Tampilkan postingan dengan label HIV / AIDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIV / AIDS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Desember 2010

Benarkah AIDS Penyakit Baru yang Mematikan?

Tidak satupun dari 29 gejala AIDS adalah baru, tidak satupun muncul secara eksklusif pada seseorang yang ditest positif akan antibodi HIV, dan semuanya memiliki dokumentasi yang memperlihatkan penyebab dan perawatan yang tidak berhubungan dengan HIV. Sebelum adanya kategori AIDS ciptaan CDC, 29 penyakit lama ini tidak pernah diajarkan memiliki satu jenis penyakit sebagai penyebab semuanya
.
Berlawanan dengan pandangan umum, AIDS tidaklah baru dan juga bukan suatu penyakit. AIDS adalah nama baru yang diberikan oleh Centers for Disease Control (CDC) terhadap kumpulan 29 penyakit umum termasuk infeksi jamur, herpes, diare, beberapa jenis pneumonia, beberapa kanker, salmonella, dan TBC. (1) Penyakit-penyakit ini disebut dengan AIDS hanya pada saat mereka muncul pada seseorang yang juga memiliki protein dan antibodi pelindung yang “diduga” sebagai HIV.
Seseorang didiagnosis mengidap AIDS jika mereka memiliki satu atau lebih dari 29 gejala resmi AIDS dan jika mereka juga mendapat hasil test positif untuk antibodi yang berhubungan dengan HIV. Lain kata, pneumonia pada seseorang yang ditest positif HIV akan disebut sebagai AIDS, sementara pneumonia yang sama pada seseorang yang ditest negative HIV akan tetap disebut sebagai pneumonia. Gejala-gejala dan manifestasi dari kedua pneumonia tadi bisa mirip, tapi pada seseorang akan disebut sebagai AIDS sedangkan yang lainnya tetap disebut pneumonia.
Tidak satupun dari 29 gejala AIDS adalah baru, tidak satupun muncul secara eksklusif pada seseorang yang ditest positif akan antibodi HIV, dan semuanya memiliki dokumentasi yang memperlihatkan penyebab dan perawatan yang tidak berhubungan dengan HIV. Sebelum adanya kategori AIDS ciptaan CDC, 29 penyakit lama ini tidak pernah diajarkan memiliki satu jenis penyakit sebagai penyebab semuanya.
Walaupun kebanyakan dari kita mengasosiasikan AIDS dengan berbagai penyakit berat, pada tanggal 1 Januari 1993, CDC menambah definisi AIDS yang meliputi orang dengan jumlah sel T 200 atau kurang walaupun tanpa gejala atau penyakit. (2) Definisi baru ini menyebabkan jumlah kasus AIDS di Amerika naik dua kali lipat tiap harinya. (3) Sejak tahun 1993, lebih dari separuh semua kasus-kasus AIDS yang baru tiap tahunnya ada di antara orang-orang yang tidak memiliki gejala atau penyakit klinis. (4)
Hanya oleh karena penyebarluasan definisi AIDS-lah yang mengakibatkan jumlah kasus-kasus baru AIDS jadi meningkat. Definisi AIDS di Amerika telah ditambahkan tiga kali sejak 1981. Walaupun tiap penambahan definisi telah mengakibatkan peningkatan besar pada kasus-kasus AIDS baru, statistik AIDS tetap mendatar pada group beresiko di tahun 1992 dan telah berkurang dengan pasti sejak caturwulan kedua tahun 1993.
Jika CDC tetap melanjutkan tiga definisi pertama mengenai AIDS, kasus-kasus baru penderita AIDS di Amerika pada tahun 1997 akan menjadi lebih dari 10.000, membuat AIDS menjadi masalah kesehatan yang tidak begitu penting. Dengan menggunakan definisi tahun 1993, 21.000 kasus baru AIDS bertambah dan lebih dari 20.000 kasus ini terdapat pada orang-orang tanpa gejala maupun penyakit. (5)
Di tahun 1998, CDC berhenti memberikan informasi mengenai penyakit dan definisi AIDS sebagai pedoman diagnosis siapakah yang terjangkit AIDS. Ini berarti publik tidak lagi mengetahui dengan pasti berapakah kasus baru AIDS terdapat pada orang-orang yang tidak sakit sama sekali. (6)
Fakta mengejutkan lainnya adalah Anda bisa menerima diagnosis AIDS bahkan tanpa test HIV. Ini disebut sebagai “diagnosis presumtif”. Berdasarkan dokumentasi CDC, lebih dari 62.000 kasus AIDS di Amerika telah didiagnosis tanpa test HIV. (7) Namun tetap saja satu-satunya perbedaan antara pneumonia dengan AIDS adalah hasil test positif HIV dan test itu sendiri tidak diperlukan untuk mendiagnosis AIDS.
Oleh karena AIDS bukanlah suatu penyakit dan tidak satupun definisi AIDS yang diterima secara universal, maka kondisi atau gejala yang disebut AIDS itupun berbeda-beda dari satu negara ke negara lainnya. Misal, di laboratorium Kanada (LCDC) tidak memakai pedoman criteria jumlah sel T dari Amerika.(8) Ini berarti bahwa 182.200 pasien AIDS Amerika (lebih dari 25% penduduk Amerika terdiagnosis AIDS) tidak akan terdiagnosis AIDS jika mereka di Kanada. (9)
WHO menerapkan 2 definisi AIDS yang berbeda di Afrika, dimana tak satupun dari definisi tersebut sama dengan kriteria di Amerika maupun di Kanada. Definisi diagnostik yang sering digunakan di Afrika tidak memerlukan test HIV jika seorang pasien memiliki setidaknya salah satu dari tiga gejala utama (berat badan turun, demam dan atau batuk), ditambah satu “tanda kecil” seperti misalnya gatal-gatal atau pembengkakan kelenjar. (10)
Sebelum memperkenalkan AIDS, CDC pernah menyerukan pengumuman kepada masyarakat mengenai masalah kesehatan lain yang sebenarnya tidak penting. Di tahun 1976, ketika ada 5 prajurit yang bertugas di markas New Jersey terjangkit flu, pejabat CDC menyerukan kepada masyarakat akan adanya wabah flu yang akan segera terjadi. Berita mereka memprediksi bahwa akan ada wabah yang sanggup mematikan 500.000 orang Amerika dalam setahun. Anggota Kongres kemudian menanggapi peringatan CDC dengan cara mengalihkan jutaan dolar uang pemerintah ke program vaksin darurat dan dengan seruan Presiden Amerika, Gerald Ford, banyak penduduk Amerika menerima vaksin Flu Babi. Namun demikian, wabah yang ditakutkan tidak pernah terjadi begitu juga dengan prediksi Virus Babi yang mematikan. Malahan, lebih dari 600 orang menjadi lumpuh oleh karena vaksin yang juga mengakibatkan hampir 100 orang meninggal. (11)
CDC sekali lagi menyerukan peringatan ke publik tahun berikutnya dengan prediksi mengerikan akan Penyakit Legionnaire. Diikuti banyak usaha penelitian dari pemerintah dan tak henti-hentinya berita-berita dari media massa mengenai wabah baru, ternyata pneumonia biasa yang disebut “Legionnaire” hanya menyebabkan kematian 30 orang diseluruh Amerika. Kemudian diketahui bahwa 20 sampai 30 persen orang Amerika positif terhadap bakteri Legionella, mikroba yang umum terdapat di sistem perairan Amerika. (12) Prediksi CDC akan wabah, berlawanan dengan fakta bahwa semua penyakit infeksi yang ada jika digabung ternyata hanya menyebabkan kematian pada 1% orang Amerika. (13)
.
Sumber: Alive & Well




