Tampilkan postingan dengan label Sisi Lain Dunia Medis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sisi Lain Dunia Medis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2011

Pelacur Tularkan Sifilis ke Ratusan Napi Demi Uji Antibiotik

Massachusetts, Pengobatan penyakit kelamin sifilis atau raja singa paling mempan menggunakan antibiotik. Tapi ternyata penggunaan antibiotik untuk mengobati sifilis diuji dengan cara yang ekstrim dengan membayar pelacur bayaran untuk menulari ratusan narapidana.

Di era 1940-an, ratusan narapidana di Penjara Guatemala terinfeksi raja singa atau sifilis. Gara-garanya, beberapa pelacur sengaja didatangkan untuk menulari para narapidana dalam sebuah eksperimen tentang antibiotik.

Eksperimen tersebut terjadi antara tahun 1946-1948 dan melibatkan total 696 orang. Sebagian besar di antaranya adalah para narapidana yang tertular dari sejumlah pelacur yang sengaja didatangkan untuk menularkan raja singa.

Bukan hanya lewat hubungan seks dengan si pelacur, beberapa di antaranya ditulari secara paksa lewat suntikan. Larutan berisi bakteri penyebab sifilis langsung disuntikkan di lengan, wajah dan kemaluan para narapidana.

Setelah terinfeksi, para narapidana diberi pengobatan antibiotik berupa penisilin. Diduga kuat, eksperimen ini memang bertujuan untuk mengukur efektivitas penisilin dalam mengatasi sifilis.

Dikutip dari CBC, Senin (4/10/10), fakta itu terungkap dalam penelitian Susan Reverby, seorang sejarawan medis dari Wellesley College di Massachusetts. Bahkan terungkap, eksperimen serupa juga dilakukan dalam skala yang lebih kecil di sebuah barak militer dan rumah sakit jiwa.

Temuan itu langsung mendapat reaksi dari berbagai pihak, karena dinilai sangat melanggar etika dan tidak bermoral. Bahkan eksperimen itu dinilai melanggar aturan yang berlaku tentang pendanaan riset pada manusia oleh Amerika.

Tak terkecuali, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton secara khusus angkat bicara terkait eksperimen tersebut. Hillary menyampaikan permintaan maafnya saat berpidato Jumat pekan lalu.

"Meski terjadi 64 tahun lalu, kami mengecam ada penelitian semacam itu yang menggunakan kedok kesehatan masyarakat. Kami menyampaikan maaf untuk siapapun yang terkena dampak dari eksperimen menjijikkan tersebut," kata Hillary.


(up/ir)


Bakteri Saling Mengorbankan Diri Hadapi Gempuran Obat

Boston, Terbentuknya koloni bakteri super bisa digambarkan dengan semboyan gugur satu tumbuh seribu. Dalam proses itu, bakteri yang sudah lebih dulu kebal akan mati-matian menghadapi antibiotik dan memberi kesempatan bakteri lain membentuk kekebalan sendiri.

Sebelum terbentuk sebuah koloni bakteri super, awalnya hanya ada beberapa bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Bakteri kebal yang jumlahnya tidak banyak inilah yang akan pasang badan ketika menghadapi gempuran obat.

Bakteri-bakteri kebal tersebut akan melepas senyawa indol, yakni senyawa organik yang berperan dalam kekebalan sel. Senyawa ini memberi kemampuan bagi bakteri untuk bertahan hidup di lingkungan yang kejam akibat adanya tekanan dari antibiotik.

Bagi banyak bakteri lain di dalam koloni tersebut, lepasnya senyawa ini merupakan sinyal untuk membentuk pertahanan sendiri terhadap antibiotik. Namun bagi si bakteri super sendiri, terlepasnya indol akan melemahkan kekebalan dan tak jarang membuatnya mati saat menghadapi serangan antibiotik.

Ketika bakteri super melemah atau mati, sebagian bakteri lain sudah mempunyai kekebalan sendiri sehingga bisa menghadapi antibiotik. Sebagian lainnya memang mati, namun yang bertahan akan berkembangbiak dan menghasilkan koloni bakteri super yang sudah tidak mempan lagi terhadap antibiotik yang sama.

Dikutip dari Dailymail, Senin (6/9/2010), mekanisme ini terungkap secara tidak sengaja oleh tim ahli dari Boston University. Sebenarnya peneliti hanya ingin mengamati bagaimana bakteri super dapat bertahan dan kemudian berkembang biak membentuk koloni baru setelah yang lainnya mati.

"Ternyata beberapa di antara bakteri super itu mati, namun sejumlah bakteri super lainnya terbentuk setelah bakteri super yang pertama mengorbankan diri," ungkap Prof James Collins, pakar mokrobiologi yang memimpin penelitian tersebut.

Secara alami bakteri memang melepas senyawa indol dalam kadar tertentu sebagai bentuk pertahanan diri saat menghadapi ancaman. Pemberian antibiotik akan menghentikan pelepasan tersebut, dan membuat bakteri melemah kemudian mati.

Menurut Prof James, temuan ini membuktikan bahwa bakteri hidup sebagai komunitas dan tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri. Dengan pemahaman ini maka pengembangan antibiotik perlu dilakukan melalui studi di tingkat populasi, bukan hanya di tingkat organisme.


