Senin, 23 Juni 2008

Seminar Nasional Marketing Kedokteran

Mohon doa restunya untuk keberhasilan acara Seminar Nasional

Insya Allah pada tanggal 12 Juli 2008
bertempat di Hotel Puri Katulistiwa Jatinangor

Saya insya Allah akan menjadi moderator bagi pembicara bapak Bunyamin Setiawan PhD pendiri dan pemilik Grup Kalbe Farma dan pembicara bapak Syafii Antonio PhD penulis buku Muhammad SAW The superleader The Super Manager

bertema Sukses Marketing Kedokteran Dunia dan Akhirat
Diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Jumat, 20 Juni 2008

ambo bangga jadi urang minang


ada sebuah artikel yang aku baca di blognya vara jambak, ada hal yang menarik dari artikel itu, yaitu mengenai kebanggaan menjadi orang minangkabau. padahal kawan tadi udah lama bermukim di rantau, besar di tanah jawa sekarang merantau lagi nun jauh kesana ke negri orang tepatnya berlin jerman.
ada beberapa hal yang membuat dia bangga, diantaranya

Karena masakannya yang beraneka ragam dan sedap, dan karena Restoran Padang ada di mana-mana, sampai-sampai dosen saya di Perancis bilang begini: “oh, kamu dari Indonesia? Saya suka masakan Indonesia. Enak sekali rasanya daging warna hitam yang pedas (maksudnya rendang). Saya makan di restoran Indonesia di Belanda”. Dari cara dia berbicara, tampak sekali bahwa dia sangat terkesan dengan rendang :)

Karena dunsanak saya banyak dan ada di mana-mana karena merantau.

Karena saya dilatih untuk berbicara banyak bahasa, dan jadi bisa tahu lebih banyak.

Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat Matriarchat terbesar di dunia.

Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat Matriarchat yang termodern di dunia.

Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat Matriarchat yang paling stabil di dunia.

Karena Minangkabau menjadi lambang perlawanan budaya Matriarchat yang diperangi oleh budaya Patriarchat selama ribuan tahun.

Karena masyarakat Minangkabau berhasil bertahan dan selalu melakukan perlawanan atas penindasan, usaha memerangi budaya Minangkabau, sampai sekarang dan banyak lagi yang lainya... (aku ambil dari blognya vara jambak)

banggalah sebagai orang minang walau kadang di ejek kalo ngomong dengan dialek minang hahaha, tapi sebagai orang minang kita bisa bertahan dimana saja dalam kondisi apa saja seperti kata pepatah orang minang " kok takuruang minta dilua, kok tahimpik minta di ateh"

banggalah jadi orang minangkabau.........




Kamis, 19 Juni 2008

ruptur uretra

pasien , laki-laki 25 tahun, setelah kecelakaan lalulintas mengeluhkan nyeri di perutnya, selain itu pasien juga mengeluhkan buang air kecilnya berdarah, menetes. sebelumnya pasien seorang pengendara sepeda motor dan terjatuh dengan posisi terduduk.. setelah di periksa, pada pasien terdapat jejas di daerah selangkanganya. keadaan pasien stabil, kemudian diputuskan untuk mengambil foto pelvis hasilnya normal, kemudian dilanjutkan untuk di lakukan uretrosistografi.
hasilnya
tampak ada ekstravasasi kontras keluar dari lumen uretra. pasien diputuskan untuk dilakukan cystostomi untuk diversi urin

baca lebih lengkap

Dianggap Gila Setelah Menemukan Islam

Sebelumnya, ia menikmati hidup dengan hura-hura. Pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan. Pokoknya “happy.”? Tapi ia dianggap “gila” setelah? menemukan Islam

ImageHidayatullah.com–Namanya Yahya Schroeder. Ia muallaf baru asli Jerman. Memeluk Islam setahun lalu atau tepatnya Nopember 2006. Saat itu ia berusia 17 tahun. Saat remaja lain sibuk mereguk nikmatnya puncak masa remaja, Yahya justru sedang berada di puncak pencarian spiritualnya. Melalui situs www.readingislam.com (11/9) ia menorehkan kisah perjalanan spiritualnya itu kepada publik, semata-mata untuk berbagi pengalaman dengan sesame saudara se-Islam, terutama yang berdomisili di negara non-Muslim.

