Jumat, 02 Maret 2007

TIDAK ADA ISTIMEWANYA MENJADI DOKTER

Kata orang menjalani profesi dokter itu…enak, kaya, harta melimpah, selalu dihormati dimana pun, menjanjikan masa depan yang baik……jodohnya mudah……

Pernah suatu ketika saya mengantarkan istri yang mengantri giliran untuk dilayani, saya duduk-duduk dekat kursi customer service. Ketika duduk tersebut saya didekati seorang pegawai dari sebuah perusahaan asuransi yang menawarkan produk-produk asuransi. Kemudian saya menjawab

“mbak lha wong saya masih kredit rumah kok ditawarin asuransi”…

petugas tersebut tersenyum dan temannya yang duduk di dekatnya yang ternyata bagian pelayanan kredit, setelah berbicara panjang lebar dan mengetahui saya dokter dan tahu bagaimana kondisi keuangan saya, akhirnya dia berkata..

“Saat ini kalau ada kredit macet mesti kebanyakan dokter…! Anggota IDI1! Padahal penampilannya kan tahu sendiri…mentereng…meyakinkan…orang kaya. Tetapi kalau IBI2 itu…bagus dalam melunasi utangnya… sehingga pihak bank kami lebih senang memberikan penawaran pinjaman kepada anggota IBI.”

“Kok bisa ya mbak?”

“Iya… mereka para dokter itu…mengambil kredit banyak sekali… mungkin untuk menopang prestige penampilannya...mengambil kredit untuk rumah mewah…mengambil kredit mobil yang patut untuk style dokter…itu pun masih menambah kartu kredit… jadi seringkali tidak diperhatikan bahwa semua itu adalah beban keuangan yang sudah melebihi ambang psikologis… dan jadilah kredit macet.”

“Dengan beban keuangan seperti itu…bagaimana para dokter memerlakukan pasiennya…terutama yang berkaitan dengan keuangan yang masuk ke kantong dokter?” kata saya dalam hati.…………..

Yang tampak di permukaan saat ini, dokter selalu dipersepsi kaya atau full-fulus. Kalau tidak kaya maka dalam masyarakat kita tampaknya ini adalah hal yang tabu. Pengalaman saya juga membuktikan hal-hal yang demikian. Hingga saat ini saya belum mempunyai mobil, walaupun second. Rumah masih kredit. Hingga tulisan ini dibuat, rumah saya lunas dua belas tahun lagi… saat itu saya sudah berusia 45 tahun. Anda heran?

Jangan khawatir! Kalau Anda heran berarti Anda tidak sendiri. Banyak pasien saya yang berkomentar demikian.

“Dokter, panjenengan bersahaja ya… “

“Kenapa pak?”

“Biasanya dokter itu bermobil…., tetapi panjenengan tidak… kendaraan sepeda motor Honda Prima tahun 90-an.. dan helmnya itu… nyuwun sewu butut..”

Memang saya pakai sepeda motor Honda Prima tahun 90-an, sedangkan istri saya memakai Honda Supra tahun 2003. Saya, hingga tulisan ini disusun adalah menginjak tahun ke-7 praktik pribadi. Demikianlah keadaan saya. Helm yang saya pakai berwarna kuning sudah retak-retak…. Sehingga pantaslah seorang pasien dari percakapan nyata di atas tampaknya kasihan dengan kondisi saya…

Sekarang anak saya dua, yang pertama duduk di kelas dua SD sedangkan yang kecil masih berusia 9 bulan. Tapi mengapa kondisi saya masih sedemikian rupa? Maksudnya tidak menunjukkan gejala-gejala atau tanda-tanda saya ini seorang dokter yang sukses, mempunyai mobil, rumahnya megah dsb.……………………..

Saya yakin gambaran sebagian besar dokter saat ini…. sangat mirip-mirip dengan kondisi saya… sebagian besar mereka adalah anak orang biasa….bukan anak seorang Guru Besar Kedokteran Ternama….pengusaha… sehingga bisa memuluskan kariernya di jenjang yang lebih tinggi…. Bapak ibu saya untuk menyekolahkan ketiga putra putrinya menjadi dokter dan dua putranya menjadi insinyur harus menjual rumah yang ditempati….dan saat ini mereka berdua mengontrak rumah…………….

Beberapa waktu yang lalu ketika menghadiri acara pertemuan ilmiah…..sempat ngobrol-ngobrol dengan teman sejawat yang dulu adik kelas.. dia bercerita tentang… biaya-biaya mengambil program spesialis…..

tarifnya adalah sebagai berikut spesialis Obgyn harus mengeluarkan uang minimum 150 jutaan bahkan ada yang berani membayar sampai 500 juta untuk sekedar “uang gedung”. spesialis kulit karena nilai pasarnya sedang naik daun terutama kosmetik… juga mengikuti Obgyn….. Spesialis lainnya rata-rata uang yang dikeluarkan untuk “uang gedung” adalah 50-an juta. SPP per semester…5 – 8 juta…belum lagi biaya “perploncoan” sebagai yunior…membayari club golf, tennis, makan-makan di restoran mewah… semuanya ditanggung oleh yunior. Itu pendidikan dokter tingkat lanjut…

untuk yang dokter umum saja…terutama PTN jalur khusus dan swasta… sama 150-an juta sampai ada yang berani membayar 500 juta…………………

Sementara itu.... banyak kenyataan Lain...

