Tampilkan postingan dengan label ASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASI. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2013

Hah ? ASI Mengandung 700 Jenis Bakteri !


NEW YORK, AMERIKA SERIKAT,Siapapun tahu bahwa air susu ibu (ASI) mengandung nutrisi baik untuk para bayi baru lahir. Sebuah penelitian kemudian mengatakan ASI memiliki 700 jenis bakteri. Peneliti pun mempelajari fungsi setiap jenis bakteri tersebut.

Peneliti asal Spanyol memetakan bakteri mikrobiota pada ASI milik 18 perempuan yang baru menjadi ibu. Peneliti sebelumnya mengetahui ASI dapat membentuk bakteri flora atau komunitas bakteri unik yang berbeda pada tiap orang.

Penelitian melibatkan 18 ibu baru. Peneliti juga memberikan pertanyaan selama tiga periode waktu berbeda yaitu enam bulan setelah kelahiran, satu bulan setelah kelahiran atau masa ASI mengandung nutrisi kolostrum, dan ekskresi pertama kelenjar susu setelah kelahiran.

`Penelitian ini merupakan kali pertama mendokumentasikan berbagai perbedaan dengan teknik pyrosequencing (teknik penentuan DNA dengan sekuensing skala besar) terhadap sampel kolostrum dan ASI. Kemudian dikumpulkan pada satu dan enam bulan masa menyusui,` kata seorang anggota peneliti.

Ditemukan 700 jenis bakteri pada kolostrum. Beberapa di antaranya seperti Weissella, Leuconostoc, Staphylococcus, Streptococcus, dan Lactococcus. Seiring bayi berkembang, jenis bakteri pun berubah. Bahkan beberapa bakteri tumbuh seperti Veillonella, Leptotrichia, dan Prevotella.

Variabel kelahiran pun memengaruhi keragaman bakteri pada ASI. Misalnya, ibu yang kelebihan berat badan memiliki jenis bakteri yang sebanyak ibu yang menjaga bobot tubuhnya tetap ideal selama kehamilan. Begitu pula dengan ibu yang menjalani operasi caesar karena kondisi darurat memiliki kadar bakteri tak sebanyak mereka yang menjalani persalinan normal. Menurut peneliti, hormon ibu juga memengaruhi keberagaman hayati pada ASI.

Saat ini, peneliti mempelajari peranan ASI pada sistem metabolic dan imunisasi bayi. Apakah bakteri bisa membantu sistem pencernaan bayi? Apakah bakteri-bakteri itu membantu pencernaan membedakan asupan yang menguntungkan dan asing?

`Penelitian tentang peran bakteri dalam ASI itu penting dengan menghubungkannya dengan sistem kekebalan bayi seperti mengurangi risiko alergi, asma, dan penyakit autoimun,` tambah peneliti. Hasil penelitian itu dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition.

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Rabu, 05 Desember 2012

Cara Hentikan Kebiasaan Ngedot Pada Anak


Terkadang orangtua memberikan dot atau empeng kepada si kecil karena ini adalah cara mudah untuk membuatnya tidak rewel. Namun, bila balita Anda yang berusai 2-3 tahun masih menggunakan dot, maka kebiasaan itu sebaiknya segera dihentikan.


Tentu saja bukan hal mudah untuk membuat anak mau melepas barang kegemaraanya yang satu ini. Tetapi orangtua berkewajiban untuk membimbing mereka. Bila Anda kesulitan, Parenting USA punya sembilan cara mudah untuk menghentikan kebiasaan "ngedot" si kecil.

Kirim ke Awan
Ketika si kecil mulai mencari dotnya, beritahu dia bahwa benda kesayangannya itu akan Anda kirim ke tempat awal membelinya dengan mengikatnya kebeberapa balon dan terbangkan ke langit. Anda akan punya alasan yaitu jarak yang jauh untuk membelinya lagi.

Tukar dengan Mainan Baru
Si kecil selalu tertarik dengan mainan baru. Katakan padanya bila membeli mainan maka harus dibayar dengan dot. Ini adalah cara yang ampuh agar ia mau melepaskan dotnya tanpa terpaksa.

Sumbangkan ke Bayi Lain
Ajak bayi Anda mengunjungi bayi yang baru lahir. Jelaskan kepadanya bahwa bayi tersebut lebih membutuhkan dot, dan beritahu bahwa anak Anda sudah terlalu besar untuk ngedot.

Mengubur Dot
Walupun Anda akan berbohong kepadanya, tetapi bila ia tahu apabila dot yang dikubur akan tumbuh bunga, maka ia akan dengan senang hati membiarkan dotnya terkubur di dalam tanah. Ingat untuk menambahkan bibit bunga ketika menguburnya.

Memberikan Reward
Bila Anda tidak ingin mengarang cerita, maka Anda bisa mengiminginya dengan hadiah bila ia tidak ngedot. Tetapkan aturan, misalnya 1 atau 2 minggu tidak ngedot maka ia akan mendapatkan es krim atau kue kesukaanya.

Bertahap
Sungguh sulit untuk menghentikan kebiasaan ngedot dari anak. Maka cara terbaik adalah dengan bertahap menjauhkannya dari dot. Misalnya, pertama-tama dia hanya boleh ngedot ketika di dalam rumah, berikutnya dia hanya boleh ngedot ketika tidur, dan pada akhirnya ia akan berhenti dengan sendirinya.

Buang ke Tempat Sampah
Setelah semua cara tidak berhasil, Anda bisa mengumpulkan semua dotnya dan membuangnya ke tempat sampah pada malam hari. Ketika si kecil bangun dan menemukan dotnya ada di tempat sampah, ia akan enggan menggunakannya lagi.

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Ibu dengan penyakit Ini dilarang menyusui !


Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik yang dapat diberikan ibu pada bayinya. Dalam ASI terdapat kandungan enzim yang membantu pencernaan, serta adanya kandungan zat imun yang dapat mencegah bayi dari berbagai penyakit infeksi. Selain itu, pemberian ASI memberikan keuntungan psikologis bagi bayi maupun ibu.

Mengingat manfaatnya, maka seharusnya setiap bayi baru lahir sampai berusia 6 bulan hanya mendapat ASI karena selama 6 bulan pertama ASI saja memenuhi kebutuhan bayi untuk tumbuh optimal. Setelah 6 bulan, ASI hanya memenuhi sekitar 60% kebutuhan bayi sehingga perlu ditambahkan makanan pendamping ASI sampai bayi berusia 1 tahun. Setelah berusia 1 tahun ASI tetap diberikan namun makanan padat sudah menjadi makanan utama karana ASI hanya akan memenuhi 30% kebutuhan bayi.

Namun hal ini barangkali tidak terlaksana oleh karena beberapa kondisi dan situasi yang oleh para petugas kesehatan atau ibu tidak ditatalaksana dengan baik sehingga terjadi kegagalan menyusui. Sering sekali penyusuan dihentikan dengan alasan ibu sakit. Pada umumnya, menyusui tidak perlu dihentikan karena bagi bayi akan lebih berbahaya bila susu formula dimulai pemberiannya dibandingkan bila bayi terus menyusu dari ibu yang sakit. Menghentikan penyusuan hanya dapat dibenarkan bila ibu menderita penyakit yang sangat berat misalnya gagal jantung atau gagal ginjal atau kanker. Ibu dengan gangguan jiwa pun masih dianjurkan untuk menyusui asalkan ada orang yang mengawasi pada saat ibu menyusui.

Ibu dengan penyakit infeksi akut lebih sering menularkan penyakit melalui tangan atau percikan ludah daripada melalui ASI. Selain itu, di dalam ASI akan terdapat zat anti terhadap penyakit yang diderita ibu sehingga bila bayi tetap menyusu justru akan mendapat zat penangkal penyakit tersebut. Bila ibu terpaksa harus menjalani rawat inap di rumah sakit, bila fasilitas memungkinkan, dianjurkan agar bayinya ikut dirawat bersama ibunya agar proses menyusui tidak dihentikan.

Terdapat beberapa keadaan sakit ibu yang memerlukan penanganan khusus, antara lain:
Ibu Pengidap HIV/AIDS

Bayi dari ibu dengan HIV/AIDS sebanyak kurang lebih 20% sudah terinfeksi HIV melalui transmisi vertikal dan bila ibu menyusui, penularan melalui ASI akan bertambah sebanyak 14%. Oleh karena itu, dinegara maju dengan angka kematian dan kesakitan bayi yang tidak mendapat ASI sudah rendah, dianjurkan agar ibu tidak menyusui bayinya. Namun di negara dimana tidak memberikan ASI memberikan dampak morbiditas dan mortalitas yang masih tinggi, maka dianjurkan agar ibu tetap memberikan ASI.

Bila ibu bukan pengidap HIV/AIDS atau statusnya tidak diketahui maka ibu tetap dianjurkan untuk memberikan ASI. Bila ibu diketahui mengidap HIV/AIDS ada beberapa alternatif yang dapat diberikan dan selanjutnya, apapun yang menjadi keputusan ibu perlu kita dukung.
  1. Bila ibu memlih tidak memberikan ASI maka ibu diajarkan untuk memberikan makanan alternatif yang benar. Di negara berkembang, seyogyanya makanan alternatif ini disediakan secara cuma-cuma untuk periode 6 bulan.
  2. Bila ibu memilih memberikan ASI maka dianjurkan untuk memberikan ASI secara eksklusif selama 3 – 4 bulan kemudian menghentikan ASI dan bayi diberikan makanan alternatif. Perlu diusahakan agar puting jangan sampai luka karena virus HIV dapat masuk ke bayi melalui luka tersebut. Selain itu, jangan memberikan ASI bersama susu formula karana susu formula akan menyebabkan luka di dinding usus sehingga virus HIV dari ASI lebih mudah masuk ke tubuh bayi.
Ibu dengan Penyakit Hepatitis B
Walaupun virus hepatitis B dapat menular melalui ASI tetapi bila ibu mendapat hepatitis selama hamil maka 80-90% bayi telah mendapat infeksi intra-uterin, sehingga bayi tidak perlu dilarang mendapat ASI. Hanya dianjurkan dalam 24 jam pertama bayi mendapat imunoglobulin spesifik Hepatitis B dan dilanjutkan dengan pemberian vaksinasi.

