Tampilkan postingan dengan label Sok Puitis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sok Puitis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2009

.....................

saat ku tak bisa merasa hangatnya mentari
dan tak bisa lagi merasa indahnya warna pelangi
aku bayang rasa orang mati...
tak ada rasa yang sesakkan dada

ingin ku adukan pada gunung yang tegar menjulang
ah.. gunung tlah menyaksikan peristiwa sedih menyayat tak terkira kali
dia temani sejarah dari hari ke hari jauh sebelum ada manusia

ku palingkan mata kepada air mengalir
jernih dan alirannya menenangkan
andai rasa ini tak ada seperti dia
ah.. udah banyak manusia berpikiran sama.

ku tengokkan wajah ini melihat dedaunan di pagi hari
masih tersisa embun yang enggan melepas pegangannya pada daun
ku berandai lagi...nikmatnya jadi daun
tanpa rasa sedih..


akhirnya...
ku sadari.. aku ini manusia
punya hati dan punya rasa
bisa merasa bahagia, bisa pula merasa sedih..

ku sadari
Dialah Sang Maha Pemberi Cahaya Hati...
Sang Maha Pemberi Ketenangan..
ketenangan ini hanyalah Dari Mu dan Milik Mu
Dia balik-balikkan hatiku dan hati manusia semuanya

aku berharap dengan sangat
agar...
aku bisa bertahan hingga akhir usiaku
diberikan ketenangan
diberikan komitmen kuat pada kebenaran-Nya
slalu disinari dengan Cahaya dari Sang Maha Pemberi Cahaya
menjadi hamba yang benar-benar Dicintai-Nya
bisa diberikan kesempatan melihat Maha Indah Wajah-Nya
di Akhirat nanti

Amin

Senin, 20 Oktober 2008

Sang petani cinta

Ketika sang waktu mengantarkan kita

Pada keresahan jiwa yang meledakkan nurani

Mencari bagiannya yang hilang

Ketika sang waktu mempertemukan kita

Terasa lautan cinta yang maha luas itu dicicipkan pada kita

Menggenangi hati kita yang gersang

Jiwa telah tenang menemukan dirinya kembali

Menemukan kembali kekuatannya

Kita menjadi petani cinta

Mencangkul tanah jiwa dan cinta kita yang masih meradang kering

Siang malam kita siapkan dia

Tuk menerima benih cinta yang diamanahkanNya pada kita

Tanah gersang itu telah berubah

Benih cinta itu tlah tumbuh dan terus tumbuh

Menjadi tanaman cinta kita

Merawatnya dari segala marabahaya..

Pada saat yang sama

Kita terus gemburkan tanah cinta kita..

Agar akar tanaman cinta itu terus tumbuh menghunjam ke dasar sana

Agar ia kokoh

Agar ia banyak mengambil sari-sari cinta dari tanah cinta kita

Kita terus bersama dalam keindahan tanah dan tanaman cinta kita….

Itulah sepuluh tahun terakhir yang kita lakukan..

Selamat ulang tahun pernikahan kita yang ke sepuluh

19 Oktober 1998 – 19 Oktober 2008

Selasa, 29 Juli 2008

.................................

Kala ku sendiri

Kala nafsu bisa berhenti barang sejenak

Kala hati nurani bisa didengarkan

Kala pikiran jernih menyapa jiwa

Kala egoisme diri berada di titik nadir

Kusadari betapa diri ini melangkah jauh

Menyusuri makhluk-Mu yang bernama waktu

Betapa debu-debu dosa telah melumuri basah jiwa dan tubuh ini

Betapa jauh diri ini melangkah

Hanya mengejar bayang-bayang

Hanya mendapatkan kenyataan kosong fatamorgana

Jiwa ini merintih

Hati ini haus dan gersang

Mimpi ini jauh melambung melebihi langit

Padahal…

Hari esok adalah keniscayaan

Hari esok adalah keabadian

Hari esok adalah pertanggung jawaban

Hari esok adalah milik-Mu

Kenyataan yang sesungguhnya..

Membuat banyak mata terbelalak…

Takut

Ngeri

Padahal….

