Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 September 2012

Baby Led Weaning

Pernah dengar dengan istilah Baby Led Weaning ? Mungkin untuk beberapa orang awam, istilah ini masih asing di telinga. Dan mungkin masih belum tahu apa maksud Baby Led Weaning .
Merupakan salah satu metoda pengenalan makanan pendamping pada baby setelah umur 6 bulan. Ini merupakan metoda yang agak berbeda dengan pemberian MP-ASI secara langsung , karena Baby Led Weaning
dilakukan tanpa melalui tahapan makanan dengan konsistensi lembut, seperti “pure” buah atau bubur susu , layaknya kebanyakan yang dilakukan para bunda selama ini.

Menurut Gill Rapley, dengan diajarkannya metoda Baby Led Weaning, baby akan lebih mudah menerima MP-ASi berupa makanan keluarga. Baby juga lebih tidak pilih-pilih makanan atau biasa disebut “picky eater”.
Baby Led Weaning, sebagai proses lanjutan dari proses menyusui merupakan tahapan kedua yang sangat berperan dalam meningkat kan gerak motorik dari baby. Karena baby diajarkan untuk bisa menentukan makanan apa yang dia mau dengan menggunakan tangannya (fingerfood), sedangkan sang bunda berperan untuk mengatur dan memperkenalkan jenis-jenis makanan yang merupakan makanan keseharian keluarga.
Namun, untuk memulainya Bunda butuh ekstra sabar. Proses awal akan memakan waktu yang lama dan risiko membersihkan makanan yang berantakan di sekitar tempat bayi makan.

Berikut prinsip dan cara memulai BLW:

• Jika pada percobaan pertama si bayi menolak untuk makan, jangan paksa dirinya. artinya, bunda harus menunda dulu proses BLW hari ini. Tawari lagi ia makanan padat esok hari.
• Makanan yang ditawarkan berupa makanan padat yang lembut. Misalnya, buah yang direbus atau makan padat lain yang diproses terlebih dahulu.
• Hindari makanan dalam bentuk kecil, seperti kacang-kacangan, atau bentuk lainnya yang berisiko membuatnya tersedak.
• Reaksi positif ditunjukkan jika si bayi mulai memegang dan menjilat-jilat makanan, karena selanjtunya si kecil akan mulai menggigit dan memakannya.
• Biarkan si kecil memilih sendiri makanannya dan jumlahnya. Tidak diperkenankan menyuapi sisa makanan kepada si kecil.
• Waktu makan, terutama awal perkenalan BLW, akan memakan waktu lama. Jadi jangan ”menyemangati” atau membantu bayi untuk makan secara buru-buru. Ia butuh waktu belajar memasukkan tangan ke mulut dan mengunyah.
• Sediakan segelas plastik air putih dan tawarkan padanya di sela-sela makan.
• Jika ingin memberi makanan lumat, seperti yoghurt atau bubur, beri ia sendok dan biarkan ia belajar menggunakannya sendiri.

Mari bunda, mengajarkan Wead Led Weaning sejak dini..
Selamat belajar dan mencoba

http://www.bettermomtoday.com/moms_journal/memulai-baby-led-weaning

Rabu, 05 September 2012

Suntik Vitamin K Pada Bayi Baru Lahir, Ternyata Masih Menjadi Kontroversi di Negara-negara Lain

Di Indonesia, praktek pemberian suntikan vitamin K pada bayi baru lahir telah menjadi sebuah protap (prosedur tetap) pada setiap ppenanganan persalinan. Namun, prosedur rutin pada bayi yang baru lahir ini ternyata masih kontroversial di negara-negara lain. Vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak alami yang diperlukan untuk produksi protrombin, faktor pembekuan darah.


Alasan bagi bayi suntikan vitamin K saat lahir adalah adanya anggapan bahwa bayi yang baru lahir, dilahirkan dengan "kekurangan" vitamin K. kekurangan Ini berdasarkan perbandingan tingkat/kadar vitamin K pada tubuh bayi baru lahir dibandingkan dengan nilai-nilai yang terkadnung pada orang dewasa normal. Rendahnya tingkat vitamin k dapat menyebabkan penurunan kemampuan pembekuan darah, yang dapat mengakibatkan bayi baru lahir lebih rentan terhadap perdarahan. Risikonya cukup kecil, hanya sekitar 5 dibanding 100.000.

Faktor Risiko Perdarahan serebral
· Persalinan lama atau persalinan tak maju
· Adanya molding yang signifikan atau berlebihan pada kepala Janin
· Trauma Lahir
· Persalinan dengan Forsep &Ekstraksi Vakum
· Deselerasi detak Jantung di Akhir persalinan
· Khitan

Faktor-faktor berikut meningkatkan risiko perdarahan pada bayi baru lahir:
Sebenarnya, kekuatan alam yang begitu terfokus pada sebuah proses kelahiran yang sukses sepertinya tidak membenarkan pernyataan bahwa semua bayi kekurangan vitamin K.
Karena sebenarnya secara fisiologis resiko kekurangan faktor pembekuan darah bisa di minimalisasi apabila para provider tidak memberikan intervensi pada bayi baru lahir yang dapat mengganggu proses kelahiran normal fisiologis yang berkaitan dengan faktor pembekuan darah.
Intervensi yang paling jelas adalah pemotongan tali pusat yang prematur atau segera setelah bayi dilahirkan, tindakan ini menghilangkan volume darah fisiologis bayi yang baru lahir dari 25% sampai 40%, dan dengan demikian 25% sampai 40% dari faktor pembekuan fisiologis yang alami yang dimaksudkan untuk hadir dalam darah bayi baru lahir hilang.
Meskipun ada yang berpendapat bahwa vitamin K tidak bisa melewati dengan mudah dari aliran darah ibu ke bayi melalui plasenta dan juga melalui ASI. Namun jika seorang ibu mengonsumsi banyak sayuran segar berdaun hijau, maka vitamin K tersebut akan tetap dialirkan dengan lebih mudah ke bayi mereka dan melindungi mereka dari kemunginan penyakit akibat kekurangan vitamin K. Jadi, sebenarnya adalah benar jika kita mendukung kesehatan fisiologis dengan menunggu minimal 5 menit setelah kelahiran untuk memotong tali pusat dan dengan mendorong serta memotivasi ibu yang sedang menyusui untuk makan banyak sayuran hijau segar atau mengonsumsi suplemen vitamin K.
Praktek menyuntikkan vitamin K ke bayi yang baru lahir segera setelah lahir dimulai pada hari dimana seorang ibu bersalin yang begitu banyak mendapatkan obat dan intervensi selama persalinan dan kelahiran sehingga mereka tidak bisa mendorong bayi keluar, sehingga sebagian besar bayi ditarik keluar oleh forsep. Persalinan dengan menggunakan forsep ini sering menyebabkan trauma kepala bayi atau wajah dan sering meninggalkan memar yang signifikan. Biasanya, akan ada faktor-faktor pembekuan yang cukup dalam darah bayi untuk mengontrol jumlah yang sederhana pendarahan internal.
Namun, praktek medis yang umum kemudian, seperti sekarang, adalah untuk memotong tali pusat segera setelah lahir; praktek ini menghilangkan jumlah darah bayi secara signifikan hingga 40% dari volume darah normal bayi, dan dengan demikian sampai dengan 40 % dari trombosit dan faktor pembekuan lain yang alam sediakan untuk membantu mengontrol perdarahan menjadi hilang.
Kemampuan bayi untuk memproduksi faktor pembekuan juga dibatasi karena kesempatan menyusui terbatas. Jadi bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif sejak awal, atau bayi yang tidak dilakukan Inisiasi Menyusu Dini dimana terdapat Cairan emas ASI yang juga disebut kolostrum, yang tinggi vitamin K –pun terbatas. Karena hati membutuhkan vitamin K dalam rangka untuk mensintesis faktor pembekuan, kekurangan vitamin K disebabkan oleh kurangnya konsumsi ASI dapat mengakibatkan ketidakmampuan darah untuk membeku dengan waktu yang tepat. Tubuh bayi mampu memproduksi vitamin K tambahan setelah usus dicemari dengan bakteri penghasil Vitamin-K, tapi ini tidak bertahan sampai bayi berusia sekitar 8 hari.
Selain itu, anak laki-laki baru lahir banyak yang disunat segera setelah lahir (ini dilakukan sebagian besar di Amerika), sebelum faktor-faktor pembekuan mereka telah secara alami meningkat; dicatat bahwa kebudayaan Yahudi memahami kenaikan alam di faktor pembekuan dan menunda sunat ritual mereka sampai delapan hari setelah dilahirkan.
Untuk alasan yang tidak jelas dipahami, alam berusaha keras untuk menjaga bayi baru lahir tetap berada pada kadar tingkat vitamin K rendah, bahkan jika seorang wanita hamil membutuhkan kadar tinggi vitamin K selama kehamilannya, ini tidak akan meningkatkan bayi kadar vitamin K atau faktor pembekuan pada bayi baru lahir. Tanpa memahami persis apa yang dilakukan, dokter memutuskan untuk mencoba menyuntikkan dosis yang sangat tinggi vitamin K ke bayi, yang tidak meningkatkan faktor pembekuan bayi 'dan yang tidak mengurangi kejadian perdarahan intra kranial pada bayi baru lahir. (Seorang pengamat yang cerdik mungkin menyimpulkan bahwa mereka mungkin hanya dengan mudah telah mengurangi kejadian perdarahan intra kranial pada bayi baru lahir dengan mengurangi penggunaan forsep dan dengan meninggalkan tali pusat tetap utuh selama setidaknya lima menit sehingga bayi mendapat tingkat faktor pembekuan yang alam maksudkan.)
Jadi, tanpa penelitian untuk menentukan dosis optimal vitamin K, dan tanpa penelitian untuk menyelidiki apakah faktor-faktor pembekuan meningkat mungkin benar-benar menimbulkan masalah yang berbeda untuk bayi yang baru lahir, dokter membuat prosedur rutin untuk menyuntikkan semua bayi yang baru lahir dengan dosis vitamin K yang 20.000 kali lebih tinggi pada bayi baru lahir normal. Praktek ini tetap dilakukan dan tidak berubah sejak tahun 1944, tanpa penelitian tindak lanjut yang memadai. Namun, beberapa studi secara tidak langsung terkait dilakukan pada penundaan pemotongan tali pusat pada bayi prematur telah mengkonfirmasikan bahwa bayi yang mendapatkan lebih banyak darah yang alam maka resiko pendarahan di otak cenderung berkurang.
Dalam proses pertolongan kelahiran yang modern, penggunaan forsep telah digantikan oleh ekstraksi vakum, yang juga dapat menyebabkan trauma fisik dan memar dan pendarahan di bekas vakum tersebut. Selain itu, obat yang biasanya disuntikkan di epidural dan anestesi spinal memiliki efek samping yang mungkin menyebabkan pendarahan di otak bayi yang baru lahir.
Hampir semua orang setuju bahwa jika bayi memiliki proses kelahiran traumatis yang menyebabkan banyak memar atau tanda-tanda jika bayi menunjukkan kesulitan melakukan pembekuan, maka masuk akal untuk mengelola vitamin K secara tepat waktu untuk mencegah terjadinya perdarahan intra kranial.