Selasa, 25 Januari 2011

Ini Dia 10 kesalahan Dokter Yang Paling Memalukan di Dunia

Saya yakin tak seorang dokterpun mau melakukan kesalahan dalam melakukan pengobatan terhadap pasiennya. tetapi ini benar-benar terjadi dan menjadi catatan buruk bagi dunia kedokteran. ini dia 10 kesalahan dokter yang paling memalukan dalan memberikan pelayanan medis terhadap pasiennya :

01. Salah tanam Sperma
Ketika Nancy Andrews, dari Commack, NY, menjadi hamil setelah mengikuti program bayi tabung di sebuah klinik kesuburan di New York. mereka mereka mengharapakan anak yang lebih menarikdari orang tuanya.Setelah tes DNA yang disarankan dokter di klinik tersebut, maka pihak klinik kemudian secara sengaja menggunakan sperma orang lain untuk ditanamkan ke sel telur Nancy Andrews’ . Ketika bayi mereka lahir pada 19 Oktober 2004, mereka menuntut karena tindakan malpraktik yang dilakukan klinik tersebut.

02. Salah cangkok jantung dan paru-paru,
Jésica Santillán seorang gadis berusia 17 tahun, seorang imigran Meksiko,datang ke Amerika Serikat untuk mencari perawatan medis atas jantung dan paru-parunya. Kemudian ia menjalani transplantasi Jantung & paru-paru oleh Dokter Ahli Bedah Rumah Sakit di Universitas Duke di Durham, NC, Namun ia meninggal 2 minggu kemudian setelah menerima jantung dan paru-paru pasien dari golongan darah yang tidak cocok dengan dia. Santillán, yang memiliki jenis darah-O, telah menerima organ dari tipe donor A . Dokter di Duke University Medical Center gagal untuk memeriksa kompatibilitas sebelum operasi dimulai. Santillán meninggal pada operasi kedua yang dimaksudkan untuk mencoba memperbaiki kesalahan, dia menderita kerusakan otak dan komplikasi yang kemudian berakibat fatal.

03. Salah Ambil Testis
Kasus malpraktek lainnya dialami oleh Benjamin Houghton seorang veteran angkatan udara. Dokter melihat adanya gangguan pada testis sebelah kiri dan memutuskan untuk melakukan operasi untuk membuangnya. namun pada saat operasi dokter justru melakukan kesalahan dengan membuang testis sebelah kanan yang sehat. Pasien tersebut kemudian mengajukan ganti rugi sebesar Us$200.000 karena kesalahan fatal tersebut

04. Souvenir 13 Inch
Donald Church, 49 tahun, memiliki tumor di perut ketika ia tiba di Universitas Washington Medical Center di Seattle pada bulan Juni 2000. Ketika dia kembali, tumor sudah tidak ada namun sebuah logam retractor sepanjang 13 Inci ketinggalan didalam rongga perutnya. Untunglah, Dokter Ahli Bedah mampu mengangkat retractor tersebut segera setelah ditemukan, dan ia tidak mengalami kesehatan jangka panjang akibat dari kesalahan tersebut. Rumah sakit setuju untuk membayar ganti rugi sebesar US$ 97,000.

05.Operasi ....salah pasien!!
Joan Morris (nama samaran) adalah perempuan 67 tahun menjadi korban malpraktek yang sangat memalukan. ia yang seharusnya menjalani operasi otak justru jantungnya yang dibedah. Wanita tersebut sudah di meja operasi selama satu jam, dan dokter telah membuat torehan -torehan di dada, artery, alur dalam sebuah tabung dan snaked atas ke dalam hatinya (prosedur dengan risiko perdarahan, infeksi, serangan jantung dan stroke). namun tiba-tiba seorang dokter dari depatemen lain menelepon dan bertanya “apa yang anda lakukan dengan pasien saya?” tidak ada yang salah dengan jantungnya ! “. dokter bedah itupun memeriksa catatan medis pasien dan menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan yang fatal.

06.Mengoperasi otak di sisi yang salah
selama periode tahun 2007 dokter di RS Rhode Island tercata 3 kali melakukan malpraktek. kejadian pertama pada bulan Februari dimana dokter membuat lubang pada sisi kepala yang salah. kemudia Agustus, seorang pria 86 tahun meninggal tiga minggu setelah seorang ahli bedah di Rumah Sakit Rhode Island secara tidak sengaja melakukan operasi di salah satu sisi kepalanya. Untuk yang ketiga kalinya terjadi Nov 23 2007. perempuan 82-an tahun menjalani suatu operasi untuk menghentikan pendarahan otak dan tengkorak nya. J neurosurgeon di rumah sakit memulai mengoperasi pengeboran sisi sebelah kanan kepala pasien, meskipun sebuah CT scan menunjukkan perdarahan di sebelah kiri,

07. Membuang kaki yang salah
Mungkin ini adalah kasus yang paling terkenal yakni kasus kesalahan pemotongan kaki di Tampa (Florida) terhadap pria 52 tahun Willie King, saat prosedur pemotongan pada Februari 1995. Akibat kesalahan fatal rumah sakit tersebut di cabut licensi nya selama 6 bulan dan denda 10.000 US$ dan membayar 900.000 US$ terhadap Willie King dan terakhir tim operasi membayar juga 250.000 US$ terhadap King

08.membuang Ginjal yang sehat
seorang pasien yang dirujuk ke Rumah Sakit Park Nicollet Metodhist Louis Park, Minnesota, karena memiliki tumor yang diyakini menjadi kanker. Namun, dokter salah mendiagnosa dan membuang ginjal yang sehatnya. “Penemuan ini dilakukan pada hari berikutnya ketika diperiksa oleh tim patologi dan tidak menemukan bahwa ginjal yang diaggap berpotensi kanker, ternyata utuh dan berfungsi dengan baik.

09. Bangun ketika dioperasi
Pria dari Virginia Barat ini mengaku terbangun dari Pingsannya ketika dioperasi dan merasakan setiap sayatan dari pisau bedah yang dilakukan tim dokter yang mengoperasi. Hal ini menyebabkan trauma selama dua minggu kemudian, Sherman Sizemore kemudian mengajukan tuntutan ke Rumah Sakit Umum Raleigh Beckley, W.Va., Jan 19, 2006 untuk operasi penyelidikan dan menentukan penyebabnya ia terbangun. Dia dilaporkan mengalami fenomena yang dikenal sebagai kematirasaan kesadaran – sebuah kondisi di mana seorang pasien bedah dapat merasakan sakit, tekanan atau kegelisahan saat operasi, tetapi tidak dapat bergerak atau berkomunikasi dengan dokter.

