Tampilkan postingan dengan label Keajaiban ASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keajaiban ASI. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Bunda, Jangan Berikan Bayi Anda Susu Formula

Melihat gambar di samping, hati ini semakin terenyuh.. Gambar diatas adalah kisah nyata yang dialami oleh seorang ibu di Pakistan, dimana kedua anak tersebut adalah anak kembarnya. Oleh karena pemahaman yang kurang disertai tiadanya dukungan maupun informasi dari tenaga kesehatan, dan budaya bahwa anak lelaki adalah utama,maka ia hanya menyusui anak lelakinya. Sedangkan anak perempuannya ia berikan susu formula.

Beberapa hari setelah foto ini dibuat, anak perempuannya yang diberikan susu formula meninggal dunia. Ibu ini berpesan agar foto ini disebarkan ke seluruh dunia, untuk memberikan pencerahan pada banyak ibu akan bahaya susu formula.

Saya yakin, bukan hanya diri saya pribadi tapi juga banyak ibu yang akan mengernyitkan dahi.. “Bahaya Susu Formula? Kebohongan saya pribadi ataukah kejujuran? Lalu bagaimana pesan yang diiklankan oleh produsen susu formula di media massa?” Di bawah ini ada beberapa link terkait dengan kebohongan publikasi yang dilakukan oleh produsen susu formula.

1. Fakta Resiko Ilmiah Susu Formula

http://www.facebook.com/note.php?note_id=103444963058640

2. Risk of Formula Feeding

http://www.infactcanada.ca/RisksofFormulaFeeding.pdf

3. Replacing Mother : Dangers of DHA-ARA in Formula

http://iinformedparenting.blogspot.com/2010/09/replacing-mother-dangers-of-dha-ara-in.html

Pada artikel ini tercantum bahwa Federal Drugs Association (FDA) di Amreika Serikat mengungkapkan bahwa keberadaan DHA-ARA menimbulkan diare pada bayi.

“The FDA did not affirm the safety of Martek’s DHASCO and ARASCO for use in infant formula. Among its reasons: stud-ies showing adverse events including diarrhea in infants.”

Bahkan beberapa waktu ini FDA telah mengeluarkan pernyataan untuk melarang penggunaan DHA-ARA didalam susu formula.

http://www.ams.usda.gov/AMSv1.0/ams.printData.do?template=printPage&navID=&page=printPage&dDocId=STELPRDC5084118&dID=130819&wf=false&docTitle=National+Organic+Program+Announces+Re-Interpretation+of+Allowable+Accessory+Nutrients+to+Strengthen+Program+Integrity,+Transparency

4. What Everyone Needs to Know About Infant Formula Ingerdients

http://www.breastfeedingmomsunite.com/2010/10/what-everyone-needs-to-know-about-infant-formula-ingredients/

Artikel ini menguraikan bahwa sangat berbahaya jika kita memiliki persepsi bahwa Air Susu Ibu memiliki kualitas yang sama dengan Susu Formula. Pada kenyataannya tidaklah demikian. Dibutuhkan kejelian dan ketajaman analisa dari setiap orang terutama orang tua dalam menentukan mana yang terbaik bagi buah hati. Sehingga menjadi tugas dari setiap orang tua untuk mencari informasi yang tepat dan dari sumber yang terpercaya.

5. Understanding Nutritionism and The Problem with Infant Formula

http://www.breastfeedingmomsunite.com/2010/09/understanding-nutritionism-and-the-problem-with-infant-formula/

Pada artikel ini lebih diulas mengenai pemahaman nutrisi yang selama ini dipahami oleh masyarakat. Jika melihat daftar komposisi nutrisi di setiap produk, menunjukkan bahwa tidak semua makanan memiliki kelengkapan nutrisi yang sempurna. “Nothing is perfect”. Dan kalimat bahwa tidak ada yang sempurna, seringkali menjadi alasan bagi mereka untuk mengganti ASI dengan susu lain.

Sesungguhnya tidak pada ASI, dimana kandungan yang ada begitu sempurna dan memenuhi seluruh kebutuhan seorang bayi manusia untuk mulai tumbuh dan berkembang. ASI adalah bekal amunisi seorang anak manusia dalam mempersiapkan masa depan sehat nan gemilang.

Beberapa kali dalam diskusi terkait ASI dan Susu Formula, lebih mendorong pada perdebatan tiada akhir. Banyak ibu yang menjadi sakit hati bahkan memberikan label pada mereka yang menyusui atau pelaku kampanye ASI sebagai “Radikal”, “Keras”, “Tidak Punya Hati”, atau bahkan baru-baru ini menempelkan label “NAZI”.

Melihat hal demikian, in my opinion yang berdasarkan dari pemikiran dan analisa dari semua informasi yang dibaca..

Saya menyetujui bahwa saat melakukan kampanye ASI, bukanlah masalah gagal menyusui atau tidak, bukanlah masalah bagus atau tidak terkait dengan kualitas ASI. Namun yang seharusnya menjadi isu terbesar adalah apakah pemberian susu sapi kepada bayi manusia adalah normal atau tidak? Apakah mengganti ASI dengan susu formula adalah cara yang terbaik ataukah ada cara lain?

Menurut James Akre penulis buku “The Problem with Breastfeeding: A personal reflection” dalam wawancaranya di sebuah website, mengungkapkan bahwa :

“by adopting this perspective we avoid implying that artificial feeding is the norm and that breastfeeding is somehow better than the norm. On the contrary, anything else is a deviation from the norm. Breastfeeding should be normal, routine, commonplace, and, as I have just said, even ho-hum ordinary.”

http://www.thebreastway.com/index.php/breastfeeding-bits-and-boobs/interview-with-james-akre

Jika membaca hasil investigasi yang dilakukan oleh Pat Thomas, seorang penulis di The Ecologist, ditemukan bahwa kegagalan ibu menyusui lebih disebabkan karena kegagalan dari pihak tenaga kesehatan dan pemerintah dalam mengedukasi dan memberikan dukungan kepada proses pemberian ASI.

“Women do not fail to breastfeed. Health professionals, health agencies and governments fail to educate and support women who want to breastfeed.”

Silakan dibaca lebih lanjut pada link ini (http://www.theecologist.org/trial_investigations/268337/breastmilk_vs_formula_food.html)

Uraian artikel tersebut sesuai dengan temuan saya kala melakukan konseling bagi ibu menyusui. Banyak ibu yang telah mempersiapkan diri dengan baik, namun kala proses menyusui itu tiba – nasehat dan dukungan yang diberikan lebih mendorong ibu untuk gagal menyusui.

Pada akhirnya dalam kampanye damai ASI, pemberian ASI lebih tepat dikatakan Normal atau Alamiah, daripada “Terbaik” (Breast is Normal or Natural, not Breast is Best). Kala menggunakan kata “ASI is The Best”, memberikan konotasi menyudutkan bagi ibu yang menggunakan susu formula. Sesungguhnya semua ibu ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya, namun informasi yang diterima adalah susu formula lebih baik dari ASI atau sama baiknya dengan ASI.

Terkait dengan “Breast is Normal”, setiap anak manusia yang lahir ke dunia telah dipersiapkan makanan bagi mereka oleh Allah subhana wa ta’ala. Sesuai dengan firmanNya dalam QS. Al Baqarah : 233,

“ Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya, dan juga seorang ayah karena anaknya.”

Dalam surat lain disebutkan,

“ Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hinga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)-mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik, dan jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.” (QS. Ath-Thalaq : 6)

Dengan alasan diatas, maka sesungguhnya penggunaan slogan “ASI is The Best” memiliki kecenderungan penolakan dari pihak yang dengan terpaksa memberikan susu selain ASI. Tujuan kampanye ASI adalah memberikan pencerahan dan mengajak masyarakat untuk lebih cerdas dalam membuat pilihan, dengan adanya penolakan tentu tujuan yang akan dicapai menjadi terhambat.

Cerdas dalam memilih makanan bagi bayi, jika melihat petunjuk pada halaman 10 dokumen WHO berjudul ‘Global Strategy for Infant and Young Child Feeding’ (http://whqlibdoc.who.int/publications/2003/9241562218.pdf), di bawah judul “Exercising other feeding options”, disana tercatat bahwa:

18. The vast majority of mothers can and should breastfeed, just as the vast majority of infants can and should be breastfed. Only under exceptional circumstances can a mother’s milk be considered unsuitable for her infant. For those few health situations where infants cannot, or should not, be breastfed, the choice of the best alternative – expressed breast milk from an infant’s own mother, breast milk from a healthy wet-nurse or a human-milk bank, or a breast-milk substitute fed with a cup, which is a safer method than a feeding bottle and teat – depends on individual circumstances.

19. For infants who do not receive breast milk, feeding with a suitable breast-milk substitute – for example an infant formula prepared in accordance with applicable Codex Alimentarius standards, or a home-prepared formula with micronutrient supplements – should be demonstrated only by health workers, or other community workers if necessary, and only to the mothers and other family members who need to use it; and the information given should include adequate instructions for appropriate preparation and the health hazards of inappropriate preparation and use. Infants who are not breastfed, for whatever reason, should receive special attention from the health and social welfare system since they constitute a risk group.

(Silakan terjemahkan melalui link ini http://translate.google.co.id/#)

Dari dua hal diatas terungkap bahwa makanan lain pengganti ASI dalam hal ini berupa susu pengganti (susu formula) menjadi pilihan terakhir kala ASI tidak ditemukan. Pilihan utama adalah ASI Perah ibu kandung, menyusui pada ibu susuan atau pemberian ASI Perah dari ibu lain melalui berbagi ASI atau Donor ASI dari Bank ASI, dan terakhir adalah susu pengganti ASI. Dan pemberian susu pengganti ASI selayaknya didemonstrasikan oleh tenaga kesehatan, atau relawan kepada ibu dan anggota keluarga yang bersangkutan.