Seorang teman sejawat pernah bercerita pada saya harus berjalan menyusuri hutan dan sepatu dilepas berbecek-becek jalan di atas genangan air dan sungai, untuk mencapai rumah seorang penderita yang tidak mampu berjalan. Keadaan rumah dan sosial ekonomi pasien sangat memrihatinkan….sehingga mana tega menarik jasa dan obat-obatan yang diberikan kepada pasien.

Kakak saya sendiri yang menjadi dokter PTT di Bengkulu mendapatkan daerah yang susah mendapatkan air bersih. Air sumur di rumah dinas,

baru diambil 2 – 3 ember sudah keruh dan tidak bening lagi. Belum lagi,

tidak banyak mendapatkan uang cash, pasien yang berobat mengganti

ongkos obat dengan memberikan seekor ayam jago (lihat Dokter

Peternak Ayam Jago).…………

Profesi Dokter di Indonesia saat ini Ber-Resiko Tinggi mengalami FULUSTRASI…………….

Harus pintar-pintar dalam memasarkan dirinya...
Mak... gelloo...daaaak..


1 IDI = Ikatan Dokter Indonesia

2 IBI = Ikatan Bidan Indonesia

“Jualan” Dokter di Sekolah

Saya harus belajar dari istri saya dalam hal kemampuan dan keuletannya dalam negosiasi. Kompetensi negosiasi yang diperlihatkan oleh istri saya mulai dari negosiasi harga ketika berbelanja di pasar hingga negosiasi untuk urusan-urusan yang lebih rumit. Negosiasi yang menonjol bagi saya adalah negosiasi untuk menjadi dokter di sekolahan.

Istri saya melihat bahwa sekolah dengan jumlah siswa lebih dari 400 siswa membutuhkan dokter.

Walaupun kehadiran dokter tidak harus setiap hari diperlukan, setidaknya dengan adanya dokter dapat ditingkatkan status kesehatan siswa, guru dan karyawannya. Dengan pemikiran dan perhitungan yang matang, akhirnya jadilah proposal sederhana untuk memperkirakan anggaran keuangan yang dibutuhkan oleh sekolah untuk mengadakan dokter sekolah beserta sistem kesehatan yang ditawarkan. Istri saya menghitung-hitung kebutuhan obat dasar, tanpa ada antibiotik, mulai dari obat turun panas, obat mules, obat pilek hingga obat maag. Jadwal kunjungan dokter dirancang seminggu sekali hingga ada yang sebulan dua kali atau sebulan sekali tergantung kemampuan anggaran yang dikeluarkan sekolah untuk sistem pemeliharaan kesehatan yang ditawarkan istri saya.

Setelah proposal selesai dibuat dengan berbagai alternatif biaya yang ditawarkan, maka tugas selanjutnya adalah “berburu” mencari sekolah sasaran. Pada saat inilah baru terlihat kompetensi, kesabaran, ketekunan, daya tahan banting dalam bernegosiasi istri saya. Saking bersemangatnya pernah suatu hari melakukan presentasi di empat sekolahan. Semua ini dilakukan SENDIRI tanpa saya antar.

“Wow luar biasa!”

Pernah ketika memasuki suatu sekolah menengah atas, ada seorang guru yang berkomentar

“Wah… jadi dokter sekarang sulit ya nyari kerja…”

“Iya pak! Harus berjuang, dan disitulah seninya, saya menyukainya” kata istri saya dalam hati, sambil mengurai senyum kepada pak Guru yang berkata tadi.

“Harus ‘menjual’ dokter di sekolah segala, seperti yang saya lakukan sekarang pak!” kata istri saya dalam hati, dengan agak dongkol.

Hal yang dapat dipelajari

Dokter lulusan jaman sekarang harus kreatif. Pintar melihat peluang. Energik dalam mengaktualisasikan apa yang menurutnya adalah suatu peluang. Pintar “mengutak-atik” puzzle yang terpencar-pencar yang berada di sekitarnya sehingga menjadi suatu jawaban yang memberikan banyak kemanfaatan bagi lebih banyak pihak, dan memberikan keuntungan bagi dokter sendiri.

Apa yang dilakukan istri saya adalah meminjam istilah W. Chan Kim dan Renée Mauborgne penulis buku best seller Blue Ocean Strategy1 upaya strategi blue ocean marketing, menghindari strategi red ocean marketing. Red ocean marketing diwarnai dengan perang harga, saling menjatuhkan satu sama lain untuk memperebutkan pasar. Sedangkan blue ocean marketing adalah bagaimana menciptakan peluang baru, pasar baru dan menghindari perang terbuka.