Referensi: http://aliveandwell.org/html/rethinking/rethinkingaids.html
1. In the United States, AIDS = 28 old illnesses and one non-illness:
1983 original AIDS definition (12 illnesses): Pneumocystis carinii pneumonia, Kaposi’s sarcoma, toxoplasmosis, strongyloidosis, aspergillosis, cryptococcosis, candidiasis, cryptosporidiosis, cytomegalovirus, herpes simplex, progressive multifocal leukoencephalopathy, lymphoma of the brain
1985 revised definition (seven more old illnesses added): Mycobacterium avium complex, histoplasmosis, isosporiasis, Burkitt’s lymphoma, immunoblastic lymphoma, candidiasis of the bronchi, trachea and lungs, and a positive HIV antibody test.
1987 revised definition (six additional illnesses): Encephalopathy, Mycobacterium tuberculosis, wasting syndrome, coccidioidomycosis, cytomegalovirus retinitis, Salmonella septicemia. HIV antibody test no longer required.
1993 revised definition (three more illnesses plus one surrogate marker): Recurrent bacterial pneumonia, invasive cervical cancer, pulmonary tuberculosis, T Cell count of <200 or <14% of total lymphocytes (non-illness). Source: Duesberg P, Yiamouyannis J, 1995 AIDS: The Good News Is HIV Doesn’t Cause It Health Action Press 2. US Centers for Disease Control 1994 HIV/AIDS Surveillance Report Year-end edition 1993 3. Navarro M AIDS Definition Widened to Include Blood Cell Count August 8 1993 New York Times; Altman L AIDS Cases Increase Among Heterosexuals March 11 1994 New York Times 4. US Centers for Disease Control HIV/AIDS Surveillance Report Year-end editions 1998, 1997, 1996, 1995, 1994, 1993 5. US Centers for Disease Control 1998 HIV/AIDS Surveillance Report Year-end edition 1997 Table11 p17 6. US Centers for Disease Control 1999 HIV/AIDS Surveillance Report Year-end edition 1998 p43 7. Duesberg P 1993 The HIV Gap in National Statistics Bio/Technology 11:955-6 8. Laboratory Centre for Disease Control, Health Canada, 1998 HIV and AIDS in Canada: Surveillance Report to December 31, 1997; US Centers for Disease Control 1999 HIV/AIDS Surveillance Report Year-end 1998 9. US Centers for Disease Control 1998 HIV/AIDS Surveillance Report Year-end edition 1997 Figure 6 p25; US Centers for Disease Control 1999 HIV/AIDS Surveillance Report Year-end edition 1998 10. World Health Organization 1985 Bangui definition for AIDS in Africa (current use confirmed by WHO April 1999); WHO case definitions for AIDS surveillance in adults and adolescents, Weekly Epidemiological Record September 1994; 69:273-80 (current use confirmed by WHO April 1999) 11. Duesberg P 1996 Inventing the AIDS Virus: Regnery Press, Washington DC p141-145 12. Duesberg P 1996 Inventing the AIDS Virus: Regnery Press, Washington DC p54-58 13. Carins J 1978 Cancer: Science and Society WH Freeman and Company, San Francisco

Sabtu, 18 Desember 2010

Test Untuk AIDS : ELISA dan Western Blot, Ternyata Tidak Akurat

Test ELISA dan Western Blot yang pada umumnya dipakai untuk mendiagnosa infeksi HIV hanya bisa mendeteksi interaksi antara protein dan antibodi yang diperkirakan berhubungan dengan HIV. Keduanya tidak bisa mendeteksi HIV itu sendiri. Dan bertentangan dengan pandangan umum, test “viral load” yang lebih baru tidak bisa mengukur tingkat aktual virus dalam darah.

Semua test antibodi HIV sangat tidak akurat. Satu alasan bagi ketidakakuratan tersebut adalah berbagai jenis virus, bakteri, dan antigen lainnya dapat menyebabkan sistem imun untuk membuat antibodi yang juga bereaksi sama dengan HIV. Ketika antibodi dihasilkan sebagai respon atas reaksi infeksi dari bakteri dan virus ini, serta antigen-antigen yang ada kemudian dihubung-hubungkan dengan protein HIV, maka akan keluar hasil yang positif.

Banyak antibodi yang ditemukan di dalam tubuh orang-orang sehat dan normal dapat menyebabkan hasil yang positif pada test antibodi HIV. Produksi antibodi dalam tubuh manusia yang terjadi karena infeksi virus bisa tetap ada dalam tubuh selama bertahun-tahun walaupun sistem imun telah mengalahkan virus tersebut, dan bahkan bisa untuk seumur hidup antibodi tersebut tetap ada. Dengan demikian, orang-orang sehat yang tidak pernah terjangkit HIV bisa memiliki hasil test HIV yang positif secara konsisten selama bertahun-tahun atau bahkan untuk seumur hidup mereka.

Suatu tes antibodi baru bisa disebut akurat yaitu dengan cara membuktikan bahwa hasil positif benar-benar telah ditemukan dalam tubuh orang yang benar-benar memiliki virus tersebut. Standar seperti ini untuk menentukan keakuratan test, tidak pernah ditetapkan di tahun 1984, yaitu masa dimana test antibodi HIV pertama kali diciptakan. Bahkan sampai sekarang ini, hasil positif ELISA baru bisa disahkan oleh test antibodi kedua yang juga tidak akurat, yaitu test HIV Western Blot .

Oleh karena keakuratan test antibodi HIV tidak penah ditetapkan, adalah mustahil untuk mengklaim bahwa suatu hasil test yang positif itu mengindikasikan adanya infeksi HIV yang aktif pada saat itu atau bahkan menunjukkan adanya infeksi itu sendiri. Dalam suatu studi yang menginvestigasi hasil positif dari test Western Blot, menemukan bahwa 80 orang dengan 2 kali positif pada test ELISA yang telah disahkan positif juga oleh Western Blot, ternyata kemudian menjadi negatif pada saat test Western Blot yang berikutnya.

Antibodi yang dihasilkan sebagai respon tubuh terhadap infeksi sederhana seperti misalnya demam atau flu, bisa menimbulkan reaksi positif pada sebuah test antibodi HIV. Suntikan vaksin flu dan imunisasi lainnya juga bisa menciptakan hasil yang positif pada test HIV ELISA dan Western Blot.

Orang yang sedang atau pernah terjangkit herpes atau hepatitis juga bisa mendapat hasil test yang positif, sama juga dengan vaksinasi untuk hepatitis B. Terjangkit mikroba yang menyebabkan tuberkolosis dan malaria pada umumnya akan menyebabkan hasil test yang positif begitu juga jika terkena cacing pita dan parasit lainnya. Kondisi seperti alkoholisme atau penyakit liver dan juga darah yang tercemar dengan obat-obatan dapat memproduksi antibodi yang bereaksi pada test antibodi HIV.

Kehamilan juga bisa menimbulkan respon yang positif. Antibodi yang diproduksi tubuh sebagai reaksi perlawanan terhadap infeksi mycobacterium dan ragi yang terdapat pada 90% pasien AIDS, menimbulkan hasil test HIV positif yang salah . Di satu studi, 13% orang Indian Amazon yang tidak memiliki AIDS dan juga tidak pernah ada kontak dengan orang luar selain suku mereka sendiri ternyata juga bisa mendapatkan hasil test HIV positif. Di laporan lainnya, 50% sampel darah dari anjing-anjing yang sehat juga bereaksi positif pada test antibodi HIV.

