Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Agustus 2012

PICA : Suka Makan Kabel dan Penge-charges HP...


Bila ditinggal sendirian, si kecil Joseph Hughes bisa membahayakan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, ia memiliki kebiasaan makan yang aneh bahkan bisa mematikan, yaitu kabel listrik dan charger ponsel.

Joseph Hughes (5 tahun) mengidap Pica, yaitu penyakit pola makan yang membuat penderitanya makan benda-benda selain makanan. Tapi yang diidap Joseph sangat membahayakan karena berhubungan dengan listrik.

Betapa terkejutnya sang ibu, Kate Jarvis (25 tahun), saat pertama kali melihat putranya sedang mengunyah kabel listrik game dan charger ponsel. Untungnya, kedua kabel tersebut tidak sedang dalam posisi terhubung listrik.

Tapi ketakutan Kate terus ada karena bisa saja suatu saat Joseph melakukannya saat kabel benar-benar terhubung dengan listrik.

Untuk membuatnya lebih aman, Kate memakaikan Joseph sepatu bersol karet untuk melindunginya dari bahaya listrik.

"Pertama kali saya melihat Joseph mengunyah kabel listrik, saya sangat ketakutan. Saya dan ayahnya berbicara padanya tentang bagaimana bahaya bisa terjadi, tetapi dia punya keinginan makan yang kuat dan hal itu terjadi lagi," jelas Kate yang tinggal di Preston, Lancashire, Inggris, seperti dilansir Thesun, Jumat (3/8/2012).

Kini ibu tiga anak ini telah menyembunyikan semua peralatan listrik di rumahnya untuk melindungi Joseph, yang telah didiagnosis dengan Pica.

Penyakit Pica

Orang yang makan makanan aneh seperti tanah, pasir, kapur, puntung rokok, lampu, bulu bahkan kotoran binatang didiagnosa sebagai penderita Pica yakni penyakit pola makan yang aneh.

Pica biasa terjadi pada anak-anak, ibu hamil dan orang dewasa. Penderita Pica biasanya mengonsumsi makanan yang tidak masuk akal. Penyebabnya hingga kini masih belum diketahui dengan jelas. Tapi beberapa peneliti menduga kurangnya zat besi dan anemia memicu pola makan tersebut.

Penggunaan obat-obatan hanya diperlukan jika penderita Pica sudah mengalami gangguan atau penyakit mental. Yang terpenting dalam mengobati penderita Pica adalah terapi perawatan medis dan psikologis.

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Jumat, 13 April 2012

Hubungan Obesitas saat Hamil dan Autisme

Para peneliti Amerika menyatakan ada hubungan antara kondisi perempuan obesitas saat kehamilan dengan autisme pada anak.
Hubungan Obesitas saat Hamil dan Autisme Studi yang dilakukan di University of California ini menyebutkan bahwa ibu hamil yang mengalami kondisi berat badan berlebih meningkatkan risiko sebanyak 67 persen untuk memiliki anak dengan kondisi autis.

Hasil penelitian baru-baru ini di AS mengungkap, saat ini orang tua menghadapi kemungkinan 1 dari 88 anak terlahir dengan kondisi autisme. Sementara penelitian ini mengungkap, ibu yang hamil dengan obesitas meningkatkan kemungkinan itu menjadi 1 di antara 53 kehamilan.

Studi ini melibatkan sekitar seribu anak di California dengan usia antara 2-5 tahun. Hampir 700 anak di antaranya mengalami kondisi autisme atau perkembangan terhambat lainnya.

Dr Daniel Coury, kepala perkembangan dan kesehatan anak di Nationwide Children's Hospital di Columbus, Ohio mengatakan selain kondisi autisme, ibu yang hamil dengan kondisi obesitas juga meningkatkan kemungkinan anaknya lahir dengan masalah keterlambatan perkembangan pula.

Selain kondisi genetik, kesehatan ibu, serta kemungkinan si ibu menggunakan jenis obat-obatan tertentu juga diperhitungkan para peneliti mengenai kemungkinan terjadinya autisme pada anak.

