Tampilkan postingan dengan label Kearifan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kearifan Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2011

Kemuliaan Hidup Sperma dan Salmon Yang Ksatria

Jangan lupakan darimana dirimu berasal, karena untuk itulah tujuan hidupmu, untuk kembali kepada Tuhanmu...

Mungkin itulah petuah mereka seandainya diberi kemampuan untuk berbicara. Siapa mereka? mereka adalah Sperma dan Ikan Salmon. Kita bisa banyak belajar dari kegigihan mereka dalam menunaikan apa yang telah menjadi tugas hidupnya.


Perjalanan Panjang Penuh Ujian

Salmon sebenarnya adalah ikan penjelajah samudra, ia bisa ditemukan di Pasifik dan Atlantik. Sekalipun besar di lautan, ia bertelur di air tawar. Saat tiba masa untuk bertelur, Salmon dengan instingnya, berangkat dari samudra menuju hulu sungai, di saat inilah merupakan momen yang paling dramatis dalam siklus hidupnya karena resiko kematian saat berada di sungai lebih besar dibandingkan saat ia berada di samudra.


Salmon harus bersusah payah menerjang melawan derasnya arus sungai, terkadang harus melompati tempat yang lebih tinggi. Tak hanya itu saja, Salmon harus menghadapi predator-predator seperti Beruang dan Elang. Begitulah beratnya perjalanan yang harus dihadapi Salmon selama berada di sungai. Apa yang dilakukannya tak lebih hanya untuk kembali ke tempat asal ia dibesarkan kemudian ia bertelur di sana.

Image courtesy by Michael S. Nolan - telegraph.co.uk

Apa yang dilakukan Salmon mirip sekali dengan sperma di dunia mikro. Perjalanan yang harus ditempuh sperma dari vagina hingga menuju ovarium atau tuba falopi untuk bertemu dengan sel telur, sama dengan perjalanan kita menempuh jarak 10 mil.

Selama perjalanan itu, sperma pun harus menghadapi resiko kematian yang tak sedikit, mulai dari konsentrasi asam di vagina dan leher rahim yang bisa membunuhnya, lalu terhalang oleh cervical mucus yang membentengi mulut rahim. Sekalipun ia berhasil sampai di tempat sel telur, ia pun harus menghadapi kenyataan hanya satu sperma yang terpilih dari jutaan sperma yang berlomba.


Kemuliaan Di Akhir Perjalanan Hidup

Apa yang dilakukan Salmon dan sperma tersebut bukanlah puncak kehidupannya melainkan masuk ke tahap terakhir siklus hidupnya. Tidak ada Salmon ataupun sperma yang hidup atau pulang. Segera setelah mereka menyelesaikan tugasnya, mereka akhirnya mati.

Salmon mati segera setelah ia bertelur

Inilah sebuah gambaran hidup yang menakjubkan dan penuh sifat ksatria pada ikan Salmon dan sperma. Kemuliaan hidup mereka ada pada kegigihan mereka dalam menunaikan atau menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya yang telah diamanahkan Tuhan kepada mereka, di situlah letak kemuliaan mereka.

Kegigihan ikan Salmon menempuh jalan ke tempat ia berasal

Kematian pasti akan terjadi pada kita. Nilai sebuah kehidupan terletak pada bagaimana kita menjadikan kehidupan itu penuh dengan kemuliaan, hingga di saat akhir hidup kita bisa mati dengan bangga karena telah menunaikan apa yang telah Tuhan perintahkan kepada kita.

Berbanggalah orang-orang yang selama hidupnya dipenuhi dengan kebaikan, selalu bersabar menghadapi ujian hidup, dan tak pernah menyerah untuk bangkit dari keterpurukan. Orang-orang itulah yang sebenar-benarnya berjiwa ksatria yang dipandang mulia di hadapan Tuhan.

Minggu, 24 Oktober 2010

"MENU TAK SEDAP" Dalam Sejarah Islam


Dalam sejarah umat Islam pernah dikenal suatu kebiasaan membuat "MENU YANG TAK SEDAP", bahkan masih terjadi hingga saat ini:

  • Walau tak jelas "MENU" ini darimana berasal, tapi kita tidak takut memakainya;
  • Walau "MENU" ini dilarang dalam al-Qur'an, akan tetapi masih juga kita buat;
  • Walau "MENU" ini sangat dinistakan oleh Allah SWT., masih juga digemari oleh kita;
  • Walau kita sebenarnya tahu "MENU" ini hasil racikan syaithan, masih juga kita menikmatinya.


"MENU" YANG MEMBUAT NOKTAH KELAM DALAM SEJARAH UMAT ISLAM

"MENU" ini telah menimbulkan noktah kelam dalam sejarah umat Islam dengan memakan korban yang tidak tanggung-tanggung yaitu keluarga Rasulullah saw. sendiri:

  • Fitnah keji perselingkuhan atau perzinahan yang dituduhkan kepada Ummul Mukminin yang saleh, Aisyah rha., kisahnya telah diabadikan oleh Allah di dalam al-Qur'an sebagai peringatan abadi bagi manusia tentang bahaya fitnah dan ancaman adzab bagi yang melakukannya:

    Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. [Q.S. an-Nuur 24:11]

  • Menantu Beliau, yaitu Ali bin Abi Thalib dan kedua cucu tersayangnya, Hasan dan Husain, harus terbunuh karena "MENU TAK SEDAP" ini.

  • "MENU TAK SEDAP" ini pula yang menyebabkan terbunuhnya sang Dzunnurain (pemilik dua cahaya), julukan bagi Utsman bin Affan. Tentang Utsman, Rasulullah saw. pernah memuliakannya dengan bersabda: "Tidakkah aku malu pada orang yang malaikat pun malu kepadanya?" Rasulullah saw. pun pernah berkata kepada putrinya Ruqayyah yang menjadi istri Utsman: "Hormatilah Utsman, karena ia termasuk sahabatku yang ahlaknya paling mirip denganku!" Tak cukup dengan itu, saat Ummu Kultsum (putri kedua Rasulullah saw. yang juga dinikahkahkan kepada Utsman setelah kematian Ruqayyah), lagi-lagi wafat, Rasulullah saw. bersabda: "Seandainya aku masih punya anak gadis, maka akan kunikahkan lagi dengan Utsman!" Itulah sosok Utsman yang rupawan, pedagang handal, pemalu, sangat berbudi, berahlak luhur dan beragama kuat. Beliau dipilih dan didaulat menjadi Khalifah ketiga tanpa keinginannya, jabatan yang diamanahkan kepadanya itu, ia pertahankan dengan kematiannya.

Akibat terbunuhnya Khalifah Umar bin Khaththab oleh Abu Lu'lu'an, membuat umat Islam saat itu banyak kehilangan tokoh-tokoh panutan yang sangat disegani masyarakat karena pada periode berikutnya, seorang khalifah yang berhati lembut, saat lebih memilih jalan kelembutan dalam menjalankan roda kekhalifahannya, telah dikhianati oleh segolongan oportunis yang mengejar keuntungan dunia belaka.

Dibukanya peluang untuk "Kebebasan Berpendapat" oleh Khalifah Utsman, telah disalahgunakan bahkan dimanipulasi oleh para oportunis, hingga berkembang menjadi "MENU YANG TAK SEDAP". Dimulai dari tingkah laku berkata-kata yang lantang tapi tidak santun, isinya menghujat dan menentang yang lebih banyak didorong oleh kebencian dan iri hati, dan syaithan pun semakin gencar menghembuskan lebih banyak lagi isu-isu.


TAHUKAH ANDA, APA "MENU TAK SEDAP" ITU?

Itulah Fitnah, Tajasus, Ghibah, Rofas, berprasangka buruk, mengolok-olok dengan memberi gelar yang buruk. Itu semua adalah hal-hal yang sangat menjijikkan di mata Islam yang diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri (tak pernah ada hal yang dijijikkan al-Qur'an setara dengan ini).

Sekalipun al-Qur'an mewanti-wanti begitu perbuatan menjijikkan tersebut, tapi toh sekarang ini malah dijadikan tren dan menjadi tolok ukur "gaul" di kalangan umat muslim sendiri!!

MENU TAK SEDAP itu adalah MENU-DUH



TRAGEDI UTSMAN DAN ALI BERMULA DARI MENU-DUH

Khalifah Utsman bin Affan adalah sosok yang sangat lembut dan penyayang. Sungguh-sungguh sangat disayangkan bila sosok yang begitu santun dan lembut harus terbunuh oleh fitnah-fitnah besar.

Demikian kuat fitnah, isu, dan rumor yang menyerang sang Dzunurain waktu itu, hingga para sahabat pun enggan ikut campur dan "membiarkan" sang khalifah ke 3 menantu Rasulullah saw. ini dikepung pemberontak berhari-hari bahkan berminggu-minggu sampai akhirnya beliau dibunuh, dicabik dan jenazahnya dibiarkan berhari-hari!!

Kebiasaan yang merusak Islam itu, saat ini juga sangat kuat melanda negeri yang kita cintai ini. Infotainment yang melanggar tuntunan al-Qur'an bahkan makin digemari saja oleh para ibu-ibu Muslim seolah-olah mereka bukan muslim, karena tak peduli dengan al-Qur'an, kitab yang penuh petunjuk agung (al-Huda).

MENU-DUH itu bahkan dijadikan alat pencari uang (pemerasan) atau popularitas, naudzubillahi mindzaliik. Mencari uang dengan menghancurkan azas Islam!!

Bukankah Rasulullah saw. mengajarkan kita untuk selalu cek dan ricek setiap ada berita?! Itu semua agar kita tidak merugikan orang lain. Rasulullah saw. bersabda bahwa sesungguhnya menggunjing sesama muslim adalah sama haramnya seperti darahnya! Dan sesungguhnya fitnah lebih kejam dari pembunuhan!

Parahnya, sekarang perilaku MENU-DUH sudah menjadi kebanggaan dengan sesukanya dilontarkan dan dipublikasikan lewat media, bahkan hingga berakhir di pengadilan yang ujung-ujungnya ganti rugi uang.


GUNAKAN AKALMU... INI BUKAN ISLAM !

Fitnah atau seringkali dihaluskan dengan istilah "gosip", tidak hanya bisa membunuh orang, tapi juga menghancurkan hidup keluarganya dan orang-orang yang tak bersalah di sekitarnya. Efeknya lebih luas lagi bagi lingkungan ia hidup. Itulah mengapa Rasulullah saw. memperingatkan bahwa:

Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan !!!

Gosip Infotainment adalah budaya orang barat, sedangkan mereka tidak mengenal ajaran dalam Islam. Sehingga wajar mereka tidak mengenal batasan norma kesantunan dan perilaku hidup yang beradab. Islam tidak pernah mengajarkan Gosip Infotainment sebagai suatu ibadah, bahkan Islam menegaskan dengan sangat jelas sebagai hal yang menjijikkan. Jadi, bila kita sendiri yang mengaku sebagai muslim sudah menganggap Gosip Infotainment adalah sebagai suatu kewajaran, maka tak ubahnya kita layaknya orang yang bukan Islam bahkan bisa disebut sebagai orang yang tidak beradab.