Sebelum ada pernyataan bahwa HIV menyebabkan AIDS, antibodi viral merupakan hal yang normal sebagai respon sehat terhadap infeksi dan merupakan indikasi atas sistem kekebalan tubuh. Bukan hanya antibodi saja, test ini juga dipakai untuk mendiagnosa atau memprediksi penyakit. Sebelum HIV, hanya test ELISA dan Western Blot yang telah digunakan untuk mendiagnosa infeksi viral. Tidak ada bukti ilmiah yang kredibel yang menyarankan bahwa fakta-fakta ini bisa dipakai untuk mengakomodasi HIV.

Selain tidak akurat, test antibodi HIV juga tidak terstandarisasi. Ini artinya tidak ada kriteria nasional maupun internasional untuk menentukan hasil yang postif. Standar juga bervariasi antara lab satu dengan yang lainnya dalam satu negara atau daerah, dan bahkan bisa berbeda dari hari ke hari di lab yang sama. Pembuat alat-alat test HIV mengakui, “Saat ini belum diketahui standar untuk menentukan ada atau tidak adanya antibodi terhadap HIV-1 dan HIV-2 dalam tubuh manusia.”

Tabel berikut mengilustrasikan beberapa variasi kriteria dari apa yang dianggap positif HIV di Western Blot dan juga menunjukkan bagaimana seseorang bisa berpindah status dari positif ke negatif jika dia pindah daerah. Standar yang berbeda-beda tidak hanya dibatasi pada lokasi saja, criteria juga bervariasi antara lab satu dengan lainnya dan hasil yang ada terbuka terhadap berbagai interpretasi. Test yang belum disimpulkan bisa menjadi positif atau negatif tergantung dari kehidupan seksual seseorang, sejarah kesehatan, kode pos atau data survey lainnya dari seseorang yang ditest.

Variasi penggunaan protein pada test HIV Western Blot diatur dalam kelompok-kelompok yang terbagi menjadi tiga bagian. Ketiga bagian ini diwakili dengan singkatan ENV, POL dan GAG. Protein pada bagian ENV berkorespondensi dengan membran luar atau “pembungkus” dari suatu virus; POL menunjuk kepada protein yang biasa ada pada retrovirus termasuk polymerase dan enzim-enzim lainnya; GAG mewakili “grup antigen spesifik” dan termasuk protein-protein yang membentuk bagian dalam suatu virus. Kelompok-kelompok protein di tiap bagian ditandai oleh huruf “p” dan diikuti dengan angka yang menunjukkan berat molekular protein tersebut dalam ukuran dalton. Misal, p160 adalah protein ENV yang beratnya adalah 160 dalton.

Adalah penting untuk memperhatikan bahwa tak satupun dari protein yang digunakan dalam test antibodi HIV adalah pasti HIV dan tak satupun dari antigen yang dikatakan spesifik HIV hanya ditemukan di seseorang yang positif HIV. Pada kenyataannya, banyak orang yang didiagnosa positif HIV tidak memiliki “antigen HIV” ini dalam darah mereka.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, test “viral load” HIV tidak bisa mengisolasi atau mengukur virus aktualnya. Pembuat test ini dengan jelas mengatakan bahwa viral load “tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai test penyaring bagi HIV atau juga sebagai test diagnosa yang mengkonfirmasi adanya infeksi HIV pada saat itu”. Bahkan kenyataannya, test viral load tidak pernah diberikan persetujuan oleh FDA untuk dipakai sebagai alat diagnosa dan tidak pernah terbukti adanya isolasi virus. Tentu saja masalah terbesar dari semua test HIV adalah HIV tidak pernah bisa didemonstrasikan secara aktual sebagai penyebab AIDS.

.

Keterangan

Antigen: Suatu subtansi yang dapat memicu reaksi daya tahan tubuh, menyebabkan tubuh memproduksi antibodi sebagai bagian dari sistem pertahanan tubuh melawan infeksi dan penyakit. Banyak antigen merupakan protein asing (antigen yang tidak ditemukan alami dalam tubuh), seperti misalnya mikroorganisme, racun, dan jaringan sel yang berasal dari transplantasi organ. Kepanjangan dari antigen adalah ANTIbodi GENerating.

Hasil Positif yang Salah: Mengindikasikan bahwa infeksi sebenarnya tidak pernah ada.

.

Haruskah Anda Mempertaruhkan Hidup Anda pada Test HIV?

“Satu-satunya cara untuk membedakan antara reaksi nyata dan reaksi yang dihubung-hubungkan adalah dengan cara pengisolasian HIV. Semua klaim atas isolasi HIV adalah didasarkan pada suatu set fenomena yang terdeteksi pada jaringan contoh. Tak satupun diantaranya benar-benar terisolasi dan tak satupun benar-benar terspesifikasi sebagai retrovirus… Kita tidak mengetahui berapa banyak hasil test positif terjadi ketika sebenarnya infeksi HIV tidak ada. Spesifikasi untuk test antibodi HIV sebenarnya tidak ada.”

Bio/Technology Journal, 11:696-707, 1993

“Test antibodi HIV tidak mendeteksi suatu virus. Ini hanya sebagai test terhadap antibodi yang bereaksi terhadap bermacam-macam protein yang para ahli katakan sebagai HIV. Faktanya adalah, suatu test antibodi, bahkan jika diulang-ulang dan ditemukan positif seribu kali, tidak bisa membuktikan keberadaan infeksi virus itu sendiri.”

Val Turner, MD, Continuum magazine, Vol 3 No 5, 1996

“Test HIV benar-benar tidak bisa dipercaya di Africa. Suatu studi tahun 1994 yang dipublikasikan dalam the Journal of Infectious Diseases menyimpulkan bahwa test HIV benar-benar tidak berguna di Afrika Pusat karena dimana mikroba penyebab TBC, malaria, dan lepra yang biasa terjadi di Afrika ternyata juga memiliki hasil positif yang salah lebih dari 70%.

Sacramento Bee, October 30, 1994

“Dengan pejabat kesehatan publik dan para politikus yang terus mendesak pengetesan HIV pada masyarakat, keakuratan test itu sendiri hampir-hampir tidak dipedulikan. Suatu studi bulan lalu yang dilakukan oleh Congress’ Office of Technology Assessment menemukan bahwa test HIV bisa sangat tidak akurat. Bagi grup beresiko rendah, yaitu orang-orang bukan pengguna narkoba atau gay atau biseks, 9 dari 10 yang didapati positif adalah hasil positif yang salah, ini mengindikasikan bahwa infeksi itu sendiri sebenarnya tidak pernah ada.”

US News & World Report, November 23, 1987

“Orang-orang yang menerima suntikan gamma globulin untuk cacar air, campak, dan hepatitis bisa memperoleh hasil positif pada test HIV walaupun mereka tidak pernah terinfeksi. FDA mengatakan bahwa hasil test yang positif bisa diakibatkan oleh antibodi yang ditemukan dikebanyakan suplai orang Amerika akan gamma globulin. Gamma globulin terbuat dari darah yang terkumpul dari ribuan pendonor dan secara rutin diberikan kepada jutaan orang tiap tahunnya sebagai perlindungan sementara untuk melawan beberapa penyakit infeksi. Dr. Thomas Zuck dari Divisi Blood and Blood Products –nya FDA berkata bahwa pemerintah tidak mengeluarkan informasi ini karena ‘kami pikir ini bisa berbahaya jika kami mengungkapkannya.’”