Dari kesimpulan peneliti seperti yang dikutip dari Fox News pada 9 April 2012, obesitas terkait dengan peradangan dan kadang meningkatkan level kadar gula darah. Kelebihan kadar gula dalam darah serta zat yang meningkatkan peradangan pada darah ibu yang hamil bisa mencapai bayi dan mengganggu perkembangan otaknya.

Jumat, 02 Maret 2012

Penyebab dan Cara Menyembuhkan Mimisan



Penyebab mimisan pada anak bervariasi. Secara umum mimisan terjadi akibat pembuluh darah yang pecah di daerah hidung bagian tengah, namanya pleksus kieselbach. Pembuluh darah ini merupakan anyaman jaringan pembuluh darah yang sangat halus dan tipis. Pada anak-anak pembuluh darah ini mudah berdarah terutama kalau ada infeksi di daerah hidung. Akibat infeksi pembuluh darah yang tipis tersebut akan melebar dan kalau tersenggol sedikit saja akan mudah pecah.

Perubahan cuaca juga dapat menyebabkan mimisan. Prinsipnya sama dengan infeksi, cuaca dingin atau hujan menyebabkan hidung anak mengalami flu serta pembuluh darah di hidung melebar dan tipis. Ketika anak menyeka hidungnya pembuluh darah ini gampang sekali pecah.

Penyebab dan Cara Menyembuhkan Mimisan
Mimisan juga dapat terjadi jika seseorang menderita tumor di rongga hidung yaitu angiofibroma. Tumor ini biasa ditemukan pada anak usia muda atau dewasda muda dan seringkali terlihat sebagai benjolan sebesar biji nangka berwarna merah keputihan.

Pada keadaan infeksi sistemik seperti demam bedarah anak juga dapat mengalami mimisan, biasanya ini pertanda bahaya pada kasus demam berdarah tersebut dan anak harus mendapatkan perawatan intensif. Pada keadaan demam berdarah mimisan seringkali diikuti perdarahan juga pada organ lain sehingga mimisan karena demam berdarah mudah dibedakan dari mimisan karena sebab lain.

Bahaya atau tidaknya mimisan sangat tergantung dari penyebabnya. Mimisan karena demam berdarah sangat berbahaya karena itu pertanda stadium berat. Jika mimisan karena infeksi di daerah hidung misalnya sinusitis dsb, tidak terlalu berbahaya dan penata laksanaannya dengan mengobati infeksinya.

Pada keadaan yang kronis misalnya mimisan yang terlalu sering dan darah yang keluar banyak dapat terjadi komplikasi yang cukup berat antara lain anemia. Anemia jika berlangsung lama dan berat akan mengakibatkan beban kerja jantung bertambah berat dan jantung akan membengkak.

Cara menghentikan mimisan adalah anak didudukkan pada posisi tegak, kemudian diberikan tekanan pada hidung (dipencet) dengan tujuan mengecilkan pembuluh darah yang pecah (kontriksi) sekaligus mempercepat pembekuan darah di daerah hidung. Bisa juga dengan pengobatan alami daun sirih getahnya diteteskan ke daerah hidung yang mimisan. Getah daun sirih ini berkhasiat menimbulkan koagulasi pada pembuluh darah yang pecah.