Sayangnya yang terjadi di lapangan, bahwa baik tenaga kesehatan atau masyarakat luas menganggap bahwa susu formula adalah pengganti utama ASI. Produk susu formula yang dijual bebas dengan harga bervariasi dari murah hingga mahal, membuat tinggi kesalahan dalam pembuatan susu formula kepada bayi. Dengan demikian hal ini memicu semakin tingginya kemungkinan terjadinya kesalahan prosedur dalam pembuatan, baik dari dosis hingga kebersihan pembuatan. Semua ini pada berujung pada tingginya kematian bayi akibat diare dan sebagainya.

Di bawah ini beberapa link lain terkait dengan pembuktian kehebatan ASI secara ilmiah.

1. Human breast milk is a rich source of multipotent mesenchymal stem cells.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20712706

2. HAMLET interacts with lipid membranes and perturbs their structure and integrity.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20186341

3. Study: Breast-milk compound kills warts

http://www.obgyn.net/newsheadlines/womens_health-Human_Papillomavirus-20040720-80.asp?print=1

4. Human milk - Tables of the antimicrobial factors and microbiological contaminants relevant to human milk banking

http://www.latrobe.edu.au/microbiology/milk.html

5. Substance in Breast Milk Kills Cancer Cells, Study Suggests

http://www.sciencedaily.com/releases/2010/04/100419132403.htm

6. Breastmilk to Threat Cancer

http://www.youtube.com/watch?v=xjnIqf6nAIY

7. June Interview: Howard Cohen on Fighting Cancer with Mothers’ Milk

http://jellytheory.blogspot.com/2009/06/june-interview-howard-cohen-on-fighting.html

8. The Medicinal Use of Breastmilk

http://www.drmomma.org/2009/09/medicinal-uses-of-breastmilk.html

9. Milk therapy: breast-milk compounds could be a tonic for adult ills

http://www.thefreelibrary.com/Milk+therapy:+breast%20milk+compounds+could+be+a+tonic+for+adult+ills-a0156002012

10. Mother’s Milk: precious protection

http://www.archetypeltd.co.nz/Mothers_milk.htm

Demi menanggapi himbauan dari Departemen Kesehatan Kanada juga Academy Breastfeeding Medicine (ABM) bahwa keberadaan berbagi ASI memiliki resiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS dan sebagainya, maka di bawah ini saya bagi beberapa link lain yang terkait dengan proses pasteurisasi ASI.

Health Canada Press Release

http://www.hc-sc.gc.ca/ahc-asc/media/advisories-avis/_2010/2010_202-eng.php

Indonesia berada di peringkat ke 4 dunia untuk penderita HIV/AIDS, jelas membuat saya harus berhati-hati dalam proses berbagi ASI. Namun bukan berarti menolak proses berbagi ASI dan menggantinya dengan susu formula dimana adanya bukti ilmiah akan bahaya susu formula, membuat saya lebih memilih untuk mendapatkan Bagi ASI sebagai pilihan.

Dari uraian diatas, jelas bahwa ASI adalah satu-satunya makanan alami yang dipersiapkan Allah subhana wa ta’ala. Dan proses pasteurisasi telah terbukti dapat mengatasi keberadaan HIV/AIDS.

Di bawah ini adalah beberapa link yang terkait dengan proses pasteurisasi dari ASI Perah yang diperoleh jika kita kurang yakin dengan kesehatan ibu bersangkutan.

1. Effect of flash-heat treatment on immunoglobulins in breast milk

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19421069

2. Effect of Flash-Heat Treatment on Antimicrobial Activity of Breastmilk.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21091243

3. Flash Heating Breast Milk Kills HIV

http://www.youtube.com/watch?v=NNw1odieIoI

4. Molecular Virology: Tables of Antimicrobial Factors and Microbial Contaminants in Human Milk
Table 7: Effect of heat treatment or storage on antimicrobial factors in human milk

http://www.latrobe.edu.au/microbiology/table7.html

5. How You can Safely Heat Treat Breast Milk

http://www.qaproject.org/strat/Tanzania%20job%20aids/pdfs/english/engheattreatinsert4web.pdf


Rabu, 12 September 2012

ASI ; Pelindung Bayi Ciptaan Tuhan

berikut ini adalah tulisan dari Dr. Henny Zainal :

Seandainya kau yakini kuasa Alloh Ta'ala akan ASI sebagai pelindung anakmu, niscaya Alloh Ta'ala perlihatkan Maha Hebatnya cairan tersebut kepadamu.. Sayang kau ragu-ragu..

Seandainya kau yakini ciptaan Alloh Ta'ala akan ASI, niscaya takkan rela kau masukkan bahan kimia berbahaya dalam tubuh bayi yang sehat nan lucu..

Lars A. Hanson mengakui bahwa mikroorganisme dalam vaksin tidak ada gunanya jika pemberian vaksin disertai dengan ASI. Karena MATI sebelum sempat bekerja membentuk antibodi. Sungguh sebuah perilaku sia-sia..

Jika tujuan vaksin adalah membentuk antibodi, maka bagimu bisa jika mikroorganisme tersebut mati dengan ASI? Sehingga yang kau beri pada anakmu hanya zat kimia tak berguna..

Betapa mirisnya hati ini.. Ketika kau serukan "TAKBIR" tetapi kau ragu dengan ASI yang Alloh Ta'ala ciptakan bagi setiap anak manusia. Kemana arti kalimat itu?

Ketika kau melawan manusia-manusia penghujat Alloh Ta'ala.. Ketika kau lawan pemikiran yang menjatuhkan Islam.. tetapi kemana keyakinanmu, saat kau pilih vaksin sebagai pelindung buah hatimu.. Kau tampikkan ciptaan Alloh Ta'ala? ".. tiada ciptaan Kami yang sia-sia.." (QS. Ali Imran 191)

Kemana keyakinanmu pada ciptaan Alloh Ta'ala, bumi beserta isinya.. Saat kau hujat ASI dengan anggapan tidak biss melindungi, kemudian kau pilih buatan manusia?

Sungguh ayat demi ayat hanya numpang lewatkah bagimu? Kau meyakini vaksin sebagai ciptaan manusia yang lebih dahsyat dari pada ASI ciptaan Alloh Ta'ala?

Kau biarkan DNA hewan menyatu dengan DNA anakmu.. Tidakkah kau takut, akhlak seperti apa yang akan dimiliki oleh buah hatimu? Keturunanmu? *deep sigh*

Your Kids, Your Choice, Your Future (dunia akhirat).. Think twice.. Pray.. Ask for Alloh Ta'ala guidance.. Let Alloh Ta'ala be the only guidance..

Mengapa Tuhan Menciptakan Payudara Untuk Wanita? (Hasil Penelitian Dari Berbagai Negara)

Tentu saja jawabannya agar para kaum wanita bisa memberikan makanan terbaik untuk bayi mereka yaitu ASI. ketahuilah bunda, bahwa tidak ada wanita yang tidak bisa menyusui bayinya.
Ketika menyusui secara eksklusif tidak lagi menjadi suatu ‘keharusan’, biasanya para ibu dengan mudahnya berpaling pada susu formula. Kegagalan dari para ibu menyusui bukanlah mutlak di tangan para ibu maupun keluarga terdekatnya. Namun, menurut James Acre adalah sebuah kegagalan mutlak dari tenaga kesehatan dalam mengedukasi masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki bayi.Hanya di Indonesia, negeri tercinta ini yang memiliki beraneka ragam jenis susu formula berdasarkan usia. Sesungguhnya produk-produk tersebut telah diboikot di negara lain. Lalu bagaimana dengan negeri ini? Begitu mudahnyakah mereka menganggap bangsa ini bodoh, sehingga menjadikan negeri ini target pasar dalam meraup keuntungan? Astaghfirullah al adhim.

Kode Etik Internasional tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI (breastmilk substitute) yang dikeluarkan oleh WHO ditujukan untuk memberikan informasi pada orangtua tentang bahaya kesehatan akibat penggunaan susu formula yang tidak tepat. Makalah ini memberikan beberapa contoh hasil penelitian bertahun-tahun tentang pentingnya menyusui serta resiko yang ditimbulkan akibat penggunaan susu formula.