USA Today, October 2, 1987

“Dua minggu yang lalu, seorang anak berusia 3 tahun di Winston Salem, North Carolina, tertabrak sebuah mobil dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Karena tengkorak anak tersebut retak dan darahnya keluar, pihak rumah sakit mengadakan test HIV. Ketika sang Ibu yang masih trauma itu duduk disamping sang anak, sang dokter masuk dan mengatakan padanya bahwa sang anak positif HIV. Kedua orang tua ditest negatif. Sang dokter memberitahukan sang ibu bahwa dia perlu melakukan investigasi ke semua anggota keluarga dan teman-temannya karena sang anak dianggap telah mendapatkan pelecehan seksual. Dokter beranggapan tidak mungkin ada kemungkinan selain pelecehan seksual sebagai penyebab hasil test HIV yang positif. Beberapa hari kemudian sang ibu menuntut untuk diadakan test kedua. Hasilnya adalah negatif. Pihak rumah sakit kemudian mengadakan konferensi press. Dalam usahanya untuk menjaga nama baik rumah sakit, jurubicara rumah sakit mengutarakan bahwa ‘test HIV ini tidak bisa dipercaya; banyak faktor dapat memiringkan hasilnya, seperti misalnya demam atau kehamilan. Semua orang tahu itu.’”

Celia Farber, Impression Magazine, June 21, 1999

“Seorang wanita dari Vancouver menuntut Rumah Sakit St. Paul dan beberapa dokter karena dia didiagnosa sebagai pembawa virus AIDS, padahal tidak. Di Catatan Pengadilan BC Supreme, Lisa Lebed mengkisahkan, pada saat dia diterima oleh rumah sakit di akhir tahun 1995 untuk melahirkan bayi perempuan, contoh darah telah diambil darinya tanpa pemberitahuan. Hasil test darah memperlihatkan bahwa dia positif HIV, jadi dia memberikan bayinya untuk diadopsi dan memutuskan untuk mendapatkan ligasi tubal. Satu setengah tahun kemudian, ketika sedang mendapatkan perawatan AIDS, dia mendapatkan dirinya negatif untuk test HIV. Penjelasan yang pernah dia dapatkan dari lab ternyata adalah salah. Dia pun berkata oleh karena kelalaian rumah sakit, dia sekarang jadi steril dan telah kehilangan seorang anak perempuan.”

Woman Sues St. Paul’s, CKNW Radio 98, June 10, 1999

.

Referensi: http://aliveandwell.org/html/questioning/questioningthetests.html

.

HIV Bukan Penyebab AIDS?

Konsep bahwa AIDS disebabkan oleh suatu virus bukanlah suatu fakta, tapi suatu keyakinan yang diperkenalkan di konferensi pers tahun 1984 oleh Dr. Robert Gallo, peneliti di National Institutes of Health (NIH). (14)

HIV adalah suatu retrovirus, tipe virus yang dulunya telah dengan serius diteliti selama 2 dekade oleh program kesehatan pemerintah yang berfokus pada virus penyebab kanker. Pandangan akan kanker yang menular dulu populer di era 60-an dan 70-an. Oleh karena retrovirus tidak memiliki mekanisme pembasmi sel, dan kanker merupakan suatu kondisi yang memperlihatkan pertumbuhan sel tidak teratur, tipe virus seperti ini dulunya dianggap sebagai calon penyebab kanker. Namun demikian, orang-orang sehat hidup harmonis dengan tak terhitungnya retrovirus; beberapa ada oleh karena terinfeksi dan sebagian memang sudah ada dari dalam tubuh, diproduksi oleh DNA kita sendiri. (15) Sangat sedikit retrovirus, jika memang ada, yang terbukti menyebabkan penyakit pada manusia.
Di era 80-an ketika CDC, mulai menarik perhatiannya ke AIDS, Gallo dan para peneliti kanker lainnya beralih fokus dari kanker ke dilemma baru yang disebut AIDS, dan para ilmuwan pemerintah yang sama-sama memimpin pencarian virus kanker juga mulai mencari suatu virus yang mungkin jadi penyebab AIDS.
Di 23 April 1984, Gallo mengadakan konferensi pers internasional dengan US Department of Health and Human Services (HHS). Dia memakai forum ini untuk mengumumkan penemuan dia akan suatu retrovirus baru sebagai “penyebab mungkin dari AIDS”. Walaupun Gallo tidak memberikan bukti apapun untuk mendukung asumsi sementara dia, HHS langsung menyatakannya sebagai “keajaiban medis Amerika lainnya… kemenangan ilmu pengetahuan terhadap penyakit mematikan” (16)
Kemudian di hari yang sama, Gallo mempatenkan test antibodi yang sekarang dikenal sebagai “test AIDS”. Keesokan harinya, New York Times mengubah proposal Gallo menjadi suatu kepastian melalui berita halaman muka “Virus Penyebab AIDS”, dan semua pendanaan untuk menyelidiki kemungkinan lain penyebab AIDS langsung dihentikan. (17)
Dengan mengumumkan hipotesisnya kepada media tanpa data yang mencukupi, Gallo telah melanggar aturan fundamental dari proses ilmu pengetahuan. Peneliti pertama-tama harus mempublikasikan bukti untuk suatu hipotesis pada salah satu jurnal ilmu pengetahuan atau kedokteran, serta mendokumentasikan penelitiannya yang ia pakai sebagai dasarnya. Kemudian para ahli akan memeriksa dan mendebat hipotesisnya, serta mencoba menduplikasikan percobaan yang sama dari aslinya, untuk mengkonfirmasi hasil temuan asli. Semua hipotesis baru harus mampu bertahan terhadap penelitian cermat dari para ahli lainnya dan harus sukses diverifikasi melalui percobaan-percobaan sebelum ia dianggap sebagai teori yang benar.
Dalam kasus HIV, Gallo mengumumkan hipotesis yang tidak terkorfirmasi kepada media sebagai suatu fakta yang sudah pasti benar, menyebabkan para pejabat pemerintah mengeluarkan kebijakan kesehatan publik baru berdasarkan pada pernyataan akan virus AIDS yang belum dibuktikan kebenarannya. Beberapa pihak akhirnya membawa hipotesis yang belum terbukti kebenarannya ini menjadi suatu teror akan wabah besar yang mematikan.
Data yang digunakan Gallo untuk membangun hipotesis HIV/AIDS-nya dipublikasikan beberapa hari sesudah pengumumannya. Ketimbang mendukung hipotesis dia, data tersebut memperlihatkan bahwa Gallo tidak sanggup menemukan HIV (secara aktual) pada lebih dari setengah pasien AIDS dalam penelitiannya. (18) Sementara ia sanggup mendeteksi adanya antibodi pada kebanyakan dari mereka, keberadaan antibodi itu sendiri bukanlah indikasi dari infeksi yang baru saja terjadi dan malah sebagai bukti akan adanya reaksi kekebalan terhadap suatu infeksi.
Data yang dia sediakan juga gagal untuk menyediakan penjelasan yang bisa dipercaya akan hal bagaimana retrovirus bisa menyebabkan AIDS. Gallo menyatakan bahwa HIV beraksi dengan menghancurkan sel-sel imun, tapi penelitian selama 70 tahun telah menunjukkan bahwa retrovirus tidak bisa membunuh sel. Dia juga tidak bisa memberikan bukti bahwa HIV berbeda dari retrovirus lainnya yang sebenarnya tidak membahayakan. Pada kenyataannya, semua bukti yang ada sekarang ini malah membuktikan bahwa HIV, sama seperti semua retrovirus lainnya, tidaklah membunuh sel (cytotoxic).


