisasi, dinyatakan Aisha adalah mitos. Aisha mengemukakan pandangannya itu dengan banyak data dan kasus. Australia termauk Negara yang tidak mewajibkan warganya imunisasi. Hanya setengah warga Australia yang mau menerima imunisasi, Kemungkinan sakit kelompok uyan menerima imunisasi dengan kelompok yang menolak imunisasi di tempat yang sama, tidak berbeda. Dalam kasus dipteri meski imunisasi berjalan, kasus dipteri di Prancis naik 30 persen, di Hungaria naik 55 persen, bahkan di Jenewa (Swiss), naik hingga tiga kali lipat. Belum lagi imunisasi pertusis (batuk rejan). Tingkat efektivitas imunisasi tersebut hanya 50 persen. Kasus yang terjadi di Kansas (Amerika) menunjukan 90 persen penderita batuk rejan adalah orang yang sudah diimunisasi pertusis. Sebuah lembaga pengembangan sains di Inggris mencatat bahwa penyakit anak di Negara tersebut bisa mencapai 90 persen pada periode 1850-1940. Ini terjadi jauh sebelum imunisasi dikenalkan secara massal. Singkatnya imunisasi bukan perangkat yang lengkap untuk mengamankan anak balita. Sebaliknya, program tersebut justru menjadi bahaya tersendiri bagi balita.Pada tahun 1986, Kongres Amerika membuat The National Childhood Vaccine Injury Act (Peraturan untuk anak-anak korban imunisasi). Laporan itu diyakini belum mencerminkan kondisi nyata di negeri Paman Sam itu, Estimasi lapangan menyatakan bahwa sebenarnya, anak yang menjadi korban imunisasi bisa mencapai 120 ribu pertahun. Aturan soal imunisasi yang dibuat kongres mewajibkan Negara untuk membayar 25o ribu dolar AS kepada keluarga yang bayinya meninggal kerena pengaruh imunisasi. Sedangkan bayi yang mengalami gangguan otak karena imunisasi , harus dikompensasi dengan uang jutaaan dolar AS. Pada 1997 dilaporkan Al Jumuah,lebih dari 802 juta dollar AS dana yang harus diberikan kepada para korban imunisasi bisa mencapai 1,7 miliar dolar. Lebih berbahaya lagi, ternyata dalam vaksin yang disuntikkan melalui imnisasi terkandung bahan-bahan kimia yang dampaknya bisa berbahaya, Pada dasarnya vaksn mengandung virus dan bakteri mati, komponen-komponen kuman, ekstrak racun atau organisme hidup yang keganasanyya telah dilemahkan. Untuk merangsang reaksi imun yang kuat terhadap organisme-organisme tersebut, pabrik obat menambahkan bahan-bahan perangsang kekebalan seperti squalene, alumunium, lipopolysachararide dll. yang disebut sebagai immune adjuvants. Kombinasi dari adjuvant dengan orgasnisme yang bersangkutan memicu suatu respons imun (kekebalan) oleh tubuh, mirip seperti yang terjadi pada infeksi alami, kecuali satu perbedaan besar. Yaitu hampir tidak ada penyakit-penyakit tersebutt memasuki tubuh melalui injeksi. Umumnya masuk melalui selaput lender hidung, mulut, saluran napas, atau saluran cerna. Akibatnya , suntikan vaksin justru menghasilkan system imun yang abnormal.Celakanya lagi, immune adjuvants ini menimbulkan stimulasi dalam kurun waktu yang panjang, yang justru berpotensi menimbulkan kerusakan sel-sel tubuh. Belum lagi sampai saat ini bahan-bahan vaksin maupun proses produksinya belum bisa dijamin kehalalannya. Seperti dilansir majalah Suara Hidayatullah edisi September 2007 , seluruh vaksin yang beredar di dunia saat ini , termasuk vaksin miningtis yang diberikan kepada seliruh jemaah haji, menggunakan bahan haram dalam pembuatannya. Diantaranya enzim babi, ginjal kera, ginjal babi, hingga janin bayi hasil aborsi. (Masya Allah..) Direktur Pemasaran PT Bio Farma, pabrik vaksin terbesar di Indonesia, Sarimuddin Sulaeman mengatakan, Bio Farma sebenarnya telah mengusahakan pengganti tripsin babi sejak tahun 2006. Namun penelitian ini memakan waktu setidaknya tiga tahun, hingga untuk sementara tripsin tersebut masih tetap