Terlampau banyak nikmat yang telah aku sia-siakan

Terlampau banyak kemubaziran yang tlah aku lakukan

Engkau beri aku mata

Tapi banyak yang kugunakan melihat yang seharusnya tidak aku lihat

Engkau beri aku telinga

aku sia-siakan dia untuk mendengarkan hal yang Engkau tidak suka

Engkau beri aku hati nurani

aku jarang mendengarkannya

Engkau beri aku tubuh sehat

aku menyiksanya dengan berhura-hura

Engkau beri banyak aku kelonggaran hidup

aku membantainya dengan menuruti syahwat

Engkau beri aku banyak materi

aku banyak membuangnya di jalan

Ya Allah

Sesungguhnya antara aku dan pintu surga ada penghalang besar

Sesungguhnya antara aku dan kelapangan ridho-Mu ada yang aku harus berjuang melampauinya

Yaitu bukit yang besar, tinggi, dan kokoh

Ringankanlah bebanku untuk mendakinya

Lepaskanlah beban-beban dosaku yang membuatku berjalan tertatih-tatih

Bebaskanlah aku dari belenggu-belenggu hati akan kecintaan pada dunia

Anugerahkan kepada ku suara hati nurani yang Engkau berkati

Anugerahkan kepada ku kekuatan yang membuatku bisa bertahan

Karuniakanlah ketetapan hati pada kebenaran-Mu di tengah hatiku yang berbolak balik

Karena Engkaulah yang membolak-balikkan hati

Ya Allah

aku sangat takut akan siksa-Mu yang maha pedih

aku tidak sanggup di neraka-Mu

tapi juga

aku tidak pantas di surga-Mu

hanya karena Rahmat dan Ampunan-Mu lah

aku bisa Engkau ridhoi

aku bisa melihat ke-Maha Indahan Wajah-Mu di surga-Mu

aku bisa merasakan ke-Maha Kasih Sayang-Mu

Ya Allah

Sesungguhnya aku termasuk orang yang men-dholimi diri sendiri

Kalau tidak karena Rahmat dan Ampunan-Mu lah

Niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi


Puisi dari hamba-Mu yang fakir

Rabu, 27 Februari 2008

Ruang kosong tak terisi

Menyusuri jalan itu membuatmu tidak dapat menyadari mengapa hal itu terjadi padamu. Dari kota engkau berjalan terus ke selatan menuruni dan menaiki bukit. Kota itu memang di gunung. Airnya dingin, udaranya dingin menyejukkan, hiruk pikuk orang lalu lalang. Semuanya mengingatkanmu pada seseorang yang pernah mengisi suatu ruang di hatimu. Seseorang yang telah hadir dalam perjalanan kisah hidupmu. Kisah hidupmu yang tidak pernah engkau mengerti mengapa itu harus terjadi padamu.


Wajahnya, kecantikannya, rambutnya yang panjang mengombak, aroma tubuhnya, perasaanmu yang terguncang tak menentu, saat kalian sedang naik bis berdua, berjalan berdua di sepanjang jalan yang engkau coba cari tetapi tidak ketemu. Masih ingat seolah-olah engkau menghirup harum melon yang keluar dari wangi hand body yang ia kenakan, saat engkau bersamanya. Semua tergambar jelas ketika engkau menyusuri jalan itu. Rasa berbunga-bunga, mengingatkanmu pada saat-saat pertama berjumpa dengannya. Saat-saat engkau memasuki dunia yang penuh dengan masalah, yaitu jatuh cinta. Tidak ada tempat dimana pun tanpa teringat akan keindahan tentang dirinya. Selalu, selalu, dan selalu terbayang. Bayangan itu sebenarnya membuatmu jengkel, namun dia tidak mau enyah. Engkau menjadi pengidap gangguan konsentrasi. Engkau membaca buku, tetapi halaman itu tidak segera berpindah ke halaman selanjutnya, padahal sudah tiga jam engkau duduk menatap buku itu. Itulah yang membuatmu menjadi mahasiswa fakultas kedokteran yang tulalit. Engkau menjadi pengikut fanatik nasakom atau nasib satu koma. Engkau masuk ke dalam di, tri, tetra atau bahkan pentalema, antara mempertahankan cintamu atau engkau melepaskannya mengejar ketertinggalanmu atau melepaskannya untuk mencari ridho orang tua karena orang tua sangat menentangmu atau hati nuranimu mengatakan bahwa meneruskan hubungan sama dengan menambah rasa berdosa atas kemaksiatan yang engkau lakukan; pilihan-pilihan yang menguras tenaga emosional. Yang lebih membuat engkau terpuruk adalah ketidak sukaan orang tuamu pada dirinya. Akhirnya engkau putuskan cintanya. Engkau buang harapanmu untuk membina kasih dengan dirinya. Hatimu terluka. Engkau merasa sedih. Engkau merasa nyeri, seperti luka segar menganga yang diberi cuka, pedih, perih dan ngilu. Luka yang tak akan pernah tersembuhkan.