Argumen terhadap tidak menggunakan vitamin K secara rutin antara lain:
1) Alam tampaknya telah mengatur dengan sempurna bagaimana kadar vitamin K dalam tubuh bayi baru lahir akan secara bertahap meningkat selama delapan hari setelah kelahiran ke tingkat yang lebih tinggi. Ini hampir seolah-olah merupakan sifat yang sangat spesifik dimana bayi memiliki tingkat tertentu faktor pembekuan pada saat lahir, diikuti dengan tingkat yang lebih tinggi dari faktor-faktor pembekuan seminggu setelah dilahirkan.
2) Ada beberapa hubungan antara suntikan vitamin K dan leukimia. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kejadian leukemia mungkin berhubungan dengan penggunaan merkuri yang terkandung pada injeksi vitamin K sintetis. Pengamatan teoritis adalah bahwa tingkat yang tepat dari vitamin K diperlukan untuk mengatur tingkat pembelahan sel pada bayi baru lahir dan bahwa tingkat vitamin K yang berlebihan mengganggu proses regulasi, sehingga meningkatkan kemungkinan kanker leukimia dan lainnya.
3) Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang meningitis kemungkinan untuk meninggal lebih tinggi jika mereka memiliki faktor pembekuan yang lebih tinggi. Namun penelitian Ini belum jelas apakah hal ini disebabkan faktor genetik atau apakah itu berlaku untuk semua bayi yang menerima vitamin K.

Kita tahu bahwa seorang bayi lahir di secara fisiologis tanpa trauma kelahiran yang tali pusat yang utuh, dan dilakukan IMD serta menyusu eksklusif akan mendapatkan jumlah atau kadar vitamin K yang yang tepat yang di atur oleh Alam. Hal yang perlu di perhatikan adalah bahwa jika bayi lahir dengan jumlah vitamin K yang tepat, maka tambahan vitamin K mungkin merupakan overdosis yang meningkatkan faktor pembekuan di atas. Faktor-faktor pembekuan yang berlebihan dapat menyebabkan masalah lain, seperti kerentanan terhadap meningitis atau SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).
Perspektif saya - Dari sudut pandang filosofis, saya diingatkan tentang betapa pentingnya semua aspek persalinan dan kelahiran adalah untuk kelangsungan hidup spesies. Ada keterkaitan yang kompleks antara penjepit kabel tertunda, kekentalan darah, kolostrum, penyakit kuning dan vitamin K, dan ini saling mempengaruhi dan ini tidak dipahami oleh masyarakat medis yang merekomendasikan injeksi vitamin K. Jika bayi anda lahir prematur tanpa kabel penjepitan pemotongan tali pusat, maka bayi Anda mungkin akan menerima takaran vitamin K yang dimaksudkan oleh alam.
Alam semesta biasanya melakukan hal-hal yang benar, dan tampaknya suatu kesalahan untuk mengganggu proses ini kecuali ada tanda-tanda masalah. Karena pada dasarnya Tidak ada penelitian pada pemberian injeksi vitamin K dalam kelahiran fisiologis. Hal ini tampaknya seperti sebuah intervensi yang ekstrem tanpa justifikasi yang memadai.

Poin untuk Mempertimbangkan Injeksi Rutin Vitamin K
1) Sementara suntikan vitamin K pada bayi baru lahir mungkin terdengar seperti sebuah intervensi yang dapat diterima, ada beberapa poin untuk merenungkan, terutama adalah bahwa semua bayi dilahirkan dengan tingkat vitamin k yang rendah. Jadi, itu menimbulkan pertanyaan apakah konsentrasi vitamin k yang rendah pada bayi baru lahir harus disebut kekurangan?
2) Jumlah disuntikkan Vit K adalah 20.000 kali lebih tinggi dari kadar vitamin K pada bayi saat lahir. Ukuran dosis yang diberikan didasarkan pada nilai-nilai orang dewasa normal. Selain itu, suntikan mungkin juga mengandung bahan pengawet yang dikenal racun bagi bayi.
3) Dosis Vitamin K adalah penyebab penyakit kuning pada bayi baru lahir. Sebuah obat untuk satu penyakit yang dirasakan kemudian menjadi penyebab timbulnya penyakit yang lain.
4) Kolostrum yang terkandung di ASI, adalah kaya Vitamin K. Dengan demikian, bayi yang disusui segera setelah dilahirkan akan menerima sumber Vitamin K alami, dalam banyak kasus secara signifikan meningkatkan tingkat Vitamin K.
5) Vitamin K diserap oleh usus dari makanan yang kita makan. Namun, suntikan intramuskular adalah salah satu cara yang mmem- by passes usus dantubuh tidak dirancang untuk menerima itu.
6) Kelahiran adalah pengalaman sensorik yang luar biasa bagi bayi - dingin, lapar, dibutakan oleh cahaya, merasakan sentuhan kain atau tarikan gravitasi, jarum yang menusuk ke dalam tubuh dan menimbulkan rasa sakit bukanlah cara lembut untuk memungkinkan sistem sensorik untuk secara bertahap menyesuaikan diri dengan dunia luar. Tanpa sadar, ia mengirimkan pesan bahwa alam dan bumi tidaklah ramah!