Ketika Gosip Infotainment membela diri dengan dalih Hak Asasi, lalu bagaimana dengan hak asasi korban yang digosipkannya yang telah dilanggar mereka?!

Sering kita mendengar propaganda di media-media: "Kalau tidak benar silahkan tuntut balik".Inilah budaya tuntut-menuntut yang pasti selalu diiringi ancaman ganti rugi material berupa uang yang jumlahnya selangit melebihi kadar permasalahan yang sebenarnya.

Memang benar Islam telah mengajarkan wajibnya sebuah pembuktian dan kesaksian yang menguatkan, tapi Islam pun memberi landasan untuk tetap menjaga kesantunan, bertindak arif, dan menjunjung tinggi musyawarah. Menuntut balik tuduhan adalah hak, tetapi Islam lebih mengajarkan untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan lagi.

Di dalam al-Qur'an banyak sekali Allah SWT. mengajak kita untuk berfikir "Apakah kamu tidak berfikir?! (Afala ta'qilun)". Oleh karena itu kita harus berfikir cerdas untuk mensikapi ajaran-ajaran barat yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Bila kita tetap bersikukuh ajaran-ajaran barat tersebut sebagai hal yang modern dan wajar, lalu bagaimana mungkin pemikiran barat yang bersumber dari akal bisa begitu kita biarkan mengalahkan kitabullah al-Qur'an yang turun dari langit?!

Bukankah Islam sudah ditargetkan menjadi musuh bagi beberapa tokoh barat yang "kurang atau tidak mengerti Islam"?! Marilah kita bertindak cerdas dengan menolak "MENU TAK SEDAP" ini, jangan sampai harus ada orang baik yang menjadi korban seperti Utsman "Dzunurrain" bin Affan.

Sabtu, 16 Oktober 2010

Persahabatan Ahmadi Nejad dan Paus Benedict Karena Pembakaran al-Quran

photo courtesy: www.time.com

Islam itu bagaikan air, tidak remuk ketika ditekan melainkan meluber ke ruang yang lain, semakin ditekan justru akan semakin berkembang. Sifat dari air ini tentunya merupakan isyarat dari langit bahwa kasih sayang Ilahi akan selalu menang di atas kedzaliman mahluk-Nya, kelembutan Ilahi akan selalu di atas dari tindak kekerasan mahluk-Nya, dan keadilan Ilahi akan selalu berdiri tegak di tengah-tengah usaha manusia yang sia-sia untuk merobohkannya.

Sekalipun terjadi banyak konspirasi yang mengarahkan "Tragedi 11 September 2001" menjadi sebuah fitnah besar terhadap Islam, tetapi justru dari usaha buruk itulah ternyata lebih berdampak memunculkan minat kalangan non muslim mempelajari lebih dalam ajaran Islam.

Dialog Pendeta Terry Jones (Gereja Gainesville Florida) dan Imam Muhammad Musri (President of the Islamic Society of Central Florida) di Dove World Outreach Center, Gainesville, Florida, pada tanggal 9 September 2010. Dialog yang dilakukan 3 hari sebelum "International Burn a Koran Day" ini, akhirnya menyurutkan Terry Jones untuk membatalkan rencananya.

Begitupun ketika pendeta Terry Jones hendak membakar al-Quran, justru hubungan Muslim dan Nasrani semakin solid. Kalangan Nasrani lebih banyak mengecam tindakan pembakaran al-Quran ini karena dikhawatirkan akan semakin memicu legitimasi tindak kekerasan dan teror di antara kedua agama.

Salah satu contohnya, akibat dari rencana Terry Jones, malah menciptakan persahabatan yang solid antara Paus Benedict XVI dan Ahmadi Nejad. Kehangatan hubungan keduanya bermula ketika Paus secara terbuka menyatakan kecamannya terhadap aksi Terry Jones yang dianggapnya sebagai sebuah aksi penodaan agama yang bisa melukai hati umat Islam di seluruh dunia. Rasa simpati Paus terhadap umat Islam itulah kemudian membuat salut Ahmadi Nejad.

Hubungan Paus dan Ahmadi Nejad sebenarnya sempat retak di masa lampau khususnya ketika Iran secara resmi menggelar konferensi para penolak kebenaran tragedi Holocaust, The International Conference - Review of the Holocaust: Global Vision, yang diselenggarakan di Teheran, 11-12 Desember 2006. Konferensi ini hendak membahas dan menyatukan visi tentang kebenaran Holocaust yang dianggap sebagai sebuah teori konspirasi Zionis Israel saja.

Paus saat itu menyayangkan itikad Pemerintah Iran yang menggelar konferensi ini, yang disebutnya telah menyakiti para keluarga korban Holocaust kekejaman Nazi Jerman. Kritik Paus ini mungkin didasari pula dari 67 peneliti yang berasal dari 30 negara, hadir pula sebagai pembicara seorang aktifis yang terkenal dengan sikap rasisnya yaitu David Duke yang merupakan politisi Amerika yang mengusung idealisme supremasi kulit putih dan merupakan mantan pimpinan organisasi rasialis anti warga kulit hitam, Ku Klux Klan. Selain itu hadir pula Georges Thiel, seorang penulis produktif dari Perancis yang kental dengan propaganda kebohongan Holocaust.


Perbedaan pandangan antara Paus dan Ahmadi Nejad tentang Holocaust ini, kemudian dipersatukan kembali setelah adanya gembar-gembor rencana pembakaran al-Quran oleh komunitas umat Pendeta Terry Jones. Pasca Paus mengutarakan secara terbuka menyatakan simpatinya terhadap umat Islam dan kecamannya terhadap rencana aksi pembakaran al-Quran, Presiden Iran, Mahmoud Ahmadi Nejad, memberikan hormat simpatinya terhadap apresiasi Paus Benedict XVI tersebut dengan mirilis sebuah surat terbuka yang ditujukannya kepada Paus.

Surat terbuka ini dirilis oleh situs resmi kepresidenan Iran pada 6 Oktober 2010 sebagaimana yang dilaporkan kantor berita IRNA, dan berikut cuplikan redaksi surat Ahmadi Nejad kepada Paus:


Bismillahirrahmanirrahim
Yang terhormat Paus Benedictus XVI
Pemimpin Katolik Sedunia

Saya menyampaikan salam hangat dan persahabatan kepada Anda serta mengucapkan terima kasih atas sikap Anda mengecam aksi penistaan terhadap al-Quran yang dilakukan sebuah gereja di Florida, Amerika Serikat, yang sangat menyakitkan hati umat Islam sedunia.

Situasi di dunia saat ini dan pengabaian umat manusia terhadap ajaran agama tauhid akibat dampak dari gerakan seperti sekularisme dan humanisme ekstrim Barat, serta kecenderungan berlebihan manusia kepada materialisme, profit oriented, dan hawa nafsu, yang terus meningkat, melebarkan peluang untuk dekadensi umat manusia khususnya hubungan keluarga dan generasi muda. Oleh karena itu kerjasama erat dan interaksi antar agama langit dalam rangka mencegah gerakan destruktif tersebut sudah menjadi hal yang tidak dapat dihindari.

Risalah tertinggi para nabi Allah SWT. adalah seruan tauhid, serta penentangan terhadap kezaliman dan perwujudan keadilan. Atas dasar ini, para penganut agama-agama Ibrahim harus terdepan dalam memperkokoh keadilan, pemberantasan kezaliman dan kejahatan, serta dalam mencegah dualisme dan diskriminasi yang tidak menghasilkan apapun kecuali penumpukan kebencian yang diikuti dengan berbagai friksi dan problema dalam kancah internasional.

Republik Islam Iran sebagai sistem pemerintahan agama dan demokratis, senantiasa menekankan kerjasama erat dan perluasan hubungan bilateral dengan Vatikan sebagai prioritas dalam politik luar negerinya. Masalah penyelesaian kendala yang dihadapi umat manusia termasuk penistaan atas kesucian agama langit dan nabi-nabi Allah SWT., serta gerakan anti-agama, Islamophobia, dan goyahnya ikatan suci keluarga, termasuk di antara masalah penting yang dibahas dalam interaksi konstruktif dengan markas suci tersebut (Vatikan).

Seraya menyampaikan penghormatan khusus atas pandangan-pandangan keadilan dan kepedulian Anda dalam menafikan diskriminasi dan kekerasan, serta penekanan kembali atas posisi agama dan penghambaan dalam menyelesaikan problema dunia, saya juga menyampaikan kesiapan Republik Islam Iran dalam membantu mengubah sistem zalim yang berkuasa di dunia.

Saya berharap dengan pertolongan Allah SWT. dan dalam kerjasama timbal balik, kita dapat menyaksikan peningkatan kecenderungan umat manusia ke arah spiritualitas serta perwujudan perdamaian dan keadilan di dunia.

Saya memohon kepada Allah SWT. agar Anda selalu sehat dan berhasil dalam menyebarkan risalah para nabi.

Mahmoud Ahmadi Nejad
Presiden Republik Islam Iran



SUMBER:

Jumat, 15 Oktober 2010

Tidak Perlu Kecewa, Karena Allah Memuliakan Anak Perempuan



...Dan jika kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
[Q.S. an-Nisaa' 4:19]


ATAS DOSA APAKAH BAYI PEREMPUAN ITU HINGGA KITA TIDAK MENYUKAINYA?

Mengapa kita harus kecewa dengan bayi perempuan? Padahal Allah SWT. telah memuliakan mereka. Salah satu misi yang diemban Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam (saw.) dalam mendakwahkan Islam pada penduduk Arab saat itu adalah untuk menghapus pemikiran yang terbelakang bahwa mempunyai bayi perempuan adalah aib. Hingga Arab jahiliyah pada saat itu tidak segan-segan untuk mengubur bayi-bayi perempuan yang tidak berdosa tersebut, dan Allah SWT. mencela perbuatan ini:

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. [Q.S. an-Nahl 16:58-59]

Mungkin kita tidak akan sekejam itu, tetapi rasa kecewa dengan lahirnya anak perempuan karena yang kita harapkan bayi laki-laki, sungguh akan mempengaruhi cara kita membesarkan anak perempuan tersebut. Mungkin kita akan lebih banyak memarahinya, tidak begitu peduli dengan perkembangannya, bahkan mungkin kita akan tidak akan menganggapnya sebagai anak kita, na audzubillahi min dzalik...

Dulu, terjadi pembunuhan fisik terhadap bayi perempuan, namun tanpa kita sadari, kita pun nyaris berlaku sama hanya karena kekecewaan kita terhadap bayi kita yang perempuan. Kekecewaan tersebut bisa menjadi sumber awal dari petaka terjadinya "pembunuhan karakter" si anak yang pada akhirnya akan menyiksa batinnya. Ia akan selalu dihantui perasaan menyesal menjadi seorang perempuan karena ia beranggapan ia telah menjadi sosok yang tidak diinginkan oleh kita, dan ia pun akan merasa seperti tidak merasa punya sosok orang tua. Semuanya itu hanya bermula dari rasa kekecewaan kita.