Fokus pertanyaan mengenai HIV dengan segera beralih dari bagaimana ia bisa menyebabkan AIDS ke pertanyaan siapa yang menemukan komoditas viral berharga ini setelah Dr. Luc Montagnier dari Pasteur Institute di Perancis menuduh Gallo telah mencuri sampel HIV miliknya. Investigasi kongresional menetapkan Gallo telah mempresentasikan data yang curang pada data aslinya mengenai HIV, dan virus yang dia klaim sebagai temuannya sebenarnya merupakan kiriman dari Montagnier. (19) Negosiasi diadakan diantara pemerintah Perancis dan Amerika untuk menetapkan temuan dan hak paten. (20) Ini berakhir dengan suatu kompromi, dimana Montagnier dan Gallo berbagi kredit sebagai 2 penemu HIV dan memegang hak paten atas test HIV. Montagnier sendiri pernah menyatakan kalau dia tidak percaya bahwa HIV sendiri bisa menyebabkan AIDS. (21)
Sejak 1984, lebih dari 100.000 data mengenai HIV telah dipublikasikan. Tak satupun dari data-data ini, tunggal maupun kolektif, sanggup mendemonstrasikan atau membuktikan dengan efektif bahwa HIV penyebab AIDS. Walaupun Gallo mengklaim bahwa HIV penyebab AIDS dengan cara menghancurkan sel T dari sistem imun, penelitian kanker selama 20 tahun telah mengkonfirmasikan bahwa retrovirus tidak bisa membunuh sel. Pada kenyataannya, tetap tidak ada bukti dalam literatur ilimiah yang mendemonstrasikan bahwa HIV sanggup menghancurkan sel T, baik langsung maupun tidak langsung.
Membandingkan HIV dengan Varicella Zoster Virus (VZV), yaitu virus penyebab cacar air, akan membantu kita melihat hipotesis HIV benar-benar melanggar aturan ilmiah dan logika.

HIV adalah satu-satunya virus yang dikatakan menyebabkan kumpulan penyakit dari berbagai virus dan bakteri lainnya ketimbang sebagai virus yang memiliki penyakit sendiri. Para ahli AIDS juga berkata bahwa HIV bisa menyebabkan berkurangnya sel imun bersamaan dengan menyebabkan berkembangnya sel kanker.
Walaupun uang untuk penelitian telah dihabiskan lebih banyak lagi untuk HIV dibandingkan dengan total virus lainnya sepanjang sejarah medis, tidak satupun ada bukti ilmiah yang memvalidasi hipotesis bahwa HIV adalah penyebab AIDS, atau bahwa AIDS memiliki penyebab viral. Suatu hipotesis yang baik terlihat dari kemampuannya dalam menuntaskan masalah dan misteri, membuat prediksi akurat dan menghasilkan output yang baik. Hipotesis HIV telah gagal untuk memenuhi semua kriteria ini.
Ratusan ilmuwan diseluruh dunia sekarang telah mempertanyakan kembali hipotesis HIV. Untuk informasi lebih lanjut mengenai usaha mereka, bisa Anda dapatkan di web Professor Peter Duesberg.
.
Apakah Rating Kasus HIV Meningkat?
Rating kasus HIV tidaklah meningkat. Berdasarkan perkiraan CDC terkini, jumlah orang Amerika yang positif HIV tidak naik sejak test HIV pertama kali diperkenalkan ke publik di tahun 1985.
Di tahun 1986, CDC mulai memperlihatkan perkiraan bahwa 1 sampai 1,5 juta orang Amerika telah positif HIV. (33) Media dan organisasi-organisasi AIDS membuat klaim yang meresahkan dari perkiraan tersebut , yaitu satu dari tiap 250 orang di Amerika terinfeksi HIV. Empat tahun kemudian, perkiraan resmi diturunkan menjadi 800.000 dan 1,2 juta, serta di tahun 1995, mengikuti investigasi yang dilakukan oleh NBC Nightly News, CDC sekali lagi menurunkan perkiraan resminya di antara 650.000 dan 900.000, yang sampai saat ini masih diikuti. (33, 34)
Sementara jumlah positif HIV gagal untuk naik, adalah penting untuk memperhatikan bahwa rating penyakit menular seksual seperti misalnya chlamydia, genital herpes, gonorrhea dan syphilis telah naik melebihi kasus AIDS. Angka-angka ini kontradiksi dengan pernyataan bahwa “seks aman” telah mencegah HIV meluas.