Ibu Menderita TBC Paru
Kuman TBC tidak melalui ASI sehingga bayi boleh menyusu. Ibu perlu diobati secara adekuat dan diajarkan cara mencegah penularan kepada bayi yaitu dengan penggunaan masker. Walaupun sebagian obat anti tuberculosis tersebut akan terdapat di ASI, bayi tetap diberi INH dengan dosis penuh. Setelah 3 bulan pengobatan biasanya ibu sudah tidak menularkan lagi maka bayi diuji mantoux, bila hasilnya negatif terapi INH dihentikan dan bayi diberi vaksinasi BCG.

Ibu dengan Penyakit Diabetes
Bayi dari ibu dengan diabetes sebaiknya diberikan ASI, namun perlu dimonitor kadar gula darahnya.
Seringkali ibu menghentikan penyusuan bila ia meminum obat-obatan karena khawatir obat tersebut dapat mengganggu bayi. Kadar obat dalam ASI tergantung dari masa paruh obat dan rasio obat dalam plasma dan ASI. Selain itu umumnya hanya sebagian kecil obat yang dapat melalui ASI dan jarang berakibat negatif kepada bayi. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengobati bayi dengan meyuruh ibu memakan suatu obat. Memang ada beberapa obat yang sebaiknya jangan diberikan kepada ibu yang menyusui dan sebaiknya bila ibu memerlukan obat pilihlah obat yang masa paruhnya pendek dan yang rasio ASI-plasma kecil, atau dicarikan alternatifnya yang tidak bedampak terhadap bayi. Dianjurkan pula agar bila ibu memerlukan obat, maka obat tersebut diminum segera setelah menyusui.

Kamis, 28 Juni 2012

Sebaiknya Minum Susu Pada Malam Hari

Susu, sudah banyak yang mengetahui kandungan gizi di dalamnya banyak memberikan manfaat bagi tubuh. Lantas, kapan waktu yang tepat untuk mengonsumsinya?
 Hal ini dibahas dalam diskusi di grup facebook Gerakan Sadar Gizi. Kurnia Ayu melontarkan pertanyaan, "Minum susu itu baiknya pagi atau malam hari ya?"

Dalam diskusi ini, dr Rini Sjoekri menulis susu mengandung asam amino tryptophan suatu prekursor untuk neurotransmitter serotonin. Neurotransmitter ini bersifat menenangkan sehingga membantu proses tidur. 

"Jad sebaiknya susu diminum sebelum tidur," kata Rini.

Nor Hasanah, dalam diskusi ini menambahkan, kalsium dalam susu merupakan salah satu nutrisi terbaik untuk menjaga kesehatan tulang karena kalsiumnya lebih mudah diserap tubuh. Untuk hasil maksimal sebaiknya susu dikonsumsi pada malam hari. 

Pada malam hari osteoklas atau sel-sel penghancur tulang tidak bekerja. Pada malam hari aktivitas kita juga tidak banyak sehingga kalsium susu terserap optimal. 

"Kerja kalsium terutama malam hari. Jadi, jika tujuannya untuk meningkatkan penyerapan kalsium mengkonsumsi susu sebaiknya pada malam hari," tulis Nor Hasanah.




Kalau artikel diatas bermanfaat, lebih baik anda berlangganan di bawah ini :



Powered by FeedBlitz

Selasa, 22 Mei 2012

Minum Susu Botol Dapat Menyebabkan Infeksi Telinga pada Anak

oleh: Dita Aulia Rachmi
'pc042028.jpg' photo (c) 2007, Mohd Fahmi Mohd Azmi - license: http://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0/Bila anak Anda mengeluhkan pendengarannya berkurang atau telinganya terasa penuh, hati-hati! Mungkin saja anak Anda sedang mengalami infeksi telinga tengah. Pada balita, gejala infeksi telinga ditunjukkan oleh kebiasaan menarik-narik atau memegang-megang telinga. Namun, terlepas dari gejala di atas, infeksi telinga bisa saja tidak menunjukkan tanda-tanda apapun.

Telinga kita terdiri dari tiga bagian yaitu bagian luar, tengah, dan dalam. Bagian tengah telinga adalah bagian yang terletak tepat di belakang gendang telinga kita. Pada telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang berguna untuk mengtransmisikan suara dan saluran eustachius yang menghubungkan ruang tengah dengan daerah di belakang hidung.

Infeksi telinga disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah penggunaan dot yang tidak benar. Dot yang baik seharusnya bekerja menyerupai fungsi puting ibu di mana air yang keluar tergantung pada anak yang sedang menyusu. Saat anak menyedot, susu yang keluar akan ditelan oleh anak. Sedangkan pada saat anak berhenti menyedot, susu tidak akan keluar.

Bila dot kurang baik, masalah muncul jika susu tetap keluar walaupun anak tidak menyedot, misalnya karena tertidur. Di sisi lain, saat anak tidur otot-ototnya menjadi rileks, termasuk otot yang menyusun saluran eustachius sehingga saluran tersebut terbuka. Nah, susu yang tetap keluar tadi bisa-bisa bukannya tertelan, namun masuk ke dalam saluran eustachius dan  memenuhi rongga pada telinga tengah. Hal ini mungkin terjadi, apalagi pada anak yang menyusu botol dalam keadaan berbaring.

Cairan yang terkumpul di telinga tengah kemudian dapat menjadi media infeksi bakteri. Selain itu, adanya cairan di belakang gendang telinga akan mengganggu proses transmisi suara. Akibatnya, anak menjadi sulit mendengar. Fungsi telinga dapat kembali normal apabila cairan tersebut dibuang.

Sebagai pencegahan, jangan biasakan anak untuk minum susu botol sambil berbaring. Lebih baik lagi bila pemakaian dot dihentikan sedini mungkin. Bila memang harus menggunakan botol, gunakan dot yang bekerja menyerupai puting ibu di mana susu hanya akan keluar bila anak menyedot. Selain itu, posisikan balita seperti saat ibu memberikan ASI secara langsung.

Penting bagi para ibu untuk menjaga kesehatan telinga anak mengingat anak-anak rentan sekali terhadap penyakit. Gangguan apapun pada fungsi telinga dapat memengaruhi proses belajar anak, apalagi untuk anak usia sekolah. Bila dibiarkan, infeksi telinga dapat menyebabkan anak menderita tuli permanen. Bila ibu mencurigai adanya masalah telinga pada anak, segera periksakan ke dokter THT terdekat.
Tentang Penulis:
Dita Aulia Rachmi adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Untuk interaksi dan korespondensi lebih lanjut, silakan menghubungi penulis melalui halaman kontak..


Kontak !

Kamis, 03 November 2011

10 Tips Nyaman Menyusui di Tempat Umum

Ibu yang sedang dalam fase menyusui tidak harus merasa terkekang untuk harus selalu berada di rumah. Tentunya ibu menyusui juga tetap bisa beraktifitas seperti ibu-ibu lainnya.

Problemnya, tidak semua tempat bisa jadi area yang nyaman untuk ibu menyusui. Tak semua ibu juga merasa nyaman menyusui di tempat umum.

Berikut tips yang dapat membantu Anda agar tetap bisa memberikan bayi ASI di manapun Anda berada, seperti dikutip dari Today's Parent:

Puting Payudara Indah

1. Ingat, Menyusui adalah Hak Anda
Menyusui di tempat umum bukanlah suatu hal yang ilegal, melainkan suatu hal yang sangat natural. Anda memberikan nutrisi yang paling baik untuk bayi dan sebagai manfaat tambahannya, Anda memberikan pelajaran secara tidak langsung kepada orang lain, baik pria maupun wanita yang kebetulan melihat Anda, tentang betapa pentingnya ASI.

Komisi HAM di Ontario, Kanada menyatakan, "Tidak ada seorangpun yang dapat melarang Anda memberikan ASI kepada bayi Anda hanya karena aAda berada di tempat umum. Mereka tidak sepantasnya meminta Anda untuk "menutupinya", mengganggu Anda, atau menyuruh Anda pindah ke area yang lebih tertutup."

2. Latihan di Depan Kaca
Apabila Anda merasa tidak nyaman menyusui di depan umum, latihan di depan kaca dapat membangun rasa percaya diri yang Anda butuhkan. Bayi yang sedang menyusui menutupi sebagian besar payudara Anda, jadi tidak perlu merasa khawatir. Anda juga dapat bereksperimen menyusui dengan pakaian yang berbeda-beda untuk kenyamanan Anda dan bayi.

3. Pilihlah Pakaian yang Membuat Anda Nyaman
Anda dapat membuat atau membeli pakaian khusus ibu menyusui yang dapat dibuka di bagian tertentu untuk mempermudah proses menyusui. Pilihan lainnya, Anda dapat memakai baju yang agak longgar agar Anda dapat dengan mudah membuka sebagian untuk proses menyusui. Kemeja berkancing juga dapat menjadi pilihan Anda karena dapat dengan mudah melepaskan beberapa kancing saja. Anda juga dapat menggunakan jaket, pashmina, atau cardigan untuk menutupi bagian tubuh yang Anda rasa kurang nyaman apabila terlihat.

4. Gunakan Gendongan atau Tutupan Ekstra
Dengan latihan, Anda Anda dapat menyusui bayi Anda menggunakan berbagai jenis gendongan bayi dan tutupan ekstra di atasnya. Anda bahkan bisa menyusui sambil berjalan. Apabila Anda membuka pakaian dari bagian bawah untuk mempermudah proses menyusui, mungkin Anda bisa menggunakan tank top untuk menutupi bagian perut.

5. Pilih Bra yang Simpel dan Nyaman
Banyak ibu yang lebih memilih untuk memakai sport-bra dibandingkan bra jenis lainnya karena dianggap lebih simpel dan nyaman, terlebih lagi untuk proses menyusui. Apabila Anda menggunakan bra khusus menyusui, Anda dapat berlatih di rumah untuk membuka dan menutupnya dengan satu tangan agar Anda terbiasa melakukannya dengan mudah.