10.Salah bypass artery
Dua bulan setelah dua kali operasi bypass jantung yang dimaksudkan untuk menyelamatkan hidupnya, pelawak dan mantan Pembawa acara Saturday Night Live. Dana Carvey mendapat berita bahwa ahli bedah jantung telah mem bypassed artery yang salah. Perlu dilakukan operasi darurat untuk menghilangkan sumbatan yang dapat membunuh pria 45 tahun ini. Carvey membawa perkara terhadap rumah sakit tersebut, dengan mengatakan ahli bedah telah melakukan kesalahan fatal dan menuntut US $ 7,5 juta
bila ingin mengcopy mohon cantumkan link ke artikel ini
http://kusnadiyono.blogspot.com/2009/12/10-kasus-malpraktek-dunia-medis.html

Sumber:
http://www.medicalnewstoday.com/articles/11856.php
http://www.nydailynews.com/news/2007/03/22/2007-03-22_what_a_mess_baby-1.html
http://www.cbsnews.com/stories/2003/03/16/60minutes/main544162.shtml
http://www.associatedcontent.com/article/204268/veteran_has_wrong_testicle_removed.html
http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0025712502000160
http://seattlepi.nwsource.com/local/49883_error08.shtml
http://www.msnbc.msn.com/id/21981965/
http://findarticles.com/p/articles/mi_m1355/is_n19_v87/ai_16717100
http://wcco.com/local/kidney.surgery.methodist.2.679062.html
http://www.msnbc.msn.com/id/18040894/
http://www.fda.gov/fdac/features/2000/500_err.html
DIPOSKAN OLEH KUSNADIYONO SIP DI 05.49
LABEL: KESEHATAN

Sabtu, 18 Desember 2010

Kemoterapi Diduga Mempercepat Kematian Dari 27% Kasus yang Ada.

National Confidential Enquiry into Patient Outcome and Death (NCEPOD) menemukan bahwa lebih dari 4 dari 10 pasien yang menerima kemoterapi sampai akhir hidupnya telah menderita efek samping yang fatal dari kemoterapi dan perawatan ini dinilai “tidak tepat”.

