Tampilkan postingan dengan label opiniku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opiniku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2009

Vaksin BCG kalah oleh Flu Babi

Telah sebulan lebih aku kerja di puskesmas tetapi vaksin BCG belum ada juga stoknya. Ternyata emang telah 3-4 bulan ini stoknya kosong. Kabarnya emang dari pusatnya kosong. Akhirnya, ketika ada bayi yang mau vaksin terpaksa ditolak karena vaksinnya habis. Yah, kalau beruntung tetep bisa vaksin dgn sisa stok dulu. Hm..aneh banget, ketika flu babi mewabah dgn begitu sigapnya depkes, pemerintah melakukan pencegahan dan adanya stok tamiflu dkk. Ini sungguh berbeda dg vaksin BCG. Padahal jelas-jelas Indonesia masih endemik TB. Peringkat Indonesia aja masuk juara tiga sebagai negara dengan jumlah penderita TB terbanyak, 228 kasus per 100.000 penduduk/tahun. 300 orang Indonesia meninggal setiap harinya karena TB. Sampai saat ini belum ada penduduk Indonesia yg mati karena flu babi.

Semoga dalam waktu dekat vaksin BCG segera ada stoknya lagi. Semoga pemerintah segera sigap mengatasi masalah ini. Masak vaksin BCG kalah oleh Flu babi.

Jumat, 06 Februari 2009

Pasien Minta Aborsi, Dokter Ogah Bertindak

Selain lagi hangatnya berita rokok yg difatwa haram oleh MUI, bberapa waktu lalu pun lagi seru2nya diangkat kembali kasus aborsi. Ini dimulai dgn tertangkapnya oknum dokter yg membuka praktek aborsi di sebuah klinik. Tidak hanya oknum dokter yg pernah tertangkap tangan, kita pun dapat mengingat pernah juga oknum dokter gigi, oknum paramedis, bahkan nonmedis pun berani melakukan aborsi ini dan pernah tertangkap kepolisian. Ntah karena onsetnya yg ratusan juta, atau karena makin merosotnya moral penduduk Indonesia yg menyebabkan praktek ini ga pernah habis. Menyedihkannya, sebuah LSM pernah mensurvei dari 4 wanita hamil yg datang ke klinik, 3 diantaranya tidak menginginkan kehamilannya. Siapa gy salah jadinya. Tentu multifaktor yg mendorong aborsi terjadi.

Seperti dosenku, Dr. dr. Fahmi Idris, M.Kes, Ketua Umum IDI, katakan tindakan aborsi itu melanggar sumpah, etik dokter, hukum yg berlaku. Walaupun begitu tetep aja banyak oknum tenaga medis berotak kecil yg melakukan itu. Aku jadi ingat kisah bbrp bulan lalu ketika jadi dokter klinik di pinggiran kota. Biasanya klinik2 di pinggiran kota ini yg dijadikan sasaran untuk melakukan praktek terlarang itu.

Hari itu datang 4 siswiSMA, lengkap dgn atributnya, datang ke klinik. Tanpa malu2, salah satu diantaranya mengatakan bisa ga di klinik ini menggugurkan kandungannya. Hah, tentunya kami yg mendengar rada terkejut. Perawat pun mengatakan tidak bisa dan menasehati lebih baik untuk meminta pertanggujawaban dari cowoknya, serta bertanya klo tau bisa hamil kok masih melakukan juga. Sekali lagi satu diantara mereka tanpa malu bilang ga bisa nahan hasrat. Bahkan temannya yg lain tanpa rasa bersalah, sambil tertawa2 mengatakan sambil menunjuk ke arah teman yg lain, Nah, dia itu lebih parah, masak pas bulan puasa siang2 pula. Denger itu kami shock. Astagfirullah, kok ngomongnya enteng banget. Kemana malumu dik. Keterkejutanku bertambah lagi, dari 4 siswi itu duanya hamil. Rasanya gubrak deh. Baru kali ini, ada pasien datang dgn masalah sensitif seperti ini datang rame2 dan tanpa perasaan malu. Kan biasanya yg datang dgn urusan sensitif itu, datang dgn tingkah malu2 dan takut. Parahnya empat adik ini tidak sama sekali.

Dunia ini semakin kacau ternyata. Aborsi seolah-olah hal yg sangar biasa. Bagaimana dokter seharusnya bertindak, tentu tidak perlu dibahas panjang lebar. Dokter yg sadar akan sumpah profesi dan kode etiknya, dokter yg baik, tentu tidak akan melakukan praktek terlarang seperti itu. Tidak juga, setelah menolak malah memberikan referensi oknum TS yg bersedia melakukan hal itu. Jadi, inget soal UKDI itu namanya tindakan benar, melanggar hukum. Dokter bersangkutan sudah benar menolak melakukan aborsi, tapi jadinya melanggar hukum karena memberi tahu oknum dokter mana yg biasa melakukan aborsi. Jika pasien datang minta aborsi, sang dokter harus berani mengatakan tidak, dan bilang maaf saya ogah melakukan praktek tersebut.