REKOMENDASI WHO

WHO merekomendasikan para ibu untuk menyusui secara ekslusif selama 6 bulan, melanjutkannya dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dari bahan-bahan lokal yang kaya nutrisi sambil tetap memberikan ASI / menyusui sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. (World Health Assembly Resolution 54.2, 2001)

RESIKO PEMBERIAN SUSU FORMULA UNTUK BAYI DAN ANAK-ANAK

1.Meningkatkan resiko asma

2.Meningkatkan resiko alergi

3.Menghambat perkembangan kognitif

4.Meningkatkan resiko infeksi saluran pernapasan akut

5.Meningkatkan resiko oklusi pada gigi anak

6.Meningkatkan resiko infeksi dari susu formula yang terkontaminasi

7.Meningkatkan resiko kurang gizi

8.Meningkatkan resiko kanker pada anak-anak

9.Meningkatkan resiko penyakit kronis

10.Meningkatkan resiko diabetes

11.Meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular (jantung)

12.Meningkatkan resiko obesitas

13.Meningkatkan resiko infeksi saluran pencernaan

14.Meningkatkan resiko kematian pada bayi dan akan-kanak

15.Meningkatkan resiko infeksi telinga dan otitis media

16.Meningkatkan resiko terkena efek samping dari kontaminasi lingkungan

Berikut ini adalah rinciannya :

1. Meningkatkan resiko asma

Sebuah penelitian di Arizona, Amerika Serikat yang menggunakan sampel 1.246 bayi sehat menunjukkan hubungan yang kuat antara menyusui dan gangguan pernafasan pada bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak di bawah umur 6 tahun yang tidak disusui sama sekali, akan memiliki resiko gangguan pernafasan tiga kali lebih besar dibandingkan dengan anak-anak yang disusui. (Wright AL, Holberg CJ, Taussig LM, Martinez FD. Relationship of infant feeding to recurrent wheezing at age 6 years. Arch Pediatr Adolesc Med 149:758-763, 1995)

Penelitian pada 2.184 anak yang dilakukan oleh Hospital for Sick Children di Toronto, Kanada menunjukkan bahwa resiko asma dan gangguan pernapasan mencapai angka 50% lebih tinggi pada bayi yang diberi susu formula, dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI sampai dengan usia 9 bulan atau lebih. (Dell S, To T. Breastfeeding and Asthma in Young Children. Arch PediatrAdolesc Med 155: 1261-1265, 2001)

Para peneliti di Australia Barat melakukan penelitian terhadap 2602 anak-anak untuk melihat peningkatan resiko asma dan gangguan pernafasan pada 6 tahun pertama. Anak-anak yang tidak mendapatkan ASI beresiko 40% lebih tinggi terkena asma dan gangguan pernafasan dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan. Para peneliti ini merekomendasikan untuk memberikan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan untuk mengurangi resiko terkena asma dan gangguan pernafasan. (Oddy WH, Peat JK, de Klerk NH. Maternal asthma, infant feeding, and the risk for asthma in childhood. J. Allergy Clin Immunol. 110: 65-67, 2002)

Para ahli melihat pada 29 penelitian terbaru untuk mengevaluasi dampak ‘melindungi’ terhadap asma dan penyakit pernapasan atopik lainnya yang diberikan oleh ASI. Setelah menggunakan kriteria penilaian yang ketat, terdapat 15 penelitian yang memenuhi persyaratan untuk dievaluasi, dan ke-15 penelitian tersebut menunjukkan manfaat/efek melindungi yang diberikan oleh ASI dari resiko asma. Para ahli menyimpulkan, tidak menyusui atau memberikan ASI pada bayi akan meningkatkan resiko asma dan penyakit pernafasan atopik. (Oddy WH, Peat JK. Breastfeeding, Asthma and Atopic Disease: An Epidemiological Review of Literature. J Hum Lact 19: 250-261, 2003)

Porro E, Indinnimeo L, Antognoni G, Midulla F, Criscione S. Early wheezing and breastfeeding (Menyusui dan kejadian sesak napas dini). J Asthma 1993;30:23-8

Burr ML, Limb ES, Maguire JM, Amarah L, Eldridge BA, Layzell JCM, Merret TG. Infant feeding, wheezing, and allergy: a prospective study (Pemberian makan pada bayi, sesak napas, dan alergi : Kajian prospektif). Arch Dis Child 1993;68:724-28

Wright AL, Holberg CJ, Taussig LM, Martinez FD. Relationship of infant feeding to recurrent wheezing at age 6 years (Hubungan antara pemberian makan pada bayi terhadap kejadian sesak napas berulang pada usia 6 tahun). Arch Pediatr Adolesc Med 1995;149:758-63

Oddy WH, Holt PG, Sly PD, Read AW, Landau LI, Stanley FJ, Kendall GE, Burton PR. Association between breastfeeding and asthma in 6 year old children: findings of a prospective birth cohort study (Hubungan antara menyusui dan asma pada anak usia 6 tahun : temuan pada studi lanjutan kelahiran prospektif). Br Med J 1999;319:815-9

Gdlavevich M, Minouni D, Minouni M. Breastfeeding and the risk of bronchial asthma in childhood: a systematic review with meta-analysis of prospective studies (Menyusui dan resiko asmabronkial pada masa kanak-kanak : tinjauan sistematik dengan meta-analisis dari studi prospektif). J Pediatr 2001;139:261-6

2. Meningkatkan resiko alergi

Anak-anak di Finlandia yang mendapatkan ASI lebih lama memiliki resiko lebih rendah untuk terkena penyakit atopik, eksim, alergi makanan dan gangguan pernafasan karena alergi. Pada usia 17 tahun, resiko gangguan pernafasan karena alergi pada mereka yang tidak mendapatkan ASI (atau mendapat ASI dalam jangka waktu pendek) adalah 65%, sementara pada mereka yang disusui lebih lama hanya 42%. (Saarinen UM, Kajosarri M. Breastfeeding as a prophylactic against atopic disease: Prospective follow-up study until 17 years old. Lancet 346: 1065-1069, 1995)

Bayi yang memiliki riwayat asma/gangguan pernafasan karena memiliki riwayat alergi dari keluarganya, diteliti untuk penyakit dermatitis atopik dalam tahun pertama kehidupannya. Menyusui eksklusif selama tiga bulan pertama diakui dapat melindungi bayi dari penyakit dermatitis. (Kerkhof M, Koopman LP, van Strien RT, et al. Risk factors for atopic dermatitis in infants at high risk of allergy: The PIAMA study. Clin Exp Allergy 33: 1336-1341, 2003)

Pengaruh dari konsumsi harian ibu akan vitamin C dan E pada komposisi anti-oksidan di ASI sebagai zat yang melindungi bayi dari kemungkinan terkena penyakit atopik diteliti. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu yang menderita penyakit atopik dipantau selama 4 hari, kemudian diambil sampel ASI dari ibu yang memiliki bayi dengan usia 1 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi vitamin C sehari-hari pada makanan ibu dapat meningkatkan kadar vitamin C pada ASI. Semakin tinggi kadar vitamin C pada ASI dapat menurunkan risiko terkena penyakit atopik pada bayi. (Hoppu U, Rinne M, Salo-Vaeaenaenen P, Lampi A-M, Piironen V, Isolauri E. Vitamin C in breast milk may reduce the risk of atopy in the infant. Eur J of Clin Nutr 59: 123-128, 2005)

Lucas A, Brooke OG, Morley R, Cole TJ, Bamford MF. Early diet of preterm infants and development of allergic or atopic disease: randomized prospective study (Diet awal pada bayi prematur dan perkembangan alergi atau penyakit atopik : studi prospektif acak). Br Med J 1990;300:837-40

Kajosaari M, Saarinen UM. Prophylaxis of atopic disease by six months' total solid food elimination (Profilaksis penyakit atopik dengan penundaan total enam bulan makanan padat). Acta Pediatr Scand 1983;72:411-14

Ellis MH, Short JA, Heiner DC. Anaphylaxis after ingestion of a recently introduced hydrolyzed whey protein protein formula (Anafilaksis setelah penyerapan protein whey terhidrolisasi baru pada protein susu formula bayi). J Pediatr 1991;118:74-7

Saarinen UM, Kajosaari M. Breastfeeding as prophylaxis against atopic disease: prospective follow-up study until 17 years old (Menyusui sebagai profilaksis terhadap penyakit atopik : studi lanjutan hingga usia 17 tahun). Lancet 1995;346:1065-69

Saylor JD, Bahna SL. Anaphylaxis to casein hydrolysate formula (Anafilaksis pada susu formula kasein hidrolisat). J Pediatr 1991;118:71-4

Marini A, Agosti M, Motta G, Mosca F. Effects of a dietary and environmental prevention programme on the incidence of allergic symptoms in high atopic risk infants: three years' followup (Pengaruh program pencegahan lingkungan dan diet terhadap kejadian gejala alergi pada bayi dengan resiko tinggi atopik : lanjutan tiga tahun). Acta Pædiatr 1996;Suppl 414 vol 85:1-19

right AL, Holberg CJ, Martinez FD, Halonen M, Morgan W, Taussig LM. Epidemiology of physician diagnosed allergic rhinitis In childhood (Epidemiologi dari diagnosis alergi rhinitis pada anak-anak). Pediatrics 1994:94:895-901

Bloch AM, Mimouni D, Minouni M, Gdalevich M. Does breastfeeding protect against allergic rhinitis during childhood? A meta-analysis of protective studies (Apakah menyusui melindungi dari alergi rhinitis selama masa kanak-kanak? Sebuah meta-analisis studi prospektif). Acta Paediatr 2002;91:275-9

3. Mengurangi/menghambat perkembangan kognitif

Untuk menentukan dampak dari memberikan ASI eksklusif dengan perkembangan kognitif pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah, digunakanlah metode “Bayley scale of infant development” ketika bayi berumur 13 bulan dan “Wechler Preschool and Primary Scales of Intelligence” pada anak ketika berumur 5 tahun. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut adalah memberikan ASI secara eksklusif (tanpa tambahan vitamin/supplemen apapun) pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah terbukti memberikan keuntungan yang signifikan pada perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisik yang lebih baik. (Rao MR, Hediger ML, Levine RJ, Naficy AB, Vik T. Effect of breastfeeding on cognitive development of infants born small for gestational age. Arch Pediatr Adolesc 156: 651-655, 2002)

Menyusui terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang, karena memiliki pengaruh positif pada pendidikan dan perkembangan kognitif di masa kanak-kanak, tegas sebuah penelitian di Inggris. Analisis regresi yang dilakukan pada sebuah penelitian menyatakan bahwa menyusui secara signifikan berkorelasi positif dengan pendidikan dan kecerdasan. (Richards M, Hardy R, Wadsworth ME. Long-tern effects of breast-feeding in a national cohort: educational attainment and midlife cognition function. Publ Health Nutr 5: 631-635, 2002)

