Minggu, 16 Oktober 2011

Sayang... Cemburu... Sayang... Cemburu...


(Foto: gettyimages)

“SAYA bingung dengan sikap Aulia (3 tahun), terhadap adiknya Fara (2 bulan). Kadang dia sayang, mau jagain, ambilin popok untuk adiknya tapi kadang dia gemes, mencium paksa atau memegang keras tangan adiknya hingga menangis,” keluh Mom Permai-mai tentang anak pertamanya.

Rasa cemburu yang diperlihatkan kakak kepada adiknya memang wajar. Ini dikarenakan untuk bisa menerima dan benar-benar sayang dan perhatian terhadap sang adik tidak mudah. Apalagi mengingat usia sang kakak masih batita.

Meski demikian, rasa kasih sayang dan tanggung jawab seorang kakak akan tumbuh bila dilatih dan dibiasakan. Jovita Maria Ferliana, MPsi dari Rumah Sakit Royal Taruma akan memberikan trik jitu agar si kakak sayang kepada adiknya.

Ego Kakak Baru Terbentuk

Menginjak usia 3 tahun, ego, self center dan pemuasan kebutuhan yang here (di sini) and now (sekarang) anak mulai terbentuk. Sehingga ia akan berlaku ‘Aku mau sekarang dan saat ini juga’.

Secara kognitif, anak mulai memahami ini mainanku, itu mainanmu, ini Ibuku, itu Ibumu dan sebagainya. Sehingga wajar jika si kakak menjadi kurang nyaman karena perhatian orangtuanya terbagi kepada sang adik yang masih bayi. Artinya, si kakak merasa kurang full mendapatkan perhatian dari Moms.

Jadi, tentu saja wajar bila si kakak akan merasa sedikit cemburu. Namun Moms jangan khawatir, karena hal ini alamiah terjadi pada si kecil yang baru berusia 3 tahun.

Hindari Mengevaluasi!

“Kakak keluar dong, Ibu sedang menyusui Adik nih!”
“Kakak duduknya jauhan dong, nanti kaki Adik kedudukan sama Kakak tuh?”
“Kakak nggak boleh berisik ya nanti Adik bangun!”
“Kakak nggak boleh lari-larian dong, nanti kena Adik deh!”

Kata-kata di atas merupakan beberapa bentuk kalimat yang bertujuan mengevaluasi si kakak. Mungkin Moms tidak sadar, tapi jika kata-kata tersebut terlontar, pasti kakak akan merasa sejak kehadiran adiknya, dialah yang harus kalah dan mengalah.

Padahal, dengan hadirnya adik kecil, bukan berarti kakan harus selalu mengalah. Berikan aturan yang adil, meski masih bayi, bukan berarti semua-semuanya untuk si adik.

Selalu Bersikap Adil

Untuk menghindari rasa cemburu si kakak, Moms harus memberikan perhatian yang proporsional, baik pada sang kakak maupun sang adik. Misalnya si kakak tidak boleh main mobil listrik ketika di dalam rumah, begitu juga dengan adik. Bila, kakak tidak boleh main games ketika jam belajarnya, adik pun mendapat peraturan yang sama.

Meskipun dia belum ikut belajar, hendaknya si adik pun tidak boleh melakukannya juga.
Begitu pula jika si kakak mempunyai mainan dan si adik menginginkannya, jangan Moms memintanya untuk langsung diberikan kepada sang adik.

Apalagi bila Moms sampai memaksa atau merampas mainan itu dari tangan si kakak. Berikan pengertian bahwa mainan tersebut boleh kakak dan adik mainkan, masing-masing selama 10 menit.

Perlakuan yang adil tersebut akan membuat si kakak merasa bahwa orangtuanya masih tetap memberikan perhatian kepadanya. Dan sang adik pun akan sejalan dan menghormati kakaknya. Dengan demikian, si kakak tidak akan takut kalau perhatian dan kasih sayang orangtuanya akan sepenuhnya tercurah kepada adiknya. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie)Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Kamis, 13 Oktober 2011

Hidayah Di Depan Mata


Dari air kita belajar ketenangan
Dari batu kita belajar ketegaran
Dari tanah kita belajar kehidupan
Dari kupu-kupu kita belajar mengubah diri
Dari padi kita belajar rendah hati
Dari Allah kita belajar tentang kasih sayang yang sempurna
Dari Muhammad kita belajar apa hakikat manusia yang sebenarnya
Dari melihat ke atas kita belajar memperoleh semangat untuk maju
Dari melihat ke bawah kita belajar bersyukur atas semua yang ada
Dari melihat ke samping kita belajar semangat kebersamaan
Dari melihat ke belakang kita belajar dari pengalaman berharga
Dari melihat ke dalam kita belajar untuk introspeksi
Dari melihat ke depan kita belajar untuk menjadi lebih baik

Apakah Wanita Itu ?


Wanita itu perlambang keindahan
Keindahan yang melebihi bunga-bunga di surga hingga membuat Adam betah di sana
Wahai wanita, janganlah engkau mau dijadikan sebagai bunga dunia
Karena hal itu adalah penghinaan gender terbesar yang pernah ada
Jadilah engkau sejati-sejatinya bunga
Kecantikan itu adalah keindahan
Terkadang bisa membawa kebahagiaan
Terkadang bisa menjerumuskan
Namun setiap kebahagiaan pasti akan selalu membawa keindahan
Bila engkau mengejar keindahan fisik semata, ketahuilah ia hanya selintas di dunia, tidak abadi
Bila engkau mengejar keindahan ahlak, itulah keindahan surgawi yang abadi
Kesempurnaannya adalah di saat kecantikan wanita digunakan untuk mewujudkan keindahan agamanya

Senin, 10 Oktober 2011

Informasi pelatihan ACLS,EKG dan HIPERKES 2012-2013

TS  Yang Terhormat,
Kami mengundang TS untuk mengikuti pelatihan ACLS PERKI, EKG Perki 2012-2013 dan HIPERKES IKK FKUI tahun 2012-2013. Berikut kami informasikan jadwal – jadwal pelatihan ACLS dan EKG PERKI tahun 2012-2013.

A C L S (Advanced  Cardiac  Life  Support)
Waktu* :     Periode I      18-20 Januari 2013 (Fully Booked)
                   Periode II     25-27 Januari 2013 (Fully Booked)
                   Periode III    1-3 Februari 2013 (Fully Booked)
                   Periode IV    15 – 17 Februari 2013 (Fully Booked)
Periode V     1-3 Maret 2013 (Fully Booked)
                   Periode VI    22-24 Maret 2013 (Fully Booked)
                   Periode VII   12 – 14 April 2013
                   Periode VIII   26 – 28 April 2013
                                            
Tempat  :    PERKI   HOUSE  Jl. Danau Toba No.139 A-C, Bendungan HIlir,
                   Jakarta  Pusat

Fasilitas  :   
        Pelatihan ACLS PERKI selama 3 hari (Hari Jumat – Minggu)
        Buku Panduan ACLS  PERKI (1 Buah) versi bahasa Indonesia
        Sertifikat ACLS  PERKI (Akreditasi  14  SKP dari ID).
          Masa Berlaku Sertifikat 3 tahun.
        Konsumsi (1x Lunch + 2x Coffee Break)/hari.

Biaya *  :               Rp. 2.500.000 / Peserta  

Pendaftaran via SMS :
Ketik ACLS # Tgl Pelatihan # Nama Lengkap # No.Handphone
Kirim ke 08170 825 883
Contoh : ACLS # 5 – 7 Oktober 2012 # Mia Afiyani # 08170825883
Info dan Registrasi, dpt m'hub 0817 0825 883
Email : seminarkedokteran@gmail.com
Facebook : seminarkedokteran03@gmail.com
( Pelatihan ACLS ini hanya dapat diikuti oleh dokter )
Ket (*) : Jadwal & Biaya dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya

Kursus EKG PERKI
Waktu *       Periode I      12-13 Januari 2013
                   Periode II     26-27 Januari 2013
                   Periode III    9 – 10 Februari 2013
                   Periode IV    16-17 Februari 2013
                   Periode V     9 – 10 Maret 2013
                   Periode VI    16-17 Maret 2013
                   Periode VII   30 – 31 Maret 2013

Tempat       :       Wisma Bidakara RS. Jantung Harapan Kita  Jl.Letjen  S. Parman, Slipi, Jakarta Barat.

Fasilitas  :
        Pelatihan  EKG selama 2 hari dari PERKI JAYA (Hari Sabtu – Minggu)
        Buku Panduan Kursus EKG dari PERKI JAYA
        Sertifikat dari  PERKI JAYA (Akreditasi 10 SKP dari IDI).
          Masa Berlaku Sertifikat 3 Tahun
        Makan siang dan 2x Coffee Break selama 2 hari

Biaya *    :   Rp. 1.250.000 / Peserta  

Materi Pelatihan :
Anatomi, elektrofisiologi, sistem konduksi jantung dan dasar interpretasi EKG, Iskemia miokardial dan infark, hambatan sistem konduksi, Hipertrofi rongga jantung dan karakteristik EKG pada berbagai kondisi (gangguan elektrolit, intoksikasi obat, dll), review seluruh topik, diskusi kasus (3 kasus), Latihan interpretasi EKG, pre-test dan post-test, diskusi post test.

Pendaftaran via SMS :
Ketik EKG # Tgl Pelatihan # Nama Lengkap # No.Handphone, Kirim ke 08170 825 883
Contoh : EKG # 8 – 9 September 2012 # Mia Afiyani # 08170825883
Info dan Registrasi, dpt m'hub 0817 0825 883

Email : seminarkedokteran@gmail.com
Facebook : seminarkedokteran03@gmail.com
(Kursus EKG ini dapat diikuti oleh dokter dan koasisten)
Ket (*) : Jadwal & Biaya dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya


 HIPERKES (Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja)
Waktu             :                                                    
Periode I         5 – 15 Maret 2012 [Sudah Berlangsung]
Periode II        19 - 29 Maret 2012 [Sudah Berlangsung]
Periode III       16  – 26 April 2012 (Sudah Berlangsung)
Periode IV       11 - 21 Juni 2012 (Sudah Berlangsung)
Periode V       09  - 19 Juli 2012 (Sudah Berlangsung)
Periode VI      24 Sept – 04 Okt 2012
Periode VII     OKT  2012 *
(* tgl msh dlm knfrmasi)

Tempat           :   Departemen IKK-FKUI , Jln. Pegangsaan Timur No.16 Jakarta
( Depan Stasiun Cikini & Sekompleks  dengan Dept. Mikrobiologi FKUI )

Fasilitas  :                                                    
Pelatihan  HIPERKES selama 9 hari ( Senin-Jumat dan Senin-Kamis),  Modul materi HIPERKES, Praktikum dan Kunjungan Perusahaan, Instruktur  : Staf pengajar FKUI, Depkes dan Depnaker, Makan siang dan Coffee Break selama 9 hari, Sertifikat HIPERKES dari Depnaker dan Sertifikat dari Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI Program Studi Kedokteran Kerja (Akreditasi 14 SKP dari IDI). Sertifikat berlaku seumur hidup

Biaya  :                       Rp. 2.400.000 /Peserta

Booking Tempat dan Pendaftaran via SMS  :
Ketik Hiperkes # Tgl Pelatihan # Nama Lengkap # No.Handphone,  
Kirim ke 08170 825 883
Contoh : Hiperkes # 16 – 26 April 2012 # Mia Afiyani # 08170825883
Info dan Registrasi :                            
No.Hp             :  0817 0825 883 
Fax                  :  021 – 86603771
Email : seminarkedokteran@gmail.com
Facebook : seminarkedokteran03@gmail.com
Kegiatan ini hanya untuk kalangan Dokter

Jika berminat dapat segera mendaftar karena tempat terbatas.Mohon informasi ini disampaikan kepada rekan sejawat lain yang membutuhkan.

Bila ada pertanyaan atau hal-hal yang kurang jelas, dokter dapat menghubungi kami via email seminarkedokteran@gmail.com ataupun telp/sms di 08170 825 883

Atas Perhatiannya Kami ucapkan terima kasih
Panitia Pelaksana

Sabtu, 08 Oktober 2011

7 KALIMAT UNTUK MENGINSPIRASI ANAK



Pemilihan kalimat yang tepat untuk anak akan membuat anak tak salah tanggap terhadap perkataan orang tua

Sebagai orang tua, sudah sepatutnya jika Anda selalu menginspirasi anak dengan berbagai kalimat pembangkit semangat. Namun, situasi hati yang sedang tak menentu kadang membuat kalimat yang keluar dari mulut kita justru membuatnya patah semangat.

"Berkomunikasi dengan anak-anak dengan efektif bisa sangat sulit, terkadang kata yang kita sampaikan artinya bisa berbeda ketika sampai di telinga mereka. Karena, anak-anak tidak bisa diharapkan untuk mampu mencerna kata-kata dan konteks kalimat dengan cara yang sama dengan orang dewasa," ungkap Vicki Panaccione, PhD, psikolog dan pendiri Better Parenting Institute di Melbourne.

Jika Anda ingin anak-anak bisa tumbuh menjadi yang terbaik, usahakan mengganti kata-kata yang Anda sampaikan dengan kata-kata yang membantu membangun karakter anak.

Kalimat Anda: "Kamu yang terbaik"
Yang didengar anak: "Tugasmu adalah membuat ibu senang"
Kalimat yang lebih baik: "Kamu harus bangga atas kerja kerasmu"

Tak ada salahnya memuji keberhasilan anak. Namun, jangan terlalu berlebihan. Pujian yang berlebihan dapat menjadi bumerang bagi orang tua dalam tumbuh-kembang anak. Anak-anak akan menjadi haus pujian, dan akhirnya mereka akan menjadi orang-orang yang selalu ingin dipuji. Selain itu, dengan pujian seperti "kamu hebat", "kamu cantik", "kamu pintar" secara tak langsung akan membuatnya berpikir bahwa Anda hanya mencintainya saat mereka terlihat hebat, dan pandai saja.

Sebuah penelitian yang dilakukan Carol Dweck, PhD, psikolog sosial dari Columbia University, menyatakan, anak-anak yang dipuji karena "berusaha keras" saat melakukan tes ternyata lebih mampu melakukan tugas yang sulit dibandingkan anak-anak yang dipuji karena "pintar".

"Memuji sifat anak dan membuat janji bahwa mereka akan sukses karena anak-anak punya sifat tersebut akan mengurangi nilai usaha, sehingga anak-anak menjadi takut menghadapi tantangan. Karena mereka pikir dengan punya sifat itu saja sudah cukup sehingga mereka akan berhenti ketika mereka sudah selangkah lebih maju dibanding teman lainnya," tukas Dweck.

Kalimat Anda: "Jaga cara bicaramu"
Yang didengar anak: "Ibu sudah mengajari kamu cara bicara"
Kalimat yang lebih baik: "Ibu senang kamu sudah bicara pada ibu. Tetapi, lain kali tolong jangan menggunakan kalimat itu lagi, karena bisa membuat orang tersinggung"

Memang mengkhawatirkan bila anak-anak sering meniru kalimat-kalimat makian yang didengarnya di televisi. Namun Anda bisa menegurnya dengan kalimat alternatif yang lebih baik, sehingga mereka pun menyadari kesalahannya. Ingatl juga bahwa pembicaraan tentang kalimat yang dianggap kurang sopan dan menyinggung perasaan ini sebaiknya dilakukan saat akhir pembicaraan.

Kalimat Anda: "Ibu tidak punya uang membelinya"
Yang didengar anak: "Uang adalah segalanya"
Kalimat yang lebih baik: "Di rumah, kita sudah punya semua barang di toko itu"

Bagi Anda, anak-anak pasti tak membutuhkan dua jenis mainan yang sama. Namun, berulang kali mengungkapkan bahwa Anda tidak punya uang adalah satu-satunya alasan bahwa mereka tidak bisa memiliki barang yang diinginkannya. Hal ini menciptakan kesan bahwa uang adalah sumber semua hal baik dalam hidup. "Pasti Anda ingin punya anak yang berkelimpahan sampai dewasa, bukan secara materi, tapi dalam arti bahwa apa yang Anda miliki membawa sukacita," ungkap Marcy Axness, PhD, seorang spesialis perkembangan anak.

Kalimat Anda: "Jangan takut, semua akan baik-baik saja"
Yang didengar anak: "Kamu terlalu berlebihan"
Kalimat yang lebih baik: "Ibu tahu apa yang kamu alami, ceritakan pada ibu"

Ketika seorang anak pulang dalam keadaan kesal karena diejek teman, atau gagal menjadi juara, maka hiburan dari Anda sangat diperlukannya. "Tapi anak-anak perlu belajar bagaimana mengekspresikan perasaannya, menghadapi dan menyelesaikannya. Jika tidak, mereka akan sulit menghadapi masalahnya," jelas Panaccione.


Di sisi lain, anak-anak tidak seharusnya selalu terpuruk pada perasaan sedihnya. Jika hal ini terjadi, lebih baik Anda memberikan dorongan yang mereka butuhkan agar mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. "Orangtua biasanya lebih memilih memberikan kenyamanan dengan hanya mendengarkan daripada bicara. Jika Anda hanya terbiasa mendengarkan, maka anak akan selalu curhat ke Anda, namun tidak akan mendapat motivasi apapun," ungkap Mel Levine, MD, dokter anak dari University of North Carolina.

Kalimat Anda: "Jangan bicara pada orang asing"
Yang didengar anak: "Semua orang yang tidak kamu kenal pasti akan menyakiti kamu"
Kalimat yang lebih baik: "Jangan bicara pada orang yang membuat kamu tidak nyaman"

Kalimat ini sebenarnya menandakan kekhawatiran orangtua yang takut anaknya akan jadi korban penculikan. Namun fenomena sekarang ini menunjukkan, anak tak hanya menjadi korban penculikan dari orang asing saja, tapi justru menjadi korban penculikan oleh orang yang sudah dikenal baik. Inilah sebabnya mengapa lebih masuk akal untuk memberitahu anak untuk waspada terhadap siapapun, orang asing maupun kenalan yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

Kalimat Anda: "Kamu harus berbagi"
Yang didengar anak: "Berikan mainanmu"
Kalimat yang lebih baik: "Adikmu mau bermain dengan mainanmu sebentar. Jangan khawatir, mainan itu tetap jadi milikmu, dan ia akan mengembalikannya"

Anda tidak akan memberikan kunci mobil Anda kepada tetangga Anda. Analogi inilah yang perlu disampaikan pada anak jika Anda meminta mereka untuk berbagi mainan. "Anak-anak masih sulit untuk membedakan dengan jelas antara objek mereka sendiri, dan yang bisa digunakan untuk berbagi. Jadi pada dasarnya Anda meminta mereka untuk memberikan bagian dari diri mereka sendiri," ungkap David Elkind, PhD, psikolog dan penulis buku The Hurried Child.

Salah satu cara agar anak percaya benda tersebut masih menjadi miliknya adalah dengan menuliskan nama pada benda yang akan dipinjamkan kepada orang lain. Dengan demikian ia tahu bahwa Anda tak memaksanya untuk memberikan mainannya kepada orang lain.

Kalimat Anda: "Kenapa kamu...." (melanggar jam malam, memukul adik, atau membuat keributan)
Yang didengar anak: "Kamu pengacau"
Kalimat yang lebih baik: "Menurut Ibu, kamu melanggar jam malam karena kamu tak mau segera pulang. Ibu bisa mengerti, tapi jangan diulangi ya, Nak!"

Orangtua terkadang terlalu banyak memberikan pertanyaan yang cenderung menghakimi anak, dan membuat anak mengakui perbuatannya. Padahal, Anda sebenarnya sudah tahu jawabannya. Hal ini akan membuat Anda terlihat seperti diktaktor. Orangtua memang perlu memberitahu anak ketika mereka berbuat salah. Namun, rasa malu yang terlalu sering dialami anak akan mematikan perasaan bersalahnya.

"Anak-anak tanpa hati nurani adalah anak yang tidak pernah mengembangkan kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Hal ini dapat menyebabkan mereka mencuri, berbohong, berkelahi, dan melakukan kekerasan," ungkap Axness. Lebih baik katakan bahwa Anda tahu apa yang mereka lakukan, kemudian jelaskan mengapa hal itu tak boleh dilakukan.



Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Kamis, 06 Oktober 2011

Putri Yang Ditukar

Seorang pembaca blog saya ini protes, "Dok, blognya serius amat. Yang kayak blog lain dong, kayak orang ngomong gitu..."
Ahahay... boleh juga. Itu mah berarti saya tinggal klik untuk switch 'state seurieus' ke 'state hahaha'. Hahaha...

***
Baiklah. Okelah....
Saya cerita peristiwa sehari-hari saja ya?
Kejadian seharian juga bisa membuat kita tertawa
gembira ria, lupa duka lara.
Sing penting bukan sekedar ketawa,
tapi dapet makna darinya.
Ya?

Alkisah sore itu saya praktek seperti biasanya. Beberapa pasien sudah berlalu. Senang rasanya bisa bertemu dengan mereka, menjadi perantara kesembuhan mereka dan sebagai efek sampingnya saya bisa mendapat rezeki yang halal lagi baik dari mereka. Alhamdulillah yah..!

"Berikutnya, panggil Dok?" tanya suster. Tidak ngesot.
"Ya, oke....!"
"Nyonya Ira (ini nama bukan sesungguhnya)!" panggil suster. Tidak ngesot.
Lalu masuklah seorang wanita yang saya perkirakan berusia dua puluhan. Sinar matanya lugu.
"Silahkan duduk Bu Ira...", saya mempersilahkan pasien ini duduk. Saya mulai membuka lembar rekam medis.

Nama: Ira Rosita
Tempat tanggal lahir: Jakarta, 27 Juli 1977
Hm... awet muda juga ibu ini ya? Di status tertulis umurnya 34 tahun, tapi tampangnya hemat, minimalis dan awet muda. Ya... memang sekarang teknologi sudah canggih, mungkin ibu ini pernah face off .
Pendidikan: S1
Pekerjaan: karyawati swasta.

Saya juga membaca lembar isian asuransi atas nama yang sama. Belum ada kecurigaan apa-apa.

Sejurus kemudian masuk pula seorang lelaki ramah. Pakaiannya necis. Dari cara berjalannya tidak ketahuan berapa gajinya.
Ia tersenyum. Saya membalas tersenyum. Adu senyum ini berlangsung singkat, bukan karena takut fitnah, namun karena saya segera bertanya dalam hati: ini siapanya yah?


Si Bapak Ramah duduk di kursi sebelah bu Ira. Duduknya tegak. Kaku. Tak tenang.  Aih. Apakah dikau ambeien? 


"Apa kabar Bu Ira?" tanyaku kepada si ibu muda. Eh, si ibu Ira ini nyengir. Sumpah, ini bukan cara nyengir seorang yang lahir pada dua tujuh bulan juli tahun tujuh tujuh! Bukan pula cara senyuman seorang yang biasanya bernama Ira atau Melissa. Ini senyuman wanita yang biasanya bernama Inah atau Inem , dan ngucek menjadi salah satu hobinya.

Lalu saya membaca riwayat berobat si ibu. Serenteng. Cukup sering dia berobat ke sini rupanya. Tapi rasanya baru pernah lihat. Penyakitnya standar untuk seorang yang lahir tanggal dua tujuh juli tujuh tujuh. Tertulis riwayat pernah operasi sectio cesarea 2 tahun yang lalu. Operasi appendix setahun kemudian.

"Keluhan ibu apa ya? Apanya yang sakit?"
"Ini Pak... saya batuk" (Nah kan? Seorang yang namanya Ira nggak mungkin manggil dokter pakai Pak, heheh)  Kok saya jadi curiga, jangan-jangan...
"Sudah berapa lama?"
"Seminggu."
"Berdahak? Apa kering batuknya? Uhuk-uhuk apa cekrek-cekrek?"
Celingukan lagi. Waaaah ini, jadi penasaran saya.
Saya jadi lebih tertarik untuk menggali hal lain, selain keluhan sakit si ibu saat ini. Maka pertanyaan tiba-tiba melancong ke pertanyaan yang ora nyambung," Ibu gimana perutnya yang operasi tahun lalu? Masih suka sakit nggak?"
Celingukan.
"Ibu sudah sering berobat di sini ya?"
Wajahnya bingung. Ada bayangan kata enggak yang dicoret di dinding benaknya. Secara ajaib Si bapak Ramah Tamah segera mengambil alih jawaban, "Iya Dok..."
"Bu Ira pernah operasi usus buntu ya? Sama dokter siapa?"
Celingukan bombai aduhai. Tatap matanya seperti minta tolong kepada laki-laki ramah di sebelahnya.
Si Bapak Ramah Tamah semakin gelisah. Jangan-jangan ambeiennya beranak pinak.
"Eh, Bapak suami ibu, ya?" tanya saya dengan derajat keramahan yang setingkat dengannya.
"Iya!" jawabnya pasti. Ya pasti. Pertanyaannya kok pinter temen dooook??!!! Wkwk
Wah ndak kena. Saya ganti pertanyaannya.
"Jadi bapak suaminya ibu ini?" arah tangan saya ke si ibu.

Naaah. Tuing... tuing...
Saya membaca wajah si bapak. Romannya berubah jadi grogi. Tampaknya sedang terjadi polemik hebat di benaknya. Satu sosok dirinya yang bertanduk bilang: hayoo ngaku sajalaaaah biar amaaan.  Itu dokter biarpun ganteng tapi kelihatannya lugu, nggak bakalan tahu kalo lu bohoooong! Satu lagi yang bersayap putih bilang: heeee... beneran loh lo jadi suaminya. Emang mau?

Cengengesanlah dikau sekarang, Bapak Ramah... Hihihi
Ia minta ijin keluar ruang. Sekitar 58 detik kemudian ia masuk menggandeng seorang ibu yang cantik dan anggun mengenakan blazer kantoran. Saya perkirakan ibu ini yang bernama Ira. Dan ia layak untuk lahir tanggal dua tujuh bulan juli tujuh tujuh.
Segera saja saya melengkapi puzzle jawaban atas kecurigaanku. Ahai, mari kita buktikan!

Keduanya terlihat cengengesan memasuki ruangan. Kompak nian.
Mungkin pasangan ini bertemu pada pertemuan tahunan Perhimpunan Orang Cengengesan Seluruh Indonesia yang kalau ada angin menjelang Pemilu bisa berubah menjadi Partai Orang Cengengesan Indonesia.

Tanpa ragu-ragu saya meluncurkan pertanyaan berbahaya yang bisa memicu stroke ringan: "Ibu yang namanya bu Ira ya?"
Hehehe... ibu  anggun berblazer itu cengengesan. Turun dua strip keanggunannya dengan caranya cengengesan itu.

"Dan mbak? Nama mbak siapa?"
"Inah"
Huahaha.....! Saya tertawa keraaaaaas sekali dalam hati. Ya, dalam hati.  Itu demi menjaga wibawa baju putih saya. Huahaha...
"Mbak Inah apanya Bu Ira?"
"Saudaranya..." kata Bu Ira yang aseli. Yo wes lah sodara, secara namanya hanya beda dua huruf.
"Saya pembantunya Dok." Yuaaaah, dasar pembantu nggak kompak! Kok ya, jujurnya mbaaaaak! Huahahah...
Yo wes lah, mau sodara mau pembantu nggak ngaruh. Intinya ada kejadian aneh bin ajaib mirip sinetron stripping di meja praktek saya sore ini. Ajiiiib, huahaha...
Wong dokter-dukun kok mau ditipu.

Tahulah saya motif dari sandiwara satu babak ini, mereka adalah sepasang suami istri yang memiliki polis asuransi. Pembantu sakit. Dari pada keluar biaya berobat, mending pakai polis punya si istri. Sayang kan, jatah berobat setahun baru sedikit terpakai sementara besar jaminan kesehatannya memang lumayan besar.

Hehehe... Oalah Buuuu, hampir ketukar dikau. Kalau tidak jeli yang beginian bisa lewaaat.
Wadoooh, jangan jangan riwayat berobat yang serenteng ini gabungan dari Bu Ira, adiknya, pembantu tetangganya, mertuanya, temannya, teman arisan neneknya, teman arisan nenek tetangganya, teman senam jantung sehat neneknya, teman majelis taklim nenek tetangganya dan lain sebagainya yah? Memanfaatkan jaminan kantor yang lumayan.
Baik sih maksudnya, tapi....

***
Lalu saya jelaskan apa itu rekam medik. Apa gunanya. Apa akibatnya kalau rekam medik tercampur atau tertukar.
Kemudian si mbak Inah tetap saya periksa. Saya minta sepasang suami istri yang tetap hobi cengengesan itu untuk mendaftarkan Inah sebagai pasien baru dengan nomor rekam medik sendiri.


Ahahaiii... aya-aya waeee...
Ini kali yah yang namanya sandiwara sinetron Putri yang Ditukar?

***
Penutup
Sejak kejadian itu, sepasang suami istri itu tidak pernah bertemu dengan saya. Mungkin mereka mendirikan Partai Orang Cengengesan Indonesia.
Inah, mungkin masih bekerja di keluarga tersebut. Batuknya sembuh. Dan semoga tetap jujur, tidak tergiur untuk mendukung partai majikannya.
Saya, alhamdulillah masih sehat. Masih kayak dulu. Kadang-kadang nulis di blog.











Minggu, 02 Oktober 2011

Back to college......\^0^/

its been such a long time since my last post yach....
after almost 1 year doing my job as a general practitioner in a health center in my hometown...
then i decide to go back to college....

so im doing on my speciality study now....
and back to college means like back to old school time =)
but its just soooooooo hard to study now
its the big lazyness exactly
well...its almost a year i never ever read any of medical textbook
hahaha.....
so need a big start to go....

and its been a busy week
its almost exam session here.....*ohhh God
and all those lecturer love to give some assignment

its 1 assignment left next week
gotta get going.....
ganbatte!