Umumnya dokter begitu lulus, yang mereka pikir pertama adalah mencari peluang kerja di poliklinik-poliklinik atau rumah sakit yang ramai dan menjanjikan. Padahal yang berpikir seperti itu adalah banyak. Seperti pepatah mengatakan “ada gula ada semut”.

Ketika ada sebuah poliklinik yang laris atau rumah sakit yang ramai kunjungan pasiennya, maka akan memberikan “manisnya” kesejahteraan setiap orang yang berada di dalamnya. Karena “manisnya” kesejahteraan itu maka akan mengundang banyak “semut-semut” yang datang. Dokter-dokter, perawat-perawat, fisioterapis, ahli gizi yang dalam jumlah banyak memperebutkan posisi yang terbatas.

Terkadang ada sebagian dari mereka yang menghalalkan segala cara.

“Yang penting masuk dulu, berapapun uang yang dikeluarkan, toh nanti uang akan kembali”

begitulah kira-kira perkataan orang yang ambisinya sangat kuat melebihi kenyataan yang dihadapi. Atau:

“Siapa yang punya otoritas policy maker untuk penerimaan SDM disini?”

“Dimana rumahnya?”

“Cara ngasih uangnya gimana?”

“Masuk rekening atau langsung dalam amplop?”

“kita bisa pinjam uang dulu di bank, untuk bisa masuk!”

adalah pertanyaan-pertanyaan untuk menindaklanjuti ambisi yang menghalalkan segala cara.

Saya dan istri sama-sama berprinsip, cara-cara tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang kami pegang teguh.

Kalau kita berpikiran “selalu ada jalan” maka hati kita akan “kaya”.

Tidak sempit, tidak akan berkata

“Ini satu-satunya jalan”

“Saya harus!”

“Tidak ada cara lain”.

Sebaliknya akan mengatakan

“masih banyak cara”

“Allah maha kaya, banyak pintu Rizqi yang harus kita eksplorasi” dan sebagainya.

Inilah pemikiran dari blue ocean, laut yang tenang, damai, penuh keselamatan, memperkaya dengan nilai-nilai kemanusiaan, laut yang mempertautkan hati-hati dalam persaudaraan.

Menjadi dokter sekolahan bagi kebanyakan dokter adalah kurang “keren”. Lagi pula setiap orang yang mengetahui profesi dokter, selalu menanyakan,

“praktik di rumah sakit mana dokter?” atau

“dinasnya dimana dokter?” atau bahkan

“dokter praktik di berapa rumah sakit?”.

Karena orang selalu bertanya demikian maka banyak dari teman sejawat pasca PTT, “terpaksa” mengajar di berbagai lembaga pendidikan kesehatan, ketika saya tanya seperti kebanyakan orang sering menjawab

“ini koq, ngajar di AKPER atau AKBID… blablabla…” terus dilanjutkan pernyataan :

“yang penting sudah punya status koq, walaupun ngajar di…” atau “yaa…biar dapat status” “soalnya kalau ditanya orang, biar bisa menjawab!”

Lha kalau istri saya ditanya seperti itu, jawabnya gimana?

“’Jualan’ dokter di sekolah”

?!?;^#- Mak Ge..llloo...daaaaak

1 W. Chan Kim dan Renée Mauborgne, 2005, Blue Ocean Strategy, Harvard Business School Publishing Corporation, Boston; Edisi terjemahan Indonesia, Blue Ocean Strategy (Strategi Samudra Biru), Penerjemah Satrio Wahono, Penerbit PT Serambi Ilmu Semesta, Januari 2006

Sabtu, 24 Februari 2007

Pak, Saya ini mengantarkan cucu, kok ikut-ikutan disuntik?

Sebuah Puskesmas di daerah pinggiran di suatu kabupaten Bagaskara di propinsi Madhangkara, terkenal sangat laris. Cakupan pasien yang berkunjung di Puskesmas tersebut tidak hanya dalam wilayah kerjanya, tetapi sudah melintas ke luar wilayah kerja dan bahkan ke kecamatan kabupaten tetangganya. Salah satu rahasia yang membuat Puskesmas tersebut tersohor adalah karena menyediakan layanan suntikan, suatu tindakan yang mulai banyak ditinggalkan oleh Puskesmas lain. Bahkan suatu tindakan yang tidak diperbolehkan bila tidak ada indikasi medis yang kuat, walaupun hanya sekedar memberikan suntikan vitamin.

Masyarakat pedesaan umumnya bila berobat tidak diberikan suntikan maka bagi mereka itu namanya belum berobat. Jadi yang dikatakan berobat itu harus disuntik. Apapun sakitnya.

Entah apa alasan Puskesmas ini, tetap memberikan tindakan suntikan sesuai permintaan pasien-pasiennya. Bisa jadi karena melihat ini adalah peluang pasar, atau karena mencoba berempati terhadap apa yang membuat kegelisahan pasien bila tidak disuntik. Yang jelas hanya kepala Puskesmas dan stafnya saja yang tahu.