439 anak sekolah di Amerika Serikat yang lahir antara tahun 1991 – 1993 serta memiliki berat badan lahir rendah (di bawah 1,500 gram) diberikan beberapa jenis tes kognitif. Hasilnya, anak-anak yang memiliki berat badan lahir rendah dan tidak pernah disusui cenderung memiliki nilai/hasil tes yang rendah pada tes IQ, kemampuan verbal, kemampuan visual dan motorik dibandingkan mereka yang disusui/mendapatkan ASI. (Smith MM, Durkin M, Hinton VJ, Bellinger D, Kuhn L. Influence of breastfeeding on cognitive outcomes at age 6-8 year follow-up of very low-birth weight infants. Am J Epidemiol 158:1075-1082, 2003)

Penelitian pada anak-anak yang lahir dari keluarga miskin di Filipina membuktikan bahwa anak-anak yang mendapatkan ASI sampai umur 12-18 bulan memiliki nilai yang lebih tinggi pada “nonverbal intelligence test”. Efek seperti ini akan lebih besar dampaknya pada bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah (1.6 dan 9.8 poin lebih tinggi). Para peneliti menyimpulkan, bahwa memberikan ASI/menyusui dalam jangka waktu yang lama sangatlah penting, apalagi setelah mengenalkan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), terutama untuk bayi berat badan lahir rendah. (Daniels M C, Adair L S. Breast-feeding influences cognitive development of Filipino children. J Nutr. 135: 2589-2595, 2005)

(review): Andraca I, Uauy R. Breastfeeding for optimal mental development (Menyusui mendorong perkembangan mental yang optimal). Simopoulos AP, Dutra de Oliveira JE, Desai ID (eds): Behavioral and Metabolic Aspects of Breastfeeding (Aspek Perilaku dan Metabolik dari Menyusui). World Rev Nutr Diet. Basel, Karger, 1995;78:1-27

(review): Gordon N. Nutrition and cognitive function (Nutrisi dan Fungsi Kognitif). Brain and Development 1997;19:165-70

Morrow-Tlucak M, Haude RH, Ernhart CB. Breastfeeding and cognitive development in the first 2 years of life (Menyusui dan perkembangan kognitif pada usia 2 tahun pertama). Soc Sci Med 1988;26:635-9

Taylor B, Wadsworth J. Breastfeeding and child development at five years (Menyusui dan perkembangan pada usia 5 tahun). Dev Med Child Neurol 1984;26:73-80

Lucas A, Morley R, Cole TJ, Lister G, Leeson-Payne C. Breastmilk and subsequent intelligence quotient in children born preterm (Menyusui dan angka kecerdasan anak yang lahir kurang bulan). Lancet 1992;339:261-4

Nettleton JA. Are n-3 fatty acids essential nutrients for fetal and infant development (Apakah asam lemak n-3 nutrisi esensial untuk perkembangan janin dan bayi). J Am Diet Assoc 1993;93:58-64

Rogan WJ, Gladen BC. Breastfeeding and cognitive development (Menyusui dan perkembangan kognitif). Early Hum Dev 1993;31:181-93

Silver LB, Levinson RB, Laskin CR, Pilot LJ. Learning disabilities as a probable consequence of using chloride-deficient infant formula (Probabilitas gangguan belajar sebagai konsekuensi penggunaan sufor rendah klorida). J Pediatr 1989;115:97-9

Willoughby A, Moss HA, Hubbard VS, Bercu BB, Graubard BI, Vietze PM, et al. Developmental outcome in children exposed to chloride deficient formula (Perkembangan pada anak yang mengkonsumsi susu formula rendah klorida). Pediatrics 1987;79:851-7

Wing CS. Defective infant formulas and expressive language problems: a case study (Studi kasus: kerusakan susu formula bayi dan masalah bicara dan bahasa). Language, Speech and Hearing Services in Schools 1990;21:22-7

Crawford MA. The role of essential fatty acids in neural development: implications for perinatal nutrition (Peranan asam lemak esensial pada perkembangan syaraf: Implikasi untuk nutrisi perinatal). Am J Clin Nutr 1993;57(suppl):703S-10S

Temboury MC, Otero A, Polanco I, Arribas E. Influence of breastfeeding on the infant's intellectual development (Pengaruh menyusui pada perkembangan kecerdasan bayi). J Pediatric Gastroenterol Nutr 1994;18:32-36

Pollock JI. Longterm associations with infant feeding in a clinically advantaged population of babies (Hubungan jangka panjang pemberian makan pada populasi bayi dengan kondisi klinis baik). Dev Med Child Neur 1994;36:429-40

Makrides M, Neumann MA, Byard RW, Simmer K, Gibson RA. Fatty acid composition of brain, retina and erythrocytes in breast and formula fed infants (Komposisi asam lemak pada otak, retina, dan eritrokit pada bayi yang mengkonsumsi ASI dan susu formula). Am J Clin Nutr 1994;60:189-94

Anderson GJ, Connor WE, Corliss JD. Docosohexaenoic acid is the preferred dietary n-3 fatty acid for the development of the brain and retina (Asam dokosolexanoat sebagai asam lemak n-3 pilihan untuk perkembangan otak dan retina). Pediatr Res 1990;27:87-97

Neuringer M, Connor WE, Lin DS, Barstad L, Luck S. Biochemical and functional effects of prenatal and postnatal fatty acid deficiency on retina and brain in rhesus monkeys (Pengaruh biokimia dan fungsional dari kekurangan asam lemak prenatal dan antenatal terhadap retina dan otak pada monyet resus). Proc Natl Acad Sc USA 1986;83:4021-5

Florey C Du V, Leech AM, Blackhall A. Infant feeding and mental and motor development at 18 months of age in first born singletons (Makanan bayi dan perkembangan mental dan motorik pada usia 18 bulan pada anak pertama/sulung). Int J Epidem 1995;24 (Suppl 1):S21-6

Wang YS, Wu SY. The effect of exclusive breastfeeding on development and incidence of infection in infants (Pengaruh menyusui eksklusif terhadap perkembangan dan kejadian infeksi pada bayi). JHL 1996;12:27-30

Greene LC, Lucas A, Livingstone BE, Harland PSEG, Baker BA. Relationship between early diet and subsequent cognitive performance during adolescence (Hubungan antara makanan pertama dan performa kognitif pada remaja). Biochem Soc Trans 1995;23:376S

Riva E, Agostoni C, Biasucci G, Trojan S, Luotti D, Fiori L, et al. Early breastfeeding is linked to higher intelligence quotient scores in dietary treated phenylketonuric children (Menyusu usia dini dihubungkan dengan tingkat kecerdasan lebih tinggi pada anak dengan diet khusus penyakit PKU). Acta Pædiatr 1996;85:56-8

Niemelä A, Järvenpää A-L. Is breastfeeding beneficial and maternal smoking harmful to the cognitive development of children? (Apakah menyusui bermanfaat dan ibu merokok berbahaya bagi perkembangan kognitif anak?) Acta Pædiatr 1996;85:1202-6



Rodgers B. Feeding in infancy and later ability and attainment: a longitudinal study (Pemberian makan pada bayi dan kemampuan dan pencapaian di masa depannya: Kajian longitudinal). Devel Med Child Neurol 1978;20:421-6



Horwood LJ, Fergusson DM. Breastfeeding and later cognitive and academic outcomes (Menyusui dan pencapaian akademik dan kognitif di kemudian hari). Pediatrics 1998;101:p. e9



Paine BJ, Makrides M, Gibson RA. Duration of breastfeeding and Bayley's mental developmental Index at 1 year of age (Durasi menyusui dan indeks perkembangan mental Bayley pada usia 1 tahun). J Paediatr Child Health 1999;35:82-5



Fergusson DM, Beautrais AL, Silva PA. Breastfeeding and cognitive development In the first seven years of life (Menyusui dan perkembangan kognitif pada 7 tahun pertama). Soc Sci Med 1982;16:1705-8



Vestergaard M, Obel C, Henriksen TB, Sørensen HT, Skajaa E, Østergaard J. Duration of breastfeeding and developmental milestones during the latter half of Infancy (Durasi menyusui dan tahapan perkembangan selama 6 bulan kedua usia bayi). Acta Paediatr 1999;88:1327-32



Rao MR, Hediger ML, Levine RJ, Naficy AB, Vik T. Effect of breastfeeding on cognitive development of infants born small for gestational age (Pengaruh menyusui pada perkembangan kognitif bayi yang lahir kecil untuk usia gestasi). Acta Paediatr 2002;91:267-74



Lanting CI, Fidler V, Huisman M, Touwen BCL, Boersma ER. Neurological differences between 9 year old children fed breastmilk or formula milk as babies (Perbedaan neurologis antara anak usia 9 tahun yang diberi ASI atau susu formula saat bayi). Lancet 1994;344:1319-22



Lanting CI, Patandin S, Weisglas-Kuperus N, Touwen BCL, Boersma ER.Breastfeeding and neurological outcome at 42 months (Menyusui dan perkembangan syaraf pada usia 42 bulan). Acta Paediatr 1998;87:1224-9



4. Meningkatkan resiko infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)

Anak-anak di Brazil yang tidak disusui/mendapatkan ASI beresiko 16,7 kali lebih tinggi terkena pneumonia dibandingkan anak-anak yang semasa bayinya disusui secara eksklusif. (Cesar JA, Victora CG, Barros FC, et al. Impact of breastfeeding on admission for pneumonia during postneonatal period in Brazil: Nested casecontrolled study. BMJ 318: 1316-1320, 1999)