Solusi Sederhana
1. Minimalkan intervensi dan penggunaan obat nyeri untuk mengurangi risiko perdarahan intercranial. Intervensi seperti anethesia epidural, iv narkotika, pemantauan janin internal, induksi, dan persalinan dengan operasi termasuk ekstraksi forseps dan vakum (ventouse) meletakkan bayi pada risiko lebih besar terkena memar dan perdarahan intercranial selama atau segera setelah lahir. Merencanakan persalinan dengan intervensi yang rendah akan membatasi risiko terhadap bayi dan ibu dengan mengurangi risiko yang terkait dengan intervensi ini.
2. Pertimbangkan meminta dosis oral daripada suntikan. Hal ini menghilangkan overdosis dan mengurangi risiko perdarahan dan kuning, serta rasa sakit dari suntikan dan paparan bahan pengawet berbahaya. Juga, Vitamin K diserap melalui usus. Meskipun hal ini mungkin tampak seperti sebuah solusi yang mudah, pastikan untuk mendiskusikan pilihan ini pertama dengan dokter anda. Karena rumah sakit sudah terbiasa dengan prosedur operasi standar, bisa sulit bagi mereka untuk menentukan dengan benar dosis oral untuk bayi Anda.
3. Selama beberapa minggu terakhir dallam kehamilan, tambahkan konsumsi makanan yang kaya Vitamin K. Sementara ini belum terbukti untuk meningkatkan kadar vitamin K yang baru lahir, namun ini ternyata terbukti meningkatkan jumlah Vitamin K dalam ASI.

Dengan mengikuti solusi ini sederhana, Anda dapat menerima manfaat dari dosis vitamin K yang akurat baru lahir sambil menghindari semua efek negatif dari suntikan.

References
Puckett RM, Offringa M. Prophylactic vitamin K for vitamin K deficiency bleeding in neonates. Cochrane Database of Systematic Reviews 2000, Issue 4. Art. No.: CD002776. DOI: 10.1002/14651858.CD002776.
Hey, E. Vitamin K--what, why, and when. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed. 2003 Mar;88(2):F80-3.
Vitamin K prophylaxis to prevent neonatal vitamin K deficient intracranial haemorrhage in Shizuoka prefecture. Nishiguchi T, Saga K, Sumimoto K, Okada K, Terao T Br J Obstet Gynaecol 1996 Nov;103(11):1078-1084.

Plasma concentrations after oral or intramuscular vitamin K1 in neonates. McNinch AW, Upton C, Samuels M, Shearer MJ, McCarthy P, Tripp JH, L'E Orme R. Arch Dis Child. 1985 Sep;60(9):814-8.
Effect of oral and intramuscular vitamin K on the factors II, VII, IX, X, and PIVKA II in the infant newborn under 60 days of age] [Article in Spanish] Arteaga-Vizcaino M, Espinoza Holguin M, Torres Guerra E, Diez-Ewald M, Quintero J, Vizcaino G, Estevez J, Fernandez N. Rev Med Chil. 2001 Oct;129(10):1121-9.

Delayed cord clamping in very preterm infants reduces the incidence of intraventricular hemorrhage and late-onset sepsis: a randomized, controlled trial. Mercer JS, Vohr BR, McGrath MM, Padbury JF, Wallach M, Oh W. Pediatrics. 2006 Apr;117(4):1235-42.

[Vitamin K 1 concentration and vitamin K-dependent clotting factors in newborn infants after intramuscular and oral administration of vitamin K 1] [Article in Hungarian] Goldschmidt B, Kisrakoi C, Teglas E, Verbenyi M, Kovacs I. Orv Hetil. 1990 Jun 17;131(24):1297-300.

Vitamin K - An Alternative Perspective. Midwife Sara Wickham provides a much-needed update on vitamin K prophylaxis. AIMS Journal, Summer 2001, Vol 13 No 2

Senin, 03 September 2012

Kuning/Jaundice Pada Bayi Baru Lahir

Kuning dalam istilah dunia kedokteran disebut dengan jaundice atau ikterus. Istilah jaundice (berasal dari bahasa Perancis jaune, yang berarti “kuning”) atau ikterus (berasal dari bahasa Yunani icteros) menunjukkan pewarnaan kuning pada kulit, sklera atau membran mukosa sebagai akibat penumpukan bilirubin yang berlebihan pada jaringan. Kuning sering ditemukan pada sekitar 60% bayi baru lahir yang sehat dengan usia gestasi > 35 minggu.

Bilirubin dibuat ketika tubuh melepaskan sel-sel darah merah yang sudah tua. Ini merupakan proses normal yang terjadi seumur hidup kita. Setelah itu bilirubin menuju ke usus dan ginjal lalu keseluruh tubuh. Jika terlalu banyak bilirubin yang dilepaskan ke seluruh tubuh bayi maka itu menyebabkan warna kuning yang disebut Jaundice. Jaundice umum terjadi pada bayi dan biasanya bukan merupakan hal yang berbahaya.

Bilirubin merupakan zat hasil pemecahan hemoglobin (protein sel darah merah yang memungkinkan darah mengangkut oksigen). Hemoglobin terdapat dalam eritrosit (sel darah merah) yang dalam waktu tertentu selalu mengalami destruksi (pemecahan). Proses pemecahan tersebut menghasilkan hemeglobin menjadi zat heme dan globin. Dalam proses berikutnya, zat-zat ini akan berubah menjadi bilirubin bebas atau bilirubin indirect.

Dalam kadar tinggi, bilirubin bebas ini bersifat racun; sulit larut dalam air dan sulit dibuang. Untuk menetralisirnya, organ hati akan mengubah bilirubin indirect menjadi direct yang larut dalam air. Masalahnya, organ hati sebagian bayi baru lahir belum dapat berfungsi optimal dalam mengeluarkan bilirubin bebas tersebut. Barulah setelah beberapa hari, organ hati mengalami pematangan dan proses pembuangan bilirubin bisa berlangsung lancar.

Masa "matang" organ hati pada setiap bayi tentu berbeda-beda. Namun umumnya, pada hari ketujuh organ hati mulai bisa melakukan fungsinya dengan baik. Itulah mengapa, setelah berumur 7 hari rata-rata kadar bilirubin bayi sudah kembali normal. Tapi ada juga yang menyebutkan organ hati mulai bisa berfungsi pada usia 10 hari.

Kadar bilirubin serum total (BST) > 5 mg/dL (86 μmol/L) disebut dengan hiperbilirubinemia. Hiperbilirubinemia umumnya normal, hanya 10% yang berpotensi menjadi patologis (ensefalopati bilirubin). Hiperbilirubinemia yang mengarah ke kondisi patologis antara lain : (1) timbul pada saat lahir atau pada hari pertama kehidupan, (2) kenaikan kadar bilirubin berlangsung cepat (> 5mg/dL per hari), (3) bayi prematur, (4) kuning menetap pada usia 2 minggu atau lebih, dan (5) peningkatan bilirubin direk > 2 mg/d atau > 20 % dari BST.

Ketakutan yang berlebihan dalam menghadapi hiperbilirubinemia dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan, seperti meningkatnya kecemasan ibu, menurunnya aktivitas menyusui, terapi yang tidak perlu, dan biaya yang berlebihan. Oleh karena itu, tata laksana hiperbilirubinemia harus sesuai dan efektif.