Tidakkah kita sadari, bagaimana bila seandainya Allah SWT. menciptakan kita justru sebagai bayi perempuan? Tentunya kita pun akan merasakan hal yang serupa.

Begitu memperhatikannya Allah terhadap nasib bayi-bayi perempuan, hingga Allah pun berbalik bertanya menyindir kepada kita:

Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh? [Q.S. at-Takwiir 81:8-9]


KEMULIAAN ITU TIDAK TERLETAK PADA GENDER

Sesungguhnya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang telah berfirman:

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah Yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. [Q.S. al-Israa' 17:31]

Inilah jaminan dari Allah Azza wa Jalla, bahwa gender anak tidak menentukan apakah ia akan menjadi anak kebanggaan kita sebagai orang tuanya, atau apakah kelak ia malah menyusahkan kita? Sungguh, gender anak tidak ada sangkut pautnya dengan kekhawatiran kita yang berlebihan dan mengada-ada tersebut.

Yang menjadi tolak ukur dari kesuksesan dan keberhasilan hidup dari setiap manusia adalah derajat ketakwaannya, bukan gender. Sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman:

...Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu... [Q.S. al-Hujuraat 49:13]

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [Q.S. an-Nahl 16:97]


TIDAK PERLU KECEWA, KARENA ALLAH TELAH MEMULIAKAN ANAK PEREMPUAN

Di dalam Islam, mempunyai anak perempuan adalah ibadah dan tentunya hal ini terdapat keutamaan dan kemuliaan di dalamnya. Berikut adalah sabda Rasulullah saw. yang menggambarkan keutamaan dan kemuliaan mempunyai dan mengasuh anak perempuan:

  • Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa mengasuh dua orang anak perempuan sehingga berumur baligh, maka dia akan datang pada hari Kiamat kelak, sedang aku dan dirinya seperti ini". Dan beliau menghimpun kedua jarinya. [H.R. Muslim]

  • Dari 'Uqbah bin 'Amir, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa memiliki tiga orang anak perempuan, lalu dia bersabar dalam menghadapinya serta memberikan pakaian kepadanya dari hasil usahanya, maka anak-anak itu akan menjadi dinding pemisah baginya dari siksa Neraka." [H.R. Bukhari]

  • Dari 'Aisyah, ia berkata: Ada seorang wanita yang masuk menemuiku dengan membawa dua orang anak perempuan untuk meminta-minta, tetapi aku tidak mempunyai apa-apa kecuali hanya satu butir kurma. Lalu aku memberikan kurma itu kepadanya. Selanjutnya, wanita itu membagi satu butir kurma itu untuk kedua anak perempuannya sedang dia sendiri tidak ikut memakannya. Lantas, wanita itu bangkit dan keluar. Kemudian Nabi saw. datang kepada kami, maka aku ceritakan peristiwa itu kepada beliau, maka beliau pun berkata, "Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, lalu dia mengasuhnya dengan baik, maka anak-anak perempuan itu akan menjadi tirai pemisah dari api Neraka." [H.R. Bukhari dan Muslim]

Rabu, 13 Oktober 2010

Kagumilah Keindahannya dan Janganlah Dipetik


Hiduplah seperti orang dewasa yang arif, jangan seperti seorang anak kecil.

Anak kecil bila ingin dirinya bahagia, setiap kali ia melihat yang bagus, ia selalu berambisi ingin memilikinya. Dia meminta, merengek-rengek, hingga mengamuk memaksa untuk mendapatkannya.

Sungguh disayangkan, saat anak kecil tertarik dengan bunga-bunga yang indah di taman, akhirnya ia pun memetik bunga-bunga indah tersebut, dan tak khayal lagi ia permainkan bunga-bunga yang dipetiknya hingga hancur! Namun setelah ia puas, setelah ia bosan, ditinggalkannyalah bunga-bunga yang tak lagi indah itu, dan taman pun kehilangan keindahannya.

Kagumilah keindahan itu tanpa harus memilikinya sebagaimana saat kita mengagumi keindahan Allah Yang Maha Indah yang tak mungkin kita untuk memilikinya.

Seperti orang dewasa yang mengagumi keindahan bunga-bunga di taman dengan membiarkan bunga-bunga itu hidup dengan keindahannya tanpa memetiknya sehingga orang lain pun bisa menikmati keindahan bunga-bunga itu. Ia sadar, bila ia memetiknya, maka yang ia petik bukanlah keindahannya melainkan sumber hidup dari keindahan itu.

Yang kita ikhtiarkan untuk dimiliki secara suci hanyalah istri kita, pertahankanlah keindahannya yang pernah kaukagumi, dan jangan perburuk dirinya seperti anak kecil tadi.

Dalam hati kita ada dua keindahan, yaitu keindahan ibu kita dan keindahan istri kita, karena keduanya memancarkan keindahan Allah SWT. yang Hakiki. Tetap indahkanlah mereka selalu.

Rabu, 06 Oktober 2010

Khalifah Umar Diprotes Sang Pemabuk


Berikut adalah sebuah kisah unik bagaimana rakyat memprotes pemimpin negaranya yang berlangsung dengan saling menjaga kehormatan masing-masing.

Suatu malam, Umar bin Khaththab melakukan ronda bersama Abdullah ibnu Mas'ud. Di suatu tempat yang terpencil mereka melihat kerlipan cahaya. Dari arah yang sama, mereka mendengar sayup-sayup orang yang bersembunyi. Keduanya mengikuti cahaya itu, dan sampai di sebuah rumah. Diam-diam Umar menyelinap masuk. Ia melihat seorang tua sedang duduk santai. Di hadapannya ada cawan minuman keras dan seorang perempuan yang sedang menari.

Umar kemudian menampakkan diri dan menghardiknya: "Belum pernah aku melihat pemandangan seburuk yang kulihat malam ini. Seorang tua yang menanti ajalnya. Hai musuh Allah, apakah kamu mengira Allah akan menutup aibmu padahal kamu berbuat maksiat?!"

Orang tua itu menjawab: "Jangan tergesa-gesa wahai Amirul Mukminin. Saya hanya berbuat maksiat satu kali. Sedangkan anda menentang Allah sampai tiga kali:

  • Bukankah Tuhan berfirman: Jangan mengintip keburukan orang lain (maksudnya Q.S. al-Hujuraat 49:12), sedangkan anda sendiri telah mengintip.
  • Tuhan berfirman: Masuklah ke rumah-rumah dari pintunya (maksudnya Q.S. al-Baqarah 2:189), sedangkan anda masuk ke sini dengan menyelinap.
  • Anda pun masuk ke sini tanpa ijin, sedangkan Tuhan berfirman: Jangan kamu masuk ke rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta ijin dan mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalamnya (maksudnya Q.S. an-Nuur 24:27).

"Kamu benar!" kata Umar. Umar pun keluar sambil menggigit pakaiannya sambil menangis berbicara kepada dirinya sendiri: "Celaka kau Umar, jika Allah tidak mengampunimu..."

Selama beberapa waktu, orang tua itu tidak pernah menghadiri majelis Umar. Pada suatu hari orang tua tersebut datang ke majelis Umar tetapi ia duduk di barisan paling belakang supaya tidak terlihat oleh Umar. Tetapi Umar melihatnya lalu memanggilnya. Spontan orang tua itupun berdiri dengan cemas karena takut apa yang telah dipergoki Umar diumumkan kepada orang-orang yang ada di majelis tersebut.

"Dekatkanlah telingamu kepadaku" suruh Umar dan ia pun membisikkan sesuatu kepada orang tua tersebut: "Demi Yang Mengutus Muhammad sebagai Rasul, tak seorang pun kuberitahu apa yang kusaksikan pada dirimu, termasuk Ibnu Mas'ud yang saat itu sednag bersamaku juga".

Mendengar hal itu, orang tua itupun menyuruh Umar untuk mendekatkan telinga Umar kepadanya seraya berbisik: "Wahai Amirul Mukminin, begitu pula dengan saya. Demi Yang Mengutus Muhammad dengan haq sebagai Rasul, saya tidak pernah kembali pada perbuatan itusampai aku datang ke majelis ini".

Mendengar hal itu, Umar pun senang dan tiba-tiba bertakbir dengan suara keras. Tentu saja orang-orang di majelis itu heran dan tidak tahu mengapa Umar sang Khalifah bertakbir sekeras itu.


Sumber: Dr. Musthafa Murad, Guru Besar Universitas al-Azhar Mesir dalam bukunya "Kisah Hidup Umar bin Khattab".

Islam Tidak Mengajarkan Demonstrasi Tidak Pula Membolehkannya


Islam itu ajaran yang penuh dengan kelembutan, kasih sayang, santun dan saling menghormati. Saya merasa prihatin dengan kejadian-kejadian demonstrasi di negeri yang kita cintai ini, yang menurut saya tidak pernah saya temukan dalam diri Nabi Muhammad saw. sebagai Uswatun Hasanah (Suri Tauladan Terbaik Bagi Manusia).

Terkadang saya melihat tindakan anarkis dan super ngotot plus nekad yang menyebabkan bentrokan fisik antara demonstran dengan para polisi, sedangkan para polisi pun sebenarnya manusia juga punya nurani dan hanya menjalankan tugas saja.

Terkadang pula sudah melampaui batas melecehkan atau menginjak-nginjak kehormatan seseorang, padahal Islam melarang hal ini baik dalam al-Qur'an maupun yang disampaikan Nabi dalam hadits-haditsnya. Inilah teguran dan larangan dari Allah Ta'ala:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
[Q.S. al-Hujuraat 49:11]

Apakah kita mau disebut tidak beriman karena tidak mengindahkan larangan dari Allah ini?! atau yang lebih parah mungkin apakah kita mau disebut ingkar terhadap firman Allah?! Maha Suci Allah dari kelemahan-kelemahan manusia.

Ada sebuah artikel yang ilmiah dari kalangan ulama Salafi bahwa para demonstran sering salah tafsir bahkan beberapa dalil di antaranya tergolong dalil yang lemah (dhaif). Tentunya hal ini bagi saya lebih menguatkan lagi secara agama bahwa demonstrasi itu lebih banyak madharatnya ketimbang maslahatnya. Berikut cuplikan ulasan artikel ilmiah yang membahas tentang Islam tidak pernah mengajarkan perilaku demonstrasi:


SALAH KAPRAH DALIL DEMONSTRASI
Disarikan dari dirasah Syaikh Ali al-Hasyisy dalam majalah at-Tauhid Mesir
[http://ahmadsabiq.com/2010/06/30/demonstrasi-saat-umar-masuk-islam/]

Ada sebuah kisah tentang masuk Islamnya Umar yang sering dijadikan dalil-dalil penguat untuk melegitimasi aksi demonstrasi. Menurut ulama Salafi, para pelaku demo telah salah tafsir tentang kisah ini.

Sangatlah tidak tepat bila kisah tersebut digunakan untuk membenarkan aksi demonstrasi, karena kisah tersebut tidak ada kaitannya apalagi membenarkan aksi demonstrasi. Hal ini bisa ditinjau dari beberapa hal:

  • Kisah ini lemah bahkan bisa jadi palsu, sedangkan hadits lemah tidak bisa dijadikan hujjah untuk menetapkan suatu hukum dengan kesepakatan para ulama.