Menjadi dokter yg baik atau tidak itu sebuah pilihan. Apapun pilihan itu akan dipertanggujawabkan di akhirat kelak.

Senin, 19 Januari 2009

Agresi Militer Israel ke Palestina

Setelah lebih dari tiga minggu korban yang berjatuhan di Palestina semakin banyak, lebih dari 1200 orang meninggal dan lebih dari 5000 orang terluka. Akhirnya, kemarin Israel melakukan gencaran senjata sepihak. Yah, minimal itu membrei waktu agar bantuan kemanusiaan bisa masuk ke Palestina. Patut disyukuri, akhirnya tim kesehatan Indonesia telah masuk ke Jalur Gaza.

Agresi militer ke Palestina ini merupakan tragedi kemanusiaan di abad yang katanya menjunjung kemerdekaan tiap-tiap bangsa, kita juga dari jauh bisa sedikit berperan dengan memberikan donasi ke rekening BSMI atau bisa via sms ketik MERC PEDULI kirim ke 7505 untuk memberi donasi Rp 5500/sms. Selain itu kita bisa pun bisa berdoa agar saudara kita di Palestina diberikan kemenangan dan perlindungan dari Allah SWT.

Senin, 29 Desember 2008

Optimisme Baru di Tahun Baru Hijriah

"Azan magrib tadi adalah perpindahan waktu 30 Dzulhijzah 1429 ke 1 Muharam 1430 H. Waktu dalam Islam merupakan ayat (tanda) kekuasaan Allah SWT, sampai-sampai Allah SWT bersumpah demi waktu tersebut (QS:103). Marilah kita bermuhasabah (renungkan) apa yang telah kita persiapkan untuk hari esok (QS.59:18) Rasul bersabda, "Tanda kecelakaan itu ada empat: 1) Tidak mengingat dosa-dosa yang telah lalu, sedangkan dosa itu tersimpan di sisi Allah SWT; 2) Menyebut-nyebut segala kebaikan yang telah diperbuat, padahal siapapun tidak tahu apakah kebaikan itu diterima atau tidak; 3) Memandang orang yang lebih unggul dalam soal dunia; 4) Memandang orang yang lebih rendah dalam soal agama". Mari kita saling ikhlaskan dan memaafkan." Begitulah sms yang aku terima semalam. Begitu panjang, tapi dapat mengingatkan. Tahun baru bukan ajang untuk dirayakan tetapi momen untuk evaluasi diri.

Kenapa momen? Karena manusia itu butuh sebuah momen untuk bergerak, untuk berinisiatif. Butuh pemicu untuk membakar semangatnya. Tidak mudah memang bagi manusia untuk evaluasi diri atau merenungkan kesalahan diri. Berbuat seperti itu butuh keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Hal yang sulit dilakukan di zaman sekarang. Buktinya semakin bertamabah umur seseorang akan semakin mundah untuk berbohong. Ehm.. Sebuah bentuk ketidakbersyukuran akan apa yang telah kita dapat.

Muhasabah itu seperti memutar kembali film lama, dari awal kehidupan kita sampai kemarin. Yang jadi pemeran utama adalah diri kita sendiri. Lucu rasanya melihat kita di layar itu. Mengingat keberhasilan di tahun lalu, dan apa yang tidak bisa dikerjakan. Apakah kita termasuk orang yang merugi atau tidak? Apakah amal kita yang sedikit itu dapat diterima, bisa menghapus dosa?

Tentu bukan penyesalan yang didapat setelah perenungan, tetapi munculnya optimisme baru, rencana kebaikan baru. Sayangnya, kata optimis itu mudah diucapkan tapi tidak gampang untuk dilakukan. Sebagian orang lupa bahwa kita manusia dilahirkan untuk optimis. Lupa bahwa tiap hari sebenarnya kita telah berlaku optimis. Padahal tiap malam ketika kita akan tidur, kita selalu berpikir akan bangun esok hari dan melakukan sebuah aktivitas. Itu adalah cara membangun pengharapan. Itu adalah sebuah optimisme yang dibangun tanpa disadari tiap harinya. Itu adalah contoh kecil optimisme. Optimisme itu cuma langkah sederhana untuk dilakukan. Semoga kita bisa dengan mudah melakukannya. Agar di tahun baru ini kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Sadar akan fitrah diri kita sebagai manusia.

Kamis, 04 Desember 2008

Dokter CPNS, sebuah kesempatan atau kekerdilan cita-cita

Tahun ini para dokter baik itu dokter lulusan baru maupun dokter yang kaya akan pengalamaan mencoba peruntungannya ikut CPNS. Kenapa semuanya berusaha? Kali ini ada hal lain yang ditawarkan. Motivasi Beasiswa BK alias tubel (tugas belajar) menjadi harapan bagi para dokter untuk dapat studi spesialisasi secara gratis.