6. Pilih Tempat yang Nyaman Bagi Anda
Ada dua hal yang menjadi syarat tempat ideal bagi Anda, yaitu tempat dimana Anda bisa duduk dengan nyaman dan menopang punggung Anda, dan agak tertutup. Di dalam restoran, Anda mungkin bisa memilih tempat duduk yang agak "tersembunyi", atau apabila Anda sedang berada di mall atau pusat perbelanjaan lainnya Anda dapat memilih untuk menyusui di ruang yang tersedia.

Apabila pilihan-pilihan di atas tidak tersedia, jangan khawatir. Carilah tempat yang cukup luas dan bisa membuat Anda nyaman untuk meletakkan barang-barang Anda. Jangan terlalu mengkhawatirkan pendapat orang lain yang melihat Anda menyusui di depan umum, hal ini lebih baik dilakukan daripada berjalan-jalan sambil menggendong bayi yang menangis terus-menerus.

7. Anda Dapat Berbalik Badan
Ketika sang bayi sedang mecari posisi yang nyaman untuk menyusui, pada saat inilah biasanya payudara Anda dengan tidak sengaja terlihat di depan umum. Misalkan Anda sedang duduk di restoran dan meja Anda terletak di dekat dinding, Anda dapat berbalik badan menghadap dinding tersebut ketika bayi Anda sedang berusaha mencari posisi yang nyaman untuk menyusui. Kemudian ketika sang bayi sudah menemukan posisi nyamannya, Anda dapat duduk kembali seperti biasa.

8. Gunakan Nursing Cover/Apron Menyusui
Sejak beberapa tahun belakangan ini, apron menyusui semakin tren di kalangan ibu-ibu. Bentuknya pun chic sehingga bukan hanya nyaman tapi juga tetap terlihat cantik saat dipakai. Cara menggunakannya pun mudah, cukup kalungkan apron menyusui ke leher, dan letakkan si kecil ke dalam posisi menyusui. Dengan apron menyusui, bayi bisa minum ASI kapan dan di mana saja.

9. Tersenyumlah!
Apabila Anda melihat ada orang lain yang melirik ke arah Anda ketika Anda sedang menyusui di tempat umum, tersenyumlah kepada mereka. Anda sadar betul bahwa Anda sedang melakukan hal yang sangat alamiah dan sangat penting sebagai seorang ibu. Senyuman Anda dapat meningkatkan percaya diri dan membuat orang lain merasa nyaman dengan situasi Anda.

10. Persiapkan Respon Terbaik Anda
Apabila hal yang Anda takutkan terjadi, yakni Anda mendapat komplain dari orang di sekitar Anda, siapkanlah respon Anda terlebih dahulu. Tentu saja sewaktu-waktu Anda merasa terganggu dengan orang asing, dan Anda hanya ingin pergi dari tempat itu, namun ketahuilah bahwa yang Anda lakukan bukanlah merupakan sesuatu yang salah, melainkan merupakan hal yang sangat baik dan alamiah, jadi tidak perlu malu untuk melakukannya di luar ruangan. Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Menyusui Turunkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

http://4.bp.blogspot.com/-sPqyXRLdAn4/TpE_H4geDeI/AAAAAAAAJZg/RrTN61YkHaY/s400/MAMA+MENYUSUI_mpeg2video.jpg

dranak.blogspot.com – Satu lagi hasil penelitian tentang manfaat menyusui dirilis. Berdasarkan penelitian yang dimuat di American Journal of Epidemiology edisi ternayar, para ibu yang menyusui dalam kurun waktu yang disarankan (6 – 12 bulan) memiliki risiko lebih rendah terkena tekanan darah tinggi di kemudian hari.
Penelitian, bagaimanapun, tidak menyimpulkan bahwa menyusui adalah alasan untuk menciptakan tekanan darah yang sehat. Tapi mereka menambah bukti bahwa menyusui mungkin memiliki manfaat tidak hanya bagi bayi, tapi untuk ibu juga.

Secara umum, para ahli merekomendasikan bahwa bayi diberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama mereka, kemudian terus mendapatkan ASI bersama dengan makanan padat sampai mereka berusia satu tahun.

Menyusui bermanfaat melindungi bayi terhadap penyakit-penyakit umum tertentu, seperti diare dan infeksi telinga bagian tengah. Tapi ada juga beberapa bukti bahwa menyusui dapat menurunkan risiko ibu dari beberapa masalah kesehatan.

Studi telah menemukan bahwa wanita yang menyusui memiliki risiko rendah terkena diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung di kemudian hari – meskipun tidak satupun dari mereka mampu membuktikan hubungan sebab-akibat kedua faktor itu.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtajC4VwFcimamLCL6ZQR76TEvb-dyZy1X-IHFEPqiqu0q4R78bL17eoNHbG4r1lQASrliPb40nkXAIjoWgpvyDsRgBc11x7zDzJc70ByNBeIZZiAP42zX02_-y2_G4j4V7626coECiHpy/s320/Bayi-Mempunyai-Gaya-Menyusui-Khas-dan-Berbeda.jpg



Untuk studi baru, peneliti melihat korelasi antara pemberian ASI dan kemudian risiko tekanan darah tinggi. Penelitian ini melibatkan relawan 56 ribu perempuan AS yang memiliki setidaknya satu bayi.

Secara keseluruhan, studi menemukan, wanita yang telah menyusui selama setidaknya enam bulan kurang baru akan mengembangkan tekanan darah tinggi 14 tahun lebih lama ketimbang ibu yang bayinya meminum susu botol.

Hampir 8.900 wanita yang berpartisipasi dalam penelitian secara keseluruhan akhirnya didiagnosa dengan tekanan darah tinggi. Tetapi 22 persen lebih tinggi bagi perempuan yang tidak menyusui anak pertama mereka, dibandingkan wanita yang menyusui secara eksklusif selama enam bulan.

Namun, harus dilihat pula faktor-faktor seperti kebiasaan diet, olahraga, dan merokok.

Tidak ada temuan membuktikan bahwa pemberian ASI memberikan perlindungan jangka panjang terhadap tekanan darah tinggi, kata ketua peneliti, Dr Alison M Stuebe, dari University of North Carolina, Chapel Hill.

“Adalah masuk akal bahwa menyusui memiliki manfaat langsung,” kata Stuebe. Penelitian atas hewan telah menemukan bahwa hormon oksitosin, yang terlibat dalam menyusui, memiliki efek langsung pada tekanan darah.

“Perempuan juga cenderung memiliki penurunan tekanan darah jangka pendek segera setelah menyusui,” tambah Stuebe.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5EeqKFquqpFZ9i2OkhN87YZO0IUXJq3HMag9jNIMpYQ3il__SFz5ODmrUpkGyObuctNJaQ15z5bLRTQ4aDg1zyZlMEwuDvIdmyW79xTGzSY0yAa_b6_Lhv9eCBbQOxL3oGwZEpAxfq7A/s1600/sleepy_gray-bfg.jpg

Senin, 29 Agustus 2011

Susu Tak Hanya Penting untuk Anak! Usia Produktif Juga Perlu

Susu tidak hanya penting bagi bayi dan balita, susu juga bermanfaat di semua tahapan usia. Susu juga harus dikonsumsi oleh mereka di usia produktif, karena bermanfaat untuk pencegahan penyakit seperti osteoporosis di kemudian hari, perlindungan terhadap kanker usus besar, menurunkan risiko PMS dan migren, kekokohan tulang, mencegah kegemukan (peningkatan oksidasi lemak tubuh).

susu

"Susu juga membantu terapi kanker payudara, membantu kontraksi otot, pembekuan darah, kontrol tekanan darah, menjaga fungsi dinding sel tubuh (kandungan kalsium), mempertahankan kesehatan dan status gizi (kandungan protein, vitamin dan mineral)," ungkap ahli gizi, Dr.dr. Saptawati Bardosono Msc di Jakarta belum lama ini.

Pada anak, susu berfungsi untuk menguatkan otot, tulang dan gigi (kandungan kalsium) juga untuk pertumbuhan dan pemeliharaan (kandungan protein), membantu fungsi normal otak dan sistem saraf serta pembentukan sel darah merah (kandungan vitamin B12).

"Bagi usia remaja, kandungan protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, vitamin B, A dan D yang terkandung pada susu bermanfaat untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan yang cepat selama masa pubertas, juga membantu mengokohkan tulang dan gigi," papar Saptawati.

Sedangkan untuk usia lanjut, dengan kecukupan asupan kalsium dan vitamin D dapat menurunkan risiko jatuh dan patah tulang, dan kecukupan asupan protein dapat mencegah kehilangan massa otot, serta pencegahan terhadap penyakit osteoporosis.

Jumat, 19 Agustus 2011

Susu Lebih Ampuh Atasi Dehidrasi daripada Minuman

Kehausan hingga terasa pusing saat berolahraga adalah tanda-tanda tubuh mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan dan elektrolit. Pada anak-anak, minum susu lebih bagus untuk mengatasi kondisi tersebut daripada minum minuman berenergi.

Risiko dehidrasi biasanya meningkat pada siang hari, khususnya ketika cuaca sedang panas-panasnya. Selain keluar lewat keringat, cairan tubuh dan elektrolit yang terkandung di dalamnya juga keluar melalui penguapan yang terjadi di permukaan kulit maupun saat berbicara.

Menurut penelitian, setiap tubuh kehilangan 1 persen cairan tubuh maka kemampuan fisik seseorang akan berkurang 15 persen. Tanda-tandanya antara lain susah konsentrasi, denyut jantung dan suhu inti tubuh meningkat serta lebih cepat merasa lelah.

Dehidrasi yang lebih parah juga dapat memicu kerusakan organ yang lebih serius, atau bahkan kematian. Contohnya pada orang-orang yang terlalu lama beraktivitas di bawah terik matahari, seringkali terjadi gangguan jantung yang disebut heat stroke.

Anak-anak cukup rentan mengalami dampak buruk akibat dehidrasi karena sedang dalam masa pertumbuhan, sehingga fungsi organnya belum seluruhnya sempurna. Terlebih saat anak-anak sedang berolahraga di bawah terik matahari, khususnya saat udara terasa kering.

Sebuah penelitian di McMaster University menunjukkan, minum air putih saja kadang-kadang tidak cukup karena tidak menggantikan elektrolit tubuh yang hilang bersama keringat. Meski begitu, untuk anak-anak minuman berenergi tidak terlalu dianjurkan.