“Era otonomi daerah bung!”

“Jangan coba-coba ikut campur urusan rumah tangga orang!”

Kira-kira demikianlah jawaban Kepala Puskesmas beserta stafnya ketika ditanya mengapa mereka tetap memberikan tindakan suntikan sementara Puskesmas yang lain mulai memberhentikannya.

“Wah mateni pasaran tenan mas! [wah membunuh pasaran orang lain]”

inilah kira-kira ungkapan kepala dan staf Puskesmas yang berada disekitarnya, terhadap apa yang dilakukan Puskesmas “penyuntik” itu.

Saking larisnya, pasien yang datang setiap hari bisa berjubel seperti pasar. Rata-rata kunjungan bisa 150 pasien setiap hari pada jam kerja jam 08.00 – 11.00. Hari senin atau hari pasaran [pahing, pon, wage, kliwon, legi; kebetulan disamping Puskesmas ada pasar yang buka hanya pada hari pasaran pahing, sehingga disebut pasar pahing], jumlah pasien bisa mencapai 250 pasien rawat jalan, sedangkan anak-anak yang mau imunisasi dan kunjungan KB serta ibu hamil tidak dihitung.

“Wow..luar biasa! Berapa banyak pasiennya bung? “Ratuusan!”

Dalam rentang waktu tiga jam, dan jumlah pasien yang ratusan pada hari senin dan hari pasaran, dapat anda bayangkan berapa menit yang dibutuhkan untuk pekerjaan : menanyai, memeriksa, melakukan tindakan suntikan.

Bila petugas polikliniknya dua orang, maka rata-rata satu pasien ditanyai, diperiksa dan disuntik dalam waktu 1 menit 44 detik. Tetapi bila petugas yang memeriksa berjumlah satu orang maka setiap pasien ditanyai, diperiksa dan disuntik dalam waktu 43,2 detik.

Sebenarnya yang beruntung adalah pasien yang diperiksa dalam waktu satu jam pertama. Karena apa? Karena dokter atau perawat yang memeriksa masih dalam fresh, jadi senyumnya kepada pasien masih original. Satu jam kedua, stamina pemeriksa mulai menurun. Dan satu jam terakhir (satu jam ketiga) sudah ala kadarnya. Ibarat komputer, sudah terlalu banyak memproses data, satu jam terakhir “pentium”-nya sudah panas (walopun dual processor), sehingga konsentrasi berkurang. Serta senyum yang ditampilkan tidak karuan bentuknya karena tidak original lagi.

Mbah Bejo, datang ke Puskesmas memeriksakan cucunya yang berumur 5 tahun sakitnya flu. Dasar anak-anak walaupun sakit flu, tetap menunjukkan keaktifan dan kelucuannya. Mbah Bejo dan cucunya mendapatkan keberuntungan mendapatkan jatah diperiksa dalam rentang satu jam terakhir. Jadi pas “pentium” pemeriksa mulai mendekati exhausted. Karena melihat cucu mbah Bejo “sehat” pemeriksa, mengira yang sakit mbah Bejo, dan langsung menyuruh mbah Bejo tengkurap

Monggo mbah Murep” [silakan tengkurap mbah]

Tanpa berpikir panjang mbah Bejo tengkurap, kemudian pemeriksa melorotkan celana mbah Bejo, sehingga kelihatan menyembul pantatnya, selanjutnya menusukkan jarum injeksi dengan spuit yang berisi vitamin.

Setelah membetulkan celananya, mbah Bejo dipersilakan duduk di depan pemeriksa. Dan ditanyain

Gimana mbah rasanya?

Kados pundi tho, pak mantri Dokter, ingkang sakit puniko wayah kulo, ingkang dipun suntik kok kulo?” [gimana sih pak Mantri yang sakit cucu, yang disuntik kok saya?”

Pak Mantri dokter : ?!#*?:<>

Mak GLODAK!!!

Dokter “Inova”

Profesi dokter dan profesi kesehatan pada umumnya adalah profesi yang sangat menekankan pada pelayanan. Pekerjaan pelayanan berarti menekankan orientasi pada orang lain. Pekerjaan pelayanan berarti memberikan pelayanan secara adil, tidak pandang bulu miskin, kaya, cakep, cantik, jelek, harum parfumnya atau berbau tidak sedap, datang dengan uang yang tebal atau tidak ada uang sama sekali.

Pernah suatu ketika saya mendapatkan pasien, datang dengan keluhan panas. Merasa badannya panas, dan sangat terganggu dengan demamnya, pasien berkali-kali menghirup dan menghembuskan nafas panjang. Namun sayangnya, ketika menghembuskan nafas panjang-panjang pasien tidak sadar dan peduli dengan lingkungan. Menghembuskannya ke segala arah termasuk ke dokternya. Masya Allah, nafasnya bau. Namun demikian, dokter harus dituntut tetap ramah, sambil membungkuk-bungkukkan badan untuk menghindari hembusan nafas, saya melakukan anamnesis dan pemeriksaan secara legeartis.