Sebagian dokter menilai menjadi PNS adalah sebuah kesempatan. Bayangkan! sudah dapet gaji pasti tiap bulannya, ada tunjangan pensiun, dan tentunya momok PHK tidak mungkin terjadi bagi PNS, kecuali kalau negara ini bangkrut, bisa jadi akan terjadi PHK besar-besaran. Hal yang menarik sejak tahun kemarin adalah adanya program beasiswa BK dari pemerintah bagi para dokter untuk dapat mengambil spesialisasi secara gratis. Teorinya semua biaya akan dibiayai oleh pemerintah, baik itu pemerintah provinsi, kota, maupun daerah. Dampaknya, teman-teman satu angkatan saja begitu semangat mengikuti tes CPNS ini. Bahkan ada teman yang mengoleksi semua koran yang memuat pengumuman penerimaan CPNS pada hari itu. Lalu, ada lagi teman yang mengikuti beberapa tes CPNS di beberapa wilayah yang jadwal tesnya berbeda. Saat aku tanya kok semangat banget ikut CPNS? Nyaris semua menjawab, "Ya ikut lah. Kesempatan sekolah GRATIS! Jangan mikir PNSnya Nid, kejer sekolah gratisnya." Mendengar itu tinggal aku yang bengong sambil dalam hati bilang aku ga sepakat..

Jadi PNS?.. Dari kecil aku diajarkan, mungkin tepatnya dicecoki oleh ortu bahwa tidak usah menjadi PNS. Menjadi PNS itu akan membatasi ruang gerak kita. Karena seorang pegawai itu harus tunduk dengan perintah atasan suka atau tidak, benar atau salah. Sistem negara ini mengarahkan seseorang untuk menjadi tidak baik. Kalau kita benar dibilang salah, kalau kita salah dibilang salah. Kesimpulannya, pasti kita yang salah. :) Kalau besar, kita itu harus jadi orang yang membuat pekerjaan, bukan kita yang kerja dengan orang. Udah terlalu banyak pengangguran di negara ini maka jadilah orang yang berusaha menciptakan lapangan kerja. Gitu biasanya bos bilang sejak aku SD. Akhirnya, sejak kecil Nida kecil pun tidak pernah terlintas untuk menjadi PNS.

Salah seorang sejawat pernah bilang begini, "Nid, kok kerdil banget ya jadi PNS.. Bener ga?". Udah gaji kecil? Ga ada kerjaan alias pengangguran terselubung. Ditanya gitu, bingung juga jawabnya. Dokter CPNS itu sebuah kesempatan atau kekerdilan cita-cita tergantung siapa yang ditanya, siapa yang menilai. Ya.. kalau Nida yang ditanya paling cuma bisa jawab gini. Sayang aja, menurut Nida seorang Sarjana kayak kita itu punya potensi yang lebih besar dari sekedar menjadi pegawai biasa. Percuma dong, udah sekolah tinggi tapi tetep punya impian ga tinggi alias cita-cita kerdil. Idealnya, seorang yang punya background pendidikan tinggi haruslah punya kreativitas tinggi. Akan tetapi, kalau mau menjadi PNS ya jangan nanggung minimal ntar bisa jadi Kepala Dinas Kesehatan atau Direktur Rumah Sakit atau Menkes kalau perlu. Jangan sekedar pegawai biasa. Nah, akhirnya keren juga kan? Pas dah jadi pejabat tinggi jadi agen perubahan dong, yang salah dibenerin, yang mengot dilurusin. :)

Trus motivasi Nida sendiri gimana kok bisa-bisanya ikut CPNS juga? Sampe-sampe ditertawain temen dan diledekin. Ga bisa bayangin deh Nida jadi PNS. Bukan Nida banget! Kayak katak dalam kotak jadinya. Abisnya mo gimana lagi fren.. Udah jadi titah wak (sebutan kk perempuan mama di palembang) tertua. Wah, kalo wak udah bilang A mana bisa dilawan. Bos aja KO kok. He..He... yah, aku menganggapnya sebagai bakti keponakan kepada waknya :) dan tetap berusaha dan berdoa agar impianku tercapai. Semoga tercapai.. Amin.. Kalau tercapai, ya PNSnya tinggalin aja.

Di bawah ini ada kumpulan soal CPNS + bahan2.
Ini direquest oleh tmn sjawat dr. Rita di Jambi. Rita ini nih soalnya. Silakan di download. Tapi buat yang laen pengen DL juga bisa.

Kumpulan Soal CPNS Download di sini (2,981 MB)
Terdiri dari soal pengetahuan umum, bhs indonesia, inggis, tata negara, tes bakat de el el. Dalam file zip di atas ada 21 file lagi. Lumayan lengkap. Trus ada bahan2 yang bs dipelajari kayak logika, bhs indonesia, sejarah, uud45. Oya, ada file yang terkunci, paswordnya optimis.

Terakhir, met tes CPNS aja buat yang ikutan