Susu jauh lebih baik untuk dikonsumsi saat berolahraga di bawah terik matahari, karena kandungan nutrisi di dalamnya tidak hanya menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Protein dan kalsium ydi dalamnya juga bagus untuk pembentukan sel-sel otot maupun tulang.

"Anak-anak mudah dehidrasi saat olahraga dan mereka butuh minum yang cukup untuk menggantikan cairan tubuhnya. Susu lebih baik karena kaya akan protein, karbohidrat, kalsium dan elektrolit," ungkap salah seorang peneliti, Brian Timmons seperti dikutip dari Indiavision, Jumat (19/8/2011).

Kalau artikel diatas bermanfaat, lebih baik anda berlangganan di bawah ini :



Powered by FeedBlitz

Rabu, 30 Maret 2011

Manfaat ASI yang Tidak Ada di Susu Formula


img

Saat ini masih sedikit bayi yang bisa mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan. Beberapa bayi justru diberikan susu formula yang terbuat dari susu sapi. Padahal ada banyak kandungan ASI yang tidak ada di susu formula.

Hal pertama yang seorang ibu perlu ketahui adalah kandungan dari susu manusia dan susu sapi itu berbeda. Pada susu sapi kadar proteinnya lebih tinggi yaitu 3,4 persen, sedangkan susu manusia hanya 0,9 persen. Kadar laktosa di dalam susu manusia lebih besar yaitu 7 persen sedangkan di dalam susu sapi sebesar 4,8 persen.

'Karena itu ASI untuk otak dan susu formula untuk otot,' ujar dr IGAN Pratiwi selaku Ketua Satgas ASI IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dalam acara seminar tentang Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif Bagi Bayi dalam Mendukung MDGs di Hotel Manhattan, Jakarta, Selasa (29/3/2011).

Dokter yang akrab disapa Tiwi ini menuturkan laktosa sangat penting dalam proses pembentukan myelin otak. Myelin ini berfungsi untuk mengantarkan rangsangan yang diterima oleh bayi. Saat menyusu rangsangan yang diterima oleh si kecil seperti mencium bau ibunya serta mendengar dan merasakan napas sang ibu.

Sedangkan pada susu sapi kandungan yang paling tingginya adalah protein yang berfungsi membantu pembentukan otot karena sapi memang membutuhkan otot yang kuat seperti untuk bergerak atau membajak sawah.

dr Tiwi menuturkan laktosa yang tinggi pada bayi yang baru lahir kadang bisa menyebabkan diare. Tapi kondisi ini merupakan suatu hal yang normal atau fisiologis sehingga ibu tidak perlu menghentikan pemberian ASI.

'Jika diare disebabkan oleh fisiologis, maka berat badannya tidak akan turun. Jadi selama berat badannya tidak berkurang, ibu tidak perlu menghentikan pemberian ASI dan normalnya bayi bisa buang air besar sebanyak 10-15 kali sehari,' ungkapnya seperti dilansir detikHealth.

Selain itu AA dan DHA yang terkandung di dalam ASI juga dilengkapi dengan enzim lipase sehingga bisa dicerna oleh tubuh bayi. Sedangkan pada susu formula memang ada AA dan DHA tapi tidak ada enzimnya. Hal ini karena enzim lipase baru dibentuk saat bayi berusia 6-9 bulan.

Manfaat lain dari ASI yang tidak didapatkan dari susu formula adalah kandungan kolostrum yang keluar di awal-awal bayi menyusu. Kolostrum yang keluar saat bayi menyusu mengandung 1-3 juta leukosit (sel darah putih) dalam 1 ml ASI.

'Jadi kalau ada yang bening-bening sedikit yang keluar dari payudara jangan diremehkan, karena itu mengandung leukosit yang bisa bermanfaat membunuh bakteri di dalam tubuh bayi,' ujar dokter yang berpraktek di RS Buda Jakarta.

Ia juga mengatakan keberhasilan ibu menyusui untuk terus memberikan ASI pada bayinya sangat ditentukan oleh dukungan dari suami, keluarga, petugas kesehatan, masyarakat serta lingkungan kerjanya.

'Menyusui merupakan suatu proses keseimbangan yang melibatkan tiga orang yaitu ibu, bayi dan ayahnya. Karena itu peran ayah sangat berarti dalam hal keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan atau sampai 2 tahun,' ujar dr Utami Roesli SpA, MBA, IBCLC.

Karena itu dr Utami menuturkan bahwa seorang ayah juga punya power (kekuatan) untuk menyehatkan anaknya dan berperan dalam proses menyusui (breastfeeding father).

Sumber : http://www.wolipop.com/
Kirim Artikel anda yg lebih menarik di sini !

Rabu, 16 Februari 2011

Tanda-tanda Bayi Sehat Karena Cukup ASI

Ibu menyusui mungkin bertanya-tanya apakah bayinya sudah mendapatkan ASI yang cukup atau belum. Untuk mengetahuinya hal tersebut ada beberapa hal yang bisa dievaluasi si ibu.

Apabila bayi mendapatkan ASI eksklusif dan tidak ada asupan lainnya maka sulit bagi ibu untuk mengetahui sudah berapa banyak susu yang diminum oleh si kecil, hal ini akan membuat ibu khawatir apakah bayinya mendapat nutrisi yang cukup atau tidak.

Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC yang pernah ditemui detikHealth menuturkan dalam 6 bulan pertama kehidupan semua kebutuhan nutrisi dari protein, karbohidrat dan lainnya sudah tercukupi dari ASI eksklusif.

Dr utami juga menyarankan para ibu agar memberikan ASI hingga usia anak 2 tahun. Karena dari 500 cc ASI yang diterima anak usia 2 tahun telah memenuhi 31 persen karbohidrat, 38 persen protein, 45 persen vitamin A dan 95 persen kebutuhan vitamin C anak.

Meski demikian orangtua terutama ibu bisa melihat beberapa tanda yang dapat meyakinkannya bahwa si kecil mendapatkan ASI yang cukup, seperti dikutip dari Mayo Clinic yaitu:

Apakah bayi memiliki berat badan normal?
Berat badan seringkali bisa menjadi tanda yang paling diandalkan untuk mengetahui si kecil mendapatkan nutrisi yang cukup atau tidak. Meskipun bayi akan mengalami penurunan 10 persen berat badannya setelah lahir, tapi berat badannya akan naik kembali dalam waktu 10-14 hari. Dengan rajin menimbang, maka orangtua bisa mengetahui grafik berat badan si kecil.

Seberapa sering bayi menyusu?
Sebagaian besar bayi yang baru lahir akan menyusu sebanyak 8-12 kali dalam sehari, yaitu sekitar tiap 2-3 jam. Jika si kecil tidur dalam jangka waktu yang lama atau lebih dari 4 jam, maka cobalah membangunkannya untuk menyusu. Selain itu ibu tidak perlu khawatir ASI nya akan habis jika terus dihisap, karena semakin sering bayi menyusu maka payudara akan semakin banyak menghasilkan ASI.

Bisakah ibu mendengar bayi menelan?
Jika diperhatikan dengan seksama, maka ibu bisa mendengar suara bayi menelan susunya serta adanya gerakan yang kuat dan berirama dari rahang bawah bayi. Kondisi ini bisa meyakinkan ibu bahwa bayi menyusu dengan benar.

Apa yang dirasakan ibu pada payudaranya?
Ketika bayi menyusu ASI dengan benar, maka ibu akan merasakan sensasi seperti ada yang menarik lembut dan bukan sensasi seperti dicubit atau ditarik puting susunya. Umumnya payudara akan terasa penuh sebelum menyusui dan terasa lebih lembut serta kosong sesudahnya.

Bagaimana kondisi popok bayi?
Pada hari ke empat setelah kelahiran maka bayi akan memiliki 6-8 kali popok basah per harinya dan sudah mulai buang air besar setiap hari secara teratur. Selama beberapa hari pertama feses bayi akan gelap dan lengket, lalu berubah menjadi kuning.

Apakah bayi tampak sehat?
Umumnya jika bayi mendapatkan asupan ASI yang cukup ia akan tampak puas dan tenang setelah menyusu, menjadi aktif bergerak, matanya terlihat cerah dan 'awas', serta mulut dan bibir bayi yang tampak lembab.

Setiap bayi umumnya memiliki pola makan yang unik dan kadang berbeda satu dengan yang lain, tapi ibu bisa menggunakan insting untuk lebih meyakinkannya. Selama bayi tumbuh dan berkembang secara optimal dan memiliki berat badan normal, maka ibu bisa yakin bahwa bayinya mendapat kebutuhan gizi yang cukup.

Sumber : detik

Jumat, 12 Februari 2010

Menyusui Saat Hamil

Hamil lagi saat masih menyusui sering terjadi di dalam budaya/ bangsa mana saja. Dalam budaya kita ada kebiasaan untuk segera menghentikan menyusui ketika diketahui hamil lagi. Pandangan ini tidak betul sepenuhnya. Pada sebagian besar wanita, menyusui saat hamil sebetulnya oke-oke saja selagi yang bersangkutan cukup makan dan minum.

Dalam kondisi-kondisi tertentu memang sebaiknya tidak dilakukan seperti ada riwayat persalinan kurang bulan, riwayat keguguran dan riwayat perdarahan. dalam kondisi2 diatas menyusui dihindari karena saat bayi mengisap puting maka akan keluar hormon oksitosin yang fungsinya merangsang kelenjar susu agar mengeluarkan ASI.

Hormon ini juga merangsang kontraksi rahim, sehingga bisa menimbulkan persalinan kurang bulan, keguguran dan perdarahan pada wanita dengan riwayat-riwayat kelainan diatas. Tetapi jika tidak ada riwayat kelainan tersebut, maka aman-aman saja untuk mempraktekkan pemberian ASI saat hamil.

Saat proses kehamilan berlanjut maka ASI akan berubah bentuknya kembali menjadi kolustrum, yaitu saat usia kehamilan 4-5 bulan. Akibat perubahan ini maka bayi yang sedang menyusui akan merasakan adanya perubahan ini. Disamping itu juga jumlahnya menurun. Maka bayi sering dengan sendirinya akan berhenti nga-ASI. Namun tidak jarang ada juga bayi yang masih mau terus lanjut. Tidak perlu dihentikan dan tidak usah khawatir untuk melanjutkannya. Tetapi tentu saja tidak bisa hanya mengandalkan kolustrum untuk bayi yang sudah besar, dibutuhkan SUFOR agar bayi tidak kurang gizi.