digunakan. Imunisasi Ala Islam Islam telah mengajarkan agar ibu-ibu menyusui bayinya hingga 2 tahun penuh (Al Baqarah:233). Penelitian modern telah membuktikan bahwa ASI adalah makanan terbaik di dunia. Kandungan gizi di dalamnya sangat efektif untuk membantu tubuh membangun system imun yang optimal. Departemen Kesehatan Amerika Serikat menganjurkan ibu-ibu untuk memberikan ASI eksklisif hingga 6 bulan, sementara di Indonesia sendiri dianjurlan serupa hanya untuk 4 bulan, Rasulullah saw juga biasa melakukan tahnik pada bayi. Tahnik adalah mengunyah makanan hingga halus, biasa kurma, kemudian disuapkan kepada bayi,, Ini dijelaskan dalam hadits Bukhari-Muslim.Orang sering salah interpretasi mengenai tahnik ini, bahkan dicurigai sebagai sarana penularan penyakit dari orang tua kepada anak. Padahal ini justru sebuah upaya memperkenalkan bayi pada berbagai potensi penyakit dari luar. Betul bahwa orang tua sang bayi mungkin mengidap berbagai macam penyakit. Dan jangan lupa bahwa air liur juga bagian dari system imun kita. Nah, informasi (database) penyakit dalam air liur orang tua bersama kuman-kuman yang tentunya juga sudah lemah karena bercampur dengan air liur itulah yang masuk ke tubuh sang bayi melalui mekanisme alamiah (bukan suntikan). Dan ini memberikan stimulasi bagi tubuh bayi untuk mengupdate system imunnya. Bekam sebagai Imunisasi Alamiah Rasulullah telah mengajarkan bahwa salah satu dari tiga kunci kesehatan (asy Syifa’) adalah konsiste melakukan hijamah/ bekam. Menarik untuk dikaji, bahwa ternyata mekanisme kerja bekam sangat mirip dengan vaksinasi, dengan meninggalkan segala efek negatifnya.Bekam sebenarnya adalah usaha membuat kerusakan mikrosirkulasi yang disengaja. Tubuh akan berespon dengan mengawali munculnya peningkatan aktivitas system imun, baik yang berupa cairan (humoral) maupun yang berupa sel (seluler). Dengan perantara kimiawi seperi interleukin 1 dan 6 serta TNF alfa, system imun akan bekerja dan mempergiat proses perondaan, sehingga secara otomatis akan terjadi optimalisasi system imun.Berbeda dengan vaksinasi, imunisasi melaui bekam ini lebih universal, tidak spesifik pada satu atau beberapa penyakit saja. Artinya sekali melakukan bekam, imunitas akan dihasilkan untuk semua jenis penyakit. Meski imunitas spesifik juga dapat dihasilkan jika bekam dilakukan pada kondisi tertentu.Jika proses bekam ini dilakukan pada saat seseorang terkena atau terinfeksi virus, maka proses imun spesifik terhadap virus ini akan bekerja dengan lebih optimal. Jika seseorang menderita penyakit kanker. Maka system imun seluler yang bertugas untuk mengeliminir atau memusnahkan sel-sel kanker yang ganas akan bekerja pula dengan optimal. Jika proses bekam dilakukan pada seorang penderita penyakit jantung koroner, maka adanya faktor anti penggumpalan keping darah (trombosit) akan mengurangi resiko terjadinya penyumbatan pembuluh darah koroner. Menariknya lagi, stimulasi imunitas yang dihasilkan melalui mekanisme bekam bersifat temporer atau sementara. Ini sangat bermanfaat untuk mencegah hiperimunitas yang berpotensi menimbulkan kerusakan berlebihan pada sel-sel tubuh, seperti yang banyak terjadi “imunisasi” konvensional.Namun, hal ini juga menjadikan efektifitas bekam akan berkurang bila tidak dilakukan secara rutin. Oleh karenanya, Rasulullah pun menganjurkan agar bekam ini dilakukan sebulan sekali utnuk pencegahan berbagai macam penyakit. Apalagi jika didukung dengan konsumsi madu serta herbal-herbal berkhasiat obat yang juga banyak disabdakan Rasulullah saw. Ternyata, jika kita memahami bagaimana hidup sehat secara islam, tidak ada lagi buah simalakama. wallaahu a'lam Source : Buletin BRC Bandung (Bekam Ruqyah Center Bandung)