***

Sebagai seorang muallaf, Yahya mengaku lebih mudah mengikuti dan mengamalkan Islam ketimbang muslim tradisonal yang lahir dan dibesarkan di Jerman. Ada sebagian pemuda muslim yang lahir disana, sepengetahuan Yahya, justru ingin dikenal sebagai orang Jerman. “Mereka tidak bangga dengan Islamnya. Bagi mereka Islam hanyalah sebuah tradisi. Malah ada yang berani menggadaikan keislamannya hanya agar bisa berganti kewarganegaraan,” ungkap pemuda murah senyum itu. Na’uzubillah!.

Memang, seperti diakui Yahya, hidup sebagai seorang Muslim di Jerman tidaklah mudah.

“Jika orang Jerman ditanya apa yang mereka ketahui tentang Islam, maka mereka akan jawab Islam identik dengan yang berbau Arab. Jadi persis seperti sebuah simbol operasi dalam matematika, Islam=Arab.? Mereka belum tahu kebesaran Islam yang sebenarnya,” imbuhnya.

Masa remaja penuh ceria

Yahya dibesarkan di sebuah desa kecil di pinggiran Potsdam. Ia tergolong anak keluarga berada. “Aku tinggal di sebuah rumah mewah dengan ibu dan ayah tiriku. Rumah kami memiliki halaman yang cukup luas dan ada kolam renangnya. Sebagai seorang remaja aku sangat menikmati hidup ini. Punya banyak teman, kami sering bikin pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan, dan acara gila-gilaan lainnya. Ya seperti kebanyakan pemuda Jerman umumnya, Pokoknya happy,” ujar Yahya mengenang.

“Kala itu aku punya segalanya; rumah mewah, mobil, uang, dan berbagai macam jenis mainan canggih. Aku tidak pernah kekurangan uang, tapi entahlah, aku merasa hidup tidak tenang, selalu gelisah. Kala itu pun aku berpikir untuk mencari “sesuatu” yang lain,” sambungnya.

Memasuki umur 16 tahun ia bersua dengan komunitas Muslim di kota Potsdam melalui perantaraan ayah kandungnya. Ayahnya memang telah duluan memeluk Islam tahun 2001. Ya kendati telah bercerai dengan sang ibu, namun Yahya senantiasa menjenguk ayahnya sekali dalam sebulan dan sering pula menghadiri pengajian warga muslim disana.

Secara perlahan, Yahya mulai tertarik dengan Islam. Rupanya sang ayah memerhatikan gejala itu. Sang Ayah ingin ia belajar lebih jauh tentang Islam dari orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi. Sejak saat itu Yahya mulai serius belajar Islam dan menghadiri forum pengajian rutin setiap bulannya.

Satu ketika, terjadilah sesuatu yang tak diinginkan, yang nantinya merubah semua jalan hidupnya. “Ceritanya, satu hari aku ikut kawan-kawan pergi berenang. Nah saat melompat ke kolam, aku terpeleset dan jatuh tidak sempurna. Akibatnya, punggungku mengalami retak berat dan kepala berbenturan hebat dengan dasar kolam. Cederaku cukup parah hingga ayah segera melarikanku ke rumah sakit.”

“Di rumah sakit, dokter menyarankan agar jangan banyak bergerak. Cedera punggungku cukup parah yang mengakibatkan engsel tangan kanan bergeser. Katanya: “Nak, janganlah banyak bergerak. Sedikit saja salah bergerak bisa menyebabkan cacat nantinya.” Kalimat dokter itu sungguh sangat tidak membantu. Malah membuatku tertekan luar biasa.”

Sejurus kemudian, sebelum dibawa ke ruang operasi, Ahmir salah seorang sahabatnya berujar.”Yahya, hidupmu kini ada di tangan Allah. Ini mirip seperti sebuah perjudian, antara hidup dan mati. Kini kamu berada di puncak kenikmatan dari sebuah pencarian. Bertahanlah, sabarlah sahabat. Allah pasti bantu.” Kalimat Ahmir dirasakan Yahya sangat luar biasa. Ia sangat termotivasi dan semangat hidupnya muncul kembali.

“Operasi berjalan selama lima jam dan aku siuman selepas 3 hari. Saat terjaga tangan kananku sulit digerakkan. Namun, entah mengapa, aku merasa orang yang paling bahagia di muka bumi ini. Bahkan kepada dokter kuberitahukan bahwa aku tidak peduli dengan cedera yang kualami. Aku justru bahagia Allah masih mengizinkanku hidup,” kenang Yahya.

“Dokter mengatakan aku harus tinggal di rumah sakit selama beberapa bulan. Tapi tahukah kawan, aku dirawat cuma dua pekan saja! Itu karena aku latihan rutin dan penuh disiplin. Satu hari dokter datang dan bilang: “Hari ini kita coba latihan naik tangga ya.” Padahal tanpa sepengetahuan mereka sebenarnya aku telah melakukan latihan atas inisiatif sendiri, dua hari sebelum dokter datang,” sambungnya. Begitulah, akhirnya ia dapat menggerakkan kembali tangan kanannya seperti sediakala dan cuma dua pekan di rumah sakit.

“Kecelakaan itu telah mengubah jalan hidupku. Aku jadi suka merenung. Jika Allah inginkan sesuatu, maka kehidupan seorang individu bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Aku pun mulai serius berpikir tentang hidup ini dan Islam tentunya. Keinginan untuk memeluk Islam makin menjadi-jadi, yang berarti harus meninggalkan rumah, keluarga yang kucintai dan semua kemewahan hidup disana,”ungkapnya. Akhirnya ia memutuskan pindah ke Potsdam.

Kala pindah ke Potsdam Yahya cuma membawa beberapa lembar pakaian, buku sekolah dan beberapa CD kesayangannya. Ia tinggal sementara di apartemen ayahnya.

“Kecil memang tempatnya, hingga aku musti tidur di dapur. Tapi itu tidak masalah bagiku. Aku merasa bahagia. Sangat bahagia, persis seperti kala terjaga dari siuman di rumah sakit selepas kecelakaan hebat itu.”

Mengucap dua kalimah syahadah

Tak berapa lama ia mulai menjalani hari pertama di sekolah. Mendadak semua serba baru baginya. Apartemen baru, sekolah baru, teman baru dan pertamakali tanpa keluarga lengkap. Persis sehari selepas hari pertama di sekolah, ia pun bersyahadah. Begitu teman-teman sekolahnya tahu ia beragama Islam mulailah mereka mengejek dengan kalimat-kalimat usil.

“Ada teroris”, “Usamah bin Laden datang,” “Islam itu kotor”. Begitu mereka mengejek Yahya. Sebagiannya malah ada yang menganggapnya gila. Lebih parahnya lagi, bahkan ada yang tidak percaya ia orang Jerman asli.

“Aku bisa maklumi, karena mereka hanya tahu Islam dari media yang cenderung memojokkan Islam,” tukasnya

Akan tetapi setelah 10 bulan berjalan situasinya benar-benar berubah. Sikap teman-temannya berubah drastis. Rekan-rekan sekelasnya berhenti bersikap usil. Malah mereka sering bertanya tentang Islam. Pandangan mereka tentang Islam pun berubah. Menurut mereka, ternyata Islam itu cool! Indah! Subhanallah!

“Perubahan itu tentu saja tidak serta merta. Secara halus dan perlahan aku melakukan dakwah di kelas. Tentu saja bukan dengan ceramah agama. Sikap dan tingkah lakulah yang banyak membantu mereka mengenal Islam. Percaya tidak, kini aku bahkan punya ruang shalat khusus. Padahal akukah satu-satunya siswa Muslim di sekolah itu,” ujar Yahya senang.

“Mereka baru tahu ternyata Islam punya adab atau tata tertib dalam hidup. Yang menarik bagi mereka, Islam tidak ekslusif, tidak mengelompokkan diri dalam kelompok-kelompok khusus. Seperti di sekolahku ini,” imbuhnya.

Dikatakannya, di sekolah itu ada tiga kelompok utama yakni kelompok yang suka hura-hura. kongkow-kongkow; lalu ada kelompok punk; dan satunya lagi kelompok yang suka pesta-pestaan. Setiap orang selalu mencoba untuk jadi anggota kelompok dari salah satu grup, semata-mata supaya diterima oleh yang lainnya.

“Kecuali aku! Aku tidak masuk kelompok manapun, namun diterima oleh semua mereka. Aku bisa menjadi teman bagi setiap orang. Tidak perlu menggunakan pakaian tertentu supaya dibilang “cool.” Bahkan mereka selalu mengundangku, demikian juga teman-temanku yang Islam pada acara-acara mereka,” kisah Yahya.

Mereka menaruh respek pada Yahya sebagai seorang muslim. Bahkan lebih dari itu, jika ada acara mereka secara khusus menyiapkan makanan halal untuknya. Misalnya acara bakar sate, maka mereka siapkan dua alat pembakar. Satunya untuk mereka dan satunya lagi khusus untuk Yahya dan rekan-rekan Muslimnya.

“Bukan main! Kini mereka benar-benar terbuka dengan Islam. Aku hanya berdoa agar Allah beri mereka hidayah. Amiin,” harapnya sembari berdoa.

Selepas memeluk Islam, kesibukan Yahya kini bertambah. Ia menjadi produser film. YaYa Productions nama perusahaannya yang berlokasi di Potsdam. Produksinya terutama film-film dokumenter yang kebanyakan mengisahkan perjalanan hidup seorang muallaf dan kebanyakan dalam bahasa Jerman dengan terjemahan bahasa Inggris.

“Tujuan aku buat film adalah untuk menunjukkan kepada kalangan non-Muslim bagaimana Islam yang sebenarnya. Jauh dari apa yang ditampilkan media selama ini. Mudah-mudahan film-film itu bisa mencerahkan pandangan mereka,” ujar Yahya yang meyakini pekerjaannya itu sebagai bagian dari dakwah. [zulkarnain jalil (Aceh)/www.hidayatullah.com]

Rabu, 18 Juni 2008

Membudayakan Care

Suatu ketika Ubaidah bin Shamit menerima hadiah, dan beliau memiliki keluarga sebanyak 12 orang. Kemudian sahabat Ubaidah berkata, pergilah kalian dengan hadiah ini kepada keluarga fulan, karena mereka lebih membutuhkan hadiah ini daripada saya. Kemudian Wahid bin Ubadah membawa hadiah ini kepada keluarga lain. Akan tetapi, ketika ia telah sampai pada keluarga tersebut, mereka mengatakan hal yang sama. Begitu seterusnya, akhirnya hadiah itu kembali pada keluarga Ubadah sebelum waktu subuh. Dalam riwayat lain, khalifah Umar ra, pernah mendapatkan hadiah dari gubernur di Azerbaijan, Utbah bin Farqad. Kemudian utusan itu ditanya oleh khalifah: ”Apakah semua masyarakat di sana menikmati makanan ini?” Utusan itu menjawab : ”Tidak wahai Amirul Mukminin, ini adalah makanan khusus”. Khalifah berkata: ”Bawalah hadiah ini, kembalikan kepada pemiliknya, dan katakan padanya, ’Bertakwalah kepada Allah, kenyangkanlah kaum Muslimin dengan makanan yang engkau makan hingga kenyang.”[1]

Itsar atau altruisme di jaman kita sekarang tampak menjadi suatu barang yang sangat mewah. Dasar dari care terhadap orang lain adalah ketika kita memulai memikirkan orang lain. Kita melepaskan pemenuhan ambisi pribadi, beralih memenuhi kebutuhan dasar orang-orang yang berada di sekitar kita.

Perkembangan sosial teknologi terakhir, menurut Daniel Goleman[2], telah menciptakan cangkang yang membuat seseorang terisolasi dengan lingkungan sosialnya. Headphone, iPod, juga telefon seluler, membuat kita hanya bisa hadir secara fisik di lingkungan sosial kita sendiri-sendiri. Tanpa kita sadari, kita asyik mendengarkan ribuan musik yang siap kita dengarkan lewat iPod atau headphone. Si pendengar iPod asyik dengan penyanyi yang berdengung di telinganya, sementara ia tidak tahu apa yang terjadi di sekitar kehidupan riilnya. Ketika kita bercengkerama secara fisik, tiba-tiba handphone berdering entah itu ada telefon atau SMS, saat itu juga mencabut ”kehadiran” kita di lingkungan fisik, perhatian terbelah ataupun bahkan terabaikan, konsentrasi pada apa yang ada di telinga....hadir yang tidak ”hadir”. Secara sosial kita mengalami korosi. Menjadi kurang care terhadap sesama.



[1] Diambil dari Ahmad Ibrahim Abu Sinn, 1996, Al-Idaarah fil Al-Islam; Edisi Indonesia, Manajemen Syariah, 2006, Penerbit RajaGrafindo Persada, Jakarta

[2] Daniel Goleman, 2006, Social Intelligence, Edisi Indonesia, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2007

Selasa, 17 Juni 2008

Al Qur'an hari ini..

"... Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan..."(Q.S. Al Insyirah : 5-6)

Al Qur'an hari ini..

"... Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan..."(Q.S. Al Insyirah : 5-6)