  • Anggaplah hadits ini shahih, maka hal ini terjadi di awal masa islam sebelum sempunanya syariat islam sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh bin Baaz.

  • Kalau kita menghayati ayat-ayat al-Qur'an dan as-Sunnah dan kaidah-kaidah syar’i, maka akan kita pastikan bahwa demontrasi tidak diperbolehkan dan bukan termasuk ajaran Islam, berdasarkan beberapa hal berikut:

  1. Mengingkari kemungkaran dengan demonstrasi tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw., dan tidak pernah diamalkan oleh para sahabat serta para ulama setelahnya. Padahal Rasulullah saw. bersabda:
    Barang siapa yang mengamalkan sebuah perbuatan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.
    [H.R. Bukhari dan Muslim]

  2. Demonstrasi produk orang non muslim dan merupakan tasyabuh dengan cara mereka, padahal Rasulullah saw. bersabda:
    Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.
    [H.R. Ahmad 2/50 dan lainnya dengan sanad shahih, lihat al-Irwa':1269]

  3. Kerusakan yang ditimbulkan lebih banyak daripada maslahat yang diharapkan. Hal ini sangat nampak sekali bagi yang memperhatikan semua aksi demo yang ada di negeri kita. Wanita keluar rumah, campur-baur antara laki-laki dengan wanita yang bukan mahrom, mengganggu maslahat umum dengan macetnya jalan dan lainnya, membuat masyarakat takut dan khawatir, dan tidak sedikit mengakibatkan kerusakan gedung maupun lainnya.

    Berkata Imam Ibnul Qoyyim:
    "Apabila seorang merasa kesulitan tentang hukum suatu masalah, apakah boleh ataukah haram, maka hendaklah dia melihat kepada mafsadah (kerusakan) dan hasil yang ditimbulkan olehnya. Apabila tenyata sesuatu tersebut mengandung kerusakan yang lebih besar, maka sangatlah mustahil bila syari’at Islam memerintahkan atau memperbolehkannya bahkan yang dipastikan adalah keharamannya. Lebih-lebih apabila hal tersebut menjurus kepada kemurkaan Allah dan Rasul-Nya, maka seorang yang cerdik tidak akan ragu akan keharamannya."
    [Lihat Madarijus Salikin 1/496]


  4. Rasulullah saw. mengajarkan kalau melihat kemungkaran penguasa maka hendaklah menasehatinya secara rahasia bukan di bongkar di depan umum, serta bersabar atas kedholiman mereka sambil terus memperbaiki diri dan berdo’a untuk mereka.
    Rasulullah saw. bersabda:
    Barang siapa yang ingin menasehati penguasa, maka jangalah menampakkannya, namun hendaklah dia menasehatinya sendirian, jika dia menerimanya, maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak menerima, maka dia telah menunaikan kewajibannya.
    [Hadits shohih, lihat Dhilalul Jannah syaikh al-Albani 1097]


  5. Para ulama ahlus sunnah sejak dahulu sampai sekarang tidak ada yang memperbolehkan aksi semacam ini.

Wallahu a’lam.


SUMBER KISAH DEMONSTRASI UMAR MASUK ISLAM

Singkat cerita, Umar bin Khaththab berkata:

Saat Allah memberiku hidayah untuk masuk Islam, saya pun mengucapkan kalimat La Ilaha Illallahu, tidak ada seorang pun yang lebih saya cintai melebihi Rasulullah. Lalu saya bertanya kepada saudariku: "Di manakah Rasulullah berada?" Dia menjawab: "Beliau berada di rumah Arqom bin Abil Arqom, di bukit Shafa."

Saya pun berangkat ke sana, saat itu Hamzah sedang berada bersama para sahabat lainnya, sedang Rasulullah di ruang dalam rumah. Segera saya mengetuk pintu, para sahabat langsung berkumpul.

Rasulullah segera keluar seraya bertanya: "Kenapa kalian?" Mereka menjawab: "Ada Umar, wahai Rasulullah". Rasulullah pun keluar dan langsung mencengkram kerah bajuku lalu melepasnya, tiba-tiba saya tidak bisa menguasai diriku dan langsung terduduk. Lalu Rasulullah bersabda: "Tidakkah engkau beriman wahai Umar?"

Saya pun langsung berkata: "Saya bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak disembah melainkan Allah, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya".

Orang-orang yang berada di rumah segera bertakbir dengan suara keras sampai terdengar di Masjidil Haram. Saya pun lalu berkata: "Wahai Rasulullah, bukankah kita di atas kebenaran? baik kita mati ataupun hidup?" Rasulullah menjawab: "Ya, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian berada di atas kebenaran baik kalian mati ataupun hidup".

Maka saya bertanya lagi: "Kalau begitu, kenapa sembunyi-sembunyi? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, engkau harus keluar". Maka kami keluar dengan dua barisan, satu barisan dipimpin Hamzah dan yang satunya lagi saya pimpin sehingga kami mendatangi Masjid.

Orang-orang Quraisy saat melihat saya dan Hamzah merasa mendapatkan pukulan berat yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Derajat Kisah Ini

Derajat kisah ini sangat lemah sekali bahkan bisa jadi kisah ini palsu.


Takhrij Kisah 1

Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ 1/40 berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Hasan, berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Shalih berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Aban dari Ishaq bin Abdullah dari Aban bin Shalih dari Mujahid dari Ibnu Abbas dari Umar bin Khaththab.

Abu Nu’aim juga meriwayatkan kisah ini dalam Dala’ilun Nubuwwah no.194 dengan sanad yang sama.


Sisi Kelemahan Kisah

Kisah ini lemah dari sisi sanad maupun matan, Adapun dari sisi sanad adalah karena terdapat seorang yang bernama Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah:

  • Imam an-Nasa’i berkata: "Dia seorang yang matruk (orang yang ditinggalkan haditsnya)".
  • Imam Bukhari berkata: "Para ulama' meninggalkannya".
  • Imam Baihaqi berkata: "Dia matruk".
  • Imam Yahya bin Ma’in berkata: "Dia pendusta".
  • Imam Ibnu Hibban berkata: "Dia membolak-balikkan sanad, me-marfu'-kan hadits mursal, dan Imam Ahmad melarang meriwayatkan haditsnya".

Dan keterangan yang senada dengan ini datang dari para ulama’ lainnya:

  • Lihat Tahdzibul Kamal al-Mizzi 2/57/362;
  • Lihat adh-Dhu’afa’ wal Matrukin oleh an-Nasa’i no.50;
  • Lihat adh-Dhu’afa’ al-Kabir oleh al-Bukhari no.20;
  • Lihat adh-Dhu’afa’ wal Matrukin oleh al-Baihaqi no.94;
  • Lihat al-Majruhin oleh Ibnu Hibban 1/131;
  • Lihat al-Jarh wat Ta’dil oleh Ibnu Abi Hatim no.792;
  • Lihat al-Kamil oleh Ibnu Adi 1/326 dan lainnya.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz menjelaskan bahwa kisah ini lemah karena bersumber dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah, sedangkan dia adalah rawi yang lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah. Seandainya kisah ini shohih, maka harus dipahami bahwa kejadian ini di awal masa Islam yakni sebelum sempurnanya syari’at. [lihat Majmu’ Fatawa wal Maqalat 8/257]


Kelemahan Kisah dari Sisi Matan

Kisah ini bertentangan dengan beberapa riwayat shahih yang menceritakan tentang kisah masuk Islamnya Umar, di antaranya:

Imam Bukhari dalam Shahih beliau no.3865 pada bab "Islamnya Umar bin Khaththab" meriwayatkan dari Abdullah bin Umar berkata:

Tatkala Umar masuk islam, maka orang-orang berkumpul di rumahnya seraya berkata: "Umar telah keluar dari agama nenek moyangnya". Mereka katakan itu sedang saat itu saya masih kecil yang sedang berada di atas loteng rumah. Tiba-tiba datanglah seseorang yang memakai kain sutra lalu berkata: "Apakah yang kalian katakan ini? Padahal saya adalah tetangganya". Akhirnya orang-orang tersebut pun bubar. Saya bertanya: "Siapa ia?" mereka menjawab: "Dia al-Ash bin Wa'il".

Imam Ibnu Katsir dalam Bidayah Wan Nihayah 3/81 meriwayatkan kisah masuk Islamnya Umar, beliau berkata: Berkata Ibnu Ishaq: Telah menceritakan kepadaku Nafi’ maula Ibnu Umar dari Ibnu Umar berkata:

Tatkala Umar masuk Islam, maka beliau bertanya: "Siapa orang Quraisy yang paling bisa untuk menyebarkan berita?". Ada yang menjawab: "Dia Jamil bin Ma’mar al-Jumahi". Maka Umar pun berangkat kepadanya. Sesampainya di sana, maka Umar berkata: "Saya beritahukan kepadamu wahai Jamil, bahwa saya telah memeluk agama Islam dan saya telah masuk dalam agamanya Muhammad".

Segera Jamil berdiri menyeret bajunya ke Masjidil Haram, Umar pun mengikutinya dan saya juga ikut. Saat iu orang-orang Quraisy sedang berada di tempat berkumpul mereka, maka jamil berteriak sekerasnya: "Ketahuilah bahwa Umar bin Khaththab telah murtad dari agama nenek moyang". Maka di belakangnya Umar berkata: "Dia berdusta, yang benar saya telah memeluk agama Islam, saya bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak disembah melankan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya".

Spontan orang-orang Qurasiy menyerangnya dan dia juga menyerang mereka. Mereka berhasil mengalahkan Umar. Saat itu tiba-tiba datanglah seorang lak-laki lalu berkata: "Ada apa dengan kalian?" mereka menjawab: "Umar telah murtad dari agama nenek moyangnya". Dia berkata: "Berhentilah kalian, dia hanya memilih sesuatu untuk dirinya sendiri, lalu apa yang kalian inginkan? Apakah kalian menyangka bahwa Bani 'Adi (kabilahnya Umar) akan membiarkan Umar untuk kalian? bebaskan dia".

Segera orang-orang Quraisy tersebut bubar dan membebaskannya.

Berkata Ibnu Umar: Saya pun bertanya kepada bapakku saat sudah hijrah ke Madinah: "Wahai bapakku, siapakah laki-laki yang membubarkan orang Quraisy saat engkau masuk Islam?" Umar menjawab: "Dia al-Ash bin Wa’il as-Sahmi".

Kisah ini shahih, al-Hakim berkata: "Shahih menurit syarat Muslim", dan disepakati oleh adz-Dzahabi, Imam Ibnu Katsir berkata: "Sanad kisah ini bagus".


Pendapat Syaikh Ali al-Hasyisy:

Kisah ini menunjukkan bahwa masuk Islamnya Umar agak lambat, karena saat perang Uhud yang terjadi tahun 3 Hijriyah, umur Ibnu Umar saat itu 14 tahun, sedangkan saat Umar masuk Islam, dia sudah tamyiz, maka berarti masuk Islamnya Umar sekitar 4 tahun sebelum hijrah, sekitar 9 tahun setelah diutusnya Rasulullah saw.