Metabolisme bilirubin pada neonatus

Sel darah merah pada neonatus berumur sekitar 70-90 hari, lebih pendek dari pada sel darah merah orang dewasa, yaitu 120 hari. Secara normal pemecahan sel darah merah akan menghasilkan heme dan globin. Heme akan dioksidasi oleh enzim heme oksigenase menjadi bentuk biliverdin (pigmen hijau). Biliverdin bersifat larut dalam air. Biliverdin akan mengalami proses degradasi menjadi bentuk bilirubin. Satu gram hemoglobin dapat memproduksi 34 mg bilirubin. Produk akhir dari metabolisme ini adalah bilirubin indirek yang tidak larut dalam air dan akan diikat oleh albumin dalam sirkulasi darah yang akan mengangkutnya ke hati . Bilirubin indirek diambil dan dimetabolisme di hati menjadi bilirubin direk. Bilirubin direk akan diekskresikan ke dalam sistem bilier oleh transporter spesifik. Setelah diekskresikan oleh hati akan disimpan di kantong empedu berupa empedu. Proses minum akan merangsang pengeluaran empedu ke dalam duodenum. Bilirubin direk tidak diserap oleh epitel usus tetapi akan dipecah menjadi sterkobilin dan urobilinogen yang akan dikeluarkan melalui tinja dan urin. Sebagian kecil bilirubin direk akan didekonjugasi oleh β-glukoronidase yang ada pada epitel usus menjadi bilirubin indirek. Bilirubin indirek akan diabsorpsi kembali oleh darah dan diangkut kembali ke hati terikat
oleh albumin ke hati, yang dikenal dengan sirkulasi enterohepatik.

Bayi baru lahir dapat mengalami hiperbilirubinemia pada minggu pertama kehidupannya berkaitan dengan: (1) meningkatnya produksi bilirubin (hemolisis) (2), kurangnya albumin sebagai alat pengangkut (3) penurunan uptake oleh hati, (4) penurunan konjugasi bilirubin oleh hati, (5) penurunan ekskresi bilirubin, dan (6) peningkatan sirkulasi enterohepatik.

Kenapa Bayi bisa terkena penyakit Jaundice?

Siklus sel darah merah pada bayi lebih pendek daripada orang dewasa. Ini berarti lebih banyak bilirubin yang dilepaskan melalui organ hati bayi anda. Kadang-kadang hati bayi belum cukup matang untuk mengatasi jumlah birubin yang berlebih.

Jaundice terjadi ketika organ hati bayi tidak bisa menghilangkan bilirubin dari darah secara cepat. Bilirubin yang berlebih yang tidak dapat keluar dari tubuh kemudian berkumpul pada kulit bagian putih bola mata.

Kejadian ini umum terjadi pada bayi dengan keadaan berikut:

· Bayi yang lahir prematur

· Bayi yang memiliki golongan darah yang berbeda dengan ibunya

· Bayi yang memiliki kelainan pada hati dan gangguan kesehatan lainnya.

· Bayi yang kekurangan cairan.

Bagaimana ciri-ciri bayi yang terkena Jaundice?

Anda harus melihat perubahan warna pada kulit bayi anda. Anda juga harus cek bagian putih bola mata bayi dan bagian dalam mulut bayi anda yang berwarna merah muda. Jika itu berwarna kekuningan mungkin bayi anda terkena Jaundice.

Untuk bayi yang lahir cukup bulan, batas aman kadar bilirubinnya adalah 12,5 mg/dl (miligram perdesiliter darah). Sedangkan bayi yang lahir kurang bulan, batas aman kadar bilirubinnya adalah 10 mg/dl

Berikut beberapa gejala bila bayi anda terkena Jaundice:

· Kulit bayi dan bagian putih bola mata berwarna kekuningan. Bayi juga mungkin mengalami kekuningan pada membrane mukosa, seperti pada gusi dan lidah atau pada kuku tangan dan kaki.

· Urine yang berwarna kuning pekat

· Kelihatan lelah dan agak rewel

· Bayi anda kurang cairan/minum

Hiperbilirubinemia yang berhubungan dengan pemberian ASI

Keberhasilan proses menyusui ditentukan oleh faktor ibu dan bayi. Hambatan pada proses menyusui dapat terjadi karena produksi ASI yang tidak cukup, atau ibu kurang sering memberikan kesempatan pada bayinya untuk menyusu. Pada beberapa bayi dapat terjadi gangguan menghisap. Hal ini mengakibatkan proses pengosongan ASI menjadi tidak efektif. ASI yang tertinggal di dalam payudara
ibu akan menimbulkan umpan balik negatif sehingga produksi ASI menurun. Gangguan menyusui pada ibu dapat terjadi preglandular (defisiensi serum prolaktin, retensi plasenta), glandular (jaringan kelenjar mammae yang kurang baik, riwayat keluarga, post mamoplasti reduksi), dan yang paling sering gangguan postglandular (pengosongan ASI yang tidak efektif).

Hiperbilirubinemia yang berhubungan dengan pemberian ASI dapat berupa breastfeeding jaundice (BFJ) dan breastmilk jaundice (BMJ). Perbedaannya dapat dilihat pada Tabel 1. Bayi yang mendapat ASI eksklusif dapat mengalami hiperbilirubinemia yang dikenal dengan BFJ. Penyebab BFJ adalah kekurangan asupan ASI. Biasanya timbul pada hari ke-2 atau ke-3 pada waktu ASI belum banyak. Breastfeeding jaundice tidak memerlukan pengobatan dan tidak perlu diberikan air putih atau air gula. Bayi sehat cukup bulan mempunyai cadangan cairan dan energi yang dapat mempertahankan metabolismenya selama 72 jam. Pemberian ASI yang cukup dapat mengatasi BFJ. Ibu harus memberikan kesempatan lebih pada bayinya untuk menyusu. Kolostrum akan cepat keluar dengan hisapan bayi yang terus menerus. ASI akan lebih cepat keluar dengan inisiasi menyusu dini dan rawat gabung.

Breastmilk jaundice mempunyai karakteristik kadar bilirubin indirek yang masih meningkat setelah 4-7 hari pertama. Kondisi ini berlangsung lebih lama daripada hiperbilirubinemia fisiologis dan dapat berlangsung 3-12 minggu tanpa ditemukan penyebab hiperbilirubinemia lainnya. Penyebab BMJ berhubungan dengan pemberian ASI dari seorang ibu tertentu dan biasanya akan timbul pada setiap bayi yang disusukannya. Semua bergantung pada kemampuan bayi tersebut dalam mengkonjugasi bilirubin indirek (bayi prematur akan lebih berat ikterusnya). Penyebab BMJ belum jelas, beberapa faktor diduga telah berperan sebagai penyebab terjadinya BMJ. Breastmilk jaundise diperkirakan timbul akibat terhambatnya uridine diphosphoglucoronic acid glucoronyl transferase (UDPGA) oleh hasil metabolisme progesteron yaitu pregnane-3-alpha 20 beta-diol yang ada dalam ASI ibu–ibu tertentu. Pendapat lain menyatakan hambatan terhadap fungsi glukoronid transferase di hati oleh peningkatan konsentrasi asam lemak bebas yang tidak di esterifikasi dapat juga menimbulkan BMJ. Faktor terakhir yang diduga sebagai penyebab BMJ adalah peningkatan sirkulasi enterohepatik. Kondisi ini terjadi akibat (1) peningkatan aktifitas beta-glukoronidase dalam ASI dan juga pada usus bayi yang mendapat ASI, (2) terlambatnya pembentukan flora usus pada bayi yang mendapat ASI serta (3) defek aktivitas uridine diphosphateglucoronyl transferase (UGT1A1) pada bayi yang homozigot atau heterozigot untuk varian sindrom Gilbert.

Pedoman terapi sinar pada breastfeeding jaundice dan breastmilk jaundice

The American Academy of Pediatrics (AAP) telah membuat parameter praktis untuk tata laksana hiperbilirubinemia pada bayi cukup bulan yang sehat dan pedoman terapi sinar pada bayi usia gestasi ≥ 35 minggu. Pedoman tersebut juga berlaku pada bayi cukup bulan yang sehat dengan BFJ dan BMJ. AAP tidak menganjurkan penghentian ASI dan telah merekomendasikan pemberian ASI terus menerus (minimal 8-10 kali dalam 24 jam). Penggantian ASI dengan pemberian air putih, air gula atau susu formula tidak akan menurunkan kadar bilirubin pada BFJ maupun BMJ yang terjadi pada bayi cukup bulan sehat.