Dari suatu studi, para dokter telah dihimbau untuk supaya lebih berhati-hati dalam menawarkan perawatan kanker ke pasien yang sedang sekarat karena kemoterapi lebih sering membawa dampak yang membahayakan dibandingkan dampak kesembuhan.
National Confidential Enquiry into Patient Outcome and Death (NCEPOD) menemukan bahwa lebih dari 4 dari 10 pasien yang menerima kemoterapi sampai akhir hidupnya telah menderita efek samping yang fatal dari kemoterapi dan perawatan ini dinilai “tidak tepat”.
Dalam suatu studi yang meneliti lebih dari 600 pasien kanker yang meninggal dalam waktu 30 hari selama menerima kemoterapi, diduga bahwa kemoterapilah yang menyebabkan dan mempercepat kematian dari 27% kasus yang ada.
Hanya 35% dari semua kasus ini dinilai baik oleh “dokter penganjur”-nya, dengan 49% mangalami perbaikan dan hanya 8% yang mendapatkan perawatan yang memuaskan.
Dalam paradigma medis konvensional, kemoterapi merupakan perawatan standar untuk kanker. Pasien membayar jutaan rupiah per bulannya untuk kemoterapi dengan harapan mereka akan sembuh dari kanker.
Namun, perawatan yang “mahal” ini adalah pengobatan yang sangat toksik atau beracun, memperpendek usia pasien menjadi hanya beberapa bulan saja, atau lebih buruk lagi, kurang dari itu dan membuat kanker makin mengganas.
Kerugian fatal dari kemoterapi adalah ia menghancurkan sel-sel sehat diseluruh tubuh pasien bersamaan dengan sel kanker. Sel-sel sehat yang dihancurkan adalah sel yang berada di:
• Sumsum tulang, yang berfungsi memproduksi darah.
• Sistem pencernaan.
• Sistem reproduksi.
• Kantung rambut.
Dalam studi yang dilakukan oleh NCEPOD yang meneliti lebih dari 600 pasien kanker yang meninggal dalam waktu 30 hari selama menerima kemoterapi, diduga bahwa kemoterapilah yang menyebabkan serta mempercepat kematian dari 27% kasus yang ada.
“Mayoritas pasien kanker di Negara ini (Amerika) meninggal karena kemoterapi, yang tidak bisa menyembuhkan kanker payudara, usus, ataupun kanker paru-paru. Hal ini telah terdokumentasikan selama lebih dari satu decade, namun demikian para dokter tetap saja memakai kemoterapi ubtuk melawan tumor-tumor ini,” ujar Dr. Allen Levin, MD, pengarang buku The Healing of Cancer.
Berdasarkan suatu studi yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Oncology edisi December 2004, disamping kemoterapi merupakan standar “emas” perawatan di dunia medis konvensional, dalam kurun waktu 5 tahun, ia hanya memiliki tingkat keberhasilan orang yang selamat sangat sedikit, yaitu 2% dari SEMUA KANKER.
Jika Anda atau seseorang yang Anda kasihi telah terdiagnosa kanker, saya sarankan supaya Anda berinisiatif melakukan pencarian kesembuhan di luar medis konvensional dan mendidik diri sendiri dengan pengetahuan kesehatan, melengkapi Anda dengan kebijaksanaan untuk mengambil keputuan yang tepat untuk melawan kanker. Jangan memiliki kepercayaan seratus persen kepada dokter Anda karena keputusan seperti ini sangat-sangat penting untuk diserahkan begitu saja ke tangan seorang dokter konvensional.
Vitamin D – Perawatan yang Aman dan Murah
Seiring perkembangan jaman, kanker mengalami peningkatan kasus setiap tahunnya. Kanker merupakan momok tersendiri dari sekian banyaknya penyakit di dunia ini. Banyak orang bingung apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Ada banyak cara untuk mengatasi (mencegah atau menyembuhkan) kanker, tanpa harus menerima efek sampingnya. Salah satunya adalah VITAMIN D.
Calcitriol adalah hormon steroid alami yang paling penting dalam tubuh kita, dan ia diproduksi dalam jumlah banyak pada jaringan tubuh yang memiliki banyak kandungan vitamin D-nya. Namun, pada penderita kanker, kadar vitamin D – nya rendah.
Calcitriol berfungsi dalam mempengaruhi pembedaan sel dan mengontrol perkembangbiakan sel yang tujuan utamanya adalah melindungi kita dari kanker. Orang dengan kadar vitamin D rendah kurang bisa memproduksi calcitriol (vitamin D yang telah aktif) dalam jumlah yang cukup untuk mengendalikan perkembangbiakan sel-sel kanker.
Tingkat vitamin D yang optimal secara sinergis membantu perawatan terhadap kanker. Telah ada lebih dari 830 penelitian yang memperlihatkan keefektifan vitamin D dalam perawatan kanker.
Bukan hanya pendekatan alami ini aman tanpa efek samping, tapi ia juga sangat murah tanpa harus diterapkan dengan bantuan seorang ahli.
Tips Mencegah Kanker
Mengoptimalkan tingkat vitamin D akan mengurangi resiko Anda terkena kanker lebih dari 50%. Tapi diperlukan juga langkah-langkah lainnya dalam mencegah terkena kanker.
Yang paling utama adalah mengatur pikiran dan perasaan Anda supaya tetap positif. Kebanyakan dari penyakit yang ada disebabkan oleh karena adanya pikiran dan perasaan negatif yang tak terkendali. Jika Anda fokus pada rasa sakit, kesedihan atau kepahitan, beberapa penyakit akan datang ke dalam hidup Anda.
Tapi jika Anda selalu fokus pada apa yang Anda “ingin” alami (sudah pasti ingin yang baik-baik saja) dan menaruh energi ke kebiasaan atau gaya hidup yang sehat, tubuh Anda akan meresponnya secara positif.
Beberapa hal yang bisa membantu melenyapkan pikiran dan perasaan negatif adalah doa, meditasi, dan rekreasi.
Dr. Ryke Geerd Hamer juga memiliki tehnik yang menakjubkan dalam German New Medicine-nya untuk mengatasi konflik emosional sebagai langkah awal menyembuhkan penyakit.
Beberapa hal lainnya yang perlu diperhatikan dalam mencegah kanker:
• Memiliki pola makan yang sehat disesuaikan dengan tipe nutrisi Anda.
• Berolah raga.
• Menghindari makanan buatan pabrik, junk food, manis-manis dan banyak karbohidrat (untuk mengendalikan tingkat insulin Anda).
• Banyak makan masakan tradisional dan mentah.
• Menyeimbangkan rasio lemak omega-3 dan omega-6 dengan mengkonsumsi minyak yang baik, yaitu minyak kelapa, minyak ikan, dan minyak zaitun. Minyak kelapa sawit, jagung, babi, dan kedelai tidak baik untuk tubuh Anda jika dijadikan kebiasaan untuk dikonsumsi.
• Memiliki tidur yang cukup, karena kebanyakan hormon yang Anda butuhkan, diproduksi pada saat Anda tidur dimalam hari.
Jika Anda membutuhkan resep alami, tanpa efek samping, dan tanpa operasi untuk menyembuhkan segala jenis kanker, silahkan klik di sini.
Link referensi:
http://www.timesonline.co.uk/tol/news/uk/health/article5138033.ece
http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2008/12/02/chemotherapy-can-do-more-harm-than-good.aspx

Kamis, 16 Desember 2010

Sebuah Survei Telah Membuktikan Bahwa Ternyata Dokter Lebih Beresiko Mematikan Daripada Pemilik Senjata Api

Inilah kenyataan yang harus kita terima. hasil survei yang dilakukan oleh the Institute of Medicine (IOM) masih terbilang rendah karena hanya melihat dari angka kematian pasien di dalam rumah sakit saja. IOM merupakan organisasi non-profit yang menyediakan anjuran kebijakan kesehatan di bawah piagam kongresional terhadap the National Academy of Sciences.

Suatu laporan yang luas dipublikasikan menjelaskan bahwa sebanyak 98.000 orang meninggal tiap tahunnya di Amerika Serikat oleh karena malpraktek dokter dan angka yang ada bisa saja lebih banyak dari yang ada. Angka perkiraan dari the Institute of Medicine (IOM) masih terbilang rendah karena hanya melihat dari angka kematian pasien di dalam rumah sakit saja. IOM merupakan organisasi non-profit yang menyediakan anjuran kebijakan kesehatan di bawah piagam kongresional terhadap the National Academy of Sciences.
Janet M. Corrigan yang adalah direktur Service Kesehatan IOM, mengatakan kepada para reporter di sebuah pertemuan singkat Capitol Hill, 8 Mei, bahwa studi yang ada tidak memperhitungkan kematian karena kesalahan perawatan medis di rumah, di UGD, atau juga di kantor dokter. Perkiraan angka kematian rendah juga karena kebanyakan informasi yang ada didasarkan pada tinjuan dokumentasi medis. Malpraktek merupakan suatu masalah yang telah tersembunyi dari publik jauh-jauh hari sebelumnya.
Dalam perhitungan Dr. Mercola, memperlihatkan perbandingan yang sangat mencengangkan, lebih buruk dari laporan artikel yang asli (karena studi yang asli kurang baik) berikut beberapa angka yang patut dipertimbangkan:

Jumlah dokter di Amerika Serikat = 700.000
Kematian karena dokter per tahun = 120.000
Angka kematian per dokter = 0,171

Jumlah pemilik senjata api di Amerika Serikat = 80.000.000
Kematian karena senjata api per tahun (segala umur) = 1.500
Angka kematian per pemilik senjata api = 0,0000188

Oleh karena itu, dokter 9.000 kali lebih berbahaya dibandingkan pemilik senjata api.