Di saat yang lain, pernah saya mendapati seorang pasien yang badannya, bau sekali. Beliau ini datang ke tempat praktek dengan frekuensi yang lumayan sering, hanya untuk sekedar meminta vitamin. Untuk menghilangkan rasa penasaran, saya menanyakan langsung kepadanya secara halus, mbah dek wau, sak dherengipun tindhak mriki sampun siram utawi dhereng, mbah?” (mbah, tadi sebelum berangkat ke sini, sudah mandi belum mbah?). Secara spontan, kakek tadi menjawab,nuwun sewu pak dokter, kulo kersanipun umure dhowo, rejekinipun lapang, sehat badanipun, kulo ngelampahi mandi setahun sepindah, pas wekdal sasi suro(mohon maaf pak dokter, biar saya umurnya panjang, lapang rizkinya, sehat badannya, saya menjalani mandi setahun sekali, yaitu pada saat bulan suro [bulan dalam budaya jawa yang mengadopsi bulan muharam dalam kalender Islam).

Atau bagi anda yang profesinya sebagai perawat, malam-malam mendapatkan keluhan, seorang pasien habis operasi, tubuhnya sulit bergerak, mau buang air besar. Apakah anda biarkan pasien menunda buang air besarnya besok pagi? Atau anda biarkan pasien tidur dengan tinjanya hingga esok pagi baru dibersihkan? Coba anda simak cuplikan berikut1:

Bukan cuma dokter yang tak profesional. Tonny juga mengeluhkan perawat yang galak. Ia menuturkan pengalaman sehabis operasi dan tak bisa bangun dari tempat tidur. Buang air kecil dan besar pun terpaksa dilakukan di tempat tidur.

Suatu malam ia buang air besar. Sesudahnya ia minta tolong kepada suster untuk membersihkan dirinya, tapi sang perawat malah marah-marah dan menjawab membersihkan besok pagi saja. “Bayangkan sejak malam, pasien yang tidak bisa apa-apa harus tidur dengan tinja,” katanya.

Kendati mengkritik pelayanan dokter dan perawat, Tonny memuji fasilitas rumah sakit di Indonesia yang sudah cukup baik. Seandainya pelayanan dokter dan perawatnya bisa diperbaiki mungkin pasien tak akan pergi jauh-jauh ke luar negeri.


Menjalani profesi dokter atau pelayan kesehatan lainnya pada umumnya dari sudut tanggung jawab, beban kerja dan wewenangnya sangatlah tidak menyenangkan. Namun orang sering lupa, yang dilihat hanya sisi enaknya atau hal-hal yang menyenangkan saja dari profesi kesehatan ini. Seringkali ketika banyak pasien yang berobat ke tempat praktek, dalam benaknya hanya muncul pertanyaan “berapa rupiah malam ini yang terkumpul?” “tinggal berapa rupiah lagi uang yang harus saya kumpulkan untuk menggenapi uang muka pembelian Inova?” “istri dan anak-anakku tadi berpesan, ‘pa, nanti ngumpulin uang yang banyak ya, biar segera bisa beli Inova’, aku harus sungguh-sungguh nih” dan sebagainya dan sebagainya. Begitu kuatnya pikiran-pikiran untuk beli Inova, maka ketika melakukan anamnesis pada pasien, pertanyaan yang muncul “Inova-nya sakit apa ya pak?” pasien menjawab dengan “?#?$?”

Ini Contoh lain dokter anestesi ndak konsent...

pasiennya melayang

Setelah itu, tersebar desas-desus dan kabar-kabar miring serta buah bibir yang membuat terkenalnya nama dokter “Inova.

Mak glodak!!!

1 Majalah Tempo, 22 Mei 2005; Kesehatan; Jika Pasien Lebih Nyaman di Rumah Orang; Pelayanan rumah sakit di Indonesia masih mengecewakan, dokter mestinya jadi mitra bicara pasien

Sabtu, 17 Februari 2007

Pak, mbok “Parfumnya” Ganti-ganti tho!!

Pak Kromo, pemuda 40 tahun yang lalu, berarti sekarang usianya 60-an tahun. Itulah kenyataan yang banyak dihadapi petugas pelayanan kesehatan di daerah pedesaan. Para pemuda 40 – 50 tahun yang lalu dapat dikatakan hampir semuanya tidak tahu pasti berapa usia mereka. Hal ini dikarenakan persoalan mendasar dalam penghitungan usia, yaitu tidak adanya tanggal lahir. Jangankan tanggal lahir, tahun saja masih dikira-kira.