Gartner dan Auerbach mempunyai pendapat lain mengenai pemberian ASI pada bayi dengan BMJ. Pada sebagian kasus BMJ, dilakukan penghentian ASI sementara. Penghentian ASI akan memberi kesempatan hati mengkonjungasi bilirubin indirek yang berlebihan. Apabila kadar bilirubin tidak turun maka penghentian ASI dilanjutkan sampai 18–24 jam dan dilakukan pengukuran kadar
bilirubin setiap 6 jam. Apabila kadar bilirubin tetap meningkat setelah penghentian ASI selama 24 jam, maka jelas penyebabnya bukan karena ASI, ASI boleh diberikan kembali sambil mencari penyebab hiperbilirubinemia yang lain. Jadi penghentian ASI untuk sementara adalah untuk menegakkan diagnosis.

Persamaannya dengan AAP yaitu bayi dengan BFJ tetap mendapatkan ASI selama dalam proses terapi. Tata laksana yang dilakukan pada BFJ meliputi (1) pemantauan jumlah ASI yang diberikan apakah sudah mencukupi atau belum, (2) pemberian ASI sejak lahir dan secara teratur minimal 8 kali sehari, (3) pemberian air putih, air gula dan formula pengganti tidak diperlukan, (4) pemantauan kenaikan berat badan serta frekuensi BAB dan BAK, (5) jika kadar bilirubin mencapai 15 mg/dL, perlu melakukan penambahan volume cairan dan stimulasi produksi ASI dengan melakukan pemerasan payudara, (6) jika kadar bilirubin mencapai kadar 20 mg/dL, perlu melakukan terapi sinar jika terapi lain tidak berhasil, dan (7) pemeriksaan komponen ASI dilakukan jika hiperbilirubinemia menetap lebih dari 6 hari, kadar bilirubin meningkat melebihi 20 mg/dL, atau riwayat terjadi BFJ pada anak sebelumnya.

Yang dimaksud dengan fototerapi intensif adalah radiasi dalam spektrum biru-hijau (panjang gelombang antara 430-490 nm), setidaknya 30 μW/cm2 per nm (diukur pada kulit bayi secara langsung di bawah pertengahan unit fototerapi) dan diarahkan ke permukaan kulit bayi seluas-luasnya. Pengukuran harus dilakukan dengan radiometer spesifik dari manufaktur unit fototerapi
tersebut.

Selanjutnya pertanyaan yang sering timbul adalah kapan terapi sinar harus dihentikan. Sampai saat ini belum ada standar pasti untuk menghentikan terapi sinar, akan tetapi terapi sinar dapat dihentikan bila kadar BST sudah berada di bawah nilai cut off point dari setiap kategori. Untuk bayi yang dirawat di rumah sakit pertama kali setelah lahir (umumnya dengan kadar BST > 18 mg/dL (308 μmol/L) maka terapi sinar dapat dihentikan bila BST turun sampai di bawah 13 – 14 mg/dL (239 μmol/L). Untuk bayi dengan penyakit hemolitik atau dengan keadaan lain yang diterapi sinar di usia dini dan dipulangkan sebelum bayi berusia 3–4 hari, direkomendasikan untuk pemeriksaan ulang bilirubin 24 jam setelah dipulangkan. Bayi yang dirawat di rumah sakit untuk kedua kali dengan hiperbilirubinemia dan kemudian dipulangkan, jarang terjadi kekambuhan yang signifikan sehingga pemeriksaan ulang bilirubin dilakukan berdasarkan indikasi klinis.

Sebagian besar unit neonatal di Indonesia masih memberikan terapi sinar pada setiap bayi baru lahir cukup bulan dengan BST ≥ 12 mg/dL atau bayi prematur dengan BST ≥ 10 mg/dL tanpa melihat usia. Diharapkan agar penggunaan terapi sinar atau transfusi tukar disesuaikan dengan anjuran AAP. Gartner dan Auerbach merekomendasikan jika kadar bilirubin > 20 mg/dL pada bayi cukup bulan, maka penting untuk menurunkan kadar bilirubin secepatnya. Terapi sinar harus segera dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan laboratorium darah untuk penegakan diagnosis BFJ dan BMJ. Pada beberapa kasus, pemberian cairan intra vena dapat dipertimbangkan misalnya ada dehidrasi atau sepsis.
Terapi sinar dapat dilakukan bila ada riwayat pada saudara sebelumnya mengalami BMJ. Batas kadar bilirubin untuk melakukan terapi sinar biasanya lebih rendah pada kasus tersebut ( 12 mg/dL.

Tipe ikterus

Tipe ikterus yang umum terjadi :

1. Ikterus fisiologis : paling umum terjadi, ikterus ringan karena fungsi hati yang belum matang pada bayi baru lahir yang menyebabkan proses pengeluaran bilirubin berjalan lambat. Umumnya muncul pada usia 2-4 hari dan menghilang pada usia 1-2 minggu

2. Ikterus prematuritas : umumnya muncul pada bayi prematur karena bayi prematur belum bisa mengeluarkan bilirubin secara efektif. Ikterus pada bayi prematur ditatalaksana pada batas kadar bilirubin yang lebih rendah daripada batas kadar pengobatan bilirubin pada bayi cukup bulan

3. Breastfeeding jaundice: ikterus yang muncul saat bayi ASI tidak mendapat cukup ASI karena kesulitan dalam menyusui atau ASI ibu belum keluar. Ini tidak disebabkan oleh ASI tetapi karena bayi belum mendapat ASI yang cukup

4. Breastmilk jaundice: pada 1-2% bayi ASI ikterus dapat disebabkan karena bahan yang dihasilkan dalam ASI yang menyebabkan kadar bilirubin meningkat. Bahan ini dapat mencegah pengeluaran bilirubin melalui usus. Umumnya mulai usia 3-5 hari dan perlahan-lahan menghilang dalam 3-12 minggu

5. Ketidakcocokan golongan darah (inkompatibilitas Rhesus atau ABO) : jika golongan darah bayi berbeda dari ibu maka ibu dapat menghasilkan antibodi yang dapat menghancurkan sel darah merah bayi. Penghancuran sel darah merah yang berlebihan dapat meningkatkan kadar bilirubin dalam darah. Ikterus karena ketidakcocokan golongan darah dapat terjadi sejak hari pertama

Selasa, 05 Juni 2012

HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells) Substansi ASI pembunuh Sel Kanker

Inilah salah satu alas an kuat kenapa ibu HARUS Memberikan ASI Eksklusif pada bayinya. Ternyata Zat yang ditemukan di ASI dapat membunuh sel-sel kanker, ini diungkapkan oleh para peneliti di Universitas Lund dan Universitas Gothenburg, Swedia.

zat ini disebut HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells), dan ini ditemukan pada ASI beberapa tahun yang lalu. Pasien dengan kanker kandung kemih yang dirawat dengan bahan yang diekskresikan dari ASI ternyata sel-sel kankernya mati setelah menjalani pengobatan. Ini dapat menimbulkan harapan bahwa ASI dapat dikembangkan menjadi obat untuk perawatan kanker di masa depan. Mungkin gak ya? Hehehe HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells),ditemukan secara kebetulan ketika para peneliti sedang mempelajari sifat antibakteri ASI. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells), terdiri dari protein dan asam lemak yang baik ditemukan secara alami dalam ASI.Sejauh ini belum terbukti bahwa kompleks HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells), secara spontan terbentuk dalam air susu manusia. Hal ini berspekulasi bahwa HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells) bentuk dalam lingkungan asam dari 'bayi perut manusia. percobaan laboratorium menunjukkan bahwa HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells) membunuh 40 jenis kanker yang berbeda, dan peneliti kini dipelajari pengaruhnya terhadap kanker kulit, tumor pada selaput lendir, dan tumor otak. Yang penting, HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells) hanya membunuh sel kanker dan tidak tidak mempengaruhi sel-sel sehat. Para peneliti di University of Goteborg berfokus pada bagaimana HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells) dapat diambil ke dalam sel tumor. Para peneliti, Roger Karlsson, Maja Puchades dan Ingela Lanekoff, sedang berusaha untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang bagaimana substansi berinteraksi dengan membran sel. Temuan mereka baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal bergengsi. Nah sekarang JANGAN RAGU! Ayo berikan ASI pada bayi kita Pokoknya ASI Thok Lho Ya