Referensi: http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2000/05/14/doctor-accidents.aspx

Journal of the American Medical Association (JAMA) : Para Dokter Adalah Penyebab Kematian No 3 tertinggi di Amerika Serikat

Perkiraan kematian karena kelalaian manusia ini masih lebih rendah dibandingkan perkiraan-perkiraan dari laporan terbaru Institutes of Medicine. Dan jika perkiraan lebih tinggi dipergunakan, maka angka kematian oleh karena penyebab iatrogenic bisa mencakup 230.000 sampai 284.000
Bahkan dengan perkiraan lebih rendah yaitu 225.000 kematian per tahun, ini sudah menjadi dasar atas kesimpulan bahwa dokter merupakan penyebab kematian utama ketiga di Amerika Serikat sesudah penyakit jantung dan kanker

Artikel ini merupakan salah satu artikel terbaik dari Journal of the American Medical Association (JAMA) yang dipublikasikan secara umum, mendukumentasikan tragedi dari paradigma pengobatan konvensional.
Pengarang artikel ini adalah Dr. Barbara Starfield dari the Johns Hopkins School of Hygiene and Public Health, dan dia mendeskripsikan bagaimana sistem kesehatan Amerika Serikat memiliki sistem kesehatan yang buruk.
SEMUA INI ADALAH ANGKA KEMATIAN PER TAHUN:
• 12.000 – karena operasi yang tidak perlu.
• 7.000 – karena kesalahan pengobatan di rumah sakit.
• 20.000 – karena kesalahan lainnya di rumah sakit.
• 80.000 – karena infeksi di dalam rumah sakit.
• 106.000 – karena efek samping negatif dari obat.
Total keseluruhan adalah 225.000 kematian per tahunnya karena penyebab iatrogenic!!
Iatrogenic adalah kondisi yang disebabkan oleh karena perawatan dokter terhadap suatu penyakit atau keadaan. Istilah ini biasanya digunakan sebagai komplikasi dari suatu perawatan.
Dr. Starfield menyerukan beberapa peringatan dalam mengartikan “angka-angka maut” di atas:
• Pertama, kebanyakan data yang ada berasal dari studi atas para pasien yang dirawat inap.
• Kedua, perkiraan ini hanya menunjukkan angka kematian dan belum termasuk efek negatif yang berhubungan dengan cacat atau ketidaknyamanan.
• Ketiga, perkiraan kematian oleh karena kesalahan, masih lebih rendah dibandingkan dalam laporan IOM (Institute of Medicine).
Jika perkiraan lebih tinggi dipakai, kematian oleh karena iatrogenic bisa mencapai antara 230.000 sampai dengan 284.000. Dalam kasus apapun, 225.000 kematian per tahun menjadi dasar atas kesimpulan bahwa dokter merupakan penyebab kematian utama ketiga di Amerika Serikat sesudah penyakit jantung dan kanker. Bahkan walaupun jika perkiraan ini dianggap melebih-lebihkan, terdapat bentang pemisah yang lebar antara angka-angka ini dengan angka-angka pada penyakit jantung.
Analisa lainnya menyimpulkan bahwa antara 4% dan 18% dari pasien mengalami efek negatif pada setting rawat jalan, dengan:
• 116 juta kunjungan ekstra dari dokter
• 77 juta resep ekstra
• 17 juta kunjungan bagian gawat darurat
• 8 juta rawat inap
• 3 juta admisi jangka panjang
• 199.000 angka kematian tambahan
• $77 miliar biaya ekstra yang dihabiskan
Biaya tinggi sistem kesehatan diperhitungkan sebagai defisit tapi tetap ditolerir karena dengan asumsi bahwa kesehatan yang lebih baik dihasilkan dari perawatan yang lebih mahal. Namun bagaimanapun juga, bukti dari beberapa studi mengindikasikan bahwa sebanyak 20% sampai 30% pasien mendapatkan perawatan yang tidak baik.
Diperkirakan juga 44.000 sampai 98.000 di antara mereka meninggal setiap tahunnya dikarenakan kesalahan medis.
Hal ini bisa ditolerir lebih kecil lagi jika dihasilkan dari kesehatan yang lebih baik, tapi benarkah jika demikian? Sebagai perbandingan terbaru, dari 13 negara, Amerika Serikat menduduki peringkat rata-rata ke 12 (kedua dari bawah) dari 16 angka indikator. Lebih spesifik lagi, urutan peringkat dari Amerika Serikat terhadap beberapa indikator adalah:
• Ke 13 (paling akhir) untuk indikasi persentasi kelahiran dengan berat rendah (low-birth-weight).
• Ke 13 untuk indikasi kematian bayi baru lahir dan kematian balita secara keseluruhan.
• Ke 11 untuk indikasi kematian balita.
• Ke 13 untuk indikasi potensi resiko kematian (tidak termasuk penyebab luar).
• Ke 11 untuk indikasi harapan hidup sampai satu tahun bagi perempuan, tapi urutan ke 13 bagi laki-laki.
• Ke 10 untuk indikasi harapan hidup sampai 15 tahun bagi perempuan, tapi ke 12 bagi laki-laki.
• Ke 10 untuk indikasi harapan hidup sampai 40 tahun bagi perempuan, tapi ke 9 bagi laki-laki.
• Ke 7 untuk indikasi harapan hidup sampai 65 tahun bagi perempuan, tapi ke 7 bagi laki-laki.
• Ke 3 untuk indikasi harapan hidup sampai 80 tahun bagi perempuan, dan ke 3 juga bagi laki-laki.
Performa buruk Amerika Serikat di atas telah dikonfirmasi kebenarannya oleh penelitian WHO, dengan memakai data yang berbeda dan memberi Amerika urutan ke 15 di antara 25 negara industri lainnya.
Ada suatu pernyataan umum bahwa masyarakat Amerika memiliki kebiasaan buruk dengan merokok, minum-minuman keras, dan kekerasan perilakunya. Namun bagaimanapun juga, data-data berikut tidak menyokong pernyataan tadi.
• Proporsi untuk perempuan yang merokok mencakup 14% di Jepang, 41% di Denmark. Di Amerika Serikat, 24% (kelima terbaik). Untuk laki-laki, mencakup 26% di Swedia, 61% di Jepang dan 28% di Amerika Serikat (ketiga terbaik).
• Amerika menduduki peringkat ke 5 terbaik untuk indikasi konsumsi minum-minuman beralkohol.
• Amerika Serikat secara relative rendah mengkonsumsi lemak hewani (kelima terendah untuk laki-laki berusia 55-64 tahun di 20 negara industri) dan ketiga terendah untuk indikasi konsumsi kolesterol jahat untuk laki-laki berusia 50 sampai 70 tahun di antara 13 negara industri.
Perkiraan kematian karena kelalaian manusia ini masih lebih rendah dibandingkan perkiraan-perkiraan dari laporan terbaru Institutes of Medicine. Dan jika perkiraan lebih tinggi dipergunakan, maka angka kematian oleh karena penyebab iatrogenic bisa mencakup 230.000 sampai 284.000
Bahkan dengan perkiraan lebih rendah yaitu 225.000 kematian per tahun, ini sudah menjadi dasar atas kesimpulan bahwa dokter merupakan penyebab kematian utama ketiga di Amerika Serikat sesudah penyakit jantung dan kanker
Teknologi yang kurang canggih tentu bukan faktor penyebab rendahnya ranking kesehatan Amerika Serikat.
• Di antara 29 negara, Amerika Serikat menduduki urutan kedua sesudah Jepang dalam hal ketersediaan unit penggambaran resonansi magnetic dan scanner tomography per juta penduduk.
• Jepang, bagaimanapun juga, menduduki peringkat tertinggi di bidang kesehatan, dimana Amerika hanya mendapat kedudukan di antara terendah.
• Adalah mungkin bahwa penggunaan tinggi akan teknologi di Jepang dibatasi oleh teknologi diagnosis tidak sebanding dengan angka tinggi untuk perawatan, dimana Amerika, pemakaian tinggi teknologi diagnosis berhubungan dengan perawatan lebih.
• Menyokong hal-hal di atas adalah data yang menunjukkan bahwa jumlah karyawan rumah sakit per tempat tidur di Amerika Serikat adalah paling tinggi di antara negara lainnya, dimana Jepang sangat sedikit, jauh lebih sedikit karena kebiasaan umum masyarakat Jepang dimana anggota keluargalah yang menyediakan kebutuhan selama rawat inap, bukannya karyawan.

Referensi:
• Journal American Medical Association July 26, 2000;284(4):483-5
• http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2000/07/30/doctors-death-part-one.aspx

Tak ingin Jadi Korban Malpraktek Dokter? Inilah Cara Menghindarinya

Healindonesia, Awan, 11 September 2008
Seringkali pasien percaya begitu saja dengan apa yang diberikan oleh dokter atau pihak rumah sakit tanpa cek ulang. Bisa dimaklumi karena pasien tdak paham sama sekali mengenai pengobatan. Beberapa kali saya mendapati kenalan, teman, atau kerabat saya sering diberikan infus, obat dan diet yang salah.

Sekarang ini sudah makin marak pemberitaan di media massa tentang kasus-kasus malpraktek. Hal ini bukanlah kasus malpraktek biasa, tapi kasus-kasus mengejutkan yang ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga Amerika Serikat yang adalah salah satu negara maju dan “super power”.
Saya percaya Anda tidak ingin kasus malpraktek dokter menimpa keluarga, sahabat, orang lain yang Anda kasihi, atau bahkan Anda sendiri. Pasien sudah cukup menderita dengan penyakit yang dideritanya, dan adalah harapan pasien untuk jangan sampai ada penderitaan tambahan oleh karena malpraktek. Ini sama saja dengan “sudah jatuh tertimpa tangga”. Kerugian atau penderitaan karena malpaktek bukan hanya rugi di segi waktu, uang dan energi dimasa sekarang saja, tapi lebih dari itu, pasien bisa kehilangan masa depan atau nyawanya.
Jika hal ini telah terjadi, penyesalan akan muncul belakangan dan kita pun tidak bisa kembali lagi ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan yang ada, karena waktu tidak bisa diputar mundur.
Untuk menghindari terjadinya malpraktek pada kasus Anda atau orang lain yang Anda kasihi, berikut tips dari pengalaman saya pribadi yang bisa Anda terapkan dengan mudah (walaupun rumah sakitnya berstandar internasional, tetaplah lakukan tips ini).
1. Cek Infus, Pengobatan, dan Diet Yang Diberikan oleh Pihak Rumah Sakit
Jika Anda atau kenalan Anda di rawat inap, catat merk & jenis infus, obat, dan diet yang diberikan pihak rumah sakit. Setelah itu carilah info mengenai apa yang Anda catat tadi, di internet lewat Search Engine Google. Cermati info yang Anda dapat dari internet dan bandingkan dengan kondisi sakit yang pasien hadapi.
Seringkali pasien percaya begitu saja dengan apa yang diberikan oleh dokter atau pihak rumah sakit tanpa cek ulang. Bisa dimaklumi karena pasien tdak paham sama sekali mengenai pengobatan. Beberapa kali saya mendapati kenalan, teman, atau kerabat saya sering diberikan infus, obat dan diet yang salah.
Ada jutaan obat dipakai oleh dokter dan tidak mungkin kita bisa menghafal manfaat, pengaruh dan efek sampingnya. Oleh karena itu, adalah tindakan yang cukup cerdik jika kita memakai fasilitas internet untuk mengetahui tentang obat-obatan yang diberikan kepada pasien.

Sebagai contoh, saya ceritakan kasus yang terjadi pada Ibu saya sendiri 2 tahun yang lalu. Ibu menderita kanker payudara, hipertensi, dan asma. Usia beliau 48 tahun. Ketika dirawat di rumah sakit, beliau diberikan cairan infus, Sodium Chloride, yaitu garam murni yang sangat tidak cocok untuk hipertensi. Beliau juga diberikan obat antibiotik yang tidak cocok dengan kondisi beliau saat itu. Yang paling kacau adalah, untuk minum sehari-hari beliau diberikan sirup manis, bukannya air putih. Kondisi Ibu makin memburuk dan dokter memutuskan untuk menjalankan kemoterapi. Saya yang pada waktu itu masih di luar kota, langsung bergegas pergi untuk melihat keadaan beliau.
Sungguh memprihatinkan, beliau saya temui dalam kondisi tidak bisa bergerak kemana-mana, selalu sesak nafas, sakit kepala, badan bengkak penuh cairan dan selalu diberikan oksigen. Saya cek perawatan yang diberikan oleh pihak rumah sakit dan saya dapati pihak rumah sakit telah memberikan perawatan yang salah.
Saya melarang keluarga untuk melanjutkan saran-saran dari rumah sakit dan meminta mereka untuk sesegera mungkin memulangkan beliau. Keluarga pun menuruti saran saya dan Ibu bisa segera pulih dari semua kondisi tadi hanya dalam waktu seminggu.
Jika Anda mengalami kesulitan dalam hal pengecekan ketepatan pemberian infus, obat, dan diet yang diberikan oleh Rumah Sakit, saya bersedia membantu melalui telepon 08174745269 atau email (healindonesia@gmail.com ).
2. Cari Pendapat Kedua bahkan Ketiga
Setiap orang tentu memiliki pendapat yang berbeda, begitu juga dengan dokter. Mereka memiliki pengalaman, ilmu, dan terlebih lagi hati nurani yang berbeda. Semua perbedaan ini bisa jadi bahan pertimbangan yang baik bagi Anda. Jika perbedaan pendapat antara dokter yang satu dengan yang lain makin lebar, sadarlah berarti Anda tidak jauh dari kasus malpraktek. berarti Anda harus memilih salah satu dari saran mereka, atau tidak sama sekali.
3. Jika Memungkinkan Cari Dokter yang Anda Kenal Baik Karakternya
Apakah Anda rela jika Anda atau keluarga Anda ditangani oleh dokter yang hanya peduli untuk mengejar setoran? Apa Anda juga rela jika Anda tahu dokter tersebut cuek dan tidak memperhatikan pasiennya dengan baik? Apa Anda suka mendapatkan dokter yang sangat jarang bertanya keluhan Anda, apa yang Anda rasakan dan paling parah, tidak mau menyentuh Anda karena rasa jijik? Yang menyentuh Anda justru hanya perawatnya saja.
Jika Anda mendapat sikap atau perlakuan demikian, cepat-cepatlah “kabur” dan cari dokter atau rumah sakit lainnya. Ingat, kerugian atau penderitaan karena malpaktek bukan hanya rugi di waktu, uang dan energi dimasa sekarang saja, tapi lebih dari itu, Anda bisa kehilangan masa depan atau nyawa!
4. Dapatkan Dokter dari Rekomendasi Orang Terpercaya
Ini adalah cara yang bijaksana. Tanyakan orang lain yang Anda kenal dan percaya, untuk mendapatkan referensi dokter yang baik bagi Anda. Ini akan mengurangi resiko malpraktek karena teman Anda sudah “mengalami” dokter yang dia rekomendasikan tersebut. Pelanggan yang tidak puas pasti tidak akan mengatakan sebaliknya tentang pelayanan yang buruk.
5. Waspadai Politik Informasi Tertutup
Jika dokter dan perawat tidak pernah menjelaskan kepada Anda rencana pengobatan mereka, apa dan untuk apa pengobatan itu, dan juga tidak memperbolehkan Anda dan keluarga melihat hasil lab, Anda HARUS SESEGERA MUNGKIN langsung cabut dari rumah sakit itu.
Ada berjuta-berjuta jiwa telah mengalami kasus malpraktek, baik kasus ringan yang membuat penyakit makin parah sampai dengan kasus yang mengakibatkan kematian. Saya percaya beberapa dari Anda sudah pernah mengalami atau melihat orang yang menjadi korban malpraktek, bukan?!
Ini harus segera dihentikan dan saya percaya, bisa dihentikan dimulai dari diri sendiri, yaitu memperlengkapi diri dengan pengetahuan yang cukup mengenai masalah ini. “Knowledge is power and the truth will set us free.” Karena tidak tahu arah, seseorang bisa tersesat. Karena kurang pendidikan, seseorang dibodohi oleh yang lebih pintar. Dan karena tidak mengerti kesehatan dan sistem kesehatan konvensional, seseorang jadi korban malpraktek.
.



Rabu, 15 Desember 2010

Malpraktek Dokter di Indonesia

”Dari hari ke hari, dokter menjadi tambah pintar berkat makin banyaknya kasus dan pergaulan sesama dokter. Tapi di sisi lain pasien tak pernah bertambah pintar. Mereka adalah orang awam yang polos, lugu dan pasrah pada apa kata dokter,” papar Hendrawan yang banyak mengasuh rubrik konsultasi kesehatan di sebuah media masa

JAKARTA – Mata Murnawati berkaca-kaca menahan tangis. Walau sudah tiga tahun peristiwa itu berlalu, masih terlekat jelas bagaimana Oka, putrinya, kehilangan nyawa. Barangkali hati ibu setengah baya ini tak terlalu perih kalau kematian Oka normal-normal saja. Namun nyawa Oka melayang dalam usia begitu muda, 5,5 tahun, justru karena tindakan malpraktek dokter.
”Tiga orang dokter di sebuah rumah sakit anak terkemuka di Jakarta terlibat dalam malpraktek yang membuat anak saya meninggal. Padahal rumah sakit tersebut sudah menjadi langganan keluarga saya selama sepuluh tahun,” ungkap Murnawati kepada pers dalam acara peluncuran buku Sang Dokter di Jakarta baru-baru ini.
Oka yang demam disertai muntah-muntah selama satu malam tidak mendapat perawatan apa pun dari dokter di rumah sakit. Padahal Murnawati tidak kurang ”rewel” memohon agar dokter segera menangani putrinya.
”Dokter pertama hanya menuliskan resep tanpa menyentuh putri saya. Dokter kedua justru menegur saya yang tidak memberi minum, padahal anak saya selalu muntah tiap kali disuapi sesuatu. Dan dokter ketiga lagi-lagi cuma menjanjikan akan memberi resep, menyentuh anak saya pun tidak,” ujar perempuan ini dengan nada terisak. Baru setelah anaknya menghembuskan nafas terakhir, seluruh tim medis berdatangan.
Murnawati tidak diam saja terhadap peristiwa ini. Ia menghadap direktur rumah sakit dan mengadukan semuanya. Sang direktur berjanji akan menindak tegas dokter-dokternya. Tapi hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, ketiga dokter tersebut tetap bebas merdeka berpraktek di rumah sakit yang sama.
Ibu tiga anak ini tak patah semangat. Ia bahkan berani mengadu ke Menteri Kesehatan (Menkes) saat itu, Dr.FA. Moeloek. Namun sampai era Menkes saat ini, Ahmad Sujudi, kerja keras Murnawati belum mendapat titik cerah. Sekarang ibu ini tengah menunggu proses tuntutan terhadap ketiga dokter tersebut melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Ia tak tergoda dengan tawaran uang ganti rugi sebesar Rp10 juta dari rumah sakit. Tuntutan ganti rugi yang diajukannya Rp 1,5 miliar, tanpa bergeming sepeser pun.
Murnawati hanya salah satu dari warga masyarakat yang dirugikan oleh kesalahan ahli medis berprofesi dokter. Menurut Dr. Hendrawan Nadesul, dokter sekaligus kolomnis pemerhati masalah sosial, antara dokter dengan pasien ada satu jurang yang luar biasa dalam.
”Dari hari ke hari, dokter menjadi tambah pintar berkat makin banyaknya kasus dan pergaulan sesama dokter. Tapi di sisi lain pasien tak pernah bertambah pintar. Mereka adalah orang awam yang polos, lugu dan pasrah pada apa kata dokter,” papar Hendrawan yang banyak mengasuh rubrik konsultasi kesehatan di media massa ini.
Ibarat kata, kalau ada pertandingan antara tim dokter melawan tim pasien maka selamanya tim pasien tidak akan pernah bisa menang melawan. Kondisi memprihatinkan macam inilah yang kerap terjadi di Indonesia.
Memang tidak semua dokter berlaku sewenang-wenang terhadap pasien. Semua kembali pada tipe dokter macam apakah ia. Dr. Bahar Azwar, penulis buku Sang Dokter mengategorikan dokter di Indonesia ke dalam empat tipe.
”Pertama adalah dokter dengan jurus ”angin puyuh”, yakni terdapat di banyak klinik swasta. Rata-rata pasiennya 40-50 orang per hari. Ia buka praktik dari pukul 16.00 sampai pukul 22.00. Dikurangi waktu untuk acara makan ringan, sembahyang, berarti ia memberi waktu enam menit per pasien,” papar dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Siaga Raya, Jakarta ini pada kesempatan serupa.
Tipe kedua adalah dokter ”ban berjalan”. Bahar memberi contoh dokter kebidanan di sebuah rumah sakit swasta dengan pasien rata-rata 30 orang, sedangkan jam praktiknya hanya dua jam. Para pasien akan disuruh antri di beberapa tempat tidur sekaligus. Saat memeriksa tempat tidur pertama, pasien lain disuruh membuka baju, begitu seterusnya. Mirip dengan tipe ”angin puyuh”, dokter jenis ini harus cepat bertindak dan menekankan efisiensi.
Dokter ”memukul angin” adalah tipe ketiga. Di sini terjadi di mana sekali periksa, seorang dokter langsung memutuskan agar pasien dioperasi tanpa banyak perundingan dengan pasien atau keluarganya. Dan tipe terakhir adalah yang jarang ditemui di kota besar, yakni dokter ”amanah”. Biasanya dokter ini ada di desa-desa terpencil, di mana pasiennya tidak bisa membayar dengan uang nominal.
(SH/merry magdalena)
Referensi: http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2002/093/kes4.html