Untuk menentukan faktor-faktor resiko dalam mendeteksi ISPA pada balita, sebuah rumah sakit di India membandingkan 201 kasus dengan 311 kunjungan pemeriksaan. Menyusui adalah salah satu dari sekian faktor yang dapat menurunkan tingkat risiko ISPA pada balita. (Broor S, Pandey RM, Ghosh M, Maitreyi RS, Lodha R, Singhal T, Kabra SK. Risk factors for severe acute lower respiratory tract infection in under-five children. Indian Pediatr 38: 1361-1369, 2001)



Beberapa sumber yang digunakan untuk meneliti hubungan antara menyusui dan resiko ISPA pada bayi yang lahir cukup bulan. Analisis dari data-data yang diteliti menunjukkan pada negara-negara berkembang, bayi yang diberikan susu formula mengalami 3 kali lebih sering gangguan pernafasan yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit, dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 4 bulan atau lebih. (Bachrach VRG, Schwarz E, Bachrach LR. Breastfeeding and the risk of hospitalization for respiratory disease in infancy. Arch Pediatr Adolesc Med. 157: 237-243, 2003)



Pullan CR, Toms GL, Martin AJ, Gardner PS, Webb JKG, Appleton DR. Breastfeeding and respiratory syncytial virus infection (Menyusui dan kejadian infeksi virus syncytial pada saluran pernapasan). Br Med J 1980;281:1034-6



Chiba Y, Minagawa T, Mito K, Nakane A, Suga K, Honjo T, Nakao T. Effect of breastfeeding on responses of systemic interferon and virus-specific lymphocyte transformation with respiratory syncytial virus infection (Pengaruh menyusui pada respon interferon sistemik dan transformasi spesifik-virus limfosit dengan infeksi virus syncytial pada saluran pernapasan). J Med Virology 1987;21:7-14



Wright AL, Holberg CJ, Martinez FD, Morgan WJ, Taussig LM. Breastfeeding and lower respiratory tract illness in the first year of life (Menyusui dan penyakit saluran pernapasan bagian bawah pada usia 1 tahun). Br Med J 1989;299:946-9



Pisacane A, Graziano L, Zona G, Granata G, Dolezalova H, Cafiero M, et al. Breastfeeding and acute lower respiratory infection (Menyusui dan infeksi saluran pernapasan bagian bawah akut). Acta Pædiatr 1994;83:714-18



Beaudry M, Dufour R, Marcoux S. Relation between infant feeding and infections during the first six months of life (Hubungan antara pemberian makan pada bayi dan infeksi selama 6 bulan pertama kehidupan). J Pediatr 1995;126:191-7



Okamoto Y, Ogra PL. Antiviral factors in human milk: implications in respiratory syncytial virus infection (Faktor antivirus dalam susu manusia: implikasi terhadap infeksi virus syncytial pada saluran pernapasan). Acta Pædiatr Scand Suppl 1989;351:137-43



Downham MAPS, Scott R, Sims DG, Webb JKG, Gardner PS. Breastfeeding protects against respiratory syncytial virus infections (Menyusui memberikan perlindungan terhadap infeksi virus syncytial pada saluran pernapasan). Br Med J 1976;2:274-6



Yue Chen. Synergistic effect of passive smoking and artificial feeding on hospitalization for respiratory illness in early childhood (Pengaruh sinergis dari merokok pasif dan pemberian pengganti air susu ibu terhadap kejadian penyakit saluran pernapasan selama masa kanak-kanak). Chest 1989;95:1004-07



Wilson AC, Forsyth JS, Greene SA, Irvine L, Hau C, Howie PW. Relation of infant diet to childhood health: seven year follow-up of cohort of children in Dundee infant feeding study (Hubungan antara asupan bayi dengan kesehatan masa kanak-kanak: tindak lanjut tujuh tahun setelahnya atas anak-anak pada kajian pemberian makan bayi di Dundee). Br Med J 1998;316:21-5 (hasil penelitian juga menunjukkan tekanan darah yang lebih tinggi pada anak-anak yang diberikan susu formula)



César JA, Victora CG, Barros FC, Santos IS, Flores JA. Impact of breastfeeding on admission for pneumonia during postneonatal period in Brazil: nested case-control study (Pengaruh menyusui terhadap resiko pneumonia selama periode pasca-neonatal di Brazil: studi kontrol-kasus tersarang). Br Med J 1999;318:1316-20



Pisacane A, Impagliazzo N, De Caprio C, Criscuolo L, Inglese A, da Silva MCMP. Breastfeeding and tonsillectomy (Menyusui dan tonsilektomi). BMJ. 1996 Mar 23;312(7033):746-7



López-Alarcón M, Villalpando S, Fajardo A. Breastfeeding lowers the frequency and duration of acute respiratory infection and diarrhea in infants under 6 months of age (Menyusui dapat mengurangi frekuensi dan durasi infeksi saluran pernapasan akut dan diare pada bayi di bawah 6 bulan). J Nutr 1997;127:436-43



5. Meningkatkan resiko oklusi gigi pada anak

Salah satu keuntungan menyusui adalah membuat gigi anak tumbuh rapih dan teratur. Penelitian yang dilakukan pada 1.130 balita (usia 3-5 tahun) untuk mengetahui dampak dari tipe pemberikan makanan dan aktivitas menghisap yang tidak tepat terhadap pertumbuhan gigi yang kurang baik. Aktivitas menghisap yang kurang baik (menghisap botol) memberikan dampak yang substansial pada kerusakan gigi/oklusi gigi pada anak. Terjadinya ”posterior cross-bite” pada gigi anak lebih banyak ditemukan pada anak-anak yang menggunakan botol susu serta anak-anak yang suka ‘mengempeng’. Persentase terkena cross-bite pada anak ASI yang menyusu langsung 13% lebih kecil dibandingkan mereka yang menyusu dari botol. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa semakin awal bayi menyusu dari botol dua kali lebih besar besar terkena risiko maloklusi/kerusakan pada gigi dibandingkan bayi yang menyusu langsung/tidak menyusu dari botol. (Viggiano D. et al. Breast feeding, bottle feeding, and non-nutritive sucking; effects on occlusion in deciduous dentition. Arch Dis Child 89:1121-1123, 2004)



Labbock MH, Hendershot GE. Does breastfeeding protect against malocclusion? An analysis of the 1981 child health supplement to the national health interview survey (Apakah menyusui melindungi dari maloklusi? Sebuah analisis pada 1981 suplemen kesehatan anak untuk survei wawancara kesehatan nasional). Am J Prev Med 1987;3:227-32



Palmer B. The influence of breastfeeding on the development of the oral cavity: A commentary (Pengaruh menyusui terhadap perkembangan rongga mulut: suatu komentar). J Hum Lact 1998;14:93-8



Erickson PR, Mazhari E. Investigation of the role of human breastmilk in caries development (Penelitian terhadap peranan air susu ibu pada perkembangan karies). Pediatr Dent 1999;21:86-90



6. Meningkatkan resiko infeksi dari susu formula yang terkontaminasi

Pada kasus tercemarnya susu formula dengan Enterobacter Sakazakii di Belgia, ditemukan 12 bayi yang menderita Necrotizing Enetrocolitis (NEC) dan 2 bayi yang meninggal setelah mengkonsumsi susu formula yang tercemar bakteri tersebut. (Van Acker J, de Smet F, Muyldermans G, Bougatef A. Naessens A, Lauwers S. Outbreak of necrotizing enterocolitis associated with Enterobactersakazakii in powdered infant formulas. J Clin Microbiol 39: 293-297, 2001)



Sebuah kasus di Amerika Serikat menyebutkan bahwa seorang bayi berusia 20 hari meninggal dunia karena menderita panas, tachyardia¸dan mengalami penurunan fungsi pembuluh darah setelah diberikan susu formula yang tercemar bakteri E-Sakazakii di NICU. (Weir E, Powdered infant formula and fatal infection with Enterobacter sakazakii. CMAJ 166, 2002)



Koo WWK, Kaplan LA, Krug-Wispe SK. Aluminum contamination of infant formulas (Kontaminasi aluminium pada susu formula bayi). J Parenteral Enteral Nutrition 1988;12:170-3



Davidsson L, Cederblad Å, Lönnerdal B, Sandström B. Manganese absorption from human milk, cow's milk and infant formulas in humans (Penyerapan mangan dari air susu ibu, susu sapi dan susu formula bayi pada manusia). Am J Dis Child 1989;143:823-7



Dabeka RW, McKenzie AD. Lead and cadmium levels in commercial infant foods and dietary intake by infants 0-1 year old (Tingkat logam dan kadmium pada makanan bayi komersil dan asupan pada bayi 0-1 tahun). Food Additives and Contaminants 1988;5:333-42



Mytjens HL, Roelofs-Willemse H, Jaspar GHJ. Quality of powdered substitutes for breastmilk with regard to members of the family Enterobacteriaceæ (Kualitas bubuk pengganti susu ibu berkaitan dengan famili Enterobactericea). J Clin Microbiol 1988;26:743-6



Biering G, Karlsson S, Clark NC, Jonsdottir KE, Ludvigsson P, Steingrimsson O. Three cases of neonatal meningitis caused by Enterobacter sakazakii in powdered milk (Tiga kasus meningitis neonatal yang disebabkan oleh Enterobacter sakazakii pada susu bubuk). J Clin Microbiol 1989;27:2054-6



Westin JB. Ingestion of carcinogenic N-nitrosamines by infants and children (Penyerapan bahan karsinogenik N-nitrosamina oleh bayi dan anak-anak). Arch Environmental Health 1990;45:359-63



Schwarz KB, Cox JM, Sharma S, Clement L, Witter F, Abbey H, et al. Prooxidant effects of maternal smoking and formula In newborn Infants (Pengaruh prooksidan dari ibu merokok dan susu formula pada bayi baru lahir). J Pediatr Gastroenterol Nutr 1997;24:68-74