Yang semakin menunjukkan kelemahan kisah demonstrasi saat Umar masuk Islam maka beliau ada rasa takut akan ancaman orang-orang Quraisy, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari no.3864 dari Abdullah bin Umar berkata:

Saat Umar sedang di rumah ketakutan, tiba-tiba datanglah al-Ash bin Wail as-Sahmi, dia berasal dari Bani Sahm dan mereka adalah sekutu kami saat jahiliyyah. Dia berkata: "Ada apa denganmu?" Umar menjawab: "Orang-rang menyangka bahwa mereka akan membunuhku kalau saya masuk Islam". Dia berkata: "Mereka tidak akan bisa menyakitimu". Lalu keluarlah al-Ash dan dia bertemu dengan orang-orang yang kebetulan datang. Dia berkata: "Kalian mau ke mana?" mereka menjawab: "Kami ingin ke Umar bin Khaththab". al-Ash berkata: "Kalian tidak ada jalan untuk menyakitinya". Akhirnya orang-orang itu pun balik mundur kembali.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Kecerdasan Fisik Manusia Mengalahkan Dinosaurus


Mungkinkah seorang manusia mampu menaklukkan seekor Dinosaurus yang ukurannya super extra-large? Secara ukuran fisik tentu saja tidak mungkin. Foto di atas hanyalah sebuah manipulasi dari cuplikan film "Over The Top", ya namanya juga film tak ada batas untuk berfantasi...


Inilah Fakta Sebenarnya Perbandingan Ukuran Fisik Antara Manusia Dengan Dinosaurus

Mungkin anda kenal dengan film Jurassic Park, dan yang menjadi bintangnya di film tersebut adalah T-Rex (Tyrannosaurus rex), dan inilah perbandingan ukuran fisik sebenarnya dari fosil T-Rex yang lengkap:

T-Rex dan Manusia

Tapi sebentar, T-Rex bukanlah hewan purba karnivora terbesar, masih ada dinosaurus karnivora yang lebih besar dan lebih menyeramkan lagi, Spinosaurus aegyptiacus. Jadi ternyata ada yang lebih menyeramkan lagi dari T-Rex dan inilah ilustrasi perbandingan antara keduanya dan dibandingkan dengan ukuran manusia:

T-Rex dan Spinosaurus

Perbandingan manusia dengan beberapa dinosaurus karnivora

Spinosaurus boleh dibilang mahluk buas terbesar yang pernah hidup di bumi, tapi dari kalangan dinosaurus herbivora ternyata lebih mengerikan lagi ukuran fisiknya. Tengok saja Puertasaurus reuili, ditemukan pertama kali pada tahun 2001 di Argentina. Dinosaurus herbivora ini diperkirakan mempunyai panjang 35-40 meter dan beratnya 88-110 ton.

Perbandingan ukuran T-Rex, Puertasaurus reuili dan manusia

Lagi-lagi, dalam kalangan dinosaurus herbivora ternyata masih ada yang ukurannya gigantik yaitu Amphicoelias fragilimus, panjangnya 40–60 meter dan beratnya diperkirakan sekitar 135 ton.

Amphicoelias fragilimus

Bilamana kita bandingkan keseluruhannya, maka inilah hasilnya bila manusia dibandingkan dinosaurus-dinosaurus yang pernah hidup di muka bumi:




Ukuran Besarnya Fisik Bukan Sebagai Ukuran Kekuatan

Wah-wah... luar biasanya ukuran raksasa mereka kini hanyalah seonggok fosil saja alias "punah"! Bagaimana mungkin ukuran fisik yang begitu raksasa bisa punah tidak bisa bertahan hidup? Wallahu'alam, tentu hanya Allah SWT. yang Maha Mengetahui.

Apa yang mereka bangga-banggakan seperti buasnya rahang mereka, tajamnya gigi mereka, dan besar kekarnya tubuh mereka, ternyata pada akhirnya saat ini hanya tulang-belulang saja yang dijadikan sebuah tontonan. Subhanallah...



Jadi jelaslah bahwasannya kekuatan fisik dan berapapun besarnya, tidak menentukan apakah ia memang kuat dan hebat dalam bertahan hidup atau menguasai alam ini. Tentu Allah Ta'ala mempunyai maksud tertentu dengan sengaja meninggalkan tulang-tulang super raksasa dinosaurus ini untuk kita, manusia, yang hidup sekarang ini:

Ini adalah sebuah pesan Tuhan bagi kita, tidak ada yang dapat disombongkan dari manusia. Bukankah Allah SWT. pernah menciptakan mahluk-mahluk yang luar biasa bentuknya dan manusia pun tidak ada apa-apanya sedikit pun dibandingkan mahluk-mahluk raksasa tersebut. Allah SWT. menunjukkan pula kepada kita, yaitu sangat mudah bagi Allah untuk menciptakan mereka sekaligus memusnahkan mereka. Apalagi dengan kita, manusia? yang sekali diinjak dinosaurus pun akan rata dengan tanah?!


Khalifatu fil Ardh: Manusia Punya Kemampuan Untuk Menundukkan Alam

Sekalipun manusia ukuran tubuhnya tidak ada yang bisa dibanggakan, tapi Allah telah menganugerahkannya dengan banyak sekali kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki mahluk-mahluk lain. Di antaranya bentuk fisiknya paling indah, diberi akal, dan intuisi spiritualisme.

Dengan kelebihan-kelebihan seperti itu, sebuas apapun atau sebesar apapun hewan, ternyata masih dapat ditundukkan oleh manusia bahkan bisa dibuatnya punah atau malahan dijadikan bahan tontonan hiburan. Tengok saja singa, buaya, anakonda, dan hewan buas lainnya ditundukkan berkat akal manusia.




Python sebae, termasuk ular terbesar di dunia, hidup di daerah Afrika, sebagaimana kita ketahui, daya telan dari ular-ular seperti Phyton atau Anaconda sangat luar biasa, ia bisa menelan bulat-bulat mangsanya yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya sendiri.


Di Afrika Selatan, ular ini justru jadi mangsa manusia sebagai menu hidangan di sebuah restoran. Hingga pemerintah di sana telah menetapkan spesies ini terancam punah akibat perburuan yang melonjak. Uniknya cara perburuan di sana boleh dibilang sangat sederhana, hal ini menunjukkan bagaimana manusia dengan kondisi sesederhana apapun tetap punya potensi berbahaya bagi mahluk-mahluk buas. Berikut cuplikan-cuplikan foto perburuan ular Python sebae di Afrika Selatan. Untuk artikel selengkapnya silahkan [klik di sini]


Inilah salah satu bukti bahwa keunggulan manusia bukan pada fisiknya, tetapi pada kecerdasannya. Dengan kecerdasannya tersebut, manusia berpotensi mampu untuk menundukkan alam.


Kecerdasan Fisik Bukan Pada Kekuatan Fisik

"Kecerdasan Fisik" inilah yang tidak dimiliki oleh Dinosaurus, oleh karena itu wajarlah bila mereka hingga kini sudah punah. Otot kekar atau kelihaian dalam bermain kung fu, bukanlah tolak ukur kecerdasan fisik, tetapi ia mampu untuk tetap menciptakan prestasi atau kekuatan tertentu dalam kondisi fisik yang kekurangan.

Sekalipun kita terlahir dengan fisik tidak sempurna, tidak rupawan, ataupun tidak atletis, tapi dengan segala kekurangan itu justru kita bisa memperlihatkan prestasi-prestasi yang menakjubkan. Dari kekurangan fisik itulah akan lahir apa yang dinamakan dengan Kecerdasan Fisik.

Banyak sekali teladan-teladan kecerdasan fisik yang fisiknya tidak sempurna namun ia menghasilkan prestasi yang luar biasa, daftar selengkapnya silahkan baca "Top 10 Extraordinary People With Disabilities".


  • Ludwig van Beethoven (1770-1827)
    Kekurangan Fisik: Tuli
    Beethoven, yang juga murid Mozart, adalah salah satu Komposer Musik Klasik Terhebat di dunia. Pertama kali pentas memainkan piano saat berumur 8 tahun. Salah satu karya musik terbesarnya: the 9th Symphony, the 5th Piano Concerto, the Violin Concerto, the Late Quartets, dan Missa Solemnis.


  • Marla Runyan (January 4, 1969)
    Kekurangan Fisik: Buta
    Marla Runyan mulai buta saat berumur 9 tahun karena mengidap penyakit Stargardt. Marla Runyan memenangkan 3 kali kejuaraan nasional atletik kelas wanita 5000 meter. 4 kali medali emas di Paralympics Musim Panas 1992 dan 1996. Tahun 2000 dinobatkan sebagai atlit paralympic buta pertama di dunia yang berperstasi di ajang Olimpiade Sydney.

Kamis, 30 September 2010

Lidahku Surgaku


Ungkapan Lidah Setajam Pedang memang pantas untuk menggambarkan kekuatan lidah bisa membawa petaka tapi bisa juga membawa berkah. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (saw.) sering mewanti-wanti kita untuk menjaga lidah ini, karena lidah bisa menghanguskan semua amalan ibadah hanya dengan menyakiti hati seseorang.

Ustadz Abu Isma'il Muslim al-Atsari dalam artikelnya "Mengendalikan Lidah" mengupas panjang lebar tentang potensi kekuatan lidah ini, berikut cuplikannya:



NIKMAT LIDAH

Sesungguhnya Allah Ta'ala telah menganugerahkan kepada manusia nikmat yang sangat banyak dan besar. Di antara nikmat Allah yang terbesar, setelah nikmat iman dan Islam, ialah nikmat berbicara dengan lidah, nikmat kemampuan menjelaskan isi hati dan kehendak.

Allah Ta'ala berfirman:

Allah yang Maha pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur`aan. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. [Q.S. ar-Rahmân 55:1-4]

Penciptaan manusia dan pengajaran berbicara kepadanya benar-benar merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang besar. Oleh karena itulah, Allah juga menyebutkan nikmat-Nya tentang penciptaan alat-alat berbicara bagi manusia.

Allah berfirman:

Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. [Q.S. al-Balad 90:8-9] [1]


LIDAH, SENJATA BERMATA DUA

Meski lidah merupakan nikmat yang besar, namun kita perlu mengetahui, bahwasanya lidah yang berfungsi untuk berbicara ini seperti senjata bermata dua. Yaitu dapat digunakan untuk taat kepada Allah, dan juga dapat digunakan untuk memperturutkan setan.

Jika seorang hamba mempergunakan lidahnya untuk membaca al-Qur`ân, berdzikir, berdoa kepada Allah, untuk amar ma'ruf, nahi munkar, atau untuk lainnya yang berupa ketaatan kepada Allah, maka inilah yang dituntut dari seorang mukmin, dan ini merupakan perwujudan syukur kepada Allah terhadap nikmat lidah.

