Tampilkan postingan dengan label gigi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gigi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2011

Gigi Berlubang di Cabut Atau di Tambal ?


Rasa nyeri dan berdenyut-denyut akibat sakit gigi memang sungguh menjengkelkan. Mencabut gigi sering dianggap sebagai solusi untuk mengenyahkan sakit pada gigi, padahal dalam kondisi tertentu gigi masih bisa diselamatkan.

Rasa sakit terus-menerus pada gigi, termasuk saat mengunyah atau peka terhadap makanan, merupakan tanda abses gigi. Bisa juga disertai demam, pembengkakan kelenjar limfa di leher, dan tubuh terasa tidak enak.

Abses gigi biasanya disebabkan karena gigi berlubang tidak dirawat dengan baik dan benar. Abses terjadi jika pulpa sebuah gigi terinfeksi bakteri sehingga pulpa membengkak dan meradang. Pembuluh darah dalam pulpa membesar dan menekan saraf sehingga terasa sakit.

Untuk mengurangi rasa sakit, sebelum ke dokter gigi, berkumur dengan air garam yang dilarutkan dalam segelas air hangat bisa mengurangi rasa sakit. Terkadang pencabutan merupakan satu-satunya cara untuk mengatasi abses gigi, tetapi dokter gigi umumnya lebih suka mempertahankan gigi dengan melakukan penambalan.

Infeksi gigi pada anak-anak juga tidak selalu harus dicabut. "Tergantung pada infeksinya dan kebersihan mulutnya. Jika infeksinya sudah luas dan tidak bisa ditolong maka harus dicabut," kata drg Eky Soeria Soemantri, Sp Ortho (K), Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.

Ia menjelaskan, pencabutan gigi pada anak bisa membuat gigi yang tumbuh berikutnya tidak rata. "Hal ini bisa dicegah dengan penggunaan alat khusus untuk menjaga pergerakan gigi," ujarnya.

Untuk mencegah infeksi gigi, ia mengingatkan pentingnya kebersihan gigi dengan cara menyikatnya secara saksama dua kali sehari dan kontrol teratur ke dokter gigi. "Infeksi gigi bisa mengganggu tumbuh kembang anak karena sebagian tenaganya dipakai untuk melawan infeksi itu. Penyerapan nutrisinya juga bisa terganggu jika giginya sakit," paparnya.


Lihat gigi yg lebih 'menarik' di sini !

Selasa, 24 Mei 2011

Membersihkan Gigi dan Mulut Balita


Usia Berapakah Balita Mulai Dibersihkan Gigi dan Mulutnya?

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sering muncul dan jawaban dari pertanyaan itu adalah bersihkanlah segera setelah gigi pertama muncul di dalam mulut.

Gigi susu yang sudah mulai tumbuh dibersihkan dengan sikat gigi bayi. Saat ini telah banyak tersedia sikat gigi latihan (training tooth brush) untuk bayi atau batita dengan harga terjangkau.

Sikat gigi ini ada 3 bentuk, bentuk pertama ujungnya terbuat dari karet, bulat memanjang dengan gerigi yang tumpul untuk melatih anak supaya terbiasa dengan pembersihan gigi. Karena terbuat dari karet yang lembut, tidak apa-apa apabila kemudian sikat itu digigit-gigit atau dihisap oleh bayi asal orang tua yakin sudah bersih.

Tahap dua bentuknya lebih menyerupai sikat gigi biasa namun masih terbuat dari karet. Tahap 3 berupa sikat gigi biasa dengan ukuran kecil dan bulu yang lembut. Apabila gigi bayi sudah terbiasa dibersihkan, pengenalan sikat gigi biasa ini pada anak saat giginya sudah tumbuh sempurna, tidaklah terlalu sulit lagi.


Ada juga bulu sikat gigi yang tempatnya dapat di masukkan ke dalam telunjuk tangan orang tua, sehingga tekanan bulu sikat dapat lebih dirasakan orang tua untuk mendapatkan efek pembersihan maksimal, namun tidak menimbulkan rasa sakit pada anak.

Lakukan pembersihan gigi setiap hari saat anak segar, tidak rewel, dan mengantuk dengan teliti namun tidak terlalu lama supaya bayi tidak menjadi bosan. Untuk batita (anak di bawah usia 3 tahun) tidak usah memakai ritual kumur atau pasta gigi.

Yang paling mudah bagi mereka adalah minum air putih sebelum dan sesudah pembersihan gigi. Jadikan hal ini menjadi kebiasaan rutin setidaknya dua kali sehari. Pada usia 3 tahun ke atas, anak bisa mulai diajarkan berkumur tapi tetap dengan air matang.
 
Jangan berpikir untuk memberikan pasta gigi sampai anak sudah bisa membuang air kumurnya dengan baik dan itu butuh proses serta latihan.

Referensi
Kiat Merawat Gigi Anak, Oleh Drg. CHAERITA MAULANI

Kirim Artikel anda yg lebih menarik di sini !

Sabtu, 31 Maret 2007

Pentingnya Perawatan Gigi Pada (Calon) Ibu Hamil

Anda berencana segera hamil dalam waktu dekat? Hmmm, sebaiknya cek ke dokter gigi, apakah semuanya baik-baik saja. Jika ada gangguan, biar dapat segera tertangani dan tak menjadi ganjalan pada masa kehamilan.

Pasalnya, ibu hamil yang mengalami sakit gigi kronis atau berat berisiko untuk melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) karena pertumbuhannya terganggu, demikian menurut Heather Jaret, dari University of North Carolina di Chapel Hill, Amerika Serikat dalam presentasinya di Asosiasi Internasional untuk penelitian gigi. Sementara Dr. Steven Offenbacher, Direktur Center of Oral and Systemic Diseases di Universitas yang sama menjelaskan bahwa risiko tersebut sama kuatnya dengan risiko akibat merokok atau pemakaian alkohol.

Para ahli mencari hubungan antara penyaki di gusi dengan bayi beral lahir rendah, dengan melihat kejadian selama 5-6 tahun belakangan. Penelitian dilakukan dengan memeriksa kesehatan gigi dan mulut pada 850 wanita hamil, dengan usia dua puluh tahunan, sebelum usia kehamilan 26 minggu. Setelah itu diperiksa kembali dalam waktu 48 jam setelah persalinan.

Penelitian ini juga memperhitungkan kontrol dan berbagai risiko, seperti umur, status merokoknya serta persalinan dini yang pernah dialami sebelumnya.

Penelitian itu menemukan bahwa peningkatan risiko dari bayi berat lahir rendah dan hambatan pertumbuhan janin terlihat kurang jika gangguan di gigi dan gusi memang ringan. Risiko itu menjadi signifikan jika penyakit giginya lebih berat.

Hubungan langsung antara penyakit gusi dan gigi mempengaruhi bayi memang belum diketahui dengan jelas, namun diperkirakan hal ini berhubungan dengan adanya respons terhadap bengkaknya gusi. Juga belum ada penelitian untuk membuktikan bahwa perawatan penyakit pada gusi dapat mengurangi efek negatif pada janin. Sekalipun begitu, dengan penelitian ini sebaiknya kita lebih memperhatikan kesehatan mulut dan gigi selama kehamilan berlangsung.

Nah, jangan sepelekan keluhan gigi, sekalipun ’hanya’ gigi yang terasa nyeri atau berlubang...