 

Senin, 04 Juni 2012

Mengatasi Bayi Yang Sering Menangis

Menangis adalah cara bayi berkomunikasi dengan dunia di sekitarnya. Karena itu bila bayi sering menangis, perlu dicari sebabnya

o perhatikan, mengapa bayi menangis, apakah karena laktasi belum berjalan dengan baik, atau karena sebab lain, seperti ngompol, sakit, merasa jemu, ingin digendong atau disayang ibu.
 o keadaan-keadaan itu merupakan hal yang biasa, ibu tidak perlu cemas, karena kecemasan ibu dapat mengganggu proses laktasi karena produksi ASI berkurang.
 o cobalah mengatasi dengan memeriksa pakaian bayi, mungkin perlu diganti karena basah, coba mengganti posisi bayi menjadi tengkurap, atau bayi digendong dan dibelai.
 o mungkin bayi belum puas menyusu karena posisi bayi tidak benar waktu menyusu, akibatnya ASI tidak keluar dengan baik.
 o Bayi menangis mempunyai maksud menarik orang lain (terutama ibunya) karena sesuatu hal : lapar, ingin digendong dan sebagainya. Oleh sebab itu jangan membiarkan bayi menangis terlalu lama. Bayi akan menjadi lelah, menyusu tidak sempurna, dan jika ibu cemas atau kesal, produksi ASI juga akan terganggu. Jika bayi menangis, ibu harus segera memeriksa keadaan bayi. Secara psikologis ini penting, karena bayi akan mempunyai kesan bahwa ibunya memperhatikannya.


 

Jumat, 25 Februari 2011

Apa Bahaya Enterobacter Sakazakii Pada Bayi dan Anak?

Untuk sekadar kembali mengingatkan, berikut adalah artikel dari Dr Widodo Judarwanto SpA yang mengulas informasi mengenai bakteri Enterobacter sakazakii. Apakah cemaran bakteri ini berbahaya pada bayi atau anak? Dan bagaiamana hal itu bisa terjadi?

Gejala keracunan yang ditimbulkan oleh susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang.
Selain E. sakazakii, bakteri lain yang sering mengontaminasi susu formula adalah Clostridium botulinu, Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides Escherichia coli Salmonella agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi dan berbagai jenis salmonella lainnya.
"Enterobacter sakazakii"
E. sakazakii pertama kali ditemukan pada 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus yang serupa pada beberapa negara. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia, risiko terbesar terkena adalah usia bayi. Peningkatan kasus yang besar dilaporkan terjadi di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika, dan Kanada.
Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per 100.000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9,4 per 100.000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (< 1.5 kg) . Sebenarnya temuan peneliti IPB tersebut mungkin tidak terlalu mengejutkan karena dalam sebuah penelitian prevalensi kontaminasi di sebuah negara juga didapatkan dari 141 susu bubuk formula didapatkan 20 kultur positif E. sakazakii. E. sakazakii adalah suatu kuman jenis gram negatif dari keluarga enterobacteriaceae. Organisme ini dikenal sebagai yellow pigmented Enterobacter cloacae. Pada 1980, bakteri ini diperkenalkan sebagai bakteri jenis yang baru berdasarkan pada perbedaan analisis hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan, dengan hibridasi DNA menunjukkan E. sakazakii 53-54 persen dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus, yaitu Enterobacter dan Citrobacter. Pada penelitian tahun 2007, beberapa peneliti mengklarifikasi kriteria taxonomy dengan menggunakan cara lebih canggih, yaitu dengan f-AFLP, automated ribotyping, full-length 16S rRNA gene sequencing and DNA-DNA hybridization. Hasil yang didapatkan adalah klasifikasi alternatif dengan temuan genus baru, yaitu Cronobacter yang terdiri dari 5 spesies. Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogeniotas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoxin diproduksi oleh beberapa jenis strain kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan, diketahui efek enterotoksin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non-patogenik atau tidak berbahaya. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa sudah ditemukan demikian banyak susu terkontaminasi, tetapi belum banyak dilaporkan terjadi korban terinfeksi bakteri tersebut. Meskipun sangat jarang, infeksi karena bakteri ini dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat) , dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing. Secara umum, tingkat kefatalan kasus (case-fatality rate) atau risiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar antara 40-80 persen pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini. Infeksi otak yang disebabkan karena E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan. Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang. Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling berisiko untuk mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. sakazakii untuk bertahan hidup pada suhu 58 derajat celsius dalam pemanasan rehidrasi susu formula. Pencemaran Terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin pemerah susu (milking machine) sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara. Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu. Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara yang terdapat dalam lingkungan di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu. Pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup. Manusia yang berada dalam proses memerah dan mengolah susu dapat menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh lainnya harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, embusan napas manusia ketika proses memerah dan mengolah susu dapat menjadi sumber timbulnya bakteri. Sapi perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak mencemari susu. Proses produksi susu di tingkat peternakan memerlukan penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di negara-negara maju. Antisipasi Dari berbagai penelitian dan pengalaman di beberapa negara tersebut sebenarnya Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), United States Food and Drug Administration (USFDA) dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril. Adapun susu formula cair yang siap saji dianggap sebagai produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup. Dengan demikian, di bagian perawatan bayi NICU, USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi. Sayangnya di Indonesia produk susu tersebut belum banyak dan relatif mahal harganya. Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi risiko infeksi tersebut adalah cara penyajian yang baik dan benar. Di antaranya adalah menyajikan hanya dalam jumlah sedikit atau secukupnya untuk setiap kali minum untuk mengurangi kuantitas dan waktu susu formula terkontaminasi dengan udara kamar. Meminimalkan hang time atau waktu antara kontak susu dan udara kamar hingga saat pemberian. Waktu yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 4 jam. Semakin lama waktu tersebut meningktkan risiko pertumbuhan mikroba dalam susu formula tersebut. Hal lain yang penting adalah memerhatikan dengan baik dan benar cara penyajian susu formula bagi bayi, sesuai instruksi dalam kaleng atau petunjuk umum. Peningkatan pengetahuan orangtua, perawat bayi, dan praktisi klinis lainnya tentang prosedur persiapan dan pemberian susu formula yang baik dan benar harus terus dilakukan. Terlepas benar-tidaknya akurasi temuan tersebut, sebaiknya pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan harus bertindak cepat dan tepat sebelum terjadi kegelisahan dan korban yang memakan jiwa. Sedangkan orangtua tetap waspada dan tidak perlu kawatir berlebihan ternyata temuan tersebut juga pernah dilaporkan oleh USFDA, tetapi tidak terjadi kasus luar biasa. Hal ini karena mungkin sebagian besar adalah kuman non-pathogen atau yang tidak berbahaya. Tetapi apa pun juga, jangan sampai terjadi banyak anak Indonesia terkorbankan hanya karena keterlambatan mengantisipasi keadaan. Susu yang terkontaminasi penyebab infeksi: Clostridium botulinum, satu kasus infeksi (Inggris, 2001) Enterobacter sakazakii, beberapa kasus (beragam negara) Salmonella agona, satu kasus infeksi (Perancis, 2005) Salmonella anatum, satu kasus infeksi (Inggris, 1996) Salmonella bredeney, dua kasus (Australia, 1977; Perancis, 1988) Salmonella ealing, satu kasus (Inggris, 1985) Salmonella london, satu kasus (Korea, 2000) Salmonella tennessee, satu kasus (Amerika Serikat, Kanada, 1993) Salmonella virchow, satu kasus (Spanyol, 1994) Susu terkontaminasi bakteri di rumah sakit : Citrobacter freundii, satu kasus Enterobacter sakazakii dan Leuconostoc mesenteroides, satu kasus Enterobacter sakazakii, beberapa kasus Escherichia coli, satu kasus Salmonella isangi, satu kasus Salmonella saintpaul, satu kasus Serratia marcescens, satu kasus. (Dr Widodo Judarwanto SpA adalah dokter spesialis anak dari RS Bunda Jakarta, Klinik Kesulitan Makan, Jl. Rawasari Selatan 50, Cempaka Putih, Jakarta Pusat)