7. Meningkatkan resiko kurang gizi/gizi buruk

Pada tahun 2003 ditemukan bayi yang mengkonsumsi susu formula berbahan dasar kedelai di Israel harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit akibat encephalopathy. Dua diantaranya meninggal akibat cardiomyopathy. Analisis dari kasus ini menyebutkan bahwa tingkat tiamin pada susu formula tidak dapat diidentifikasikan. Pada bayi yang mengkonsumsi susu formula berbasis kedelai sering ditemukan gejala kekurangan tiamin, yang harus ditangani oleh terapi tiamin. (Fattal-Valevski A, Kesler A, Seal B, Nitzan-Kaluski D, Rotstein M, Mestermen R, Tolendano-Alhadef H, Stolovitch C, Hoffman C. Globus O, Eshel G. Outbreak of Life-Threatening Thiamine Deficiency in Infants in Israel Caused by a Defective Soy-Based Formula. Pediatrics 115: 223-238, 2005)



8. Meningkatkan resiko kanker pada anak

Pusat Studi Kanker Anak di Inggris melakukan penelitian terhadap 3.500 kasus kanker anak dan hubungannya dengan menyusui. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengurangan tingkat resiko terkena leukemia dan kanker lain apabila seorang anak memperoleh ASI ketika bayi. (UK Childhood Cancer Investigators. Breastfeeding and Childhood Cancer. Br J Cancer 85: 1685-1694, 2001)



Studi pada 117 kasus acute lymphotic leukemia yang dilakukan di United Arab Emirates menunjukkan bahwa menyusui secara eksklusif selama 6 bulan atau lebih akan meminimalkan resiko terkena kanker leukemia dan lymphoma (getah bening) pada anak. (Bener A, Denic S, Galadari S. Longer breast-feeding and protection against childhood leukaemia and lymphomas. Eur J Cancer 37: 234-238, 2001)



Tidak menyusui adalah salah satu penyebab terbesar kanker pada ibu. Suatu penelitian mengemukakan tingkat kerusakan genetis yang signifikan pada bayi usia 9-12 bulan yang sama sekali tidak disusui. Para peneliti menyimpulkan bahwa kerusakan genetis berperan penting dalam pembentukan kanker pada anak atau setelah anak-anak tsb tumbuh dewasa. (Dundaroz R, Aydin HA, Ulucan H, Baltac V, Denli M, Gokcay E. Preliminary study on DNA in non-breastfed infants. Ped Internat 44: 127-130, 2002)



Sebuah penelitian yang menggunakan bukti-bukti atas dampak menyusui pada risiko terkena leukemia mempelajari 111 kasus yang 32 diantaranya mengemukakan hal tersebut. Dari 32 kasus ini dipelajari 10 kasus utama dan ditemukan 4 kasus yang mengemukakan hubungan antara menyusui dan leukemia. Kesimpulan yang diambil adalah: semakin lama menyusui/memberikan ASI pada bayi, semakin kecil risiko terkena leukemia. Mereka mencatat, diperlukan dana sebesar USD 1,4M tiap tahunnya untuk mengobati anak-anak yang terkena leukemia. (Guise JM et al. Review of case-controlled studies related to breastfeeding and reduced risk of childhood leukemia. Pediatrics 116: 724-731, 2005)



Schwartzbaum JA, George SL, Pratt CB, Davis B. An exploratory study of environmental and medical factors potentially related to childhood cancer (Studi terhadap faktor lingkungan dan medis yang potensial berhubungan dengan kanker pada anak-anak). Med pediatr Oncol 1991;19:115-21



Davis MK, Savitz DA. Graubard BI. Infant feeding and childhood cancer (Pemberian makanan pada bayi dan kanker pada masa kanak-kanak). Lancet 1988;2:365-8



Freudenheim JL, Marshall JR, Graham S, Laughlin R, Vena JE, Bandera E, et al. Exposure to breastmilk in infancy and the risk of breast cancer (Pemberian air susu pada bayi dan resiko kanker payudara). Epidemiology 1994;5:324-31



Shu XO, Linet MS, Steinbuch M, Wen WQ, Buckley JD, Neglia JP, Potter JD et al. Breastfeeding and the risk of childhood acute leukemia (Menyusui dan resiko leukemia akut pada anak-anak). J Nat Cancer Institute 1999;91:1765-72



Davis MK. Review of the evidence for an association between Infant feeding and childhood cancer (Kajian terhadap bukti adanya hubungan antara pemberian makan pada bayi dan kanker pada masa kanak-kanak). Int J Cancer 1998;Supplement II:29-33



9. Meningkatkan resiko penyakit kronis

Penyakit kronis dapat dipicu oleh respon auto-imun tubuh anak ketika mengkonsumsi makanan yang mengandung protein gluten. Ivarsson dan tim-nya melakukan penelitian terhadap pola menyusui 627 anak yang terkena penyakit kronis dan 1.254 anak sehat untuk melihat dampak menyusui pada konsumsi makanan yang mengandung protein gluten serta resiko terkena penyakit kronis. Secara mengejutkan ditemukan bukti bahwa 40% anak-anak bawah umur dua tahun (baduta) yang disusui/mendapatkan ASI berisiko lebih kecil terhadap penyakit kronis, walaupun mengkonsumsi makanan yang mengandung protein gluten. (Ivarsson, A. et al. Breast-Feeding May Protect Against Celiac Disease Am J Clin Nutr 75:914-921, 2002)



Rasa terbakar pada saat BAB dan penyakit Crohn adalah penyakit gastrointestinal kronis yang sering terjadi pada bayi susu formula. Suatu meta-analisis pada 17 kasus yang mendukung hipotesis bahwa menyusui mengurangi resiko penyakit Crohn dan ulcerative colitis. (Klement E, Cohen RV, Boxman V, Joseph A, Reif s. Breastfeeding and risk of inflammatory bowel disease: a systematic review with meta-analysis. Am J Clin Nutr 80: 1342-1352, 2004)



Untuk memperjelas dampak dari pemberian MPASI yang terlalu dini (contoh: dampak dari menyusui dibandingkan tidak menyusui; lama menyusui; dampak menyusui dan hubungannya dengan pemberian makanan yang mengandung protein gluten) pada resiko penyakit kronis, para peneliti melihat kembali literatur tentang menyusui dan penyakit kronis. Mereka menemukan bahwa anak-anak yang menderita penyakit kronis hanya mendapatkan ASI/disusui dalam jangka waktu pendek. Sementara anak-anak yang disusui lebih lama resiko terkena penyakit kronis ini 52% lebih rendah. Para peneliti mendefinisikan 2 mekanisme perlindungan yang diberikan ASI, yaitu: (1) melanjutkan pemberian ASI/menyusui menghambat penyerapan gluten pada tubuh, (2) ASI melindungi tubuh dari infeksi intestinal. Infeksi dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh bayi sehingga gluten dapat masuk ke dalam lamina propria. Penelitian yang lain menyebutkan bahwa IgA dapat menurunkan respon antibody terhadap gluten yang dicerna. (Akobeng A K et al. Effects of breast feeding on risk of coeliac disease: a systematic review and meta-analysis of observational studies. Arch DisChild 91: 39-43, 2006)



10. Meningkatkan resiko diabetes

Untuk memastikan hubungan antara konsumsi susu sapi (dan susu formula bayi berbahan dasar susu sapi) dan respon antibodi bayi pada protein susu sapi, peneliti di Italia mengukur respon antibodi pada 16 bayi ASI dan 12 bayi usia 4 bulan yang mengkonsumsi susu formula. Bayi susu formula meningkatkan antibodi beta-casein yang bisa menyebabkan diabetes type 1, dibandingkan dengan bayi ASI. Para peneliti tersebut menyimpulkan bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan beresiko lebih rendah terhadap diabetes type 1, karena ASI dapat mencegah pembentukan anti-bodi beta-casein. (Monetini L, Cavallo MG, Stefanini L, Ferrazzoli F, Bizzarri C, Marietti G, Curro V, Cervoni M, Pozzilli P, IMDIAB Group. Bovine beta-casein antibodies in breast-and bottle-fed infants: their relevance in Type 1 diabetes. Hormone Metab Res 34: 455-459, 2002)



Studi yang dilakukan pada 46 suku Indian Kanada yang menderita diabetes tipe II dicocokkan dengan 92 jenis control penyakit diabetes. Kemudian dibandingkanlah resiko pre dan post-natal dari suku Indian yang disusui dan yang tidak disusui. Menariknya, ditemukan suatu fakta baru bahwa ASI dapat menurunkan resiko terkena penyakit diabetes tipe II. (Young TK, Martens PJ, Taback SP, Sellers EA, Dean HJ, Cheang M, Flett B. Type 2 diabetes mellitus in children: prenatal and early infancy risk factors among native Canadians. Arch Pediatr Adolesc Med 156: 651-655, 2002)



Penggunaan susu formula, makanan pengganti ASI dan susu sapi yang lebih dini pada bayi, adalah factor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terkena diabetes tipe I ketika dewasa. Sebayak 517 anak Swedia dan 286 anak Lithuania usia 15 tahun yang didiagnosa menderita penyakit diabetes tipe I dibandingkan dengan pasien non-diabets. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memberikan ASI secara eksklusif sekurangnya 5 bulan dan dilanjutkan sampai usia 7 atau 9 bulan (dengan MP-ASI) dapat mengurangi resiko terkena diabetes. (Sadauskaite-Kuehne V, Ludvigsson J, Padaiga Z, Jasinskiene E, Samuel U. Longer breastfeeding is an independent protective factor against development of type I diabetes mellitus in childhood. Diabet Metab Res Rev 20: 150-157, 2004)