Selanjutnya jika bayi yang dikandung lahir, maka silakan untuk melakukan tandem menyusui bayi dengan adiknya. Cuma saat menyusui tandem ini sering terjadi mastitis (puting lecet dan meradang). Hati-hati jika memutuskan untuk menyapih bayi yang besar karena bisa secara psikologis sang bayi merasa di"tinggal"kan.

Dengan adanya beberapa persoalan yang bisa terjadi jika menyusui saat hamil, maka ada baiknya jangan sampai terjadi. Tetapi jika terjadi kehamilan juga ? Lakukan saja seperti yang dijelaskan diatas. Happy Breastfeeding !!!

:nggaya::nggaya::nggaya:


Minggu, 22 Maret 2009

Metode Amenorrhea Laktasi (MAL)

Metode Amenorrhea Laktasi (MAL) merupakan metode KB berdasarkan fisiologi menyusui. Jika memnuhi 3 kriterianya maka risiko menjadi hamil dalam 6 bulan pertama hanya 2% atau 1 dalam 50.

Tiga kriteria MAL adalah:
1. Amenorrhea, artinya tidak adanya mens. Kembalinya mens didefinisikan sebagai munculnya darah atau spotting 2 hari berturut-turut setelah 2 bulan paska melahirkan.

2. Menyususi secara Full atau nyaris Full, termasuk ASIX dan hampir ASIX, siang malam, sesuai kemauan bayi.Efektifitas MAL meningkat jika pola menyusuinya instens terutama, di minggu2 dan bulan2 awal.

3. Kurang dari 6 bulan paska melahirkan. Setelah enam bulan, kesuburan sering sudah kembali.



Isapan bayi akan menekan hormon yang diperlukan untuk terjadinya ovulasi. Sehingga tentu saja tanpa ovulasi kehamilan tidak akan terjadi.

Agar MAL berfungsi kegiatan menyususi bayi (breastfeeding) harus dilakukan:
* Segera setelah melahirkan (IMD)
* Sesering mungkin berdasarkan permintaan bayi, bukan terjadwal.
* Tanpa botol atau dot
* Tanpa interval yg panjang antara kegiatan menyusukan baik siang maupun malam.
* Tanpa susu tambahan.
* Bahkan jika ibu atau bayi sakit sekalipun.

Manfaat/keuntungannya
* Efektifitas tinggi (minimal 98%)
* Mudah dikerjakan.
* Bisa dimulai segera paska melahirkan.
* Tidak dibutuhkan supply
* Tidak mempegaruhi intercourse
* Tanpa Efek samping
* Ada untungnya dari segi kesehatan ibu dan bayi.
* Bisa diterima dari segi agama maupun budaya mana saja.

by Debbie080 Pictures, Images and Photos

Kerugian
* Beberapa wanita membutuhkan lubrikasi saat ML agar nyaman
* Tidak bisa buat yang tidak mau breastfeeding (ha ha ha la iya lah)
* Pola menyusui akan sulit untuk dipertahankan
* Lamanya metode ini terbatas (efektif hanya 6 bulan)
* Tidak ada perlindungan terhadap PMS/HIV

Senin, 09 Februari 2009

Bayi Mogok nyusu

Bayi mogok menyusui istilah kerennya nursing strike bisa disebabkan oleh berbagai sebab. Mogok nyusu merupakan cara bayi memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sehingga ibu harus mencari penyebabnya seperti layaknya seorang detektif lol.

Menurut La Leche League International beberapa penyebab mogok menyusui disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
  • Adanya nyeri pada rongga mulut akibat tumbuh gigi, sariawan (sore) atau infeksi (thrush)
  • Pada bayi yang lebih besar, bisa akibat ketakutan karena jeritan atau marah ibunya seperti saat digigit sang ibu menjerit atau marah.
  • Infeksi telinga, yang membuat saat menyusui menjadi susah dan nyeri.
  • Hidung bayi yang tersumbat, akibatnya bayi susah bernafas saat menyusui.
  • Terlalu sering memakai botol atau dot (kempeng)
  • Gangguan rutinitas bayi, seperti ibu yang harus bekerja sehingga jadwal menyusui terganggu.
  • Lama berpisah dengan bayi.
  • Rasa asi yang berubah akibat vitamin, obat atau makanan tertentu. Gejalanya pada bayi berupa kembung dan banyak mengeluarkan gas.

  • Apa yang harus dilakukan jika bayi mogok menyusui?
    Mogok menyusui merupakan hal yang sulit untuk ditanggulangi bahkan pada seorang ibu dengan dedikasi yang tinggi untuk menyusui sekalipun. Dengan kesabaran dan dukungan semua pihak pemogokan ini biasanya bisa diatasi.

    Hal-hal berikut ini dapat diterapkan untuk mengatasinya:
  • Coba menyusukan bayi saat bayi sedang tidur atau saat bayi mengantuk. Banyak bayi yang nggak mau menyusui saat terbangun akan mau saat sedang mengantuk.
  • Periksakan ke dokter anak akan adanya kemungkinan penyebab infeksi dll.
  • Variasikan posisi menyusui.
  • Melakukan rocking saat menyusui seperti menggoyang-goyangkan tubuh kekiri-kekanan dll.
  • Usahakan menyusui ditempat yang tenang dan tidak menarik perhatian bayi ke suasana sekitarnya.
  • Berikan sebanyak mungkin kontak kulit ibu dengan kulit bayi misalnya dengan menyusui tanpa memakai baju. (weh sexy nich...eek)
  • Hindari makanan yang dapat merangsang bayi seperti cafein, makanan pedas, coklat.
  • Dengan kesabaran dan ketelatenan seorang ibu inya Allah masalah ini akan teratasi.
  • Rabu, 22 Agustus 2007

    Mengurangi Ketergantungan Terhadap Susu Formula

    susu_formulaAksi Suara Ibu Peduli rupanya cukup menggelitik banyak pihak untuk ikut berkomentar. Antara lain tulisan-tulisan Bung Zaim di harian Republika (27/02/98 dan 05/03/98). Kemudian sepucuk surat dari mbak Karlina yang mewakili Ibu-ibu Peduli menanggapi tulisan di harian yang sama (05/03/98). Rasanya sebagai ibu rumah tangga dan pengamat masalah Ibu dan Anak, penulispun tergelitik dan gatal tangannya untuk ikut "urun rembug" kalau dapat dikatakan demikian, untuk ikut menanggapi tulisan-tulisan atau publikasi terdahulu. Hal ini jangan sampai menimbulkan suatu opini yang rancu di masyarakat.

    Masalah yang dilontarkan Bung Zaim dan Mbak Karlina memang tidak dapat dengan penyelesaian jangka pendek dan hanya sepihak saja. Banyak instansi baik pemerintah maupun non pemerintah terkait di sana. Keduanya memandang dari sudut yang berbeda, dan juga tidak ada yang salah. Pengetahuan mbak Karlina akan ASI tidak perlu disangsikan lagi, bahkan beliau pendukung ASI sejak gerakan ASI belum dicanangkan. Hanya bagaimana alternatif penyelesaiannya itulah yang menjadi tanggung jawab mereka yang peduli akan terbentuknya generasi suatu bangsa yang sehat dan cerdas di masa depan. Mungkin dalam jangka pendek yang diharapkan adalah turunnya harga susu dengan segera, tetapi permasalahan tidak menjadi selesai karenanya. Masyarakat luas pada umumnya tetap tinggi ketergantungan akan susu formula.Justify Full

    Dalam keadaan krisis ekonomi sekarang ini yang dirasakan berat bahkan sangat berat oleh banyak pihak, antara lain dengan membumbungtingginya harga susu formula. Aksi yang digelar oleh Ibu-ibu Peduli, memang merupakan "nurani Ibu yang dipenuhi cinta universal, sehingga menjadikan derita orang lain menjadi bagian dari kisah hidupnya", sehingga sidang kasus Karlina yang diliput oleh wartawan dalam dan luar negri itu, sempat menarik banyak simpatisan. Sementara tulisan Bung Zaim yang mewakili "Bapak-bapak pendukung Gerakan ASI", mungkin ada yang hanya membacanya selintas, bahkan mungkin segera terlupakan. Padahal masalah keduanya adalah sama bahwa ketergantungan Ibu akan susu formula cenderung tinggi. Sehingga ketika susu formula hilang dipasar dan kemudian muncul dengan harga tinggi, banyak ibu yang menjerit.

    Kelompok- kelompok yang memerlukan susu

    Pertama, yaitu ibu-ibu yang sepenuhnya menyusui anaknya dengan ASI tanpa diselingi susu formula dalam jangka waktu yang cukup bagi si anak untuk dihentikan pemberian ASI-nya. Bagi golongan ini tidak perlu diganggu gugat, bahkan diberi penghargaan dari masyarakat terhadap "tekad"nya itu. Mungkin yang dirasakan berat saat ini bagi mereka adalah untuk mendapatkan makanan bergizi sehingga kualitas ASI yang dihasilkanpun cukup baik. Ketergantungan mereka akan susu formula dapat dikatakan tidak ada. Rasanya merekapun tidak menjadi ikut panik ketika susu formula hilang dipasaran. Demikian pula susu formula bagi ibu menyusui, dapat digantikan dengan bahan alami lainnya.

    Kedua, adalah ibu-ibu yang digambarkan mbak Karlina sebagai bekerja sebagai pilihan sendiri bukan karena keterpaksaan soal makan atau tidak makan. Untuk kelompok ibu-ibu ini bukan mereka tidak sadar atau tidak tahu pentingnya ASI, bahkan kadang sembunyi-sembunyi untuk mengeluarkan ASInya di WC kantor. Susu formula adalah alternatif tercepat yang mereka pilih untuk mengatasi kebutuhan si bayi selama mereka bekerja apalagi mereka yang harus dinas luar kota selama beberapa hari misalnya. Selanjutnya apa yang dikemukan mbak Karlina bahwa setelah mereka berada di rumah, sesegera mungkin dan selama mungkin menyusui anak dengan ASI, bahkan kalau perlu "sepanjang malam". Pada kenyataannya dan didukung hasil-hasil penelitian serta tulisan -tulisan ilmiah, hal itu tak baik untuk dilakukan.