Kamis, 17 Februari 2011

Agar Anak Doyan Sayur

sudah jadi rahasia umum, kok, bila anak-anak tak suka makan
sayur. Coba, deh, Ibu-Bapak bertanya pada tetangga sekitar rumah,
kebanyakan dari mereka akan memiliki problem sama. "Memang, anak yang
suka makan sayur paling satu atau dua orang. Sedangkan kebanyakan
biasanya sulit. Hal itu sudah menjadi kenyataan di mana-mana

Yang kerap terjadi, penyelesaian dilakukan dengan pemaksaan. Akhirnya
terjadilan "perang" ibu dan anak. Tak sedikit yang kemudian
berkonsultasi ke ahli gizi. "Mereka mengeluh 'Dok, kok, anak saya enggak
suka sayur, sih? Padahal sudah saya paksa, lo. Sampai saya jejelin,
tetap saja dia tidak mau makan.' Menurut saya tindakan tersebut kurang
tepat. Makan sayur sebaiknya jangan dipaksakan karena semakin dipaksa
anak semakin trauma dan semakin tak menyukai sayur," tegas Lilik

BISA DIGANTI

Memang, kita akui makanan yang baik harus memiliki gizi seimbang. Untuk
mendapatkan gizi yang baik, dalam makanan si kecil harus ada sumber
karbohidrat, sumber lemak, sumber protein dan sumber vitamin. Misal,
nasi berfungsi sebagai karbohidrat, sedangkan lauk-pauk sebagai sumber
protein dan lemak. Nah, sayuran termasuk salah satu sumber vitamin.
"Namun jangan lupa, selain sayuran, sumber vitamin juga bisa didapat
dari buah-buahan." Jadi menurut Lilik, sayuran bisa diganti dengan
buah-buahan.

Dengan kata lain bila si kecil menolak makan sayur sampai mengatupkan
mulutnya, ya, enggak perlu dipaksa. "Untuk sementara enggak makan
sayuran enggak apa-apa. Apalagi bila anak sama sekali enggak mau
menjamah sayur." Cobalah untuk sementara waktu, sumber vitamin diganti
dengan buah-buahan. Tambahkan porsi buah-buahan dalam menu sehari-hari
untuk menggantikan sayur. Fungsi buah dan sayur pada makanan sama, tak
ada perbedaan sehingga bisa saling menggantikan. Pada umumnya anak akan
menyukai hampir semua jenis buah-buahan," kata Lilik.

Tapi, bukan berarti sayuran terus dilupakan begitu saja, lo. Sumber
vitamin tersebut harus diperkenalkan setiap hari pada si kecil. Cara
memperkenalkannya membutuhkan trik khusus. Salah satunya Ibu bisa
menyulap sayuran menjadi makanan yang menarik sehingga si kecil tertarik
untuk mengkonsumsinya. Misal, Ibu bisa membuat kue atau cake dari
wortel. Atau buatlah menu dengan bahan sayur-sayuran seperti wortel dan
labu siam menjadi seperti es buah. "Dengan dipotong kecil-kecil sayuran
tersebut jadi tersamar dan tidak kelihatan sebagai sayur. Diharapkan
dengan begitu anak jadi mau memakannya." Bisa juga sayuran tadi dicampur
dengan bahan lain, seperti telur. Jadi selain tersamar, rasanya pun
berbeda. "Karena, kan, anak biasanya enggak mau makan sayur karena
rasanya ada pahit-pahitnya".

Cara lainnya, dengan menggunakan alat bantu makan yang menarik.
Ibu-Bapak bisa menggunakan piring atau mangkuk lucu untuk memancing si
kecil. Secara psikologis si kecil yang masih balita akan suka melihat
gambar binatang lucu yang menempel di alat makannya. "Kronologisnya
mungkin begini, anak suka melihat gambar yang ada di alat makannya
sehingga jadi terhibur. Maka ketika dia disuruh bilang 'Aaaa', ya, dia
nurut karena dia lupa sehingga makanan bisa masuk ke mulutnya. Lain
kalau anak sedang serius, dikasih juga dia enggak mau. Jadi Ibu memang
dituntut harus kreatif."

SEJAK BAYI

Namun, Bu-Pak, cara paling efektif agar anak menyukai sayur adalah
dengan memperkenalkannya sejak mereka masih bayi. Tepatnya ketika ia
sudah boleh mengkonsumsi makanan semi padat; sekitar usia 6 bulan.
Sayuran tersebut dicampur ke dalam nasi tim saring. Biasanya untuk awal,
pilih sayuran yang berserat rendah; wortel, tomat, labu kuning, kangkung
atau bayam. Bayam boleh, kok, dikonsumsi bayi. Hanya saja perlu
memperhatikan beberapa hal. Misal, masak bayam untuk sekali saja. Jadi,
jangan masak untuk dua porsi; satu porsi untuk makan siang, kemudian
porsi berikutnya dihangatkan untuk makan sore. "Sebaiknya untuk bayam
Ibu masak dua kali; siang dan sore. Karena bila bayam dipanaskan kembali
maka kandungannya sudah tidak baik lagi untuk bayi."

Setelah usia bayi menginjak sekitar 8 bulan, sayur-sayuran bisa
disajikan dalam bentuk lebih kasar. Jadi Ibu tak perlu memblender lagi
namun cukup mencincang saja. Jenis sayurannya juga sudah bisa ditambah
dengan yang berserat lebih kasar, semisal kacang panjang atau buncis.
"Untuk balita terutama yang memiliki kelainan saluran cerna, sayuran
yang menimbulkan gas seperti kol dan sawi perlu dihindari dulu.
Dikhawatirkan anak menjadi kembung dan malah rewel."

Nah, dengan memperkenalkan sayuran sejak dini, si kecil akan mengingat
rasa sayuran itu terus. Bukankah pada masa satu tahun pertama, memori
bayi sangat kuat?

VITAMIN TERJAGA

Namun hati-hati ketika mengolah sayur, ya, Bu-Pak karena salah sedikit
bisa-bisa manfaatnya jadi berkurang. Saat akan mencuci sayur sebaiknya
dicuci dulu baru dipotong. "Sayuran yang sudah dipotong-potong, kan,
permukaannya banyak. Nah, bila diguyur dengan air bisa-bisa kandungan
vitaminnya, seperti vitamih C akan terbuang begitu saja. Karena vitamin
C, kan, larut dalam air," jelasnya. Selain itu, sebaiknya mencuci
sayuran pun di dalam air mengalir untuk menghilangkan racun.

Kemudian, cara memasaknya pun ada kiat khusus; jangan digodok terlalu
lama. Bila ingin merebus sayur, biarkan air mendidih terlebih dulu, baru
masukan sayurannya. "Jangan terlalu lama dan airnya juga jangan terlalu
banyak. Karena sifat vitamin yang tak larut dalam lemak seperti vitamin
C yang banyak dikandung dalam sayuran mudah sekali rusak dalam pemanasan
atau akan rusak kalau kena penguapan dan panas tinggi."

BANYAK MANFAAT

Yang jelas, Bu-Pak, sayuran yang berwarna, lanjut Lilik, lebih banyak
manfaatnya ketimbang sayuran yang tak berwarna karena sayuran berwarna
memiliki beta karoten. Seperti kita tahu beta karoten berguna untuk
mengubah pro-vitamin A yang dikandung dalam sayuran menjadi vitamin A.
"Vitamin A dalam sayuran sebenarnya, kan, tak ada. Tapi merupakan olahan
dari pro-vitamin A yang diubah menjadi vitamin A dengan bantuan beta
karoten. Sedangkan vitamin A banyak terdapat pada hewan." Contoh sayuran
yang mempunyai banyak beta karoten adalah sayuran yang berwarna; sayuran
berwarna merah, seperti wortel atau tomat, dan sayuran berwarna hijau
seperti kangkung atau bayam.