Engkau usir dia dari ruang di hatimu. Ruang itu tetap kosong. Tidak terisi. Ruang kosong tak terisi. Engkau tutup rapat-rapat pintu ruang itu. Tidak engkau perkenankan seorang pun untuk memasukinya. Engkau mencoba melupakan keberadaannya. Engkau benam dalam-dalam segala sesuatu tentangnya hingga ia tidak muncul dalam pikiran sadarmu. Engkau berusaha keras untuk menderita amnesia yang sangat, khusus mengenai segala hal tentang dirinya. Engkau benar-benar lupa. Ia tiba-tiba menjadi asing bagimu, hingga engkau bertanya-tanya. Berusaha keras menebak siapa dirinya, dari mana dia berasal, siapa bapak ibunya, dan yang penting apa hubunganmu dengan dirinya. Engkau menjadi pengidap jamais vu tulen. Engkau tenggelamkan dirimu dalam ketekunan memahami ilmu kedokteranmu. Engkau benamkan dirimu dalam dunia yang engkau sendiri tidak memahaminya.

Namun otak emosi mempunyai jalan pikirannya sendiri. Melewati jalanan itu. Tiba-tiba saja engkau merasa sedih. Tiba-tiba saja engkau merasa kehilangan. Tiba-tiba saja engkau merasakan kembali kehadirannya. Tanpa kau sadari kristal-kristal putih bening yang hangat menetes keluar dari kelopak mata membasahi pipimu. Engkau merasakan hangatnya benda-benda hangat itu mengalir di kedua pipimu. Engkau menangis tersedu-sedu. Tersengguk-sengguk. Tidak engkau pedulikan orang yang lalu lalang di depanmu. Toh mereka tidak akan tahu, karena engkau tertutup oleh kaca helm yang gelap menutupi wajahmu. Engkau terus melaju bersama sepeda motormu yang engkau pacu gasnya. Terus melaju.

Engkau sadari kembali adanya ruang kosong tak terisi di hatimu. Walaupun suatu ketika ada istri bukan dirinya. Ruang itu tetap kosong tak terisi. Bila pun ada istri yang benar-benar engkau cintai dan melahirkan anak-anakmu, menempati ruang di hatimu. Dia tidak di ruang itu. Dia benar-benar ada dalam hatimu. Dan engkau benar-benar merasa kehilangan. Kehilangan yang menyakitkan. Kehilangan yang membuatmu merasa terluka.

Engkau sadari, dirimu adalah makhluk laki-laki. Sosok makhluk yang rasional dan tegar. Namun engkau patahkan mitos itu. Engkau sadari dirimu yang sensitif, halus dan lembut. Mudah tersentuh oleh emosi-emosi yang mengalir demikian lembut. Engkau mengikutinya. Engkau merasakannya. Dan engkau menikmati pedihnya hati yang terluka.

Engkau tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Apalagi terhadap Tuhan. Dia pasti mempunyai rencana-Nya. Tentu rencana Dia selalu yang terbaik untuk dirimu. Pikiran rasionalmu berkata demikian. Namun sejenak engkau biarkan otak emosionalmu bekerja. Engkau hayati gelombang-gelombang rasa itu. Engkau ingin sekedar menuruti egomu walaupun sesaat.

Engkau kini berusaha menata hatimu menapaki kehidupan nyata. Engkau menyadari itu adalah masa lalumu. Engkau menyadari itu tidak diridhoi-Nya.

Kamis, 14 Februari 2008

The journey of destination

Ombak itu bergulung-gulung, bercanda, saling mengejar dengan suka citanya. Terkadang dia menghambur dalam gulungan besar. Terkadang pula dia menghambur menyerbu pantai dalam gulungan-gulungan kecil. Terus-menerus berjalan menyusuri samudera yang luas menuju daratan dalam gerombolan gelombang-gelombang. Terus-menerus menyapa pantai yang telah menjadi sahabat karibnya. Sudah ribuan tahun ia melakukan itu. Sampai-sampai bongkahan karang sebesar dan sekokoh itu pelan-pelan terkikis hingga menjorok jauh ke dalam.