Data yang didapatkan dari 868 anak penderita diabetes asal Cekoslovakia dan 1466 kunjungan dar pasien yang terkena diabetes, mengkonfirmasi bahwa resiko terkena diabetes tipe I dapat dikurangi dengan memperpanjang lama/periode menyusui. Menyusui bayi selama 12 bulan atau lebih mengurangi risiko terkena diabetes tipe I secara signifikan. (Malcove H et al. Absence of breast-feeding is associated with the risk of type 1 diabetes: a case-control study in a population with rapidly increasing incidence. Eur J Pediatr 165: 114-119, 2005)



Working Group on Cow's Milk Protein and Diabetes Mellitus of the American Academy of Pediatrics. Infant feeding practices and their possible relationship to the etiology of diabetes mellitus (Kelompok kerja AAP: untuk protein susu sapi dan diabetes melitus. Praktek pemberian makan pada bayi dan kemungkinan hubungan dengan etiologi diabetes melitus). Pediatrics 1994;94:752-4



Karjalainen J, Martin JM, Knip M, Ilonen J, Robinson BH, Savilahti E, et al. A bovine albumin peptide as a possible trigger of insulin-dependent diabetes mellitus (Kemungkinan peptida albumin sapi sebagai pencetus diabetes melitus ketergantungan insulin). N Eng J Med 1992;327:302-7 (Editorial: 1992:327:348-9)



Mayer EJ, Hamman RF, Gay EC, Lezotte DC, Savitz DA, Klingensmith J. Reduced risk of IDDM among breastfed children (Penurunan resiko diabetes melitus ketergantungan insulin pada bayi yang disusui). Diabetes 1988;37:1625-32



Virtanen SM, Räsänen L, Ylönen K, Aro A, Clayton D, Langlholz B, et al. Early introduction of dairy products associated with increased risk of IDDM in Finnish children (Pengenalan awal produk susu dihubungkan dengan meningkatnya resiko diabetes melitus ketergantungan insulin pada anak-anak Finlandia). Diabetes 1993;42:1786-90



>

Senin, 10 September 2012

Konsumsi Susu Formula Secara Berlebihan, Umur 2 Tahun Terserang Radang Otak

Oleh : Irma R. Priyadi

Berawal dari pemberian susu formula pada si kecil Aldo, sejak dia dilahirkan karena ASI belum keluar dengan lancar. Tapi sayangnya si Aldo sudah terlanjur menyukai susu formula dalam botol karena lebih enak dan tentunya tanpa kerja keras seperti halnya mengisap susu dari puting si bunda. Susu dalam botol besar dilahapnya dalam sekejap dan sudah berpindah ke botol yang lain. Sampai dengan umur 6 bulan yang harusnya sudah menerima makanan tambahan, dia sama sekali tak mau menyentuhnya dan lebih menyukai susu formula. Setiap bulan entah berapa kg susu masuk dalam lambungnya, si bunda bercerita dana yang dikeluarkan untuk susu formula sekitar 1 - 1.5 juta perbulan. Susu formula yang dikonsumsi juga susu impor ternama yang lumayan mahal harganya. Pada kaleng kemasan tertera berbagai kandungan gizi, DHA, AA dan entah kandungan lainnya yang mengundang minat para orang tua untuk memberikannya kepada si bayi.

Susu formula.. yah lagi lagi mengenai efek samping dari susu formula. Maaf, saya bukannya anti pati dengan namanya susu formula dan lebih mendewakan ASI. Saya juga bukan menghakimi susu formula dan mengagungkan ASI. Saya juga bukan menilai bahwa ASi adalah segala-galanya dan susu formula tak baik dikonsumsi oleh bayi. Memang, saya tak pernah memberikan susu formula pada kedua anak saya sejak mereka dilahirkan ke bumi ini. Saya cukup yakin dan percaya bahwa ASI adalah makanan yang telah disediakan Allah untuk kedua jagoan saya. Sehingga saya tak perlu lagi berpusing-pusing untuk mencari makanan baginya selain ASI. ASI ekslusif 6 bulan, tanpa tambahan apapun dan dilanjutkan tetap menyusui sampai berumur 2 tahun bahkan lebih diluar makanan tambahan tentunya.

Saya hanya sekedar berbagi kepada teman-teman, ibu muda, ibu yang baru melahirkan, baru mengandung atau semua perempuan yang tentunya suatu saat menjadi ibu. Sehingga hal yang terjadi pada ‘cucu’ saya (anak keponakan) tidak terjadi pada bayi-bayi yang lainnya. Saya sangat prihatin atas si kecil Aldo, begitu kami memanggilnya yang sekarang tergolek tanpa daya di ruang ICU sebuah rumah sakit di Jakarta karena terserang radang otak dan infeksi pada paru-parunya. Sabtu siang, Aldo tiba-tiba pingsan lalu di bawa ke dokter spesialis anak. Dan dokter anak menganjurkan untuk dibawa ke rumah sakit, lalu masuk ICU karena koma. Diagnosa dokter menyimpulkan bahwa Aldo terserang radang otak dan infeksi paru-paru. Gejalanya adalah demam tinggi, pusing mual hingga akhirnya tak sadarkan diri.

Foto: google
Minggu kemarin, Alhamdulillah si kecil Aldo yang baru saja berulang tahun di bulan Agustus lalu tepat di hari kemerdekaan Indonesia tersadar dari koma tapi masih di ruang ICU karena masih dalam masa kritis. Dan seluruh tubuh mungil yang gempal itu terpasang berbagai alat bantu dan berbagai obat disuntikkan padanya. Biaya nya pun tak main-main, perawatan di ICU perharinya sekitar 12-15 juta karena berbagai dokter spesialis dikerahkan untuk menanganinya.

Berawal dari pemberian susu formula pada si kecil Aldo, sejak dia dilahirkan karena ASI belum keluar dengan lancar. Tapi sayangnya si Aldo sudah terlanjur menyukai susu formula dalam botol karena lebih enak dan tentunya tanpa kerja keras seperti halnya mengisap susu dari puting si bunda. Susu dalam botol besar dilahapnya dalam sekejap dan sudah berpindah ke botol yang lain. Sampai dengan umur 6 bulan yang harusnya sudah menerima makanan tambahan, dia sama sekali tak mau menyentuhnya dan lebih menyukai susu formula. Setiap bulan entah berapa kg susu masuk dalam lambungnya, si bunda bercerita dana yang dikeluarkan untuk susu formula sekitar 1 - 1.5 juta perbulan. Susu formula yang dikonsumsi juga susu impor ternama yang lumayan mahal harganya. Pada kaleng kemasan tertera berbagai kandungan gizi, DHA, AA dan entah kandungan lainnya yang mengundang minat para orang tua untuk memberikannya kepada si bayi.

Berbagai penyakit sering menyerangnya. Walaupun badannya sangat gemuk sekali, namun pertumbuhan motoriknya sangat lambat. Flu, pilek atau diare sering menyerangnya. Beberapa bulan lalu, Aldo sempat dirawat karena infeksi usus dan pencernaan hingga diare akut. Beberapa hari di rawat kondisinya membaik dan diperbolehkan pulang ke rumah. Namun kesehatannya naik turun, demamnya juga naik turun. Sehingga pada puncaknya, Sabtu kemarin si kecil Aldo yang masih lucu-lucunya harus dirawat kembali dan mirisnya lagi dalam keadaan koma. Dokter yang menanganinya mengatakan, bakteri sudah menyerang ke seluruh badan karena pengobatan pertama tidak maksimal. Banyak lendir ditubuh mungilnya. Oh, prihatin saya mendengarnya. Teringat 8 bulan lalu sebelum kami pindah, Aldo masih tampak sehat dan lucu sekali. Sangat montok sekali.

Memang segala hal yang berlebihan tak baik, demikian juga pemberian susu formula secara berlebihan. Bagaimanapun orang tua ingin memberikan makanan yang terbaik untuk si buah hati tercinta. Dengan memberikan makanan pilihan yang dipercaya banyak kandungan gizi dan mencerdaskan si buah hati. Ditambah kekurang yakinan akan keajaiban ASI dan gencarnya promosi susu formula dalam berbagai merk yang dipercaya banyak manfaatnya. Seandainya kita percaya mengenai keajaiban ASI, tentu kita tak akan tergoda oleh berbagai rayuan produk susu dan tak bingung mencari susu formula yang baik untuk si kecil.

Ternyata, banyak hal yang harus diperhatikan jika kita memilih atau terpaksa memberikan susu formula pada si kecil. Saudara saya yang seorang dokter mengatakan, susu formula dalam kondisi masih susu bubuk relatif aman. Akan berbahaya ketika dicairkan karena bakteri akan sangat suka tumbuh di susu formula yang sudah dicairkan. Maka dari itu banyak hal yang harus diperhatikan, baik cara membuatnya, takaran susunya, kebersihan, juga waktu pemberian susu formula itu sendiri. Ada beberapa tip aman dalam membuat/mencairkan susu formula untuk si kecil, antara lain:

1. Pastikan kondisi tangan dalam keadaan bersih, cuci tangan dengan sabun sebelum membuat susu.

2. Botol dicuci bersih dan dipanaskan dalam keadaan air sampai mendidih dan bergola (disterilkan)

3. Pencairan susu formula menggunakan air yang direbus (jangan air dispenser), tunggu air sampai sekitar 70 derajat lalu masukkan susu formula sesuai takaran dan diamkan sejenak sampai susu yang sudah dicairkan bersuhu sekitar 37 derajat baru diberikan kepada si kecil.