Sabtu, 05 November 2011

Ayah Perokok Harus Hati-hati kalau Gendong Anak


Ayah Perokok Harus Hati-hati kalau Gendong Anak

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Penasehat Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Hakim Sorimuda Pohan, mengingatkan para ayah perokok agar berhati-hati ketika menggendong anaknya. Apalagi, anaknya yang masih berusia balita. Secara tidak sengaja, sang ayah bisa menularkan penyakit pada anak.
Ia menyebutkan kini ada tiga jenis perokok yang ada. “First hand smoker, second hand smoker dan third hand smoker,” kata Hakim di Jakarta, Rabu (2/11).
Soal perokok aktif dan pasif, menurutnya, itu sudah ‘pustaka’ lama.First hand smoker adalah perokok pertama. Orang ini merokok sehingga memasukkan sendiri racun ke dalam tubuhnya.
Second hand smoker merupakan orang yang menghirup asap rokok. Yang mungkin jarang disadari yakni third hand smoker. Mereka ialah orang yang tidak merokok, tidak menghirup asap rokok tetapi berhubungan langsung dengan perokok. Baginya, ketiga jenis perokok ini memiliki akibat yang sama saja bahayanya.
Ia mencontohkan seorang ayah yang biasa merokok di kantor, ketika pulang langsung menggendong anaknya tanpa terlebih dahulu ganti baju atau cuci muka. Tanpa disadari, ayah tersebut telah menjadikan si anak sebagai third hand smoker.
“Ayah merokok di kantor, pulang tanpa berwudhu, cium si anak. Niatnya si mau sayang, tapi secara tidak sengaja ia malah memberikan racun pada anak,” ujar dia.
Ia menjelaskan, sisa-sisa nikotin bisa saja masih menempel di wajah atau baju ayah. Racun itu akan menguap dan terhirup melalui udara. “Ya seperti orang yang merokok kan nafasnya juga bau rokok,” katanya.
Jika kebetulan si anak mempunyai penyakit bawaan asma, dengan udara yang kotor, maka asma akan sulit disembuhkan. “Jadi kalau anak asma dan nggak sembuh-sembuh, cek saja siapa yang bawa racun ke rumah,” ujarnya sambil tersenyum.

Kamis, 27 Oktober 2011

Tumor Wilms, yang Menyerang Ginjal Anak-Anak

img

Tumor Wilms adalah kanker ginjal langka yang sering menyerang anak-anak. Dikenal juga sebagai nephroblastoma, tumor ganas yang paling umum menyerang ginjal anak-anak. Waktu puncak terjadinya tumor Wilms adalah sekitar usia 3 sampai 4 tahun dan jarang terjadi setelah usia 6 tahun. Meskipun dapat menyerang kedua ginjal, penyakit ini cenderung hanya mempengaruhi satu ginjal.

Tumor Wilms diyakini berkembang dari sel-sel ginjal yang belum matang. Teknik pencitraan dapat membantu dokter untuk menentukan sejauh mana kanker dalam tumor Wilms dan rencana pengobatannya. Kemungkinan kesembuhan pada anak dengan tumor Wilms sangat besar.

Gejala

Tumor Wilms mungkin tidak terdeteksi sejak awal karena dapat tumbuh besar tanpa menimbulkan rasa sakit. Ketika besar, umumnya tumor ini berhasil diketahui sebelum memiliki kesempatan untuk menyebar (metastasize) ke bagian tubuh lainnya.
Anak-anak yang terserang dapat memiliki gejala:
1. Perut bengkak
2. Terdapat suatu gumpalan dalam perut yang dapat dirasakan
3. Demam
4. Darah dalam urin
5. Nafsu makan berkurang
6. Tekanan darah tinggi
7. Sembelit
8. Nyeri Perut
9. Mual

Penyebab

Penyebab pastinya masih belum diketahui. Namun diyakini bahwa kanker ini timbul ketika anak masih berkembang dalam rahim dan beberapa sel-sel yang seharusnya membentuk ginjal gagal berkembang dengan baik. Sebaliknya, sel-sel itu berkembang biak dengan cara primitif, menjadi tumor yang nampak semakin jelas ketika anak berusia sekitar 3 atau 4 tahun.

Beberapa kanker (termasuk tumor) terjadi akibat mutasi pada gen yang mengontrol pertumbuhan sehingga membiarkan sel berkembang biak tanpa terkendali. Dalam beberapa kasus, kanker ini disebabkan oleh cacat genetik yang diturunkan dari orangtua ke anak.

Perawatan dan obat-obatan

Pengobatan standar untuk tumor Wilms adalah operasi dan kemoterapi. Hasil pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk menentukan apakah terapi radiasi juga diperlukan.Karena jenis kanker ini jarang terjadi, dokter mungkin menyarankan orang tua mencari perawatan di pusat kanker anak-anak yang memiliki pengalaman mengobati kanker.