Biasanya untuk mengatasi masalah ini, seringkali para petugas kesehatan ini menanyakan “rabine pas jaman Jepang utawi jaman Gestok mbah?”[menikahnya ketika jaman Jepang atau jaman G30SPKI?] atau dengan semacam pertanyaan “rumiyen pas Jaman Mardhika sampun saget playon mbah? (dulu saat sudah merdeka sudah bisa lari belum mbah?) Susahnya ketika ditanya berapa usianya, jawaban mereka sangat sederhana, bahkan terkesan meremehkan “pun panjenengan kinten-kinten kemawon, nggih selangkung lah” (Anda kira-kira saja lah, ya dua puluh lima tahun lah) padahal mereka sudah kakek-kakek dan nenek-nenek. Puas…. Puas…. Puas!!!?

Mbah Kromo ini, karena produk generasi jaman “super lempung” artinya kurang tersentuh produk-produk industri modern seperti sabun mandi, shampoo, pasta gigi dan sikat gigi apalagi parfum biar mampu “menggaet” lawan jenis. Bagi mbah Kromo, yang dikatakan bersih, artinya terlihat mata bahwa ia itu bersih. Jadi cukup dengan dibasuh dengan air dan digosok-gosok saja, kalau sudah terlihat bersih,

“ngapain harus pakai sabun?”

pikirnya dalam hati.

Tetapi biar tidak dianggap “lain” dari kebanyakan orang, beliau pakai saja sabun mandi, walaupun hanya dipakai sore hari, habis kerja dari sawah biar keringatnya terbasuh bersih. Tetapi kalau pagi hari jangan ditanya

“pakai sabun ndak mbah mandi pagi ini?”

dipastikan jawabannya “mboten” (tidak).

Ini baru masalah sabun, shampoo hampir dikatakan tidak pernah, sikat gigi dengan pasta gigi juga hampir tidak pernah.

Akibatnya sangat terasa, karena kulit manusia kaya akan asam lemak yang mudah teroksidasi menjadi aldehid. Inilah yang diyakini menyebabkan ketengikan minyak. Keringat kaya akan amonia dan berbagai macam asam. Di daerah mulut apalagi sisa-sisa makanan plus pencernaan bakteri yang menguraikan asam-asam amino yang kaya unsur pembentuk amonia, dan sulfur pembentuk H2S. Kesemua senyawa ini plus unsur-unsur tembakau rokok tingwe (linting dewe [digulung sendiri]), membuat berbagai aroma yang bila dicium, akan bersatu padu, bersama-sama membentuk BAU. Hasil akhir inilah yang diserang oleh produk-produk industri modern yang terklasifikasi dalam satu kelompok industri toiletries. Karena hasil akhirnya jelas, maka produk-produk itu tidak perlu diiklankan dengan bahasa-bahasa yang rumit dan susah, seperti yang dikuliahkan para pakar di bidangnya. Cukup dengan penangkal bau, baik dari mulut maupun badan.

Karena kebiasaan itu, mbah Kromo menunjukkan TRIAS gejala tidak menggunakan produk toiletries modern.

Pertama, badan bau khas (bau badan khas ini, konon berguna dalam situasi peperangan terlebih di dalam hutan, bau ini menyatu dengan alam, sehingga tidak terdeteksi kehadirannya oleh musuh).

Kedua, gigi tampak seperti batu karang bersalut mentega. Karang berwarna coklat kehitaman, terlebih akibat pengecatan tembakau, serta mentega berwarna kuning, produk sisa makanan yang mengumpul tidak tersapu.

Ketiga, berbicara menjadi amat bau.

Karena setiap berobat di Puskesmas, mbah Kromo selalu menunjukkan TRIAS gejala tidak memakai produk toiletries modern, ditambah selalu menggunakan minyak kayu putih, maka seperti kata orang marketing membentuk “merek” bau mbah Kromo. Seperti kata pepatah, gayung bersambut, “ciri khas” mbah Kromo ini akhirnya menuai respons. Respons itu datangnya dari petugas yang melayani di Poliklinik Puskesmas. Mbak Warti namanya, biasa asertif, ada sesuatu yang tidak suka langsung dia katakan, tidak peduli dokter kepala puskesmas, kepala dinas atau kolega lain di Puskesmas, tetapi juga kepada pasien-pasien yang beliau tangani. Salah satu dari sekian banyak pasien yang mendapat umpan balik asertif dan lugas adalah mbah Kromo ini.

“Pak Kromo, kalau periksa ke sini, mbok “parfumnya” ganti-ganti tho pak!”

Dengan wajah merah padam, entah karena marah atau malu, yang jelas hanya beliau saja yang tahu, pak Kromo meninggalkan ruang pemeriksaan untuk menebus resep.

PERTANYAAN :

APA KIRA-KIRA JAWABAN MBAH KROMO?

Membalikkan telapak tangan bukan urusan yang mudah

Saat mengandung putera kami yang kedua… istri saya pernah terjatuh dari sepeda motor. Penyebab jatuhnya sangat sepele yaitu tabrakan dengan kambing…. ndak elite blas…!