Apakah HIV Butuh Bertahun-tahun untuk Menjadi AIDS?
Untuk lebih dari satu dekade, para ilmuwan di seluruh dunia setuju bahwa HIV memiliki periode laten, yaitu suatu periode dimana ia tetap tidak aktif dalam tubuh sebelum akhirnya menjadi aktif dan menyebabkan kehancuran imunitas. Pernyataan akan periode laten digunakan untuk menjelaskan kenapa HIV tidak bereaksi sama seperti mikroba penyebab infeksi dan penyakit lainnya segera sesudah adanya infeksi, dan mengapa kuantitas besar dari HIV yang aktif tidak bisa ditemukan pada orang-orang dengan hasil test positif.
Pertama kalinya, periode laten HIV adalah selama beberapa bulan saja. (82) Kemudian direvisi menjadi satu tahun, lalu 2, 3, dan 5 tahun. (83) Sebagaimana banyak orang dengan test HIV positif tidak menjadi AIDS seperti yang diperkirakan, periode laten diperpanjang menjadi 10 atau 15 tahun. Bahkan akhir-akhir ini, berkembang lamanya menjadi seumur hidup. (84)
Ketika perkembangan periode laten HIV menjadi fokus penelitian yang cermat, hal itu kemudian diganti dengan konsep HIV aktif secara konstan menggandakan diri dan menghancurkan sel-sel dengan tingkat yang spektakular, dan hipotesis ini disebut sebagai “viral load”. Media massa, agen kesehatan pemerintah, organisasi AIDS, dan kebanyakan dokter tanpa pemikiran kritis menerima konsep viral load sebagai fakta. Para penganjur konsep viral load menyatakan bahwa HIV merajalela dan merusak sejak dari awal infeksi dan bahwa sistem imun seseorang yang positif test HIV terikat dalam pergumulan terus menerus dalam menjaga virus tetap terkendalikan. Mereka mengklaim bahwa HIV, sesudah lima, sepuluh, atau lima belas tahun kemudian, HIV akhirnya memenangkan peperangan dengan cara menghancurkan sistem imun.
Viral load sepenuhnya didasarkan atas berbagai kesimpulan yang diambil dari test-test polymerase chain reaction (PCR), dan berdasarkan atas dugaan salah bahwa fragmen materi genetik PCR dapat dipakai untuk menghitung jumlah virus aktual. Pada kenyataannya, PCR tidak bisa mendeteksi virus aktual. Ia hanya memperlihatkan materi genetik yang berhubungan dengan HIV (RNA atau DNA) dan “muatan” yang dihasilkan oleh test tersebut merupakan kalkulasi matematis, bukan suatu hitungan dari penyebaran virus. Ketika metode-metode standar penghitungan virus diaplikasikan, suatu viral load dari 100.000 menunjuk kepada korespondensi dibawah 10 unit HIV yang menginfeksi, yaitu suatu jumlah yang terlalu jauh untuk bisa mengakibatkan penyakit. (85)
Berlawanan dengan pandangan umum, PCR tidak bisa menentukan porsi apa (jika ada) dari materi genetik yang mendeteksi adanya penyebaran virus. Malahan lebih dari 99% yang diperkirakan oleh PCR adalah bukan penyebaran virus yang berarti. (86) Dr. Kary Mullis, yang memenangkan Penghargaan Nobel tahun 1993 karena menemukan PCR adalah anggota dari Group Uji Kembali Ilmiah atas Hipotesis HIV/AIDS dan menyangkal mereka yang mengklaim bahwa HIV merupakan penyebab AIDS. (87)
Viral load diperkirakan ada dalam orang yang negatif HIV dan pasien AIDS yang positif dalam test antibodi HIV tapi tidak memiliki HIV. (88) Level rendah viral load tidak berhubungan dengan kesehatan yang baik,atau tidak adanya penyakit, atau jumlah sel T yang tinggi, sementara viral load tinggi tidak berhubungan dengan sel T yang rendah atau adanya penyakit. (89)
. Keterangan
Polymerase chain reaction (PCR): Suatu teknik untuk mendeteksi adanya kuantitas dalam semenit dari materi genetik dalam darah, lewat replikasi DNA atau RNA.
.Link Referensi: http://aliveandwell.org/html/a_closer_look/acloserlook.html
14. Duesberg P, Rasnick D 1998 The AIDS Dilemma: Drug Diseases Blamed on a Passenger Virus Genetica 104:85-132; Mullis K 1998 Dancing Naked in the Mindfield Pantheon Books, New York p171-190; Shenton J 1998 Positively False St Martin’s Press, New York p6-17
15. Mullis K 1988 Dancing Naked in the Mindfield Pantheon Books, New York p 178; Duesberg P 1996 Inventing the AIDS Virus Regnery Press, Washington DC p 89-96
16. Altman L New York Times, April 23 1984
17. Altman L Researchers Believe AIDS Virus is Found New York Times, April 24 1984 (Dr. James Curran, head of the CDC’s AIDS investigating team, calls discovery “the virus that causes AIDS”)
18. Gallo found HIV in only 26 of 63 AIDS patients (41%) Source: Gallo R May 4 1984 Science Volume 224 p502
19. In 1983, Montagnier sent Gallo “retrovirus particles” (LAV) taken from the lymph node of a male homosexual without AIDS. Source: Science May 20 1983, Vol 220; the virus Gallo claimed to have discovered in 1984 was found to actually be Montagnier’s LAV. Source: New Scientist, February 12 1987
20. Dingell J Misconduct in Medical Research, New England Journal of Medicine 1993 328:1610-1615; Co-Discoverer of HIV Loses Bid to Regain Job AIDS Policy and Law May 14 1999 Vol 14 No 9; Crewdson J In Gallo Case, Truth Termed a Casualty: Science Subverted in AIDS Research Chicago Tribune, January 1 1995
21. Baffour A Are 26 Million Africans Dying of AIDS? December 1998 New African Magazine p34-42
33. Curran J 1985 The Epidemiology of AIDS: Current Status and Future Prospects Science 229:1352-1357; Karon, et al 1996 Prevalence of HIV Infections in the US Journal of the American Medical Association 276:126-131; Krieger L One in 300 US Adults Infected, San Francisco Examiner July 7 1996 pA82
34. NBC Nightly News, March 10 1995: Robert Hager of NBC reported that the CDC was about to lower estimates they knew were too high. CDC spokesperson Michelle Bond remarked that the CDC officials were reluctant to report lower numbers for fear of adverse budgetary consequences.
82. Altman L New Cases Widen Views About AIDS New York Times January 5 1984
83. Auberbach, et al 1984, Am J Med 76:487; Boffey P AIDS in the Future: Risk of Developing AIDS New York Times January 14 1986; JAMA 262: 3129-3130; Burkett E HIV: Not Guilty? Miami Herald December 23 1990 p12-17
84. Eckholm E Onset of AIDS After Transfusion Found to Lag Average of 5 Years, New York Times May 29 1986; Lambrou E 1994 AIDS: Scare or Scam? Vantage Press, New York p15; Garrett L June 1999 Blacks May Have Genetic Risk of HIV Infection, Alive & Kicking!; Waldholz M, Tanouye E Cocktail Break Wall Street Journal January 25 1999
85. Johnson C, Philpott P Viral Load of Crap Reappraising AIDS Vol 4:10 October 1996; Duesberg P 1995 Nature 357 p197
86. Rasnick D Kinetics Analysis of Consecutive HIV Proteolytic Cleavages of the Gag-Pol Polyprotein Journal of Biological Chemistry March 7 1997
87. Mullis K October 1998 The Medical Establishment vs. The Truth Penthouse Magazine
88. Rich J, et al 1999 Misdiagnosis of HIV Infection by HIV-1 Plasma Viral Load Testing: A Case Series Annals of Internal Medicine 130:37-39; Sullivan, et al Persistently Negative HIV-1 Antibody Enzyme Immunoassay Screening Results for Patients with HIV-1 Infection and AIDS AIDS January 14 1999 13:89-96
89. Piatak M March 19 1993 High Levels of HIV-1 in Plasma During All Stages of Infection Determined by Competitive PCR Science 259:1749-53; Roehr B Loading Zone POZ Magazine August 1999 p76
.

Rabu, 15 Desember 2010

Luc Montagnier, penemu HIV : "AIDS Bisa Hilang Dengan Nutrisi"

Sungguh menyedihkan bahwa kebenaran tentang nutrisi yang bisa menaklukkan AIDS ini tidak diketahui oleh banyak orang, bahkan ditutup-tutupi oleh raksasa-raksasa farmasi. Luc Montagnier sendiri juga telah berkata demikian.

Dari sejak awal, para AIDS Denialist selalu menekankan bahwa AIDS sebenarnya bisa disembuhkan dengan nutrisi. Namun, para Pro AIDS dari perusahaan farmasi yang tidak ingin kehilangan penghasilan atas penjualan obat kimia menolak keras pandangan ini. Yang dikhawatiran oleh para penjual ARV (obat kimia khusus HIV) pun terjadi juga. Luc Montagnier, penemu HIV itu sendiri malah berkata bahwa HIV sebenarnya bisa hilang dengan perbaikan nutrisi (pengobatan alami).
Untuk lebih jelasnya, mari saya ajak Anda untuk menyimak wawancara menggemparkan antara Brent Leung dan Luc Montagnier. Anda bisa melihat wawancara ini di Youtube di link:
http://www.youtube.com/watch?v=WQoNW7lOnT4
Atau Anda juga bisa mengupasnya di artikel Connie Howard yang dimuat di Vue Weekly, 10 Desember 2009, berjudul “Well, Well, Well: Nutrition”.
.
Pesan Menggemparkan dari Luc Montagnier
Berikut wawancara menggemparkan tersebut, diambil dari situs Youtube tanpa sensor:

Brent Leung: You talked about oxidative stress earlier; is treating oxidative stress one of the best ways to deal with the African AIDS Epidemic?
Brent Leung: Anda berkata sebelumnya mengenai tekanan oksidatif, yaitu dengan menangani tekanan oksidatif adalah salah satu dari cara terbaik untuk mengatasi epidemi AIDS di Afrika?
Luc Montagnier: I think this is one way to approach, to decrease the rate of transmission because I believe HIV, we can be exposed to HIV many times without being chronically infected, our immune system will get rid of the virus within a few weeks, if you have a good immune system; and this also the problem of African people. Their nutrition is not very equilibrated, they are in oxidative stress, even if they are not infected with HIV; so their immune system doesn’t work well already. So it’s prone, it can you know, allow HIV to get in and persist.
Luc Montagnier: Saya pikir ini adalah salah satu cara yang perlu diadakan pendekatan, untuk mengurangi tingkat penyebaran karena saya percaya bahwa HIV – kita bisa terpapar HIV berulangkali tanpa terinfeksi secara kronis – sistem imun kita akan mengenyahkan virus tersebut dalam beberapa minggu, jika Anda memiliki sistem imun yang bagus. Dan ini juga jadi masalah bagi orang-orang Afrika. Nutrisi mereka sangat tidak seimbang, mereka mengalami tekanan oksidatif, walaupun mereka tidak terinfeksi oleh HIV; jadi sistem imun mereka tidak berfungsi dengan baik sejak dari awal (red: karena nutrisi tidak baik). Jadi ini mempermudah, Anda tahu, mengijinkan HIV untuk masuk dan tetap ada.
So there are many ways which are not the vaccine, the magic name, the vaccine, many ways to decrease the transmission just by simple measures of nutrition, giving antioxidants – proper antioxidants – hygiene measures, fighting the other infections.
Sebenarnya ada banyak cara dimana bukanlah vaksin, nama ajaibnya, vaksin, banyak cara untuk mengurangi transmisi hanya dengan penetapan sederhana seperti nutrisi, memberikan antioksidan tertentu, menjaga kebersihan, dan melawan infeksi-infeksi lainnya.
So they are not spectacular, but they could, you know, decrease very well the epidemic, to the level they are in occidental countries, western countries.
Mereka (red: cara-cara alami) tidaklah spektakular, tapi mereka mampu, Anda tahu, mengurangi epidemi dengan baik, sampai pada level epidemi di negara-negara barat.
Brent Leung: If you have a good immune system, then your body can naturally get rid of HIV?
Brent Leung: Jika Anda punya sistem imun yang baik, maka tubuh Anda dapat mengenyahkan HIV secara alami?
Luc Montagnier: Yes.
Luc Montagnier: Benar.
Brent Leung: Oh interesting. Do you think we should have more of a push for antioxidants, and things of that nature in Africa then antiretrovirals (AIDS Drugs)?
Brent Leung: Oh menarik. Apa Anda berpendapat bahwa kita sebaiknya lebih lagi menekankan akan pemanfaatan antioksidan dan pengobatan alami lainnya di Afrika daripada antiretroviral (obat AIDS)?
Luc Montagnier: We should push for more, you know, a combinations of measures; antioxidants, nutrition advice, nutritions, fighting other infections –malaria, tuberculosis, parasitosis, worms – education of course, genital hygiene for women, and men also. Very simple measures which not, not very expensive, but could do a lot. And this is my, actually my worry about the many spectacular action for the global funds to buy drugs and so on, and Bill Gates, and so on, for the vaccine.
Luc Montagnier: Kita harus lebih lagi menekankannya, Anda tahu, suatu kombinasi dari penetapan antiksidan, nutrisi, melawan infeksi lain – malaria, tuberculosis, parasitosis, cacingan – , tentu juga pendidikan, kebersihan genital (red: kelamin) bagi wanita dan pria. Penetapan-penetapan yang sangat sederhana, dimana sangat tidak mahal, namun sanggup berdampak banyak. Dan ini adalah, sebenarnya kekhawatiran saya mengenai aksi spektakular akan penggalian dana global untuk membeli obat-obatan dan lainnya, dan (red:yayasan) Bill Gates, serta hal-hal lainnya, untuk membeli vaksin.
But, you know those kind of measures are not very well funded, they’re not funded at all, or they are. You know, it really depends on local government to take choice of this, but local government they take advice of the scientific advisors from the intelligent institutions, and they don’t get this kind of advice very often.
Tapi Anda tahu bahwa penetapan-penetapan seperti itu (red: alami) tidak begitu didanai, mereka tidak didanai sama sekali, atau bisa juga didanai. Anda tahulah, ini tergantung dari pemerintah lokal untuk mengambil pilihan akan hal ini, tapi mereka – pemerintah lokal – mengambil saran dari para penasihat ilmiah di institusi-institusi intelijen, dan mereka tidak sering mendengarkan saran-saran seperti ini.
Brent Leung: Well, there’s no money in nutrition, right? There’s no profit.
Brent Leung: Ya karena dalam nutrisi tidak menghasilkan uang khan? Tidak ada keuntungan.
Luc Montagnier: There’s no profit, yes. Water is important. Water is key.
Luc Montagnier:Tidak ada keuntungan, ya. Air sangatlah penting. Airlah kuncinya.
Brent Leung: Now one thing you said, you were talking about the fact that if you have a built immune system, it is possible to get rid of HIV naturally. If you take a poor African who’s been infected and you build up their immune system, is it possible for them to also naturally get rid of it?
Brent Leung: Sekarang Anda katakan suatu hal, Anda berkata mengenai fakta bahwa jika Anda memiliki sistem imun yang kuat, adalah mungkin untuk mengenyahkan HIV secara alami (red: dengan sendirinya). Jika Anda mengambil seorang Afrika miskin yang telah terinfeksi (red:HIV positif) dan Anda menguatkan sistem imun-nya, apakah memungkinkan baginya untuk juga mengenyahkan HIV secara alami?
Luc Montagnier: I would think so.
Luc Montagnier: Saya pikir demikian.
Brent Leung: That’s an important, that’s an important point.
Brent Leung: Itu hal penting, suatu poin yang penting.
Luc Montagnier: That’s important knowledge which is completely neglected. People always think of drugs, and vaccine. So this is a message which may be different from what you heard before, no?
Luc Montagnier: Itu adalah pengetahuan penting yang telah diabaikan sepenuhnya. Orang-orang selalu berpikir akan obat-obatan dan vaksin. Jadi ini adalah suatu pesan yang bisa jadi berbeda dari apa yang pernah Anda dengar sebelumnya, bukankah demikian?
Brent Leung: The closing?
Brent Leung: Penutupannya?
Luc Montagnier: No, no, yes, my message, it’s different from what you heard from (Antony) Fauci or …
Luc Montagnier: Baiklah, pesan saya ini, ia berbeda dari apa yang Anda dengar dari (Antony) Fauci atau …
Brent Leung: Yes. It’s a little different.
Brent Leung: Ya, sedikit berbeda. (ungkapan bercanda karena Antony Fauci berpendapat bahwa HIV harus ditangani dengan obat-obatan antiretroviral dan tidak boleh dihentikan. Ia juga berpendapat bahwa HIV tidak bisa dihilangkan secara alami)
Luc Montagnier: Little different.