4. Sebisa mungkin susu segera dihabiskan, kalau tidak simpanlah di lemari pendingin dan hanya sampai 4 jam saja. Seandainya lebih dari 4 jam dan masih tersisa, alangkah baiknya dibuang saja.

Mengapa orangtua memberikan susu formula pada bayinya? Tentu mereka mempunyai pertimbangan sendiri dengan tujuan buat kebaikan si kecil. Terlepas dari betapa bermanfaatnya ASI sebenarnya, susu formula relatif aman dalam komposisi yang tepat dan penyajian yang tepat. Sekali lagi, saya tidak bermaksud untuk mengatakan susu formula kurang baik, namun tetap harus banyak hal yang diperhatikan dalam pemberiannya.

Teriring doa dan sayang untuk si kecil Aldo yang masih dalam kondisi kritis di ICU. Semoga Aldo kuat bertahan dan melawan radang otak dan infeksi paru-paru yang menyerangnya.

Salam sayang dari bunda Irma ya Naak.. peluk cium untukmu..

Sweden, 19 Desember 2011

sumber : http://kesehatan.kompasiana.com

Minggu, 09 September 2012

Efek samping susu formula pada bayi

Jakarta (ANTARA News) - Susu formula yang yang diberikan kepada bayi sebagai pengganti ASI, kerap kali memberikan efek samping yang mengganggu kesehatan bayi, kata Penasihat Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia DKI Jakarta, Hubertin Sri Purwanti.

"Susu formula secara genetik berasal dari binatang, protein binatang yang masuk ke dalam tubuh manusia bisa menyebabkan alergi terutama pada dinding usus halusnya," kata Purwanti usai memberikan paparan pada diskusi media di Jakarta, Kamis.

Sebagian besar bayi yang sistem imunitasnya masih tergolong rendah, masih sulit untuk menerima protein hewani yang terkandung di dalam susu formula.

"Hal itulah yang menyebabkan diare pada bayi yang memiliki alergi pada susu formula," ujar Purwanti.

Purwanti memaparkan, pada awalnya, akan terjadi suatu proses di mana dinding usus mendapat perlindungan dari ASI, sehingga kuman tidak dapat masuk.

"Susu formula justru merusak dinding usus halus yang menyebabkan diare dan alergi," pungkas dia.

Satu kali pemberian susu formula sama dengan merusak hasil pematangan fili dinding usus yang terbentuk selama dua hari, ungkap Purwanti.

Purwanti mengimbau, bila bayi mengalami diare saat mengkonsumsi susu formula, hal pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan konsumsi susu formula dan beralih pada ASI sebagai asupan utama bayi dibawah usia enam bulan.

"Ini karena ASI memberikan proteksi dan efek menyembuhkan untuk bayi," demikian Purwanti.
(M048)
Editor: Desy Saputra

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Selasa, 05 Juni 2012

HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells) Substansi ASI pembunuh Sel Kanker

Inilah salah satu alas an kuat kenapa ibu HARUS Memberikan ASI Eksklusif pada bayinya. Ternyata Zat yang ditemukan di ASI dapat membunuh sel-sel kanker, ini diungkapkan oleh para peneliti di Universitas Lund dan Universitas Gothenburg, Swedia.

zat ini disebut HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells), dan ini ditemukan pada ASI beberapa tahun yang lalu. Pasien dengan kanker kandung kemih yang dirawat dengan bahan yang diekskresikan dari ASI ternyata sel-sel kankernya mati setelah menjalani pengobatan. Ini dapat menimbulkan harapan bahwa ASI dapat dikembangkan menjadi obat untuk perawatan kanker di masa depan. Mungkin gak ya? Hehehe HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells),ditemukan secara kebetulan ketika para peneliti sedang mempelajari sifat antibakteri ASI. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells), terdiri dari protein dan asam lemak yang baik ditemukan secara alami dalam ASI.Sejauh ini belum terbukti bahwa kompleks HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells), secara spontan terbentuk dalam air susu manusia. Hal ini berspekulasi bahwa HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells) bentuk dalam lingkungan asam dari 'bayi perut manusia. percobaan laboratorium menunjukkan bahwa HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells) membunuh 40 jenis kanker yang berbeda, dan peneliti kini dipelajari pengaruhnya terhadap kanker kulit, tumor pada selaput lendir, dan tumor otak. Yang penting, HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells) hanya membunuh sel kanker dan tidak tidak mempengaruhi sel-sel sehat. Para peneliti di University of Goteborg berfokus pada bagaimana HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumor cells) dapat diambil ke dalam sel tumor. Para peneliti, Roger Karlsson, Maja Puchades dan Ingela Lanekoff, sedang berusaha untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang bagaimana substansi berinteraksi dengan membran sel. Temuan mereka baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal bergengsi. Nah sekarang JANGAN RAGU! Ayo berikan ASI pada bayi kita Pokoknya ASI Thok Lho Ya


 

Senin, 04 Juni 2012

Mengatasi Bingung Puting

Bingung putting (“nipple confusion”) adalah suatu keadaan yang terjadi karena bayi mendapat susu formula dalam botol berganti-ganti dengan menyusu ibu. Peristiwa ini terjadi karena proses menyusu pada putting ibu berbeda dengan menyusu pada botol. Menyusu pada putting memerlukan kerja otot-otot pipi, gusi, langit-langit dan lidah, sebaliknya menyusu pada botol akan membuat bayi pasif menerima susu karena dot sudah berlubang di ujungnya.

Tanda-tanda bayi bingung putting adalah :
 o bayi mengisap putting seperti mengisap dot, lemah, terputus-putus, sebentar
 o Atau dapat juga bayi menolak menyusu

 Karena itu, untuk menghindari bayi bingung putting, perlu dilakukan :
 Ø jangan menggunakan susu formula tanpa indikasi yang sangat kuat.
 Ø kalau terpaksa harus memberikan susu formula, berikan dengan sendok atau pipet, jangan sekali-kali menggunakan botol atau kempengan


.

Sabtu, 02 Juni 2012

Mengatasi Masalah ASI Kurang

Sindrom ASI kurang adalah keadaan di mana ibu merasa bahwa ASI-nya kurang, dengan berbagai alasan yang menurut ibu merupakan tanda tersebut

o payudara kecil, padahal ukuran payudara tidak menggambarkan kemampuan ibu untuk memproduksi ASI. Ukuran payudara berhubungan dengan beberapa faktor, misalnya faktor hormonal (estrogen dan progesteron), keadaan gizi, dan faktor keturunan. Hormon estrogen akan menyebabkan pertumbuhan saluran susu dan penimbunan lemak, sedangkan hormon progesteron memacu pertumbuhan kelenjar susu. Masukan makanan yang berlebihan terutama energi akan ditimbun sebagai lemak, sehingga payudara akan bertambah besar, sebaliknya penurunan masukan energi, misalnya karena penyakit, akan menyebabkan berkurangnya timbunan lemak termasuk di payudara, sehingga ukuran payudara berkurang. Seberapapun ukuran payudara seorang wanita, tetap dianggap normal, kecuali jika ada kelainan tertentu misalnya tumor. Ukuran payudara ideal sangat dipengaruhi faktor lingkungan atau penilaian masyarakat setempat.
 o ASI yang tampak berubah kekentalannya, misalnya lebih encer, disangka telah berkurang, padahal kekentalan ASI bisa saja berubah-ubah.
 o payudara tampak mengecil, lembek atau tidak penuh / merembes lagi, padahal ini suatu tanda bahwa produksi ASI telah sesuai dengan keperluan bayi.
 o bayi sering menangis disangka kekurangan ASI, padahal bayi menangis bisa karena berbagai penyebab.
 o bayi lebih sering minta diteteki, kecuali karena ASI memang lebih mudah dicerna, juga bayi memang memerlukan ASI yang cukup untuk tumbuh kembang, dan yang penting : masalah menyusui bukan hanya memberi makan bayi, tetapi karena bayi juga memerlukan belaian, kehangatan dan kasih sayang.
 o bayi minta disusui pada malam hari, hal ini memang penting, karena bayi memerlukan dekapan dan ASI pada malam hari, selain itu menyusui pada malam hari akan memperbanyak produksi ASI dan mengurangi kemungkinan sumbatan payudara.
 o bayi lebih cepat selesai menyusu dibanding sebelumnya, hal ini karena bayi telah lebih terbiasa menyusu.

 Jika ada keluhan-keluhan semacam ini, cobalah mengadakan evaluasi dan pendekatan psikologis seperti tersebut di atas, serta coba dievaluasi juga hal-hal berikut :

1) ibu jangan merokok, karena merokok mengurangi produksi ASI,
2) kalau ibu menggunakan pil KB, cobalah berkonsultasi dengan dokter,
3) jangan menggunakan alat bantu putting susu, karena akan membingungkan dan melelahkan bayi, serta mengurangi produksi ASI,
4) teruskan menyusui dengan sabar dan sesering mungkin, karena akan memperbanyak produksi ASI,
5) cobalah menyusui dengan payudara pertama selama kurang lebih 10 menit, kemudian payudara kedua selama kurang lebih 20 menit, karena saat awal bayi lebh kuat menyusu,
6) menyusui dimulai dari payudara yang terakhir disusukan secara berganti-ganti,
7) jangan memberikan susu buatan, karena akan membingungkan bayi,
8) ibu harus banyak beristirahat,
9) ibu harus lebih banyak minum,
10) perhatikan kecukupan gizi makanan,
11) ibu harus tenang, santai, jangan tegang / stress, karena ketegangan dan kecemasan akan mengurangi produksi ASI, jika perlu sesering mungkin lakukan relaksasi hypnobreastfeeding.
12) ibu harus menyusui dalam suasana yang nyaman.