Permasalahannya bukan pada elite atau tidak elite-nya penyebab jatuh… tetapi dampak dari jatuh dari sepeda motor… maklum istri saya termasuk seorang pembalap amatir yang profesional. Artinya bukan pembalap profesional alias amatir… tetapi setiap hari selalu ngebut seperti pembalap profesional yang latihan setiap hari…bahkan walaupun dalam keadaan hamil hingga enam bulan.

MAK DIAAR…

Seperti disambar petir di siang bolong.. kedua tangan istri saya mengalami patah tulang…di kedua pergelangan tangannya. Dan hasilnya dokter UGD di RS Ortopedi Surakarta, mempunyai opini harus dilakukan operasi. Tidak puas dengan pendapat dokter UGD tadi, kami mencoba mencari pendapat dokter ahli ortopedi masih di tempat yang sama.. dengan melihat argumentasi dan ketakutan akan nasib kehamilan dan anak yang dikandung akhirnya dokter tersebut memutuskan untuk cukup dilakukan reposisi tulang tanpa operasi.. cukup dilakukan gips luar tidak penuh.

Sebagai dokter yang sering melihat dan “memerkosa” pasien hingga kesakitan hebat… saya tidak tahan melihat penderitaan istri saya (yang juga dokter) saat dilakukan reposisi tulang. Bayangkan saja tangan dan lengan ditarik oleh dua orang perawat seperti orang yang melakukan perlombaan tarik tambang… menguras semua tenaga yang dimiliki… udah begitu… dokter ahli tulang tadi juga ikut menambahi dengan membelokkan pergelangan tangan, dengan kedua perawat masih dalam keadaan seperti orang yang lomba tarik tambang. Spontan istri saya mengerang kesakitan… padahal ketika melahirkan anak kami yang pertama.. kuat menahan rasa sakit tanpa mengerang kesakitan.. berarti sangat sakit.. sekali..

Perjalanan ternyata sangat panjang dan melelahkan…seperti tidak ada habisnya. Padahal dokter ahli tulang yang memimpin reposisi tulang tadi mengatakan “butuh waktu enam minggu”. Mengatakan “butuh waktu enam minggu” ternyata tidak semudah detail detik-detik yang harus dilewati. Detik-detik yang harus dilalui istri saya, sudah perut membuncit, masih mual-mual…harus dilengkapi penderitaannya dengan menikmati munculnya sensasi nyeri yang hilang timbul dari tulang dan jaringan lunak di sekitar patah tulang..

Saya pun dipaksa keadaan harus menemaninya dan merawatnya seperti seorang baby sitter yang merawat bayinya. Karena kedua tangan, pergelangan tangan hingga lengan sampai siku istri saya di-gips seperti “wayang orang”…jadi tidak bisa apa-apa selain semuanya harus saya bantu.

Ganti baju, memakai baju…ternyata mempunyai kesulitan tersendiri. Saya mengidentifikasi ada dua halangan… pertama, yaitu kedua tangan dan lengan yang terbelenggu oleh gips… dan kedua adalah perut yang membuncit..juga merupakan kesulitan tersendiri. Kalau menyuapin makanan merupakan acara seperti orang pacaran… tetapi kalau urusan membantu “pipis” “eek” hingga menyeboki-nya….lha itu butuh rasa kasih sayang dan cinta yang sangat luar biasa… sebuah ujian agar kami selalu bertambah mesra. Tahu sendiri kan kesulitan yang ini….orang hamil sebentar-sebentar kebles pipit… eh…keblet pipis.. bahkan dalam satu malam bisa dua sampai tiga kali…

Setelah detik-detik yang dilalui genap mencapai enam minggu… huaaah… lega rasanya… gips dibuka.. h…ha..aaah bisa tidur malam lebih nyenyak nih.. tanpa terganggu.. harus melakukan ritual “menurunkan” “menaikkan” “mendudukkan” “menyebok-i” “memberdirikan”… bayangan saya dalam hati… dan ternyata.. setelah gips dibuka.. tidak seperti yang dikira… membalikkan telapak tangan sangat susah dan selalu ada rasa nyeri yang menyelimuti… ternyata pepatah “ah itu urusan mudah cuman membalikkan telapak tangan saja” adalah SALAH BESAR. Bapak saya yang menderita stroke-pun tidak mampu membalikkan telapak tangan juga. Singkat cerita ada tambahan waktu atau injury time dua minggu hingga genap satu bulan hingga membuat “membalikkan telapak tangan” itu jadi mudah tanpa rasa sakit…

Alhamdulillah…. tinggal menunggu saat-saat melahirkan tiba.. perjalanan yang penuh dinamika..membelokkan arahnya tanpa disangka-sangka. Tekanan darah istri saya makin naik.. menginjak bulan kedelapan mendekati penuh..setiap minggu tensi naik 10 mmHg.. dan seminggu terakhir.. tensi 180/110 mmHg dan setiap pagi kelopak mata selalu bengkak seperti orang habis menangis… tidak tahan dengan kondisi istri yang penyakit kehamilannya didiagnosis pre-eklamsi mulai berat… saya berkonsultasi dengan dokter ahli kandungan yang merawatnya… dan akhirnya kami mau menerima keputusan untuk diakhiri kehamilannya dengan operasi Caesar.. saat dilakukan operasi Caesar.. tekanan darah masih terus menanjak hingga mencapai 210/120 mmHg.. saya sangat cemas dengan keadaan ini… akhir cerita keduanya selamat… sekarang anak kedua kami sudah berusia sebelas bulan dalam keadaan sehat…alhamdulillah..