Percikan-percikan air ombak menghasilkan butiran-butiran air laut yang terbang ke mana-mana. Sebagian hinggap di karang, garam-garamnya yang ganas dan pekat mengikis secara pelan-pelan dan pasti, menghasilkan permukaan batu karang yang tajam. Setajam tombak-tombak prajurit Majapahit. Mampu merobek kulit siapa saja yang menyentuhnya secara tidak hati-hati. Sebagian yang lain terbang, laksana bidadari putih yang mengepakkan sayapnya menggapai pesona terik matahari dan diterbangkan oleh goyangan angin yang menggoda, melayang menyusuri langit, pergi ke tempat nun jauh di sana. Akhirnya mereka bertemu bergandengan tangan membentuk gumpalan semisal kapas-kapas yang diterbangkan angin. Mereka nikmati indahnya perjalanan melayang-layang yang melalaikan itu. Menyapa pepohonan, membelai bongkahan-bongkahan batu pegunungan, menyisiri lembah, menerjang bukit, menyalami puncak-puncak gunung, menyibak karang-karang terjal yang kokoh, sekokoh para mustaqimin, yang teguh dan sabar untuk memegang janjinya pada Robbi, sebelum mereka membuat pesta besar membentuk mendung-mendung yang membuncah tak terkira. Karena takdirlah yang membuat mereka berubah menjadi hujan yang menebarkan sejuta harapan. Menghidupkan kembali tanah-tanah mati yang gersang. Membuat suka cita para petani. Memberikan sejumput karunia Robbi yang Maha Luas.

Air-air itu tumpah kemana-mana. Sebagian masuk ke tubuh tumbuhan, sebagian menjadi bagian hidup hewan, manusia bahkan hingga hewan atau tumbuhan yang hanya terdiri dari satu sel. Sebagian lagi menjadi butiran-butiran yang memadati ruang udara, hinggap di ujung-ujung daun menjadi embun.

Sebagian yang tidak hinggap menutupi pandangan manusia, dinamailah mereka itu dengan nama kabut. Sebagian mereka menyusup jauh, menggelinding di sela-sela butiran-butiran tanah, memasuki rongga besar dalam perut bumi, dan keluar lagi ke permukaan bumi menjadi mata air dalam perjalanan panjang tiga puluh tahun. Mereka menjalani siklus tiga puluh tahunan.

Sebenarnya perbandingan air yang diwakili lautan dengan daratan, seluruh benua dan pulau-pulau, lebih banyak airnya. Perbandingannya hingga mencapai tujuh puluh persen lebih banyak air. Demikian pula di dalam tubuh kita air yang menggenangi sel-sel dalam tubuh kita dalam jumlah yang setara. Juga tujuh puluh persen. Kalau air di laut rasanya asin karena komposisi garam jauh lebih besar berada di sana, air yang menggenangi sel-sel kita juga jauh lebih asin dari pada air yang berada di dalam sel. Subhanallah. Maha Sempurna. Sebuah arsitektur yang Maha Memperhatikan sampai detil-detil terkecil.

Begitulah Allah SWT memberikan ketetapan qadarnya pada air. Terkadang aku berpikir, nasibku itu seperti air. Aku tidak tahu pasti, apakah aku seperti butiran air yang mana. Apakah aku ditakdirkan menjadi seperti air yang tertambat diujung daun di saat remang cahaya subuh sebelum turun ke tanah atau menguap lagi terbang bersama awan. Atau aku termasuk butiran air yang menyesap di sela-sela tanah masuk di dalamnya mengikuti siklus tiga puluh tahunan. Ataukah aku ini laksana butiran-butiran air yang menjadi hujan deras menghidupi tanah-tanah gersang. Ataukah takdirku berpindah-pindah berkelana dari laut menuju langit, menjadi hujan dan masuk ke perut bumi, keluar lagi ke permukaan menjadi mata air dalam tiga puluh tahun. Itulah takdir.

Aku hanya bisa berusaha, berdoa, dan bertawakal kepadaNya. Aku banyak belajar hidup dari bapakku sendiri. Menurutnya nasib kita tergantung pada kebiasaan-kebiasaan yang kita sengaja biasakan. Orang menjadi pintar karena dia membiasakan dirinya melakukan hal-hal yang membuat dia menjadi pintar. Orang menjadi usahawan, karena dia membiasakan diri melakukan hal-hal yang membuatnya menjadi pintar sebagai pengusaha. Orang menjadi olah ragawan ternama karena dia menyengajakan diri melakukan hal-hal yang membuatnya menjadi seorang olah ragawan. Orang menjadi bodoh dan miskin karena dia tidak melakukan hal apa-apa yang membuatnya menjadi bisa berpindah dari takdirnya sekarang.