Luc Montagnier: Sedikit berbeda.
.
HIV/AIDS adalah Bisnis Maha Besar
Dalam wawancara di atas, Luc berkata bahwa nutrisi seperti misalnya air yang sehat, antioksidan, dan gizi yang baik, mampu mengenyahkan HIV dari tubuh kita. Perusahaan farmasi tidak mau memberikan informasi ini karena hal ini tidak memberikan keuntungan kepada mereka.
Dengan menyebarkan informasi yang menyesatkan, raksasa-raksasa farmasi mengelabui para pemerintah, para tokoh, dan semua orang sehingga terciptalah ketakutan hebat di seluruh dunia. Anda perlu garis bawahi ini, SELURUH DUNIA! Seluruh dunia yang kurang pengetahuan dan dikuasai oleh rasa takut, dalam suasa panik akhirnya mengambil keputusan untuk segera mendapatkan solusi secepatnya. Dan solusi itu adalah membeli obat-obatan yang dijual oleh raksasa-raksasa farmasi.
HIV/AIDS adalah bisnis yang maha besar karena semua orang “merasa” perlu obat-obatan dari raksasa farmasi. Apalagi dengan informasi bahwa Odha (Orang dengan HIV/AIDS) harus SEUMUR HIDUP minum obat antiretroviral dan tidak boleh meninggalkannya walaupun ada pengganti seperti misalnya herbal.
Perlu juga Anda ketahui bahwa kami para AIDS Denialist berpandangan bahwa HIV itu sendiri tidak pernah ada. Semua gambar atau foto-foto yang meperlihatkan suatu virus menyerang sel, sebenarnya adalah manipulasi belaka. Jadi ketika saya mencantumkan wawancara ini (Luc Montagnier dan Brent Leung) yang menyebutkan adanya HIV, itu bukan berarti bahwa saya percaya bahwa HIV itu ada. Saya sengaja mencantumkan wawancara ini karena ia memiliki poin yang kami para AIDS Denialist percaya dari awal, yaitu: AIDS bisa ditaklukkan dengan pengobatan alami.
Detail info mengenai HIV itu sebenarnya tidak ada, bisa Anda dapatkan di artikel-artikel di Healindonesia:
• Dr. Stefan Lanka Membongkar “Penipuan HIV”
Link >> http://healindonesia.wordpress.com/2008/12/15/dr-stefan-lanka-membongkar-%e2%80%9cpenipuan-hiv%e2%80%9d/
• HIV Bukan Penyebab AIDS?
Link >> http://healindonesia.wordpress.com/2008/10/18/hiv-bukan-penyebab-aids/
• Isolasi HIV Selama Ini Adalah Manipulasi
Link >> http://healindonesia.wordpress.com/2009/02/16/isolasi-hiv-selama-ini-adalah-manipulasi/
• Video Hoax tentang Penyebaran HIV Antar Sel T
Link >> http://healindonesia.wordpress.com/2009/06/18/video-hoax-tentang-penyebaran-hiv-antar-sel-t/
.
Tidak Ada Donasi Formal untuk Pengobatan Alami
Seperti perkataan Luc Montagnier, pengobatan alami tidak akan mendapatkan pendanaan/donasi formal. Itulah yang saya dan para aktivis lainnya alami dengan pelayanan kami terhadap masyarakat. Kami para aktivis golongan kontroversial tidak pernah mendapatkan donasi formal manapun. Jadi tidak heran jika pelayanan kami tidak seheboh dan segencar kegiatan dari organisasi konvensional, apalagi disorot oleh media massa.
Untuk bisa melayani para Odha secara alami dan melindungi masyarakat dari malpraktek. Mau tidak mau saya harus mengeluarkan uang dari kantong sendiri. Untuk membantu masyarakat miskin yang jatuh sakit karena penyakit ganas tak tersembuhkan, ini pun juga tidak ada kucuran dana dari pemerintah. Saya dan tim masih harus menggali dana dari teman-teman kami sendiri.
Itulah yang terjadi pada proyek HIFON (Healindonesia For The Needy) kami, mencari “banjir” dana supaya makin banyak orang-orang miskin yang memiliki harapan untuk sehat dan hidup bahagia.
Dalam proyek ini, Anda yang peduli bisa memberikan harapan bagi mereka yang miskin dan telah divonis tidak akan sembuh. Oleh karena HIFON memakai pengobatan alami, kami tidak bisa mendapatkan donasi dari organisasi pemerintah atau konvensional. Untuk bisa lebih tahu tentang proyek HIFON, silahkan Anda kunjungi link:
http://healindonesia.wordpress.com/hifon/
.
Solusi Pengobatan Alami yang Sederhana dan Ramah Lingkungan
Sungguh menyedihkan bahwa kebenaran tentang nutrisi yang bisa menaklukkan AIDS ini tidak diketahui oleh banyak orang, bahkan ditutup-tutupi oleh raksasa-raksasa farmasi. Luc Montagnier sendiri juga telah berkata demikian.
Kami para AIDS Denialist yang juga sekaligus pakar pengobatan holistik modern, telah berulangkali berhasil menaklukkan AIDS dengan nutrisi. Kami bisa memanfaatkan madu, minyak kelapa murni, bawang putih, propolis, dan herbal tertentu untuk menaklukkan (atau menyembuhkan) AIDS. Dan yang berhasil menaklukkan AIDS secara alami tidaklah sedikit. Ada ribuan praktisi, dokter, professor, dan ilmuwan pengobatan holistik modern yang telah berhasil menaklukkan ribuan pasien AIDS juga.
Penjelasan lengkap tentang pengobatan alami untuk AIDS, contoh para Odha yang sembuh secara alami tanpa menggunakan AIDS, konspirasi yang dalam tentang HIV/AIDS, dan test-test HIV yang tidak akurat, bisa Anda baca di ebook saya “Menjual HIV/AIDS”. Info ebook kontroversial ini bisa Anda lihat di link
http://healindonesia.wordpress.com/2009/01/29/rahasia-terlarang-%E2%80%93-%E2%80%9Cmenjual-hivaids%E2%80%9D/
.
Anda Bisa Membuat Perubahan
Renungkan perkataan Luc Montagnier di atas. Pandangan akan pengobatan alami ini telah diungkapkan oleh ilmuwan dunia yang sangat terkenal yaitu Thomas Alva Edison.
“Dokter masa depan tidak lagi memberi obat, namun akan menempatkan kepentingan pasiennya dalam rangka bimbingan kemanusiaan, bimbingan pengaturan pola makan, dan mengenai penyebab serta pencegahan penyakit.”
Thomas Alva Edison
Bahkan kedua Bapak Kedokteran Dunia, Sir William Osler, MD dan Hippocrates, juga mengatakan hal yang sama, menganjurkan kita untuk tidak mengandalkan obat kimia tapi memakai alam untuk pengobatan:
“Salah satu tugas utama seorang dokter adalah mendidik masyarakat untuk tidak mengambil obat kimia”
Sir William Osler, MD (Bapak Kedokteran Modern)
“Hendaklah makanan menjadi obatmu dan obat menjadi makananmu.”
Hippocrates (Bapak Kedokteran Masa Lampau)
.
Pesan saya bagi Anda yang aktif dalam yayasan HIV/AIDS konvensional, gunakanlah pengobatan alami untuk menaklukkan AIDS. Anda tidak harus setuju dengan pandangan kami para AIDS Denialist, yang berpandangan bahwa HIV itu tidak ada. Yang terpenting adalah Anda berhenti menyebarkan ARV karena ia adalah pengobatan yang penuh dengan efek samping, menghabiskan uang pajak dan suatu pengobatan yang tidak ramah lingkungan.
Memang jika Anda berhenti mendistribusikan ARV, otomatis yayasan Anda tidak akan mendapatkan donasi resmi. Anda juga otomatis kehilangan kedudukan penting. Inilah ujian sebenarnya untuk melihat seperti apakah Anda sebenarnya, hati dan jiwa seperti apa yang Anda miliki.
Jika Anda benar-benar percaya akan kasih Tuhan yang Maha Peduli dan kuasa Tuhan yang bisa melindungi Anda, saya percaya Anda pasti tahu apa yang harus dipilih.
Kasih butuh pengorbanan. Jika Anda memang benar-benar peduli sesama dan alam Indonesia ini, saya percaya Anda pasti tahu apa yang harus dilakukan.Sekarang nasib bangsa dan Tanah Air kita ada pada Anda, bukan hanya pemerintah saja. Anda bisa membuat perubahan. Perubahan diawali dari diri sendiri, lalu menularkannya ke orang lain, untuk menyembuhkan satu bangsa.
Mari bersama-sama kita sembuhkan Indonesia!