MENGHINDARI OPERASI TULANG TIDAK DAPAT MENOLAK OPERASI CAESAR…

MEMANG SUSAH MENJADI PASIEN…


Selasa, 13 Februari 2007

Dokter Matre & “Polisi Daun”


Membaca blog mbak Lita Purba…saat menceritakan anaknya… ada istilah yang menggelitik hati saya …..”polisi daun” (Saya sudah minta izin beliau menggunakan istilah “polisi daun” untuk tulisan ini). Dalam iklan A Mild, seorang polisi menyamar dengan menutupi tubuhnya dengan daun sehingga pengemudi yang melanggar tidak melihat adanya polisi…. Dan perangkap berhasil…. Kena loh…. Maaf pak atau bu Polisi… saya menyebut “polisi daun” ini dengan polisi matre…. Mengintai mencari mangsa mendapatkan fulusnya….he he he…matre kaleee…

Ada kesamaan antara “polisi daun” dengan dokter matre…. Saya batasi dokter matre dalam hal ini, karena ia pekerja lepas…. Berarti penghasilannya akan bertambah bila “jam tayangnya” bertambah….. sama dengan “polisi daun” bila “jam tayangnya” bertambah berarti “fulus”nya juga bertambah… cuman ada bedanya…

DOKTER YANG PUNYA “JAM TAYANG” SANGAT TINGGI……BERESIKO!!!

Atul Gawande dalam bukunya Complications, menyajikan cerita seorang dokter bedah tulang dengan reputasi baik, yang dalam perjalanan selanjutnya mengalami penurunan kualitas layanan sampai terjadi kesalahan fatal yang seharusnya dapat dihindari. Mulai terjadi banyak tuntutan malpraktik, hingga banyak teman sejawat yang mulai menghindari tidak merujuk atau memberikan pasien kepada dokter tadi. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata jumlah kasus yang dipegang melampaui kemampuan profesionalnya. Ia bekerja delapan puluh, sembilan puluh, bahkan seratus jam per minggu selama lebih dari sepuluh tahun. Ia beristri dan punya tiga anak – yang sudah besar-besar – tetapi ia jarang bersama mereka. Jadwalnya sangat ketat, dan ia harus sangat efisien untuk menyelesaikannya semua. Akhirnya ia berada dalam tahap kelelahan mental, sesuatu yang biasa terjadi bagi profesi dokter, dan memulai kehidupan kelam dalam karir profesionalnya. Diperkirakan, pada suatu masa, sekitar 3 sampai 5 persen dari dokter yang berpraktik sebenarnya tidak layak menerima pasien.

Banyak dokter yang kehidupan profesionalnya mirip-mirip seperti yang dikisahkan oleh Atul Gawande. Jumlah kasus yang ditangani dan rentang waktu bekerja melebihi kemampuan profesional manusiawinya. Praktik di lebih dari tiga tempat praktik, bahkan ada yang sampai enam tempat praktik dan jarak antar tempat praktik mencapai puluhan kilometer. Dalam keadaan seperti itu, tentu sangat rawan terjadi kelelahan fisik maupun mental dan mempermudah terjadinya kesalahan laten yang berujung pada kejadian malpraktik.

Sudah begitu, masih banyak dokter yang membatasi masuknya dokter baru, secara logika akan mengurangi beban kerjanya. Bahkan beberapa dokter spesialis tertentu sebagaimana yang diungkapkan Laksono Trisnantoro (dalam dua bukunya Aspek Manajemen Rumah Sakit dan Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi dalam Manajemen Rumah Sakit) membentuk kartel, sehingga membatasi rumah sakit dalam suatu wilayah agar menggunakan dokter spesialis dalam jaringan kartelnya. Hasil akhirnya adalah beban kerja dokter yang ada tidak berkurang, bahkan cenderung bertambah, karena penduduk juga terus berkembang dan bertambah. Bhisma Murti bahkan menambahkan, mereka dengan sengaja mempertahankan kelangkaan, mempertahankan tarif dalam rentang yang tinggi, untuk mempertahankan keuntungan pribadi. Sebuah pertimbangan yang lebih mementingkan kepentingan pribadi, ketimbang kepentingan banyak orang, apalagi kepentingan pasien yang menjadi pertimbangan utamanya ketika memilih profesi sebagai dokter.

Lalu BAGAIMANA DENGAN PASIENNYA???