    Bayi yang normal cukup 5-6 kali sehari mendapat ASI dengan waktu masing-masing pemberian ASI 10-20 menit dan tidak bisa dikompensasi sekaligus misalnya dengan. sepanjang malam atau selama mungkin karena sang Ibu pun perlu istirahat, untuk dapat berproduksi ASI lagi keesokan harinya dan si bayi tidak dibiasakan "mengempeng", dari dada ibu yang tak mengeluarkan ASInya lagi. Berdasarkan suatu penelitian ilmiah pula bahwa ibu-ibu yang capai bekerja, apalagi stress di tempat kerja atau dalam perjalanan pulang dan pergi ke tempat kerja, dapat mempengaruhi produktivitas ASInya. Hormon "Adrenalin" yang dapat terbentuk karena sang ibu mengalami stress atau kerja berat akan menghambat atau setidaknya mengurangi keluarnya ASI. Jadi jangan salahkan siapa-siapa jika ketika pulang kantor si bayi hanya dapat tercukupi dengan satu atau dua kali ASI saja.

    Pada kelompok ibu-ibu ini perlu diberikan hak-hak yang lebih baik, disamping kerelaan si ibu juga untuk membagi hak gajinya yang berkurang. Di Jerman di negara yang saat ini penulis bermukim di kenal "cuti pendidikan anak (erziehungurlaub)" selama 18 bulan. Ibu-ibu yang bekerja diperusahaan atau kantor-kantor tidak akan kehilangan kursi ketika ia masuk lagi, karena selama ia cuti ada yang menggantikannya. Hanya saja gajinya tidak diterima penuh karena perlu dibagi untuk penggantinya selama ia cuti. Tapi mereka menikmati cuti tersebut untuk sepenuhnya menyusui anaknya dan ketika ditinggalkan untuk kembali bekerja anak-anak mereka sudah tidak lagi tergantung ASI juga tidak pada susu formula, karena mereka sudah mendapat asupan yang lengkap seperti halnya manusia dewasa.

    Hal lain adalah membagi waktu kerja "part time". Bagi mereka yang mempunyai bayi (di sana sampai usia 5-6 bulan disarankan ASI sepenuhnya). Tentu saja konsekwensinya pun ibu-ibu tersebut harus rela gajinya berbagi dengan teman kerjanya. Hal ini bukan saja berdampak positif bagi kelangsungan pemberian ASI, juga membuka lapangan dan kesempatan kerja bagi ibu-ibu yang tergolong kelompok ini dan tidak sedang adalam masa menyusui anak. Hal ini perlu juga diupayakan menjadi undang-undang ketenagakerjaan di Indonesia misalnya. Tidak saja Instansi ketenagakerjaan ataupun kesehatan yang ikut mengupayakannya, rasanya Menteri UPW yang akan datang pun diharapkan dapat menggolkan hak-hak ibu yang bekerja menjadi lebih baik, tidak hanya menambah jumlah lapangan dan kesempatan kerja bagi wanita. Dengan ini ketergantungan akan susu formula pun dapat dikurangi.

    Pemberian ASI di tempat kerja juga suatu alternatif mengurangi ketergantungan akan susu formula, tetapi jika tempat kerja jauh dari rumah, sementara di sana tidak ada tempat penitipan anak, dengan siapa si bayi selama ibu bekerja?. Imbauan mbak Karlina untuk para bapak agar mampir ke tempat istrinya pada saat istirahat untuk mengantar ASI yang dibotolkan juga, rasanya kurang relevan. Berapa jauh jarak yang ditempuh sang bapak dan berapa biaya yang harus dikeluarkan setiap hari untuk ke sana ke sini menjemput dan mengantar ASI. Pembotolan ASI pun bukan satu alternatif yang paling baik, karena seperti diungkapkan mbak Karlina sendiri adanya kedahsyatan hubungan psikhologis antara ibu dan anak ketika si anak berada dalam dekapan dan menyusu dari payudara ibunya. Selain itu segi sanitasi dan kontaminasi ASI selama dalam botol sulit juga pengupayaannya, apalagi kalau harus dibawa ke sana kemari. Dulu penulis pernah berupaya mencari tempat tinggal dekat tempat bekerja, sehingga sewaktu-waktu dapat pulang untuk memberikan ASInya. Tetapi sulit untuk mendapat keadaan seperti itu sekarang, apalagi di kota-kota besar.

    Ketiga, adalah kelompok ibu yang oleh mbak Karlina sebagai memilih bekerja sebagai soal makan atau tidak makan. Ibu-ibu yang ingin mendekap anaknya tapi tidak mempunyai pilihan. Mereka pun jangan dijadikan "korban" penggunaan susu formula. Bagi masyarakat kelas ekonomi rendah (para buruh harian misalnya), jangankan ketika harga susu formula melangit, ketika masih normalpun tidak terjangkau oleh mereka. Mereka memberikan alternatif-alternatif lain sebagai penggantinya, antara lain air tajin yaitu air godokan beras (seperti yang pernah diberikan ibu penulis ketika kecil). Pada kelompok ini yang harus diperjuangkan adalah "penerangan gizi yang baik dan benar". Gizi yang baik dan benar tidak hanya diperoleh melalui susu formula. Jadi gerakan-gerakan posyandu oleh ibu-ibu PKK maupun tim-tim kesehatan pun sebaiknya tidak memberikan susu-susu contoh pada kegiatannya ataupun seperti yang diistilahkan Bung Zaim sebagai suatu "medikalisasi", dengan mudahnya rumah-rumah sakit memberikan "susu contoh berupa susu formula". Maka dalam hal ini Instansi-instansi kesehatan juga organisasi-organisasi masyarakat dapat turut serta menggalakkan pengurangan ketergantungan akan susu formula. Suatu kejadian yang ironis, jika seorang yang bekerja menggerakkan kegiatan kembali pada ASI, tetapi bersamaan dengan itu, anaknya di rumah ditinggalkan dengan botol yang berisi susu formula.

    Upaya lain yang dapat dilakukan pada kelompok ini seperti pada kelompok ke dua di atas, yaitu memberikan hak-hak yang lebih baik bagi ibu yang bekerja di pabrik-pabrik misalnya. Cuti yang tiga bulan itu diberikan, dengan tetap memberikan upah walaupun tidak penuh. Jadi Para pengusahapun harus mau ikut bertanggungjawab memikirkan hari depan generasi akan datang yang terbentuk antara lain dari pemenuhan kebutuhan fisiknya ketika masa bayi melalui pemberian hak yang wajar bagi para ibu-ibu yang bekerja, tidak hanya memeras tenaganya saja. Pesan "moral" di sini sepatutnya cukup dihiraukan. Alternatif lain seperti yang disarankan mbak karlina, mengupayakan adanya tempat penitipan anak di lingkungan pabrik. Sehingga ibupun dapat tenang dan berproduksi optimal. Tapi dalam keadaan seperti sekarang ini sulit untuk kedua hal di atas sulit untuk segera diterapkan oleh perusahaan atau pabrik tempat ibu-ibu tersebut bekerja.

    Keempat, adalah kelompok ibu-ibu yang dengan sengaja meninggalkan kewajiban menyusui anaknya berdasarkan "keinginan sendiri", antara lain mereka yang enggan memberikan ASI karena akan kehilangan sebagian daya tarik seksualnya, karir akan terhambat atau repot karena urusan bisnis. Mungkin kelompok inilah konsumen terbesar akan susu formula. Dalam keadaan ekonomi sekarang ini mereka pun tidak terlalu banyak terguncang, harga tinggi tidak menjadi masalah, yang penting susu formula tersedia di pasaran.

    Inilah kelompok ibu-ibu yang perlu diberi pengertian lebih mendalam akan pentingnya ASI dan "manajemen laktasi"nya. Juga suatu kesadaran bahwa pengambilan keputusan untuk melahirkan anak, disertai tanggungjawab memenuhi kebutuhan si bayi akan ASI yang menjadi haknya. Ketuklah hati mereka lebih dalam bahwa kembalinya mereka pada ASI akan memberi dampak positif bagi masyarakat pada umumnya. Dengan memberi contoh memborong susu formula hanya akan menimbulkan dampak negatif saja, terutama bagi golongan mereka yang tak mampu untuk membelinya.

    Kelima, adalah kelompok ibu-ibu yang karena sakit atau bahkan meninggal saat bayinya masih memerlukan ASI, antara lain bayi-bayi yang berada di panti asuhan. Memberikan pengganti ibu pemberi ASI bukan suatu jalan keluar bahkan kemungkinannya sangat kecil. Demikian juga pemberian susu formula bukan satu-satunya alternatif yang dapat diambil. Sumbangan berkaleng-kaleng susu pada mereka tidak memecahkan masalah, apalagi jika keadaan seperti sekarang ini, dikala sumbangan menurun frekwensinya, maka sulitlah mereka mencari susu pengganti karena sudah terbiasa akan prosuk susu formula. Alangkah lebih baik sumbangan itu dikonkritkan dengan lemari pendingin atau alat-alat sterilisasi sederhana, sehinggga panti-panti asuhan mampu menyiapkan susu pengganti dari susu sapi segar yang harganya relatif masih lebih rendah dari susu formula.

    Di samping itu diberikan penerangan yang sebaik-baiknya bagaimana perlakuan terhadap susu segar itu, juga penerangan gizi yang memadai untuk mencukupi kebutuhan gizi si bayi yang perlu dilengkapi dari bahan-bahan alami lainnya. Ini memang menambah pekerjaan bagi pengurus panti asuhan, tetapi dengan kesadaran semua pihak, bahwa kekurangan gizi tidak hanya bisa dicukupi dengan susu formula, maka pekerjaan itu selanjutnya akan tertangani.

    Keenam, adalah kelompok balita yang sudah melampaui masa mendapatkan ASI, tetapi tetap membutuhkan susu. Memang betul pertumbuhan kecerdasan mereka akan ditunjang oleh kecukupan gizi yang baik.

    Bukankah susu dalam ilmu gizi sebagai bahan penyempurna setelah bahan lainnya (ingat ! 4 sehat 5 sempurna) Memang dalam susu terutama susu formula tersedia semua bahan-bahan essensial yang dibutuhkan tubuh. Akan tetapi apakah dengan meminum susu saja cukup? Bahkan jika terlalu banyak susu pun anak menjadi kegemukan (obesitas), dan akan lamban dalam beraktivitas. Hal lain, pemenuhan susu sebagai penyempurna itupun tidak harus berasal dari susu formula. Jika kebutuhan susu dipenuhi dengan susu segar, dan kebutuhan lainnya dari makanan alami yang kita konsumsi sehari-hari. Maka ketergantungan akan susu formula bagi si anakpun dapat dikurangi dengan tidak menjadikan sinak sebagai anak yang kurang gizi.

    Banyak alternatif lain untuk mencukupi protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral bagi si anak, antara lain memasyarakatkan konsumsi sayuran dan buah bagi anak-anak. Karena di sanalah sumber vitamin dan mineral yang sering diunggulkan oleh berbagai produk susu formula dalam "fortifikasinya". Asam lemak tak jenuh dapat diperoleh dari minyak yang berasal dari tumbuh.tumbuhan. Sedangkan enzim-enzim yang juga diiklankan susu formula dapat diganti dari bahan-bahan alami yang dimakan sehari-hari.

    Sekali lagi penerangan gizi yang baik ternyata perlu disebarkan ke seluruh masyarakat, baik dari lapisan kelas ekonomi rendah sampai yang tinggi sekalipun. Karena kadang-kadang justru anak-anak dari mereka yang tergolong kelas ekonomi tinggi dengan mudahnya membeli makanan-makanan jajanan (misalnya Fast food), yang kadangkala masih harus dipertanyakan nilai gizinya.


    Upaya Bersama untuk Menurunkan Ketergantungan Susu Formula

    Pengalaman yang dirasakan penulis dan juga pengamatan yang dilakukan selama beberapa tahun bermukim di suatu negara yang tingkat ekonominya boleh dikatakan lebih maju, penggunaan susu formula bagi sebagian ibu banyak dijauhi, mereka lebih senang kembali ke bahan-bahan alami yang diolah sekedarnya (susu pasteurisasi). Hanya mereka-mereka yang "terpaksalah" menggunakannya. Padahal daya beli mereka masih cukup untuk memberikan susu formula bagi anaknya. Di bawah ini penulis ingin mengemukakan beberapa contoh gerakan ASI yang menyeluruh dari semua pihak.

    Di rumah-rumah sakit, bagi ibu yang melahirkan segera bayinya dalam keadaan masih merah (belum dimandikan) segera diberikan pada dekapan sang ibu. Setelah si ibu berisirahat sejenak, si bayi segera diserahkan kembali untuk mengisap puting susu ibunya, sehingga ASI akan cepat terangsang keluar. Jika ASI belum keluar (seperti yang dialami penulis sampai hari ke2), si bayi tidak segera diberi susu botol tapi sementara diberi dulu teh berasal dari tumbuhan (Fenchel, Kamille dsb), kalau dirasa kurang kalori, diberi tambahan gula sedikit. Usaha mengenalkan si bayi akan susu selain ASI dihindari sejauh mungkin.

    Susu-susu contoh yang berupa susu formula tidak diberikan atau diiklankan di rumah sakit ketika si pasien pulang, kecuali dalam hal-hal tertentu. Dinas-dinas kesehatan baik pemerintah maupun non-pemerintah juga organisasi-organisasi kemasyarakan dan keagamaan, menyebarkan brosur-brosur yang berkenaan dengan ASI. Bahkan bagi mereka yang menemui kesukaran dalam memberikan ASI bagi bayinya, ada grup-grup sosial yang dapat membantu memecahkan masalah tersebut. Para pengusaha susu formula mengiklankan produknya melalui salesman yang datang dari rumah ke rumah atau di dalam brosur-brosur khusus bagi Ibu dan Anak, yang mereka keluarkan sendiri. Sedikit sekali dijumpai dalam majalah atau koran-koran secara umum.

    Gerakan penggunaan ASI, disadari oleh semua pihak dan dilakukan di mana-mana. Dokter-dokter anak sangat menekankan si Ibu untuk memberikan ASInya. Media massa audio visual, termasuk TV jarang mengiklankan susu formula. Bahkan rasanya dari channel TV yang dapat ditangkap oleh penulis, tidak ada yang mengiklankannya.

    Susu segar banyak menjadi pilihan konsumen. Karena mereka menganggap kandungan gizinya lebih alami. Bahkan di beberapa supermaket yang melayani kebutuhan sehari-hari, tidak ditemukan produk-produk susu formula. Susu tersebut hanya di dapat di rumah-rumah obat, apotik-apotik dan beberapa supermaket besar, itupun dalam jumlah terbatas.


    Memang mengurangi ketergantungan terhadap susu formula harus melalui jalan yang panjang, termasuk peranan pemerintah untuk meningkatkan jumlah dan kualitas sapi perah hingga tercukupinya kebutuhan masyarakat. Mungkin yang perlu diberi subsidi atau insentif tertentu adalah peternak-peternak sapi, kemudian juga mempermudah pendistribusian susu segar sampai ketangan konsumen termasuk pengupayaan penanganan susu segar kepada seluruh lapisan masyarakat. Hingga nantinya mereka yang membutuhkan susu tinggal cari di kios atau toko terdekat dengan harga yang terjangkau.

    Untuk sementara mungkin sebagian hal yang ideal di atas masih suatu impian, tetapi dengan kerja keras dan kepedulian banyak pihak, persoalan ketergantungan akan susu formula dapat dikurangi. Melalui tulisan ini penulis ingin mengajak semua pihak turut memikirkan gaung yang telah diperdengarkan melalui aksi Suara Ibu Peduli, tentu saja untuk mencari jalan pemecahannya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dan itu baiknya kita mulai dari diri sendiri.
    Oleh: Mira Suprayatmi

    Selasa, 14 November 2006

    Kisah Di balik vitamin C dosis tinggi


    September 30th, 2005

    Kenapa ya, akhir-akhir ini produsen senang sekali memberi dosis tinggi? Supaya harganya lebih mahal? Supaya konsumen tertarik? Supaya kelihatan 'peduli' pada kesehatan?

    Dari "Mengandung DHA paling tinggi" sampai "Vitamin C dosis tinggi" atau "Minum sekarang, untuk nanti" (atau semacam itulah.. emang vitamin & mineral bisa ditabung gituh?), produsen berusaha bilang ke objek iklannya bahwa mereka membutuhkan produk dengan zat tertentu yang konsentrasinya tinggi. Setahu sayah, -dan dibenarkan oleh dr. Wati tercinta serta prof. Sri Rahardjo dari UGM- yang namanya nutrisi tidak bisa ditabung, apalagi mikronutrien seperti vitamin dan mineral. Kedua mahluk ini dibutuhkan dalam jumlah kecil setiap harinya, dalam artian asupannya bersifat wajib setiap hari dalam dosis yang sesuai dengan yang dibutuhkan (sebab
    kelebihannya akan dibuang).

    Paling gencar adalah iklan suplemen vitamin C dan kalsium (so far begitu sih, walaupun penasaran juga dengan iklan "Vitamin otak" yang entah binatang nutrisi apa yang dimaksud, saya belum tahu ). Dosis konsumsi vitamin C adalah 90 mg/hari (untuk laki-laki berusia lebih dari 18 thn); 75 mg/hari (untuk perempuan berusia lebih dari 18 thn); 85 mg/hari (untuk ibu hamil berusia lebih dari 18 thn); 120 mg/hari (untuk ibu menyusui berusia lebih dari 18 thn). Jadi kebutuhan vitamin C paling tinggi adalah pada ibu menyusui, sebesar 120 mg/hari.

    Dan apa yang kita saksikan di iklan hampir setiap hari? "One thousand miligrams of vitamin C", says Amelia Vega, "Vitamin C 1000 mg, agar tak mudah sakit", kata iklan lain. Hampir 10 kali lipat dari kebutuhan ibu menyusui! Lalu, kemana sisa vitamin C yang tidak terserap? Tentu saja keluar lagi dalam bentuk larutan (alias terlarut dalam air, begitu…), which is keringat dannnn… pipis!!!

    So what? So… pipis anda-anda sekalian yang mengkonsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi ini berharga mahal, sodara-sodara! Anda hanya mengambil 10% manfaat dari uang yang anda bayar untuk suplemen ini, dan membuang 90%-nya di toilet, yang kalau di tempat umum kemungkinan besar harus bayar (means, mengeluarkan uang lagi). AND WHAT ARE YOU DOING EXACTLY? Tidak efisien dan tidak efektif!

    Beberapa iklan sempat saya cemooh, karena menawarkan sesuatu yang 'instant' tapi tampak bodoh untuk saya. Contohnya ya iklan vitamin C ini. Lebih baik mengkonsumsi buah-buahan kaya vitamin (yang isinya tidak hanya vitamin C thok!) setiap hari , daripada minum suplemen vitamin C dosis tinggi tapi kadang-kadang atau hanya menjelang/saat sakit saja. Percuma, toh terbuang 90%. Padahal dari buah-buahan kita dapat serat, vitamin lain (misalnya vitamin A di kulit apel), mineral (misalnya kalium di pisang), rasa enak (enakan mana sih, suplemen sama jeruk segar?), dan pelatihan pencernaan (eits jangan salah! kalau jarang dipake, pencernaan -mulai dari gigi sampai usus- bisa jadi malas lho!).

    Diantara kegunaan suplemen vitamin C adalah : 1) mengobati kekurangan vitamin C (scurvy, scorbut ) [grade A; Strong scientific evidence for this use], 2) pencegahan flu (cold) hingga 50% dalam lingkungan ekstrim (sub-arktik, pelari maraton, pemain ski) [grade B; Good scientific evidence for this use], 3) memperbaiki penyerapan zat besi [grade B]. Di luar itu, pencegahan dan pengobatan flu secara umum (maksudnya untuk orang-orang dalam kondisi normal) termasuk dalam grade D ( it may not work).