Kamis, 08 Maret 2012

Konsipirasi Perusahaan Obat “Big Pharma”

Barangkali hampir semua orang (kecuali pemilik sahamnya) tidak menyukai perusahaan farmasi karena harga obat yang terlalu mahal. Selain itu ada indikasi upaya perolehan laba perusahaan yang dilakukan secara tidak benar, dan tampaknya setiap beberapa bulan ada korban-korban berjatuhan dari beberapa obat yang sebelumnya diklaim sangat aman. Itu adalah kejadian kecil dari industri obat (Perusahaan Obat Big Pharma) yang diawasi dengan rasa curiga oleh masyarakat.

Beberapa penganjur “pengobatan alternatif” percaya bahwa perusahaan farmasi benar-benar berkomplot untuk menjadikan orang-orang tetap sakit demi keuntungan bisnis. Sebagai contoh, Kevin Trudeau (pengarang buku bestseller berjudul “Natural Cures They Don’t Want You To Know About” atau cara perawatan Alami dimana mereka tidak mau anda mengetahuinya) mengklaim informasi kesehatan yang penting telah disembunyikan dengan adanya konsfirasi antara pengambil kebijakan kesehatan dengan perusahaan obat besar. Menurut Trudeau, “Ada kelompok-kelompok tertentu, termasuk… industri obat … yang tidak menghendaki masyarakat memahami cara penjagaan kesehatan supaya tidak diserang berbagai macam penyakit…” Aktris dan model Jenny McCarthy nampak baru-baru ini di “Larry King Live,” menuduh para dokter dan industri farmasi berkomplot untuk melenyapkan bukti medis dari sebuah mata rantai yang menjelaskan adanya hubungan sebab akibat antara vaksin-vaksin yang disuntikkan pada masa bayi dan autism yang diderita anak-anak tersebut kemudian.

Kamis, 02 Februari 2012

Konspirasi di Balik Fatwa MUI : Vaksin Imunisasi Halal dan Baik?

Bertepatan dengan Aksi dan Orasi Stop Vaksin yang diadakan oleh Sharia4Indonesia -Divisi Pelayanan Umat Bidang Kesehatan- pada hari Sabtu (23/7/2011) di Bunderan HI Jakarta, ternyata PT Biofarma, produsen terbesar vaksin di Indonesia mengadakan acara tandingan bertajuk “Vaksin Imunisasi Halal dan Baik” di kantor MUI, Jalan Proklamasi Jakarta. Di acara tersebut, KH Maruf Amin, Ketua MUI menyatakan bahwa vaksin imunisasi itu halal dan baik! Ada konspirasi apa di balik pernyataan tersebut?
Siapa di balik Biofarma?


Sulit menampik adanya konspirasi jahat yang mensosialisasikan bahwa vaksin imunisasi itu halal dan baik. PT Biofarma, sebagai produsen vaksin milik negara, sekaligus pemasok tunggal vaksin program imunisasi nasional jelas berkepentingan agar masyarakat terus menyangka bahwa vaksin imunisasi itu halal dan baik.

Melalui situs resminya, www.biofarma.co.id PT Biofarma menyatakan diri ingin menjadi produsen vaksin global, memproduksi dan memasarkan vaksin berkualitas internasional untuk kebutuhan pemerintah, swasta nasional, dan internasional. Selain itu, PT Biofarma juga ingin mengembangkan inovasi vaksin yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Sangat jelas terlihat bahwa PT Biofarma lebih berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan pasar (keuntungan materi) dengan penjualan vaksin sebesar-besarnya, bukan berfikir apakah produk vaksinya halal dan baik.

Jika menelusuri jejak awal pemberian vaksin, maka menurut Flexner Brother, sejarah vaksin modern menemukan bahwa yang mendanai vaksinasi pada manusia adalah keluarga Rockefeller, salah satu keluarga Yahudi dan anggota Zionisme Internasional.

Bukan kebetulan, kalau ternyata melalui keluarga Rockefeller didirikan lembaga kesehatan dunia, WHO dan lainnya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Leonard Horowitz dalam “WHO Issues H1N1 Swine Flu Propaganda” :

“The UN’s WHO was established the U.S Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS).”