Sebaliknya, jika seseorang mempergunakan lidahnya untuk berdoa kepada selain Allah, berdusta, bersaksi palsu, melakukan ghibah, namimah, memecah belah umat Islam, merusak kehormatan seorang muslim, bernyanyi dengan lagu-lagu maksiat, atau lainnya yang berupa ketaatan kepada setan, maka ini diharamkan atas seorang mukmin, dan merupakan kekufuran kepada Allah terhadap nikmat lidah.[2]

Dengan demikian, lidah manusia itu bisa menjadi faktor yang bisa mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah, namun juga bisa menyebabkan kecelakaan yang besar bagi pemiliknya.

Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam. [H.R. al-Bukhâri no.6478]

Ibnu Hajar al-'Asqalani menjelaskan makna "dia tidak menganggapnya penting", yaitu dia tidak memperhatikan dengan fikirannya dan tidak memikirkan akibat perkataannya, serta tidak menduga bahwa kalimat itu akan mempengaruhi sesuatu. [Lihat Fat-hul-Bâri, penjelasan hadits no.6478]


BENCANA LIDAH

Secara umum, bencana yang ditimbulkan oleh lidah ada dua. Yaitu berbicara batil (kerusakan, sia-sia), dan diam dari al-haq yang wajib diucapkan.

Abu 'Ali ad-Daqqâq (wafat 412 H) berkata: "Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara, sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu".[3]

Orang yang berbicara dengan kebatilan ialah setan yang berbicara, ia bermaksiat kepada Allah Ta'ala. Sedangkan orang yang diam dari kebenaran ialah setan yang bisu, ia juga bermaksiat kepada Allah Ta'ala. Seperti seseorang yang bertemu dengan orang fasik, terang-terangan melakukan kemaksiatan di hadapannya, dia berkata lembut, tanpa mengingkarinya, walau di dalam hati. Atau melihat kemungkaran, dan dia mampu mengubahnya, namun dia membisu karena menjaga kehormatan pelakunya, atau orang lain, atau karena tak peduli terhadap agama.

Kebanyakan manusia, ketika berbicara ataupun diam, ia menyimpang dengan dua jenis bencana lidah sebagaimana di atas. Sedangkan orang yang beruntung, yaitu orang yang menahan lidahnya dari kebatilan dan menggunakannya untuk perkara bermanfaat.

Bencana lidah termasuk bagian dari bencana-bencana yang berbahaya bagi manusia. Bencana lidah itu bisa mengenai pribadi, masyarakat, atau umat Islam secara keseluruhan.

Termasuk perkara yang mengherankan, ada seseorang yang mudah menjaga diri dari makanan haram, berbuat zhalim kepada orang lain, berzina, mencuri, minum khamr, melihat wanita yang tidak halal dilihat, dan lainnya, namun dia seakan sulit menjaga diri dari gerakan lidahnya. Sehingga terkadang seseorang yang dikenal dengan agamanya, zuhudnya, dan ibadahnya, namun ia mengucapkan kalimat-kalimat yang menimbulkan kemurkaan Allah, dan ia tidak memperhatikannya. Padahal hanya dengan satu kalimat itu saja, dapat menyebabkan dirinya bisa terjerumus ke dalam neraka melebihi jarak timur dan barat. Atau ia tersungkur di dalam neraka selama tujuh puluh tahun.[4]

Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka.[5]

Dalam riwayat lain disebutkan bahwasanya beliau saw. bersabda:

Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang ia tidak mengetahui secara jelas maksud yang ada di dalam kalimat itu, namun dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat. [H.R. Muslim no.2988]

Alangkah banyak manusia yang menjaga diri dari perbuatan keji dan maksiat, namun lidahnya memotong dan menyembelih kehormatan orang-orang yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Dia tidak peduli dengan apa yang sedang ia ucapkan. Lâ haula wa lâ quwwata illa bilâhil-'aliyyil-'azhîm.

Sebagai contoh, ialah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw. di bawah ini:

Dari Jundab, bahwasanya Rasulullah saw. menceritakan ada seorang laki-laki berkata: "Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni Si Fulan!" Kemudian sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman: "Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku, bahwa Aku tidak akan mengampuni Si Fulan, sesungguhnya Aku telah mengampuni Si Fulan, dan Aku menggugurkan amalmu". Atau seperti yang disabdakan Nabi. [H.R. Muslim no.2621]

Oleh karena bahaya lidah yang demikian itulah, Rasulullah saw. mengkhawatirkan umatnya.

Dari Sufyan bin 'Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata: "Aku berkata, wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya!" Beliau menjawab: "Katakanlah, 'Rabbku adalah Allah', lalu istiqomahlah". Aku berkata: "Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?". Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda: "Ini". [6]

Syaikh Husain al-'Awaisyah berkata: "Sesungguhnya sekarang ini, sesuatu yang manusia merasa amat tenteram terhadapnya ialah lidah mereka, padahal lidah yang paling dikhawatirkan Nabi saw. atas umatnya. Dan yang nampak, lidah itu seolah-olah pabrik keburukan, tidak pernah lelah dan bosan".[7]


MENJAGA LIDAH

Menjaga lidah disebut juga hifzhul-lisân. Lidah itu sendiri merupakan anggota badan yang benar-benar perlu dijaga dan dikendalikan. Lidah memiliki fungsi sebagai penerjemah dan pengungkap isi hati. Oleh karena itu, setelah Nabi n memerintahkan seseorang beristiqomah, kemudian mewasiatkan pula untuk menjaga lisan. Keterjagaan dan lurusnya lidah sangat berkaitan dengan kelurusan hati dan keimanan seseorang.

Di dalam Musnad Imam Ahmad, dari Anas bin Mâlik, dari Nabi saw., beliau bersabda:

Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, ia tidak akan masuk surga. [8]

Dalam hadits Tirmidzi (no.2407) dari Abu Sa'id al-Khudri, Nabi saw. bersabda:

Jika anak Adam memasuki pagi hari, sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: "Takwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami. Sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah. Jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang". [9]

Oleh karena itu, seorang mukmin hendaklah menjaga lidahnya. Apa jaminan bagi seseorang yang menjaga lidahnya dengan baik? Nabi Muhammad saw. bersabda:

Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya. [10]

Nabi saw. juga menjelaskan, menjaga lidah merupakan keselamatan.

Dari 'Uqbah bin 'Aamir, ia berkata: "Aku bertanya, wahai Rasulullah, apakah sebab keselamatan?" Beliau saw. menjawab: "Kuasailah lidahmu, rumah yang luas bagimu, dan tangisilah kesalahanmu". [H.R. Tirmidzi no.2406]

Maksudnya, janganlah berbicara kecuali dengan perkara yang membawa kebaikan, betahlah tinggal di dalam rumah dengan melakukan ketaatan-ketaatan, dan hendaklah menyesali kesalahan-kesalahan dengan cara menangis. [11]

Imam an-Nawawi (wafat 676 H) berkata: "Ketahuilah, seharusnya setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas maslahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama maslahatnya, maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau makruh. Kebiasaan ini, bahkan banyak dilakukan. Sedangkan keselamatan itu tidak ada bandingannya".

Diriwayatkan dalam Shahîhain, al-Bukhaari (no.6475) dan Muslim (no.47), dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu (ra.), dari Nabi saw., ia bersabda:

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.

Hadits yang disepakati keshahîhannya ini merupakan nash yang jelas. Hendaklah seseorang tidak berbicara kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yang nampak maslahatnya. Jika ia ragu-ragu tentang timbulnya maslahatnya, maka hendaklah ia tidak berbicara.

Imam asy-Syafi'i berkata: "Jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum berbicara hendaklah ia berfiikir; jika jelas nampak maslahatnya, maka ia berbicara; dan jika ragu-ragu, maka tidak berbicara sampai jelas maslahatnya". [12]

Selain itu, lidah merupakan alat yang berguna untuk mengungkapkan isi hati. Jika ingin mengetahui isi hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan lidahnya, isi pembicaraannya, dan hal itu akan menunjukkan isi hatinya, baik orang tersebut mau maupun enggan.

Diriwayatkan bahwasannya Yahya bin Mu'adz berkata: "Hati itu seperti periuk dengan isinya yang mendidih. Sedangkan lidah itu adalah gayungnya. Maka perhatikanlah ketika seseorang berbicara. Karena sesungguhnya, lidahnya itu akan mengambilkan untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis, pahit, tawar, asin, dan lainnya. Pengambilan lidahnya akan menjelaskan kepadamu rasa hatinya". [13]


PERKATAAN PARA SALAF TENTANG MENJAGA LISAN

Sungguh, dahulu para salaf terbiasa menjaga dan menghisab lidahnya dengan baik. Dari mereka telah diriwayatkan banyak perkataan bagus yang berkaitan dengan lidah. Berikut ini ialah sebagian dari pembicaraan mereka, sehingga kita dapat memetik manfaat darinya.

Diriwayatkan, bahwasanya 'Umar bin al-Khaththab berkata: "Barang siapa banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barang siapa banyak tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barang siapa banyak dosa-dosanya, neraka lebih pantas baginya". [14]

Diriwayatkan, bahwasanya Ibnu Mas'ud pernah bersumpah dengan nama Allah, lalu berkata: "Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih pantas terhadap lamanya penjara daripada lidah! Di muka bumi ini, tidak ada sesuatu yang lebih pantas menerima lamanya penjara daripada lidah". [15]

Diriwayatkan bahwasanya Ibnu Mas'ud berkata: "Jauhilah fudhûlul-kalam (pembicaraan yang melebihi keperluan). Cukup bagi seseorang berbicara, menyampaikan sesuai kebutuhannya". [16]

Syaqiq berkata: 'Abdullah bin Mas'ud bertalbiyah di atas bukit Shafa, kemudian berseru: "Wahai lidah, katakanlah kebaikan, niscaya engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah, niscaya engkau selamat, sebelum engkau menyesal". Orang-orang bertanya: "Wahai Abu 'Abdurrahman, apakah ini suatu perkataan yang engkau ucapkan sendiri, atau engkau dengar?" Dia menjawab, "Tidak, bahkan aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Kebanyakan kesalahan anak Adam ialah pada lidahnya". [17]

Diriwayatkan, bahwasanya Ibnu Buraidah berkata: Aku melihat Ibnu 'Abbas memegangi lidahnya sambil berkata, "Celaka engkau, katakanlah kebaikan, engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah dari keburukan, niscaya engkau selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engkau akan menyesal". [18]

Diriwayatkan, bahwasanya an-Nakha`i berkata: "Manusia binasa pada fudhûlul-mâl (harta yang melebihi kebutuhan) dan fudhûlul-kalam (pembicaraan yang melebihi keperluan)". [19]

Diriwayatkan, bahwasanya ada seseorang yang bermimpi bertemu dengan seorang 'alim besar. Kemudian orang 'alim itu ditanya tentang keadaannya, dia menjawab: "Aku diperiksa tentang satu kalimat yang dahulu aku ucapkan. Yaitu, dahulu aku pernah mengatakan, manusia sangat membutuhkan hujan." Aku ditanya: "Tahukah engkau bahwa Aku (Allah) lebih mengetahui terhadap maslahat hamba-hamba-Ku?" [20]

Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: "Seorang mukmin itu ialah menyedikitkan perkataan dan memperbanyak amal. Adapun orang munafik, ia memperbanyak perkataan dan menyedikitkan amal".

Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: "Selama aku belum berbicara dengan satu kalimat, maka aku manguasainya. Namun jika aku telah mengucapkannya, maka kalimat itu menguasaiku".

Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: "Diam adalah ibadah tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan. Anda tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya aibmu tertutupi". [21]

Kesimpulannya, kita diperintah untuk berbicara yang baik dan diam dari keburukan. Jika berbicara, hendaklah sesuai dengan keperluannya. Wallahul-Musta'an.



Mashâdir:
  1. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, Dr. Sa'id bin 'Ali bin Wahf al-Qahthani.
  2. Al-Adzkâr, Imam an-Nawawi, Tahqîq dan Takhrîj: Syaikh Salim al-Hilâli, Penerbit Dar Ibni Hazm, Cetakan Kedua, Tahun 1425H/2004M.
  3. Hashâ`idul-Alsun, Syaikh Husain al-'Awaisyah, Penerbit Darul-Hijrah.
  4. Jami’ul ‘Ulum wal-Hikam, Imam Ibnu Rajab, dengan penelitian Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhîm Bajis, Penerbit ar-Risalah, Cetakan kelima, Tahun 1414H/1994M.
  5. Dan lain-lain.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XI/1429H/2008. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]


Footnotes:

[1]. Tafsir Adh-wâ`ul Bayân, karya Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi. Lihat surat ar-Rahmân, 55/3-4.
[2]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, Dr. Sa'id bin 'Ali bin Wahf al-Qahthani, hlm. 4-5, 159-160.
[3]. Disebutkan oleh Ibnul-Qayyim dalam ad-Dâ` wad-Dawâ`, Tahqîq: Syaikh 'Ali bin Hasan al-Halabi, Penerbit Dar Ibnil-Jauzi, hlm. 155.
[4]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm, 5-6, 163.
[5]. HR at-Tirmidzi, no. 2314. Ibnu Majah, no. 3970. Ahmad, 2/355, 533. Ibnu Hibban, no. 5706. Syaikh al-Albâni menyatakan: "Hasan shahîh".
[6]. HR Tirmidzi, no. 2410. Ibnu Majah, no. 3972. Dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani.
[7]. Hashâ`idul-Alsun, Penerbit Darul-Hijrah, hlm. 15.
[8]. HR Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin, 3/13.
[9]. HR Tirmidzi, no. 2407, dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin, 3/17, no. 1521. Lihat pula Jami'ul 'Ulûm wal-Hikam, 1/511-512.
[10]. HR Bukhâri, no. 6474. Tirmidzi, no. 2408. Dan lafazh ini milik al-Bukhâri.
[11]. Tuhfatul-Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi.
[12]. Al-Adzkâr, Imam an-Nawawi. Tahqîq dan Takhrîj: Syaikh Salim al-Hilâli, Penerbit Dar Ibni Hazm, Cet. 2, Th. 1425H/2004M, 2/713-714.
[13]. Hilyatul-Au'iyâ`, 10/63. Dinukil dari Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm, 159.
[14]. Riwayat al-Qudha`i dalam Musnad asy-Syihab, no. 374. Ibnu Hibban dalam Raudhatul-'Uqala`, hlm. 44. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 339.
[15]. Riwayat Ibnu Hibban dalam Raudhatul-'Uqala`, hlm. 48. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 340.
[16]. Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 339.
[17]. H.R. Thabrani, Ibnu 'Asakir, dan lainnya. Lihat Silsilah ash-Shahîhah, no. 534.
[18]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm. 161.
[19]. Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 339.
[20]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm. 160-161.
[21]. Hashâ`idul-Alsun, hlm. 175-176.

Rabu, 29 September 2010

Meninggal Dengan Jiwa Yang Tenang


"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku"
[Q.S. al-Fajr 89:27-30]

Inilah tujuan sebenarnya dari hidup kita di dunia yaitu kembali kepada Allah dengan jiwa yang tenang lagi diridhoi-Nya. Adalah suatu hal yang sia-sia apa yang kita usahakan di dunia ternyata pada akhirnya kita menjadi manusia yang merugi saat menghadap Allah Ta'ala.

Khalid bin 'Abdurrahman asy Syayi' dalam artikelnya "Bahagia Dengan Husnul Khatimah, Sengsara Dengan Su'ul Khatimah" mengulas lebih dalam seperti apa dan bagaimana meninggal dunia dengan akhir yang baik dan buruk, berikut cuplikannya:



BAHAGIA DENGAN HUSNUL KHATIMAH, SENGSARA DENGAN SU'UL KHATIMAH

Keadaan seseorang saat tutup usia memiliki nilai tersendiri, karena balasan baik dan buruk yang akan diterimanya tergantung pada kondisinya saat tutup usia. Sebagaimana dalam hadits yang shahih:

Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya. [H.R. Bukhari dan selainnya]

Oleh sebab itulah, seorang hamba Allah yang shalih sangat merisaukannya. Mereka melakukan amal shalih tanpa putus, merendahkan diri kepada Allah agar Allah memberikan kekuatan untuk tetap istiqamah sampai meninggal. Mereka berusaha merealisasikan wasiat Allah Azza wa Jalla:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan muslim (berserah diri). [Q.S. Ali Imran 3:102]

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam Shahih-nya, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Ash Radhiyallahu 'anhuma (ra.), dia mengatakan:

Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (saw.) bersabda: Sesungguhnya qalbu-qalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikannya sesuai kehendakNya,kemudian beliau saw. berdoa:Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatanMu".

Itulah pentingnya kondisi tutup usia. Sementara itu, kondisi seseorang pada detik-detik terakhir kehidupannya ini, tergantung amal perbuatan pada masa lampau. Barangsiapa yang berbuat baik di saat waktu dan usianya memungkinan, maka Insya Allah akhir hidupnya baik. Dan jika sebaliknya, maka sudah tentu kejelekan yang akan menimpanya. Allah tidak akan pernah menzhaliminya, meskipun sedikit.

Mengingat pentingnya masalah ini dan keharusan memperhatikannya, maka dengan memohon kepada Allah, tulisan ini kami angkat untuk menjadi pengingat kita semua.


HUSNUL KHATIMAH

Husnul khatimah adalah akhirnya yang baik. Yaitu seorang hamba, sebelum meninggal, ia diberi taufiq untuk menjauhi semua yang dapat menyebakan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT.). Dia bertaubat dari dosa dan maksiat, serta semangat melakukan ketaatan dan perbuatan-perbuatan baik, hingga akhirnya ia meninggal dalam kondisi ini.

Dalil yang menunjukan makna ini, yaitu hadits shahih dari Anas bin Malik ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

"Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka Allah memanfaatkannya”. Para sahabat bertanya: Bagaimana Allah akan memanfaatkannya? Rasulullah menjawab:Allah akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dia meninggal.[H.R. Imam Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan al Hakim dalam Mustadrak]

Husnul khatimah memiliki beberapa tanda, di antaranya ada yang diketahui oleh hamba yang sedang sakaratul maut, dan ada pula yang diketahui orang lain.

Tanda husnul khatimah, yang hanya diketahui hamba yang mengalaminya, yaitu diterimanya kabar gembira saat sakaratul maut, berupa ridha Allah sebagai anugerahNya. Allah SWT. berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah," kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". [Q.S. Fushshilat 41:30]

Kabar gembira ini diberikan saat sakaratul maut, dalam kubur dan ketika dibangkitkan dari kubur. Sebagai dalilnya, yaitu sabda Rasulullah saw.:

"Barangsiapa yang suka bertemu Allah, maka Allahpun suka untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak suka bertemu Allah, maka Allah pun benci untuk bertemu dengannya”. ‘Aisyah bertanya: Wahai Nabi Allah! Apakah (yang dimaksud) adalah benci kematian? Kita semua benci kematian? Rasulullah menjawab:Bukan seperti itu. Akan tetapi, seorang mukmin, apabila diberi kabar gembira tentang rahmat dan ridha Allah serta SurgaNya, maka ia akan suka bertemu Allah. Dan sesungguhnya, orang kafir, apabila diberi kabar tentang azab Allah dan kemurkaanNya, maka ia akan benci untuk bertemu Allah, dan Allah pun membenci bertemu dengannya”.

Mengenai makna hadits ini, al-Imam al-Khatthabi mengatakan: “Maksud dari kecintaan hamba untuk bertemu Allah, yaitu ia lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. Karenanya, ia tidak senang tinggal terus-menerus di dunia, bahkan siap meninggalkannya. Sedangkan makna kebencian adalah sebaliknya”.

Imam Nawawi berkata: ”Secara syari’at, kecintaan dan kebencian yang diperhitungkan adalah, saat sakaratul maut, saat taubat tidak diterima (lagi). Ketika itu, semuanya diperlihatkan bagi yang sedang naza’ (proses pengambilan nyawa), dan akan nampak baginya tempat kembalinya.”


TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH

Tanda-tanda husnul khatimah banyak yang telah disimpulkan oleh para ulama dengan penelitian terhadap nash-nash yang terkait. Di sini kami bawakan sebagian tanda-tanda tersebut di antaranya:

1. Mengucapkan kalimat syahadat saat akan meninggal. Dalilnya adalah hadits riwayat al-Hakim dan selainnya, bahwasannya Rasullullah saw. bersabda:

Barangsiapa yang akhir ucapannya La illaha illallah, maka ia masuk surga.

2. Meninggal dengan kening berkeringat. Berdasarkan hadits riwayat Buraidah bin al-Hashib ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Kematian seorang mukmin dengan keringat di kening.

3. Meninggal pada malam Jum`at atau siangnya. Rasulullah saw. bersabda:

Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum`at atau malam Jum`at, melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah (siksa) kubur. [H.R. Ahmad dan Tirmidzi]

4. Mati syahid di medan jihad di jalan Allah, atau mati saat menempuh perjalanan untuk peperangan di jalan Allah, mati karena tertimpa sakit Tha’un (pes), atau mati karena tenggelam. Dalilnya adalah hadits riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Rasulullah saw., bahwasanya beliau saw. bersabda:

Siapakah orang yang syahid menurut kalian?Para sahabat menjawab:Orang yang terbunuh di jalan Allah, maka ia syahid”. Rasulullah bersabda:Kalau begitu, orang yang mati syahid dari umatku sedikit,mereka bertanya:Kalau begitu, siapa wahai Rasulullah?Beliau saw. menjawab:Orang yang terbunuh di jalan Allah, ia syahid. Orang yang mati di jalan Allah, maka ia syahid. Orang yang mati karena sakit tha’un, maka ia syahid. Barangsiapa yang mati karena sakit perut, maka ia syahid. Dan orang yang (mati) tenggelam adalah syahid”.

5. Mati karena tertimpa reruntuhan. Berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Nabi saw., beliau bersabda:

Orang yang mati syahid ada lima (yaitu): orang yang (mati) terkena penyakit tha’un, sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang terkena reruntuhan dan orang yang syahid di jalan Allah.