    So, SAVE YOUR MONEY. Get other useful things to buy. Memang bener ilmu itu mahal, karena bisa mencegah pengeluaran untuk baanyaaaakkkk sekali hal-hal yang ternyata tak perlu dalam hidup ini


    Kisah di Balik 1000 mg Vitamin C

    March 24th, 2006

    Di belakang maraknya suplemen vitamin megadosis ada seorang tokoh yang berjasa. Linus Pauling, Ph.D ., peraih dua penghargaan Nobel untuk kimia (1954) dan perdamaian (1962).

    Temuannya yang paling populer adalah:
    Vitamin C dosis tinggi dapat mencegah selesma dan flu hingga 45%, mencegah serta menyembuhkan 75% dari semua kanker, dan memperpanjang masa hidup penderita kanker hingga 4-5 kali lebih lama (dibandingkan dengan yang tidak mendapat terapi vitamin C tersebut).

    Secara umum, Pauling mengklaim bahwa konsumsi vitamin(-vitamin) dalam megadosis dapat "memperbaiki kesehatan… meningkatkan kenikmatan hidup dan membantu mengendalikan penyakit jantung, kanker, dan penyakit lain serta memperlambat proses penuaan".

    Merasa pernah mendengar bunyi klaim tersebut dari produsen suplemen dan menjadi tertarik mengonsumsi produknya? SELAMAT! Anda sudah terjebak dalam quackery!

    Terjemah bebas quackery dalam bahasa Indonesia adalah usaha apapun yang melibatkan promosi suatu produk atau sistem kesehatan secara berlebihan . Klaim Pauling mengenai terapi megadosis vitamin C untuk penderita kanker diuji dan dikaji ulang oleh MayoClinic sebanyak 3 kali dengan hasil:

    TIDAK ADA keuntungan yang konsisten dari vitamin C yang diberikan pada penderita kanker stadium lanjut. Bahkan, vitamin C dosis tinggi dapat memberikan dampak yang berlawanan.

    Dosis oral (diminum) yang tinggi dapat menyebabkan diare. Sedangkan dosis tinggi yang diberikan lewat infus (intravenous) menyebabkan gagal ginjal akibat penyumbatan oleh kristal oksalat. Walaupun fakta ini sudah gamblang dinyatakan, mengapa masih banyak orang yang 'bersaksi' bahwa vitamin C dosis tinggi berguna dan banyak membantu? Vitamin C memberikan efek antihistamin. Sedangkan histamin -dalam konsentrasi berbeda-beda- hampir selalu dilepas dalam saluran pernafasan sebagai reaksi serupa-alergi terhadap selesma. Sehingga yang dirasakan oleh penderita selesma (atau flu) adalah perbaikan yang 'palsu'.

    Rekomendasi penggunaan vitamin dalam megadosis oleh Pauling bisa jadi 'menyemangati' para produsen suplemen (atau mereka biasa bilang 'makanan kesehatan' a.k.a. health foods) untuk membanjiri pasar dunia dengan produk mereka.

    Tuduhan 'main mata' antara Pauling dan industri vitamin bukan omong kosong, sebab donor utama Linus Pauling Institute of Medicine adalah Hoffmann-La Roche, perusahaan farmasi besar yang memproduksi mayoritas vitamin C yang beredar di dunia pada saat itu (sekitar tahun 1973).

    Pada tahun 1994, Arthur Robinson (kolega Linus Pauling dalam penelitian) membuat rangkuman hasil penelitian yang menyebabkannya dipecat dari Linus Pauling Institute of Medicine:

    Vitamin C dosis 1 - 5 gram per hari meningkatkan laju pertumbuhan kanker pada manusia. Namun pertumbuhan kanker terhambat pada dosis 100 gram per hari, mendekati dosis mematikan.

    Masih berpikir bahwa semakin besar dosis vitamin maka akan semakin besar manfaatnya? Saya harap tidak.

    Save your money. Think smart, act wise, live healthy. Jangan terjebak pada klaim indah suplemen.

    Senin, 07 Agustus 2006

    BUKTI ILMIAH TERBARU TENTANG MANFAAT ASI

    Bayi-bayi yang disusui oleh ibunya akan tenang dan tidak mudah gelisah untuk waktu yang lama. Bahkan setelah mereka disapih mereka lebih kuat menghadapi situasi yang bisa membuat stres, misalnya perceraian orangtuanya. Demikian bukti ilmiah terbaru tentang manfaat ASI bagi bayi yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Disease in Childhood.

    "Bayi yang disusui, tidak terlalu terpengaruh oleh perceraian atau perpisahan orangtuanya, mereka juga tidak mudah gelisah dan cemas," kata Dr Scott Montgomery, ahli epidemiologi di Karolinska Institute Swedia, seperti dikutip reuters.

    ASI mengandung banyak nutrisi, hormon, enzim, untuk pertumbuhan dan kekebalan tubuh yang diturunkan ibunya ke bayi. Penelitian tersebut juga menunjukkan ASI mampu mengurangi infeksi, penyakit pernapasan dan diare pada bayi. Ibu yang menyusui bayinya juga bisa terhindar dari pendarahan setelah melahirkan. Montgomery dan timnya meneliti bagaimana bayi berusia 10 tahun yang
    diberi ASI dan yang diberi susu formula menghadapi stres akibat masalah perkawinan orangtuanya.

    Sekitar 9000 bayi menjadi responden penelitian ini. Mereka dimonitor sejak lahir sampai masuk sekolah. Guru-guru di sekolah juga ditanyai tentang tingkat kegelisahan anak-anak tersebut dalam skala 0-50. Ternyata anak yang dulunya mendapat ASI bisa menghadapi masalah dan stres lebih baik dibandingkan yang tidak mendapat ASI. Tetapi para peneliti belum mengetahui kaitan antara ASI dengan tingkat kegelisahan. Menurut dugaan sementara, anak-anak yang disusui tidak mudah gelisah karena saat disusui mereka merasa mendapat kasih sayang orangtuanya, pelukan dan dekapan ibu saat menyusui juga menenangkan bayi. Selain itu menyusui juga berpengaruh terhadap perkembangan tubuh dalam merespon stres.
    "Semakin kita pelajari tentang ASI, semakin banyak manfaat yang kita temukan. Menyusui bisa disebut sebagai salah satu hal penting dalam perkembangan manusia," kata Montgomery.

    Bulan Agustus telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai bulan ASI Nasional. Sayangnya menurut data yang dikeluarkan Unicef hanya 14 persen bayi di Indonesia yang disusui secara esklusif oleh ibunya hingga usia 4 bulan.

    Sabtu, 01 Juli 2006

    Tentang imunisasi HIB

    Apa itu Hib?
    Hib adalah singkatan untuk Haemophilus influenzae type b, sejenis bakteria yang menyebabkan penyakit yang dapat berakibat fatal, seperti: Radang selaput otak ( Meningitis) -jangkitan pada selaput otak dan saraf tunjang Radang paru- paru (Pneumonia) - jangkitan pada paru- paru Radang epiglotis ( kerongkong ) - jangkitan pada epiglottis Keracunan darah ( septicaemia ) - jangkitan darah Radang sendi - jangkitan pada sendi Penyakit Hib, jangkitan HIV dan Hepatitits B BUKAN satu penyakit yang sama. Vaksin pencegah Hepatitis B adalah vaksin Hepatitis B manakala vaksin penyakit Hib adalah vaksin Hib.

    Mengapa penyakit Hib berbahaya?
    Mudah berjangkit terutama dikalangan kanak-kanak Mudah merebak Biasanya menyebabkan penyakit yang fatal atau membawa maut. Jangkitan Hib pada selaput otak bisa mengakibatkan kecatatan otak yang kekal.

    Siapa yang bisa terjangkit penyakit Hib?

    Penyakit Hib kerap berlaku dikalangan kanak- kanak bawah umur 5 tahun.
    Risiko jangkitan adalah paling tinggi dikalangan kanak- kanak berumur dibawah 1 tahun. Pengaulan rapat dengan kanak- kanak yang dijangkiti Hib meningkatkan risiko mendapat penyakit Hib. Bayi yang mendapatkan ASI, akan mendapat perlindungan daripada penyakit Hib, namun begitu, Imunisasi masih diperlukan untuk mendapat perlindungan maksimal.

    Bagaimana penyakit Hib merebak?

    Penyakit Hib boleh merebak apabila orang yang dijangkiti batuk atau bersin.
    Boleh juga merebak melalui perkongsian barang mainan yang dimasukkan kedalam mulut.

    Bagaimana penyakit Hib bisa dicegah?

    Penyakit Hib bisa dicegah melalui imunisasi Hib. Imunisasi Hib tidak dapat
    melindungi kanak- kanak daripada mendapat penyakit yang disebabkan oleh bakteria/ virus yang lain. Kanak- kanak mungkin boleh mendapat lain jenis jangkitan radang paru- paru, radang selaput otak atau selesma.

    Kapan imunisasi Hib diberi?

    Semua bayi berumur 2, 3 dan 5 bulan perlu diberi imunisasi Hib Imunisasi
    Hib diberikan sebanyak 3 dos. Umur Dos: 2 bulan Dos 1, 3 bulan Dos 2, 5 bulan Dos 3

    Bagaimana imunisasi Hib diberi?

    Imunisasi Hib diberikan secara suntikan dibahagian otot paha. Imunisasi ini diberikan dalam satu suntikan bersama imunisasi Difteria, Pertussis dan Tetanus (DPT). Juga boleh diberikan bersama imunisasi lain seperti imunisasi Hepatitis B.

    Apakah efek samping imunisasi Hib?

    Imunisasi Hib adalah AMAN Kesan sampingan(=efek samping) yang berlaku biasanya ringan dan tidak berbahaya berbanding jika mendapat penyakit Hib atau komplikasinya. Walau bagaimanapun, sakit, bengkak dan kemerahan boleh berlaku ditempat suntikan. Ini selalunya berlaku dari 1hingga 3 hari selepas imunisasi. Kadangkala, kanak- kanak boleh juga mendapat demam untuk masa yang singkat selepas imunisasi. --------

    PS
    : klo cuman pilek, flu, demam ringan di bwh 38,5 der gpp sokkk imunisasi
    aja