WHO batasi penggunaan babi untuk bahan vaksin

Detikhealth.com menurunkan berita “WHO Batasi Penggunaan Babi untuk Pembuatan Vaksin”. Sumber informasi ini bahkan disampaikan oleh peneliti senior PT Biofarma, Dr Neni Nurainy, Apt, dalam jumpa pers Forum Riset Vaksin Nasional 2011 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (26/7/2011).

“WHO mulai membatasi, karena ada risiko transmisi dan itu sangat berbahaya. Misalnya penggunaan serum sapi bisa menularkan madcow (sapi gila).”

Dalam berita tersebut, PT Biofarma mengklaim sudah mulai menggunakan media non-animal origin sebagai unsure binatang. Salah satunya pada vaksin polio injeksi atau Injected Polio Vaccine (IPV), yang proses pembuatannya telah dipresentasikan di Majelis Ulama Indonesia. Betulkah demikian?

PT Biofarma, sebagai produsen terbesar vaksin untuk nasional dan internasional dan juga merupakan perusahaan yang berskala internasional sudah pasti pembuatan vaksinnya sesuai standard WHO. Jika WHO secara terang benderang menyatakan akan mengurangi penggunaan babi dalam pembuatan vaksin, maka selama ini WHO masih menggunakan babi dalam pembuatan vaksin. Tentu, begitu pula dengan PT Biofarma.

Profesor Jurnalis Uddin, seorang anggota MPKS (Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syarak), dalam sebuah acara dengan PT Biofarma dan Aventis untuk memberikan penjelasan tentang proses pembuatan vaksin polio mengungkapkan adanya tripsin babi dalam pembuatan vaksin polio, begitu juga dengan vaksin Meningitis yang diproduksi oleh Glaxo Smith Kline untuk para jama’ah haji.

Selain tripsin babi, produksi vaksin juga kerap menggunakan media biakan virus (sel kultur) yang berasal dari jaringan ginjal kera (sel vero), sel dari ginjal anjing, dan dari retina mata manusia.

Dori Ugiyadi, Kepala Divisi Produksi Vaksin Virus Biofarma membenarkan bahwa ketiga sel kultur tersebut dipakai untuk pengembangan vaksin influenza. “Di Biofarma, kita menggunakan sel ginjal monyet untuk produksi vaksin polio. Kemudian sel embrio ayam untuk produksi vaksin campak,” ujarnya.

Vaksin halal dan baik, fatwa pesanan?

Sebagai produsen vaksin terbesar di Indonesia, PT Biofarma sangat berkepentingan dengan MUI, terutama fatwa halalnya. Tercatat beberapa kali PT Biofarma sowan ke MUI untuk mendapatkan fatwa halal. Dengan demikian, pernyataan Ketua MUI, KH Maruf Amien, bahwa vaksin imunisasi halal dan baik, pada acara “Vaksin Imunisasi Halal dan Baik” di kantor MUI, Sabtu 23 Juli 2011, diduga kuat juga merupakan fatwa pesanan.

Tim dari Sharia4Indonesia-Divisi Pelayanan Umat Bidang Kesehatan-akhirnya meminta konfirmasi kepada Prof.Dr.Tuntedja, dari LP POM MUI, tentang sertifikat halal dari semua vaksin yang telah diproduksi oleh PT Biofarma. Ternyata, beliau memberikan jawaban bahwa PT Biofarma belum mendapatkan itu bahkan belum mendaftarkan diri untuk diaudit.

Atas jawaban ini, maka sangat perlu dipertanyakan fatwa MUI melalui KH Maruf Amin yang dengan beraninya telah menyatakan bahwa vaksin imunisasi halal dan baik. Bukankah ini sebuah kebohongan publik yang sangat tidak pantas dilakukan oleh MUI? Hal ini karena meskipun KH Maruf Amin adalah Ketua MUI, namun beliau tidak berhak dan tidak berkompeten untuk menyatakan sebuah produk halal atau haram sebelum produk tersebut diauudit oleh lembaga yang bertanggung jawab untuk memberikan Sertifikat Halal, yaitu LP POM MUI.

Meskipun KH Maruf Amin seorang ulama, harus ada ilmu khusus untuk menyatakan sebuah produk itu halal atau haram, terutama mengetahui bahan-bahan pembuatan vaksin, seperti ilmu mikrobiologi, biokimia, uji DNA, dan ilmu-ilmu pendukung lainnya yang selama ini telah dikuasai oleh auditor LP POM MUI. Dengan demikian pernyataan KH Maruf Amin bahwa vaksin imunisasi itu halal dan baik tidak sah dan harus digugat!

Hal bertentangan juga disampaikan oleh Dra.Hj.Welya Safitri, M.Si., Wakil Sekjen MUI. Beliau mengatakan bahwa MUI tidak pernah menghalalkan vaksin yang diproduksi oleh PT Biofarma.

Direktur LP POM MUI, Nadzatuzzaman, dalam sebuah kesempatan pernah mengatakan bahwa kebanyakan vaksin yang ada saat ini dibuat melalui porcine (enzim protease dari babi) yang ada pada babi.

“Yang mengembangkan adalah negara barat yang tidak mempermasalahkkan halal-haram, sebenarnya enzim tersebut juga ada pada sapi. Tapi ilmuan tetap memakai babi, karena 96 % DNA babi mirip dengan DNA manusia,” ujarnya.

Lalu, mengapa sampai keluar pernyataan dari Ketua MUI, KH Maruf Amin, bahwa vaksin imunisasi itu baik dan halal? Inilah kuatnya aroma konspirasi medis untuk menghalalkan vaksin yang sebenarnya sangat berbahaya dan dapat menghancurkan umat manusia tersebut.

Dengan demikian, bisa jadi pernyataan tersebut memang merupakan fatwa pesanan dari PT Biofarma sebagai produsen vaksin terbesar di negeri ini yang lalu disebarluaskan oleh media mereka sendiri. Untuk itu, ummat Islam harus menggugat fatwa pesanan bahwa vaksin imunisasi itu halal dan baik yang telah dikeluarkan oleh MUI. Bukankah Allah SWT., berfirman :

“Janganlah engkau campur adukan yang hak dengan yang batil, dan janganlah engkau tutupi kebenaran, padahal engkau mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 42)

Untuk itu, harus ada pelurusan berita, edukasi, dan sosialisasi bahaya vaksin imunisasi bagi umat manusia, dan kemudian tentu saja memberikan solusinya, halal dan baik. Insya Allah! [Talazum]

Sabtu, 31 Desember 2011

Vaksin : Banyak Menghasilkan Keuntungan Namun Mengabaikan Keselamatan

Perusahaan pembuat vaksin penyumbang keuntungan pada Amerika melibatkan aparat Negara, dokter dan sekolah untuk memasarkan produk mereka secara besar-besaran. FDA menerima data tentang jaminan keamanan vaksin yang dihasilkan dari perusahaan tersebut, kemudian memberikan lisensi untuk digunakan di Amerika. Setelah pemberian lisensi lembaga penasehat penggunaan imunisasi (ACIP) yang dilantik oleh CDC memberikan saran mengenai dosis dan batas usia penggunaan vaksin tersebut. Masukan dari ACID sangat berpengaruh hingga menjadi undang-undang Negara.

Belakangan lembaga audit Negara AS mendapati banyaknya anggota lembaga penasehat ACIP dan FDA memiliki konflik kepentingan secara terang-terangan. Mereka mempunyai hubungan keuangan dengan perusahaan-perusahaan farmasi pembuat vaksin. Lembaga tersebut menjelaskan masalah ini dengan menyoroti kasus perijinan vaksin Rotavirus yang ternyata mengakibatkan usus tersumbat. Vaksin ini kemudian ditarik dari peredaran. Banyak korban dari kalangan balita mengalami gangguan kesehatan dan memerlukan pembedahan, sementara satu bayi mati akibat vaksin ini.

Anggota lembaga penasihat FDA yang meluluskan Vaksin Rotavirus itu mengetahui masalah tersebut tetapi mereka malah meluluskan izin produksi dan penyebarannya. Tiga dari lima orang ahli ini mempunyai hubungan keuangan dengan beberapa perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin Rotavirus. Kini, semakin banyak orang tua yang tidak percaya pada vaksin. Banyak dana telah dikeluarkan untuk membiayai pengembangan vaksin, termasuk pengawasan dan rehabilitasi akibat dampak buruk vaksin. Para pakar vaksin disuap untuk memutar balikkan opini umum dengan menafikan efek buruk vaksin dan berusaha mengokohkan anggapan bahwa manfaat vaksin lebih banyak dari risikonya.