Sabtu, 17 November 2007

Sebuah perjalanan



Aku hanyalah
seorang hamba...
seorang yang telah ditakdirkan..
seorang yang telah diberikan kebebasan...
seorang yang hanya bisa berdoa ketika tidak berdaya...
seorang yang hanya berusaha...



berusaha... terbang tinggi...
aku tidak tahu... batas paling tinggi yang bisa aku raih...
aku tidak tahu kemana
aku tidak tahu dimana
aku tidak tahu kapan
Perjalanan ini berakhir...
aku hanya bisa berusaha...
terbang tinggi... menembus batas impianku...

Namun.....
Batasilah...
hasrat diri yang meluap-luap..
hasrat diri pada gemerlap dunia...
hasrat diri pada kemewahan...
hasrat diri pada kenyamanan...
hasrat diri untuk terus dan terus terbang...



biarkan sejenak...
kesejukan menyiram kegarangan..
ketentraman mendinginkan ambisi...
diam mengistirahatkan gerak...
tidur merilekskan ketegangan....

berilah kesempatan...
ketenangan...
kesejukan...
kedamaian...

merasuki pori-pori jiwa yang merangas panas..
merasuki ruang-ruang hati yang terjerembab pengap
merasuki kamar-kamar kosong kekecewaan
merasuki celah-celah hati yang penuh putus asa..
merasuki rongga-rongga hampa jiwa...



agar diri ini dapat bercermin..
agar diri ini dapat mengukur...
agar diri ini dapat menilai...
agar diri ini dapat menata diri..

bangkit penuh ketegaran jiwa..
bangkit memenuhi panggilan-Mu
bangkit penuhi kewajiban-kewajibanku sebagai hamba-Mu
bangkit penuhi amanat-amanat-Mu yang berat..
agar jiwa ini segar dari keletihan yang menjerat..

ya Illaahi Robbi...
Aku rindu...
berjumpa dengan keharibaanMu
bantulah diri ini
tuk selalu dapat
kembali pada-Mu
dalam ridho-Mu

Wahai jiwa-jiwa yang tenang... kembalilah pada keridho-an Tuhanmu
masuklah engkau sebagai hamba-Ku
masuklah engkau dalam surga-Ku
Yaa ayyiatuhannafsul muthmainnah.. irji'i ilaa rodhiyatamardhiyah
fadhulii fii ibadi
fadhuli fii jannati

Rabu, 24 Oktober 2007

The Source of Inspiration (Tema MATAHARI)

MAtahari... adalah inspirasi kehidupan kita
walopun cahayanya menyilaukan...
energi yang dipancarkannya ENERGIZE to every makhluk yang ada di bumi
matahari adalah sumber inspirasi yang tiada pernah habis untuk digali




Apakah menguasai matahari sama dengan menguasai inspirasi?

Siapa yang bisa menguasainya?

Siapa yang bisa menaklukkannya?




JAdilah matahariku
Jadilah sumber spiritku
Jadilah temanku yang sejati
Jadilah selalu menjadi inspirasiku
Jadilah teman yang menguatkan dalam mencari cahaya matahari kebaikan
Cahaya matahari yang tunduk pada Kuasa-Nya
Jadilah matahari yang...
jutaan tahun dalam ketaatan pada-Nya
Ketundukan seorang hamba...yang sejati



Matahari...
Ohh matahri...
Penerang jalan yang sejati...
Membuat kita jadi jelas melangkah...
Matahari...
Ohh matahari...




MAtahari.. ku
Aku selalu belajar dari mu
TErnyata kekuasaanmu
ada akhirnya....
ada masa surut..
ada masa senja...
.....
Masa pergantian kekuasaan...
Kekuasaan gelap sepenuhnya akan menelanmu mentah-mentah...
......
Tidak ada yang abadi di dunia...
kita pun akan berakhir....
Ingatlah akan masa itu...
Masa penantian panjang......
Menanti bagaimana nasib kita...
cermin dari siapa kita hari ini..

Oohh matahari...