Pro-vitamin A dalam sayuran berguna untuk pertumbuhan tulang, mata,
rambut dan kulit si kecil. Selain itu, juga bermanfaat untuk mengganti
sel-sel tubuh, mengganti selaput lendir mata, dan meningkatkan kekebalan
tubuh terhadap infeksi. Manfaat sayuran tak terbatas sampai di situ, lo.
Misal, karena sayuran mengandung vitamin B kompleks, maka sayuran bisa
membantu proses metabolisme pembentukan sel darah merah dan bisa
meningkatkan selera makan si kecil. Kemudian, menjaga sistem saraf,
membantu proses perubahan karbohidrat menjadi energi, dan membantu sel
tubuh menggunakan oksigen.

Vitamin C yang dikandung sayuran penting untuk memelihara kesehatan
gigi, gusi, kulit, otot dan tulang. Selain itu, vitamin C bisa
mempercepat penyembuhan luka, menambah daya serap tubuh atas zat besi,
dan dapat mencegah flu. Sedangkan vitamin E dalam sayuran hijau, penting
untuk proses metabolisme dan menjaga kesehatan kulit dan otot.

Selain mengandung banyak vitamin, jelas Lilik, sayuran juga memiliki
beberapa mineral yang dibutuhkan tubuh, seperti kalsium dan zat besi.
Kalsium penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi, untuk menjaga
keseimbangan cairan tubuh dan berguna untuk perkembangan sel saraf dan
otak. Sedangkan zat besi dalam sayur bisa membantu pembentukan
hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh
sel-sel tubuh, serta dapat mencegah anemia.

Na, Bu-Pak, mengingat begitu banyak manfaatnya bagi pertumbuhan si
kecil, perkenalkan sayuran secara bertahap dan terus-menerus. Tapi,
ingat, ya, jangan dipaksa. Berkreasilah lebih banyak dan banyak lagi,
demi si kecil.

VARIASIKAN MAKANAN

Bisa dipastikan semua ahli gizi selalu menyarankan agar makanan bagi si
kecil harus beragam dan bervariasi. "Dengan memperoleh makanan yang
beraneka macam, si kecil bukan hanya memperoleh gizi yang baik, tapi
juga memudahkannya untuk menerima makanan baru," tandas Lilik.

Selain itu, pemberian makanan beragam dan bervariasi pun agar orang tua
tak kerepotan. Coba, deh, kalau anak hanya suka makanan yang itu-itu
saja. Kemudian, diajak bepergian sementara makanan yang disuka tidak
ada. Bukan tidak mungkin dia menolak makan sama sekali. "Kalau sudah
begitu, siapa yang repot?"


PERKENALKAN SAYUR LOKAL

Salah satu sayuran yang disarankan untuk dikonsumsi adalah brokoli
karena mengandung zat anti kanker. "Saya tidak mengerti mengapa brokoli
sangat disarankan di Amerika sana. Mungkin karena fungsinya sebagai anti
kanker, ya?" tutur Lilik. Tapi, karena baunya yang khas, tak semua anak
menyukainya. "Jika sudah demikian, tak perlu terlalu dipaksa. Toh,
sayuran lokal pun banyak yang tak kalah manfaatnya dari brokoli."
Apalagi brokoli relatif mahal dan tak bisa diperoleh di sembarang
tempat. Jadi, kenapa kita enggak menggunakan sayuran lokal saja. Misal,
daun singkong bisa diperkenalkan dengan diiris-iris halus. "Daun
singkong itu, kan, zat besinya tinggi, jadi cocok untuk anak yang tengah
dalam masa pertumbuhan."





Senin, 24 Januari 2011

Belajar Dari Cara Hewan Menyembuhkan Diri

Kita semua menyadari bahwa kerajaan hewan memiliki kwalitas kesehatan yang lebih baik daripada kerajaan manusia. Walaupun manusia diberi akal, kemampuan untuk berfikir dan berkreasi yang jauh lebih sempurna daripada hewan, tetapi mengapa ketika berbicara tentang kesehatan dan merawat tubuh justru hewan punya insting kepekaan yang lebih bijak daripada manusia umumnya?

Dr. Adolf Just, seorang dokter berkebangsaan jerman, yang telah banyak mengarang buku mengatakan, bahwa perbedaan yang paling mendasar dari kehidupan manusia dan kehidupan hewan adalah hewan hidup bersahabat dengan alam dan mengikuti aturan hukum alam yang harmonis, sedangkan manusia hidup merusak dan melawan hukum alam. Inilah awal dari kebodohan manusia.
Mari sekarang kita coba menelusuri kehidupan kucing di sekitar kita dan bagaimana kucing memperlakukan tubuhnya ketika sakit?
Saya pernah mengamati kucing liar yang sakit parah di rumah saya. Kucing itu tidak sengaja dipelihara, melainkan datang sendiri dan hidup di sekitar rumah. Pada waktu itu si kucing yang awalnya lincah, tiba-tiba jadi pendiam dan berbaring tidur selama berhari hari. Kalaupun ia bergerak sangatlah sedikit hanya sesekali menghirup udara segar dan untuk menggerak gerakan badannya agar tidak kaku. Pada waktu itu saya melihat berkali kali kucing itu muntah dengan bau yang cukup menyengat. Saya pun mencoba memberinya susu yang dituangkan di atas mangkuk, tapi sedikitpun susu itu tak disentuhnya sampai akhirnya saya buang. Sayapun mencoba memberinya air dan dia mencicipi sedikit sedikit.
Setelah beberapa hari, saya melihat kucing itu tidak makan dan hanya berbaring lemas dan kadang menjilati bagian-bagian tubuh tertentu dengan air ludahnya sambil sesekali jalan ke luar. Saya melihat badannya semakin kurus tapi sorot matanya tetap tajam dan menunjukan tanda-tanda optimis untuk bisa cepat sembuh kembali. Setelah kucing itu tidak muntah lagi, dia mulai mencari-cari makanan. Saya coba memberinya sepotong ikan, tapi tidak juga dimakannya. Ikan yang saya berikan hanya dijilat dan diciumnya lalu ditinggalkannya. Selanjutnya saya coba memberinya susu lagi, dia mulai menjilatinya sedikit-sedikit secara perlahan sambil kadang-kadang menoleh ke saya dan terkesan seperti bertanya kepada tubuhnya tentang setiap jilatan yang diminumnya, apakah tubuhnya sudah merasa siap dan menerima dengan baik makan yang dimakannya. Sekitar 25% susu yang dijilatinyapun masuk ke mulutnya, setelah itu dia pergi dan kembali berbaring. Keesokan harinya saya beri lagi ia susu, lalu dijilatinya, lebih cepat, hampir 75% nya habis dijilati. Keesokan harinya saya beri dia ikan, lalu ia mulai memakannya secara perlahan dan mengunyahnya cukup lama. Separuh ikan itu habis dimakan. Hari berikutnya ia kembali lincah, menunjukan kalau kucing itu telah benar-benar sehat seperti sedia kala.
Dari kisah nyata tersebut, kita bisa ambil banyak sekali pelajaran yang sudah banyak dilupakan oleh para dokter atau para pengobat tradisional bahwa banyak obat-obatan yang diberikan ke tubuh dengan dasar asal cepat dan instan namun tidak peduli akan resiko dan efek samping pada tubuh secara jangka panjang.
Kita takut dan sangat khawatir ketika selera makan dan berat badan anak kita menurun ketika sakit, padahal itu semua merupakan reaksi positif tubuh, para dokter sibuk memberi obat anti mual dan berbagai vitamin nafsu makan agar si pasien bisa tetap makan banyak. (muntah merupakan proses mengeluarkan toksik dari tubuh secara alami sedangkan bila dalam keadaan sakit mengurangi makan berarti memberi kesempatan kepada mekanisme tubuh untuk memperbaiki diri, sedang bila terus makan banyak berarti mekanisme tubuh akan sibuk mencerna makanan). Inilah kebodohan kita akan bahasa tubuh yang membuat kita lupa bahwa gejala-gejala itu merupakan bagian dari reaksi positif tubuh dalam memberikan informasi ketika tubuh sakit.

Sumber : Dr Husen A. Bajri, M.D.,Ph.D. dalam buku "Tubuh Anda Adalah Dokter Yang Terbaik.

Baca Pula
Cara Mengatasi Batuk dan Pilek Pada Anak
Cara Mengatasi Demam Pada Anak
Cara Mengatasi Diare Pada Anak
Memahami Penyakit Pada Anak