6. Tanda husnul khatimah, yang khusus bagi wanita, ialah meninggal saat nifas, ataupun meninggal saat sedang hamil. Dalilnya, hadits riwayat Imam Ahmad dan selainnya, dengan sanad yang shahih dari ‘Ubadah bin ash Shamit ra., bahwa Nabi Muhammad saw. menyebutkan beberapa syuhada’, di antaranya:

Dan wanita yang dibunuh anaknya (karena melahirkan) masuk golongan syahid, dan anak itu akan menariknya dengan tali pusarnya ke Surga.

7. Meninggal karena terbakar dan radang selaput dada. Sebagai dalilnya, Rasulullah saw. pernah menyebutkan macam-macam orang yang mati syahid, termasuk orang yang mati terbakar. Demikian pula orang yang meninggal lantaran menderita radang selaput dada, yaitu bengkak yang meradang, nampak pada selaput yang ada di bagian dalam tulang-tulang rusuk. Adapun haditsnya diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya.

8. Di antara dalil yang menjelaskan jenis kematian syahid yang lain adalah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan an-Nasaa-i dan selain keduanya, bahwa Nabi saw. bersabda:

Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh karena membela keluarganya, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh karena membela agamanya, maka ia syahid. Dan barangsiapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia syahid.

9. Meninggal karena sedang ribath (menjaga wilayah perbatasan) di jalan Allah Ta`ala. Berdasar hadits riwayat Muslim dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

Berjaga-jaga sehari-semalam (di daerah perbatasan) lebih baik daripada puasa beserta shalat malamnya selama satu bulan. Seandainya ia meninggal, maka pahala amalnya yang telah ia perbuat akan terus mengalir, dan akan diberikan rizki baginya, dan ia terjaga dari fitnah.

10. Meninggal dalam keadaan melakukan amal shalih. Nabi saw. bersabda:

Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah karena mencari wajah (pahala) Allah kemudian amalnya ditutup dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa berpuasa karena mencari wajah Allah kemudian amalnya diakhiri dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa ber-shadaqah kemudian itu menjadi amalan terakhirnya, maka ia masuk surga. [H.R. Imam Ahmad dan selainnya]

Demikian beberapa tanda husnul khatimah yang telah disimpulkan dari berbagai nash. Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani mengingatkan hal itu di dalam kitab beliau, Ahkamul Janaiz.

Akan tetapi, ketahuilah wahai saudara-saudaraku, bahwa terlihatnya salah satu di antara tanda-tanda itu pada satu mayit, bukan berarti dia pasti menjadi penduduk Surga. Namun diharapkan, itu sebagai pertanda baik baginya. Sebagaimana jika tanda-tanda itu tidak pada satu mayit, maka janganlah divonis bahwa seseorang ini tidak baik. Semua ini merupakan masalah ghaib yang hanya diketahui oleh Allah Azza wa Jalla.


PENYEBAB HUSNUL KHATIMAH

1. Faktor terpenting, yaitu kontinyu melakukan ketaatan dan bertakwa kepada Allah. Intinya ialah merealisasikan tauhid, menjauhi hal-hal yang diharamkan, dan segera bertaubat dari perbuatan haram yang melumurinya. Tindakan yang paling diharamkan adalah syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil. Allah SWT. berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [Q.S. an-Nisaa' 4:48]

2. Hendaknya berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar diwafatkan dalam keadaan beriman dan bertakwa.

3. Hendaknya mengerahkan segala kemampuan dalam memperbaiki diri, secara lahir dan batinnya, niat dan maksudnya diarahkan untuk memperbaiki diri. Ketentuan Allah di alam ini telah berlaku. Allah memberikan taufik kepada orang yang mencari kebenaran. Allah akan mengokohkannya di atas al-haq serta menutup amalnya dengan al-haq itu.


SU`UL KHATIMAH

Su’ul khatimah (akhir yang buruk) adalah, meninggal dalam keadaan berpaling dari Allah Azza wa Jalla, berada di atas murkaNya serta meninggalkan kewajiban dari Allah.

Tidak diragukan lagi, demikian ini akhir kehidupan yang menyedihkan, selalu dikhawatirkan oleh orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjauhkan kita darinya.

Terkadang nampak pada sebagian orang yang sedang sakaratul maut, tanda-tanda yang mengisyaratkan su’ul khatimah, seperti menolak mengucapkan syahadat, justru mengucapkan kata-kata jelek dan haram, serta menampakkan kecendrungan padanya, dan lain sebagainya.

Kami perlu menyebutkan sebagian contoh nyata kejadian tersebut.

Kisah yang dibawakan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, al Jawaabul Kaafi, bahwa ada seseorang saat sakaratul maut, dia diingatkan: “Ucapkanlah: La illaha illallah“ Lalu orang itu menjawab: “Apa gunanya bagiku. Aku pun tidak pernah mengerjakan shalat karena Allah, meskipun sekali,” akhirnya ia pun tidak mengucapkannya.

Al-Hafizh Rajab dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, menukil dari salah satu ulama, ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Rawwad, beliau berkata: “Aku menyaksikan seseorang, yang ketika hendak meninggal di-talqin (diajari) La illaha illallahu. Akan tetapi, ia mengingkarinya pada akhir ucapannya".

Kemudian Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bertanya kepadanya tentang orang ini. Ternyata ia seorang pecandu khamr (minuman keras). Selanjutnya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz berkata: “Takutlah kalian terhadap perbuatan-perbuatan dosa, karena perbuatan dosa itu yang telah menjerumuskannya”.

Hal serupa juga diceritakan oleh al-Hafizh adz-Dzahabi, ada seorang yang bergaul dengan pecandu khamr, maka saat ajal akan tiba, dan ada seseorang yang datang untuk mengajarinya syahadat, ia malah mengatakan: “Minumlah dan beri aku minum,” kemudian ia meninggal.

Al-‘Alamah Ibnul Qayyim bercerita mengenai seseorang yang diketahui gemar musik dan mendendangkannya. Tatkala wafat menjemputnya, dia diingatkan: "Katakanlah: La illaha illallahu, (tetapi) dia justru mulai mengigau dengan lagu sampai kemudian mati tanpa mengucapkan kalimat tauhid".

Beliau juga berkata: Sebagian pedagang mengabarkan kepadaku tentang karib-kerabatnya yang hampir meninggal, sementara mereka di sisinya. Mereka mentalkinkan La illaha illallahu, namun ia mengigau “ini murah, ini barang bagus, ini begini dan begitu,” sampai ia meninggal dan tanpa bisa melafazhkan kalimat tauhid.

Berikut ini, kami bawakan keterangan Ibnul Qayyim. Komentar ini dibawakan setelah menyebutkan kisah-kisah di atas. Beliau berkata:

“Subhanallah, betapa banyak orang yang menyaksikan ini mendapatkan pelajaran? Apabila seorang hamba, pada saat sadar, kuat, serta memiliki kemampuan, dia bisa dikuasai setan, ditunggangi perbuatan maksiat yang diinginkannya, mampu membuat hatinya lalai dari mengingat Allah Azza wa Jalla, menahan lisannya dari dzikir, dan (begitu pula) anggota badannya dari mentaatiNya, lalu bagaimana kiranya ketika kekuatannya melemah, hati dan jiwanya kacau karena sakitnya naza’ (tercabutnya nyawa) yang sedang dia alami? Sementara saat itu, setan mengerahkan seluruh kekuatan dan konsentrasinya, dan menghimpun semua kemampuannya untuk mencuri kesempatan. Sesungguhnya ini adalah klimaks. Saat itu, hadir setan yang terkuat, sementara si hamba dalam kondisi paling lemah. Siapakah yang selamat?"

Pada saat kondisi ini:

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. [Q.S. Ibrahim 14:27]

Maka, orang yang dilalaikan hatinya dari mengingat Allah, (selalu) memperturutkan nafsunya dan melampaui batas, bagaimana mungkin diberi petunjuk agar husnul khatimah? Orang yang hatinya jauh dari Allah Azza wa Jalla, lalai dariNya, mengagungkan nafsunya, menyerahkan kepada syahwatnya, lisannya kering dari dzikir, serta anggota badannya terhalang dari ketaatan dan sibuk dengan maksiat, maka mustahil diberi petunjuk agar akhir kehidupannya baik (husnul khatimah).


SU`UL KHATIMAH MEMPUNYAI DUA TINGKATAN

1. Tingkatan terbesar dan terjelek.

Yaitu orang yang hatinya penuh dengan keraguan dan penentangan saat sakaratul maut, kemudian ia mati dalam keadaan seperti ini, Maka, hal ini akan menjadi penghalang antara dia dan Allah.

2. Tingkatan yang lebih rendah.

Yaitu orang yang hatinya cenderung kepada urusan dunia atau keinginan syahwatnya, lalu keinginan ini tergambar di dalam hatinya saat sakaratul maut. Biasanya, seseorang meninggal dalam kondisi yang biasa ia lakoni pada kehidupan nyatanya. Jika jelek, maka akhirnya juga jelek. Semoga Allah melindungi kita dari keduanya.


SEBAB-SEBAB SU`UL KHATIMAH

Dari uraian ini, maka nampak jelas, bahwa penyebab su’ul khatimah adalah lawan dari penyebab husnul khatimah yang telah disebutkan.

Penyebab utamanya adalah kerusakan aqidah. Di antara penyebabnya juga adalah, rakus terhadap dunia, mencarinya dengan cara-cara haram, berpaling dari jalan kebaikan, serta terus-menerus melakukan perbuatan maksiat.


PENUTUP

Semoga Allah melindungi kita dari su’ul khatimah. Seseorang yang amalan lahirnya baik, serta batinnya juga senantiasa bersama Allah, jujur dalam perkataan dan perbuatan, maka dia tidak akan mengalami su’ul khatimah. Sebaliknya, su’ul khatimah akan dialami oleh orang yang aqidahnya rusak, amalan lahirnya pun rusak, berani melakukan dosa-dosa besar, bahkan mungkin dia malakukan itu sampai ajal menjemput tanpa sempat bertaubat.

Karena itu, selayaknya bagi orang yang berakal agar mewaspadai ketergantungan hatinya terhadap perbuatan-perbuatan haram, dan mengharuskan hati, lisan serta anggota badannya untuk mengingat Allah Azza wa Jalla dan tetap taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di manapun berada.

Ya Allah, jadikanlah amal terbaik kami sebagai penutup amal kami. Jadikanlah umur terbaik kami sebagai akhirnya. Dan jadikanlah hari terbaik kami sebagai hari kami menjumpaiMu.

Ya Allah, berilah taufik kepada kami untuk melaksanakan berbagai kebaikan dan menjauhi semua kemungkaran.



  • [Diterjemahkan dari kutaib, Husnul Khatimah wa Su-uha, al Ma’na, al ‘Alamat, al Asbab, Khalid bin ‘Abdurrahman asy Syayi’. Dar Balansiah Cet. I Th. 1422 H/2001 M.]
  • [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03//Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]