Operasi

Operasi pengangkatan jaringan ginjal disebut nephrectomy. Berbagai jenis nephrectomy meliputi:
1. Nephrectomy sederhana.
Dalam operasi ini, ahli bedah mengangkat ginjal yang terserang. Ginjal yang tersisa dapat meningkatkan kapasitas dan mengambil alih seluruh tugas penyaringan darah.

2. Nephrectomy partial.
Pengangkatan tumor dan sebagian jaringan ginjal. Ini biasanya dilakukan ketika ginjal yang lain rusak atau sudah tidak ada.

3. Nephrectomy radikal.
Dokter mengambil ginjal dan jaringan sekitarnya, termasuk ureter dan kelenjar adrenal. Kelenjar getah bening di sekitarnya juga dapat diangkat..

Pada pembedahan, dokter anak memeriksa kedua ginjal dan rongga perut untuk membuktikan keberadaan kanker. Sampel ginjal, kelenjar getah bening dan setiap jaringan yang terlihat abnormal diangkat dan diperiksa dengan mikroskop untuk mengidentifikasi sel-sel kanker.

Jika kedua ginjal perlu diangkat, anak akan membutuhkan dialisis sampai ia cukup sehat untuk transplantasi. Dokter yang mengkhususkan diri dalam patologi akan memeriksa sel-sel tumor di bawah mikroskop dan mencari ciri khas yang menunjukkan apakah kanker tersebur agresif atau rentan terhadap kemoterapi.

Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat untuk membunuh sel-sel kanker di seluruh tubuh. Perawatan ini menyebabkan pembelahan sel dengan cepat sehingga sel normal yang terkena berganti dengan cepat, begitu pula sel-sel kanker. Akibatnya, obat ini dapat memiliki efek samping mual, muntah, kehilangan nafsu makan, rambut rontok dan jumlah sel darah putih yang rendah. Kebanyakan efek samping akan membaik setelah obat dihentikan dan berkurang selama terapi.

Pada dosis tinggi, kemoterapi dapat menghancurkan sel-sel sumsum tulang. Jika seorang anak akan menjalani kemoterapi dosis tinggi, dokter anak mungkin memberitahu bahwa sel-sel sumsum dibuang dahulu. Setelah kemoterapi, sumsum akan dikembalikan melalui jalur intravena, prosedur ini disebut autologous bone marrow reinfusion.

Terapi radiasi

Terapi radiasi menggunakan sinar-X atau sumber sinar berenergi tinggi lainnya untuk membunuh sel kanker. Kemungkinan efek sampingnya antara lain; mual, kelelahan dan iritasi kulit. Diare dapat terjadi setelah radiasi ke perut .

Pengobatan bertahap
1. Kanker Tahap I atau II
Jika kanker terbatas pada ginjal atau struktur di dekatnya dan jenis sel tumornya tidak agresif, anak akan menjalani pengangkatan jaringan ginjal dan beberapa kelenjar getah bening di dekat ginjal yang terkena. Setelah itu diikuti dengan kemoterapi. Beberapa kanker stadium II juga diobati dengan radiasi.

2. Kanker Tahap III atau IV
Jika kanker telah menyebar di dalam perut dan tidak dapat sepenuhnya dihapus tanpa membahayakan struktur seperti pembuluh darah utama, radiasi akan ditambahkan untuk operasi dan kemoterapi. Anak mungkin menjalani kemoterapi sebelum operasi untuk mengecilkan tumor.

3. Kanker Tahap V
Jika sel-sel tumor ada di kedua ginjal, bagian kanker dari kedua ginjal akan diangkat selama operasi dan kelenjar getah bening diambil untuk dilihat apakah mengandung sel-sel tumor. Kemoterapi diberikan untuk mengecilkan tumor yang tersisa. Pembedahan diulangi untuk mengangkat tumor sebanyak mungkin dan jaringan ginjal yang masih berfungsi dipertahankan. Kemoterapi dan terapi radiasi dapat diberikan selanjutnya.

Sumber: MayoClinic
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !