File : Metabolisme Purin dan Pirimidin
Dosen : Dra. Kustiwinarni, Apt
Ext : .ppt
Download HERE
File : Metabolisme Karbohidrat
Dosen : dr. P. Murdani K, MHPEd
Ext : .ppt
Download HERE (ini datanya 2009, tapi isinya sama kok sama yang tadi)
Rabu, 01 Desember 2010
Diagnosa Autisme
Gejala autisme dapat sangat ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian.
Diagnosa Autisme Sesuai DSM IV
A. Interaksi Sosial (minimal 2):
1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3. Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3. Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
1. Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
3. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda
Seorang anak penderita autisme, dengan jajaran mainan yang ia buat
Gejala autisme dapat sangat ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para ahli bahwa anak-anak dengan autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti diri sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autisme. Kiranya melalui media ini penulis menghimbau kepada para ahli dan paktisi di bidang autisme untuk semakin mengembangkan strategi-strategi dan teknik-teknik pengajaran yang tepat bagi mereka. Apalagi mengingat fakta dari hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa 80% anak dengan autisme memiliki intelegensi yang rendah dan tidak berbicara atau nonverbal. Namun sekali lagi, apapun diagnosa maupun label yang diberikan prioritasnya adalah segera diberikannya intervensi yang tepat dan sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan mereka.
Referensi baku yang digunakan secara universal dalam mengenali jenis-jenis gangguan perkembangan pada anak adalah ICD (International Classification of Diseases) Revisi ke-10 tahun 1993 dan DSM (Diagnostic And Statistical Manual) Revisi IV tahun 1994 yang keduanya sama isinya. Secara khusus dalam kategori Gangguan Perkembangan Perpasiv (Pervasive Developmental Disorder/PDD): Autisme ditunjukkan bila ditemukan 6 atau lebih dari 12 gejala yang mengacu pada 3 bidang utama gangguan, yaitu: Interaksi Sosial – Komunikasi – Perilaku.
Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat menjadi bukti dari berbagai kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-tes secara behavioral maupun komunikasi tidak dapat mendeteksi adanya autisme, maka beberapa instrumen screening yang saat ini telah berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:
Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa kanak-kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala hingga 15; anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan komunikasi verbal
The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar pemeriksaan autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal tahun 1990-an.
The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang terdiri dari 40 skala item yang digunakan pada anak dia atas usia 4 tahun untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka
The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tes screening autisme bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain, imitasi motor dan konsentrasi.
Diagnosa yang akurat dari Autisme maupun gangguan perkembangan lain yang berhubungan membutuhkan observasi yang menyeluruh terhadap: perilaku anak, kemampuan komunikasi dan kemampuan perkembangan lainnya. Akan sangat sulit mendiagnosa karena adanya berbagai macam gangguan yang terlihat. Observasi dan wawancara dengan orang tua juga sangat penting dalam mendiagnosa. Evaluasi tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu memungkinkan adanya standardisasi dalam mendiagnosa. Tim dapat terdiri dari neurolog, psikolog, pediatrik, paedagog, patologis ucapan/kebahasaan, okupasi terapi, pekerja sosial dan lain sebaginya.




A. Interaksi Sosial (minimal 2):
1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3. Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3. Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
1. Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
3. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda
Seorang anak penderita autisme, dengan jajaran mainan yang ia buat
Gejala autisme dapat sangat ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para ahli bahwa anak-anak dengan autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti diri sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autisme. Kiranya melalui media ini penulis menghimbau kepada para ahli dan paktisi di bidang autisme untuk semakin mengembangkan strategi-strategi dan teknik-teknik pengajaran yang tepat bagi mereka. Apalagi mengingat fakta dari hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa 80% anak dengan autisme memiliki intelegensi yang rendah dan tidak berbicara atau nonverbal. Namun sekali lagi, apapun diagnosa maupun label yang diberikan prioritasnya adalah segera diberikannya intervensi yang tepat dan sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan mereka.
Referensi baku yang digunakan secara universal dalam mengenali jenis-jenis gangguan perkembangan pada anak adalah ICD (International Classification of Diseases) Revisi ke-10 tahun 1993 dan DSM (Diagnostic And Statistical Manual) Revisi IV tahun 1994 yang keduanya sama isinya. Secara khusus dalam kategori Gangguan Perkembangan Perpasiv (Pervasive Developmental Disorder/PDD): Autisme ditunjukkan bila ditemukan 6 atau lebih dari 12 gejala yang mengacu pada 3 bidang utama gangguan, yaitu: Interaksi Sosial – Komunikasi – Perilaku.
Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat menjadi bukti dari berbagai kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-tes secara behavioral maupun komunikasi tidak dapat mendeteksi adanya autisme, maka beberapa instrumen screening yang saat ini telah berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:
Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa kanak-kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala hingga 15; anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan komunikasi verbal
The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar pemeriksaan autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal tahun 1990-an.
The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang terdiri dari 40 skala item yang digunakan pada anak dia atas usia 4 tahun untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka
The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tes screening autisme bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain, imitasi motor dan konsentrasi.
Diagnosa yang akurat dari Autisme maupun gangguan perkembangan lain yang berhubungan membutuhkan observasi yang menyeluruh terhadap: perilaku anak, kemampuan komunikasi dan kemampuan perkembangan lainnya. Akan sangat sulit mendiagnosa karena adanya berbagai macam gangguan yang terlihat. Observasi dan wawancara dengan orang tua juga sangat penting dalam mendiagnosa. Evaluasi tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu memungkinkan adanya standardisasi dalam mendiagnosa. Tim dapat terdiri dari neurolog, psikolog, pediatrik, paedagog, patologis ucapan/kebahasaan, okupasi terapi, pekerja sosial dan lain sebaginya.
Autism Symptoms
Children with autism may appear normal in the first year or second year of his life. Parents are often aware of a delay in language skills and specific ways that different when playing and interacting with others. These children may become very sensitive or even unresponsive to stimuli-rangasangan of the five senses (hearing, touch, smell, taste and sight).
Repetitive behaviors (hand flapping or finger-flapping, body rocking and repeating the words) can also be found. Behavior can become aggressive (either to yourself or someone else) or even very passive. Most likely, the previous behaviors that are considered normal may be additional symptoms. Besides playing a repetitious, limited interest and social barriers, a few other things that has always been attached to the persons with autism are responses that are not fair to the sensory information they receive, for example, the voices of noise, light, surface or texture of a certain material and certain flavors in the food into their favorite.
Some or all of the characteristics mentioned below can be observed in the autistic spectrum along well with the conditions of the lightest to the heaviest ones.
1. Barriers in communication, for example: speak and understand language.
2. Difficulties in dealing with other people or objects around it and linking the events that occurred.
3. Playing with toys or other objects are not fair.
4. Difficult to accept changes in routine and environment that are recognized.
5. Move your body or the presence of repetitive patterns of behavior of certain
Of persons with Autism and its spectrum is very diverse both in capabilities, level of intelligence, and even behavior. Some are not 'talk' while some others may be limited to the language so often found repeating words or phrases (echolalia). Those who have high language skills generally use the themes of the limited and difficult to understand abstract concepts. Thus, there is always a unique individuality of individuals disabling.
Apart from the various characteristics of the above, there is direction and guidance for parents and practitioners to more waspasa and concerned about the visible symptoms. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) in the United States said the 5 types of behavior to watch out for and the need for further evaluation:
1. Children do not mumble until the age of 12 months
2. Children do not show the ability of gestural (pointing, chest, holding) until age 12 months
3. Children do not say a word until the age of 16 months
4. Children are not able to use two sentences spontaneously at the age of 24 months
5. Children lose language skills and social interaction at a certain age
The existence of the five 'red light' above does not mean that the child bears the characteristics of autism but because of autism disorders is very diverse so a child must receive a multidisciplinary evaluation which may include; neurologist, psychologist, Pediatrics, Speech Therapy, Paedagog and other professionals who understand autism issues.




Some or all of the characteristics mentioned below can be observed in the autistic spectrum along well with the conditions of the lightest to the heaviest ones.
1. Barriers in communication, for example: speak and understand language.
2. Difficulties in dealing with other people or objects around it and linking the events that occurred.
3. Playing with toys or other objects are not fair.
4. Difficult to accept changes in routine and environment that are recognized.
5. Move your body or the presence of repetitive patterns of behavior of certain
Of persons with Autism and its spectrum is very diverse both in capabilities, level of intelligence, and even behavior. Some are not 'talk' while some others may be limited to the language so often found repeating words or phrases (echolalia). Those who have high language skills generally use the themes of the limited and difficult to understand abstract concepts. Thus, there is always a unique individuality of individuals disabling.
Apart from the various characteristics of the above, there is direction and guidance for parents and practitioners to more waspasa and concerned about the visible symptoms. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) in the United States said the 5 types of behavior to watch out for and the need for further evaluation:
1. Children do not mumble until the age of 12 months
2. Children do not show the ability of gestural (pointing, chest, holding) until age 12 months
3. Children do not say a word until the age of 16 months
4. Children are not able to use two sentences spontaneously at the age of 24 months
5. Children lose language skills and social interaction at a certain age
The existence of the five 'red light' above does not mean that the child bears the characteristics of autism but because of autism disorders is very diverse so a child must receive a multidisciplinary evaluation which may include; neurologist, psychologist, Pediatrics, Speech Therapy, Paedagog and other professionals who understand autism issues.
Gejala Autisme
Anak dengan autisme dapat tampak normal di tahun pertama maupun tahun kedua dalam kehidupannya. Para orang tua seringkali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan-rangasangan dari kelima panca inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan).
Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan atau jari, menggoyang-goyangkan badan dan mengulang-ulang kata) juga dapat ditemukan. Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala-gejala tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas dan hambatan bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada para penyandang autisme adalah respon-respon yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya; suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu bahan tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.
Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini dapat diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun.
1. Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa.
2. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain atau obyek di sekitarnya serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
3. Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
4. Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
5. Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola perilaku yang tertentu
Para penyandang Autisme beserta spektrumnya sangat beragam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan bahkan perilakunya. Beberapa diantaranya ada yang tidak 'berbicara' sedangkan beberapa lainnya mungkin terbatas bahasanya sehingga sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat (echolalia). Mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang tinggi umumnya menggunakan tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak. Dengan demikian, selalu terdapat individualitas yang unik dari individu-individu penyandangnya.
Terlepas dari berbagai karakteristik di atas, terdapat arahan dan pedoman bagi para orang tua dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut :
1. Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, dada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
4. Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu
Adanya kelima ‘lampu merah’ di atas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme tetapi karena karakteristik gangguan autisme yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara multidisipliner yang dapat meliputi; Neurolog, Psikolog, Pediatric, Terapi Wicara, Paedagog dan profesi lainnya yang memahami persoalan autisme.




Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini dapat diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun.
1. Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa.
2. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain atau obyek di sekitarnya serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
3. Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
4. Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
5. Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola perilaku yang tertentu
Para penyandang Autisme beserta spektrumnya sangat beragam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan bahkan perilakunya. Beberapa diantaranya ada yang tidak 'berbicara' sedangkan beberapa lainnya mungkin terbatas bahasanya sehingga sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat (echolalia). Mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang tinggi umumnya menggunakan tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak. Dengan demikian, selalu terdapat individualitas yang unik dari individu-individu penyandangnya.
Terlepas dari berbagai karakteristik di atas, terdapat arahan dan pedoman bagi para orang tua dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut :
1. Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, dada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
4. Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu
Adanya kelima ‘lampu merah’ di atas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme tetapi karena karakteristik gangguan autisme yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara multidisipliner yang dapat meliputi; Neurolog, Psikolog, Pediatric, Terapi Wicara, Paedagog dan profesi lainnya yang memahami persoalan autisme.
Autism Treatment in Indonesia
The intensity of behavioral treatment in children with autism are important, but fundamental problems encountered in Indonesia has become very crucial to overcome first. Without ignoring other factors, some facts which are relevant to issues in handling the problem of autism in Indonesia include the following:
1. The shortage of trained therapists in Indonesia. Parents always been a pioneer in the intervention process so that at first intervention centers for children with autism is built on the family's interests to ensure the continuity of their own children's education.
2. The absence of a formal treatment guidelines in Indonesia. Not enough to just implement teatment instructions from outside the application does not always fit with the culture of Indonesian children's lives.
3. There are still many cases of autism are not in early detection so that when the child becomes too large, then the more complex issues faced by parents of intervention. The experts who can diagnose autism, information about the disorder and the characteristics of autism as well as formal institutions which provide educational services for children with autism has not been spread evenly across all regions in Indonesia.
4. Not yet integrated to provide education for children with autism in school. In Article 4 of Law. 20/2003 on National Education System has been mandated by the education of a democratic and non-discriminatory to uphold human rights, this support is a great opportunity for people with autism to enter the public schools (inclusive) due to nearly 500 schools have been directed by government to hold the inclusions.
5. Problems end is no less important is the lack of knowledge of both clinically and practically supported by the empirical validity of the data (empirically validated Treatments / EVT) of countermeasures autism issues in Indonesia. Study and research of autism in addition to requiring large amounts of funds must also be supported by empirical data validity, but certainly ethically no parent wants their child to be an experiment of a particular methodology. Certainty and security for the education of children is a major consideration for parents in choosing one type of treatment for their children so that if these doubts can be answered through scientific authorities so more open to the general public information about the knowledge-knowledge of both clinical and practical in handling the problem of autism in Indonesia.




2. The absence of a formal treatment guidelines in Indonesia. Not enough to just implement teatment instructions from outside the application does not always fit with the culture of Indonesian children's lives.
3. There are still many cases of autism are not in early detection so that when the child becomes too large, then the more complex issues faced by parents of intervention. The experts who can diagnose autism, information about the disorder and the characteristics of autism as well as formal institutions which provide educational services for children with autism has not been spread evenly across all regions in Indonesia.
4. Not yet integrated to provide education for children with autism in school. In Article 4 of Law. 20/2003 on National Education System has been mandated by the education of a democratic and non-discriminatory to uphold human rights, this support is a great opportunity for people with autism to enter the public schools (inclusive) due to nearly 500 schools have been directed by government to hold the inclusions.
5. Problems end is no less important is the lack of knowledge of both clinically and practically supported by the empirical validity of the data (empirically validated Treatments / EVT) of countermeasures autism issues in Indonesia. Study and research of autism in addition to requiring large amounts of funds must also be supported by empirical data validity, but certainly ethically no parent wants their child to be an experiment of a particular methodology. Certainty and security for the education of children is a major consideration for parents in choosing one type of treatment for their children so that if these doubts can be answered through scientific authorities so more open to the general public information about the knowledge-knowledge of both clinical and practical in handling the problem of autism in Indonesia.
Types of Autism
Autism in the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV is one of five types of disorders under the umbrella of PDD (Pervasive Development Disorder) outside of ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) and ADD (Attention Deficit Disorder). Perpasiv developmental disorder (PDD) is a term used to describe a group of developmental disorders under the (umbrella term) PDD,
1. Autistic Disorder (Autism) appears before age 3 years and demonstrated the existence of barriers to social interaction, communication and imaginative play skills and the presence of stereotyped behavior in the interests and activities.
2. Asperger's Syndrome Barriers to the development of social interaction and the presence of restricted interests and activities, generally do not show delays in language and speech, and has the intelligence level of an average to above average.
3. Pervasive Developmental Disorder - Not Otherwise Specified (PDD-NOS) refers to the term atypical autism, PDD-NOS diagnosis applies if a child does not show the overall criteria of a particular diagnosis (autism, Asperger's or Rett Syndrome).
4. Rett's syndrome more common in girls and is rare in boys. Had undergone a normal development ensued decline / loss of its ability; loss of functional ability is replaced with a moving hand waving hands repeatedly in the age range 1-4 years.
5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) show normal development during the first 2 years of age the development and then suddenly loses the abilities that have been achieved previously.
Diagnosis of Pervasive Disorder Not Otherwise Specified Develompmental (PDD - NOS) is commonly used or used in the United States to explain the existence of some characteristics of autism in someone (Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) in the United States stated that the Autism and PDD - NOS is a developmental disorder that tends to have similar characteristics and symptoms appear before age 3 years. Both are neurological disorders that are affecting the ability to communicate, understand language, play and ability to relate to others. The inability to adapt to change and the responses are not fair to the sensory experience is often also linked to the symptoms of autism.




2. Asperger's Syndrome Barriers to the development of social interaction and the presence of restricted interests and activities, generally do not show delays in language and speech, and has the intelligence level of an average to above average.
3. Pervasive Developmental Disorder - Not Otherwise Specified (PDD-NOS) refers to the term atypical autism, PDD-NOS diagnosis applies if a child does not show the overall criteria of a particular diagnosis (autism, Asperger's or Rett Syndrome).
4. Rett's syndrome more common in girls and is rare in boys. Had undergone a normal development ensued decline / loss of its ability; loss of functional ability is replaced with a moving hand waving hands repeatedly in the age range 1-4 years.
5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) show normal development during the first 2 years of age the development and then suddenly loses the abilities that have been achieved previously.
Diagnosis of Pervasive Disorder Not Otherwise Specified Develompmental (PDD - NOS) is commonly used or used in the United States to explain the existence of some characteristics of autism in someone (Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) in the United States stated that the Autism and PDD - NOS is a developmental disorder that tends to have similar characteristics and symptoms appear before age 3 years. Both are neurological disorders that are affecting the ability to communicate, understand language, play and ability to relate to others. The inability to adapt to change and the responses are not fair to the sensory experience is often also linked to the symptoms of autism.
Macam-macam Autisme
Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Pervasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:
1. Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
2. Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
3. Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
4. Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.
Diagnosa Pervasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang (Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme.




2. Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
3. Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
4. Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.
Diagnosa Pervasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang (Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme.
Langganan:
Postingan (Atom)





